Ingin Kurus Lagi

Indeks massa tubuh terkiniku tidak mengkhawatirkan, pun jika bertemu kawan lama, dia atau mereka akan berkomentar “Kamu kurusan” atau semacamnya, yang berarti bagus. Jadi tidak ada urgensi untuk menurunkan berat badan, sebenarnya. Namun ada hal penting yang dua tahun terakhir membuatku terobsesi: lari. Kata beberapa artikel ilmiah, berat badan berpengaruh pada kemampuan lari, baik kecepatan maupun ketahanan (endurance). Jadilah ada misi baru tahun 2016 ini, untuk ingin kurus lagi. Menurunkan berat badan, menurunkan BMI, meningkatkan massa otot, menurunkan persentase lemak, dan menuju size zero (yang terakhir ini bohong ya hahaha).

Memasuki minggu ketiga di bulan pertama tahun ini, aku berusaha disiplin sarapan muesli (campuran antara oat/ gandum, kismis, biji-bijian seperti kuaci, dan kacang almond) dengan susu, serta kopi pahit (yang ini hanya hobi sejak pernah tinggal di Melbourne). Selain itu aku mengunduh aplikasi ponsel bernama “My Plate” yang kucurigai buatan Lance Armstrong (atlet sepeda dunia yang ketahuan dopping tapi tetap keren itu, yah atau mungkin karena aku sudah baca buku biografinya) yang prinsipnya adalah jurnal makanan. Aku tidak tahu efek aplikasi  itu selain membuatku agak sedih di setiap penghujung hari ” Yah hari ini kalorinya masih lebih dari 1200 kkal.” Hahaha.

Betul, kata banyak penelitian, diet itu lebih penting daripada latihan fisik jika ingin menurunkan berat badan. Tapi sebagai pelari, aku selalu berusaha berlari. Seru juga ada alat namanya sabuk denyut jantung, yang bisa dipasang seperti memasang bra, yang sensornya ditampilkan di arloji canggih bermerk Garmin di pergelangan tanganku. Saat berlari aku jadi bisa menyesuaikan kecepatan lariku sedemikian hingga tercapai zona denyut jantung yang paling efektif dalam pengunaan energi dari lemak. Haha, ribet ya. Singkatnya, jika denyut jantung (untuk wanita usia 29 sepertiku) sekitar 125 kali/menit maka energi yang digunakan tubuhku untuk berlari diambil dari asam lemak (bukan dari gula), sehingga harapannya lemak tubuhku jadi berkurang selesai berlari. Hahaha, dengan lari rutin, maksudnya..

Tentu “lari santai sekali” demi mencapai zona denyut jantung yang membakar lemak itu sulit, jadilah aku juga menjadwalkan latihan interval. Latihan ini semacam lari ngebut sekali yang diselingi dengan jalan kaki setengah menit atau maksimal semenit untuk istirahat, lalu dilanjut lari ngebut lagi. Interval ini berat deh tapi demi kurus mungkin aku bisa semangat. Mungkin, hahaha.

Aku sudah tidak sabar mengabari pembaca semua bagaimana hasil dari pelangsingan ini. Oya, targetku adalah lingkar pinggang ** cm dan berat badan ** kg dan BMI ** dan persentase lemak kurang dari 25% dan ukuran baju zero (hahaha). See you soon!

 

 

My Supplication

Aku tidak pandai melantunkan doa namun aku tahu Allah Maha Mendengar dan Memahami apa isi hatiku, apa kerinduanku. Aku ingin hatiku bersih sebening cermin yang memantulkan kebaikan yang mengenainya. Aku ingin kekotoran di dalamnya sirna bersama penyesalan dan pembelajaran untuk tidak mengulanginya. Aku ingin kebutuhanku, baik jasmani maupun rohani, tercukupi dengan mudah sehingga hidupku hanyalah untuk berbakti, bukan menuntut minta dibagi. Aku juga ingin menjadi berkah bagi sekitarku, bukannya membebani atau menimbulkan ketidakenakan hati. Aku ingin meneladani manusia terhebat di dunia sepanjang masa, Rasulullah Salallahualaihiwassalam.

Rasanya malu, aku banyak inginnya namun sedikit usahanya. Aku malu bahwa sabarku masih kurang cantik, bahkan jauh dari cantik. Aku malu masih ada keluh dalam lisanku, banyak syarat dalam lakuku, dan tidak segera bergerak dengan apapun yang kupunya. Aku malu pada Allah, menuntutNya aku ingin begini dan begitu, sementara langkahku menuju padaNya terseok, kadang terhenti. Aku malu meminta jodoh sementara aku tidak patut dibanggakan sebagai seorang wanita. Aku malu pada penghuni bumi yang tekun dan sabar mengusahakan kehidupan yang baik dan penuh rahmat, sementara aku sibuk menghitung kekuranganku dan menutut kebaikan dari Allah.

Kasih sayangNya sering mengagetkanku, yang DilimpahkanNya padaku, sehina apapun diriku, sekejam apapun diriku membuat judgment atas diriku sendiri, atau atas orang lain padahal aku tidak pernah tahu keadaan sebenarnya. Aku diliputi kasih sayangNya namun seringkali menutup mata dan telinga atas semua itu. Aku lupa bahwa hanya dengan menerima kasih itu dengan hati terbuka maka aku bisa meneruskannya ke diriku sendiri dan ke para penghuni bumi.

Rasanya ingin menangisi kelambanan hatiku untuk tergerak menuju cahaya. Cahaya itu selalu ada, sinarnya selalu benderang menyilaukan mata hati sekaligus menenangkannya. Namun kesombongan dan kedurhakaan kerap kali menjadi pemenang. Lagi-lagi aku hanya bisa mengeluh atas ketidakberdayaanku, dan akhirnya berbisik lirih pada Allah untuk dikuatkan, diberanikan menghadapi kehidupan, melangkahkan kaki menuju kebaikan itu. Aku tahu hanya dengan Kehendak Allah aku bisa menuju cahaya itu dan terselimuti dengan nyaman dan akhirnya berpendar terang di muka bumi ini.

Kadang kerinduan datang, untuk pulang ke kampung halaman. Namun aku takut jika Allah belum berkenan dengan ringannya timbangan kebaikanku. Aku kemudian menangis dan lelah karenanya, berharap setiap tetes air mata melunturkan dosa. Namun aku akan terbangun sebagai manusia yang lupa untuk mempercantik sabarnya, memperpanjang syukurnya, dan menahan lisannya.

Saat paling berharga sesungguhnya adalah ketika ingat aku di sini hanya mampir saja, sebelum pulang ke kampung halaman selamanya. Semua menjadi semu, tidak nyata, dan tidak penting, sehingga aku merasa rendah, tak berdaya, dan hanya mengharap pada Allah. Ingatan itu hanya bertahan beberapa menit saja dalam puluhan ribu hari hidupku, segera hilang dan terganti oleh kejumawaan dan hedonisme. Aku bersusah payah menghidupkan kembali memori itu. Semoga Allah Mudahkan. Semoga doaku terkabul. Aamiin.

IMG_20141204_134801-1

Perkenalkan

Perkenalkan. Saya seorang bersuku Jawa yang mengaku muslim. Umur saya dua puluh tujuh lebih, belum menikah dan tinggal bersama orang tua. Pekerjaan saya dokter walau saya akan meralatnya menjadi ‘profesi’ karena saat ini saya berusaha ke kantor setiap harinya di kampus negeri dan tidak praktik. Suatu hari saya akan praktik lagi setelah urusan sekolah master yang belum ada progres ini saya selesaikan, begitu yang selalu saya tekankan ketika ditanya kapan kembali praktik. Saya anak tengah dengan seorang kakak pria yang belum menikah dan adik perempuan yang sudah menikah. Penting bagi saya untuk segera menyusul adik saya untuk menikah tanpa alasan yang jelas. Mungkin hanya untuk pindah dari rumah orang tua, atau mungkin untuk sedikit merasa lega bahwa ada manusia lain di dunia ini yang menginginkan kehadiran saya sebagai istri dan mungkin ibu bagi anak-anaknya.

Hampir setiap pagi saya menyeret kaki menjalani hari dengan mood yang carut-marut. Kata para tokoh agama, mood jelek saya itu akibat saya tidak bersyukur atas hidup saya yang nyaris sempurna. Jadi saya sibuk mengingat kelebihan-kelebihan saya yang mungkin bisa membahagiakan saya, yang kemudian kebahagiaan itu bisa meningkatkan produktivitas saya sebagai wanita karir yang diharapkan bangsa dan negara.

Sementara para sebaya saya sibuk dengan keluarga kecilnya atau proyek besar dalam benaknya atau rencana pengentasan kemiskinan bersama grupnya, saya sibuk membujuk diri sendiri tentang pentingnya menjalani hidup dengan penuh antusiasme. Saya sibuk menenggak suplemen-suplemen agamis yang menawarkan kebahagiaan tak terbatas bagi semua orang. Kemudian saya akan merasa lega dan selanjutnya merasa lebih ringan saat menyeret kaki ini.

Entah apa yang saya tunggu untuk akhirnya bangun dengan jiwa berapi-api, dengan ambisi untuk berbakti bagi bumi ini. Entah apa yang hilang dari diri saya sampai kehampaan jiwa ini berlarut-larut, kekosongan yang sungguh berat diseret saat melangkah digilas waktu. Iya, kosong namun berat, lambat namun cepat, saat tahu-tahu sudah hampir akhir tahun, saat tahu-tahu banyak orang sudah berbuat, dan saya masih termangu tanpa air mata.

Pernah saya merasa brilian ketika merindukan diri saya versi masa depan yang sudah produktif dan diharapkan banyak orang. Diri saya dari masa depan itu menghampiri diri saya yang sekarang, menepuk pundak sambil menenangkan bahwa semua akan baik-baik saja, semua akan berlalu, dan saya akan bisa melewatinya. Impian semu, namun merupakan solusi atas kehampaan saat ini. Kemudian saya merasa lebih brilian ketika membaca jurnal-jurnal saya sendiri bertahun lalu. Di situ saya temukan diri saya yang produktif dan ceria, walau sering terhias air mata manja. Membacanya membuat saya percaya akan kemungkinan jiwa saya kembali terisi, akan kebahagiaan abadi yang sekarang dirasa sedang hilang. Jadi saya sedang termangu minta diajari diri saya yang dulu, yang kekanakan dan sering seenak sendiri, namun penuh optimisme, kebahagiaan, dan harapan-harapan.

Dalam saat terbaik saya, semisal menjelang pergantian siang dan malam saat kadar gula darah terbatas, saya menyadari bahwa merindukan diri saya di masa depan maupun di masa lalu bukanlah solusi. Bagaimanapun bentuk saya, baik dulu yang saya rasa lebih produktif, maupun saat ini yang lebih banyak menangis tanpa sebab yang jelas, adalah tetap diri saya yang dilimpahi rahmat-Nya. Mungkin mengandaikan masa depan maupun mendewakan masa lalu maupun mencerca masa kini tidak pernah bermanfaat. Mungkin saya hanya harus terus melangkah dengan secuil iman di dada, iman pada Tuhan Yang Tidak Pernah Lelah Menunggu hamba-hambaNya berjalan kembali menujuNya, Yang Kasihnya meliputi jagat raya, Yang RahmatNya jauh Melebihi MurkaNya.

Jadi perkenalkan, saya seorang pelayan Tuhan yang sedang terlena dari tugas utamanya di dunia..

Pintu Gerbang bukan Masalah

Aku belajar bahwa selalu ada pilihan untuk membiarkan pintu gerbang depan rumah terbuka. Dengan terbukanya pintu itu, sesiapa yang lewat boleh saja masuk dan langsung mengetuk pintu rumah. Dengan pintu terbuka, semua orang yang sedang lewat depan rumah atau sengaja menuju ke rumah untuk bertamu akan merasa disambut. Dengan kata lain, orang yang tiba di depan rumah tidak akan merasa kesulitan untuk segera masuk dan mengetuk pintu rumah.

Sebaliknya, ada pula pilihan untuk selalu menutup pintu gerbang. Bolehlah keamanan menjadi alasan. Boleh pula demi mencegah kucing atau hewan lain mampir ke halaman rumah. Apapun alasannya, pintu gerbang yang tertutup membuat orang yang ingin bertamu perlu mencari tombol bel di dekat gerbang, atau mencari kait gerbangnya untuk dibuka sendiri, atau mengetuk besi agar terdengar oleh pemilik rumah. Pintu gerbang yang tertutup mungkin membuat orang yang kebetulan lewat di depan rumah berpikir bahwa penghuni rumahnya sedang pergi. Mungkin pula orang yang kebetulan lewat dan ingin mampir jadi mengurungkan niatnya karena harus membayangkan kerepotan melewati pintu gerbang tertutup itu sebelum harus mengetuk pintu rumahnya. Namun bagi orang yang khusus mendatangi rumah itu untuk bertamu, pintu gerbang yang tertutup tidak akan mengurungkan niatnya untuk bertamu. Dia akan melewati gerbang itu baik dengan cara memencet tombol, membukanya sendiri setelah mengecek keadaannya yang tidak digembok, atau mengetuk sampai dibukakan.

Jadi pilihan itu ada di tanganmu, untuk membiarkan pintu gerbang terbuka, atau menutupnya dan hanya membuka saat ada orang yang minta dibukakan.

Hidup itu pilihan. Yang tidak bisa dipilih itu menjalani konsekuensinya. Semua pilihan datang sepaket dengan konsekuensinya. Pintu gerbang terbuka punya risiko sendiri, keuntungannya pun banyak. Pintu gerbang tertutup berisiko menyulitkan tapi cukup aman bagi sebagian orang.

Mungkin sementara ini aku akan menutup kembali pintu gerbangku yang beberapa waktu ini sengaja kubuka. Mungkin aku akan menutupnya dalam waktu lama. Mungkin aku harus memasang bel di situ agar tidak perlu melewatkan tamu yang kesulitan membuka sendiri gerbangku itu.

Ditulis tanpa air mata, setelah patah hati pada seorang bermata cemerlang (jaga-jaga jika aku lupa ini tentang siapa).

Minding Own Business

I am a selfish person in terms of doing anything I need like eating, sleeping, etc. But I am a very generous person in terms of judging myself. I compare myself to anyone in this world and then feel unworthy or lame or suck because those people are always better than me. I feel that it’s selfish to judge myself but not comparing with others, it won’t be fair.

But you know what.. I was wrong, completely wrong. I should be more generous in the first case and be much more selfish in the second case.

I should help others and not think about myself. I should put others’ needs first and mine second. I don’t need to do everything I need or want immediately because those needs can wait while others’ might not. I am sufficient with myself thus I don’t need to be prioritized at almost anything in life. So for example if someone needs my help then that is my pleasure to help since I have all I need and I am so fortunate with everything I have.

Now I should be much more selfish on judging myself. I should not care about others regarding the way they perform or what they have. The way I compare myself to other people will only lead to envy and jealousy. I would always want to be like someone here or there. I should keep in mind that what matters the most is that I am better than I was yesterday, not that I am better than others. See the difference, dear myself?!

This post is raw and I am so bored to continue this.. Hoaahhm *yawn*

Reasons to lose weight

There are so many reasons to lose weight, whether they are medical or anything…

Well, let’s jump to the reasons (randomly, not by the order of importance):