Carried Away by Feelings (Baper)

Judul harus catchy dong. Hahaha.

Singkat cerita ada orang yang membatasi diri dalam bergaul secara umum dan berprinsip tegas untuk tidak berpacaran demi menjaga hatinya dari keterlenaan pada dunia dan jelas demi menjauhi zina. Ada pula orang yang supergaul, sangat ramah, punya banyak teman, bersahabat dengan lawan jenis, dan terkesan tidak berhati-hati dengan hatinya sendiri, walau kenyataannya hanya orang itu yang paham tentang apakah hatinya terlena atau tidak.

Menurut bahasa Jawa, kata agama itu seakar dengan ageman yang artinya pakaian, yang fungsi utamanya adalah melindungi manusia dan mungkin memperindah juga. Agama yang saya tahu mengatur pergaulan sedemikian hingga tidak diperbolehkan adanya kedekatan fisik maupun hati antara pria dan wanita, kecuali mereka menikah. Aturan ini banyak diperdebatkan, jelas, tapi tulisan kali ini tidak akan membahas itu. Tulisan ini patuh pada premis tersebut, untuk sebaiknya tidak berpacaran, namun sedang melirik para pelaku “banyak sahabat” yang tampaknya tetap bisa menjaga hatinya dari zina. Tulisan ini membahas orang tipe kedua yang disebut di paragraf awal, yang banyak sahabat dan gaul itu tadi.

Beberapa tahun terakhir muncul istilah baper, alias bawa perasaan, alias terlalu melibatkan hati dalam suatu hal, atau ge-er (gede rasa) atau emosional secara umum. Jangan libatkan hati, pakailah logika. Itu jargon antibaper masa kini. Maka dalam bergaul, sangat mungkin akan muncul teguran “jangan baper” setiap teman lawan jenis melakukan sesuatu yang menurut teman agamis tipe pertama adalah menjurus pada zina.

Saya semakin bingung mau nulis apa. Hahaha. Jadi, semakin hari, zaman semakin membolehkan perilaku kedekatan pria dan wanita yang agak terlalu dekat untuk sekedar dibilang sebagai berteman namun tidak cukup fleksibel dengan istilah pacaran. Pacaran ya aku dan kamu saling suka dan sepakat untuk eksklusif, sedangkan yang namanya ttm atau hts atau kakak-adek tetaplah bukan pacaran. Ditambah lagi, para pelaku ttm/hts/kakak adek ini mengaku tidak mudah baper, tidak pacaran, walau kenyataannya kegiatan mereka seperti orang berpacaran. Hm, semakin absurd.

Singkat cerita, orang kedua dalam kisah ini (lihat paragraf awal) mungkin hanya korban kemajuan zaman. Orang kedua ini justru dituntut menjaga hati dengan lebih ketat dibanding orang pertama yang jelas melabel diri “sori gan, ane kagak gaul, ane kagak pacaran, ngeliat cewek cantik lama aja langsung refleks nunduk, malu.” Analogi ekstrim penulis adalah, orang pertama tidak minum bir maupun wine demi tidak mabuk, sedangkan orang kedua tetap menghargai lingkaran sosialnya dengan tetap minum bir dan wine sambil terus menakar diri agar minumnya tidak sampai mabuk. Analogi ini ekstrim karena hukum bir dan wine sudah jelas, tidak pakai coba-coba.

Duh Gusti Paringono Jodho.

Aamiin.

 

 

 

A Shifted Arrow

Day to day i would like to have a cup of hot sugarless latte

And forget about my thesis

I would meet you today and tonight and tomorrow

Sharing my thoughts and my dreams and you would listen patiently

Day to day i would spend my energy watching you do your thing

I would help if i may but i am okay with just cheering and admiring endlessly

You know i dont mind if i resign tomorrow morning

Because i have what i need and i am happy

But life does not work that way

Sometimes my reality is unacceptable to others

Sometimes what i believe as a simple thing looks complicated and impossible

Often time what i need seems small and insignificant to others

But you know we all have God The Almighty, All-Knowing

I just keep the faith that i will be with you in my life, in this world and the hereafter

It might not be you, of course, i am fully aware

But I pray that God Made another one of you, to love me

So you see i am not that girl anymore

Who wants this and that, strives to be this and that, does these or those

I see my future being by your side

And do my thing and help you do your thing

And be forever grateful to have you in my life

But “you” here is non-existence.

I do not know where i am going now

My destinations are no longer “expert in medicine” or “author of inspiring books”

but simply a wife and a mother (if God Wills)

So i am on my way

The pathway with a newly shifted arrow

Shifted, not bent, not broken

And i am content

All Praise is only to God

Memperbaiki Sikap

Seringkali aku menggunakan blog ini untuk menasihati diri sendiri ketika self talk tidak berhasil. Aku menulis serapi mungkin dan mempublikasikannya ke seluruh dunia demi menyindir diri sendiri.

Baiklah, tulisan ini salah satu sindiran juga.

Suatu pagi aku terbangun kesiangan dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu sebelum solat subuh. Yah memang sih, solat subuh di waktu dhuha, tapi aku bisa apa.. Tiba-tiba dari kamar ortu terdengar panggilan untukku. Aku memutuskan untuk berteriak untuk menjawab panggilan itu, bukan membuka pintu kamar ortu dan bertanya dengan sopan apa yang bisa kubantu. Aku berteriak tentang prioritasku untuk segera wudhu dan solat dan aku butuh lima menit sebelum ke sana.

Di waktu yang lain aku sibuk menanggapi perkataan ortu dengan pengetahuanku yang kurasa cukup luas, yah relatif lebih luas dibanding pengetahuan ortuku. Waktu itu kami membicarakan tentang kesehatan. Justifikasiku, selalu, bahwa ortu sudah membayariku berjuta-juta dan mendukungku bertahun-tahun untuk akhirnya aku diperkenankan Tuhan menjadi seorang dokter, jadi mereka harus percaya dengan apapun yang kukatakan tentang kesehatan manusia.

Tidak jarang pula aku berharap ayahku adalah seorang dewa yang tidak pernah salah. Aku selalu punya ide tentang seseorang yang sempurna (jika ada, jika tidak berarti yang sedang kubayangkan adalah sebentuk dewa atau apalah), dan ayahku selalu kubandingkan dengan sosok sempurna itu. Aku selalu menemukan perbedaan antara ayahku dan kesempurnaan itu dan memutuskan untuk merenunginya atau marah dengan adanya perbedaan itu.

Aku yang beberapa waktu lalu merindukan kehidupan yang lain, seperti misalnya tinggal di suatu rumah dengan seorang asing yang ganteng (suami, maksudnya, kan asing tuh, bukan keluarga) sempat berjanji pada diri sendiri untuk memperbaiki sikap ke orang lain. Lalu aku mulai lelah dengan bayanganku, mungkin karena semakin tua, aku mulai menyadari bahwa sikapku sekarang menentukan diriku di masa depan.

Aku bertanya-tanya bagaimana aku bisa bersikap super romantis pada suamiku nanti jika aku merasa kesulitan untuk menjawab dengan nada rendah dan tenang atas pertanyaan atau panggilan atau teguran ortu? Bagaimana mungkin aku bisa memprioritaskan kebahagiaan suami nanti jika memenuhi keinginan ibu yang sederhana saja berat kulakukan? Apa bedanya bersabar dengan orang tua (haha, padahal ortu yang sudah banyak bersabar dengan anak macam aku ini) dengan bersabar dan bersikap baik pada suami? Apa bedanya menyayangi adik dan kakak sepenuh hati, sesabar mungkin, memahami dengan penuh pengertian, dengan bersikap baik setiap hari ke pasangan hidup yang benar-benar orang asing?

Manusia terbaik yang pernah tinggal di bumi ini, Salallahu’alaihi wassalam, pernah berpesan pada para pengikutnya, yang berarti termasuk diriku juga, bahwa orang terbaik adalah orang yang baik pada keluarganya (terutama istrinya). Dalam sebuah khotbah yang kudengar di yutub, pak ustadz mengatakan bahwa pesan itu memiliki arti tersirat bahwa justru bersikap baik kepada anggota keluarga merupakan salah satu hal tersulit. Sangat mudah bersikap ramah ke kolega, bawahan, atau murid, atau teman yang hanya bertemu beberapa jam sehari. Namun dibutuhkan kepribadian yang matang untuk menjaga sikap ke anggota keluarga sendiri. Sangat mudah tampak baik dan sabar, tidak emosional, dan penuh penghormatan ke orang lain di luar rumah tapi hanya orang-orang berbudi baik yang tetap bersikap baik sesampainya di rumah dalam keadaan fisik dan mental yang lelah sepulang kerja.

Pak ustadz itu dalam khotbahnya yang lain yang berjudul berbuat baik pada orang tua, mengingatkanku untuk tidak meminta pengecualian. “Tapi ayahku begini dan begitu, kau tidak mengerti, Tadz” tidak bisa diterima. Semua orang akan meminta pengecualian serupa. Terima, hormati. Titik. Orang-orang terdekat memang sering menjadi sasaran utama atas tuntutan-tuntutan kita. Kita menuntut kasih sayang, balas budi atas kasih sayang dan respek kita, pengertian, dan banyak lagi. Mungkin tuntutan itu wajar tapi mengutamakan kesadaran bahwa manusia punya keterbatasan itu lebih penting. Bahkan mengingat bahwa orang-orang terdekatlah yang pertama berhak atas cinta dan kasih sayang kita lebih penting dari sebagian besar hal dalam hidup ini.

Dengan berbuat baik setiap saat kepada orang-orang terdekat, mungkin akan lebih mudah untuk menghormati siapapun selain orang tua sendiri. Akan lebih mudah untuk menghormati suami (atau menyayangi istri) nanti dan melayani sepenuh hati. Akan lebih mudah pula untuk menjadi original di depan orang lain, asli tanpa tipuan, tanpa dibuat-buat. Sehingga kita tidak perlu repot menjaga citra yang bukan milik kita.

So don’t be yourself. But be your best self.

Bersenang-Senang

Kadang istilah bersenang-senang menimbulkan konotasi negatif. Kesannya seperti berfoya-foya, berhedon ria, melupakan kewajiban, dan rekreasi setelah pusing berkutat dengan pekerjaan. Senang yang jadi kata dasarnya sendiri bersinonim dengan bahagia, yang kemudian menimbulkan konotasi lain lagi. Bahagia terkesan seperti sesuatu yang sangat besar, sangat agung, dan jarang terjadi, seperti pernikahan, punya anak, menang undian satu milyar, dan masuk surga. Gembira? Yah, semacam minuman bersoda, atau sorakan atau perayaan musiman. Oh atau konotasi-konotasi itu hanya muncul di otak pesimis ini ya?

Aku yakin manusia pada dasarnya berbahagia walau menangis keras saat terlahir ke dunia. Lihatlah anak-anak, mereka berbahagia tanpa alasan. Tertawa, tersenyum, bahkan ketika sendirian. Semakin bertambah umur semakin berkurang tawa, demikian kata seorang selebtwit. Ada masa-masa aku tertegun membaca tulisan-tulisanku sendiri yang tersebar di blog ini, di buku-buku harianku, di catatan-catatan kuliahku, atau teringat ucapan-ucapanku sendiri ke orang-orang. Tertegun betapa senangnya diriku yang dulu. Sering aku berpikir untuk mencari perbedaan masa lalu dan saat ini, apa yang membuatku begitu berbahagia zaman dulu dan apa yang membuatku saat ini lupa alasan-alasan itu.

Akhir minggu itu aku bertemu dengan sepasang tamu, saudari ibuku dan suaminya, yang berkunjung untuk satu atau dua alasan. Mereka pasangan yang lebih tua dari ibuku dengan seorang anak yang sudah bekerja di Jakarta. Mereka orang yang setahuku amat sangat kaya sehingga aku silau dengan kekayaan itu. Aku sering mengasosiasikan pakdhe dan budhe itu sebagai salah satu pasangan paling bahagia dan aku ingin menjalani kehidupan seperti mereka. Mungkin karena mereka kaya raya. Aku sering berencana untuk main ke rumah mereka hanya untuk mengagumi desain interiornya, buku-buku di perpustakaan pribadinya, kucing-kucing persianya, atau menikmati makan di restoran jika mereka mentraktirku, atau hanya mendengar cerita-cerita tentang berkeliling dunia. Ah intinya aku sangat senang dengan kunjungan mereka, suatu kesempatan untuk mengorek kadar kebahagiaan mereka dengan kekayaan semacam itu.

Ups, ternyata waktu cepat berlalu sejak pertemuan terakhirku dengan mereka. Beberapa tahun sudah terlewati sejak diskusi terakhir kami yang terdiri atas anggukan semangatku mendengar cerita perjalanan keliling belahan selatan benua Amerika dan kekagumanku atas jumlah anak asuh mereka. Ternyata keingintahuanku atas kebahagiaan mereka menjadi orang kaya tidak sehebat dulu. Aku sekarang hanya mengangguk kecil mendengar cerita terbaru mereka tentang pengajian selama tujuh tahun terakhir di Jakarta tentang ilmu tasawuf. Aku pura-pura paham dan sudah banyak membaca tentang sufisme itu. Dalam hati aku pusing dan galau, otomatis membandingkan dengan diriku, merasa malu bertahun-tahun berusaha menuntut ilmu agama namun ketenangan masih jarang mampir ke hati. Tentang kegalauan hatiku dengan diskusi sufistik ini sepertinya perlu kutulis di tulisan terpisah.

Oh, aku sedang menulis tentang bahagia, ya? Baiklah, dari kunjungan mereka ke rumah orang tuaku itu aku menyadari bahwa menjadi kaya raya, atau berkeliling dunia, atau berbagi dengan anak-anak tidak mampu bukan sumber kebahagiaan. Kamu bisa berbahagia saat melakukan itu semua, tentu, tapi kamu juga bisa tidak berbahagia saat melakukannya. Kamu juga bisa berbahagia walau tidak cukup kaya untuk keliling dunia atau menyekolahkan sepuluh orang anak..

Di hari yang lain aku menemukan keceriaan dalam wajah beberapa orang yang dekat denganku. Lagi-lagi otomatis aku membandingkan dengan diriku dan mencari perbedaan di antara kami. Rupanya orang-orang bahagia itu memiliki banyak saudara kandung, sampai ingin kusimpulkan bahwa anak tunggal adalah manusia paling depresi di muka bumi. Hahaha, abaikan saja kesimpulan ngawurku itu.

Aku sempat getol mewajibkan diri membaca berlembar-lembar Quran setiap harinya dan merasakan dahsyatnya letupan kebahagiaan di hati. Ekstrimnya aku sudah cukup senang bisa hidup. Minimalnya aku tidak butuh makanan superenak atau buku superbagus untuk meningkatkan mood-ku hari itu.

Aku suka olah raga walau sangat buruk dalam bermain basket, voli, badminton, apalagi tenis. Aku suka lari, renang, dan kalau boleh orang tuaku, bersepeda ke kampus. Yang aku suka dari olah raga terutama adalah efeknya setelah selesai: bahagia. Rasanya senang. Mungkin endorfin, atau mungkin dengan berkeringat aku jadi optimis menjadi kurus, hehehe.

Satu lagi inspirasi bahagia, dialah adik iparku. Seorang soleh yang cukup narsis dengan kegantengannya. Mungkin dia salah satu orang paling bahagia yang kukenal, yang ironisnya mungkin terbentuk oleh pengalaman-pengalaman hidupnya. Aku kadang iri dengan keceriaannya. Ah, melihatnya saja aku seperti diingatkan untuk bertanggung jawab atas kebahagiaan diri sendiri.

Dalam tulisan ini aku juga ingin menyimpulkan kekonyolanku di masa lalu, kapanpun sebelum aku menulis ini, bahwa aku bangga setiap aku tersenyum lebar sambil berkata “buku bagus saja sudah membuatku bahagia” atau “aih senangnya main ke pantai” atau “minum segelas kopi yang enak cukup untuk menyenangkanku” atau bahkan “paling senang itu jika seorang anak membalas senyum kita” dan kalimat ‘bersyarat’ lainnya. Sambil berkata itu biasanya dalam hatiku terselip kesombongan betapa mudahnya aku dibahagiakan. Betapa idealnya aku sebagai calon pasangan, yang bisa diajak susah, yang tidak merepotkan. Aku merasa itu semua konyol dan inilah yang benar: bahagia ya bahagia saja, tidak butuh buku, pantai, kopi, atau pacar.

Satu lagi yang konyol. Aku pernah menyaksikan musim terbaik seumur hidupku yaitu musim semi, ketika itu aku di Melbourne, suasana ternyaman yang pernah kualami yaitu hari-hari di Melbourne, namun saat-saat itu aku malah sering menangis sendiri tanpa sebab yang jelas. Sampai-sampai waktu itu aku menulis twit semacam, ‘Percuma kamu ke tempat-tempat yang indah jika tidak berbahagia. Percuma.’

Bahagia bisa diraih kapan saja, di mana saja, dalam keadaan apa saja, saat sedang melakukan apa saja. Ekstrim memang, bagi diriku yang mengaku sedang depresi. Menjadi depresi? Oh. jangan tanya. Rasanya tidak berguna, tidak produktif, jauh dari berkontribusi bagi sekitar. Jangan-jangan tugas utama manusia di dunia adalah (tetap) berbahagia, karena ternyata itu jadi salah satu syarat untuk menjalani tugas khalifah di muka bumi? Jangan-jangan tugas itu tidak akan terlaksana sebaik jika dalam keadaan hati yang bahagia?

Ah, semakin panjang dan grambyang saja tulisanku. Aku hanya sedang merindukan rasanya berbahagia setiap saat. Aku sedang belajar untuk terus mengaktifkan rasa bahagia di hati, kalau bisa tanpa syarat dan kondisi, kalau bisa sampai aku kembali ke Tuhan. Aku akan kecewa jika tahun-tahun di usia mudaku ini kulewatkan dengan tidak berbahagia, tidak bersenang-senang, tidak merasa gembira. Dan, ehm, kesimpulannya Quran, dzikir secara umum, dan ingatan untuk tetap berbahagia adalah tiga contoh cara untuk berbahagia. Adakah ide lain?

Senyum bahagia saat bersenang-senang di Bromo.
Salah satu ‘bahagia bersyarat’: harus ke Bromo dulu.. Duh!

Perkenalkan

Perkenalkan. Saya seorang bersuku Jawa yang mengaku muslim. Umur saya dua puluh tujuh lebih, belum menikah dan tinggal bersama orang tua. Pekerjaan saya dokter walau saya akan meralatnya menjadi ‘profesi’ karena saat ini saya berusaha ke kantor setiap harinya di kampus negeri dan tidak praktik. Suatu hari saya akan praktik lagi setelah urusan sekolah master yang belum ada progres ini saya selesaikan, begitu yang selalu saya tekankan ketika ditanya kapan kembali praktik. Saya anak tengah dengan seorang kakak pria yang belum menikah dan adik perempuan yang sudah menikah. Penting bagi saya untuk segera menyusul adik saya untuk menikah tanpa alasan yang jelas. Mungkin hanya untuk pindah dari rumah orang tua, atau mungkin untuk sedikit merasa lega bahwa ada manusia lain di dunia ini yang menginginkan kehadiran saya sebagai istri dan mungkin ibu bagi anak-anaknya.

Hampir setiap pagi saya menyeret kaki menjalani hari dengan mood yang carut-marut. Kata para tokoh agama, mood jelek saya itu akibat saya tidak bersyukur atas hidup saya yang nyaris sempurna. Jadi saya sibuk mengingat kelebihan-kelebihan saya yang mungkin bisa membahagiakan saya, yang kemudian kebahagiaan itu bisa meningkatkan produktivitas saya sebagai wanita karir yang diharapkan bangsa dan negara.

Sementara para sebaya saya sibuk dengan keluarga kecilnya atau proyek besar dalam benaknya atau rencana pengentasan kemiskinan bersama grupnya, saya sibuk membujuk diri sendiri tentang pentingnya menjalani hidup dengan penuh antusiasme. Saya sibuk menenggak suplemen-suplemen agamis yang menawarkan kebahagiaan tak terbatas bagi semua orang. Kemudian saya akan merasa lega dan selanjutnya merasa lebih ringan saat menyeret kaki ini.

Entah apa yang saya tunggu untuk akhirnya bangun dengan jiwa berapi-api, dengan ambisi untuk berbakti bagi bumi ini. Entah apa yang hilang dari diri saya sampai kehampaan jiwa ini berlarut-larut, kekosongan yang sungguh berat diseret saat melangkah digilas waktu. Iya, kosong namun berat, lambat namun cepat, saat tahu-tahu sudah hampir akhir tahun, saat tahu-tahu banyak orang sudah berbuat, dan saya masih termangu tanpa air mata.

Pernah saya merasa brilian ketika merindukan diri saya versi masa depan yang sudah produktif dan diharapkan banyak orang. Diri saya dari masa depan itu menghampiri diri saya yang sekarang, menepuk pundak sambil menenangkan bahwa semua akan baik-baik saja, semua akan berlalu, dan saya akan bisa melewatinya. Impian semu, namun merupakan solusi atas kehampaan saat ini. Kemudian saya merasa lebih brilian ketika membaca jurnal-jurnal saya sendiri bertahun lalu. Di situ saya temukan diri saya yang produktif dan ceria, walau sering terhias air mata manja. Membacanya membuat saya percaya akan kemungkinan jiwa saya kembali terisi, akan kebahagiaan abadi yang sekarang dirasa sedang hilang. Jadi saya sedang termangu minta diajari diri saya yang dulu, yang kekanakan dan sering seenak sendiri, namun penuh optimisme, kebahagiaan, dan harapan-harapan.

Dalam saat terbaik saya, semisal menjelang pergantian siang dan malam saat kadar gula darah terbatas, saya menyadari bahwa merindukan diri saya di masa depan maupun di masa lalu bukanlah solusi. Bagaimanapun bentuk saya, baik dulu yang saya rasa lebih produktif, maupun saat ini yang lebih banyak menangis tanpa sebab yang jelas, adalah tetap diri saya yang dilimpahi rahmat-Nya. Mungkin mengandaikan masa depan maupun mendewakan masa lalu maupun mencerca masa kini tidak pernah bermanfaat. Mungkin saya hanya harus terus melangkah dengan secuil iman di dada, iman pada Tuhan Yang Tidak Pernah Lelah Menunggu hamba-hambaNya berjalan kembali menujuNya, Yang Kasihnya meliputi jagat raya, Yang RahmatNya jauh Melebihi MurkaNya.

Jadi perkenalkan, saya seorang pelayan Tuhan yang sedang terlena dari tugas utamanya di dunia..

Pushing People Away

Pushing Me Away adalah sebuah judul lagu milik Linkin Park, sebuah band Amrik kesukaanku jaman SMA dulu.

Intinya ada orang yang suka menjauhkan orang lain dari dirinya. They push away people from them. Entah sengaja maupun tidak. Kalau yang sengaja sih aku sedang tidak ingin membahasnya. Bisa saja karena dia memang sedang tidak ingin berinteraksi dengan manusia lain. Bisa pula dia sedang muak dengan manusia, sedang ingin sendiri, dan semisalnya. Aku sedang merasa mendapat inspirasi untuk membahas yang tidak sengaja menjauhkan orang-orang dari dirinya sendiri.

Hm, contoh paling mudah memang kalimat-kalimat bijak yang dibagikan untuk anak-anak di sekolah dasar semacam “jangan sombong nanti tidak punya teman” dan “pembohong dibenci orang” (yang terakhir saya agak asal). Yang jelas orang pada umumnya menyukai kebaikan dan membenci keburukan. Orang akan tertarik pada sifat baik dan menjauh oleh sifat buruk. Kita tentu senang jika punya teman yang baik hati, suka menolong, suka menabung sekaligus mentraktir kita, jujur, murah senyum, dan sifat baik lainnya. Sebaliknya jika ada teman yang sombong, culas, licik, munafik, suka mengadu domba, tukang bohong, dan sifat buruk lainnya, kita ingin menjauh saja kan. Rasanya sifat-sifat dia bisa mengancam minimal ketentraman hati kita, atau bahkan mengancam nama baik kita, ya kan.

Nah, itulah maksudku. Banyak orang yang karena sikapnya pada orang lain membuatnya dijauhi. Dengan cara bergaulnya, orang di sekitarnya mundur teratur sambil membatin, “Aku tidak mau lagi berurusan dengan orang ini deh. Cukup tau aja,” kemudian balik badan dan kabuuuur. Aku sering melakukannya. Dan aku yakin banyak orang yang pernah melakukan itu padaku (ya, aku baru nyadar sekarang, makanya kutulis posting ini). Tentu ada pilihan lain selain kabur yaitu menampar wajah orang yang bersikap buruk itu sebelum akhirnya kabur juga. Hehehe.

Sebelum kubahas lebih jauh, aku harus memastikan adanya kesepakatan bahwa banyak teman banyak rejeki dan sebaliknya kan. Selain itu, manusia adalah makhluk sosial yang berarti kita semua saling membutuhkan. Kita tidak bisa hidup sendiri. Titik. Jadi jika seseorang dijauhi orang maka urusannya akan lebih sulit karena kurangnya orang yang berada di sekitarnya. Bagaimana jika dia butuh pertolongan orang lain? Bagaimana cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya?

Nah, dengan mengingat pentingnya keberadaan orang lain, penting pula untuk mempertahankan mereka agar tetap di sekitar kita. Suatu hari aku meminta sesuatu pada seorang temanku. Dia mengiyakan akan mencoba mencarikan permintaanku itu dan menjanjikan tentang waktunya. Suatu hari aku menagih janjinya untuk mengabarkan padaku apakah dia bisa memberiku. Karena tidak ada respon yang memuaskan, aku mengulanginya, menagih lagi setiap hari. Sampai suatu hari aku tidak menagih, karena sedikit bosan, tapi meminta maaf jika membuatnya merasa dikejar-kejar. Aku meminta maaf telah membuatnya berprasangka bahwa aku tidak akan bisa menerima jika ternyata dia hanya akan datang dan berkata bahwa dia tidak bisa memberi permintaanku. Bisa ditebak, dia cukup kaget dengan permintaan maafku sebelum akhirnya mengabarkan bahwa dia tidak bisa mencarikan permintaanku itu.

Kemudian aku menangis.

Kemudian aku bertanya padanya. Mengapa dia sempat khawatir jika aku tidak bisa menerima ketidaksanggupannya. Mengapa dia membuatku menunggunya lebih lama. Di sini aku yang merasa rugi karena tidak mendapat kepastian apakah aku bisa mendapatkan permintaanku darinya. Jika tidak bisa maka aku akan mencarinya melalui orang lain (harus dengan orang, iya benar).

Giliran jawabannya yang mengagetkanku. Sebagai orang yang mengenalku, dia berasumsi bahwa aku akan menyangkal kenyataan. Aku dianggap akan menolak jika dia tidak bisa memberi permintaanku. Ya, wajahku adalah wajah penyangkal. Manusia denial yang berikutnya akan terjadi drama atau histeria. Daripada harus berurusan dengan kemungkinan itu, dia memilih mundur teratur dan berharap aku melupakan pertanyaanku padanya. Seperti contohku di atas, dia sedang membatin, “waduh sepertinya aku kabur saja daripada harus berurusan dengan orang ini.”

Persangkaannya yang buruk terhadap kemungkinan responku bukan asal menebak. Dia cukup mengenalku, sehingga prognosis yang dibuatnya itu hampir benar. Buktinya aku menangis. Buktinya aku susah payah menahan teriakanku untuknya “kenapa kamu tega.”

Mari menganalisis. Bagaimana jika aku tidak mengubah kalimatku untuknya setiap hari “jadi kapan kepastiannya kamu bisa atau gak” menjadi “maaf ya menagihmu terus sampai bikin kamu gak kunjung ngabari jadinya gimana”. Hanya dengan kalimat yang kedua itu akhirnya dia menyatakan kekagetannya “makasih ya sudah terima kenyataan bahwa aku gak bisa ngasih permintaanmu.”

Jadi inti dari tulisan ini adalah janganlah menjadi sepertiku (lho?). Jangan membuat orang berburuk sangka. Akibat buruk terkecilnya adalah kita rugi. Rugi karena kita butuh orang lain, dan karena sikap kitalah orang lain yang kita butuhkan itu malah menjauh sambil membawa pergi kebutuhan kita. Akibat yang lebih besar adalah: sebagian buruk sangka bisa menjadi dosa. Adakah cara yang lebih mudah untuk menghindarkan buruk sangka orang selain dengan bersikap baik?

Sikap baik terkecil adalah selalu mencoba menerima kenyataan. Yah setidaknya itu pada kasusku. Contoh menerima kenyataan adalah tidak banyak mengeluh tentang apapun. Hujan, panas, orang tua lengkap, yatim, belum lulus kuliah atau apapun, ya disyukuri, setidaknya diam tidak mengeluh. Entahlah, masih belajar nih. Ada usul lain?

Pintu Gerbang bukan Masalah

Aku belajar bahwa selalu ada pilihan untuk membiarkan pintu gerbang depan rumah terbuka. Dengan terbukanya pintu itu, sesiapa yang lewat boleh saja masuk dan langsung mengetuk pintu rumah. Dengan pintu terbuka, semua orang yang sedang lewat depan rumah atau sengaja menuju ke rumah untuk bertamu akan merasa disambut. Dengan kata lain, orang yang tiba di depan rumah tidak akan merasa kesulitan untuk segera masuk dan mengetuk pintu rumah.

Sebaliknya, ada pula pilihan untuk selalu menutup pintu gerbang. Bolehlah keamanan menjadi alasan. Boleh pula demi mencegah kucing atau hewan lain mampir ke halaman rumah. Apapun alasannya, pintu gerbang yang tertutup membuat orang yang ingin bertamu perlu mencari tombol bel di dekat gerbang, atau mencari kait gerbangnya untuk dibuka sendiri, atau mengetuk besi agar terdengar oleh pemilik rumah. Pintu gerbang yang tertutup mungkin membuat orang yang kebetulan lewat di depan rumah berpikir bahwa penghuni rumahnya sedang pergi. Mungkin pula orang yang kebetulan lewat dan ingin mampir jadi mengurungkan niatnya karena harus membayangkan kerepotan melewati pintu gerbang tertutup itu sebelum harus mengetuk pintu rumahnya. Namun bagi orang yang khusus mendatangi rumah itu untuk bertamu, pintu gerbang yang tertutup tidak akan mengurungkan niatnya untuk bertamu. Dia akan melewati gerbang itu baik dengan cara memencet tombol, membukanya sendiri setelah mengecek keadaannya yang tidak digembok, atau mengetuk sampai dibukakan.

Jadi pilihan itu ada di tanganmu, untuk membiarkan pintu gerbang terbuka, atau menutupnya dan hanya membuka saat ada orang yang minta dibukakan.

Hidup itu pilihan. Yang tidak bisa dipilih itu menjalani konsekuensinya. Semua pilihan datang sepaket dengan konsekuensinya. Pintu gerbang terbuka punya risiko sendiri, keuntungannya pun banyak. Pintu gerbang tertutup berisiko menyulitkan tapi cukup aman bagi sebagian orang.

Mungkin sementara ini aku akan menutup kembali pintu gerbangku yang beberapa waktu ini sengaja kubuka. Mungkin aku akan menutupnya dalam waktu lama. Mungkin aku harus memasang bel di situ agar tidak perlu melewatkan tamu yang kesulitan membuka sendiri gerbangku itu.

Ditulis tanpa air mata, setelah patah hati pada seorang bermata cemerlang (jaga-jaga jika aku lupa ini tentang siapa).

How Long

How many more years does it take for you to realize that those people are seriously looking after you?

How many more heartbreaks will you cause to find out that you actually break your own heart many times?

How many more cakes do you need to bake to understand that the distraction from your reality doesn’t solve your problems?

How many more fake smiles are you gonna put to disguise your true confusion?

How many more prostrations will you waste without mindful wishes before you run out of your time in this world?

How many more helping hands will you reject to reach out for help?

How many more sleepless nights will you endure to finally get up and deal with the mess you made?

How long will this last???

Akhir Kisah si Gadis Maskulin

Belum bosan membahas tentang jodoh dan pernikahan. Pastilah dulu aku adalah anak kecil yang bercita-cita menjadi seorang pengantin cantik. Selain itu, ada saatnya di mana aku menuliskan pemikiran dan suara hatiku dalam buku harian yang rahasia itu. Ada pula saat di mana aku harus menuliskannya agar dibaca dunia; siapa tahu ada yang butuh diingatkan bahwa dia tidak sendirian. Aku di masa depan pun, sepertinya akan belajar banyak dari tulisan ini, setidaknya menertawakan kebodohanku sendiri. Tulisan-tulisan lain dengan tema serupa dapat dibaca di sini, sini, sini, dan sini, selain tulisan lainnya yang dapat ditelusuri dari tag ‘cinta’ di bagian terbawah halaman ini.

Flowers blossom at different times. Maybe mine does later than the others..
Flowers blossom at different times. Maybe mine does later than others..

Dalam 26 tahun lebih hidupku, aku dipertemukan dengan beberapa teman pria, yang berakhir sebagai sahabat maupun teman sekedar ‘hai’ alias saling menyapa tanpa kalimat basa-basi lebih jauh. Beberapa waktu lalu aku menyalahartikan persahabatanku dengan seorang teman pria, dan malah memimpikan kehidupan sebagai istrinya. Kisah itu berakhir ketika aku memastikan bahwa semua itu mimpi. Hingga saat ini aku mengutuki diriku yang kehilangan salah satu sahabat terbaikku itu demi melayani kemarahanku dan rasa dendamku padanya yang membiarkanku bermimpi, yang tega tidak membangunkanku ke dunia nyata. Kadang memang rasa dendam sering dibungkus dengan kertas kado rapi bernama sakit hati. Demi mengasihani diri sendiri yang merasa disakiti, seseorang rela mempertahankan rasa dendamnya, rela melewatkan praktek memaafkan tanpa syarat.

Di suatu hari yang lain dalam perjalananku mengarungi jiwaku sendiri, jalanku terhenti oleh sebilah cermin yang sangat besar. Di situ aku melihat diriku sendiri yang merasa tidak aman dengan diri sendiri, yang mengelak atas pernyataan-pernyataan positif yang menghampiri. Uniknya cermin penghalang jalan ini bisa menghilang menjadi kehampaan ketika bayangan di dalamnya disukai oleh pengamatnya. Entah berapa lama aku termangu di situ menatap cermin besar yang memantulkan bayanganku sendiri, sampai akhirnya si cermin sirna, dan aku bisa lanjut berjalan. Mungkin saat itu aku sedikit tersenyum pada bayanganku sendiri dan tampak berusaha memakluminya. Entahlah.

Ada satu fragmen kecil dalam linimassa hidupku ketika aku berdoa siang malam minta dipertemukan dengan pria yang beriman, dan ketika Tuhan Mengirimnya untukku, aku justru sibuk menilainya dan akhirnya menolaknya. Belum ada pembenaran atas penolakanku selain bahwa hatiku saat itu tidak bisa dipaksa. Aku memutuskan untuk memperbaiki diri sendirian dan menanti kiriman berikutnya, daripada mengambil risiko tumbuh bersama orang soleh tersebut. Beberapa waktu kemudian, yaitu saat ini, aku masih seperti dulu, yang tidak kunjung kuat imannya, tidak cantik sabarnya, tidak banyak syukurnya.

Kejadian membaca artikel tentang jodoh dari segi agama di sini menjadi bagian penting dalam perjalananku walau kegiatan itu hanya memakan waktu beberapa menit. Pencarian jodoh, keputusan menikah dan hidup bersama sepanjang sisa usia adalah satu dari sekian banyak perkara dunia yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Kejadian apapun di jagad raya ini, bahkan daun yang jatuh karena tertiup angin terjadi atas kehendak-Nya, tentu saja, namun kita selalu bisa memilih jodoh kita. Artikel itu juga membuatku berhenti menyesali penolakan tak berdasar beberapa waktu lalu itu.

Jauh sebelum pertemuanku dengan cermin penghalang jalan itu, ada ide tentang dominasi energi maskulin dalam diriku yang menjauhkanku dari menjalin hubungan romantis dengan pria. Ide itu disampaikan oleh satu atau dua sahabatku saat itu. Belum selesai aku mencerna ide betapa maskulinnya aku ketika beberapa orang yang baru mengenalku selama beberapa hari sudah meminta izin padaku untuk menempelkan label maskulin di dahiku. Saat itu aku cuma meyakinkan diri bahwa tidak ada yang perlu diubah dalam sikapku hanya demi mengumpulkan fans.

Pertanyaanku adalah, haruskah energi maskulin dilemahkan, dan energi feminin dikuatkan, agar akhirnya ada pria soleh yang terpesona kemudian meminangku? Haruskah semua wanita melewati fase memperkuat energi feminin dalam hidupnya sebelum akhirnya menikah? Inikah yang dimaksud dengan jodoh adalah perkara muamalah, yang hanya bisa terjadi dengan perbaikan cara bergaul? Jika jawaban untuk ketiga pertanyaan itu adalah ‘iya’ maka aku sedang berada di jalan yang benar, di mana aku merasa saat ini energi femininku jauh lebih kuat.

Ciri energi maskulin adalah berorientasi target, termotivasi oleh tujuan, kompetitif, logis, dan ciri lainnya, sementara energi feminin berkisar antara menjadi peka, berekspresi diri, mencintai sesuatu, merawat, dan hal-hal berbasis perasaan lainnya. Dalam sejarah panjang peradaban manusia, pencarian jodoh selalu dikaitkan dengan usaha untuk melestarikan spesies manusia, dan gen-gen yang baik terwakili oleh tampilan fisik tertentu. Ketertarikan kita pada kegantengan/ kecantikan orang, suaranya yang indah, dan bentuk tubuhnya, adalah sifat alami sebagai manusia yang tanpa sadar menyeleksi calon pasangan sebagai kontributor kromosom untuk keturunan kita. Selain itu, kapabilitas reproduksi calon pasangan akan terwakili oleh energi maskulin atau feminin yang ditampilkannya. Dengan kata lain, wanita feminin akan lebih mudah terpilih karena ada jaminan yang tersirat bahwa dirinya subur? Haha, mungkin..

Ketika akhir-akhir ini aku kesulitan menjawab tujuan hidupku setiap ditanya orang, aku merasa aku sedang menguarkan energi feminin. Tentu saja pertanyaan itu dimaksudkan untuk menanyakan target-target karir, sedangkan jawaban sederhana dalam hatiku untuk pertanyaan itu adalah menjadi istri dan ibu yang baik, yang sama sekali bukan karir. Dari sini aku sangat yakin aku sedang menjadi gadis feminin. Aku akan dengan lancar membahas tentang hobiku membaca, membuat kue, dan hal-hal lain, daripada membicarakan tentang rencana sekolah lagi. Seharusnya aku bangga dengan perubahan pada diriku, yang mungkin sudah terjadi bertahun lalu pada teman-temanku yang saat ini sudah beranak dua.

Aku tidak bangga dengan kegagalanku menjawab pertanyaan tentang karir, namun aku sedang mensyukuri perubahan dari label maskulin di dahiku menjadi sedikit lebih feminin. Namun saat ini aku sangat butuh energi maskulin untuk menyelesaikan thesisku dan lulus sekolah masterku ini. Dengan demikian keseimbangan energi maskulin dan feminin harus ada dalam setiap individu, terlepas dari gendernya, jika tidak ingin sekolahnya keteteran sepertiku.

Pelajaran yang kudapat dari terhentinya perjalananku oleh cermin besar adalah bahwa aku semakin mengenal diriku yang kurang merasa aman. Dari pertemuanku dengan mantan sahabat priaku aku belajar memaafkan. Dari penolakanku atas pria soleh membuatku merendahkan hati dan ingin memperbaiki diri. Dari pelabelan maskulin di dahiku oleh teman-temanku, aku mulai mempertimbangkan untuk melembutkan diri.

Seperti tulisan-tulisanku tentang cinta, jodoh, atau pernikahan sebelumnya di blog ini yang dipicu oleh suatu kejadian, pengalaman terbaruku dengan seorang kenalan pria membuatku ingin menulis ini. Singkat cerita, aku sudah bersikap cukup feminin sebelum akhirnya aku bertindak sangat maskulin dengan bersikap agresif mendekatinya. Akhir ceritanya mudah ditebak, yaitu kemungkinan kami berpasangan mendekati nol. Belum nol, karena mungkin aku punya kualitas-kualitas yang dia cari terlepas dari kuatnya energi maskulinku yang mungkin cukup mengganggu. Namun yang pasti, kejadian ini menyiratkan pelajaran bahwa menjadi gadis maskulin bukanlah cara efektif untuk mendekatkan diri pada jodoh. Setidaknya demikian pengamatanku.

Some More Self-Reminder

Lily of The Nile, flowers that bloom only in summer. Only at the right time.

Time heals.

I should remember that love is tested by time.

When you feel you are in love, try to rely on the time.

Let it mature your love, or vanish it.

If by time your love gets stronger,

wait for some more time.

If by time your love gets weaker or disappears,

then it is not love.

Meanwhile, do whatever favors your future.

Like, doing your best while you have time in this world.

Really, time is the only thing that will help you with this feeling.

It won’t betray you.

When it is the time, then it is the time.

Yours will come, we just don’t know when.

Just. Let. Time. Takeover.