Dapur rumah siapa?

Sinar matari menyergap jendela

Menembus celah anyaman bambu yang juga dinding rumah itu

Wangi bawang goreng membumbung ke bawah genteng

Sotil di tangan kananku.

Kuaduk aluminium itu beradu dengan aluminium wajan tua

Percik minyaknya berkilat-kilat

Gaduhnya merangsang pengecapan.

Bulik dan beberapa wanita duduk bercengkerama di dipan, di balik dapur ini

Aku ingat sekali, dapur itu berlantai tanah, tanpa ubin maupun semen

Aku juga ingat kompornya hanya tungku dan kayu bakar yang membara apinya

Tidak kuingat ada kipas angin atau anggota keluarga pengipas di sekitarnya.

Lalu segala yang terjadi setelah itu terlalu singkat

Seperti akhir pekan yang kemudian menjelma Senin pagi dalam beberapa kejap saja

Yang kuingat aku diteriaki, dimarahi, disalahkan

Hingga aku ketakutan, dan ingin segera beranjak dari situ

Aku beringsut seperti seekor kucing yang tunggang-langgang dengan ikan di mulutnya

Namun bibirku rapat, dan bergetar

Aku juga ingat para bulik dan entah siapa lagi para wanita itu memandangiku

Mungkin saling berbisik, atau mungkin hanya melirik-lirik.

Aku memunggungi semua yang kuingat itu, melangkah menjauh, namun telingaku tidak tuli

Teriakannya masih terdengar. Penuh amarah, dan itu semua salahku.

Lalu aku terbangun. Ini kamarku, dan ini belum Subuh. Kamar berlantai keramik. Berdinding bata berlapis semen, bercat biru telur asin.

Aku masih saja gemetar.

Advertisements

Twilight State

Twilight state atau keadaan senja adalah istilah yang digunakan di bidang kedokteran yang menjelaskan mengenai keadaan kesadaran antara tidur dan terjaga. Jika dilakukan pemeriksaan EEG di otak, mungkin akan tampak gelombang alfa.

Akhir-akhir ini aku kebanyakan tidur (seperti setiap hari seumur hidupku, kecuali sekitar dua tahun masa koas di rumah sakit), saking banyaknya sampai rasanya realita masuk ke mimpiku dan mimpiku masuk ke realita saat aku terbangun.

Dalam tidur-tidur panjang itu aku memimpikan banyak hal. Aku juga memimpikan banyak sekali orang. Kadang mimpinya bisa kuingat utuh sempurna, kadang aku lupa bahwa dalam tidurku aku bermimpi sesuatu. Kadang pula aku hanya ingat penggalan mimpiku. Aku pernah hanya ingat orang dalam mimpiku tanpa bisa mengingat apa yang dia lakukan.

Aku memimpikan supervisor thesisku, juga sepupu-sepupuku. Aku juga pernah memimpikan seorang ibu dengan bayi baru lahir-nya, kemudian dia punya bayi lagi. Ada juga mimpi tentang seorang teman di sekolah dulu. Mantan sahabatku (aduh, jelek sekali istilahnya) juga kutemui di angkot dalam mimpiku, dan dia memberiku suatu berita penting, yang sekarang aku lupa isinya. Tapi aku belum pernah mimpi menjadi kurus.

Mimpi, tak lebih dari sekedar memori akan kenyataan yang tersimpan di lobus frontal. Mimpi bisa juga merupakan harapan yang ter-represi oleh alam sadar sehingga bermunculan saat tidur. Mimpi-mimpiku yang aneh dan agak berlebihan ini muncul mungkin di twilight state ku. Entahlah.

The Question

I was having an insightful chat with my senior in medschool. She was talking about the pursuit of dreams. We made our own dreams, so we need to make them come true. Dreams are there to be materialized.

Then she asked me, “What are your real passions?”

Well it was all narrowed down to career. We talked about the clinician, researcher, lecturer, professor, and even simply housewife. We weren’t talking about Continue reading “The Question”