Memperbaiki Sikap

Seringkali aku menggunakan blog ini untuk menasihati diri sendiri ketika self talk tidak berhasil. Aku menulis serapi mungkin dan mempublikasikannya ke seluruh dunia demi menyindir diri sendiri.

Baiklah, tulisan ini salah satu sindiran juga.

Suatu pagi aku terbangun kesiangan dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu sebelum solat subuh. Yah memang sih, solat subuh di waktu dhuha, tapi aku bisa apa.. Tiba-tiba dari kamar ortu terdengar panggilan untukku. Aku memutuskan untuk berteriak untuk menjawab panggilan itu, bukan membuka pintu kamar ortu dan bertanya dengan sopan apa yang bisa kubantu. Aku berteriak tentang prioritasku untuk segera wudhu dan solat dan aku butuh lima menit sebelum ke sana.

Di waktu yang lain aku sibuk menanggapi perkataan ortu dengan pengetahuanku yang kurasa cukup luas, yah relatif lebih luas dibanding pengetahuan ortuku. Waktu itu kami membicarakan tentang kesehatan. Justifikasiku, selalu, bahwa ortu sudah membayariku berjuta-juta dan mendukungku bertahun-tahun untuk akhirnya aku diperkenankan Tuhan menjadi seorang dokter, jadi mereka harus percaya dengan apapun yang kukatakan tentang kesehatan manusia.

Tidak jarang pula aku berharap ayahku adalah seorang dewa yang tidak pernah salah. Aku selalu punya ide tentang seseorang yang sempurna (jika ada, jika tidak berarti yang sedang kubayangkan adalah sebentuk dewa atau apalah), dan ayahku selalu kubandingkan dengan sosok sempurna itu. Aku selalu menemukan perbedaan antara ayahku dan kesempurnaan itu dan memutuskan untuk merenunginya atau marah dengan adanya perbedaan itu.

Aku yang beberapa waktu lalu merindukan kehidupan yang lain, seperti misalnya tinggal di suatu rumah dengan seorang asing yang ganteng (suami, maksudnya, kan asing tuh, bukan keluarga) sempat berjanji pada diri sendiri untuk memperbaiki sikap ke orang lain. Lalu aku mulai lelah dengan bayanganku, mungkin karena semakin tua, aku mulai menyadari bahwa sikapku sekarang menentukan diriku di masa depan.

Aku bertanya-tanya bagaimana aku bisa bersikap super romantis pada suamiku nanti jika aku merasa kesulitan untuk menjawab dengan nada rendah dan tenang atas pertanyaan atau panggilan atau teguran ortu? Bagaimana mungkin aku bisa memprioritaskan kebahagiaan suami nanti jika memenuhi keinginan ibu yang sederhana saja berat kulakukan? Apa bedanya bersabar dengan orang tua (haha, padahal ortu yang sudah banyak bersabar dengan anak macam aku ini) dengan bersabar dan bersikap baik pada suami? Apa bedanya menyayangi adik dan kakak sepenuh hati, sesabar mungkin, memahami dengan penuh pengertian, dengan bersikap baik setiap hari ke pasangan hidup yang benar-benar orang asing?

Manusia terbaik yang pernah tinggal di bumi ini, Salallahu’alaihi wassalam, pernah berpesan pada para pengikutnya, yang berarti termasuk diriku juga, bahwa orang terbaik adalah orang yang baik pada keluarganya (terutama istrinya). Dalam sebuah khotbah yang kudengar di yutub, pak ustadz mengatakan bahwa pesan itu memiliki arti tersirat bahwa justru bersikap baik kepada anggota keluarga merupakan salah satu hal tersulit. Sangat mudah bersikap ramah ke kolega, bawahan, atau murid, atau teman yang hanya bertemu beberapa jam sehari. Namun dibutuhkan kepribadian yang matang untuk menjaga sikap ke anggota keluarga sendiri. Sangat mudah tampak baik dan sabar, tidak emosional, dan penuh penghormatan ke orang lain di luar rumah tapi hanya orang-orang berbudi baik yang tetap bersikap baik sesampainya di rumah dalam keadaan fisik dan mental yang lelah sepulang kerja.

Pak ustadz itu dalam khotbahnya yang lain yang berjudul berbuat baik pada orang tua, mengingatkanku untuk tidak meminta pengecualian. “Tapi ayahku begini dan begitu, kau tidak mengerti, Tadz” tidak bisa diterima. Semua orang akan meminta pengecualian serupa. Terima, hormati. Titik. Orang-orang terdekat memang sering menjadi sasaran utama atas tuntutan-tuntutan kita. Kita menuntut kasih sayang, balas budi atas kasih sayang dan respek kita, pengertian, dan banyak lagi. Mungkin tuntutan itu wajar tapi mengutamakan kesadaran bahwa manusia punya keterbatasan itu lebih penting. Bahkan mengingat bahwa orang-orang terdekatlah yang pertama berhak atas cinta dan kasih sayang kita lebih penting dari sebagian besar hal dalam hidup ini.

Dengan berbuat baik setiap saat kepada orang-orang terdekat, mungkin akan lebih mudah untuk menghormati siapapun selain orang tua sendiri. Akan lebih mudah untuk menghormati suami (atau menyayangi istri) nanti dan melayani sepenuh hati. Akan lebih mudah pula untuk menjadi original di depan orang lain, asli tanpa tipuan, tanpa dibuat-buat. Sehingga kita tidak perlu repot menjaga citra yang bukan milik kita.

So don’t be yourself. But be your best self.

Advertisements

The Choice

I am not sure what to write, but all i know is that i have to keep writing, or else i will become more insensitive, dumb, dull… And for sure, a good writing won’t be part of my work lately, with all the analysis, research, or scientific references. A big no. It’s simply what’s in my mind.

Yups, masih tentang nikah. Tentang masa depan. Hm, kalau jodoh sih sudah bukan tema lagi. Teringat kata-kata bijak seorang sahabat, “Janganlah mempertanyakan Continue reading “The Choice”