Pintu Gerbang bukan Masalah

Aku belajar bahwa selalu ada pilihan untuk membiarkan pintu gerbang depan rumah terbuka. Dengan terbukanya pintu itu, sesiapa yang lewat boleh saja masuk dan langsung mengetuk pintu rumah. Dengan pintu terbuka, semua orang yang sedang lewat depan rumah atau sengaja menuju ke rumah untuk bertamu akan merasa disambut. Dengan kata lain, orang yang tiba di depan rumah tidak akan merasa kesulitan untuk segera masuk dan mengetuk pintu rumah.

Sebaliknya, ada pula pilihan untuk selalu menutup pintu gerbang. Bolehlah keamanan menjadi alasan. Boleh pula demi mencegah kucing atau hewan lain mampir ke halaman rumah. Apapun alasannya, pintu gerbang yang tertutup membuat orang yang ingin bertamu perlu mencari tombol bel di dekat gerbang, atau mencari kait gerbangnya untuk dibuka sendiri, atau mengetuk besi agar terdengar oleh pemilik rumah. Pintu gerbang yang tertutup mungkin membuat orang yang kebetulan lewat di depan rumah berpikir bahwa penghuni rumahnya sedang pergi. Mungkin pula orang yang kebetulan lewat dan ingin mampir jadi mengurungkan niatnya karena harus membayangkan kerepotan melewati pintu gerbang tertutup itu sebelum harus mengetuk pintu rumahnya. Namun bagi orang yang khusus mendatangi rumah itu untuk bertamu, pintu gerbang yang tertutup tidak akan mengurungkan niatnya untuk bertamu. Dia akan melewati gerbang itu baik dengan cara memencet tombol, membukanya sendiri setelah mengecek keadaannya yang tidak digembok, atau mengetuk sampai dibukakan.

Jadi pilihan itu ada di tanganmu, untuk membiarkan pintu gerbang terbuka, atau menutupnya dan hanya membuka saat ada orang yang minta dibukakan.

Hidup itu pilihan. Yang tidak bisa dipilih itu menjalani konsekuensinya. Semua pilihan datang sepaket dengan konsekuensinya. Pintu gerbang terbuka punya risiko sendiri, keuntungannya pun banyak. Pintu gerbang tertutup berisiko menyulitkan tapi cukup aman bagi sebagian orang.

Mungkin sementara ini aku akan menutup kembali pintu gerbangku yang beberapa waktu ini sengaja kubuka. Mungkin aku akan menutupnya dalam waktu lama. Mungkin aku harus memasang bel di situ agar tidak perlu melewatkan tamu yang kesulitan membuka sendiri gerbangku itu.

Ditulis tanpa air mata, setelah patah hati pada seorang bermata cemerlang (jaga-jaga jika aku lupa ini tentang siapa).

Akhir Kisah si Gadis Maskulin

Belum bosan membahas tentang jodoh dan pernikahan. Pastilah dulu aku adalah anak kecil yang bercita-cita menjadi seorang pengantin cantik. Selain itu, ada saatnya di mana aku menuliskan pemikiran dan suara hatiku dalam buku harian yang rahasia itu. Ada pula saat di mana aku harus menuliskannya agar dibaca dunia; siapa tahu ada yang butuh diingatkan bahwa dia tidak sendirian. Aku di masa depan pun, sepertinya akan belajar banyak dari tulisan ini, setidaknya menertawakan kebodohanku sendiri. Tulisan-tulisan lain dengan tema serupa dapat dibaca di sini, sini, sini, dan sini, selain tulisan lainnya yang dapat ditelusuri dari tag ‘cinta’ di bagian terbawah halaman ini.

Flowers blossom at different times. Maybe mine does later than the others..
Flowers blossom at different times. Maybe mine does later than others..

Dalam 26 tahun lebih hidupku, aku dipertemukan dengan beberapa teman pria, yang berakhir sebagai sahabat maupun teman sekedar ‘hai’ alias saling menyapa tanpa kalimat basa-basi lebih jauh. Beberapa waktu lalu aku menyalahartikan persahabatanku dengan seorang teman pria, dan malah memimpikan kehidupan sebagai istrinya. Kisah itu berakhir ketika aku memastikan bahwa semua itu mimpi. Hingga saat ini aku mengutuki diriku yang kehilangan salah satu sahabat terbaikku itu demi melayani kemarahanku dan rasa dendamku padanya yang membiarkanku bermimpi, yang tega tidak membangunkanku ke dunia nyata. Kadang memang rasa dendam sering dibungkus dengan kertas kado rapi bernama sakit hati. Demi mengasihani diri sendiri yang merasa disakiti, seseorang rela mempertahankan rasa dendamnya, rela melewatkan praktek memaafkan tanpa syarat.

Di suatu hari yang lain dalam perjalananku mengarungi jiwaku sendiri, jalanku terhenti oleh sebilah cermin yang sangat besar. Di situ aku melihat diriku sendiri yang merasa tidak aman dengan diri sendiri, yang mengelak atas pernyataan-pernyataan positif yang menghampiri. Uniknya cermin penghalang jalan ini bisa menghilang menjadi kehampaan ketika bayangan di dalamnya disukai oleh pengamatnya. Entah berapa lama aku termangu di situ menatap cermin besar yang memantulkan bayanganku sendiri, sampai akhirnya si cermin sirna, dan aku bisa lanjut berjalan. Mungkin saat itu aku sedikit tersenyum pada bayanganku sendiri dan tampak berusaha memakluminya. Entahlah.

Ada satu fragmen kecil dalam linimassa hidupku ketika aku berdoa siang malam minta dipertemukan dengan pria yang beriman, dan ketika Tuhan Mengirimnya untukku, aku justru sibuk menilainya dan akhirnya menolaknya. Belum ada pembenaran atas penolakanku selain bahwa hatiku saat itu tidak bisa dipaksa. Aku memutuskan untuk memperbaiki diri sendirian dan menanti kiriman berikutnya, daripada mengambil risiko tumbuh bersama orang soleh tersebut. Beberapa waktu kemudian, yaitu saat ini, aku masih seperti dulu, yang tidak kunjung kuat imannya, tidak cantik sabarnya, tidak banyak syukurnya.

Kejadian membaca artikel tentang jodoh dari segi agama di sini menjadi bagian penting dalam perjalananku walau kegiatan itu hanya memakan waktu beberapa menit. Pencarian jodoh, keputusan menikah dan hidup bersama sepanjang sisa usia adalah satu dari sekian banyak perkara dunia yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Kejadian apapun di jagad raya ini, bahkan daun yang jatuh karena tertiup angin terjadi atas kehendak-Nya, tentu saja, namun kita selalu bisa memilih jodoh kita. Artikel itu juga membuatku berhenti menyesali penolakan tak berdasar beberapa waktu lalu itu.

Jauh sebelum pertemuanku dengan cermin penghalang jalan itu, ada ide tentang dominasi energi maskulin dalam diriku yang menjauhkanku dari menjalin hubungan romantis dengan pria. Ide itu disampaikan oleh satu atau dua sahabatku saat itu. Belum selesai aku mencerna ide betapa maskulinnya aku ketika beberapa orang yang baru mengenalku selama beberapa hari sudah meminta izin padaku untuk menempelkan label maskulin di dahiku. Saat itu aku cuma meyakinkan diri bahwa tidak ada yang perlu diubah dalam sikapku hanya demi mengumpulkan fans.

Pertanyaanku adalah, haruskah energi maskulin dilemahkan, dan energi feminin dikuatkan, agar akhirnya ada pria soleh yang terpesona kemudian meminangku? Haruskah semua wanita melewati fase memperkuat energi feminin dalam hidupnya sebelum akhirnya menikah? Inikah yang dimaksud dengan jodoh adalah perkara muamalah, yang hanya bisa terjadi dengan perbaikan cara bergaul? Jika jawaban untuk ketiga pertanyaan itu adalah ‘iya’ maka aku sedang berada di jalan yang benar, di mana aku merasa saat ini energi femininku jauh lebih kuat.

Ciri energi maskulin adalah berorientasi target, termotivasi oleh tujuan, kompetitif, logis, dan ciri lainnya, sementara energi feminin berkisar antara menjadi peka, berekspresi diri, mencintai sesuatu, merawat, dan hal-hal berbasis perasaan lainnya. Dalam sejarah panjang peradaban manusia, pencarian jodoh selalu dikaitkan dengan usaha untuk melestarikan spesies manusia, dan gen-gen yang baik terwakili oleh tampilan fisik tertentu. Ketertarikan kita pada kegantengan/ kecantikan orang, suaranya yang indah, dan bentuk tubuhnya, adalah sifat alami sebagai manusia yang tanpa sadar menyeleksi calon pasangan sebagai kontributor kromosom untuk keturunan kita. Selain itu, kapabilitas reproduksi calon pasangan akan terwakili oleh energi maskulin atau feminin yang ditampilkannya. Dengan kata lain, wanita feminin akan lebih mudah terpilih karena ada jaminan yang tersirat bahwa dirinya subur? Haha, mungkin..

Ketika akhir-akhir ini aku kesulitan menjawab tujuan hidupku setiap ditanya orang, aku merasa aku sedang menguarkan energi feminin. Tentu saja pertanyaan itu dimaksudkan untuk menanyakan target-target karir, sedangkan jawaban sederhana dalam hatiku untuk pertanyaan itu adalah menjadi istri dan ibu yang baik, yang sama sekali bukan karir. Dari sini aku sangat yakin aku sedang menjadi gadis feminin. Aku akan dengan lancar membahas tentang hobiku membaca, membuat kue, dan hal-hal lain, daripada membicarakan tentang rencana sekolah lagi. Seharusnya aku bangga dengan perubahan pada diriku, yang mungkin sudah terjadi bertahun lalu pada teman-temanku yang saat ini sudah beranak dua.

Aku tidak bangga dengan kegagalanku menjawab pertanyaan tentang karir, namun aku sedang mensyukuri perubahan dari label maskulin di dahiku menjadi sedikit lebih feminin. Namun saat ini aku sangat butuh energi maskulin untuk menyelesaikan thesisku dan lulus sekolah masterku ini. Dengan demikian keseimbangan energi maskulin dan feminin harus ada dalam setiap individu, terlepas dari gendernya, jika tidak ingin sekolahnya keteteran sepertiku.

Pelajaran yang kudapat dari terhentinya perjalananku oleh cermin besar adalah bahwa aku semakin mengenal diriku yang kurang merasa aman. Dari pertemuanku dengan mantan sahabat priaku aku belajar memaafkan. Dari penolakanku atas pria soleh membuatku merendahkan hati dan ingin memperbaiki diri. Dari pelabelan maskulin di dahiku oleh teman-temanku, aku mulai mempertimbangkan untuk melembutkan diri.

Seperti tulisan-tulisanku tentang cinta, jodoh, atau pernikahan sebelumnya di blog ini yang dipicu oleh suatu kejadian, pengalaman terbaruku dengan seorang kenalan pria membuatku ingin menulis ini. Singkat cerita, aku sudah bersikap cukup feminin sebelum akhirnya aku bertindak sangat maskulin dengan bersikap agresif mendekatinya. Akhir ceritanya mudah ditebak, yaitu kemungkinan kami berpasangan mendekati nol. Belum nol, karena mungkin aku punya kualitas-kualitas yang dia cari terlepas dari kuatnya energi maskulinku yang mungkin cukup mengganggu. Namun yang pasti, kejadian ini menyiratkan pelajaran bahwa menjadi gadis maskulin bukanlah cara efektif untuk mendekatkan diri pada jodoh. Setidaknya demikian pengamatanku.

Some More Self-Reminder

Lily of The Nile, flowers that bloom only in summer. Only at the right time.

Time heals.

I should remember that love is tested by time.

When you feel you are in love, try to rely on the time.

Let it mature your love, or vanish it.

If by time your love gets stronger,

wait for some more time.

If by time your love gets weaker or disappears,

then it is not love.

Meanwhile, do whatever favors your future.

Like, doing your best while you have time in this world.

Really, time is the only thing that will help you with this feeling.

It won’t betray you.

When it is the time, then it is the time.

Yours will come, we just don’t know when.

Just. Let. Time. Takeover.

Arti Menunggu

waiting-patientlyAku ingat betul dulu zaman esde kita suka menjawab ‘menunggu’ sebagai hal yang paling dibenci tanpa benar-benar merenungkan siapa juara satu hal yang paling dibenci itu. Mungkin bagiku dulu ‘dibohongi,’ yang sekarang berubah menjadi ‘disalah mengerti.’

Hehe, tahulah mengapa menunggu kembali menjadi trending topic, apalagi jika bukan menunggu jodoh. Banyak perumpamaan yang dibuat dalam hal ini. Ada seorang teman yang menganalogikan penantian pernikahan tak lebih seperti mengantri, antrian apapun itu; kita harus sabar dan tunggu giliran, tidak boleh menyela atau mendahului orang lain. Sedangkan aku sendiri sempat berpikir bahwa menanti jodoh sangat mirip dengan menanti giliran sepeda motorku boleh belok kanan di Jatingaleh bersama motor-motor lain setelah pak polisi mempersilakan kami, setelah dia merasa arus kendaraan dari arah selatan itu sedikit berkurang. Maksudnya, jika motorku dipaksa jalan berbelok ke kanan saat arus masih ramai, bisa bahaya baik bagiku maupun bagi pengguna jalan lain.

Jodoh benar-benar hal sensitif bagi kaumku, yang kudefinisikan sebagai wanita maupun pria usia dua puluh lima tahun ke atas dan belum menikah, dan lebih khusus lagi: dan belum punya calon. Menyinggung topik ini berarti siap mendapatkan ekspresi kecut dari kaumku. Hihihi. Untungnya aku terkenal sebagai poker face sejak di asrama dulu, yang berubah istilah menjadi ‘afek tumpul’ setelah kami mengenal psikiatri. Sehingga kekecutan wajahku sedikit tersamar, ditambah aku makin ahli menyembunyikan hati *ceritanya sombong*.

Nah menurutku minimal ada dua cara dalam menjalani penantian ini. Pilihan pertama adalah merasa tidak nyaman dan pilihan kedua adalah merasa nyaman. Tidak nyaman berarti terus menunjukkan sikap insecured di depan orang-orang dan seakan defensif sebelum ditegur ‘kapan menyusul,’ meminta dikenal-kenalkan dengan siapapun lawan jenis yang belum menikah, dan merasa diri kurang baik dibanding teman sebaya yang sudah menikah karena meyakini bahwa pernikahan adalah simbol keberhasilan seseorang, atau bahkan adalah tanda cinta Tuhan pada dirinya.

Sedangkan pilihan kedua adalah merasa nyaman dengan keadaannya apapun itu, dalam hal ini seorang lajang, dan menjalani hidupnya sebaik mungkin tanpa mengeluh. Diam-diam tentu dia berdoa dan berdoa minta didekatkan jodohnya namun dari luar orang akan bertanya mengapa dia sangat nyaman dan bahkan mungkin tidak tampak ingin menikah.

Singkat cerita dalam penantian itu waktu terus berjalan. Apapun yang kita rasakan, waktu kita di dunia semakin berkurang. Jadi daripada menunggu ini dan itu, mungkin melakukan ini dan itu lebih baik. Oh ya, aku ingat lagi ada seorang teman perempuan sebayaku yang menghibur dirinya bahwa jika jodohnya tidak di dunia ini, mungkin Tuhan menyiapkan seorang bidadara di akhirat nanti. Bagiku itu menarik, dan worth it untuk diingat jika bisa membantu lebih baik dalam bersabar atas ketentuan Tuhan. Betapa jodoh adalah hal yang pasti, yang sudah tertulis sejak ruh kita dititipkan di jasad yang menempel di dinding dalam rahim ibu, apapun yang kita lakukan.

Menunggu memang hal yang tidak mengenakkan. Suatu hari di kantor ada seorang kolega yang mengeluhkan betapa orang Indonesia tidak menghargai waktu. Kolegaku itu baru lulus doktor dari Jepang, jadi dia terbiasa tepat waktu setidaknya selama lima tahun terakhir. Saat menyimpulkan bahwa dirinya harus selalu menunggu minimal lima belas menit saat janjian dengan siapapun, dia memutuskan untuk ikut datang lima belas menit setelah jam janjian. Aku langsung berseru, “Jangan! Tetaplah menjadi dirimu, jangan mengalah pada keadaan. Lakukan hal lain saat menunggu, misalnya membaca novel. Mungkin sebaiknya tasmu diisi buku bacaan.”

Tiba-tiba aku merasa sedang mengingatkan diri sendiri, bahwa memilih untuk melakukan hal penting saat menunggu sesuatu itu jauh lebih baik daripada duduk termangu dan cemas menantikan datangnya sesuatu yang ditunggu itu.

Sebagai penutup, akun twitter @kupinang, seorang penulis yang berfikroh Ikhwanul Muslimin, pernah menuliskan tentang jodoh yang mengingatkan tentang kecilnya diri kita dibanding Tuhan namun malah mendikte Dia untuk memberikan jodoh sekarang juga, sementara pastilah skenario-Nya jauh lebih baik bagi kita.

So, my take home message is, I am single and available and doing my best.