About Being Sabr

18 Juni 2014

…Pernahkah aku merasa bahagia hanya karena aku masih hidup? Mungkin pernah. Yang kuingat, sebab-sebabnya adalah aku berusaha ingat Allah. Dari orang lain kulihat sebabnya adalah amalan hati seperti memaafkan, tidak dendam, tidak berprasangka, dan bersyukur. Singkatnya aku membujuk diri sendiri bahwa antara solat khusyuk, membaca Quran dengan tartil dan berusaha memahami artinya, dan melakukan amalan hati yang Islami (dan secara universal disebut sebagai “kebaikan”) merupakan hal-hal penyebab kebahagiaan. Ketiganya sama pentingnya, tidak ada yang lebih baik atau utama. Ketiadaan satu atau dua hal tidak menggugurkan kebahagiaan. Usahakan jadi pelaku ketiganya.

Ramadan 2014

… Aku tidak ingin mencemari usaha kesabaranku dengan komentar-komentar tidak bersyukur dan keluhan-keluhan. Aku adalah motivator terbaik untukku. I rely on myself (instead of other people) and God. So if it’s not me, I don’t think I can. Pokoknya semua tergantung aku. Pengen makin sabar ya aku harus disiplin sama diri sendiri untuk berlatih sabar tanpa henti. Pengen self-improvement ya harus rajin bercermin (dari orang lain, dari doa mohon petunjuk) dan melakukannnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. I am capable of loving. Aku cinta diriku sendiri, menerima apa adanya, bersabar akan kekurangannya, menghargai kelebihannya, bersemangat terus menyayangi dan menghargai, dan yakin aku akan menjadi lebih baik. Fighting depression? Not by being grateful (although it’s okay too) but with self respect. I guess.

My Supplication

Aku tidak pandai melantunkan doa namun aku tahu Allah Maha Mendengar dan Memahami apa isi hatiku, apa kerinduanku. Aku ingin hatiku bersih sebening cermin yang memantulkan kebaikan yang mengenainya. Aku ingin kekotoran di dalamnya sirna bersama penyesalan dan pembelajaran untuk tidak mengulanginya. Aku ingin kebutuhanku, baik jasmani maupun rohani, tercukupi dengan mudah sehingga hidupku hanyalah untuk berbakti, bukan menuntut minta dibagi. Aku juga ingin menjadi berkah bagi sekitarku, bukannya membebani atau menimbulkan ketidakenakan hati. Aku ingin meneladani manusia terhebat di dunia sepanjang masa, Rasulullah Salallahualaihiwassalam.

Rasanya malu, aku banyak inginnya namun sedikit usahanya. Aku malu bahwa sabarku masih kurang cantik, bahkan jauh dari cantik. Aku malu masih ada keluh dalam lisanku, banyak syarat dalam lakuku, dan tidak segera bergerak dengan apapun yang kupunya. Aku malu pada Allah, menuntutNya aku ingin begini dan begitu, sementara langkahku menuju padaNya terseok, kadang terhenti. Aku malu meminta jodoh sementara aku tidak patut dibanggakan sebagai seorang wanita. Aku malu pada penghuni bumi yang tekun dan sabar mengusahakan kehidupan yang baik dan penuh rahmat, sementara aku sibuk menghitung kekuranganku dan menutut kebaikan dari Allah.

Kasih sayangNya sering mengagetkanku, yang DilimpahkanNya padaku, sehina apapun diriku, sekejam apapun diriku membuat judgment atas diriku sendiri, atau atas orang lain padahal aku tidak pernah tahu keadaan sebenarnya. Aku diliputi kasih sayangNya namun seringkali menutup mata dan telinga atas semua itu. Aku lupa bahwa hanya dengan menerima kasih itu dengan hati terbuka maka aku bisa meneruskannya ke diriku sendiri dan ke para penghuni bumi.

Rasanya ingin menangisi kelambanan hatiku untuk tergerak menuju cahaya. Cahaya itu selalu ada, sinarnya selalu benderang menyilaukan mata hati sekaligus menenangkannya. Namun kesombongan dan kedurhakaan kerap kali menjadi pemenang. Lagi-lagi aku hanya bisa mengeluh atas ketidakberdayaanku, dan akhirnya berbisik lirih pada Allah untuk dikuatkan, diberanikan menghadapi kehidupan, melangkahkan kaki menuju kebaikan itu. Aku tahu hanya dengan Kehendak Allah aku bisa menuju cahaya itu dan terselimuti dengan nyaman dan akhirnya berpendar terang di muka bumi ini.

Kadang kerinduan datang, untuk pulang ke kampung halaman. Namun aku takut jika Allah belum berkenan dengan ringannya timbangan kebaikanku. Aku kemudian menangis dan lelah karenanya, berharap setiap tetes air mata melunturkan dosa. Namun aku akan terbangun sebagai manusia yang lupa untuk mempercantik sabarnya, memperpanjang syukurnya, dan menahan lisannya.

Saat paling berharga sesungguhnya adalah ketika ingat aku di sini hanya mampir saja, sebelum pulang ke kampung halaman selamanya. Semua menjadi semu, tidak nyata, dan tidak penting, sehingga aku merasa rendah, tak berdaya, dan hanya mengharap pada Allah. Ingatan itu hanya bertahan beberapa menit saja dalam puluhan ribu hari hidupku, segera hilang dan terganti oleh kejumawaan dan hedonisme. Aku bersusah payah menghidupkan kembali memori itu. Semoga Allah Mudahkan. Semoga doaku terkabul. Aamiin.

IMG_20141204_134801-1

Memperbaiki Sikap

Seringkali aku menggunakan blog ini untuk menasihati diri sendiri ketika self talk tidak berhasil. Aku menulis serapi mungkin dan mempublikasikannya ke seluruh dunia demi menyindir diri sendiri.

Baiklah, tulisan ini salah satu sindiran juga.

Suatu pagi aku terbangun kesiangan dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu sebelum solat subuh. Yah memang sih, solat subuh di waktu dhuha, tapi aku bisa apa.. Tiba-tiba dari kamar ortu terdengar panggilan untukku. Aku memutuskan untuk berteriak untuk menjawab panggilan itu, bukan membuka pintu kamar ortu dan bertanya dengan sopan apa yang bisa kubantu. Aku berteriak tentang prioritasku untuk segera wudhu dan solat dan aku butuh lima menit sebelum ke sana.

Di waktu yang lain aku sibuk menanggapi perkataan ortu dengan pengetahuanku yang kurasa cukup luas, yah relatif lebih luas dibanding pengetahuan ortuku. Waktu itu kami membicarakan tentang kesehatan. Justifikasiku, selalu, bahwa ortu sudah membayariku berjuta-juta dan mendukungku bertahun-tahun untuk akhirnya aku diperkenankan Tuhan menjadi seorang dokter, jadi mereka harus percaya dengan apapun yang kukatakan tentang kesehatan manusia.

Tidak jarang pula aku berharap ayahku adalah seorang dewa yang tidak pernah salah. Aku selalu punya ide tentang seseorang yang sempurna (jika ada, jika tidak berarti yang sedang kubayangkan adalah sebentuk dewa atau apalah), dan ayahku selalu kubandingkan dengan sosok sempurna itu. Aku selalu menemukan perbedaan antara ayahku dan kesempurnaan itu dan memutuskan untuk merenunginya atau marah dengan adanya perbedaan itu.

Aku yang beberapa waktu lalu merindukan kehidupan yang lain, seperti misalnya tinggal di suatu rumah dengan seorang asing yang ganteng (suami, maksudnya, kan asing tuh, bukan keluarga) sempat berjanji pada diri sendiri untuk memperbaiki sikap ke orang lain. Lalu aku mulai lelah dengan bayanganku, mungkin karena semakin tua, aku mulai menyadari bahwa sikapku sekarang menentukan diriku di masa depan.

Aku bertanya-tanya bagaimana aku bisa bersikap super romantis pada suamiku nanti jika aku merasa kesulitan untuk menjawab dengan nada rendah dan tenang atas pertanyaan atau panggilan atau teguran ortu? Bagaimana mungkin aku bisa memprioritaskan kebahagiaan suami nanti jika memenuhi keinginan ibu yang sederhana saja berat kulakukan? Apa bedanya bersabar dengan orang tua (haha, padahal ortu yang sudah banyak bersabar dengan anak macam aku ini) dengan bersabar dan bersikap baik pada suami? Apa bedanya menyayangi adik dan kakak sepenuh hati, sesabar mungkin, memahami dengan penuh pengertian, dengan bersikap baik setiap hari ke pasangan hidup yang benar-benar orang asing?

Manusia terbaik yang pernah tinggal di bumi ini, Salallahu’alaihi wassalam, pernah berpesan pada para pengikutnya, yang berarti termasuk diriku juga, bahwa orang terbaik adalah orang yang baik pada keluarganya (terutama istrinya). Dalam sebuah khotbah yang kudengar di yutub, pak ustadz mengatakan bahwa pesan itu memiliki arti tersirat bahwa justru bersikap baik kepada anggota keluarga merupakan salah satu hal tersulit. Sangat mudah bersikap ramah ke kolega, bawahan, atau murid, atau teman yang hanya bertemu beberapa jam sehari. Namun dibutuhkan kepribadian yang matang untuk menjaga sikap ke anggota keluarga sendiri. Sangat mudah tampak baik dan sabar, tidak emosional, dan penuh penghormatan ke orang lain di luar rumah tapi hanya orang-orang berbudi baik yang tetap bersikap baik sesampainya di rumah dalam keadaan fisik dan mental yang lelah sepulang kerja.

Pak ustadz itu dalam khotbahnya yang lain yang berjudul berbuat baik pada orang tua, mengingatkanku untuk tidak meminta pengecualian. “Tapi ayahku begini dan begitu, kau tidak mengerti, Tadz” tidak bisa diterima. Semua orang akan meminta pengecualian serupa. Terima, hormati. Titik. Orang-orang terdekat memang sering menjadi sasaran utama atas tuntutan-tuntutan kita. Kita menuntut kasih sayang, balas budi atas kasih sayang dan respek kita, pengertian, dan banyak lagi. Mungkin tuntutan itu wajar tapi mengutamakan kesadaran bahwa manusia punya keterbatasan itu lebih penting. Bahkan mengingat bahwa orang-orang terdekatlah yang pertama berhak atas cinta dan kasih sayang kita lebih penting dari sebagian besar hal dalam hidup ini.

Dengan berbuat baik setiap saat kepada orang-orang terdekat, mungkin akan lebih mudah untuk menghormati siapapun selain orang tua sendiri. Akan lebih mudah untuk menghormati suami (atau menyayangi istri) nanti dan melayani sepenuh hati. Akan lebih mudah pula untuk menjadi original di depan orang lain, asli tanpa tipuan, tanpa dibuat-buat. Sehingga kita tidak perlu repot menjaga citra yang bukan milik kita.

So don’t be yourself. But be your best self.

Suatu Pagi saat Sarapan

Pagi itu kuputuskan untuk memulai kembali regime protein whey-ku untuk sarapan. Protein whey sebagai asam amino, bentuk paling sederhana dari protein, dikabarkan mudah diserap dan meningkatkan massa otot sehingga melangsingkan. Beberapa tahun terakhir ini aku cukup rajin mendisiplinkan diri untuk minum protein yang cita rasanya traumatik itu. Kemudian akhir-akhir ini aku lupa, atau sekedar malas.

Ritualnya sederhana saja. Botol plastik dengan merk asal Jerman kuisi dengan sesendok penuh protein bubuk itu, kemudian kutambahkan air dingin sekitar tiga perempatnya. Aku duduk manis di ruang makan sambil mengocok botol yang sudah kututup rapat itu. Dikocok, bukan diaduk, sehingga nama populernya memang protein shake.

Aku tidak memakai alat khusus bernama shaker yang ada “roda” di dekat tutupnya sehingga aku perlu mengocok cukup kuat dan berkali-kali sebelum akhirnya seluruh bubuk terlarut. Berapa lama aku harus mengocoknya? Bagaimana aku tahu bahwa semua bubuknya sudah terlarut? Malas sekali kalau aku harus mencoba meminumnya hanya untuk mendapati bahwa belum semua bubuknya terlarut, bahwa ada gumpalan eneg yang terpaksa kukunyah. Akhirnya akal sehat sepersekian detikku memutuskan bahwa salah satu indikator sempurnanya larutan itu adalah tidak adanya endapan di pantat botol. Nah, untuk memastikan tidak ada endapan di pantat botolnya, aku mengocok dalam posisi terbalik sehingga pantat botol itulah yang selalu terlihat. Ketika pantat sudah bersih, aku bisa berhenti mengocok. Larutannya sudah aman untuk diminum. 

Dalam proses pengocokan itu pikiranku melayang ke pertanyaanku tentang kehidupan. Beginikah seharusnya menjalani hidup, memastikan terpenuhinya indikator yang mudah dipantau maka semuanya akan baik-baik saja?

Apakah ternyata tidak sesulit itu dalam menjalani kehidupan yang baik, yaitu hanya dengan memastikan kita melakukan hal-hal yang baik dengan benar?

Apakah dengan melakukan hal baik (bukan hal jahat) dengan benar (bukan dengan cara yang salah) akan memperbaiki diri ini dan mungkin memperbaiki keadaan orang lain atau dunia secara luas?

Seperti halnya aku yang hanya memastikan bahwa tidak ada endapan di pantat botol maka otomatis rasanya akan lebih enak (daripada jika tidak tercampur rata, maksudku), larutannya lebih rata tercampur, tidak ada gumpalan bubuk protein, sehingga mudah dicerna dan bermanfaat bagi tubuhku?

Ah, pertanyaan. Siapakah yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu?

Setelah kurang dari sepuluh kali guncangan botol yang kubuat, sudah tak terlihat lagi endapannya. Kubuka tutup botol itu. Buih terbentuk di permukaan. Tampak seperti milk shake. Atau teh tarik. Kubayangkan aku minum milk shake. Glek, glek, glek, beberapa detik saja dibutuhkan untuk meminumnya sampai tandas, dan selesai sudah sarapanku. Ya sih, beberapa jam kemudian ususku akan mengeluarkan bunyi peristaltiknya. Ah itu urusan lain yang harus dipikirkan.

Semoga segera langsing. Aamiin!

Oh, dan semoga tidak terlalu ribet menjalani kehidupan. Santai saja, prioritaskan hal baik saja. Semangat!

Krenteg (bukan kreteg)

“Masalahe krentegmu kurang, Dik.”

Demikian kira-kira perkataan seorang pria keren padaku setelah kami mengobrol lama. Mungkin karena dia keren aku mudah mengingatnya. Tapi aku berterima kasih padanya yang telah menambahkan kosakata bahasa Jawa itu yang kira-kira artinya niat atau tekad atau keinginan. Oh iya, kreteg sendiri (tanpa huruf n) artinya jembatan. Hehehe.

Dalam hal bertindak, semua orang pasti punya maksud di baliknya. Apapun tindakan yang dilakukan, pasti ada maksud atau tujuannya. Pertanyaannya adalah apakah tujuan atau maksudnya baik. Jika tujuan atau maksudnya baik pun, pertanyaan selanjutnya apakah tindakan untuk mencapai maksud atau tujuan itu sudah baik.

Setahuku niat itu segala-galanya. Niat kita harus baik. Semoga aku tidak mengacaukan arti niat, tujuan, maksud, keinginan, dan tekad. Yah lima kata itu bagiku artinya sama, minimal mirip. Selanjutnya aku akan menggunakan kata ‘niat.’ Segala hal dinilai dari niatnya. Itu kata Rasul Yang Dimuliakan Tuhan. Maksud ucapan beliau itu adalah apapun yang kita lakukan, kita harus selalu mengevaluasi niat di baliknya. Sudah benarkah?

Dalam beribadah, niat yang muncul haruslah berupa ‘penghambaan diri pada Tuhan.’ Harus ya? Iya, kataku. Hehehe. Masalahnya selama berabad-abad peradaban manusia, niat sesederhana itu perwujudannya susahnyaaaa minta ampun. Dengan demikian munculah agama-agama semacam kristen, khatolik, dan budha. Dalam ajaran masing-masing agama itu, niat ibadah dimaksudkan dengan ‘bersyukur tuh Tuhan Yesus sudah rela disalib demi menebus dosa kalian semua, masa kalian gak bersyukur sama Dia sih.” dalam agama kristen dan khatolik, atau “ayo berbuat baiklah karena setelah ini kamu gak pengen jadi hewan yang lebih rendah derajatnya kan.” dalam agama Budha.

Dalam Islam sendiri, aku mengamati ada beberapa tingkatan niat yang bisa selalu diusahakan penganutnya dalam mendasari setiap perbuatan.

Niat terendah adalah untuk menghindari siksa api neraka yang panasnya melebihi panas matahari, yang lamanya melebihi kata ‘selamanya.’

Niat setingkat di atasnya adalah agar mendapatkan kenikmatan abadi di surga yang tamannya berisi buah-buahan yang tak pernah habis dipetik. Nikmat surga juga berupa sungai madu yang terus mengalir, dan para bidadari dan bidadara yang menyejukkan mata.

Niat di atasnya lagi setahuku adalah niat untuk bersyukur atas nikmat Tuhan atas kehidupan ini, atas penciptaan kita sebagai manusia, atas kelengkapan fisik dan mental kita dan semua yang kita miliki, sehingga segala perbuatan harus dilandaskan rasa terima kasih pada Tuhan itu. Yah mirip dengan ajaran kristen dan khatolik lah, untuk bersyukur.

Nah setahuku niat tertinggi ya yang katanya ‘sederhana’ itu yaitu niat untuk menghamba pada Tuhan. Ya karena kita hamba Tuhan, bukan siapa-siapa. Jadi ya kita di dunia ini hanya untuk menghamba, hanya untuk beribadah. Titik. 

Tentu ada perdebatan dalam tingkatan niat itu, tidak sedikit ulama yang menyatakan bahwa satu-satunya niat yang benar adalah yang terakhir kusebutkan itu, bahwa ibadah hanya untuk Tuhan, bukan untuk menghindarkan diri dari neraka atau mengharap surga atau hanya bersyukur saja. Namun di dalam Al-Quran pun banyak disebutkan deskripsi ngerinya neraka maupun indahnya surga.  Apakah tujuannya selain mengingatkan manusia untuk bersemangat  dalam beribadah, kan. Jadi setahuku sah-sah saja menjadikan surga dan neraka untuk niat ibadah, sambil pelan-pelan berusaha mencintai Tuhan dan akhirnya menghamba.

Hanya mau mengingatkan diri sendiri, apapun niatnya, sampai di tingkat mana pun niatnya, pastikan niat itu baik. Lebih baik lagi, usahakan agar niat berupa penghambaan pada Tuhan bisa tercapai, walau tercapainya nanti di ujung ajal. Semoga dimudahkan.

“Krenteg e dibenerke sik ya, Dik.” 🙂

Perkenalkan

Perkenalkan. Saya seorang bersuku Jawa yang mengaku muslim. Umur saya dua puluh tujuh lebih, belum menikah dan tinggal bersama orang tua. Pekerjaan saya dokter walau saya akan meralatnya menjadi ‘profesi’ karena saat ini saya berusaha ke kantor setiap harinya di kampus negeri dan tidak praktik. Suatu hari saya akan praktik lagi setelah urusan sekolah master yang belum ada progres ini saya selesaikan, begitu yang selalu saya tekankan ketika ditanya kapan kembali praktik. Saya anak tengah dengan seorang kakak pria yang belum menikah dan adik perempuan yang sudah menikah. Penting bagi saya untuk segera menyusul adik saya untuk menikah tanpa alasan yang jelas. Mungkin hanya untuk pindah dari rumah orang tua, atau mungkin untuk sedikit merasa lega bahwa ada manusia lain di dunia ini yang menginginkan kehadiran saya sebagai istri dan mungkin ibu bagi anak-anaknya.

Hampir setiap pagi saya menyeret kaki menjalani hari dengan mood yang carut-marut. Kata para tokoh agama, mood jelek saya itu akibat saya tidak bersyukur atas hidup saya yang nyaris sempurna. Jadi saya sibuk mengingat kelebihan-kelebihan saya yang mungkin bisa membahagiakan saya, yang kemudian kebahagiaan itu bisa meningkatkan produktivitas saya sebagai wanita karir yang diharapkan bangsa dan negara.

Sementara para sebaya saya sibuk dengan keluarga kecilnya atau proyek besar dalam benaknya atau rencana pengentasan kemiskinan bersama grupnya, saya sibuk membujuk diri sendiri tentang pentingnya menjalani hidup dengan penuh antusiasme. Saya sibuk menenggak suplemen-suplemen agamis yang menawarkan kebahagiaan tak terbatas bagi semua orang. Kemudian saya akan merasa lega dan selanjutnya merasa lebih ringan saat menyeret kaki ini.

Entah apa yang saya tunggu untuk akhirnya bangun dengan jiwa berapi-api, dengan ambisi untuk berbakti bagi bumi ini. Entah apa yang hilang dari diri saya sampai kehampaan jiwa ini berlarut-larut, kekosongan yang sungguh berat diseret saat melangkah digilas waktu. Iya, kosong namun berat, lambat namun cepat, saat tahu-tahu sudah hampir akhir tahun, saat tahu-tahu banyak orang sudah berbuat, dan saya masih termangu tanpa air mata.

Pernah saya merasa brilian ketika merindukan diri saya versi masa depan yang sudah produktif dan diharapkan banyak orang. Diri saya dari masa depan itu menghampiri diri saya yang sekarang, menepuk pundak sambil menenangkan bahwa semua akan baik-baik saja, semua akan berlalu, dan saya akan bisa melewatinya. Impian semu, namun merupakan solusi atas kehampaan saat ini. Kemudian saya merasa lebih brilian ketika membaca jurnal-jurnal saya sendiri bertahun lalu. Di situ saya temukan diri saya yang produktif dan ceria, walau sering terhias air mata manja. Membacanya membuat saya percaya akan kemungkinan jiwa saya kembali terisi, akan kebahagiaan abadi yang sekarang dirasa sedang hilang. Jadi saya sedang termangu minta diajari diri saya yang dulu, yang kekanakan dan sering seenak sendiri, namun penuh optimisme, kebahagiaan, dan harapan-harapan.

Dalam saat terbaik saya, semisal menjelang pergantian siang dan malam saat kadar gula darah terbatas, saya menyadari bahwa merindukan diri saya di masa depan maupun di masa lalu bukanlah solusi. Bagaimanapun bentuk saya, baik dulu yang saya rasa lebih produktif, maupun saat ini yang lebih banyak menangis tanpa sebab yang jelas, adalah tetap diri saya yang dilimpahi rahmat-Nya. Mungkin mengandaikan masa depan maupun mendewakan masa lalu maupun mencerca masa kini tidak pernah bermanfaat. Mungkin saya hanya harus terus melangkah dengan secuil iman di dada, iman pada Tuhan Yang Tidak Pernah Lelah Menunggu hamba-hambaNya berjalan kembali menujuNya, Yang Kasihnya meliputi jagat raya, Yang RahmatNya jauh Melebihi MurkaNya.

Jadi perkenalkan, saya seorang pelayan Tuhan yang sedang terlena dari tugas utamanya di dunia..

Pushing People Away

Pushing Me Away adalah sebuah judul lagu milik Linkin Park, sebuah band Amrik kesukaanku jaman SMA dulu.

Intinya ada orang yang suka menjauhkan orang lain dari dirinya. They push away people from them. Entah sengaja maupun tidak. Kalau yang sengaja sih aku sedang tidak ingin membahasnya. Bisa saja karena dia memang sedang tidak ingin berinteraksi dengan manusia lain. Bisa pula dia sedang muak dengan manusia, sedang ingin sendiri, dan semisalnya. Aku sedang merasa mendapat inspirasi untuk membahas yang tidak sengaja menjauhkan orang-orang dari dirinya sendiri.

Hm, contoh paling mudah memang kalimat-kalimat bijak yang dibagikan untuk anak-anak di sekolah dasar semacam “jangan sombong nanti tidak punya teman” dan “pembohong dibenci orang” (yang terakhir saya agak asal). Yang jelas orang pada umumnya menyukai kebaikan dan membenci keburukan. Orang akan tertarik pada sifat baik dan menjauh oleh sifat buruk. Kita tentu senang jika punya teman yang baik hati, suka menolong, suka menabung sekaligus mentraktir kita, jujur, murah senyum, dan sifat baik lainnya. Sebaliknya jika ada teman yang sombong, culas, licik, munafik, suka mengadu domba, tukang bohong, dan sifat buruk lainnya, kita ingin menjauh saja kan. Rasanya sifat-sifat dia bisa mengancam minimal ketentraman hati kita, atau bahkan mengancam nama baik kita, ya kan.

Nah, itulah maksudku. Banyak orang yang karena sikapnya pada orang lain membuatnya dijauhi. Dengan cara bergaulnya, orang di sekitarnya mundur teratur sambil membatin, “Aku tidak mau lagi berurusan dengan orang ini deh. Cukup tau aja,” kemudian balik badan dan kabuuuur. Aku sering melakukannya. Dan aku yakin banyak orang yang pernah melakukan itu padaku (ya, aku baru nyadar sekarang, makanya kutulis posting ini). Tentu ada pilihan lain selain kabur yaitu menampar wajah orang yang bersikap buruk itu sebelum akhirnya kabur juga. Hehehe.

Sebelum kubahas lebih jauh, aku harus memastikan adanya kesepakatan bahwa banyak teman banyak rejeki dan sebaliknya kan. Selain itu, manusia adalah makhluk sosial yang berarti kita semua saling membutuhkan. Kita tidak bisa hidup sendiri. Titik. Jadi jika seseorang dijauhi orang maka urusannya akan lebih sulit karena kurangnya orang yang berada di sekitarnya. Bagaimana jika dia butuh pertolongan orang lain? Bagaimana cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya?

Nah, dengan mengingat pentingnya keberadaan orang lain, penting pula untuk mempertahankan mereka agar tetap di sekitar kita. Suatu hari aku meminta sesuatu pada seorang temanku. Dia mengiyakan akan mencoba mencarikan permintaanku itu dan menjanjikan tentang waktunya. Suatu hari aku menagih janjinya untuk mengabarkan padaku apakah dia bisa memberiku. Karena tidak ada respon yang memuaskan, aku mengulanginya, menagih lagi setiap hari. Sampai suatu hari aku tidak menagih, karena sedikit bosan, tapi meminta maaf jika membuatnya merasa dikejar-kejar. Aku meminta maaf telah membuatnya berprasangka bahwa aku tidak akan bisa menerima jika ternyata dia hanya akan datang dan berkata bahwa dia tidak bisa memberi permintaanku. Bisa ditebak, dia cukup kaget dengan permintaan maafku sebelum akhirnya mengabarkan bahwa dia tidak bisa mencarikan permintaanku itu.

Kemudian aku menangis.

Kemudian aku bertanya padanya. Mengapa dia sempat khawatir jika aku tidak bisa menerima ketidaksanggupannya. Mengapa dia membuatku menunggunya lebih lama. Di sini aku yang merasa rugi karena tidak mendapat kepastian apakah aku bisa mendapatkan permintaanku darinya. Jika tidak bisa maka aku akan mencarinya melalui orang lain (harus dengan orang, iya benar).

Giliran jawabannya yang mengagetkanku. Sebagai orang yang mengenalku, dia berasumsi bahwa aku akan menyangkal kenyataan. Aku dianggap akan menolak jika dia tidak bisa memberi permintaanku. Ya, wajahku adalah wajah penyangkal. Manusia denial yang berikutnya akan terjadi drama atau histeria. Daripada harus berurusan dengan kemungkinan itu, dia memilih mundur teratur dan berharap aku melupakan pertanyaanku padanya. Seperti contohku di atas, dia sedang membatin, “waduh sepertinya aku kabur saja daripada harus berurusan dengan orang ini.”

Persangkaannya yang buruk terhadap kemungkinan responku bukan asal menebak. Dia cukup mengenalku, sehingga prognosis yang dibuatnya itu hampir benar. Buktinya aku menangis. Buktinya aku susah payah menahan teriakanku untuknya “kenapa kamu tega.”

Mari menganalisis. Bagaimana jika aku tidak mengubah kalimatku untuknya setiap hari “jadi kapan kepastiannya kamu bisa atau gak” menjadi “maaf ya menagihmu terus sampai bikin kamu gak kunjung ngabari jadinya gimana”. Hanya dengan kalimat yang kedua itu akhirnya dia menyatakan kekagetannya “makasih ya sudah terima kenyataan bahwa aku gak bisa ngasih permintaanmu.”

Jadi inti dari tulisan ini adalah janganlah menjadi sepertiku (lho?). Jangan membuat orang berburuk sangka. Akibat buruk terkecilnya adalah kita rugi. Rugi karena kita butuh orang lain, dan karena sikap kitalah orang lain yang kita butuhkan itu malah menjauh sambil membawa pergi kebutuhan kita. Akibat yang lebih besar adalah: sebagian buruk sangka bisa menjadi dosa. Adakah cara yang lebih mudah untuk menghindarkan buruk sangka orang selain dengan bersikap baik?

Sikap baik terkecil adalah selalu mencoba menerima kenyataan. Yah setidaknya itu pada kasusku. Contoh menerima kenyataan adalah tidak banyak mengeluh tentang apapun. Hujan, panas, orang tua lengkap, yatim, belum lulus kuliah atau apapun, ya disyukuri, setidaknya diam tidak mengeluh. Entahlah, masih belajar nih. Ada usul lain?