Board-like Muscles

Hamparan pasir keabuan terbentang selaksa karpet yang luas tak bertepi. Hangatnya mentari siang itu menyengat leher dan mengeringkan kerongkongan. Jam Garmin menunjukkan angka 11.40, dan telepon ketiga masih belum berbuah jemputan panitia.

***

Pagi itu kami berkumpul di rumah Pak Bambang, guru kami, untuk kemudian berangkat bersama ke selatan yang jauhnya 140 km dari rumah. Benar juga, akhir pekan yang panjang menjelang libur tahun baru China membuat jalanan padat merayap. Ditambah keinginan makan malam khas Jogja bernama Gudeg Wijilan, sampailah kami di penginapan tujuh jam sebelum pistol start ditembakkan (saat itu berharap ada pistol, jelas tidak akan ada).

Malam itu aku berbaring namun terjaga, menanti kabar dari salah satu anggota rombongan yang baru bertolak dari Semarang selepas matari terbenam. Sejam sebelum alarm kami semua berbunyi, orang yang kutunggu mengabari telah sampai dengan selamat, dan memutuskan berangkat bersama rombongan lain ke tempat start dan tidak mampir ke penginapan kami. Aku pulas sejam saja dan terpaksa bangun oleh ketukan Rizki di pintu kamar, “Bangun, bangun.”

Suasana garis start sangat gelap, karena subuh pun belum tiba. Lampu kepala berkilatan, warna-warni pakaian pelari berkilauan, satu dua wajah kukenal, sebagian adalah rombongan dari kotaku sendiri, sebagian lain adalah alumni SMA-ku dan seorang guruku di SMA, Ibu Ani. Sesaat sebelum start, kuputuskan berlari bersama mantan guru SMA-ku itu (mantan karena beliau sudah tidak mengajar), sampai sekuatku saja, karena rumornya beliau pelari hebat. Wanita 52 tahun ini terus berada di sebelahku sekitar 7 km pertama sejak start, menyusuri garis pantai, beradu dengan angin laut, bertolak di pasir gembur yang kadang terintrusi air laut.

Memang ada pepatah mengatakan “train hard, race easy” yang mungkin berarti rajinlah berlatih agar saat perlombaan lari kamu bisa menang (atau mencapai finish, atau membuat catatan waktu yang baik) dengan mudah. Namun ternyata tidak semudah itu. Ada faktor X, Y, dan Z yang mempengaruhi the easiness of the race, despite your training and preparations. Seperti pagi itu, ketika aku memutuskan melepaskan diri dari Bu Ani yang masih terus berlari dengan semangat “Ibu duluan saja deh Bu, maaf tidak ikut menemani,” dan memilih menunggu Rizki yang sedang kesakitan karena kram. Seorang teman pelari melewatiku sambil berkata bahwa Rizki sedang kram. Aku masih ingin berterima kasih padanya sampai tulisan ini dibuat, namun apa daya, aku lupa siapa orangnya.

Rizki akhirnya muncul juga, diikuti sepasang kekasih, Putri dan Zayin, yang juga rombonganku, sehingga kami melaju berempat, belum sempat lari karena turunan curam menghadang di depan. Kramnya tampaknya sudah surut, jadi Rizki memutuskan untuk terus melaju, sampai tiba-tiba harus berhenti karena kram datang lagi. Jalan setapak turun yang curam memang menuntut kontraksi otot betis dan sekitarnya, dan saat kram, semuanya akan memburuk. Saking sakitnya, kami berhenti beberapa menit dan dilewati beberapa pelari “Duluan aja Mas, Mbak, beneran gakpapa kok,” saat mereka menawari bantuan, walau aku sempat mengambil satu tube counterpain dari salah satu tawaran. Dua orang lain, Wahyu dan Yulian, memutuskan ikut berhenti sehingga kami berenam selama sejam berikutnya (beberapa menit kemudian kami sudah melaju lagi). Entah bagaimana, enam orang ini kemudian terpisah sehingga tinggal aku dan Rizki, empat lainnya di depan dan belakang kami. Mungkin Wahyu dan Yulian sudah bergabung dengan teman-teman mereka.

Sejam lebih yang menyiksa, karena pemandangannya indah, udaranya sejuk, jalanannya relatif datar dan tidak curam atau licin, tapi Rizki diam seribu bahasa. Sama saja lari sendiri, pikirku. Tapi berjam-jam setelahnya kusesali pikiran itu, karena kemudian aku menyadari dia sedang berjuang mencegah kramnya kambuh sambil berkonsentrasi dengan rute lari, dan mungkin menahan sakit tanpa mengeluh satu napas pun.

Pos minum terakhir yang tidak kunjung muncul akhirnya tampak juga, dan setelahnya terasa ringan (hore, lima kilo lagi sampai finish, mungkin jam sepuluh bisa nih), namun apa yang kemudian terjadi di medan pasir itu tidak terbayangkan sama sekali.

***

Entah karena terik yang semakin lugas menyapa kulit atau kilauan pasir di bawah telapak kaki, jalan menuju finish terasa tak berujung, ditambah kesunyian tanpa kata. Dendang lagu “Memulai Kembali” olehku hanya bertahan dua baris kemudian aku menyesali nada tinggi yang kuambil. Di hampir setiap turunan, aku mendahului Rizki, kemudian di akhir setiap turunan aku menengok ke belakang memastikan dia turun dengan aman, tanpa kram.

Turunan terakhir (karena setelah itu aku mengambil short cut sampai finish), aku meninggalkannya jauh di belakang (kok lama sih, pikirku) sampai terdengar teriakan kesakitan. Aku menoleh, dan kulihat Rizki berdiri membatu dengan kedua lutut menekuk dan posisi hampir rukuk, tampak sangat kesakitan, “Aaaaaarrgh.” Aku berlari mendekat, teriakan bertambah keras dan bernada tinggi. Tampak jelas kakinya menegang, sehingga aku semakin cemas. Aku segera mendekat dan berlutut, mengecek otot betisnya yang ternyata sekeras papan kayu. Oh tidak, pikirku. Bagaimana ini, aku harus apa, aku panik. Counterpain-ku menipis dan baru akan kukeluarkan dari kantong celana.

Beruntung sekali saat itu ada beberapa pelari lain di depan kami. Satu orang berbalik arah mendekati kami dan seperti memberi komando, “Tenang Mas, tenang, kalau panik nanti tambah kram. Tenang sekarang! Rileks Mas!!” Sepertinya Rizki patuh dan beberapa detik kemudian betisnya lebih lunak. Oh, aku sungguh lupa detil kejadian saat itu (atau aku supresi saking ngerinya), jadi aku lupa apakah hitungan detik atau menit sampai ‘papan kayu’ itu melunak. Yang jelas aku dan bapak pelari kurus baik hati itu membantu Rizki untuk duduk di pasir panas demi mengurangi kontraksi tungkai.

Beberapa detik berlalu dengan sangat lambat, namun anehnya aku lupa detilnya. Aku tidak ingat apa saja yang terjadi, apa saja usaha yang kulakukan saat itu selain mengangkat tinggi tungkai Rizki satu per satu dan mencoba dengan asal meniru gerakan fisioterapis saat membantu pelari dalam event lari Desember lalu. Lama sekali sampai akhirnya Putri dan Zayin muncul, “Tadi yang teriak itu kamu, Kak?” tanya Putri padaku.

Beberapa menit berikutnya sungguh tak terbayangkan. Kami berempat di tengah gurun pasir (yang ternyata masih 2 km lebih menuju finish, bukan 1 km seperti kata salah seorang pelari yang saat itu tentu saja belum finish) mencoba menahan panas dan berharap kram segera reda sehingga kami bisa segera berjalan bersama menuju finish. Counterpain sudah habis, pijatan sana sini sudah dilakukan, namun keluhan belum juga mereda.

Aku sempat meraih ponselku dan kutekan nomor Mas Wardana yang aku kuduga adalah ketua panitia event lari ini, melaporkan keadaan darurat dengan lokasi yang tidak akurat, dan memastikan dia mendengar kata-kata “butuh evakuasi” yang kuucapkan. Aku melirik Rizki mendengarku dan beberapa saat setelah itu dia tampak menerima kenyataan bahwa dirinya harus dievakuasi. Aku mensyukuri umur bateraiku yang masih panjang sehingga aku sempat menelepon beberapa orang lain termasuk Tri, anggota rombongan, dan Mas Willy, senior di sekolah yang di start sempat menyapaku, “Aku gak ikut lari, medis aja.”

Segelintir pelari Semarang mendekat, mereka ini temanku berlatih untuk event ini. Salah satunya bernama Mas Santosa memutuskan tinggal, dan beberapa kali aku berkata “Makasih ya Mas, for sticking with us,” yang selalu dijawabnya dengan semacam “Sudah kewajibanku.” Mas Santosa ikut menelepon sana sini, membantu dengan ransumnya, dan empati menyalahkan panitianya sungguh membuatku merasa lebih baik. Mas Santosa juga yang bersamaku berjalan menuju finish, “Ayu, we shall finish what we have started. Let’s finish this race.” 

Delapan puluh menit di bawah terik mentari membakar leher Zayin, menguras energi kami, mempercepat napasku sendiri, dan mungkin melenakan pikiran jernihku. Dari sekian banyak pilihan: 1. Menghentikan beberapa pelari untuk bersama mengangkat teman yang kram ke bawah pohon rindang terdekat, untuk dievakuasi, 2. Evaluasi rutin kram, jika sudah bisa berdiri dan berjalan pelan, dia bisa dibantu berjalan menuju pohon rindang terdekat untuk dievakuasi, 3. Konsul via telepon ke Pak Bambang yang sangat berpengalaman dalam kegawatdaruratan untuk langkah selanjutnya; tidak ada satu pun yang terlintas saat itu. Hanya Tuhan Yang Tahu mengapa kami memilih percaya pada jawaban Mas Wardana di seberang sambungan telepon, “Panitia akan segera datang menjemput.”

Delapan puluh menit itu diwarnai dengan beberapa teriakan Rizki, “Aduh! Sekarang kram betisnya, betis kanan, ah!” atau beberapa tempat lain seperti paha atau telapak kaki atau perut atau diafragma atau dada. Beberapa kali keluhan Putri, “Aaak, sakit perut,” dan banyak sekali pertanyaan dari kami semua, “Ini panitia mana sih?”

Ada satu masa di mana tiba-tiba Rizki tak bersuara. “Ki, bangun, bangun, jangan merem, plis” kataku. “Iya, iya.” jawabnya segera sambil berusaha melek. Beberapa saat yang lain dia sangat lancar berbicara, “Kakiku tolong diturunkan pelan-pelan, nah gitu, betisku tolong diurut dari proksimal ke distal,” atau “Siapa itu? Oh, fotografer itu ya?” saat aku menyapa seorang dari rombongan pelari Bandung yang melewati kami. Kadang aku heran dengan kejernihan pikirannya di saat genting seperti itu. Aku saja ingin mandi air sirup dingin saat itu juga, berharap dingin dan manisnya bisa membangunkan otakku. Episode-episode itu berlangsung acak dalam ingatanku saat aku menuliskannya kembali. Termasuk saat Putri menawari “Nih minum Pocari lagi, habisin,” yang dijawab Rizki, “Udah kembung Pocari,”

Di tengah teriakan kesakitannya, Rizki sempat berbicara tidak jelas, sepertinya memberi instruksi padaku soal letak kramnya, kemudian tiba-tiba, “Aduh, aku pelo. Aku pelo!” Tanpa aku menyadari arti pelo saat itu (mungkin karena saat itu aku mau pingsan, atau aku panik, tidak yakin yang mana), aku bertanya ke semua orang (yang cuma berlima termasuk aku), “Masih ada air? Siram ke wajahnya, sekarang.”

Masih belum puas, aku bertanya lagi, “Siapa punya madu? (Aku, Kak, jawab Putri) masukin ke mulutnya.”

“Lho Kak, tapi dia gak mau tadi.” jawab Putri yang dari tadi ditolak Pocarinya.

“Masukkan sekarang, anggap itu injeksi D40 tapi peroral.”

“Ini (pelo) apa,” kata Rizki sambil terus mengeja huruf r berkali-kali.

“Gakpapa, transien aja.” (atau aku mengucapkannya dalam hati? Duh, lupa.)

Beberapa menit berikutnya terasa lebih mencekam karena sempat terucap kata ‘pelo’ tadi. “Mas, airnya disiram ke wajahnya lagi,” perintahku yang sudah semakin terdengar bossy ke Mas Santosa. “Kamu bangun, Ki, jangan merem, bangun, ayo mikir habis ini mau ke IGD bedah atau penyakit dalam,” tanyaku demi membuatnya tetap terjaga. “Gak kok, udah gak perlu ke IGD,” jawabnya. Putri dan Zayin masih setia menaungi temannya yang kram itu dengan jaket parasutku yang disangga dengan lengan mereka, yang segera diganti dengan ponco tebal yang lebih lebar.

Di sela-sela kalimatku yang makin meracau, “Makasih ya, Putri, Zayin, sudah mau berhenti di sini, panas-panas, mungkin ini 40 derajat ya?” Mas Santosa bertanya serius mengapa Rizki bisa kram separah ini. “Mungkin kurang latihan ya,” gumamnya, yang segera kujawab, “Latihannya sempurna, Mas. Dia latihan HM (half-marathon) dengan pace 5 baik-baik aja tuh, gak ada keluhan, tapi tiap event kok gini. Kemarin Jakmar juga kan, Borobudur juga.” Rizki menanggapi bahwa dirinya sempat tersesat 3 km, dan bahwa dia yang bertugas menyetir. Tidak ada yang menjawab. Semua setuju, dan sudah sangat mengharapkan tim evak datang.

***

Evakuasi dilakukan setelah Rizki berdiri dan dipapah menuju motor, setelah berdebat apakah harus duduk miring seperti perempuan yang memakai rok, atau duduk melangkah. “Udah nyemplo aja,” kataku, yang dijawab panitia, “Nyemplo tuh apa, Mbak?”

Sepanjang jalan aku mengomel soal kepayahan panitia. Aku dan Mas Santosa menolak beberapa tawaran motor panitia, “Evakuasi ya Mas, Mbak?” walau aku tidak menolak dua botol minum dingin manis dari mereka. Beberapa kali aku meminta maaf pada Mas Santosa, “Maaf ya Mas aku sepertinya dehidrasi jadi delirium, banyak omong begini.”

Sejam setelah evakuasi, Rizki sudah mandi dan berpakaian rapi ketika aku akhirnya mencapai finish dengan Mas Santosa. Aku sempat mengomel pada panitia di garis finish yang mencatat waktu finishku, dan sempat ingin marah ke mas Wardana, namun saat aku menyalaminya, “Kok gitu sih Mas.. Mas gak tau tadi keadaannya kayak apa..” terpaksa kuakhiri karena air mataku sudah tak terbendung dan aku harus segera berlalu. Aku malu terlihat lemah. Aku merasa cukup sopan masih menyempatkan mendengar pembelaan dirinya, “Maaf ya Mbak, pada saat yang sama di tempat-tempat lain banyak yang butuh bantuan, Mbak.”

***

Malamnya aku sampai di rumah dan kelelahan sehingga tertidur tanpa mencuci muka.

Esoknya dan sampai dua hari berikutnya aku masih meneteskan air mata mengingat kejadian otot yang menjelma sekeras papan kayu itu. Sesekali gondok melihat sebaran foto teman-teman di garis finish, menyesal memilih membuang waktu berjalan ke finish bukannya ikut dievakuasi panitia dengan motor sehingga bisa berfoto dan makan siang. Namun lebih banyak merasa lega telah memutuskan berdiri diam dilewati pelari-pelari demi menunggu Rizki yang belum tentu kesakitan (bisa saja kramnya sudah teratasi dan tidak akan kambuh, kan?), bukannya terus bersama bu Ani sampai finish, dan memilih melangkah dalam diam sepanjang jalan bersama Rizki, bukannya jengah kemudian meninggalkannya.

Demi Tuhan Yang Maha Tahu Segala, mungkin juga jika aku segera jengah karena didiamkan selama sejam saat hanya berdua itu, aku mungkin menyarankan Rizki untuk menyerah saja, sehingga kejadian mengerikan tidak perlu terjadi, sehingga dia selamat dari dehidrasi dan hipoglikemi itu.

Atau, jika aku terus berlari bersama bu Ani dan akhirnya finish lebih dulu, mungkin siapapun yang saat itu bersama Rizki mengambil keputusan yang lebih bijak dibanding aku, sehingga mungkin evakuasi dilakukan lebih dini di pos minum terakhir, atau beberapa pelari berhasil diminta untuk mengangkat Rizki ke tempat yang lebih manusiawi.

Namun Demi Tuhan, kita ini bukan orang yang berandai-andai dengan masa lalu. Semoga ada sedikit pelajaran yang dapat dipetik dari ceritaku ini. Rizki sudah sembuh, jika kalian penasaran. Sangat sehat dan sepertinya sudah bersemangat lari lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

About Being Sabr

18 Juni 2014

…Pernahkah aku merasa bahagia hanya karena aku masih hidup? Mungkin pernah. Yang kuingat, sebab-sebabnya adalah aku berusaha ingat Allah. Dari orang lain kulihat sebabnya adalah amalan hati seperti memaafkan, tidak dendam, tidak berprasangka, dan bersyukur. Singkatnya aku membujuk diri sendiri bahwa antara solat khusyuk, membaca Quran dengan tartil dan berusaha memahami artinya, dan melakukan amalan hati yang Islami (dan secara universal disebut sebagai “kebaikan”) merupakan hal-hal penyebab kebahagiaan. Ketiganya sama pentingnya, tidak ada yang lebih baik atau utama. Ketiadaan satu atau dua hal tidak menggugurkan kebahagiaan. Usahakan jadi pelaku ketiganya.

Ramadan 2014

… Aku tidak ingin mencemari usaha kesabaranku dengan komentar-komentar tidak bersyukur dan keluhan-keluhan. Aku adalah motivator terbaik untukku. I rely on myself (instead of other people) and God. So if it’s not me, I don’t think I can. Pokoknya semua tergantung aku. Pengen makin sabar ya aku harus disiplin sama diri sendiri untuk berlatih sabar tanpa henti. Pengen self-improvement ya harus rajin bercermin (dari orang lain, dari doa mohon petunjuk) dan melakukannnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. I am capable of loving. Aku cinta diriku sendiri, menerima apa adanya, bersabar akan kekurangannya, menghargai kelebihannya, bersemangat terus menyayangi dan menghargai, dan yakin aku akan menjadi lebih baik. Fighting depression? Not by being grateful (although it’s okay too) but with self respect. I guess.

Hei, Kamu Masih akan Lari (atau Yoga), kan?

Spanduk sponsor di stadion.

Kamu mencari kelelahan fisik dengan olahraga. Kamu berlari, di lain hari kamu senam yoga. Kelelahan mental kadang mendera, lebih sakit daripada timbunan laktat dan keringat.

Dalam kelelahan mental itu, kamu akhirnya menangis, diam-diam. Tenaga untuk marah telah hilang beberapa waktu lalu, saat musim dingin membuatmu berpikir untuk menghemat energi, atau saat musim panas keringatmu telah habis oleh terik mentari.

Mungkin benar bahwa jiwa ini hanya dititipkan dalam anatomi rumit tubuh manusia, yang otaknya aktif bekerja, dan jantungnya berdebar oleh kafein atau cinta atau kecemasan tentang dunia. Namun hormon bahagia setelah olahraga tetap akan melembutkan jiwamu, menguatkannya menghadapi kelelahan mental yang menanti di depan.

Kadang kamu berpikir perlukah berlari sepuluh kilometer sebelum memulai semua yang akan melelahkan mentalmu.

Pada akhirnya sang jiwa yang hanya mampir ini ikut berperan dalam kelestarian alam yang ditempatinya. Mungkin tubuh yang sehat dan kuat juga termasuk titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Mungkin sekedar lari pagi atau sore atau malam, dan yoga hampir sejam bisa mempermudah pertanggungjawaban tubuh ini nanti. Mungkin puasa dan menjaga makan bisa memudahkan jiwa ini lebih bertakwa.

Mungkin belum saatnya merasa lari atau yoga atau hal fisik lainnya hanyalah semata pelarian dari kelelahan mental. Mungkin sebaliknya, justru merekalah pendukung utama jiwa ini untuk terus berusaha, menghadapi kelelahan-kelelahan di depan, bersabar dengan kekalahan, bahkan mempersiapkan kemenangan, lagi dan lagi.

Salam olahraga.

Mencari Motto Hidup

Beberapa saat menjelang pemotretan untuk kepentingan acara ulang tahun sekolah asrama itu, aku terpaksa berpikir tentang sebaris kalimat yang mewakiliku atau impianku, untuk selanjutnya dilampirkan di bawah foto wajahku.

Mengapa pula kita harus menyingkat kehidupan dan dunia seisinya dengan sebaris kalimat saja, sementara menurunkan gelombang beta otak saja butuh bermenit-menit meditasi?

Salah satu kandidat yang menarik untuk motto hidup adalah bahwa Tuhan itu Maha Baik dan Maha Pengabul Doa maka berpikirlah yang baik dan berharaplah yang baik saja. Iya, baru saja aku mengalami kejadian kecil. Yang jelas keikhlasanku diuji. Aku dibuat jengkel oleh orang yang baru beberapa menit kukenal. Aku menawarkan bantuan pada teman baru itu, dan dibalas kontan dengan sesuatu yang menjengkelkanku. Beberapa menit hatiku dongkol dan wajahku cemberut (walau hanya tampak oleh orang rumah yang membukakan pintu saat aku pulang) oleh kejadian menjengkelkan itu. Sampai aku ngobrol ringan dengan diriku (ini teknik self-talk yang kupelajari bertahun-tahun. Kurasa aku semakin ahli) untuk mencari tahu mengapa orang rumah tidak mendapat senyumku, mengapa aku kesal saat seharusnya endorfin (zat senang di otak) membanjiri kepalaku di ‘hari olahraga’ ini. Lalu obrolan itu berlanjut tentang bagaimana aku menjadi kesal dan apakah ada pilihan lain selain kesal. Ternyata ada, maka benarlah pepatah “selalu ada pilihan” atau “life is a choice” karena aku bisa mencegah kesal berkepanjangan dengan meluruskan niat. Iya ini bahasanya berat semacam buku pelajaran agama tapi benar juga bahwa kekesalan, kejengkelan, dan kekecewaan muncul karena ada harapan. Jika kita tidak berharap maka kita hanya akan bersyukur dengan yang terjadi di depan. Paham kan, karena tidak ada perbandingan ‘yang akhirnya terjadi’ dengan ‘yang sedari tadi diharapkan terjadi.’ 

Eh tiba-tiba aku ingat dengan seuntai kalimat Tuhan di suatu surat tentang akhir yang selalu lebih baik daripada permulaan. Tapi aku belum membaca tafsir ayat itu.

Obrolan kami ditutup dengan memori jangka pendek yang baik, bahwa aku ingat membatin dalam hati betapa tidak ikhlasnya diriku, betapa niat tulus dan suci itu berat bukan main. Intinya aku mengeluh (mungkin sambil berharap juga) betapa aku belum juga menjadi manusia yang ikhlas. Hanya membatin lho, bukan bersimpuh berbalut mukena di atas sajadah dengan setitik air mata. Ada alasan teknis juga aku tidak bisa bermukena pagi itu. Sorenya aku menyadari doaku terjawab. Aku diajari lagi tentang menjadi ikhlas saat mencoba membantu orang lain. Iya ini ajaranNya yang kesekian kali karena aku tidak kunjung lulus ujian keikhlasan itu. Ajaran itu aku singkat sebagai berikut: setelah aku merasa ingin ikhlas, aku mengalami kejadian yang membuatku menyadari bahwa aku tidak ikhlas sehingga aku tahu bagaimana harus mengoreksinya dan mencegah ketidakikhlasan itu terjadi lagi di lain waktu, bahkan mungkin mengubah ketidakikhlasan menjadi keikhlasan saat itu.

Jelas ya maksudku, bahwa ‘ritual doa’ yang amburadul macam yang kulakukan saja didengar oleh-Nya, dan langsung dijawab segera, bagaimana dengan hati yang lembut dan adab yang baik?

Tuhan Menyebut diriNya sebagai Rabb yang ternyata (iya baru tahu, iya aku mengaku ‘anak ngaji’ tapi sombong belaka) bermakna ‘Pendidik.’ Kita semua manusia (dan makhluk lain, mungkin tumbuhan dan hewan, mungkin alien juga) adalah muridNya dan Dia adalah Sang Guru. Ini berarti bahwa Dia Mengajarkan kita ilmuNya.

Singkat cerita hari ini Rabb Yang Maha Agung Mengajariku tentang keikhlasan. Semoga ingatanku tentang arti ‘ikhlas’ belum luntur. Ikhlas yang juga adalah nama surat di Quran tidak sesederhana ‘tulus’ atau ‘tanpa pamrih’ walau keduanya tercakup juga. Definisi pastinya ada di surat itu sendiri, tentang mengesakan Tuhan. Tidak ada yang lain, tidak ada manusia maupun pujian manusia bahwa aku ini orang baik atau hebat.

Mengapa motto? Kejadian kecil berupa ‘kesadaran sedang diajari/dididik Tuhan’ seperti di atas sering terjadi dalam hidupku (aku yakin dalam hidup semua orang juga). Kandidat motto ini harus aku pikirkan juga teknis penulisannya. Harus ada satu kalimat singkat dan efektif tapi mewakili maknanya yang dalam. Kandidat kedua mungkin dilanjut di posting selanjutnya, karena sungguh membosankan jika aku bercerita lagi di sini.

Oya beberapa kalimat di tulisan ini terangkai setelah membaca buku biografi Rasulullah SAW oleh Tariq Ramadan si cucu Hasan Al Banna, pak dosen yang logat Perancisnya kental saat berbahasa Inggris (oh, detil yang aneh).

My Supplication

Aku tidak pandai melantunkan doa namun aku tahu Allah Maha Mendengar dan Memahami apa isi hatiku, apa kerinduanku. Aku ingin hatiku bersih sebening cermin yang memantulkan kebaikan yang mengenainya. Aku ingin kekotoran di dalamnya sirna bersama penyesalan dan pembelajaran untuk tidak mengulanginya. Aku ingin kebutuhanku, baik jasmani maupun rohani, tercukupi dengan mudah sehingga hidupku hanyalah untuk berbakti, bukan menuntut minta dibagi. Aku juga ingin menjadi berkah bagi sekitarku, bukannya membebani atau menimbulkan ketidakenakan hati. Aku ingin meneladani manusia terhebat di dunia sepanjang masa, Rasulullah Salallahualaihiwassalam.

Rasanya malu, aku banyak inginnya namun sedikit usahanya. Aku malu bahwa sabarku masih kurang cantik, bahkan jauh dari cantik. Aku malu masih ada keluh dalam lisanku, banyak syarat dalam lakuku, dan tidak segera bergerak dengan apapun yang kupunya. Aku malu pada Allah, menuntutNya aku ingin begini dan begitu, sementara langkahku menuju padaNya terseok, kadang terhenti. Aku malu meminta jodoh sementara aku tidak patut dibanggakan sebagai seorang wanita. Aku malu pada penghuni bumi yang tekun dan sabar mengusahakan kehidupan yang baik dan penuh rahmat, sementara aku sibuk menghitung kekuranganku dan menutut kebaikan dari Allah.

Kasih sayangNya sering mengagetkanku, yang DilimpahkanNya padaku, sehina apapun diriku, sekejam apapun diriku membuat judgment atas diriku sendiri, atau atas orang lain padahal aku tidak pernah tahu keadaan sebenarnya. Aku diliputi kasih sayangNya namun seringkali menutup mata dan telinga atas semua itu. Aku lupa bahwa hanya dengan menerima kasih itu dengan hati terbuka maka aku bisa meneruskannya ke diriku sendiri dan ke para penghuni bumi.

Rasanya ingin menangisi kelambanan hatiku untuk tergerak menuju cahaya. Cahaya itu selalu ada, sinarnya selalu benderang menyilaukan mata hati sekaligus menenangkannya. Namun kesombongan dan kedurhakaan kerap kali menjadi pemenang. Lagi-lagi aku hanya bisa mengeluh atas ketidakberdayaanku, dan akhirnya berbisik lirih pada Allah untuk dikuatkan, diberanikan menghadapi kehidupan, melangkahkan kaki menuju kebaikan itu. Aku tahu hanya dengan Kehendak Allah aku bisa menuju cahaya itu dan terselimuti dengan nyaman dan akhirnya berpendar terang di muka bumi ini.

Kadang kerinduan datang, untuk pulang ke kampung halaman. Namun aku takut jika Allah belum berkenan dengan ringannya timbangan kebaikanku. Aku kemudian menangis dan lelah karenanya, berharap setiap tetes air mata melunturkan dosa. Namun aku akan terbangun sebagai manusia yang lupa untuk mempercantik sabarnya, memperpanjang syukurnya, dan menahan lisannya.

Saat paling berharga sesungguhnya adalah ketika ingat aku di sini hanya mampir saja, sebelum pulang ke kampung halaman selamanya. Semua menjadi semu, tidak nyata, dan tidak penting, sehingga aku merasa rendah, tak berdaya, dan hanya mengharap pada Allah. Ingatan itu hanya bertahan beberapa menit saja dalam puluhan ribu hari hidupku, segera hilang dan terganti oleh kejumawaan dan hedonisme. Aku bersusah payah menghidupkan kembali memori itu. Semoga Allah Mudahkan. Semoga doaku terkabul. Aamiin.

IMG_20141204_134801-1

Pemudi Tanggung

Suatu hari di hari pertama usiaku yang menginjak angka dua puluh delapan, aku mulai aktif berlari lagi. Sebelumnya aku hanya lari sekitar dua bulan sekali, hari minggu pagi di track Unnes atau stadion Tri Lomba Juang, bersama ibuku yang ikut menemani berkeliling track dengan berjalan cepat. “Lari berbahaya bagi jantungku,” demikian kata beliau, yang tentu saja terlalu kontroversial untuk segera diiyakan.

Singkat cerita beberapa bulan kemudian sejak hari ultahku itu (sejak aku lebih rutin berlari, tepatnya) hilanglah beberapa kilogram lemak di perut dan pipiku dan muncul pula kebahagiaan di hati. Hahaha, lebay. Sebagian besar kebahagiaan itu sepertinya muncul karena sosialisasi dengan para running buddies. Suatu malam beberapa bulan lalu aku memang nekat ikut serta dalam group run di Semarang yang sudah eksis setahun lebih. Beberapa bulan sebelumnya aku sudah memantau kegiatan mereka via fesbuk dan tertarik tapi malu (dan beberapa alasan lainnya yang sekarang makin terasa mengada-ada) untuk ikut. Memang timbanganku tidak banyak bergeser tapi beberapa teman menegur betapa langsingnya aku. Memang aku masih saja sulit tidur (terutama jika hari itu tidak lari) tapi otot-otot wajahku lebih rileks sehingga lebih mudah tersenyum, hehe.

Baiklah, setelah kampanye lari yang terselubung dalam pendahuluan di atas, aku mau menceritakan betapa kegiatan lari itu cukup representatif untuk kehidupanku. Dalam group run itu kami berlari di jalan raya di malam hari bersama-sama dengan rute tertentu dan batas waktu tertentu. Tentu saja aku tidak mungkin berlari di barisan paling depan, tidak pula paling belakang karena setelah beberapa bulan rutin berlari kecepatanku memang meningkat. Jika ditarik jauh ke belakang saat usiaku hampir 15 tahun, aku berlatih lari demi bisa diterima di sekolah berasrama terbaik se-Indonesia (itu zaman dulu, sekarang mungkin sudah turun peringkatnya). Setelah masuk di dalamnya aku terpaksa berlari minimal dua kali seminggu. Jika diingat sekarang, di masa SMA itu aku semacam ‘terpaksa’ lari karena jadwal hidup yang memang begitu, memang latihan rutin pleton yang memaksaku lari bersama para pria ganteng (teman-temanku, haha) di barisan depan, dan bahkan berakhir dengan menjadi peserta event bernama Borobudur 10K dua kali (saat di kelas sebelas dan dua belas, tentu saja bersama para pria ganteng itu)! Btw kenapa teman-teman priaku zaman SMA kubilang ganteng karena sebagian besar dari mereka saat ini sudah menikah dan punya anak, yang menunjukkan bahwa lelaki lulusan SMA-ku cepat sekali sold out (yang perempuan dibutuhkan penelitian lebih lanjut, haha). Selepas SMA aku masih beberapa kali berlari dalam sebulan sampai akhirnya makin jarang karena alasan klasik mahasiswa kedokteran, “Mending belajar, bahannya banyak. Mending tidur, kemarin habis jaga.” Ehm, panjang ya ceritanya.  Aku cuma mau menegaskan bahwa berlari itu bukan hal baru bagiku. walau hobi pamer foto lari memang hal baru sekarang ini, hehe.

Oya, saat ini lariku pun sebenarnya masih lebih lambat dibanding kecepatanku saat usiaku belasan tahun dengan berat badan lima puluhan kilo. Kecepatan lariku zaman SMA dulu (aku termasuk tidak langsing dan termasuk tidak hebat dalam kesamaptaan jasmani) adalah 6 putaran lapangan bola dalam 12 menit (begitulah cara menilai kesamaptaan siswa dalam ujian: 12 menit berlari, dapat berapa putaran?). Dengan kata lain, pace-ku sekitar 5 menit per km. Beberapa bulan lalu saat aktif lari lagi pace-ku sekitar 8 min/km dan sekarang membaik sekitar 6:30 min/km. Untuk pace memang makin kecil angkanya makin keren. Seperti Usain Bolt sang juara dunia sprintpace-nya mungkin 2 min/km (atau satu!). Aku ingin menjadi lebih cepat lagi dan aku tahu kok kalau peningkatannya musti bertahap karena adaptasi otot dan ligamen untuk berlari kencang butuh waktu lebih lama dibanding adaptasi kardiorespirasi.

Mari kembali lagi ke tujuan awal penulisan. Maafkan penulisnya yang cerewet dan defisit atensi ya, hehe. Saat lari bersama teman-teman Semarang Runners itu aku tidak bisa mengikuti kecepatan para pria keren di barisan depan (yes, para wanitanya lebih suka berlari santai di belakang walaupun aku tahu mereka larinya keren dan kencang) tapi aku juga tidak sudi melambatkan kecepatan demi bisa berlari bergerombol dengan barisan belakang. Nah jadilah hampir setiap lari aku berada di antara mereka, berlari sendirian menembus kegelapan malam menghisap asap kendaraan yang kadang berbonus sapaan para satpam dan tukang parkir.  Aku seperti menjadi golongan pertengahan (sekaligus minoritas) yang tidak bisa mengejar mereka yang berada jauh di depan tapi juga tidak menemukan barisan belakang, mereka belum terlihat. Sering kali aku sendirian, karena mungkin golongan pertengahan atau ‘manusia tanggung’ itu jarang ditemukan. Kebanyakan memang ‘keren’ atau sekalian ‘sedang ingin santai saja di belakang.’ Aku memang punya pilihan entah menambah kecepatan berlariku saat itu untuk mengejar barisan depan (sampai ngos-ngosan mau pingsan) atau berjalan kaki saja menanti rombongan di belakang.

Terkait dengan orang-orang di barisan belakang, aku yakin sebagian besar dari mereka adalah para pelari kawak yang memang sedang ingin ‘lari gemes’ atau recovery run atau menjadi marshal  atau sweeper bagi pelari pemula atau anggota baru. Dulu mungkin aku penghuni barisan belakang namun karena aku ingin lebih cepat maka aku berlatih, dan bagiku salah satu patokan keberhasilan adalah sudah tidak lagi berada di barisan belakang tanpa sengaja saat group run. Jadi sudah jelas ya, tulisan ini bukan sedang menjelekkan penghuni barisan belakang? Sudah jelas juga bahwa analogi ‘pelari barisan depan’ itu kupakai untuk menggambarkan orang-orang keren (beriman, berakhlak baik, berkualitas, dll) tapi ‘barisan belakang’ yang kuanalogikan sebagai ‘orang-orang yang belum keren’ bukanlah pelari yang lagi pengen santai. Ehm gitu ya, paham kan.

Nah, jika aku mengeluh bahwa aku terjebak di tengah-tengah saat aku ikut group run, ‘nanggung’ karena tidak terlalu keren tapi merasa sudah progresif tidak selambat dulu, mungkin aku harus mulai rajin berlatih sendiri untuk meningkatkan kecepatan sehingga aku bisa ikut di depan. Atau mungkin aku harus pasrah pada status quo-ku dan melambatkan lariku demi bisa bersama mereka di belakang.

Iya, inilah aku si pemudi tanggung, yang tidak kunjung keren juga untuk berada di barisan depan, tapi tidak mau dianggap lambat dengan berada di belakang. Jika ingin ikut keren maka seharusnya hidupku kudedikasikan untuk meningkatkan kapasitas diri agar bisa maju ke depan bersama-sama orang-orang keren (apapun definisi keren, asal bukan fisik), atau aku harus mengalah pada keadaan diriku saat ini dan mungkin bahkan menurunkannya sedikit sehingga bisa ikut di barisan belakang (bersama orang-orang yang belum keren, no offense).

Maka mengertilah aku sekarang maksud dari ‘introspeksi dan meningkatkan kualitas diri’ dalam menunggu jodoh dan bukannya sibuk mencari calon yang cocok dan keren dan soleh dan kaya untukku. Mengertilah aku sekarang betapa menjadi ‘nrimo’ akan status quo hampir selalu salah karena kita tidak tahu seberapa hebat sebenarnya kita jika kita tidak menantang diri sendiri (untuk menjadi lebih baik). Ehm kok jadi tentang jodoh ya? Yah, tentang itu juga boleh deh.

Thus I feel that I am so stuck, I need to improve myself. And I should remember that “it doesn’t matter how slowly I go, as long as I don’t stop.” Right?

Solat dan Narkotik

Pada tingkat  keimanan yang rendah, manusia mungkin memperlakukan solat atau ibadah vertikal lainnya seperti narkotik. Suatu media penyaluran rasa frustrasi dan lelah akan kehidupan dunia yang fana ini. Dengan solat pikiran dipaksa tidak terpaku pada dunia. Saat solat semua hal tentang mahasiswa yang nakal atau pintar, atau thesis, atau lauk yang harus dibeli di warung sejenak terlupakan, tergantikan dengan ketenangan sesaat. Bisunya pikiran bersama dengan gerakan lidah membaca doa solat mungkin meredakan stress saat itu.

Pada tingkat tertentu minuman beralkohol pun dapat mewakili efek narkotik. Beberapa gelas wine cukup membuat pikiran melayang (saya tidak tahu bagaimana deskripsinya, tapi saya rasa mirip dengan solat khusyuk) dan stress tidak akan terasa seberat biasanya. Saat itu peminumnya akan lupa bahwa dia sedang penat atau sedih atau ingin mati.

Saya rasa semua manusia normal perlu jeda dalam hidupnya. Jeda yang membuat otak sadarnya melupakan masalah terkini, melupakan fakta bahwa ada anak-anak yang harus diberi makan, ada janji-janji yang harus dipenuhi. Jeda yang walau sesaat akan mengurai kerumitan di otak, dan akhirnya menyegarkan otak untuk berjuang lagi menyelesaikan masalah dan terus beradaptasi. Jeda yang makin sering dilakukan makin baik.

Mungkin seperti teman-teman bule di laborat dulu, yang selalu girang menjelang jumat sore, karena kursi bar dan beberapa botol bir cider dingin di seberang rumah sakit sudah menunggu. Banyak kepenatan yang perlu diurai melalui bir dan perbincangan penuh tawa dengan teman sekantor. Orang-orang ini mungkin yang tidak punya kegiatan bernama ibadah karena tidak adanya konsep Tuhan dalam pikiran. Saya lihat mereka rutin melakukannya setiap Jumat sore di musim apapun, sesibuk apapun mereka. Mungkin ketika terpaksa lembur karena jumlah potongan selnya masih kurang, dia akan menyusul semalam apapun. Mungkin seperti kata si @ndorokakung, “ngombe sik ndak edan.” (Minum dulu biar tidak gila).

Serendah apapun tingkat keimanan seseorang, saya rasa kebutuhan akan jeda itu selalu ada. Entah terpenuhi sementara dengan minum bir sampai mabuk, mengkonsumsi narkotik sampai ‘fly’, atau solat penuh persiapan sampai khusyuk.

Kebutuhan itu makin terasa saat tidak solat karena tidak bisa (bagi wanita). Atau pada orang yang beragama tapi tidak melakukan ritual keagamaan (non-practicing believer). Apalagi jika mengaku muslim sehingga menghindari minum minuman beralkohol dan makan babi tapi tidak solat. Mau lari ke mana saat stress? Mau bagaimana saat butuh menurunkan gelombang beta di otak yang bertubi-tubi meruwetkan keruwetan hidup yang ada?

Maka bolehlah para atheis atau skeptis menuduh pemeluk agama sebagai sekumpulan orang berwaham yang memabukkan diri dengan melakukan ritual agamis bernama ‘ibadah.’ Mungkin pemahaman itu juga akan terus beredar di muka bumi, termasuk pada saya dengan keimanan serendah saat ini. Butuh mabuk untuk melupakan dunia? Solatlah.

Memperbaiki Sikap

Seringkali aku menggunakan blog ini untuk menasihati diri sendiri ketika self talk tidak berhasil. Aku menulis serapi mungkin dan mempublikasikannya ke seluruh dunia demi menyindir diri sendiri.

Baiklah, tulisan ini salah satu sindiran juga.

Suatu pagi aku terbangun kesiangan dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu sebelum solat subuh. Yah memang sih, solat subuh di waktu dhuha, tapi aku bisa apa.. Tiba-tiba dari kamar ortu terdengar panggilan untukku. Aku memutuskan untuk berteriak untuk menjawab panggilan itu, bukan membuka pintu kamar ortu dan bertanya dengan sopan apa yang bisa kubantu. Aku berteriak tentang prioritasku untuk segera wudhu dan solat dan aku butuh lima menit sebelum ke sana.

Di waktu yang lain aku sibuk menanggapi perkataan ortu dengan pengetahuanku yang kurasa cukup luas, yah relatif lebih luas dibanding pengetahuan ortuku. Waktu itu kami membicarakan tentang kesehatan. Justifikasiku, selalu, bahwa ortu sudah membayariku berjuta-juta dan mendukungku bertahun-tahun untuk akhirnya aku diperkenankan Tuhan menjadi seorang dokter, jadi mereka harus percaya dengan apapun yang kukatakan tentang kesehatan manusia.

Tidak jarang pula aku berharap ayahku adalah seorang dewa yang tidak pernah salah. Aku selalu punya ide tentang seseorang yang sempurna (jika ada, jika tidak berarti yang sedang kubayangkan adalah sebentuk dewa atau apalah), dan ayahku selalu kubandingkan dengan sosok sempurna itu. Aku selalu menemukan perbedaan antara ayahku dan kesempurnaan itu dan memutuskan untuk merenunginya atau marah dengan adanya perbedaan itu.

Aku yang beberapa waktu lalu merindukan kehidupan yang lain, seperti misalnya tinggal di suatu rumah dengan seorang asing yang ganteng (suami, maksudnya, kan asing tuh, bukan keluarga) sempat berjanji pada diri sendiri untuk memperbaiki sikap ke orang lain. Lalu aku mulai lelah dengan bayanganku, mungkin karena semakin tua, aku mulai menyadari bahwa sikapku sekarang menentukan diriku di masa depan.

Aku bertanya-tanya bagaimana aku bisa bersikap super romantis pada suamiku nanti jika aku merasa kesulitan untuk menjawab dengan nada rendah dan tenang atas pertanyaan atau panggilan atau teguran ortu? Bagaimana mungkin aku bisa memprioritaskan kebahagiaan suami nanti jika memenuhi keinginan ibu yang sederhana saja berat kulakukan? Apa bedanya bersabar dengan orang tua (haha, padahal ortu yang sudah banyak bersabar dengan anak macam aku ini) dengan bersabar dan bersikap baik pada suami? Apa bedanya menyayangi adik dan kakak sepenuh hati, sesabar mungkin, memahami dengan penuh pengertian, dengan bersikap baik setiap hari ke pasangan hidup yang benar-benar orang asing?

Manusia terbaik yang pernah tinggal di bumi ini, Salallahu’alaihi wassalam, pernah berpesan pada para pengikutnya, yang berarti termasuk diriku juga, bahwa orang terbaik adalah orang yang baik pada keluarganya (terutama istrinya). Dalam sebuah khotbah yang kudengar di yutub, pak ustadz mengatakan bahwa pesan itu memiliki arti tersirat bahwa justru bersikap baik kepada anggota keluarga merupakan salah satu hal tersulit. Sangat mudah bersikap ramah ke kolega, bawahan, atau murid, atau teman yang hanya bertemu beberapa jam sehari. Namun dibutuhkan kepribadian yang matang untuk menjaga sikap ke anggota keluarga sendiri. Sangat mudah tampak baik dan sabar, tidak emosional, dan penuh penghormatan ke orang lain di luar rumah tapi hanya orang-orang berbudi baik yang tetap bersikap baik sesampainya di rumah dalam keadaan fisik dan mental yang lelah sepulang kerja.

Pak ustadz itu dalam khotbahnya yang lain yang berjudul berbuat baik pada orang tua, mengingatkanku untuk tidak meminta pengecualian. “Tapi ayahku begini dan begitu, kau tidak mengerti, Tadz” tidak bisa diterima. Semua orang akan meminta pengecualian serupa. Terima, hormati. Titik. Orang-orang terdekat memang sering menjadi sasaran utama atas tuntutan-tuntutan kita. Kita menuntut kasih sayang, balas budi atas kasih sayang dan respek kita, pengertian, dan banyak lagi. Mungkin tuntutan itu wajar tapi mengutamakan kesadaran bahwa manusia punya keterbatasan itu lebih penting. Bahkan mengingat bahwa orang-orang terdekatlah yang pertama berhak atas cinta dan kasih sayang kita lebih penting dari sebagian besar hal dalam hidup ini.

Dengan berbuat baik setiap saat kepada orang-orang terdekat, mungkin akan lebih mudah untuk menghormati siapapun selain orang tua sendiri. Akan lebih mudah untuk menghormati suami (atau menyayangi istri) nanti dan melayani sepenuh hati. Akan lebih mudah pula untuk menjadi original di depan orang lain, asli tanpa tipuan, tanpa dibuat-buat. Sehingga kita tidak perlu repot menjaga citra yang bukan milik kita.

So don’t be yourself. But be your best self.

Cerita dari (dekat) China

Beberapa bulan berlalu sejak adikku mengirim pesan via whatsapp untuk mengajakku membeli tiket pesawat murah untuk traveling ala ransel alias hemat ke Hong Kong (ternyata penulisannya dipisah begini!) dan Macau. Inilah hari yang ditunggu-tunggu, yang sudah dipersiapkan (minimal secara mental), yang membuatku berniat belajar barang sedikit saja bahasa China (yang akhirnya kuketahui negara ini menggunakan bahasa Kanton bukan Mandarin). Kisah ini merupakan lanjutan dari posting singkat di sini.

Kami berangkat dari Surabaya dengan pesawat Air Asia ke Hong Kong setelah transit sekitar tiga jam di bandara dekat Kuala Lumpur, Malaysia. Disambut udara dingin dan kabut, Hong Kong kulihat sebagai daerah istimewa China (special district) yang sangat maju dan rapi dengan masyarakatnya yang ramah terhadap turis. Apalagi turis berkerudung macam kami berdua ini, yang kata adikku yang baru beberapa bulan lalu ke Beijing, China, manusia berkerudung adalah barang langka yang selalu menjadi pusat perhatian. Mungkin kami hanya berdua sehingga tidak banyak yang memandangi kami, atau penduduk Hong Kong berpikiran lebih terbuka atau lebih banyak membaca berita.

Demi transpor murah, seperti prinsip kami sejak awal sebagai backpacker, ‘lima hari empat malam’ traveling kami tersisa tiga hari bersih untuk jalan-jalan dan dua hari sisanya (hari pertama dan hari terakhir) untuk perjalanan panjang pergi pulang. Malam itu setiba di Hong Kong kami menaiki bis bandara setelah sebelumnya dimarahi ibu penjual tiketnya karena uang kami terlalu besar (maklum, agen penukar uang di Semarang hanya punya uang ribuan HKD). Seperti yang banyak kubaca sebelum berangkat bahwa hostel tempat kami menginap sangat sempit dan terletak di lantai sekian sebuah mansion, bersama beberapa hostel lainnya, tempat ini cukup nyaman dan berada di pusat kota di pulau Kowloon di daerah bernama Tsim Sha Shui.

Esoknya yang kuhitung sebagai hari pertama, kami memutuskan sarapan mie gelas masing-masing dua bungkus karena banyak blog mengatakan makanan halal di HK termasuk mahal. Tujuan kami hari ini adalah Heritage Trail alias menapak tilas peninggalan jaman kuno di bagian utara pulau Kowloon. Kami menggunakan kereta untuk sampai di sana, beberapa kali dihentikan oleh satu, dua, atau serombongan wanita berjilbab berwajah Jawa untuk ditanya arah dan disapa dalam bahasa Jawa ngoko “sampeyan ngerti iki rak mbak?”, dan sangat menikmati kontrasnya gedung-gedung pencakar langit dengan kuil-kuil khas Asia Timur yang banyak dikunjungi turis lokal untuk berdoa.

Kami juga mengunjungi Pohon Harapan (Wishing Tree) yang umurnya sudah lebih dari seabad, menyaksikan orang-orang asyik melempari ranting-rantingnya dengan buah jeruk palsu dari plastik yang terikat pada selembar kertas yang ditulisi harapan-harapan pelemparnya.

Selalu ada hiburan gratis untuk turis di kota-kota negara maju. Di sini ada Symphony of Lights, suatu pertunjukan kelap-kelip lampu yang menghiasi gedung-gedung di seberang pulau dengan latar musik instrumental yang atraktif. Dengan ramah, suara dengan sumber yang sama dengan latar musiknya menyapa turis, “Welcome to Symphony of Lights,” yang dilanjutkan dengan warna-warni lampu di gedung-gedung pencakar langit yang membentuk kata-kata atau animasi, yang berlangsung selama sekitar sepuluh menit. Ada yang lebih bagus dari ini, tentu saja, seperti pertunjukan Natal di pusat kota Melbourne atau Songs of The Sea-nya Singapura.

Hong Kong terdiri dari empat daerah, yang pertama termasuk dalam semenanjung China, tiga lainnya merupakan tiga pulau yaitu pulau Kowloon, pulau Lantau (tempat bandara berada), dan pulau Hong Kong. Menyeberang ke pulau Hong Kong dengan sebuah feri membutuhkan biaya tiga ribu rupiah. Kami berangkat bersama banyak orang berpakaian rapi untuk bekerja. Kulihat banyak masyarakat Kowloon yang bekerja di pulau Hong Kong, sehingga bisa kubayangkan dua kali sehari mereka menaiki feri menyeberang pulau. Pulau Hong Kong tampak memiliki lebih banyak pencakar langit dan rumah susun, dan ada restoran halal yang menjual makanan China di gedung masjidnya. Seperti masjid di Kowloon, masjid di sini pun memiliki papan pengumuman bertuliskan bahasa Indonesia, mungkin saking banyaknya muslim Indonesia di sini.

Malam hari di hari kedua ini kami sempatkan ke pasar bernama Ladies Market setelah malam sebelumnya kami mengunjungi Temple Market dan membeli oleh-oleh sesedikit mungkin (setelah membuat daftar penerima oleh-oleh dan mengedit sedemikian rupa sehingga tinggal beberapa belas orang yang benar-benar penting saja). Beberapa penjual berani menyapa kami, “Berapa? Berapa?” yang membuatku semakin yakin wajahku sangat Jawa, dan beberapa penjual lainnya menawarkan harga empat kali lipat harga normal, mungkin lima kali (aku yang gagal menawar). Hong Kong, seperti banyak kota besar di dunia, gak ada matinye, bahkan pukul setengah dua belas malam kudapati diriku masih menawar mp3 player menjadi separuh harganya (padahal bukan di pasar melainkan di kios dekat hostel tempat kami menginap). Memang di pagi hari banyak pertokoan yang baru buka setelah pukul sepuluh, tapi kupikir toko yang tutup tengah malam sangat membantu.

Ada yang menarik dari pulau Lantau yang tadi kubilang sebagai pulau tempat bandara berada. Ada suatu daerah bernama Ngong Ping yang memang terpencil di sebuah lembah yang terdiri atas suatu desa mungil yang sengaja dikonservasi untuk tujuan wisata. Di tempat itu berdiri megah Giant Buddha, patung Buddha dalam posisi duduk, yang sangat mirip dengan yang ada di Borobudur. Patung itu sangat besar, dari jarak beberapa kilometer sudah tampak bentuknya, dan untuk menuju ke patungnya harus mendaki beberapa ratus anak tangga. Menuju ke Ngong Ping kami menaiki mobil kabel, semacam kotak yang meluncur di seutas kabel seperti yang ada di Taman Mini Indonesia Indah, sehingga penumpangnya bebas melihat pemandangan di bawah yang hijau dan cantik.

Ngong Ping bagiku sangat mengesankan. Perjalanan menuju ke sana tampaknya sangat jauh dengan pemandangan yang di mana-mana hijau. Sementara masih teringat jelas betapa beberapa hostel sekaligus harus berdesakan di sebuah mansion, betapa penduduknya tinggal di apartemen tipe studio yang harganya selangit. Tidak ada satu pun rumah normal kuamati sejak aku di Hong Kong, seperti rumah orangtuaku yang beberapa ratus meter luasnya, yang bertetangga dengan nyaman, dan yang halamannya luas. Namun demikian, masih banyak bukit-bukit yang hijau dan asri, tanpa sedikit pun terjamah untuk pembangunan real estate atau sekedar perumahan sederhana.

Hari ketiga adalah hari Macau, yang baru belakangan juga kuketahui sebagai salah satu special district dari China selain Hong Kong. Macau menggunakan bahasa Kanton dan Portugis karena memang bekas jajahan Portugis. Sampai sana pun semua papan pengumuman ditulis dalam tiga bahasa yaitu Kanton, Portugis, dan Inggris. Jika dilihat dari peta, jarak pulau Kowloon ke Macau agak jauh, namun dengan kapal bernama Turbojet, perjalanannya hanya sejam dan bebas mabuk laut. Pergi pulang jika dikurs rupiah bisa mencapai setengah juta rupiah, memang mahal, namun kapan lagi ke Macau, kan.

Sampai di Macau kami mengunjungi kasino. Iya, tempat judi itu. Atraksi utama Macau memang kasino. Semacam Las Vegas, Macau sepertinya ingin mengklaim diri sebagai tempat judi nomor satu di dunia. Tidak heran jika banyak bis gratis disediakan oleh pihak kasino untuk transpor dari terminal feri ke pusat-pusat judi itu. Kami sih tinggal naik bis gratis itu, dari kasino kami jalan kaki ke objek-objek wisatanya.

Dalam satu kalimat bagiku Macau adalah tempat wisata buatan. Tidak ada pemandangan alam yang mencengangkan, misalnya, namun ada makanan yang kelezatannya masih terngiang sampai sekarang yaitu Portuguese Egg Tart, tart telur khas Portugis dengan pinggiran pastri dan berisi puding telur karamel (sudah googling resepnya dari dulu tapi belum berani mencoba membuat). Tempat wisata buatan, menurutku, karena dibuat dengan serius dengan investor yang kekayaannya serius juga, berupa gedung-gedung kasino yang luasnya mungkin seluas RT di kampung kami, dengan langit-langit yang dibuat seperti langit biru berawan, dengan kanal-kanal yang dilewati gondola-gondola, lengkap dengan pengemudi bersuara merdu dan berseragam ala penjual sate Madura. Ada masjid di Macau, tentu, yang halaman belakangnya digunakan untuk makam, yang suasananya sepi, jauh dibanding dengan masjid di Kowloon maupun Hong Kong, walau pengumuman berbahasa Indonesianya tidak kalah menarik.

Malam itu aku merasa harus berpikir taktis dalam menghabiskan pagi harinya sebagai hari terakhir di Hong Kong. Aku sangat ingin ke perpus kota namun, tentu saja, baru buka pukul sepuluh pagi sementara pesawat kami berangkat pukul tiga belas. Pelajarannya? Pikirkan perpus kota sebagai tujuan utama kapanpun kamu ke luar negeri. Pagi terakhir itu akhirnya kami habiskan untuk berkeliling taman kota bernama Kowloon Park dan kekagumanku membuat adikku heran, “Kamu pasti seneng banget ke Beijing karena di sana lebih banyak taman, dan taman-tamannya jauh lebih bagus.” Ah, kenapa pula aku tidak coba mengunjungi taman-taman di Surabaya hasil upaya bu Risma sang walikota, ya. Yang menarik perhatianku selain ada ‘hutan’ di tengah kota adalah kegiatan di taman itu. Sebagian besar pengunjungnya pagi itu (dan mungkin sebagian besar hari) adalah lansia. Mereka semua berpakaian training dan melakukan senam dengan gerakan yang lembut dan lambat. “Taichi, tuh,” kata ayahku  ketika kupamerkan foto-fotonya sepulang dari Hong Kong. Iya, mungkin kesadaran akan kesehatan penduduk negara maju sudah sejauh ini; para lansianya rutin ber-taichi di taman kota yang sejuk (dan tentunya lebih luas daripada apartemen mereka) setiap hari, seperti pagi hari Rabu pukul sembilan itu.

Tas kami lebih berat karena beberapa oleh-oleh, namun hati ini sungguh ringan dibanding saat berangkat meninggalkan Semarang (dan juga pekerjaan) beberapa hari lalu. Kepalaku juga lebih berat karena penuh ingus di sinus-sinusnya. Udara awal musim semi memang kurang bersahabat bagi sebagian orang, hehe. Nikmat pemandangan dan pengalaman yang disesap walau sesaat tetap akan menyisakan kenangan bermakna dalam hidup kami. Aku sempat berkata pada adikku untuk menceritakan pada anak cucuku nanti bahwa nenek pernah dolan berdua aja sama nekcil (nenek kecil alias adiknya nenek :p) dan mungkin ini bukan yang terakhir.

Kata orang bijak, karakter orang akan tampak saat kita bepergian jauh dengannya, dengan versi lain yang mengatakan bahwa kamu akan mengenal seseorang dengan bepergian jauh dengannya. Tanpa bertanya pada adikku pun aku jadi bisa bercermin darinya tentang diriku selama lima hari di Asia Timur ini. Bukan hanya itu, aku semakin merasa manusia di dunia ini sama, sama-sama mencari kebahagiaan, sama-sama mengusahakan kehidupan yang terbaik bagi dirinya dan orang-orang sekitarnya. Beberapa kali sehari selama di Hong Kong kami sering mengobrol mengapa di sini begini dan mengapa tidak begitu. Kemudian kami menyetor ide masing-masing dan akhirnya menyetujui yang paling masuk akal. Sering pula kami tidak habis pikir mengapa begini mengapa begitu, namun karena tidak cukup ide, kami sepakat meninggalkan kata ‘mengapa’ dan memilih menerima, ” People. You know.”

Kupikir berkelana jauh semacam ini membuat pikiran kami berdua terbuka, tidak serta-merta menghakimi mengapa seseorang atau suatu negara berlaku begini dan bukan begitu. Mungkin makin banyak seseorang berjalan di muka bumi maka makin sedikit komentarnya dan makin banyak aksinya. Mungkin makin banyak pengalaman, seseorang akan makin penasaran untuk mencari tahu dan bukannya berkomentar dan menghakimi. Seseorang akan makin seperti anak kecil, yang dengan hati riang dan pikiran terbuka, siap tersenyum, tertawa, atau menangis oleh kejutan yang dunia berikan padanya. Setidaknya itulah yang kurasakan setiap pulang dari perjalanan jauh yang isinya tidak jauh dari kejutan-kejutan di luar dugaan. Banyak kejutan yang menyenangkan, seperti keindahan alamnya dan keramahan warganya, kesulitan konyol mencari arah saat tersesat, walau ada yang menyedihkan yang tidak perlu diceritakan karena aibku sudah ditutup rapat oleh-Nya.

Ada pula kalimat bijak yang mengatakan bahwa bahagia itu letaknya di hati, bukan di dalam rumah mewah laksana istana atau di negeri asing seperti Hong Kong atau Macau. Namun kadang kamu menyadari adanya secuil hati yang bersyukur ketika kamu berada jauh dari rumah, atau ketika matamu terantuk pada pemandangan mempesona, pada pengalaman budaya yang jauh berbeda, dan pada persaudaraan yang ikatannya melebihi apapun di dunia ini.

Sambil merindukan kerapian kota dan kemudahan transpor Hong Kong, atau mungkin sekedar kebahagiaan atas pelarian dari rutinitas, hari ini aku berkendara motor ke kantor. Baru siang itu kusadari teriknya mentari di Semarang. Betapa hangat kotaku ini, mungkin suatu hal yang penduduk asli Hong Kong rindukan setiap harinya di musim dingin, gugur, maupun semi.

Yah begitulah cerita singkat (hah, singkat?) sepulang dari Hong Kong dan Macau, dua daerah istimewa milik negeri China. Catatan ini mungkin berguna untuk kubaca beberapa tahun (atau puluh tahun) dari sekarang.

Aku selalu bermimpi bisa berkeliling dunia dengan orang tercinta yaitu suamiku nantinya, berpetualang bersama… Namun siapa sangka kesempatan itu datang sekarang ketika aku bisa bepergian dengan adikku tercinta. Mungkin perjalanan itu sudah dimulai sebelum aku menyadarinya. Mungkin kebahagiaan itu memang dekat, tergantung semangat kita dalam memupuk bagian kecil dari hati yang penuh syukur itu, agar terus tumbuh besar dengan akarnya yang menghujam dalam dan rantingnya yang tinggi melangit. Feel blessed for who you are and what you have, and feel enriched with what you experience, 🙂

 

Adikku dan aku di latar suatu Temple di Kowloon, HK.
Adikku dan aku di pelataran suatu kuil di Kowloon, Hong Kong.

Bersenang-Senang

Kadang istilah bersenang-senang menimbulkan konotasi negatif. Kesannya seperti berfoya-foya, berhedon ria, melupakan kewajiban, dan rekreasi setelah pusing berkutat dengan pekerjaan. Senang yang jadi kata dasarnya sendiri bersinonim dengan bahagia, yang kemudian menimbulkan konotasi lain lagi. Bahagia terkesan seperti sesuatu yang sangat besar, sangat agung, dan jarang terjadi, seperti pernikahan, punya anak, menang undian satu milyar, dan masuk surga. Gembira? Yah, semacam minuman bersoda, atau sorakan atau perayaan musiman. Oh atau konotasi-konotasi itu hanya muncul di otak pesimis ini ya?

Aku yakin manusia pada dasarnya berbahagia walau menangis keras saat terlahir ke dunia. Lihatlah anak-anak, mereka berbahagia tanpa alasan. Tertawa, tersenyum, bahkan ketika sendirian. Semakin bertambah umur semakin berkurang tawa, demikian kata seorang selebtwit. Ada masa-masa aku tertegun membaca tulisan-tulisanku sendiri yang tersebar di blog ini, di buku-buku harianku, di catatan-catatan kuliahku, atau teringat ucapan-ucapanku sendiri ke orang-orang. Tertegun betapa senangnya diriku yang dulu. Sering aku berpikir untuk mencari perbedaan masa lalu dan saat ini, apa yang membuatku begitu berbahagia zaman dulu dan apa yang membuatku saat ini lupa alasan-alasan itu.

Akhir minggu itu aku bertemu dengan sepasang tamu, saudari ibuku dan suaminya, yang berkunjung untuk satu atau dua alasan. Mereka pasangan yang lebih tua dari ibuku dengan seorang anak yang sudah bekerja di Jakarta. Mereka orang yang setahuku amat sangat kaya sehingga aku silau dengan kekayaan itu. Aku sering mengasosiasikan pakdhe dan budhe itu sebagai salah satu pasangan paling bahagia dan aku ingin menjalani kehidupan seperti mereka. Mungkin karena mereka kaya raya. Aku sering berencana untuk main ke rumah mereka hanya untuk mengagumi desain interiornya, buku-buku di perpustakaan pribadinya, kucing-kucing persianya, atau menikmati makan di restoran jika mereka mentraktirku, atau hanya mendengar cerita-cerita tentang berkeliling dunia. Ah intinya aku sangat senang dengan kunjungan mereka, suatu kesempatan untuk mengorek kadar kebahagiaan mereka dengan kekayaan semacam itu.

Ups, ternyata waktu cepat berlalu sejak pertemuan terakhirku dengan mereka. Beberapa tahun sudah terlewati sejak diskusi terakhir kami yang terdiri atas anggukan semangatku mendengar cerita perjalanan keliling belahan selatan benua Amerika dan kekagumanku atas jumlah anak asuh mereka. Ternyata keingintahuanku atas kebahagiaan mereka menjadi orang kaya tidak sehebat dulu. Aku sekarang hanya mengangguk kecil mendengar cerita terbaru mereka tentang pengajian selama tujuh tahun terakhir di Jakarta tentang ilmu tasawuf. Aku pura-pura paham dan sudah banyak membaca tentang sufisme itu. Dalam hati aku pusing dan galau, otomatis membandingkan dengan diriku, merasa malu bertahun-tahun berusaha menuntut ilmu agama namun ketenangan masih jarang mampir ke hati. Tentang kegalauan hatiku dengan diskusi sufistik ini sepertinya perlu kutulis di tulisan terpisah.

Oh, aku sedang menulis tentang bahagia, ya? Baiklah, dari kunjungan mereka ke rumah orang tuaku itu aku menyadari bahwa menjadi kaya raya, atau berkeliling dunia, atau berbagi dengan anak-anak tidak mampu bukan sumber kebahagiaan. Kamu bisa berbahagia saat melakukan itu semua, tentu, tapi kamu juga bisa tidak berbahagia saat melakukannya. Kamu juga bisa berbahagia walau tidak cukup kaya untuk keliling dunia atau menyekolahkan sepuluh orang anak..

Di hari yang lain aku menemukan keceriaan dalam wajah beberapa orang yang dekat denganku. Lagi-lagi otomatis aku membandingkan dengan diriku dan mencari perbedaan di antara kami. Rupanya orang-orang bahagia itu memiliki banyak saudara kandung, sampai ingin kusimpulkan bahwa anak tunggal adalah manusia paling depresi di muka bumi. Hahaha, abaikan saja kesimpulan ngawurku itu.

Aku sempat getol mewajibkan diri membaca berlembar-lembar Quran setiap harinya dan merasakan dahsyatnya letupan kebahagiaan di hati. Ekstrimnya aku sudah cukup senang bisa hidup. Minimalnya aku tidak butuh makanan superenak atau buku superbagus untuk meningkatkan mood-ku hari itu.

Aku suka olah raga walau sangat buruk dalam bermain basket, voli, badminton, apalagi tenis. Aku suka lari, renang, dan kalau boleh orang tuaku, bersepeda ke kampus. Yang aku suka dari olah raga terutama adalah efeknya setelah selesai: bahagia. Rasanya senang. Mungkin endorfin, atau mungkin dengan berkeringat aku jadi optimis menjadi kurus, hehehe.

Satu lagi inspirasi bahagia, dialah adik iparku. Seorang soleh yang cukup narsis dengan kegantengannya. Mungkin dia salah satu orang paling bahagia yang kukenal, yang ironisnya mungkin terbentuk oleh pengalaman-pengalaman hidupnya. Aku kadang iri dengan keceriaannya. Ah, melihatnya saja aku seperti diingatkan untuk bertanggung jawab atas kebahagiaan diri sendiri.

Dalam tulisan ini aku juga ingin menyimpulkan kekonyolanku di masa lalu, kapanpun sebelum aku menulis ini, bahwa aku bangga setiap aku tersenyum lebar sambil berkata “buku bagus saja sudah membuatku bahagia” atau “aih senangnya main ke pantai” atau “minum segelas kopi yang enak cukup untuk menyenangkanku” atau bahkan “paling senang itu jika seorang anak membalas senyum kita” dan kalimat ‘bersyarat’ lainnya. Sambil berkata itu biasanya dalam hatiku terselip kesombongan betapa mudahnya aku dibahagiakan. Betapa idealnya aku sebagai calon pasangan, yang bisa diajak susah, yang tidak merepotkan. Aku merasa itu semua konyol dan inilah yang benar: bahagia ya bahagia saja, tidak butuh buku, pantai, kopi, atau pacar.

Satu lagi yang konyol. Aku pernah menyaksikan musim terbaik seumur hidupku yaitu musim semi, ketika itu aku di Melbourne, suasana ternyaman yang pernah kualami yaitu hari-hari di Melbourne, namun saat-saat itu aku malah sering menangis sendiri tanpa sebab yang jelas. Sampai-sampai waktu itu aku menulis twit semacam, ‘Percuma kamu ke tempat-tempat yang indah jika tidak berbahagia. Percuma.’

Bahagia bisa diraih kapan saja, di mana saja, dalam keadaan apa saja, saat sedang melakukan apa saja. Ekstrim memang, bagi diriku yang mengaku sedang depresi. Menjadi depresi? Oh. jangan tanya. Rasanya tidak berguna, tidak produktif, jauh dari berkontribusi bagi sekitar. Jangan-jangan tugas utama manusia di dunia adalah (tetap) berbahagia, karena ternyata itu jadi salah satu syarat untuk menjalani tugas khalifah di muka bumi? Jangan-jangan tugas itu tidak akan terlaksana sebaik jika dalam keadaan hati yang bahagia?

Ah, semakin panjang dan grambyang saja tulisanku. Aku hanya sedang merindukan rasanya berbahagia setiap saat. Aku sedang belajar untuk terus mengaktifkan rasa bahagia di hati, kalau bisa tanpa syarat dan kondisi, kalau bisa sampai aku kembali ke Tuhan. Aku akan kecewa jika tahun-tahun di usia mudaku ini kulewatkan dengan tidak berbahagia, tidak bersenang-senang, tidak merasa gembira. Dan, ehm, kesimpulannya Quran, dzikir secara umum, dan ingatan untuk tetap berbahagia adalah tiga contoh cara untuk berbahagia. Adakah ide lain?

Senyum bahagia saat bersenang-senang di Bromo.
Salah satu ‘bahagia bersyarat’: harus ke Bromo dulu.. Duh!