Setahun atau Dua

Ternyata sudah tiga bulan blog ini dianggurkan. Hehe, maafkan ibu dosen yang tidak sibuk ini. Lari pun tidak, sebenarnya.

Mengingat setahun yang lalu, menjelang lebaran target khatam Quran sudah kulupakan, dan rencana lebaran hari pertama siapa yang ke mana (sehingga siapa yang di rumah menjaga bapak) pun mulai dibicarakan. Tak terasa setahun telah lewat. Dengan pola yang mirip, aku melupakan target khatam, dengan dalih duniawi misalnya lebih nyaman berbaring malas di kasur dan skrol Instagram sampai tertidur. Wacana lebaran pun sudah enggan aku bahas. Em, bukan enggan, hanya pasrah dan senang saja jika harus di rumah sementara semua orang rumah berangkat ke kota satelit di selatan.

Apa yang sudah berubah setahun ini? Menanyakan kalimat ini pada diri sendiri seakan diajak seorang sahabat untuk bercermin, “Say, ngaca yuk.” Mudah jika kitalah sahabat itu. Meminta orang untuk introspeksi. Namun untuk diri sendiri? Tidak siap. Tidak siap mengevaluasi diri sendiri sesuai pengamatan objektif, lebih tidak siap lagi menyusun rencana perbaikan diri. Belum lagi nanti sang sahabat berkomentar, “Nah setuju, aku juga merasa kamu masih kurang… Seharusnya…..” Duh, sakit. Sakitnya melihat kenyataan yang sederhana.

Benar bahwa sebaiknya kita tidak mendengarkan apa kata orang. Namun jika yang berbicara adalah orang-orang terdekat kita yang sangat intens berinteraksi dengan kita, apapun yang mereka katakan mungkin ada benarnya. Ucapan mereka patut dipertimbangkan kebenarannya, kemudian ditindaklanjuti. Contohnya jika ibumu berkata kamu terlalu sering tidak di rumah, mungkin seharusnya terdengar begini: “perbanyaklah di rumah mumpung masih bisa.”

Ah, Alhamdulillah. Mungkin itu yang kuusahakan setahun terakhir ini. Lebih banyak di rumah. Akhir pekan tidak lagi untuk bepergian ke luar kota mengikuti acara lari ini dan itu. Lumayan juga acara lari yang sengaja aku lewatkan demi, “mau di rumah aja.” Memang lantas tidak ada komentar, “Nah gitu dong Nduk, kalau wiken gini di rumah,” namun setidaknya tidak ada, “kapan kamu di rumah, kok pergi terus?”

Alhamdulillah.

Entah sampai kapan aku akan terus bertanya dalam hati akankah ini menjadi Ramadhan terakhirku di rumah orang tua. Yang aku tahu, aku tidak boleh putus berdoa meminta jodoh. Pasti ada pria baik yang mau bekerja sama denganku menjalani hidup yang cuma sebentar ini. I am a good team member, I promise you (sila tanya teman-teman dan keluargaku ya), walau banyak sekali kurangnya seperti tukang menunda dan sangat tidak disiplin. Usahaku untuk sabar ini tidak ada apa-apanya dibanding para perempuan hebat yang puluhan tahun menanti kehamilan, misalnya. Atau orang-orang terdahulu yaitu para Sahabat yang, jika diceritakan, akan sangat memalukanku yang tukang mengeluh ini.

Entah sampai kapan pula komentar cerdas semacam, “kalau mau menikah jangan kebanyakan pilih-pilih, yang penting itu blabla,” atau “kamu keasyikan kerja sih,” akan berdatangan, dan ketika kujawab bahwa aku memilih bersyukur saja, dijawab lagi, “ya tapi diusahakanlah.”

Allah Knows best, while we don’t.

Tapi serius deh, soal bercermin tadi. Banyak sekali yang harus diperbaiki. Mungkin jika memulai besok, sudah terlambat. Yuk mulai sekarang? “Do one thing everyday that scares you,” begitu kan ya? Like bettering yourself.

Sehingga mungkin setahun atau dua tahun lagi, aku sudah diizinkan Tuhan mengabdi pada anak manusia selain orang tua. Aamiin. Optimis dong. :))

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Carried Away by Feelings (Baper)

Judul harus catchy dong. Hahaha.

Singkat cerita ada orang yang membatasi diri dalam bergaul secara umum dan berprinsip tegas untuk tidak berpacaran demi menjaga hatinya dari keterlenaan pada dunia dan jelas demi menjauhi zina. Ada pula orang yang supergaul, sangat ramah, punya banyak teman, bersahabat dengan lawan jenis, dan terkesan tidak berhati-hati dengan hatinya sendiri, walau kenyataannya hanya orang itu yang paham tentang apakah hatinya terlena atau tidak.

Menurut bahasa Jawa, kata agama itu seakar dengan ageman yang artinya pakaian, yang fungsi utamanya adalah melindungi manusia dan mungkin memperindah juga. Agama yang saya tahu mengatur pergaulan sedemikian hingga tidak diperbolehkan adanya kedekatan fisik maupun hati antara pria dan wanita, kecuali mereka menikah. Aturan ini banyak diperdebatkan, jelas, tapi tulisan kali ini tidak akan membahas itu. Tulisan ini patuh pada premis tersebut, untuk sebaiknya tidak berpacaran, namun sedang melirik para pelaku “banyak sahabat” yang tampaknya tetap bisa menjaga hatinya dari zina. Tulisan ini membahas orang tipe kedua yang disebut di paragraf awal, yang banyak sahabat dan gaul itu tadi.

Beberapa tahun terakhir muncul istilah baper, alias bawa perasaan, alias terlalu melibatkan hati dalam suatu hal, atau ge-er (gede rasa) atau emosional secara umum. Jangan libatkan hati, pakailah logika. Itu jargon antibaper masa kini. Maka dalam bergaul, sangat mungkin akan muncul teguran “jangan baper” setiap teman lawan jenis melakukan sesuatu yang menurut teman agamis tipe pertama adalah menjurus pada zina.

Saya semakin bingung mau nulis apa. Hahaha. Jadi, semakin hari, zaman semakin membolehkan perilaku kedekatan pria dan wanita yang agak terlalu dekat untuk sekedar dibilang sebagai berteman namun tidak cukup fleksibel dengan istilah pacaran. Pacaran ya aku dan kamu saling suka dan sepakat untuk eksklusif, sedangkan yang namanya ttm atau hts atau kakak-adek tetaplah bukan pacaran. Ditambah lagi, para pelaku ttm/hts/kakak adek ini mengaku tidak mudah baper, tidak pacaran, walau kenyataannya kegiatan mereka seperti orang berpacaran. Hm, semakin absurd.

Singkat cerita, orang kedua dalam kisah ini (lihat paragraf awal) mungkin hanya korban kemajuan zaman. Orang kedua ini justru dituntut menjaga hati dengan lebih ketat dibanding orang pertama yang jelas melabel diri “sori gan, ane kagak gaul, ane kagak pacaran, ngeliat cewek cantik lama aja langsung refleks nunduk, malu.” Analogi ekstrim penulis adalah, orang pertama tidak minum bir maupun wine demi tidak mabuk, sedangkan orang kedua tetap menghargai lingkaran sosialnya dengan tetap minum bir dan wine sambil terus menakar diri agar minumnya tidak sampai mabuk. Analogi ini ekstrim karena hukum bir dan wine sudah jelas, tidak pakai coba-coba.

Duh Gusti Paringono Jodho.

Aamiin.

 

 

 

Teori Psikologi untuk Jodoh

Sudah bisa diduga, sebagai seorang lajang keren topik favorit saya adalah jodoh. Banyak tulisan di blog ini yang membahasnya. Beberapa berupa kisah cinta saya (tanpa nama, tentu), beberapa pikiran-pikiran yang dibuang sayang, beberapa lagi semacam afirmasi positif utk tetap optimis. 

Tulisan ini bukan salah satu di atas. Saya cuma harus menulis ini utk diperdebatkan (jika ada yang baca sih, hahaha), atau cukup dipikirkan. Baca dulu deh:

“Pagi2 tadi dpt penjelasan ttg “jodoh” oleh seorang Profesor:

Sejak berusia 15 sampai 35 th (dalam 20 th) seseorang rata-rata pacaran 10 kali. Dari 10 itu, masa observasi dilakukan pada 3-4 pacar pertama. Nah berdasar angka itu, dan berdasarkan asumsi bahwa manusia mencari yang terbaik, sedangkan setelah memilih tidak bisa ganti, dan yang dilewati tidak bisa kembali “balen”, maka protokol mendapatkan pasangan adalah sebagai berikut:

1. Pacaran 3-4 x utk observasi.

2. Memutuskan menikah dg  pacar berikutnya dengan kualitas setidaknya sedikit lebih baik dari yang terbaik di 3-4 pacar pertama tersebut.

Namun protokol ini memiliki 2 error:

1. Jika by chance saat observasi dapatnya kacau semua, maka pasangan hidup (pasangan pertama pascaobservasi) memiliki kans besar sedikit di atas kacau dan kita stuck bersamanya selamanya.

2. Jika ada seorang pacar ideal saat masa observasi maka saat pascaobservasi akan sulit sekali atau bahkan mustahil menemukan yang sedikit lebih baik dari si “ideal” sehingga ada kemungkinan akan sendiri selamanya.”

Begitulah tulisan teman saya (dengan suntingan struktur kalimat hehe). Seorang teman mengutip seorang profesor, dan saya tidak repot-repot mengkonfirmasinya. Ehm, dengan menyadari tuntunan agama utk sebaiknya tidak berpacaran (seperti sebaiknya tidak meminum alkohol) karena kerugiannya lebih besar daripada keuntungannya, saya soroti tentang “mencari pasangan”-nya ya, bukan “berpacaran”-nya, oke?

Saya duga pacar ke-5 sampai 9 hanya mampir saja di hidup kita utk membuat kita menyadari bahwa yang kita cari adalah orang yg seperti pacar ke 1-4, benar kan?

Saya merasa tertohok, sepertinya jelas bahwa saya termasuk sampel populasi yang disebut sang profesor, yaitu orang yang sejak usia 15 tahun sudah “mencoba” berpasangan, walau belum tahu saat ini sudah mencapai pasangan ke berapa (definisi operasional?). Sambil saya menghitung riwayat “pacaran”, saya tidak yakin dengan posisi sendiri, apakah error nomor 1 atau 2. Mungkin saya tidak ingin menjalani error nomor 1 (stuck dengan orang yg agak kacau) sehingga saya memilih nomor 2 (sendiri sampai menemukan yang menurut ‘pengalaman’ saya ideal). 

Dengan menganggap bahwa pengamatan sang profesor itu benar (minimal ada benarnya) dan bahwa asumsi saya terkait tulisan itu benar, dan posisi saya benar maka kesimpulan terkait jodoh adalah:

Hindari error nomor 1 dengan tidak berpacaran. Kalau sudah terlanjur maka hindari error nomor 2 juga dengan tidak berpacaran (haha) tapi jika sudah punya riwayat pacaran maka berlatih moveon, atau menjadi amnesia (sehingga tidak punya memori atas apa yang ‘baik’ dan ‘buruk’ atau ‘ideal’ dan ‘jauh dari ideal’), atau memformat ulang persepsi tentang ideal. 

Singkatnya, harus bagaimana? Mengembalikan pada petunjuk hidup. Satu kalimat kunci yang berat dijalani tapi harus segera dimulai. Bahkan kesolehan itu tidak melulu dengan beribadah mahdoh (ritual keagamaan) melainkan dengan iman di hati seperti ikhlas (mengesakan Tuhan dan memurnikan niat bahwa menikah adalah perkara ibadah bukan semata mencari kesenangan) dan rendah hati (bahwa semua orang punya kekurangan termasuk diri sendiri jadi lebih bisa menerima orang yang tidak ideal atau mensyukuri pasangan yang sedikit kacau).

Mungkin siapapun yang sudah menikah dan membaca ini akan setuju dan semacam membatin “ya, akulah the living proof bahwa dengan pasrah dan ikhlas dan melepaskan, aku sekarang happily married.”

Oya, sebagian besar tulisan saya memang to think outloud. Menuliskan pikiran sendiri dan membacanya memudahkan saya mengurai masalah dan mungkin mengatasinya. Sekian.

Memperbaiki Sikap

Seringkali aku menggunakan blog ini untuk menasihati diri sendiri ketika self talk tidak berhasil. Aku menulis serapi mungkin dan mempublikasikannya ke seluruh dunia demi menyindir diri sendiri.

Baiklah, tulisan ini salah satu sindiran juga.

Suatu pagi aku terbangun kesiangan dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu sebelum solat subuh. Yah memang sih, solat subuh di waktu dhuha, tapi aku bisa apa.. Tiba-tiba dari kamar ortu terdengar panggilan untukku. Aku memutuskan untuk berteriak untuk menjawab panggilan itu, bukan membuka pintu kamar ortu dan bertanya dengan sopan apa yang bisa kubantu. Aku berteriak tentang prioritasku untuk segera wudhu dan solat dan aku butuh lima menit sebelum ke sana.

Di waktu yang lain aku sibuk menanggapi perkataan ortu dengan pengetahuanku yang kurasa cukup luas, yah relatif lebih luas dibanding pengetahuan ortuku. Waktu itu kami membicarakan tentang kesehatan. Justifikasiku, selalu, bahwa ortu sudah membayariku berjuta-juta dan mendukungku bertahun-tahun untuk akhirnya aku diperkenankan Tuhan menjadi seorang dokter, jadi mereka harus percaya dengan apapun yang kukatakan tentang kesehatan manusia.

Tidak jarang pula aku berharap ayahku adalah seorang dewa yang tidak pernah salah. Aku selalu punya ide tentang seseorang yang sempurna (jika ada, jika tidak berarti yang sedang kubayangkan adalah sebentuk dewa atau apalah), dan ayahku selalu kubandingkan dengan sosok sempurna itu. Aku selalu menemukan perbedaan antara ayahku dan kesempurnaan itu dan memutuskan untuk merenunginya atau marah dengan adanya perbedaan itu.

Aku yang beberapa waktu lalu merindukan kehidupan yang lain, seperti misalnya tinggal di suatu rumah dengan seorang asing yang ganteng (suami, maksudnya, kan asing tuh, bukan keluarga) sempat berjanji pada diri sendiri untuk memperbaiki sikap ke orang lain. Lalu aku mulai lelah dengan bayanganku, mungkin karena semakin tua, aku mulai menyadari bahwa sikapku sekarang menentukan diriku di masa depan.

Aku bertanya-tanya bagaimana aku bisa bersikap super romantis pada suamiku nanti jika aku merasa kesulitan untuk menjawab dengan nada rendah dan tenang atas pertanyaan atau panggilan atau teguran ortu? Bagaimana mungkin aku bisa memprioritaskan kebahagiaan suami nanti jika memenuhi keinginan ibu yang sederhana saja berat kulakukan? Apa bedanya bersabar dengan orang tua (haha, padahal ortu yang sudah banyak bersabar dengan anak macam aku ini) dengan bersabar dan bersikap baik pada suami? Apa bedanya menyayangi adik dan kakak sepenuh hati, sesabar mungkin, memahami dengan penuh pengertian, dengan bersikap baik setiap hari ke pasangan hidup yang benar-benar orang asing?

Manusia terbaik yang pernah tinggal di bumi ini, Salallahu’alaihi wassalam, pernah berpesan pada para pengikutnya, yang berarti termasuk diriku juga, bahwa orang terbaik adalah orang yang baik pada keluarganya (terutama istrinya). Dalam sebuah khotbah yang kudengar di yutub, pak ustadz mengatakan bahwa pesan itu memiliki arti tersirat bahwa justru bersikap baik kepada anggota keluarga merupakan salah satu hal tersulit. Sangat mudah bersikap ramah ke kolega, bawahan, atau murid, atau teman yang hanya bertemu beberapa jam sehari. Namun dibutuhkan kepribadian yang matang untuk menjaga sikap ke anggota keluarga sendiri. Sangat mudah tampak baik dan sabar, tidak emosional, dan penuh penghormatan ke orang lain di luar rumah tapi hanya orang-orang berbudi baik yang tetap bersikap baik sesampainya di rumah dalam keadaan fisik dan mental yang lelah sepulang kerja.

Pak ustadz itu dalam khotbahnya yang lain yang berjudul berbuat baik pada orang tua, mengingatkanku untuk tidak meminta pengecualian. “Tapi ayahku begini dan begitu, kau tidak mengerti, Tadz” tidak bisa diterima. Semua orang akan meminta pengecualian serupa. Terima, hormati. Titik. Orang-orang terdekat memang sering menjadi sasaran utama atas tuntutan-tuntutan kita. Kita menuntut kasih sayang, balas budi atas kasih sayang dan respek kita, pengertian, dan banyak lagi. Mungkin tuntutan itu wajar tapi mengutamakan kesadaran bahwa manusia punya keterbatasan itu lebih penting. Bahkan mengingat bahwa orang-orang terdekatlah yang pertama berhak atas cinta dan kasih sayang kita lebih penting dari sebagian besar hal dalam hidup ini.

Dengan berbuat baik setiap saat kepada orang-orang terdekat, mungkin akan lebih mudah untuk menghormati siapapun selain orang tua sendiri. Akan lebih mudah untuk menghormati suami (atau menyayangi istri) nanti dan melayani sepenuh hati. Akan lebih mudah pula untuk menjadi original di depan orang lain, asli tanpa tipuan, tanpa dibuat-buat. Sehingga kita tidak perlu repot menjaga citra yang bukan milik kita.

So don’t be yourself. But be your best self.

Pushing People Away

Pushing Me Away adalah sebuah judul lagu milik Linkin Park, sebuah band Amrik kesukaanku jaman SMA dulu.

Intinya ada orang yang suka menjauhkan orang lain dari dirinya. They push away people from them. Entah sengaja maupun tidak. Kalau yang sengaja sih aku sedang tidak ingin membahasnya. Bisa saja karena dia memang sedang tidak ingin berinteraksi dengan manusia lain. Bisa pula dia sedang muak dengan manusia, sedang ingin sendiri, dan semisalnya. Aku sedang merasa mendapat inspirasi untuk membahas yang tidak sengaja menjauhkan orang-orang dari dirinya sendiri.

Hm, contoh paling mudah memang kalimat-kalimat bijak yang dibagikan untuk anak-anak di sekolah dasar semacam “jangan sombong nanti tidak punya teman” dan “pembohong dibenci orang” (yang terakhir saya agak asal). Yang jelas orang pada umumnya menyukai kebaikan dan membenci keburukan. Orang akan tertarik pada sifat baik dan menjauh oleh sifat buruk. Kita tentu senang jika punya teman yang baik hati, suka menolong, suka menabung sekaligus mentraktir kita, jujur, murah senyum, dan sifat baik lainnya. Sebaliknya jika ada teman yang sombong, culas, licik, munafik, suka mengadu domba, tukang bohong, dan sifat buruk lainnya, kita ingin menjauh saja kan. Rasanya sifat-sifat dia bisa mengancam minimal ketentraman hati kita, atau bahkan mengancam nama baik kita, ya kan.

Nah, itulah maksudku. Banyak orang yang karena sikapnya pada orang lain membuatnya dijauhi. Dengan cara bergaulnya, orang di sekitarnya mundur teratur sambil membatin, “Aku tidak mau lagi berurusan dengan orang ini deh. Cukup tau aja,” kemudian balik badan dan kabuuuur. Aku sering melakukannya. Dan aku yakin banyak orang yang pernah melakukan itu padaku (ya, aku baru nyadar sekarang, makanya kutulis posting ini). Tentu ada pilihan lain selain kabur yaitu menampar wajah orang yang bersikap buruk itu sebelum akhirnya kabur juga. Hehehe.

Sebelum kubahas lebih jauh, aku harus memastikan adanya kesepakatan bahwa banyak teman banyak rejeki dan sebaliknya kan. Selain itu, manusia adalah makhluk sosial yang berarti kita semua saling membutuhkan. Kita tidak bisa hidup sendiri. Titik. Jadi jika seseorang dijauhi orang maka urusannya akan lebih sulit karena kurangnya orang yang berada di sekitarnya. Bagaimana jika dia butuh pertolongan orang lain? Bagaimana cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya?

Nah, dengan mengingat pentingnya keberadaan orang lain, penting pula untuk mempertahankan mereka agar tetap di sekitar kita. Suatu hari aku meminta sesuatu pada seorang temanku. Dia mengiyakan akan mencoba mencarikan permintaanku itu dan menjanjikan tentang waktunya. Suatu hari aku menagih janjinya untuk mengabarkan padaku apakah dia bisa memberiku. Karena tidak ada respon yang memuaskan, aku mengulanginya, menagih lagi setiap hari. Sampai suatu hari aku tidak menagih, karena sedikit bosan, tapi meminta maaf jika membuatnya merasa dikejar-kejar. Aku meminta maaf telah membuatnya berprasangka bahwa aku tidak akan bisa menerima jika ternyata dia hanya akan datang dan berkata bahwa dia tidak bisa memberi permintaanku. Bisa ditebak, dia cukup kaget dengan permintaan maafku sebelum akhirnya mengabarkan bahwa dia tidak bisa mencarikan permintaanku itu.

Kemudian aku menangis.

Kemudian aku bertanya padanya. Mengapa dia sempat khawatir jika aku tidak bisa menerima ketidaksanggupannya. Mengapa dia membuatku menunggunya lebih lama. Di sini aku yang merasa rugi karena tidak mendapat kepastian apakah aku bisa mendapatkan permintaanku darinya. Jika tidak bisa maka aku akan mencarinya melalui orang lain (harus dengan orang, iya benar).

Giliran jawabannya yang mengagetkanku. Sebagai orang yang mengenalku, dia berasumsi bahwa aku akan menyangkal kenyataan. Aku dianggap akan menolak jika dia tidak bisa memberi permintaanku. Ya, wajahku adalah wajah penyangkal. Manusia denial yang berikutnya akan terjadi drama atau histeria. Daripada harus berurusan dengan kemungkinan itu, dia memilih mundur teratur dan berharap aku melupakan pertanyaanku padanya. Seperti contohku di atas, dia sedang membatin, “waduh sepertinya aku kabur saja daripada harus berurusan dengan orang ini.”

Persangkaannya yang buruk terhadap kemungkinan responku bukan asal menebak. Dia cukup mengenalku, sehingga prognosis yang dibuatnya itu hampir benar. Buktinya aku menangis. Buktinya aku susah payah menahan teriakanku untuknya “kenapa kamu tega.”

Mari menganalisis. Bagaimana jika aku tidak mengubah kalimatku untuknya setiap hari “jadi kapan kepastiannya kamu bisa atau gak” menjadi “maaf ya menagihmu terus sampai bikin kamu gak kunjung ngabari jadinya gimana”. Hanya dengan kalimat yang kedua itu akhirnya dia menyatakan kekagetannya “makasih ya sudah terima kenyataan bahwa aku gak bisa ngasih permintaanmu.”

Jadi inti dari tulisan ini adalah janganlah menjadi sepertiku (lho?). Jangan membuat orang berburuk sangka. Akibat buruk terkecilnya adalah kita rugi. Rugi karena kita butuh orang lain, dan karena sikap kitalah orang lain yang kita butuhkan itu malah menjauh sambil membawa pergi kebutuhan kita. Akibat yang lebih besar adalah: sebagian buruk sangka bisa menjadi dosa. Adakah cara yang lebih mudah untuk menghindarkan buruk sangka orang selain dengan bersikap baik?

Sikap baik terkecil adalah selalu mencoba menerima kenyataan. Yah setidaknya itu pada kasusku. Contoh menerima kenyataan adalah tidak banyak mengeluh tentang apapun. Hujan, panas, orang tua lengkap, yatim, belum lulus kuliah atau apapun, ya disyukuri, setidaknya diam tidak mengeluh. Entahlah, masih belajar nih. Ada usul lain?

Pintu Gerbang bukan Masalah

Aku belajar bahwa selalu ada pilihan untuk membiarkan pintu gerbang depan rumah terbuka. Dengan terbukanya pintu itu, sesiapa yang lewat boleh saja masuk dan langsung mengetuk pintu rumah. Dengan pintu terbuka, semua orang yang sedang lewat depan rumah atau sengaja menuju ke rumah untuk bertamu akan merasa disambut. Dengan kata lain, orang yang tiba di depan rumah tidak akan merasa kesulitan untuk segera masuk dan mengetuk pintu rumah.

Sebaliknya, ada pula pilihan untuk selalu menutup pintu gerbang. Bolehlah keamanan menjadi alasan. Boleh pula demi mencegah kucing atau hewan lain mampir ke halaman rumah. Apapun alasannya, pintu gerbang yang tertutup membuat orang yang ingin bertamu perlu mencari tombol bel di dekat gerbang, atau mencari kait gerbangnya untuk dibuka sendiri, atau mengetuk besi agar terdengar oleh pemilik rumah. Pintu gerbang yang tertutup mungkin membuat orang yang kebetulan lewat di depan rumah berpikir bahwa penghuni rumahnya sedang pergi. Mungkin pula orang yang kebetulan lewat dan ingin mampir jadi mengurungkan niatnya karena harus membayangkan kerepotan melewati pintu gerbang tertutup itu sebelum harus mengetuk pintu rumahnya. Namun bagi orang yang khusus mendatangi rumah itu untuk bertamu, pintu gerbang yang tertutup tidak akan mengurungkan niatnya untuk bertamu. Dia akan melewati gerbang itu baik dengan cara memencet tombol, membukanya sendiri setelah mengecek keadaannya yang tidak digembok, atau mengetuk sampai dibukakan.

Jadi pilihan itu ada di tanganmu, untuk membiarkan pintu gerbang terbuka, atau menutupnya dan hanya membuka saat ada orang yang minta dibukakan.

Hidup itu pilihan. Yang tidak bisa dipilih itu menjalani konsekuensinya. Semua pilihan datang sepaket dengan konsekuensinya. Pintu gerbang terbuka punya risiko sendiri, keuntungannya pun banyak. Pintu gerbang tertutup berisiko menyulitkan tapi cukup aman bagi sebagian orang.

Mungkin sementara ini aku akan menutup kembali pintu gerbangku yang beberapa waktu ini sengaja kubuka. Mungkin aku akan menutupnya dalam waktu lama. Mungkin aku harus memasang bel di situ agar tidak perlu melewatkan tamu yang kesulitan membuka sendiri gerbangku itu.

Ditulis tanpa air mata, setelah patah hati pada seorang bermata cemerlang (jaga-jaga jika aku lupa ini tentang siapa).

Tentang Kematian

Orang cerdas adalah Mereka yang sering mengingat mati dan (tekun) mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Kalimat di atas adalah ucapan Rasul yang dimuliakan Tuhan. Iya benar, cerdas itu bukan milik si jenius ber-IQ seratus lima puluh sekian, atau si pengusaha beromset milyaran, atau filsuf yang karyanya bertahan berabad-abad. Cerdas itu milik yang ingat mati, demikian kata orang terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. Hal ini penting karena waktu kita sempit. Kehidupan di dunia sungguh singkat dibandingkan keabadian yang akan dijalani semua makhluk Tuhan di kehidupan setelah kematian nanti.

Mati adalah pasti, yang lainnya masih misteri. Yang lainnya itu seperti siapakah jodoh kita, seberapa banyak rejeki kita. Misteri lainnya adalah waktu datangnya kematian. Ketidaktahuan inilah yang harus ditindaklanjuti dengan persiapan. Kapan kita mati? Nanti malam? Lusa? Tujuh puluh tahun lagi? Tidak tahu… Apakah kita akan sempat bertobat setelah kita tahu kapan waktu kematian kita? Mungkin tidak..

Singkat cerita, saya sedang menoyor jidat sendiri, bahwa mempersiapkan hal yang pasti, alias bersiap mati menghadap-Nya itu lebih bijak daripada galau atas misteri-misteri yang belum pasti seperti jodoh dan rejeki. Bersiap mati antara lain bertobat pada Tuhan, beribadah sebaik mungkin, melunasi utang-utang dan janji-janji, membuat ortu ridho atasku, memohon maaf dan memaafkan sesegera mungkin, meninggalkan warisan yang baik, dan hal baik lainnya. Begitulah.

Live like you’re dying gitu, mungkin?..

Akhir Kisah si Gadis Maskulin

Belum bosan membahas tentang jodoh dan pernikahan. Pastilah dulu aku adalah anak kecil yang bercita-cita menjadi seorang pengantin cantik. Selain itu, ada saatnya di mana aku menuliskan pemikiran dan suara hatiku dalam buku harian yang rahasia itu. Ada pula saat di mana aku harus menuliskannya agar dibaca dunia; siapa tahu ada yang butuh diingatkan bahwa dia tidak sendirian. Aku di masa depan pun, sepertinya akan belajar banyak dari tulisan ini, setidaknya menertawakan kebodohanku sendiri. Tulisan-tulisan lain dengan tema serupa dapat dibaca di sini, sini, sini, dan sini, selain tulisan lainnya yang dapat ditelusuri dari tag ‘cinta’ di bagian terbawah halaman ini.

Flowers blossom at different times. Maybe mine does later than the others..
Flowers blossom at different times. Maybe mine does later than others..

Dalam 26 tahun lebih hidupku, aku dipertemukan dengan beberapa teman pria, yang berakhir sebagai sahabat maupun teman sekedar ‘hai’ alias saling menyapa tanpa kalimat basa-basi lebih jauh. Beberapa waktu lalu aku menyalahartikan persahabatanku dengan seorang teman pria, dan malah memimpikan kehidupan sebagai istrinya. Kisah itu berakhir ketika aku memastikan bahwa semua itu mimpi. Hingga saat ini aku mengutuki diriku yang kehilangan salah satu sahabat terbaikku itu demi melayani kemarahanku dan rasa dendamku padanya yang membiarkanku bermimpi, yang tega tidak membangunkanku ke dunia nyata. Kadang memang rasa dendam sering dibungkus dengan kertas kado rapi bernama sakit hati. Demi mengasihani diri sendiri yang merasa disakiti, seseorang rela mempertahankan rasa dendamnya, rela melewatkan praktek memaafkan tanpa syarat.

Di suatu hari yang lain dalam perjalananku mengarungi jiwaku sendiri, jalanku terhenti oleh sebilah cermin yang sangat besar. Di situ aku melihat diriku sendiri yang merasa tidak aman dengan diri sendiri, yang mengelak atas pernyataan-pernyataan positif yang menghampiri. Uniknya cermin penghalang jalan ini bisa menghilang menjadi kehampaan ketika bayangan di dalamnya disukai oleh pengamatnya. Entah berapa lama aku termangu di situ menatap cermin besar yang memantulkan bayanganku sendiri, sampai akhirnya si cermin sirna, dan aku bisa lanjut berjalan. Mungkin saat itu aku sedikit tersenyum pada bayanganku sendiri dan tampak berusaha memakluminya. Entahlah.

Ada satu fragmen kecil dalam linimassa hidupku ketika aku berdoa siang malam minta dipertemukan dengan pria yang beriman, dan ketika Tuhan Mengirimnya untukku, aku justru sibuk menilainya dan akhirnya menolaknya. Belum ada pembenaran atas penolakanku selain bahwa hatiku saat itu tidak bisa dipaksa. Aku memutuskan untuk memperbaiki diri sendirian dan menanti kiriman berikutnya, daripada mengambil risiko tumbuh bersama orang soleh tersebut. Beberapa waktu kemudian, yaitu saat ini, aku masih seperti dulu, yang tidak kunjung kuat imannya, tidak cantik sabarnya, tidak banyak syukurnya.

Kejadian membaca artikel tentang jodoh dari segi agama di sini menjadi bagian penting dalam perjalananku walau kegiatan itu hanya memakan waktu beberapa menit. Pencarian jodoh, keputusan menikah dan hidup bersama sepanjang sisa usia adalah satu dari sekian banyak perkara dunia yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Kejadian apapun di jagad raya ini, bahkan daun yang jatuh karena tertiup angin terjadi atas kehendak-Nya, tentu saja, namun kita selalu bisa memilih jodoh kita. Artikel itu juga membuatku berhenti menyesali penolakan tak berdasar beberapa waktu lalu itu.

Jauh sebelum pertemuanku dengan cermin penghalang jalan itu, ada ide tentang dominasi energi maskulin dalam diriku yang menjauhkanku dari menjalin hubungan romantis dengan pria. Ide itu disampaikan oleh satu atau dua sahabatku saat itu. Belum selesai aku mencerna ide betapa maskulinnya aku ketika beberapa orang yang baru mengenalku selama beberapa hari sudah meminta izin padaku untuk menempelkan label maskulin di dahiku. Saat itu aku cuma meyakinkan diri bahwa tidak ada yang perlu diubah dalam sikapku hanya demi mengumpulkan fans.

Pertanyaanku adalah, haruskah energi maskulin dilemahkan, dan energi feminin dikuatkan, agar akhirnya ada pria soleh yang terpesona kemudian meminangku? Haruskah semua wanita melewati fase memperkuat energi feminin dalam hidupnya sebelum akhirnya menikah? Inikah yang dimaksud dengan jodoh adalah perkara muamalah, yang hanya bisa terjadi dengan perbaikan cara bergaul? Jika jawaban untuk ketiga pertanyaan itu adalah ‘iya’ maka aku sedang berada di jalan yang benar, di mana aku merasa saat ini energi femininku jauh lebih kuat.

Ciri energi maskulin adalah berorientasi target, termotivasi oleh tujuan, kompetitif, logis, dan ciri lainnya, sementara energi feminin berkisar antara menjadi peka, berekspresi diri, mencintai sesuatu, merawat, dan hal-hal berbasis perasaan lainnya. Dalam sejarah panjang peradaban manusia, pencarian jodoh selalu dikaitkan dengan usaha untuk melestarikan spesies manusia, dan gen-gen yang baik terwakili oleh tampilan fisik tertentu. Ketertarikan kita pada kegantengan/ kecantikan orang, suaranya yang indah, dan bentuk tubuhnya, adalah sifat alami sebagai manusia yang tanpa sadar menyeleksi calon pasangan sebagai kontributor kromosom untuk keturunan kita. Selain itu, kapabilitas reproduksi calon pasangan akan terwakili oleh energi maskulin atau feminin yang ditampilkannya. Dengan kata lain, wanita feminin akan lebih mudah terpilih karena ada jaminan yang tersirat bahwa dirinya subur? Haha, mungkin..

Ketika akhir-akhir ini aku kesulitan menjawab tujuan hidupku setiap ditanya orang, aku merasa aku sedang menguarkan energi feminin. Tentu saja pertanyaan itu dimaksudkan untuk menanyakan target-target karir, sedangkan jawaban sederhana dalam hatiku untuk pertanyaan itu adalah menjadi istri dan ibu yang baik, yang sama sekali bukan karir. Dari sini aku sangat yakin aku sedang menjadi gadis feminin. Aku akan dengan lancar membahas tentang hobiku membaca, membuat kue, dan hal-hal lain, daripada membicarakan tentang rencana sekolah lagi. Seharusnya aku bangga dengan perubahan pada diriku, yang mungkin sudah terjadi bertahun lalu pada teman-temanku yang saat ini sudah beranak dua.

Aku tidak bangga dengan kegagalanku menjawab pertanyaan tentang karir, namun aku sedang mensyukuri perubahan dari label maskulin di dahiku menjadi sedikit lebih feminin. Namun saat ini aku sangat butuh energi maskulin untuk menyelesaikan thesisku dan lulus sekolah masterku ini. Dengan demikian keseimbangan energi maskulin dan feminin harus ada dalam setiap individu, terlepas dari gendernya, jika tidak ingin sekolahnya keteteran sepertiku.

Pelajaran yang kudapat dari terhentinya perjalananku oleh cermin besar adalah bahwa aku semakin mengenal diriku yang kurang merasa aman. Dari pertemuanku dengan mantan sahabat priaku aku belajar memaafkan. Dari penolakanku atas pria soleh membuatku merendahkan hati dan ingin memperbaiki diri. Dari pelabelan maskulin di dahiku oleh teman-temanku, aku mulai mempertimbangkan untuk melembutkan diri.

Seperti tulisan-tulisanku tentang cinta, jodoh, atau pernikahan sebelumnya di blog ini yang dipicu oleh suatu kejadian, pengalaman terbaruku dengan seorang kenalan pria membuatku ingin menulis ini. Singkat cerita, aku sudah bersikap cukup feminin sebelum akhirnya aku bertindak sangat maskulin dengan bersikap agresif mendekatinya. Akhir ceritanya mudah ditebak, yaitu kemungkinan kami berpasangan mendekati nol. Belum nol, karena mungkin aku punya kualitas-kualitas yang dia cari terlepas dari kuatnya energi maskulinku yang mungkin cukup mengganggu. Namun yang pasti, kejadian ini menyiratkan pelajaran bahwa menjadi gadis maskulin bukanlah cara efektif untuk mendekatkan diri pada jodoh. Setidaknya demikian pengamatanku.

Arti Menunggu

waiting-patientlyAku ingat betul dulu zaman esde kita suka menjawab ‘menunggu’ sebagai hal yang paling dibenci tanpa benar-benar merenungkan siapa juara satu hal yang paling dibenci itu. Mungkin bagiku dulu ‘dibohongi,’ yang sekarang berubah menjadi ‘disalah mengerti.’

Hehe, tahulah mengapa menunggu kembali menjadi trending topic, apalagi jika bukan menunggu jodoh. Banyak perumpamaan yang dibuat dalam hal ini. Ada seorang teman yang menganalogikan penantian pernikahan tak lebih seperti mengantri, antrian apapun itu; kita harus sabar dan tunggu giliran, tidak boleh menyela atau mendahului orang lain. Sedangkan aku sendiri sempat berpikir bahwa menanti jodoh sangat mirip dengan menanti giliran sepeda motorku boleh belok kanan di Jatingaleh bersama motor-motor lain setelah pak polisi mempersilakan kami, setelah dia merasa arus kendaraan dari arah selatan itu sedikit berkurang. Maksudnya, jika motorku dipaksa jalan berbelok ke kanan saat arus masih ramai, bisa bahaya baik bagiku maupun bagi pengguna jalan lain.

Jodoh benar-benar hal sensitif bagi kaumku, yang kudefinisikan sebagai wanita maupun pria usia dua puluh lima tahun ke atas dan belum menikah, dan lebih khusus lagi: dan belum punya calon. Menyinggung topik ini berarti siap mendapatkan ekspresi kecut dari kaumku. Hihihi. Untungnya aku terkenal sebagai poker face sejak di asrama dulu, yang berubah istilah menjadi ‘afek tumpul’ setelah kami mengenal psikiatri. Sehingga kekecutan wajahku sedikit tersamar, ditambah aku makin ahli menyembunyikan hati *ceritanya sombong*.

Nah menurutku minimal ada dua cara dalam menjalani penantian ini. Pilihan pertama adalah merasa tidak nyaman dan pilihan kedua adalah merasa nyaman. Tidak nyaman berarti terus menunjukkan sikap insecured di depan orang-orang dan seakan defensif sebelum ditegur ‘kapan menyusul,’ meminta dikenal-kenalkan dengan siapapun lawan jenis yang belum menikah, dan merasa diri kurang baik dibanding teman sebaya yang sudah menikah karena meyakini bahwa pernikahan adalah simbol keberhasilan seseorang, atau bahkan adalah tanda cinta Tuhan pada dirinya.

Sedangkan pilihan kedua adalah merasa nyaman dengan keadaannya apapun itu, dalam hal ini seorang lajang, dan menjalani hidupnya sebaik mungkin tanpa mengeluh. Diam-diam tentu dia berdoa dan berdoa minta didekatkan jodohnya namun dari luar orang akan bertanya mengapa dia sangat nyaman dan bahkan mungkin tidak tampak ingin menikah.

Singkat cerita dalam penantian itu waktu terus berjalan. Apapun yang kita rasakan, waktu kita di dunia semakin berkurang. Jadi daripada menunggu ini dan itu, mungkin melakukan ini dan itu lebih baik. Oh ya, aku ingat lagi ada seorang teman perempuan sebayaku yang menghibur dirinya bahwa jika jodohnya tidak di dunia ini, mungkin Tuhan menyiapkan seorang bidadara di akhirat nanti. Bagiku itu menarik, dan worth it untuk diingat jika bisa membantu lebih baik dalam bersabar atas ketentuan Tuhan. Betapa jodoh adalah hal yang pasti, yang sudah tertulis sejak ruh kita dititipkan di jasad yang menempel di dinding dalam rahim ibu, apapun yang kita lakukan.

Menunggu memang hal yang tidak mengenakkan. Suatu hari di kantor ada seorang kolega yang mengeluhkan betapa orang Indonesia tidak menghargai waktu. Kolegaku itu baru lulus doktor dari Jepang, jadi dia terbiasa tepat waktu setidaknya selama lima tahun terakhir. Saat menyimpulkan bahwa dirinya harus selalu menunggu minimal lima belas menit saat janjian dengan siapapun, dia memutuskan untuk ikut datang lima belas menit setelah jam janjian. Aku langsung berseru, “Jangan! Tetaplah menjadi dirimu, jangan mengalah pada keadaan. Lakukan hal lain saat menunggu, misalnya membaca novel. Mungkin sebaiknya tasmu diisi buku bacaan.”

Tiba-tiba aku merasa sedang mengingatkan diri sendiri, bahwa memilih untuk melakukan hal penting saat menunggu sesuatu itu jauh lebih baik daripada duduk termangu dan cemas menantikan datangnya sesuatu yang ditunggu itu.

Sebagai penutup, akun twitter @kupinang, seorang penulis yang berfikroh Ikhwanul Muslimin, pernah menuliskan tentang jodoh yang mengingatkan tentang kecilnya diri kita dibanding Tuhan namun malah mendikte Dia untuk memberikan jodoh sekarang juga, sementara pastilah skenario-Nya jauh lebih baik bagi kita.

So, my take home message is, I am single and available and doing my best.