Jantung Hati

Namanya jantung hati. Orang Barat menyebutnya heart. Dalam surat cinta dari Tuhan, dia qulb. Letaknya di pusat tubuh manusia. Bungkusnya perikardium sebanyak dua lapis. Dia bersemayam tenang, jauh di balik rusuk. Tersembunyi. Paru kiri melingkupinya, hangat. Mendengarnya pun kau butuh stetoskop.

Jantung hati, dia sang raja. Menteri, panglima, rakyat, semua mencintainya, melindunginya sebaik mungkin.

Jantung hati, yang jika dia rusak maka rusak seluruh tubuh. Yang jika di dalamnya mengalir racun maka teracunilah sekujur tubuh.

Aliran turbulensi di dalamnya harus tetap murni, biar cahaya Tuhan tetap bersinar terang. Sudah semestinya mereka menjaganya, menjauhkannya dari kesia-siaan.

Biar pancaran sinarnya keluar menembus tebal ototnya, bungkus perikardiumnya, dan menelisip keluar melalui rusuk-rusuk pelindungnya. Biar cahaya itu menerangi sekitarnya.

Ah apalah arti manusia pemilik jantung hati itu, jika Tuhan Sang Penciptanya Berkehendak Membaliknya. Suka jadi cinta. Cinta jadi benci. Patuh jadi makar. Maka hanya bisikan lirih doa yang boleh membara di sana. Hanya secuil iman yang boleh dibiarkan bergolak dan mengalir bersama setiap pompaannya. Seonggok keyakinan dan doa, semata usaha demi awetnya sang jantung hati.

Karena hanya ada satu sampai mati. Sampai nanti pulang ke kampung akhirat. Dan bertemu Tuhan, bersimpuh, “Tuhan, kukembalikan jantung hatiku. Semoga dia tidak menghalangi pulangku ke rumah-Mu.”

Advertisements

Aku stase bedah, sibuk sekalii

Dengan beranggotakan sepuluh orang koas bulan pertama di bedah, jadilah kami pasukan jaga dingdong alias sehari jaga sehari gak jaga. Dengan demikian aku mencuekkan banyak teman-temanku, keluargaku di rumah, dan hobi menulisku. Oh, dan

Continue reading “Aku stase bedah, sibuk sekalii”