A Brunch and A Crush

“How about you, what specialty do you intend to take?” He asked enthusiastically over a steaming-hot bowl of soto, an Indonesian chicken soup with lots of candlenut.

“Umm, I don’t know, I am not sure. Even whether to take a specialty or remain a GP for the rest of my life.. But if I have to choose, I would love be a heart doctor.” I squeezed a slice of lime into my own bowl.

“What do you call doctors who help delivering babies?” he added curiously and a bit apologetically.

“OB/GYN.”

“Yeah, that.”

“Umm..”

I explained to him that I am not someone who can take that much pressure to be an OB/GYN doctor. I don’t have my whole days for other people too, waking up at 2 am to help moms, and so on. He was empathetic enough when he said,

“Ah I see, that’s why there are more male OB/GYN doctors.”

It was a brunch with someone I just met once before, happened after only a brief texting. Just like that, but it got me thinking. Well well, I am not sure whether it made me think about the specialty as a future career, or about the possibility that he could be involved in an unusual relationship with me, if you know what I mean, or merely a forgettable event of a random day with a random girl like me.

I had an answer popping in my mind immediately after I answered him. It came a split-second later than my actual spoken answer.

“I have been dreaming to be someone’s hero, if being a hero to the world is too big. I always want to do something with an instant, tangible result. I want to see the impact of my work, something to make me feel worthy and significant. Thus I was thinking of the professions that meet my dream. They are the orthopedic surgeon, who can always go abroad to be a volunteer, taking care of troubled limbs, saving lives in countries at wars, or being a public health expert who goes to developing countries (or rural areas in Indonesia!) and takes charge of the health education, the children’s immunization and health checks. Lately I found that OB/GYN doctor is also a hero, making the continuation of the generations possible.

I was so sure I would undergo whatever it takes to be my version of a hero, before I redefined what life really is. Or at least, how I can handle this life. I concluded that I can only create a good result by doing it with love. Thus I need to make sure that what I do is what I love to do. I realized that I can’t be doing something significant enough if the drive is not coming from within me. I can’t do my best if I am told what to do. I need to fall in love in what I do to bring a quality to the result. It would be too hard for me to drag myself, or push through if I don’t have passions in it. I need to guarantee myself that I won’t quit in the middle of the road.

Being an OB/GYN doctor is a good example of being my version of a hero, doing something with an instant and satisfying result. While, for example, a heart doctor may not see his impact in days or weeks, but maybe in years.

Long story short, if I don’t love it, I won’t take a particular pathway. I won’t take the risk of ruining it and disappointing people around me. I would rather, apparently, do something small and insignificant with all my heart. Oh, and secretly send prayers to God to bless what I do. And of course I respect those who want to be some kind of a hero, and appreciate their motivations and abilities to pursue their dreams. I just realized that I am not one of those awesome people.”

But you know, I ended up giving an unfinished answer and kept the ball rolling by asking about his future career. I am sure I have so many events in my life where I regretted what I said, and wished to say some other thing, or say it differently. This was definitely one of those events. But, whatever. No one would bear to listen to my long, boring explanation, either. Oh, and by the way, with my previous experience of having over-expectations, I have no comment on this guy, like, at all. *grin*

A heart in love is like a garden full of blooming flowers.
A heart in love is like a garden full of blooming flowers. (The Royal Botanical Garden, Melbourne, Australia)

Obgyn

Hmph. Stase yang membuatku merasa harus mempertimbangkan untuk menjadi dosen atau peneliti dan bukannya klinisi!

Stase yang membuatku jenuh, ingin berlari, berteriak lantang, atau sekedar berbaring di lantai barang sejenak.

Stase yang membuatku berpikir apalah arti diriku. I’m unworthy… Insignificant… Invisible…. Mau makan aja merasa bersalah.. Mau solat harus celingak-celinguk, atau mepet waktu azan berikutnya.

Stase yang membuatku merindukan kasur, keluarga, dan kebebasan. Juga sinyal hp!

Stase yang melelahkan! Fisik dan mental.

Stase yang hampir membuatku menyerah; kayaknya enakan berhenti di sini.

Stase yang tetap aku anggap keren. Dengan orang-orang keren di dalamnya. Tapi bukan aku, bukan aku. Aku tidak ikut dalam kekerenan itu, jika aku harus miskin siraman sinar mentari, miskin kebebasan, miskin waktu luang untuk tidur atau ngenet. Tidak, terimakasih.

Salutku untukmu, bapak-bapak dan ibu-ibu para pejuang bagian besar itu. Doaku untuk kalian. Semoga selamat sampai akhir, semoga tidak menjadi cetakan arogansi yang terkenal itu. Buktikan bahwa mereka salah. Aku pada kalian!

Nguping VK Lagi

Suatu hari di kamar bersalin. Seorang bumil (ibu hamil) sedang dalam pengawasan oxytocin ditemani seorang koas.

Bumil: aduhh… Sakit…

Koas: …..

Bumil: Sakit, mbak….

Koas: Iya bu.. Sabar ya.. Tarik napas panjang…

Bumil: Ssssh… Sakit mbak, sakitnya kayak di…. Aduh.. Mm, kayak di….

Koas: (apa sih? kayak diremes-remes?!)

Bumil: Itu lho mbak, sakit banget kayak di….

Koas: *makin penasaran* (apa? kayak dipukul-pukul?)

Bumil: …. Kayak di-bendho* mbak!!

Koas: Waduw! (What the…. )

*Bendho: pisau besar; golok.

Nguping pasca-ujian

Di UGD bagian kebidanan dan penyakit kandungan, tadi siang.

Residen idola#2: gimana dik ujiane?

saya: yah, gitu lah pak.

Residen idola#2: bisa?

saya: pertanyaannya cuma empat, saya gak bisa jawab semua. Terus dijadiin tugas.

Residen idola#2: Lha menurutmu dilulusin gak itu, kalo dikasih tugas?

saya: Wallahu ‘alam pak. Tinggal berdoa aja. Doakan saya ya pak.

Residen idola#2: *tersenyum* dilulusin dengan belas kasihan ya…

saya: *menangis dalam hati* haa, malu-maluin ya pak.

Residen idola#2: yang penting kan dilulusin.

saya: *semakin menangis* amiiiin. makasih pak.

Nguping VK Malam

Suatu malam yang sejuk di Kamar Bersalin kelas tiga di suatu rumah sakit pendidikan. Seorang residen sedang membantu mempersingkat persalinan pasien.

Koas #1 : Itu barusan namanya apa, Dai?

Koas #2 (yang dipanggil Dai) : Oh, itu induksi persalinan mekanik Lis. Namanya stripping of the membrane.

Koas #1(yang ternyata namanya Elis): Apa?

Koas #2 : Stripping of the membrane *dengan pengucapan yang benar, tentunya*. Memecah kulit ketuban.

Koas #1 : Oh.. Iya iya *mengangguk-angguk dan mulai menghafalkan*

Residen jayus #1 : Apa, Dik? Apa tadi kamu bilang?

Koas #2 : Eh,, anu Pak *takut kalau ternyata salah, dan bahwa dia sudah sok tau*

Residen jayus #1 : …Apa membrane?

Koas #2 : Oh, stripping of the membrane, Pak. *masih dengan fluent nya*

Residen jayus #1 : Kalau mau stripping jangan di sini Dik. Di club sana.

Koas #2 : *bingung sejenak* Hahaha. Strip-teasing kali Pak.

Residen jayus #2 : Loh, stripping tuh bukannya gini, *jari telunjuk mengacung di depan dahi, kepala geleng-geleng, mencoba memperagakan tarian ala diskotik*

Residen jayus #1 : *pandangan beralih dari kemaluan pasien ke temannya* itu kan tripping!!!

Didengar oleh beberapa orang koas yang ikut geleng-geleng kepala. Bisa juga para residen ini menjayus. Lumayan untuk melupakan sejenak kepenatan hari ini.

Parlu di Tugu*

* Partus (melahirkan) Luar di RSUD Tugurejo Semarang.

The best time killer so far (pembunuh waktu terbaik): adalah pengawasan bumil yang sudah bersalin, dengan membuat ‘gunung-gunungan’, sebagai tanda adanya kontraksi tiap sepuluh menit. Pengawasan bisa saja hanya setengah jam, langsung lahir. Tapi bisa juga sampai tujuh jam atau lebih lama lagi. Hoaaahhm, ngantuk deh.

Setengah jam sekali mendengarkan denyut jantung janin dengan alat kayu itu. “Bu, saya dengerin janinnya dulu ya,” hanya saat tidak ada kontraksi rahim. Harus hati-hati kalau ibu mengeluh, “Mbak kok rasanya mau eek ya?!”, bisa jadi sudah buka lengkap! Jangan sampai ibunya mau eek eh koasnya malah tidur. Hehehe Piss Nun..

***

Dan tentang proyek film itu, WHEN EAST MEETS WEST, yang menampilkan dua orang residen dari ujung barat dan timur Indonesia (dr. Gusfrizer yang dari Pekanbaru, Riau dan dr. Sandra dari Biak, Papua)…

Coba saja dengarkan kedua orang baik hati itu bercakap. Lucu! Sangat khas. Dengan nada tertentu yang membuat hati terhibur sejenak setelah kelelahan selama di bangsal kebidanan yang tak pernah sepi itu. Adegan di atas adalah dr. Gus dan dr. Sandra featuring dr. Sanjaya (dalam rangka menunjukkan bahwa Parlu kami dibimbing oleh mereka bertiga), yang sedang melakukan suatu hal *rahasia. Hehe.

***

Tentang roommate yang akan sekamar (lagi) denganku di Parlu sesi 2 di Puskesmas Halmahera Semarang….

Foto itu menunjukkan betapa seringnya jilbab kami kembaran *maksudnya saya yang menyamai jilbabnya, jauh setelah dia membelinya.

Before (saya) after (Ainun) untuk iklan pemutihan, pemulusan, pengurusan! Hehe.

Sekian laporan singkat dari Parlu di Tugu. Tunggu cerita selanjutnya ^^

Nguping RS Tugu

Suatu pagi buta di bangsal kebidanan.

Co-ass: Bu bidan, ini ada pasien yang mau SC cito*, tolong diurus ya Bu.

Bidan: Ha? Sekarang mbak?

Co-ass: Iya Bu, sekarang (dalam hati ingin bilang, ya iya sekarang lah, masa taun depan!)

*cito artinya segera

Oh Tubuhku Sayang

Kakiku sayang, tetaplah kuat

aku membutuhkanmu untuk menghitung anak-anak tangga hingga ke lantai tiga

balik lagi ke lantai satu, dan naik lagi ke lantai tiga

dari bangsal ke ugd, kemudian ke poli

Aku mengharapkan kekuatanmu saat operasi nanti

atau saat mengantar hasil operasi ke laborat

Aku bergantung padamu saat aku harus berdiri sementara tubuh ini ingin duduk….

Mataku sayang, tolong aku

aku butuh kamu saat laporan pagi

dan saat jaga di malam hari

jangan terpejam mataku sayang, banyak pasien yang membutuhkanku

walau hanya tarian jemariku yang menghitung denyut nadi atau mengukur tensi

Aku tidak bisa berjuang tanpamu

mengawasi pasien dengan mata yang terbuka lebar, bukannya mengantuk dan hampir tertidur di kamar operasi

Aku akan bersemangat denganmu yang melihat dan mengawasi tanda kegawatan

atau hanya demi kesopanan di depan para dokter yang masih segar bugar

Hatiku, aku ingin kau ikhlas

aku tahu memang semua ini melelahkan

bukan hanya fisik melainkan juga kau, hatiku

tapi aku tahu kau kuat

Hatiku, apa lagi yang kau sedihkan?

Walaupun aku harus berangkat pagi-pagi jam 2 ke bangsal untuk follow-up

walaupun aku harus mengorbankan waktu tidurku beberapa minggu ini

tetaplah semangat dan bersabar ya

karena semua ini pasti ada hikmahnya, pasti

Hatiku, aku ingin kau bersyukur

Mensyukuri setiap detiknya, setiap kesempatan yang Dia berikan

setiap pelajaran yang Dia ajarkan, dengan bungkus apapun, dengan harga berapapun

dan kumohon berhentilah mengeluh

karena tidak ada nikmat-Nya satupun yang bisa kau dustakan

aku membutuhkan kemurnianmu, tundukmu pada Dia Yang Maha Pengasih

yang pasti mendengar bisikan doamu untukku

yang menyayangiku, melimpahiku dengan kesempatan bertobat

Oh tubuhku, aku sayang kamu.

Jaga diri ya!