Talk To Me Over Coffee

Saya menjadi mencintai kopi sejak singgah di Melbourne, Australia, selama sekitar 8 bulan. Kota itu memang terkenal sebagai kota sejuta cafe (duh pernah saya tulis di postingan beberapa tahun lalu, yang mana ya). Ngopi adalah kata kerja baru beberapa tahun terakhir yang nyaris tak tergantikan kecuali dengan lari atau hal-hal lain yang saya tidak sebutkan, hehe. Maka jika “ngopi” digabung dengan “bersama teman-teman tercinta,” efeknya pasti lebih dahsyat.

Bicara tentang teman tercinta, siapakah mereka? Ketika kamu lulus dari sekolah dan pendidikan tinggi, kamu berakhir menjadi seorang pekerja (atau pengusaha, jika kamu cukup keren). Kelulusanmu adalah keberhasilan, sekaligus batu loncatan ke dunia baru. Dunia baru itu menanti karyamu. Tergantung dari pekerjaanmu, kamu akan tetap menghabiskan waktu (hampir) 24 jam sehari dan 7 hari seminggu bersama orang-orang yang sama dengan orang yang kuliah bersamamu tadi (yang dari “orang lain” berubah status menjadi “teman sekolah/ teman kuliah/ sahabat/ pacar”) atau tidak. Tahu kan pepatah yang berkata bahwa college friends are friends for life? Itu ada benarnya. Kamu bersama mereka selama kuliah cukup lama, empat tahun (enam tahun kalau saya, hehe), mau tak mau jadi teman, dan mungkin jadi suami atau istri, kan. Hehehe.

Tiba-tiba kehidupan berubah; kamu terpisah dari mereka. Tidak lagi kuliah pagi bersama sampai siang. Sore sampai malam tidak lagi nugas atau membuat laporan bersama (kalau saya nambah rapat. Rapat-i mudheng [Bahasa Jawa]), akhir pekan tidak lagi nonton bersama, well, atau ngaji bersama… Lingkaranmu hilang. Jika boleh optimis, melebar. Pertemuan-pertemuan ala sekolahan atau kuliahan itu berubah menjadi chat sesekali atau telepon setiap ada kesedihan signifikan yang melanda, atau reuni di pernikahan salah satu teman…

Kamu terpaksa membuat lingkaran baru, yang isinya bukan lagi teman kuliah tapi teman kantor (kalau berkantor. Bersyukurlah para businessmen dan businesswomen), yang ternyata, entah kenapa, tidak pernah sekecil lingkaran yang dulu. Lingkaran itu saya rasa tidak pernah sekental hubungan yang dulu, saat masih sangat muda dan merasa sangat hebat.

Atau ini hanya saya?

Bagi saya teman kantor tidak pernah berhak mendengar cerita saya sedalam cerita yang saya kisahkan ke teman kelompok koas dulu, atau teman organisasi AMSA, atau teman yang kosannya adalah rumah kedua untuk mampir mandi atau bermain kucing. Atau teman sekamar asrama saat di SMA. Atau teman main saat di bangku SMP.

Baik, jika sekarang pertanyaannya adalah mengapa tidak melanjutkan bercerita ke teman-teman lama itu, teman-teman sekolah atau kuliah, maka terima kasih. Itu saran yang brilian. Saya sempat enggan melakukannya. Beberapa tahun bahkan, karena kesombongan saya di masa lalu (iya saya terkenal sombong jaman sekolah dan kuliah, sekarang juga masih sih, tapi mungkin sedikiiiit membaik) sehingga hanya sedikit sekali sahabat saya. Satu orang sudah pulang duluan, dan saya selalu kangen dia. Tidak ada cerita ke mereka karena saya merasa malu; tidak ada usaha mempertahankan pertemanan, mengapa tiba-tiba datang dan bercerita panjang? Maka saya menyimpan saja, dan berusaha hidup normal, cenderung introvert.

Kemudian mulai sekitar setahun yang lalu, karena semakin tua namun tidak juga laku, saya mulai merendahkan hati menyempatkan diri bertanya ke teman-teman lama itu apa kabar mereka. Saya juga meluncurkan pertanyaan favorit saya ke mereka itu: Jadi pelajarannya apa? (jika tidak paham, izinkan saya terjemahkan: What have you learned from those (failures, success, losts, gains, etc.)? Jika terlalu terkesan acak, saya selalu bisa mengubah pertanyaan itu sedemikian hingga teman lama saya itu akan tersipu dan menyempatkan berkomentar, “Ah, kamu!” sebelum memberi jawaban yang jujur.

Sebagai pembelajar seumur hidup (itu cita-cita saya. I fake it ’till I make it!), saya memutuskan bahwa kita sebaiknya mengatakan apa yang ada di hati dan pikiran kita, karena kesempatan tidak datang dua kali, karena pertemuan dengan orang-orang belum tentu terjadi lagi. We should live the moment, we should live life to the fullest, termasuk berbicara yang benar-benar penting untuk dibicarakan dengan orang-orang penting dalam hidup kita.

Jadi tulisan ini, yang ditulis tahun 2017 setelah vakum menulis blog selama lima bulan, adalah curhatan lagi. Mengecewakan ya?

Di antara puluhan bahkan ratusan pesan yang muncul di notifikasi chat, yang seringkali terlalu memusingkan jika harus dipahami satu per satu, saya mensyukuri kecanggihan teknologi yang tetap mempersatukan saya dengan teman-teman di sekolah dulu, dan mereka yang di bangku kuliah.

Maka hai teman-teman lama saya yang cukup sabar membaca post ini sampai di kalimat ini, saya ucapkan halo dan salam kangen. Yuk ngopi, saya tahu beberapa warung kopi enak di Semarang. Jika tidak, saya buatkan kopi tubruk di rumah (karena ekstraksi dengan Hario V60 oleh-oleh Kakak sudah saya lupakan caranya!).

 

 

 

 

 

Sungguh, Mereka Ada

Beberapa orang memang singgah ke hidup kita untuk meninggalkan jejak-jejak mereka dalam hati kita. Orang-orang itulah para sahabat kita; para pembuat jejak. Sahabat, yang definisi terbaiknya bagi saya adalah ‘the one who knows you and still loves you.’ Saya tidak punya definisi yang lebih pas dari itu.

Mereka yang pertama menyadari ketika wajahmu tertekuk-tekuk atau hatimu sangat panas. Dengan senyuman mereka, kau akan merasa dimanusiakan, tanpa mereka perlu berkata apa-apa. Kau tidak merasa hina atas perasaan apapun yang sedang kau rasakan itu. Mereka akan tetap di situ, menunggumu bercerita.

Mereka akan mengingatkan kalau kau ingin keluar jalur. Walau sekedar dahi berkerut atau episode diam beberapa menit, ketidaksetujuan mereka atas sikap menyimpangmu akan selalu tampak. Mereka mengingatkan kemuliaan hati nuranimu, ‘benarkah kau mau begitu?’

Mereka hanya akan menghela nafas jika sifat burukmu kambuh, tapi kemudian juga cepat-cepat mengingatkanmu. Mereka akan otomatis berkata sesuatu jika kau mulai berperilaku tertentu, alih-alih mengeluh ‘hhh, kamu selalu begitu.’ Mereka tetap sabar mengingatkan bahkan jika kau mulai bosan dengan dirimu sendiri yang bandel dengan sifat buruk itu.

Dengan sentuhan tangan mereka, kau bisa merasakan bahwa kau tidak sendirian. Atau, jemari mereka dalam genggamanmu menguatkan hatimu. Bahkan jika karena keyakinanmu, tidak semestinya tanganmu dan mereka bersentuhan, kau bisa merasakannya di hatimu. Mereka memberikan sentuhan-sentuhan kecil yang meyakinkanmu bahwa mereka mencintaimu walaupun kau begini atau begitu.

Mereka selalu ada, walau kau tidak melihat mereka. Entah dengan sms mereka, atau komentar di fesbuk, atau lewat doa-doa mereka untukmu.

Sahabat adalah para penjual minyak wangi. Mereka tidak seenaknya menyemprot-nyemprot parfum dagangan mereka ke wajahmu. Mereka hanya menjual minyak wangi, dan kebetulan kau ada di dekat mereka. Kau pun ikut terkena wangi mereka.

Sahabat adalah para bintang di langit. Jika mendung kau sulit melihatnya, tapi mereka tetap ada.

Sahabat adalah anugerah Tuhan untukmu. Syukurmu pada Tuhan adalah melalui cintamu untuk para sahabatmu. Walau mungkin cintamu belum mampu membalas cinta mereka.

Dan “Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912).

Doaku selalu untukmu, para sahabatku.