Donor Darah dan Tes HIV

Di suatu akhir pekan yg sejuk di daerah Slawi bernama Guci, aku berkesempatan mendampingi para penghuni kantorku dalam sebuah acara kemah. Hari itu terjadwal bakti sosial termasuk donor darah.

Malamnya aku hanya tidur tiga atau empat jam karena perjalanan yg cukup panjang dan rapat persiapan yg lumayan mengurangi jam tidur. Pagi itu tenda donor darah bersebelahan dengan layanan pemeriksaan HIV gratis. VCT atau tes dan konseling sukarela ini memang diadakan salah satunya karena kita ingat bahwa angka penderita AIDS di Jateng tertinggi di Indonesia. Ada alasan lain pula, bahwa daerah wisata itu memang daerah risiko tinggi. 

Hari itu tugasku di pos pengobatan gratis, yang dimulai siang nanti. Jadi pagi itu aku putuskan donor dulu, sambil berharap tidak pingsan kemudian (aku pernah pingsan setelah donor, waktu itu aku sedang puasa sunah hahaha. Jangan ditiru). Setelah mendaftarkan diri untuk donor, aku diminta petugas untuk bergeser ke meja VCT. Saat melihat orang-orang diambil darahnya 10 cc, tiba-tiba aku memutuskan untuk melewatkan tes ini dan mau langsung donor saja.

Seorang teman berkomentar, “Lho kenapa gak VCT? Sekalian, gratis, cuma 10 cc. Biar tau, ayo.”

“Gak ah, males aja.”

Sampai beberapa menit kemudian aku masih merasa merugi karena melewatkan VCT itu, terutama karena komen satu teman itu.  Penyesalan kedua adalah saat menyadari betapa menggelikannya berpikir “ngeri aja diambil darahnya 10 cc” saat jelas-jelas lengan kananku terpasang jarum 16G dan darah 350 cc keluar dari tubuhku.

Oh, terkait aku tidur larut di malam sebelumnya, aku merasakan pening pascadonor “kalau aku tahu mbaknya kurang tidur, gak kubolehin donor tadi!” Seru dokter PMI padaku setelah menyuruhku menambah 15 menit berbaring di field bed donor. Sampai malam aku masih saja pening, dan curiga tekanan darahku memang tidak pernah mencapai 100 milimeter air raksa untuk sistoliknya. Sepanjang hari aku makan dan makan untuk “mengembalikan darah”ku haha. Selama itu pula teringat bahwa saat donor itu aku sempat mengobrol dengan ibu petugas.

“Bu saya semacam menyesal tidak VCT.” Aku memulai curhatku.

Singkat cerita, berikut kesimpulan hasil obrolanku. Ternyata sebagai pendonor rutin, aku akan mendapat info dari PMI jika darahku terinfeksi HIV (atau penyakit lainnya yang diskrining, seperti hepatitis B dan C dan sifilis). Menurutmu? Tidak ada info tentang itu yang masuk ke hapeku, atau surat datang ke inbox emailku, atau ke rumahku, seumur hidupku menjadi pendonor. 

Aku simpulkan sampai terakhir aku donor, darahku bebas HIV. Donor terakhirku sekitar akhir tahun lalu. 

Tahun ini apakah aku berisiko terpapar sehingga harus cek HIV ulang? Aku bekerja di RS dan pernah menjahit luka terbuka, tapi tidak lebih dari itu, dan tidak pernah lupa menerapkan general precaution seperti cuci tangan dan memakai handschoon.

“Jadi aku akan tau dari PMI kalau darahku yg kudonor hari ini terinfeksi HIV kan bu?” Tanyaku menyimpulkan.

“Iya lah, mbak. Pasti diberi tahu.”
Jadi aku lega akhirnya donor lagi (dalam keadaan safar dan kurang prima), dan berharap tidak pernah ada kabar dari PMI tentang apapun kandungan dalam darahku.

Sekian.

Mari donor darah. Mari tidak melupakan bahwa PMI hampir selalu defisit kantong darah, apapun golongan darahnya.

Advertisements

Sepasang Mata Bola

Donor Mata

Yang kita ketahui selama ini mengenai donor mata adalah, apapun penyebabnya ketika seseorang buta, donor mata-lah solusinya. Seseorang memberikan matanya untuk orang lain, dan orang lain itu tertolong. Yah, minimal itulah pemahamanku sampai saat kemarin ketika aku masuk stase mata.

Ternyata donor mata yang dimaksud adalah donor kornea. Kornea sendiri adalah selaput bening yang berada di bagian terluar bola mata, yang meliputi seperenam bagian depan bola mata, dan berwarna transparan. Donor kornea berarti transplantasi kornea untuk menggantikan kornea yang rusak. Kerusakan kornea yang menyebabkan kebutaan bisa beragam, seperti kekeruhan yang parah, yang bisa berupa jaringan parut.

Jadi donor kornea atau keratoplasti hanya berlaku untuk buta yang penyebabnya adalah kekeruhan atau kerusakan kornea. Donor kornea, misalnya, tidak akan membantu jika sudah ada retinopati atau kerusakan saraf optik lainnya.

 

Pengen Gak Pake Kacamata

Suatu hari adikku menyeru, “Liat aja nanti. Kalo nanti aku punya uang, uangnya aku pake untuk operasi mata untuk ngilangin minus!”, dengan berapi-api, setelah sebelumnya pernah suatu saat bertanya, “Mbak, caranya ngilangin minus gimana sih? Gak enak banget pake kacamata!”

Aku sendiri yang tidak pernah pakai kacamata tidak bisa berpendapat mengenai ketidaknyamanan berkacamata. Tapi itulah testimoni adikku, betapa kacamata menyiksanya. Maka di stase mata ini aku terpaksa browsing cara menghilangkan mata minus alias miopi.

Jreng…. Mungkin aku terlalu malas mencari tahu, tapi hanya ada tiga cara yang kutemukan; kacamata, lensa kontak, dan bedah. Bedah sendiri bisa berupa radial keratotomy atau LASIK (Laser Asik Laser-assisted In situ Keratomileusis). Dengan segala pro dan kontranya, adikku tetap sepakat LASIK-lah yang terhebat. Hebat pula biayanya, tentu.

LASIK prinsipnya adalah menipiskan selaput bening (kornea). Pada mata miopi, bentuk bola mata panjang, alias lebih lonjong ke belakang. Dengan bentuk ini, bayangan yang seharusnya jatuh tepat di retina, malah jatuh di depan retina sehingga pandangan kabur (padahal gak ada polisi yang ngejar). Dengan menipiskan kornea, panjang total bola mata bisa dikurangi sehingga diharapkan bayangan bisa jatuh di retina. Dari buku sih, dibilang bahwa LASIK bisa memperbaiki sampai 8 Dioptri (alias mengubah orang minus 8 jadi visus normal!).

Dari mekanisme tersebut, aku menyimpulkan kalau LASIK berlaku selamanya, tanpa harus operasi ulang atau semacamnya. Hm, mungkin butuh satu atau dua tahun untuk adikku menabung biaya LASIK. Ayo dik, semangat nabung!

 

Di OK 8 alias Ruang Operasi Mata

Pagi itu pertama kalinya aku masuk OK. Semua memakai baju hijau. Mulai dari pegawai yang mengurus alat, perawat, sampai supervisor. Semua sama; bertopi (atau berjilbab), berbaju, dan bercelana hijau, memakai selubung kaki yang lucu seperti sepatu bayi, dan berlindung di balik masker yang menutup sampai ke pangkal hidung. Walhasil, petugas kebersihan dan dokter spesialis tampak sama. Hampir saja aku mengindahkan seorang supervisor yang baru datang; eh ternyata memang dia. “Pagi, Dok!” untung gayanya cukup khas sehingga tidak kukira asisten alat atau apa.

Subhanallah, hanya dengan alasan itu tiba-tiba aku mencintai OK. Sebuah tempat di mana semua orang tampak sama. Tidak bisa pamer baju ini dan itu, pamer wajah cantik dan ganteng, badan atletis atau tambun… Tempat di mana orang hanya menilaimu dari apa yang kamu lakukan, bukan dari bagaimana penampakanmu. Hm, mungkin seperti inilah seharusnya, seperti Allah SWT yang Melihat makhluk-Nya, semua sama, kecuali takwa mereka.

Kembali ke OK. Dalam sehari, ada dua operasi tumor.

Operasi pertama: seorang bapak-bapak dengan benjolan di konjungtiva bulbi yang diduga tumor ganas. Operasi berjalan sekitar satu jam, dan dari pemeriksaan patologi didapatkan tumor jinak. Selesai. Tumor diangkat semua, setelah operasi pasien dikembalikan ke kamarnya; Paviliun Garuda.

Operasi kedua: seorang mas-mas dengan benjolan di kepala (!) yaitu di tempat di mana seharusnya mata kanan berada, dengan mata kanan yang sudah sangat menonjol keluar. Operasi berupa eksenterasi orbita, yaitu mengambil seluruh tumor dan bola mata sampai ke jaringan sekitarnya. Ya, tentu, tinggal satu mata yang tersisa, yang masih utuh dan sehat.

Komentar terhadap operasi pertama: wah, keren, beginilah orang kaya (karena menginap di Paviliun Garuda) yang sadar akan kesehatannya; sehingga dengan adanya benjolan kecil saja sudah memeriksakan diri.

Komentar terhadap operasi kedua:(oleh supervisor tadi), “Ko-assnya mana nih. Ini lho, lihat. Pasien Jamkesmas (orang yang menerima bantuan pemerintah untuk biaya pengobatan yang memenuhi kriteria miskin) baru dateng ke RS dengan tumor yang guedhenya kayak gitu.. Udah telat banget tho, Dik. Ini pasti udah lama banget. Tapi dia baru sekarang ke sini. Ck ck ck”

…dan pendapatku adalah idem. Hm, entah karena tidak peduli akan keadaan mata kanannya yang semakin terdesak keluar, atau karena tidak ada biaya untuk pergi berobat ke rumah sakit, pasien di depanku itu berakhir dengan kehilangan salah satu matanya. Padahal tentu saja dengan deteksi dini, tumor retrobulbi atau tumor apapun dapat ditangani dan tidak perlu menunggu sampai penampilan seperti monster (maaf mas, tapi memang begitulah adanya, dengan satu mata menonjol keluar sebesar telur bebek, siapa yang akan bilang dia berwajah normal?). Atau mungkin mas itu sudah mencoba berbagai macam cara, contohnya pergi ke pengobatan alternatif, atau apapun, tapi ternyata tumornya tetap membesar dan semakin membesar. Hingga akhirnya terlambat seperti ini.

Tetap sih, ucapan terima kasih untuk pemerintah dengan kebijakan Jamkesmasnya.

Namun, lagi-lagi tagline yang keren itu, health is beyond health itself. Kesehatan bukan hanya kuratif atau menyembuhkan yang sakit, tapi bagaimana caranya agar kesehatan tetap terjaga.

Tentang enukleasi bulbi (matanya harus diambil!)

Pagi itu aku sedang di bangsal, mengikuti follow-up para residen. Di bagian mata, follow-up berarti setiap pagi memeriksa keadaan mata pasien bangsal dengan alat-alat canggih di ruang periksa. Asyik sih, walau hanya melihat dari monitor komputer yang disambungkan dengan lampu celah (bahasa Indonesia baku untuk slit lamp), kita bisa melihat keindahan (dan keadaan patologis) bola mata, dari kornea, iris, lensa… Retina juga. Cup dan disc juga.

Nah, saat giliran seorang pasien anak yang diperiksa, seorang residen bertanya ke orang tua si anak, “Gimana pak, sudah diputuskan mau dioperasi atau gak?”

“Hm,,” gumam si bapak.

“Soalnya kalo matanya gak diambil, nanti malah nyebar ke mata satunya pak. Masa mau nunggu mata satunya kena dulu?!”

Oh, takut oftalmia simpatika ya, pikirku. Berarti uveitis dong, eh endoftalmitis. Nanti lihat di status deh, pikirku lagi. Dan percakapan seru pun terus berlangsung, antara residen itu (yang dibantu oleh teman-temannya) dan keluarga pasien. Intinya, residen ngotot kalau operasi pengambilan bola mata merupakan cara terbaik, bahkan satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk menolong si anak. Sedangkan keluarga pasien mengeluh tidak memiliki biaya. Titik. Tidak adanya biaya menghentikan segala usaha.

“Gimana lagi Dok, uangnya belum ada,” kata ibunya membela sang suami.

Yang kuingat, percakapan berakhir dengan ucapan, “Ya pokoknya terserah bapak ibu keputusannya apa, tapi harus sudah diputuskan malam ini ya. Nanti malam pokoknya harus lapor ke dokter, mau operasi atau tidak. Kasian anaknya kalo kelamaan….”

“Ya Dok” bapaknya hanya menyahut lesu.

Dan kudengar dari residen, percakapan serupa sudah terjadi tiga hari yang lalu, yaitu sang ayah menjanjikan jawaban apakah mau operasi atau tidak dalam waktu 24 jam. Namun besoknya belum diputuskan. Sekarang pun belumjuga.

Tentu, tentu. Benang merah selalu ada dalam semua postinganku. Bahwa uang adalah segalanya. Bahwa memang tanpa uang, operasi tidak bisa berjalan. Bahkan operasi untuk mengangkat bola mata; operasi yang membuat seseorang menjadi lebih jelek, buruk rupa. Itu pun butuh uang! Aku simpulkan pula bahwa tindakan enukleasi bulbi tidak di-cover seluruhnya oleh Jamkesmas. Pasien masih harus membayar biaya tambahan. Sehingga orang tua pasien tampak tidak peduli pada keadaan anaknya sehingga enggan menyetujui operasi, padahal semata karena tidak ada biaya.

Dokter pun helpless, aku mengerti. Betapa tindakan enukleasi bulbi adalah hal yang harus disegerakan, sebelum sesuatu yang buruk terjadi ke mata yang sehat. Sementara orang tua pasien pun helpless, tidak mungkin mengiyakan tindakan tanpa segepok uang di tangan.

Hhhhh. Hanya bisa beristighfar. Bertekad juga untuk suatu saat di masa depan, melihat hal yang indah di mana semua orang tersenyum, atau setidaknya mengangguk riang saat keputusan operasi tidak bisa ditawar lagi.