Membebaskan besi dari karat

images (1)
“Penyakit demam anak Adam menghilangkan dosa, sebagaimana tungku api membersihkan karat-karat besi.”
Tentu saja bagi yang tidak yakin bahwa Nabi Adam pernah menghuni bumi ini kalimat di atas tidak perlu dipercaya.

Saya jadi ingat dua hal yang harus disebut dalam doa orang yang sakit: semoga sabar, dan semoga diampuni dosanya. Saya mengetahuinya dulu saat kuliah kedokteran, yang memang tertulis di beberapa buku agama yang membahas tentang hikmah sakit. Ternyata bukan ‘semoga lekas sembuh.’ Kesembuhan adalah kuasa Tuhan sementara sakit itu sendiri bisa berakhir pada salah satu dari dua ujung: kesembuhan, atau kematian. Yang pasti diusahakan adalah kesabaran menjalani sakit itu, dan berharap Tuhan berbaik hati menyucikan diri dari dosa-dosa melalui sakit tersebut. Mengenai kesembuhan, jika kita bersabar (definisi sabar tentu saja bukan diam saja tidak melakukan apa-apa dan berusaha tidak menangisi nasib, melainkan berusaha yang terbaik secara aktif terus-menerus. Mungkin padanan kata ‘sabar’ dalam bahasa Inggris lebih cocok ‘perseverance”) maka pasti akan ada jalan keluar berupa kesembuhan, dan apabila akhirnya tidak sembuh maka itulah yang terbaik dari Tuhan, dan kecewa tidak akan datang karena telah berusaha yang terbaik dan terus-menerus tadi.

Ada lagi beberapa buku yang mengatakan bahwa sakit adalah azab alias musibah. Ya, menurut buku-buku itu, sakit belum tentu berarti ujian. Sakit justru adalah ‘balasan Tuhan’ di dunia atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Maka permohonan ampunan kepada Tuhan adalah cara yang tepat dalam menghadapi sakit. Sebagai contoh, kita berlaku durhaka kepada orang tua (bukan, bukan seperti Malin Kundang yang tidak mengakui ibunya, melainkan hal-hal seperti tidak mengurus orang tua ketika mereka sakit, tidak respek, membangkang), kemudian kita langsung sakit setelah melakukannya. Contoh lain adalah setelah melakukan korupsi bertahun-tahun dan menjadi kaya, seseorang langsung jatuh sakit, dan ternyata uang korupsinya langsung habis sekejap untuk membiayai semua pengobatannya. Yang harus diingat adalah, jika sakit kemudian memohon ampun kepada Tuhan, baik sadar maupun tidak sadar telah melakukan kesalahan (dosa), maka Tuhan Yang Maha Pengampun tidak akan menyia-nyiakan sakit itu, tidak akan menyiakan tobatnya.

Ada orang-orang yang berkata bahwa orang mulia akan dimudahkan cara kematiannya; dia tidak akan merasakan sakit, dan proses menuju kematiannya hanya beberapa detik atau menit saja. Sebaliknya, orang-orang yang sakit kronis dan parah selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kemudian meninggal, menunjukkan bahwa mereka banyak dosa dan akan dihukum Tuhan di kehidupan selanjutnya.

Pernyataan di atas tentu perlu ditinjau ulang karena kita bukan siapa-siapa yang bisa menentukan akhir hidup seseorang. Siapa bilang ‘mati dengan cepat’ berarti masuk surga dan ‘mati dengan sengsara’ berarti masuk neraka? Bagaimana jika ‘mati dengan sengsara’ justru membuatnya bersih dari dosa-dosa, sehingga ketika harus meninggalkan dunia ini, dia sudah pantas ke surga? Kita tidak pernah tahu, maka kadang komentar itu sangat tidak perlu dilontarkan.

Lagi-lagi, sakit adalah kesempatan emas bagi orang beriman (yaitu orang yang percaya pada Tuhan, walau kepercayaan itu hanya mengisi sudut kecil di dadanya karena ukurannya kecil sekali dibanding ukuran jantungnya) untuk menyucikan diri sekaligus naik kelas menjadi orang yang semakin bertakwa.

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya”. (hadist)

Tentu saja semua penjelasan di atas, bagi orang sekuler maupun atheis, tidak masuk akal dan tidak dapat diterima. Maka penjelasan berbasis bukti dari segi kedokteran antara lain bahwa perasaan berpasrah diri dan keinginan menjadi lebih baik (dalam bahasa agamis: bertaubat) dapat meningkatkan imunitas. Perasaan pasrah dan taubat tersebut, yang lagi-lagi oleh orang-orang skeptis dianggap sebagai aktivitas elektrik di otak saja, akan meningkatkan kadar hormon ‘penenang’ serta meningkatkan produksi antibodi oleh sel darah putih yang berinti satu dan besar itu. Dengan demikian selain imunitas tubuh secara alami akan melawan penyakit yang datang dengan gigih, dalam perlawanannya itu tubuh tidak terlalu kesakitan akibat hormon penenang tadi yang berarti menaikkan ambang sakit seseorang (semoga usaha saya meniadakan istilah kedokteran tidak terlalu buruk ya).

Tidak berlebihan ketika seorang teman berkomentar mengenai betapa beruntungnya seorang relasi saya yang sedang menderita sakit sehingga harus cuti dari pekerjaannya, harus rajin kontrol ke dokter, dan harus istirahat total. Teman saya itu berkata bahwa relasi saya pastilah berkurang banyak dosanya, dan pastilah naik kelas bertingkat-tingkat di hadapan Tuhan sebagai manusia yang menjadi lebih baik nilainya, dengan sakitnya itu.

Ada beberapa orang terdekat saya yang sedang menderita sakit, dan karena usia mereka dan budaya setempat saya tidak yakin bisa menyampaikan hal-hal yang saya tulis di atas. Maka saya berdoa kepada Tuhan agar mereka dilimpahi kesabaran dalam menghadapinya, termasuk optimis sembuh dengan berusaha mencari pengobatan yang terbaik. Semoga Tuhan juga Berkenan Mengampuni dosa-dosa mereka, bahkan dosa besar semacam menyekutukan Dia Yang Maha Penyayang (praktek dukun dan sebagainya). Aamiin.

Oh ya, menurut saya, percaya adanya Tuhan, termasuk meyakini bahwa Dia adalah satu-satunya Yang Berkuasa atas semesta ini jauh lebih menenangkan daripada terus gelisah mempertanyakan asal muasal semesta ini tanpa campur tangan agama. Toh tidak ada bukti atas kebenaran salah satu dari dua hal itu; kita hanya tahu nanti ketika kita mati. Kita buktikan saja ya kiamat nanti. Semoga Tuhan menetapkan hati ini di jalan-Nya. Aamiin.

Kembali ke tujuan pembuatan tulisan ini, bahwa walau agak sulit berharap agar beberapa relasi saya yang sedang sakit membaca blog saya sehingga saya memilih mendoakan mereka, setidaknya semoga tulisan ini dapat mengingatkan diri saya sendiri dan orang yang membacanya. Bahwa membersihkan karat besi dapat dilakukan dengan tungku panas, yang berarti permohonan ampunan dan kesabaran atas sakit fisik yang pasti menyiksa. Tentu sebelumnya kita harus sepakat bahwa besi sebaiknya bersih dari karat, dan bahwa karat adalah hasil proses oksidasi reduksi yang selain memperburuk penampilan luar besi itu, juga menggerogoti dari dalam, menurunkan kualitasnya, dan memperpendek umur penggunaannya.

Advertisements

Nguping pasca-ujian

Di UGD bagian kebidanan dan penyakit kandungan, tadi siang.

Residen idola#2: gimana dik ujiane?

saya: yah, gitu lah pak.

Residen idola#2: bisa?

saya: pertanyaannya cuma empat, saya gak bisa jawab semua. Terus dijadiin tugas.

Residen idola#2: Lha menurutmu dilulusin gak itu, kalo dikasih tugas?

saya: Wallahu ‘alam pak. Tinggal berdoa aja. Doakan saya ya pak.

Residen idola#2: *tersenyum* dilulusin dengan belas kasihan ya…

saya: *menangis dalam hati* haa, malu-maluin ya pak.

Residen idola#2: yang penting kan dilulusin.

saya: *semakin menangis* amiiiin. makasih pak.