Dengue Shock Syndrome

[Play]

Pagi yang sejuk, setengah jam menjelang adzan subuh berkumandang, aku duduk di kursi dekat telepon *tentu sebagai co-ass jaga anak merangkap operator telepon*, bergegas melahap habis roti isi mesyes ala rumah sakit. Acara sahur kilat aku selesaikan dengan menyeruput frestea kotak dengan brutal *srot srot*, sebelum akhirnya cerita bodoh ini dimulai.

*****

“Dai, aku panggil bu C sekarang ya?!”

“Hm?”sambil terus mengunyah, “Karepmu wis.”

Dengan enggan aku beranjak dari kursi, setengah mengunyah dan melambai sedih pada frestea kotak yang belum kosong, menghampiri sepasang suami istri dengan seorang anak terbaring di brancard di sudut UGD ini.

Aku tersenyum dan bertanya, “Gimana, Bu? Anaknya kenapa?”

“Anu Mbak, dingin,”

Kuraba kedua tangannya. Memang dingin. Aku raba kakinya, oh dingin juga.

“Em, aku tem dulu ah” aku bergumam dan meraih termometer air raksa di rak dekat situ.

“36, Yan”, lima menit kemudian aku berkata padanya, sambil terus menganamnesis,

“Oh, jadi sudah panas hari keempat ya Bu,”

“Iya Mbak. Nglemeng, panasnya.”

“Yan, mau ngitung heart rate tapi kok nadinya enggak teraba ya?”

“Coba femoralis, atau brachialis. Oya, carotis aja ding, coba aja. Pasti ada,”

“Engh, susah Yan. Coba kamu,”

Aku beralih dari leher ke perutnya, “Sakit, Dik?”

Si adik 2 tahun 8 bulan yang ternyata manis sekali itu mengangguk dengan dahi berkerut.

“Wow, gede banget,” tak sadar aku berseru ketika menyadari hatinya sudah blank hart setengah-setengah (parameter untuk pembesaran organ hati, red.).

“Iya, susah Dai, nadinya,”

“Oh, pake stetoskop aja ya,” aku merasa dapat ide cemerlang dan segera meraih stetoskop.

“Sip, HR 145 kali,”

“RR 30 kali,” temanku membalas.

“Bu diselimutin aja ya, anaknya,” lagi-lagi aku merasa mempunyai inisiatif ala Maladica: memberi selimut untuk pasien dengan akral (tangan dan kaki, red.) dingin.

Bu C akhirnya datang juga, bertanya sekilas pada ibu pasien, segera menghilang, dan kembali dengan dua botol infus RL (Ringer Lactate, red.) dan meminta perawat untuk memasang infus.

“Ditensi ya Dik,” kata bu C.

“Pake monitor aja,”

Bu C pergi dan segera kembali lagi dengan botol infus lagi. Haes® tertulis di labelnya.

“86 per 63, Bu” temanku menyahut dari sudut brancard, memberi tahu tensi anak ini.

Hmm… Infus RL dua jalur? Haes? Nadi cuma delapan puluhan per enam puluhan? Oiya ya, ada akral dingin. *Oalah, syok toh.*

[Rewind]

Kok nadinya ga keraba? Ada akral dingin pula?! Tanda syok dong? Oya, tensi-nya berapa ya?!

Selimutnya mana ni?

Duh Bu C kok belum dateng juga sih. Infus RL, bilang perawat, pasang dua jalur.

Bu, beratnya anaknya berapa?

Oya, tolong siapin Haes juga.

Aku berharap dapat menyerukan beberapa kalimat sekeren itu, sebelum bu C datang. Aku berharap dapat berinisiatif dan berpikir sejenak, memunculkan satu kata penting itu di otakku: SYOK, sebelum bu C datang.

Sangat cocok: akral dingin, nadi tak teraba, dan riwayat demam empat hari.

Aku berharap aku bisa memutar kembali waktu, dan melakukan hal yang seharusnya aku (seorang co-ass anak, bulan kedua) lakukan: mengenali tanda kegawatan; melakukan hal yang tepat dengan cepat; melakukan hal dengan benar; dan melakukan hal yang benar.

Bukan berarti aku salah. Hanya saja kenapa aku harus menunggu bu C datang dan menyambut rangkaian kata “akral dingin, nadi tak teraba, hati membesar” dengan sebuah penanganan yang mencegah bahaya lebih lanjut?!

*****

Demikianlah another kisah bodoh-ku saat jaga di stase anak.

Impian menjadi sekeren dokter di serial tivi ER, yang dengan cekatannya bernyanyi merdu untuk petugas UGD lainnya, “tolong infus, darah rutin, jangan lupa balans cairan” tertunda sejenak. Impian menciptakan suasana tegang (karena semuanya bergerak cepat dan akurat) namun terpercaya (karena co-assnya cukup kompeten) khas UGD belum dapat terwujud.

Ya, inisiatif bisa dilatih. Betul kan. Besok lagi kalo jaga, jangan lemot-lemot banget ya Yu. Mikir jernih dikit kek. Masa syok aja belum kenal juga. Kenalan lagi gih, sana!

Pascakunjungan Rumah

Alhamdulillah akhirnya jadi juga, kunjungan ke rumah mantan pasien dalam rangka membuat kasbes alias kasus besar; seorang anak dengan kejang demam simpleks, TFA, dan gizi kurang.

di depan rumah

Rumahnya tepat di belakang ‘pasar dadakan’ di Prembaen, daerah Thamrin, Semarang. Minggu siang itu aku ke sana, dengan sepeda motor, parkir di pinggir jalan yang disulap menjadi pasar, dan menelusuri rumah-rumah sempit dengan penghuni yang melebihi kapasitas.

Sayangnya si pasien dan ibunya sedang berlibur ke rumah nenek, jadi aku hanya bisa mewawancara ayahnya dan berfoto dengan beberapa anak2 di situ, ya tetangga, ya sepupu si pasien.

Dengan 13 orang yang tinggal di rumah ukuran 6 x 10 meter, mereka memiliki tiga buah kamar tidur dan sebuah ruang multifungsi: ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dengan sebuah TV berwarna. Sebuah jendela di ruang itu, dan kamar mandi tanpa WC. Air didapat dari sumur artetis, dan air minum dibeli perliter (ledeng).

Kunjungan singkatku yang tak sampai 30 menit tersebut begitu mengingatkanku pada PBL (Pengenalan Belajar Lapangan) dulu saat semester 8, dan workcamp2 ku yang telah lalu. Tentang sebuah slum area. Tentang keluarga ceria. Tentang senyum dan tawa anak-anak. Dan tentu saja yang paling penting, tentang edukasi cara hidup sehat dan bersih.

See you later, kids!

Dini Hari Itu, Plus Pertamaku

Saat itu dini hari. Ada seorang pasien bayi perempuan usia 3 bulan dengan berat badan 2700 gram. Pasien datang dengan distres respirasi et causa bronchopneumonia. Pukul satu dini hari pasien masuk ke bangsal dengan terpasang infus hasil venaseksi, dan ventilator manual. Koass bergilir memompa dengan hitungan satu tiupan setiap tiga napas.

Pukul 2 dini hari pasien mulai rewel dan menangis. Tangisan tanpa suara itu diikuti oleh tarikan napas panjang dan dalam, dengan retraksi suprasternal, interkostal, dan epigastrial yang nyata, ditambah napas cuping hidung. Tanpa mempertimbangkan kemungkinan penyebab memburuknya napas pasien, hitungan pompa ventilator diubah menjadi satu tiupan setiap dua napas.

Setengah jam kemudian belum ada perubahan. Pasien tetap rewel, napasnya dalam dan panjang. Koass mencoba mendengarkan inflasi melalui stetoskop, namun tidak terdengar apapun kecuali denyut jantung yang mulai takikardi, dan adanya ronkhi basah halus. Pukul 02.45, residen jaga terbangun dan langsung beraksi atas pemberitahuan koass tentang memburuknya napas pasien. Residen jaga mulai panik. Koass menyadari kesalahan, bahwa seharusnya mereka segera melapor 45 menit yang lalu.

Suasana dini hari yang awalnya lengang itu berubah menjadi tegang. Yang pertama dilakukan residen adalah mengecek adakah napas spontan, dengan melepas ambubag dan meletakkan sehelai benang di ujung pipa ET. Ternyata benang tidak bergerak. Artinya negatif. Tidak ada napas spontan. Maka residen melakukan suction dengan dibantu koass untuk menghisap lendir atau apapun yang mungkin menyumbat.

Situasi semakin mendebarkan. Perawat mencari adrenalin, koass meminta residen jaga PICU untuk segera datang. Suction berhasil, dan menunjukkan sejumlah darah dan jendalan darah yang menghitam. Koass tetap berusaha mencari bantuan dengan menelepon residen jaga senior.

Usaha resusitasi tetap berlanjut. Sementara mecnoba melakukan suction yang ternyata berat sehingga membutuhkan bilas garam fisiologis ke dalam pipa ET, koass mencoba mengecek denyut jantung. Koass tidak yakin, maka dia mengoperkan stetoskop Littman itu ke temannya, koass yang lain. Tetap tidak ada. Perawat pun mencoba, hasilnya sama, tidak ada denyut jantung sama sekali. RKP yang sebenarnya terlambat pun dimulai. Lima pijatan untuk sekali tiupan napas. Demikian seterusnya. Usaha mencari denyut jantung terus dilakukan, sambil berharap suara lub-dub itu muncul dan merambat melalui stetoskop menuju telinga koass.

Residen jaga senipr sudah datang, dan memegang kendali. Adrenalin masuk, RKP tetap dilakukan. Denyut jantung berulang kali dicek; nol. Keluarga pasien dipanggil dan diberi tahu bahwa kondisi anaknya sudah sangat buruk. Ibu pasien mulai menangis histeris. Residen jaga senior, residen PICU, residen jaga, dan para koass menyadari kemungkinan tertolongnya pasien sangat kecil. Senter sudah disorotkan ke pupil pasien; midriasis tampak nyata.

Waktu kematian, 03.05. Ibu pasien tidak sanggup menyaksikan bayinya yang sudah kaku itu. Ayah pasien dengan sabar mendengarkan penjelasan residen jaga senior.

Suasana pagi itu tetap seperti biasa. Lengang. Dingin. Sama, kecuali bahwa ada satu lagi nyawa yang dijemput oleh malaikat, untuk mengikutinya terbang menuju surga bersamanya.

I was about to say….

Today we met a special patient at the dermatovenerology clinic in the hospital. He was 18, young, and quite funky. And he got this sexually transmitted disease. Well, not HIV though. Just Gonorrhea.

And he admitted that it was so painful and disturbing it made him want to stop doing that with his girl and girls (HTS, alias hubungan tanpa sexual status).

I was about to say, “just use condom and you and your sex partner will be safe”, but then I knew I wouldn’t need to. He would stop. He said.

Cintaku pada Bidang Ilmu Penyakit Infeksi

Minggu ini komuda di bagian anak. 2 weeks to go to graduation, which means 3 weeks to go to koass. Huah so nervous yet haven’t been preparing anything.

Hari ini kami berlatih pemeriksaan fisik, dengan istilah keren bedside teaching. Wow, a real bedside, dengan pasien sebagai objek. Uh, maaf ya dek.. Hari ini kami belajar tentang DHF alias Dengue Haemorrhagic Fever alias Demam Berdarah Dengue dan sedikit tentang TB alias tuberkulosis. Juga tentang imunisasi, kapan harus diberikan dan berapa dosisnya.

DHF atau DBD merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri alias self-limiting disease. DHF adalah demam yang disebabkan oleh infeksi virus dengue, yang manifestasi perdarahan dan kebocoran plasmanya kadang tak terdeteksi atau tertangani dengan segera. Dan seringkali hal inilah yang fatal.

Demikian pula TB, angka kesakitannya masih demikian tinggi di Indonesia. Di Semarang saja masih banyak daerah endemisnya. Aku tahu beberapa tempat. Not to mention lah.

Besok topiknya adalah gastrointestinal dan gizi. Artinya topik paling hangat yang sangat mungkin akan dibahas adalah gizi buruk. Dan tentu sebagai orang yang hobi protes dan mengeluh, aku langsung mencari objek untuk disalahkan, yaitu pemerintah, for failing to feed the children.

Well yeah, ITULAH INDONESIA!!! (dr. Erwin’s song)