Penyakit Langganan bernama Sinusitis

Akhirnya tergoda juga untuk bercuap tentang sinusitis alias radang rongga sinus. Selamat menikmati…

Riwayat Penyakit Sekarang

Suatu hari aku mengalami gejala flu berupa bersin-bersin, nyeri kepala, sedikit demam, dan hidung meler. Sungguh tidak nyaman, rasanya ingin melepas kepala dan menaruhnya di rumah sebelum berangkat ke kampus. Hehehe. Esok harinya secara ajaib tampaknya flu itu hilang. Namun hari itu bukan berarti langsung sehat, karena kepala ini masih berat tapi rasanya melayang-layang, rasanya setengah sadar. Selain itu ada sedikit dehem-dehem karena rasa tidak nyaman di tenggorokan. Untung kemampuan menyetirku tidak terganggu, dan aku masih bisa jaga ujian SBMPTN tanpa jatuh pingsan. Entahlah, rasanya ada yang tidak beres dengan kepala ini. Singkat cerita aku berinisiatif membandingkan mukosa kelopak bawah mataku dengan milik seorang teman yg sedang hamil tua (cara praktis para dokter untuk menilai adanya anemia, walau tidak selalu akurat) dan akulah juara mukosa terpucat. Baiklah jadi kepala melayang ini karena anemia karena aku kurang zat besi karena aku jarang makan sayur hijau dan daging merah. Baiklah.

Esok harinya sakit kepala ini tidak mau pergi juga. Oh ya, aku sudah mengkonsumsi antipiretik dan suplemen zat besi demi melayani diagnosisku sendiri. Kemudian aku tetap setia berdehem-dehem seperti seseorang yang mendadak ditunjuk untuk memberikan pidato. Kemudian aku memikirkan “nyeri kepala dan dehem” demi mengingat keberadaan seorang teman lama dengan dua ciri tadi yang sangat khas itu: sinusitis! Maka jemari ini langsung mengetuk-ketuk tulang pipi kanan kiri; aduh, sakit! Baiklah, begitu saja, sinusitis datang lagi, menyapaku dengan gaya khasnya: tanpa ampun.

Diagnosis

Esoknya (alias hari keempat) aku mengikuti seminar tentang beasiswa ke luar negeri dan menemukan seorang teman bergelar spesialis telinga hidung tenggorok kepala leher (mantap kan) di ruangan itu. Obrolan singkat kami yang kuawali dengan ‘bu saya sinusitis nih’ membuat beliau menuliskan resep untukku yang terpaksa kupangkas jumlahnya saat membelinya di apotek demi bisa membayar sampai lunas.

Sepertinya ini her kecil bagiku, bahwa sakit kepala yang agak lebih berat dari biasanya kemungkinan disebabkan oleh hal serius semacam sinusitis, tidak mungkin hanya karena lapar, misalnya.

Terus Anemianya?

Oya mengenai diagnosis banding pertamaku yaitu anemia (alias berkurangnya kemampuan distribusi oksigen oleh sel darah merah), sepertinya begini ceritanya: sinusitis yang gejalanya termasuk mukosa hidung yang membengkak menyebabkan napasku kurang lega, yang dianggap oleh sel-sel di ginjal sebagai kekurangan oksigen yang kemudian memicu eritropoetin untuk bekerja. Eh saat eritropoetin siap, ternyata persediaan besi dalam tubuh tidak cukup banyak, jadilah anemia. Pada keadaan biasa, mungkin mukosa kelopak bawah mataku selalu pucat (yang mungkin berarti kadar Hemoglobinku kurang) tapi aku tidak mengeluhkan kepala melayang karena masih bisa ditoleransi. Namun pada keadaan hidung tersumbat yang mengurangi suplai oksigen, rendahnya Hemoglobin itu menimbulkan masalah.

ejekan khas kartun; beginilah cara praktis memeriksa anemia
ejekan khas kartun; beginilah cara praktis memeriksa anemia

Gejala Nyeri Kepala Hebat

Aku juga jadi ingat kisah seorang sepupuku yang mengeluh nyeri kepala hebat beberapa tahun lalu. Saat itu aku masih koas culun yang bodoh namun sombong, dan hanya mengangguk-angguk ketika sang sepupu menceritakan kunjungannya ke neurolog. Bahkan dia sudah menjalani EEG dan CT-scan tanpa ada hasil berarti. Aku ingat dia juga mengeluh ‘agak pilek dan batuk dikit tapi gak berat. Sakit kepalanya itu lho yang berat’ tanpa menyadari bahwa pilek ringan itulah gejala kunci sinusitis. Maksudku, bahkan neurolog pun lupa memikirkan sinusitis sebagai penyebab nyeri kepala hebat itu (si sepupu sampai bolos beberapa hari dari sekolah dan hobi guling-guling di kasur menahan sakit saking beratnya). Sekarang kisah ini hanya sejarah, karena si sepupu sudah menjalani operasi drainase sinus. Hore!

Oya keluargaku memiliki gen berprofil alergi, dan tipe alergi yang kuderita adalah rhinitis alias pilek di keadaan dingin atau tempat berdebu. Nah sinusitis ini timbul sebagai komplikasi dari rhinitis alergiku itu. Kali ini hanya diperlukan serangan rhinitis alergi sehari  saja untuk memunculkan sinusitis ini. Yang tadinya ingin bersorak ‘hebat betul pilek cuma sehari, Alhamdulillaah’ langsung aku urungkan karena ternyata pilek itu langsung menyusup masuk ke sinus dan bergerilya dari dalamnya.

Terapi: Pentingnya Antihistamin

Nah kejadian sinusitis ini seharusnya biasa saja, namanya juga penyakit langganan, sekitar tiga kali setahun. Terakhir dia datang bulan November waktu aku di Melbourne, dan seingatku selama 8 bulan di Melbourne aku hanya mengalaminya sekali. Yang berarti tahun 2012 kemarin aku cuma menderita dua kali yaitu sekitar awal tahun dan di bulan November itu. Mungkin karena udara Melbourne yang bersih, atau mungkin karena di kehidupan terdahulu, habitatku di Melbourne, bukan tanah Jawa (mulai waham). Yang unik dari sinusitis kali ini adalah seminar gratis tentang alergi yang kuikuti beberapa minggu sebelumnya.

Seminar itu keren karena aku dapat doorprize (hehe, tidak penting ding ya), dan karena pembahasan alerginya cukup komprehensif. Seminar kedokteran yang gratis bisa diselenggarakan jika dan hanya jika ada sponsor dari pabrik obat. Nah seminar itu disponsori oleh produsen antihistamin, sehingga materi seminar juga membahas banyak tentang antihistamin.

Pulang dari seminar itu rasanya aku mendapat insight baru tentang pentingnya antihistamin dalam pengobatan sinusitis.

Dia bukan hanya obat simtomatis yang berfungsi meringankan gejala. Ternyata dia penting untuk menyembuhkan, karena sinus bisa meradang jika pintunya tertutup oleh bengkaknya mukosa di situ, yang bisa dikurangi dengan bantuan antihistamin. Oh, antibiotik pun masih opsional karena ternyata sebagian besar sinusitis disebabkan oleh virus. Saya sih memang tidak beli antibiotik dan tetap istiqomah rehat dari diet dulu alias makan banyak dan tidur sangat banyak.

Penderitaan berupa nyeri kepala ini membuatku mengumumkan ke banyak orang ‘pengen naruh kepala nih sampai dua minggu ke depan.’ Di akhir penderitaan (setelah dua minggu, walau aku harap kali ini bisa sampai besok saja, aamiin),  pikiran tentang pilihan operasi akan menghantui. Haruskah aku mempertahankan langganan penyakit ini? Rasanya seperti mendapat email dari majalah ilmiah gratis yang bertanya, do you want to update your subscription begitu (bukan contoh yang tepat; jarang yang keberatan dengan majalah online gratis).

Oya, Gejala berupa Dehem

Salah satu gejala penting dari sinusitis selain nyeri kepala adalah post-nasal drip alias ingus di belakang hidung.

Dari hidung sampai tenggorok ada lendir yang mengalir turun. Lendir yang lengket dan mengganggu, yang sering membuat tenggorok terasa gatal dan rasanya ingin batuk (sebagai refleks untuk mengeluarkannya). Gejala inilah yang orang-orang sebut sebagai batuk berdahak. Jika ringan, refleks kita hanya berupa dehem-dehem saja (throat clearing). Percayalah, keluhan nyeri kepala dan dehem pada penderita alergi cukup untuk mencurigai adanya penyakit sinusitis. Nah, mengapa ada post-nasal drip? Muara alias pintu keluar sinus itu lebih dekat ke bagian belakang hidung, sehingga lendir dari sinus keluarnya lebih sering ke belakang dan terus ke bawah ke tenggorok. Lucunya, pagi hari adalah saat lendir dari sinus terakumulasi paling banyak di belakang hidung (karena posisi berbaring semalaman). Dan, maaf jika jorok, aku sering terpaksa sarapan post-nasal drip karena itulah benda pertama yang kutemukan yang paling bisa ditelan menuju lambung (hiiiiy). Hahahahaha. Jorok ya.

Aku menuliskan kisah ini dengan kepala yang masih sedikit melayang tapi sudah banyak terbantu oleh antihistamin dan steroid. Oya, aku tidak menyarankan diagnosis diri sendiri lho. Aku cuma cerita betapa sinusitis sang penyakit langganan itu sering terlupakan, kedatangannya yang tidak diinginkan pun bisa dalam bentuk yang tidak terlalu khas. Begitulah. *ehem-ehem*

The Question

I was having an insightful chat with my senior in medschool. She was talking about the pursuit of dreams. We made our own dreams, so we need to make them come true. Dreams are there to be materialized.

Then she asked me, “What are your real passions?”

Well it was all narrowed down to career. We talked about the clinician, researcher, lecturer, professor, and even simply housewife. We weren’t talking about Continue reading “The Question”

Intro menuju ‘Tentang Jiwa’

Di psikiatri saya menemukan banyak orang yang berempati. Mereka responsif terhadap gerak-gerik saya, ekspresi saya, sehingga terlontarlah kalimat, “Ya, kamu, ada yang mau disampaikan?” Dan hal itulah yang membuat mereka menjadi psikiater alias dokter ahli jiwa. Suatu profesi yang menuntut empati tinggi. Bukan simpati.

Heh, saya mau membahas apa ya.

Tips Translet

Sebelumnya perlu saya jelaskan mengenai kata translet. Kami mahasiswa kedokteran, koas, dan mungkin dokter-dokter yang baru lulus sering bekerja sampingan sebagai penerjemah. Pasarnya pun orang sekitar, yaitu para dokter dan residen. Para pelanggan biasanya ditugasi untuk mengerjakan paper, artikel, atau sekedar menerjemahkan teksbuk. Mereka terlalu sibuk dengan jadwal padat mereka, Continue reading “Tips Translet”

Semua Supervisor Bedah Itu Keren sampai Terbukti Tidak!

– “Belajar itu susah kalo gak pake logika”

– “Bukannya saya merendahkan profesi lain; logika ilmu kedokteran adalah logika yang terbaik.”

– “Kalau belajar itu cari tau ceritanya. Biar seru, biar semangat. Tau kenapa nama penyakitnya claudicatio intermiten? Continue reading “Semua Supervisor Bedah Itu Keren sampai Terbukti Tidak!”

Aku stase bedah, sibuk sekalii

Dengan beranggotakan sepuluh orang koas bulan pertama di bedah, jadilah kami pasukan jaga dingdong alias sehari jaga sehari gak jaga. Dengan demikian aku mencuekkan banyak teman-temanku, keluargaku di rumah, dan hobi menulisku. Oh, dan

Continue reading “Aku stase bedah, sibuk sekalii”