Hei, Kamu Masih akan Lari (atau Yoga), kan?

Spanduk sponsor di stadion.

Kamu mencari kelelahan fisik dengan olahraga. Kamu berlari, di lain hari kamu senam yoga. Kelelahan mental kadang mendera, lebih sakit daripada timbunan laktat dan keringat.

Dalam kelelahan mental itu, kamu akhirnya menangis, diam-diam. Tenaga untuk marah telah hilang beberapa waktu lalu, saat musim dingin membuatmu berpikir untuk menghemat energi, atau saat musim panas keringatmu telah habis oleh terik mentari.

Mungkin benar bahwa jiwa ini hanya dititipkan dalam anatomi rumit tubuh manusia, yang otaknya aktif bekerja, dan jantungnya berdebar oleh kafein atau cinta atau kecemasan tentang dunia. Namun hormon bahagia setelah olahraga tetap akan melembutkan jiwamu, menguatkannya menghadapi kelelahan mental yang menanti di depan.

Kadang kamu berpikir perlukah berlari sepuluh kilometer sebelum memulai semua yang akan melelahkan mentalmu.

Pada akhirnya sang jiwa yang hanya mampir ini ikut berperan dalam kelestarian alam yang ditempatinya. Mungkin tubuh yang sehat dan kuat juga termasuk titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Mungkin sekedar lari pagi atau sore atau malam, dan yoga hampir sejam bisa mempermudah pertanggungjawaban tubuh ini nanti. Mungkin puasa dan menjaga makan bisa memudahkan jiwa ini lebih bertakwa.

Mungkin belum saatnya merasa lari atau yoga atau hal fisik lainnya hanyalah semata pelarian dari kelelahan mental. Mungkin sebaliknya, justru merekalah pendukung utama jiwa ini untuk terus berusaha, menghadapi kelelahan-kelelahan di depan, bersabar dengan kekalahan, bahkan mempersiapkan kemenangan, lagi dan lagi.

Salam olahraga.

Advertisements

Intro menuju ‘Tentang Jiwa’

Di psikiatri saya menemukan banyak orang yang berempati. Mereka responsif terhadap gerak-gerik saya, ekspresi saya, sehingga terlontarlah kalimat, “Ya, kamu, ada yang mau disampaikan?” Dan hal itulah yang membuat mereka menjadi psikiater alias dokter ahli jiwa. Suatu profesi yang menuntut empati tinggi. Bukan simpati.

Heh, saya mau membahas apa ya.