Solat dan Narkotik

Pada tingkat  keimanan yang rendah, manusia mungkin memperlakukan solat atau ibadah vertikal lainnya seperti narkotik. Suatu media penyaluran rasa frustrasi dan lelah akan kehidupan dunia yang fana ini. Dengan solat pikiran dipaksa tidak terpaku pada dunia. Saat solat semua hal tentang mahasiswa yang nakal atau pintar, atau thesis, atau lauk yang harus dibeli di warung sejenak terlupakan, tergantikan dengan ketenangan sesaat. Bisunya pikiran bersama dengan gerakan lidah membaca doa solat mungkin meredakan stress saat itu.

Pada tingkat tertentu minuman beralkohol pun dapat mewakili efek narkotik. Beberapa gelas wine cukup membuat pikiran melayang (saya tidak tahu bagaimana deskripsinya, tapi saya rasa mirip dengan solat khusyuk) dan stress tidak akan terasa seberat biasanya. Saat itu peminumnya akan lupa bahwa dia sedang penat atau sedih atau ingin mati.

Saya rasa semua manusia normal perlu jeda dalam hidupnya. Jeda yang membuat otak sadarnya melupakan masalah terkini, melupakan fakta bahwa ada anak-anak yang harus diberi makan, ada janji-janji yang harus dipenuhi. Jeda yang walau sesaat akan mengurai kerumitan di otak, dan akhirnya menyegarkan otak untuk berjuang lagi menyelesaikan masalah dan terus beradaptasi. Jeda yang makin sering dilakukan makin baik.

Mungkin seperti teman-teman bule di laborat dulu, yang selalu girang menjelang jumat sore, karena kursi bar dan beberapa botol bir cider dingin di seberang rumah sakit sudah menunggu. Banyak kepenatan yang perlu diurai melalui bir dan perbincangan penuh tawa dengan teman sekantor. Orang-orang ini mungkin yang tidak punya kegiatan bernama ibadah karena tidak adanya konsep Tuhan dalam pikiran. Saya lihat mereka rutin melakukannya setiap Jumat sore di musim apapun, sesibuk apapun mereka. Mungkin ketika terpaksa lembur karena jumlah potongan selnya masih kurang, dia akan menyusul semalam apapun. Mungkin seperti kata si @ndorokakung, “ngombe sik ndak edan.” (Minum dulu biar tidak gila).

Serendah apapun tingkat keimanan seseorang, saya rasa kebutuhan akan jeda itu selalu ada. Entah terpenuhi sementara dengan minum bir sampai mabuk, mengkonsumsi narkotik sampai ‘fly’, atau solat penuh persiapan sampai khusyuk.

Kebutuhan itu makin terasa saat tidak solat karena tidak bisa (bagi wanita). Atau pada orang yang beragama tapi tidak melakukan ritual keagamaan (non-practicing believer). Apalagi jika mengaku muslim sehingga menghindari minum minuman beralkohol dan makan babi tapi tidak solat. Mau lari ke mana saat stress? Mau bagaimana saat butuh menurunkan gelombang beta di otak yang bertubi-tubi meruwetkan keruwetan hidup yang ada?

Maka bolehlah para atheis atau skeptis menuduh pemeluk agama sebagai sekumpulan orang berwaham yang memabukkan diri dengan melakukan ritual agamis bernama ‘ibadah.’ Mungkin pemahaman itu juga akan terus beredar di muka bumi, termasuk pada saya dengan keimanan serendah saat ini. Butuh mabuk untuk melupakan dunia? Solatlah.

Advertisements

Where is the prayer room?

Suatu hari aku berada di luar negeri. Di negara kafir, kata beberapa orang. Di negara yang gak banyak tempat solatnya, kataku. Ketika hari itu aku akan bepergian cukup lama, sepanjang pagi aku mencoba browsing hukum menjamak solat di negeri orang. Ternyata nihil. Statusku adalah temporary resident alias bermukim, sehingga keringanan untuk menjamak tidak berlaku.

Suatu sore aku harus solat ashar. Aku tidak cukup nyali untuk menggelar sajadah di pinggiran taman yang bersih itu. Dalihku, takut ada tai anjing atau sisa benda najis lainnya. Padahal jauh di dasar hati, aku tidak ingin menjadi pusat perhatian di tempat umum.

Student union aku masuki. Semacam gedung berisi segala kebutuhan mahasiswa, seperti toilet, tempat makan, toko-toko. Aku bertanya ke informasi adakah tempat solat. Tidak ada, katanya. Ada sih, di suatu gedung yang lain, beberapa ratus meter dari sini.
Tapi aku harus solat sekarang, kataku. Seorang lainnya di informasi menyodoriku kertas ukuran folio yang dilaminasi bertuliskan ROOM IN USE. Ini, tempelkan di pintu parenting room, katanya. Aku langsung ngeloyor pergi setelah mengucap terima kasih dengan senyum lebar. Parenting room yang isinya wastafel, kaca setengah badan, dan meja lipat untuk mengganti popok bayi itu aku kunci. Aman. Alhamdulillaah solat ashar tunai sudah.

Tiba waktu maghrib. Wudhu yang berhasil aku tahan keberadaannya membuatku hanya perlu mencari tempat solat untuk maghrib. Celingak-celinguk, sepertinya di sini aman. Suatu sudut ruangan dekat toilet. Ruang yang banyak pipanya dan ada tulisannya security only. Dengan tenang dan nyaman, alhamdulillaah maghrib tunai.

Oya, dua senjataku: kompas dan sajadah.

Cari arah barat atau sektarnya. Yah 270 derajat, tapi ada sumber yang mengatakan 265 atau 280 atau semacamnya. Sudah kubaca, jika ka’bah tidak terlihat maka tentukan arahnya saja, kira-kira. Wallohu’alam.

Terus sajadah. Ya yang tipis lah, tapi cukup utk mengalasi seluruh tubuh saat duduk dan sujud. Oh, dan cukup tebal sehingga tidak mudah diterbangkan angin.

Oya, beberapa waktu lalu aku baru mengetahui fakta bahwa mukena adalah budaya Indonesia. Ya, muslim di timur tengah, misalnya, pakai baju biasa asal menutup aurat, untuk solat.

Maka selain kompas dan sajadah yang wajib ada di tas ketika bepergian, aku bawa manset yang menutupi punggung tangan, dan kaos kaki yang bersih. Itulah mukenaku. Demi apa ya, demi praktis dan tidak mencolok perhatian.

Demikian ceritaku solat di negeri orang. Belum banyak mendengar atau membaca cerita kesulitan orang lain solat di negeri orang. Apa aku yang lebay dan banyak mengeluh, atau mereka memang hebat, atau apa. Enjoy exploring!

Di Bantir

[This is an old post, it was written in February 2008 maybe. Not sure.]

Sebagai anggota tim medis yang bertugas di sebuah acara pelantikan Pramuka, Paskibar, PKS, dan PMR sebuah SMA unggulan di suatu desa di lereng gunung yang dingin, aku merasa sangat beruntung. Saat ini aku merasa bisa mempraktikkan apa yang kupelajari saat kuliah.  Aku merasa inilah saat belajar yang sesungguhnya. Sayang rasanya, kalau aku tidak menuliskannya, sekedar untuk dibaca-baca nanti ketika sudah jadi dokter, atau kapanpun di masa depan.

***

Pasien satu: Seorang anak digotong. Suara napasnya terdengar bertenaga, terutama saat menghembuskan napas. Terdapat kaku di jari tangan dan kaki. Diagnosisnya asma. Terapi dengan duduk nyaman sampai tenang, baru diberi teofilin dan aminofilin (Neonapacin).

Pasien dua: Dismenore pada hari kedua haid diredakan dengan asetaminofen (feminax) dan kompres hangat di perut, tepatnya di bawah pusat. Hangat menyebabkan vasodilatasi sehingga menaikkan suplai darah. Selain itu hangat dapat melemaskan otot dinding perut yang tegang sehingga nyeri berkurang.

Pasien tiga: Seluruh tubuh bergetar, tangan dan kaki kaku, gigi gemeletuk. Apakah ini kedinginan atau hipotermi? Aku tidak tahu pasti. Terapinya adalah dengan melepaskan pemicu dingin yaitu baju basah. Kemudian selimuti.

Pasien empat: Seorang anak datang dengan perut yang sakit akibat telat makan. Antasid 5 menit sebelum menelan roti dapat membantunya. Ada lagi yang pusing, padahal sudah makan! Hm, sedikit potongan roti untuknya kemudian antalgin. Intinya, berpura-pura jadi dokter. Dosakah?

Suatu malam datanglah seseorang yang minta antiseptik betadine (pasien lima). Ternyata dia mengalami lecet. Jadi kuambil kapas dan alkohol, tapi ternyata kapasnya malah menempel di luka. Oh, aku jadi mengerti, yang benar adalah menggunakan kasa, bukan kapas. Baru kemudian diberi betadine. Hmph, dia juga mengeluh pegal di betis. Jadi kuberi saja Counterpain, alias salep analgesik.

Semakin larut, semakin banyak yang datang. Terutama karena kedinginan. Yang harus dilakukan adalah melepaskan pakaian yang basah (terutama kaos kaki), masuk ke dalam sleeping bag, dan tidur.

Pasien ke-sekian belas: Ada seseorang dengan kelainan darah. Entah apa, aku belum bertanya langsung. Dia alergi paracetamol. Saat itu dia capek total, jadi dia merengek minta obat itu. Timbullah ruam kulit kemerahan. Dan dia nekad pergi hiking. Ya sudahlah.

Niken namanya. Leukopenia, katanya. Kaki sakit, sulit digerakkan, tulang nyeri, linu, lemas. Beberapa jam sebelumnya, dia merasa sesak napas dan mual. Karena sesak, dia tidak bisa muntah. Jadi dia memilih pulang supaya bisa bertemu dokternya yang tak lain adalah dosenku sendiri.

Pasien ke-sekian: Ada appendicitis juga di sini. Tapi belum perforasi. Belum operasi. Hm, aku jadi sok tau. Aku segera mendekatinya, dan mengobrol. “Aku pernah, kok” kataku. “Enggak sakit. Aku lebih parah. Udah pecah,” dan seterusnya. Dia tampak lebih tenang.

Dokter bukan hanya orang yang mempraktekkan ilmunya, melainkan juga meraih ruhiah seseorang dan memeluknya, berharap bisa membantu meringankan apapun beban yang dirasakan. Merasa ditemani dan diajak berkomunikasi mungkin cukup membantu. Entahlah, itu menurutku. Sebenarnya dia masih tampak kesakitan sih.

Satu lagi kasus menarik sampai detik ini. Sebuah gejala fisik akibat pengaruh psikis. Begitulah kalimatku untuk menggambarkan kondisinya. Mungkin takut, mungkin malas, mungkin benci. Tahulah, acara pelantikan semacam ini membutuhkan semangat dan mental kuat untuk menghadapi ‘cobaan’ dari para senior. Yang dilakukan oleh pasien-terakhir-kami-hari-ini itu adalah mempercepat napasnya (voluntary tachipneu ^^). Hahaha, aku ingin tertawa. Aku bisa mengenalinya. Jelas sekali. Kemudian dia menggigil dengan sengaja. Mengapa aku tahu itu sengaja? Satu, suhu tangan dan kakinya normal, cenderung hangat. Kedua, tidak ada kaku di jari tangan dan kaki (aku berhasil membandingkannya dengan pasien hipotermi kemarin itu). Ck ck, ketahuan, Dik. Sudahlah, mengakulah….

Aku super duper sebal, sehingga aku berusaha mencuekkannya. Sebal! Aku tidak bisa menyebut apa itu sejak awal kedatangannya, walau aku tahu semuanya palsu, sampai mbak Ririn datang dan menyebut satu kata itu: histeria. Bisa pula menjadi kelainan fisiologis jika psikisnya berpura-pura untuk waktu yang cukup lama.

Satu jam lagi aku akan pergi dari sini. Cukup banyak kasus yang kami temui selama 24 jam ini. Satu hal kecil lagi. Aku tidak melihat satupun pasien di barak kami yang sholat. Khusnudzon bahwa tidak semuanya muslim, dan semua yang muslim sedang berhalangan? Hm, terlalu berharap. Bukan, bukannya sok idealis. Namun masa iya, kami para tenaga medis mengingatkan kewajiban mereka? Atau, masa tidak mau sih, hanya bertanya ‘sudah sholat belum’? Bisa jadi mereka memang harus diingatkan….

Aku jadi teringat dua kata penting yang ingin aku tanamkan dalam hati, “Kedokteran Islam”. Ke manakah semua itu. Katanya dokter harus menjadi contoh?! Katanya kedokteranlah yang harus menyesuaikan dengan Islam, bukan sebaliknya?! Hm… Kehilangan kata-kata nih. Sejauh ini aku bersikap acuh. Tidak peduli. Terserah mau sholat atau tidak, itu urusanmu dengan Tuhanmu sendiri. Sakit bukanlah alasan untuk meninggalkan kewajiban. Bahkan kewajiban itu sudah disertai banyak keringanan. Untuk orang sakit, misalnya.

Mungkin dalam lima belas menit aku akan pergi meninggalkan ‘tempat belajar’-ku ini. Semoga bermanfaat.

*Thanks to Maladica. Miss those moments in Bantir with all friends, mas, mbak, dan adik-adik….*