A Shifted Arrow

Day to day i would like to have a cup of hot sugarless latte

And forget about my thesis

I would meet you today and tonight and tomorrow

Sharing my thoughts and my dreams and you would listen patiently

Day to day i would spend my energy watching you do your thing

I would help if i may but i am okay with just cheering and admiring endlessly

You know i dont mind if i resign tomorrow morning

Because i have what i need and i am happy

But life does not work that way

Sometimes my reality is unacceptable to others

Sometimes what i believe as a simple thing looks complicated and impossible

Often time what i need seems small and insignificant to others

But you know we all have God The Almighty, All-Knowing

I just keep the faith that i will be with you in my life, in this world and the hereafter

It might not be you, of course, i am fully aware

But I pray that God Made another one of you, to love me

So you see i am not that girl anymore

Who wants this and that, strives to be this and that, does these or those

I see my future being by your side

And do my thing and help you do your thing

And be forever grateful to have you in my life

But “you” here is non-existence.

I do not know where i am going now

My destinations are no longer “expert in medicine” or “author of inspiring books”

but simply a wife and a mother (if God Wills)

So i am on my way

The pathway with a newly shifted arrow

Shifted, not bent, not broken

And i am content

All Praise is only to God

Jantung Hati

Namanya jantung hati. Orang Barat menyebutnya heart. Dalam surat cinta dari Tuhan, dia qulb. Letaknya di pusat tubuh manusia. Bungkusnya perikardium sebanyak dua lapis. Dia bersemayam tenang, jauh di balik rusuk. Tersembunyi. Paru kiri melingkupinya, hangat. Mendengarnya pun kau butuh stetoskop.

Jantung hati, dia sang raja. Menteri, panglima, rakyat, semua mencintainya, melindunginya sebaik mungkin.

Jantung hati, yang jika dia rusak maka rusak seluruh tubuh. Yang jika di dalamnya mengalir racun maka teracunilah sekujur tubuh.

Aliran turbulensi di dalamnya harus tetap murni, biar cahaya Tuhan tetap bersinar terang. Sudah semestinya mereka menjaganya, menjauhkannya dari kesia-siaan.

Biar pancaran sinarnya keluar menembus tebal ototnya, bungkus perikardiumnya, dan menelisip keluar melalui rusuk-rusuk pelindungnya. Biar cahaya itu menerangi sekitarnya.

Ah apalah arti manusia pemilik jantung hati itu, jika Tuhan Sang Penciptanya Berkehendak Membaliknya. Suka jadi cinta. Cinta jadi benci. Patuh jadi makar. Maka hanya bisikan lirih doa yang boleh membara di sana. Hanya secuil iman yang boleh dibiarkan bergolak dan mengalir bersama setiap pompaannya. Seonggok keyakinan dan doa, semata usaha demi awetnya sang jantung hati.

Karena hanya ada satu sampai mati. Sampai nanti pulang ke kampung akhirat. Dan bertemu Tuhan, bersimpuh, “Tuhan, kukembalikan jantung hatiku. Semoga dia tidak menghalangi pulangku ke rumah-Mu.”

Some More Self-Reminder

Lily of The Nile, flowers that bloom only in summer. Only at the right time.

Time heals.

I should remember that love is tested by time.

When you feel you are in love, try to rely on the time.

Let it mature your love, or vanish it.

If by time your love gets stronger,

wait for some more time.

If by time your love gets weaker or disappears,

then it is not love.

Meanwhile, do whatever favors your future.

Like, doing your best while you have time in this world.

Really, time is the only thing that will help you with this feeling.

It won’t betray you.

When it is the time, then it is the time.

Yours will come, we just don’t know when.

Just. Let. Time. Takeover.

Kuputuskan untuk Menulis Di Sini daripada Menghubunginya

A Long Shadow of Mine
A Long Shadow of Mine

 

Bagiku kamu menarik

Aku ingin mengabarimu, betapa aku menikmati bukumu

Aku ingin mengajakmu mendiskusikan obrolan lalu itu

tentang aturan agama, atau tentang tujuan hidupmu

Aku juga ingin dibujuk lagi betapa sepuluh tahun tinggal di negeri orang akan menyenangkan.

Kamu pasti akan bersikap sopan, baik hati malah

membalas semua usahaku untuk mengontakmu

Kamu akan memperlakukanku dengan baik

seperti perlakuanmu pada semua teman sejawatmu

Aku sangat gatal meraih ponselku, membuka obrolan lama dan siap melanjutkannya

Kubayangkan kamu akan dengan sigap melempar balasan

Ah, kenapa pula aku harus memikirkanmu?

Tidak cukupkah kewajiban akademisku menghantuiku?

Tidak cukupkah ketiadaan kabar darimu membungkam jemariku?

Ah namanya juga anak muda,

mungkin aku memang sedang jatuh cinta.

Padamu yang menarik itu.

Bedanya sekarang aku menjadi peragu

Ragu untuk melanjutkan usaha meraihmu

Ragu untuk tetap menjadi diriku yang berusaha mendapatkan yang kumau

Ya, meragukan keinginanku sendiri atasmu

Kata pengalamanku dulu, mengambil peran aktif itu tak selalu baik

Lebih banyak dongkolnya, lebih banyak kecewanya

Maka inilah aku si peragu, mulai berpikir keras

apa saja yang bisa kulakukan asal tidak meraih ponsel dan mulai mengetikkan pesan untukmu

Tidak cukupkah tugas-tugasku sebagai manusia

mendistraksi keinginan kecilku untuk menyapamu?

Tidak menarikkah buku-buku agama

sehingga membuatku lupa akan keberadaanmu, si mas keren itu?

Beginilah cinta, aku hanya bisa tercenung atas kuasanya

atas cokol kuatnya di hatiku

Maka dalam ketidakberdayaanku ini

setidaknya aku punya kendali atas apa yang kulakukan

hal terkecil, penyelamatan harga diriku

berpura-pura tidak terjadi apapun dalam hatiku

dan melanjutkan hidup sebagai mahasiswa, dosen, anak, kakak, dan tetangga

oh, dan hamba Tuhan yang agak terlalu banyak dosa..