Suatu Pagi saat Sarapan

Pagi itu kuputuskan untuk memulai kembali regime protein whey-ku untuk sarapan. Protein whey sebagai asam amino, bentuk paling sederhana dari protein, dikabarkan mudah diserap dan meningkatkan massa otot sehingga melangsingkan. Beberapa tahun terakhir ini aku cukup rajin mendisiplinkan diri untuk minum protein yang cita rasanya traumatik itu. Kemudian akhir-akhir ini aku lupa, atau sekedar malas.

Ritualnya sederhana saja. Botol plastik dengan merk asal Jerman kuisi dengan sesendok penuh protein bubuk itu, kemudian kutambahkan air dingin sekitar tiga perempatnya. Aku duduk manis di ruang makan sambil mengocok botol yang sudah kututup rapat itu. Dikocok, bukan diaduk, sehingga nama populernya memang protein shake.

Aku tidak memakai alat khusus bernama shaker yang ada “roda” di dekat tutupnya sehingga aku perlu mengocok cukup kuat dan berkali-kali sebelum akhirnya seluruh bubuk terlarut. Berapa lama aku harus mengocoknya? Bagaimana aku tahu bahwa semua bubuknya sudah terlarut? Malas sekali kalau aku harus mencoba meminumnya hanya untuk mendapati bahwa belum semua bubuknya terlarut, bahwa ada gumpalan eneg yang terpaksa kukunyah. Akhirnya akal sehat sepersekian detikku memutuskan bahwa salah satu indikator sempurnanya larutan itu adalah tidak adanya endapan di pantat botol. Nah, untuk memastikan tidak ada endapan di pantat botolnya, aku mengocok dalam posisi terbalik sehingga pantat botol itulah yang selalu terlihat. Ketika pantat sudah bersih, aku bisa berhenti mengocok. Larutannya sudah aman untuk diminum. 

Dalam proses pengocokan itu pikiranku melayang ke pertanyaanku tentang kehidupan. Beginikah seharusnya menjalani hidup, memastikan terpenuhinya indikator yang mudah dipantau maka semuanya akan baik-baik saja?

Apakah ternyata tidak sesulit itu dalam menjalani kehidupan yang baik, yaitu hanya dengan memastikan kita melakukan hal-hal yang baik dengan benar?

Apakah dengan melakukan hal baik (bukan hal jahat) dengan benar (bukan dengan cara yang salah) akan memperbaiki diri ini dan mungkin memperbaiki keadaan orang lain atau dunia secara luas?

Seperti halnya aku yang hanya memastikan bahwa tidak ada endapan di pantat botol maka otomatis rasanya akan lebih enak (daripada jika tidak tercampur rata, maksudku), larutannya lebih rata tercampur, tidak ada gumpalan bubuk protein, sehingga mudah dicerna dan bermanfaat bagi tubuhku?

Ah, pertanyaan. Siapakah yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu?

Setelah kurang dari sepuluh kali guncangan botol yang kubuat, sudah tak terlihat lagi endapannya. Kubuka tutup botol itu. Buih terbentuk di permukaan. Tampak seperti milk shake. Atau teh tarik. Kubayangkan aku minum milk shake. Glek, glek, glek, beberapa detik saja dibutuhkan untuk meminumnya sampai tandas, dan selesai sudah sarapanku. Ya sih, beberapa jam kemudian ususku akan mengeluarkan bunyi peristaltiknya. Ah itu urusan lain yang harus dipikirkan.

Semoga segera langsing. Aamiin!

Oh, dan semoga tidak terlalu ribet menjalani kehidupan. Santai saja, prioritaskan hal baik saja. Semangat!

A Note to Self

It has been a while. Anyway, I am changing but not as fast as I thought I would be.

I have been through some things. For example the New Age Movement (see google please) which was covered nicely by some popular books in my country, say Ippho Santosa’s books, Yusuf Mansur and Pencinta Sedekah tweets. I stumbled upon someone’s tweet revealing this and it all made sense. Those ‘positivity’ seems to be impossible. I would not provoke anyone to say bad things about someone’s books or whatsoever. It’s just the thought to put a trust in THE UNIVERSE itself has flaws. The fatal flaw? Associating others with ALLOH (menyekutukan Alloh, red.). Putting the universe before Alloh, while the universe itself is created by Alloh. And that’s it, end of discussion.

I felt like punched in my tummy when I knew about those whole cover ups by (maybe, who else) the illuminati.

I am still the old me who procrastinates almost everything (even going to bed, because it needs prep like brushing teeth and washing face), and I still don’t know what to do after all of these. Yes, the master thingy. I can only dream of being proposed by a prince charming in a shining armor who rides a white horse (a dark brown horse is also fine) . He would take me somewhere beautiful far far faraway from this reality.

Anyway, I found beauty in the Quran. I don’t understand the language. I don’t recite beautifully, as well. But I found it peaceful to just read it outloud. The sceptics might say that it maybe because of the self-suggestion. Whatever. Those beautiful ayah (ayat, red.) are impossible to be made by humanbeing. Just too divine.

Well, I found it startling that all I was asking to God is happiness in this mortal world. While the eternal happiness and peace can only be found in heaven, and that is the first thing that should come in our mind. This should be our very first ideal in life.

Well, Ayu, please enjoy your time. Keep  struggling and trying to be humble.