Board-like Muscles

Hamparan pasir keabuan terbentang selaksa karpet yang luas tak bertepi. Hangatnya mentari siang itu menyengat leher dan mengeringkan kerongkongan. Jam Garmin menunjukkan angka 11.40, dan telepon ketiga masih belum berbuah jemputan panitia.

***

Pagi itu kami berkumpul di rumah Pak Bambang, guru kami, untuk kemudian berangkat bersama ke selatan yang jauhnya 140 km dari rumah. Benar juga, akhir pekan yang panjang menjelang libur tahun baru China membuat jalanan padat merayap. Ditambah keinginan makan malam khas Jogja bernama Gudeg Wijilan, sampailah kami di penginapan tujuh jam sebelum pistol start ditembakkan (saat itu berharap ada pistol, jelas tidak akan ada).

Malam itu aku berbaring namun terjaga, menanti kabar dari salah satu anggota rombongan yang baru bertolak dari Semarang selepas matari terbenam. Sejam sebelum alarm kami semua berbunyi, orang yang kutunggu mengabari telah sampai dengan selamat, dan memutuskan berangkat bersama rombongan lain ke tempat start dan tidak mampir ke penginapan kami. Aku pulas sejam saja dan terpaksa bangun oleh ketukan Rizki di pintu kamar, “Bangun, bangun.”

Suasana garis start sangat gelap, karena subuh pun belum tiba. Lampu kepala berkilatan, warna-warni pakaian pelari berkilauan, satu dua wajah kukenal, sebagian adalah rombongan dari kotaku sendiri, sebagian lain adalah alumni SMA-ku dan seorang guruku di SMA, Ibu Ani. Sesaat sebelum start, kuputuskan berlari bersama mantan guru SMA-ku itu (mantan karena beliau sudah tidak mengajar), sampai sekuatku saja, karena rumornya beliau pelari hebat. Wanita 52 tahun ini terus berada di sebelahku sekitar 7 km pertama sejak start, menyusuri garis pantai, beradu dengan angin laut, bertolak di pasir gembur yang kadang terintrusi air laut.

Memang ada pepatah mengatakan “train hard, race easy” yang mungkin berarti rajinlah berlatih agar saat perlombaan lari kamu bisa menang (atau mencapai finish, atau membuat catatan waktu yang baik) dengan mudah. Namun ternyata tidak semudah itu. Ada faktor X, Y, dan Z yang mempengaruhi the easiness of the race, despite your training and preparations. Seperti pagi itu, ketika aku memutuskan melepaskan diri dari Bu Ani yang masih terus berlari dengan semangat “Ibu duluan saja deh Bu, maaf tidak ikut menemani,” dan memilih menunggu Rizki yang sedang kesakitan karena kram. Seorang teman pelari melewatiku sambil berkata bahwa Rizki sedang kram. Aku masih ingin berterima kasih padanya sampai tulisan ini dibuat, namun apa daya, aku lupa siapa orangnya.

Rizki akhirnya muncul juga, diikuti sepasang kekasih, Putri dan Zayin, yang juga rombonganku, sehingga kami melaju berempat, belum sempat lari karena turunan curam menghadang di depan. Kramnya tampaknya sudah surut, jadi Rizki memutuskan untuk terus melaju, sampai tiba-tiba harus berhenti karena kram datang lagi. Jalan setapak turun yang curam memang menuntut kontraksi otot betis dan sekitarnya, dan saat kram, semuanya akan memburuk. Saking sakitnya, kami berhenti beberapa menit dan dilewati beberapa pelari “Duluan aja Mas, Mbak, beneran gakpapa kok,” saat mereka menawari bantuan, walau aku sempat mengambil satu tube counterpain dari salah satu tawaran. Dua orang lain, Wahyu dan Yulian, memutuskan ikut berhenti sehingga kami berenam selama sejam berikutnya (beberapa menit kemudian kami sudah melaju lagi). Entah bagaimana, enam orang ini kemudian terpisah sehingga tinggal aku dan Rizki, empat lainnya di depan dan belakang kami. Mungkin Wahyu dan Yulian sudah bergabung dengan teman-teman mereka.

Sejam lebih yang menyiksa, karena pemandangannya indah, udaranya sejuk, jalanannya relatif datar dan tidak curam atau licin, tapi Rizki diam seribu bahasa. Sama saja lari sendiri, pikirku. Tapi berjam-jam setelahnya kusesali pikiran itu, karena kemudian aku menyadari dia sedang berjuang mencegah kramnya kambuh sambil berkonsentrasi dengan rute lari, dan mungkin menahan sakit tanpa mengeluh satu napas pun.

Pos minum terakhir yang tidak kunjung muncul akhirnya tampak juga, dan setelahnya terasa ringan (hore, lima kilo lagi sampai finish, mungkin jam sepuluh bisa nih), namun apa yang kemudian terjadi di medan pasir itu tidak terbayangkan sama sekali.

***

Entah karena terik yang semakin lugas menyapa kulit atau kilauan pasir di bawah telapak kaki, jalan menuju finish terasa tak berujung, ditambah kesunyian tanpa kata. Dendang lagu “Memulai Kembali” olehku hanya bertahan dua baris kemudian aku menyesali nada tinggi yang kuambil. Di hampir setiap turunan, aku mendahului Rizki, kemudian di akhir setiap turunan aku menengok ke belakang memastikan dia turun dengan aman, tanpa kram.

Turunan terakhir (karena setelah itu aku mengambil short cut sampai finish), aku meninggalkannya jauh di belakang (kok lama sih, pikirku) sampai terdengar teriakan kesakitan. Aku menoleh, dan kulihat Rizki berdiri membatu dengan kedua lutut menekuk dan posisi hampir rukuk, tampak sangat kesakitan, “Aaaaaarrgh.” Aku berlari mendekat, teriakan bertambah keras dan bernada tinggi. Tampak jelas kakinya menegang, sehingga aku semakin cemas. Aku segera mendekat dan berlutut, mengecek otot betisnya yang ternyata sekeras papan kayu. Oh tidak, pikirku. Bagaimana ini, aku harus apa, aku panik. Counterpain-ku menipis dan baru akan kukeluarkan dari kantong celana.

Beruntung sekali saat itu ada beberapa pelari lain di depan kami. Satu orang berbalik arah mendekati kami dan seperti memberi komando, “Tenang Mas, tenang, kalau panik nanti tambah kram. Tenang sekarang! Rileks Mas!!” Sepertinya Rizki patuh dan beberapa detik kemudian betisnya lebih lunak. Oh, aku sungguh lupa detil kejadian saat itu (atau aku supresi saking ngerinya), jadi aku lupa apakah hitungan detik atau menit sampai ‘papan kayu’ itu melunak. Yang jelas aku dan bapak pelari kurus baik hati itu membantu Rizki untuk duduk di pasir panas demi mengurangi kontraksi tungkai.

Beberapa detik berlalu dengan sangat lambat, namun anehnya aku lupa detilnya. Aku tidak ingat apa saja yang terjadi, apa saja usaha yang kulakukan saat itu selain mengangkat tinggi tungkai Rizki satu per satu dan mencoba dengan asal meniru gerakan fisioterapis saat membantu pelari dalam event lari Desember lalu. Lama sekali sampai akhirnya Putri dan Zayin muncul, “Tadi yang teriak itu kamu, Kak?” tanya Putri padaku.

Beberapa menit berikutnya sungguh tak terbayangkan. Kami berempat di tengah gurun pasir (yang ternyata masih 2 km lebih menuju finish, bukan 1 km seperti kata salah seorang pelari yang saat itu tentu saja belum finish) mencoba menahan panas dan berharap kram segera reda sehingga kami bisa segera berjalan bersama menuju finish. Counterpain sudah habis, pijatan sana sini sudah dilakukan, namun keluhan belum juga mereda.

Aku sempat meraih ponselku dan kutekan nomor Mas Wardana yang aku kuduga adalah ketua panitia event lari ini, melaporkan keadaan darurat dengan lokasi yang tidak akurat, dan memastikan dia mendengar kata-kata “butuh evakuasi” yang kuucapkan. Aku melirik Rizki mendengarku dan beberapa saat setelah itu dia tampak menerima kenyataan bahwa dirinya harus dievakuasi. Aku mensyukuri umur bateraiku yang masih panjang sehingga aku sempat menelepon beberapa orang lain termasuk Tri, anggota rombongan, dan Mas Willy, senior di sekolah yang di start sempat menyapaku, “Aku gak ikut lari, medis aja.”

Segelintir pelari Semarang mendekat, mereka ini temanku berlatih untuk event ini. Salah satunya bernama Mas Santosa memutuskan tinggal, dan beberapa kali aku berkata “Makasih ya Mas, for sticking with us,” yang selalu dijawabnya dengan semacam “Sudah kewajibanku.” Mas Santosa ikut menelepon sana sini, membantu dengan ransumnya, dan empati menyalahkan panitianya sungguh membuatku merasa lebih baik. Mas Santosa juga yang bersamaku berjalan menuju finish, “Ayu, we shall finish what we have started. Let’s finish this race.” 

Delapan puluh menit di bawah terik mentari membakar leher Zayin, menguras energi kami, mempercepat napasku sendiri, dan mungkin melenakan pikiran jernihku. Dari sekian banyak pilihan: 1. Menghentikan beberapa pelari untuk bersama mengangkat teman yang kram ke bawah pohon rindang terdekat, untuk dievakuasi, 2. Evaluasi rutin kram, jika sudah bisa berdiri dan berjalan pelan, dia bisa dibantu berjalan menuju pohon rindang terdekat untuk dievakuasi, 3. Konsul via telepon ke Pak Bambang yang sangat berpengalaman dalam kegawatdaruratan untuk langkah selanjutnya; tidak ada satu pun yang terlintas saat itu. Hanya Tuhan Yang Tahu mengapa kami memilih percaya pada jawaban Mas Wardana di seberang sambungan telepon, “Panitia akan segera datang menjemput.”

Delapan puluh menit itu diwarnai dengan beberapa teriakan Rizki, “Aduh! Sekarang kram betisnya, betis kanan, ah!” atau beberapa tempat lain seperti paha atau telapak kaki atau perut atau diafragma atau dada. Beberapa kali keluhan Putri, “Aaak, sakit perut,” dan banyak sekali pertanyaan dari kami semua, “Ini panitia mana sih?”

Ada satu masa di mana tiba-tiba Rizki tak bersuara. “Ki, bangun, bangun, jangan merem, plis” kataku. “Iya, iya.” jawabnya segera sambil berusaha melek. Beberapa saat yang lain dia sangat lancar berbicara, “Kakiku tolong diturunkan pelan-pelan, nah gitu, betisku tolong diurut dari proksimal ke distal,” atau “Siapa itu? Oh, fotografer itu ya?” saat aku menyapa seorang dari rombongan pelari Bandung yang melewati kami. Kadang aku heran dengan kejernihan pikirannya di saat genting seperti itu. Aku saja ingin mandi air sirup dingin saat itu juga, berharap dingin dan manisnya bisa membangunkan otakku. Episode-episode itu berlangsung acak dalam ingatanku saat aku menuliskannya kembali. Termasuk saat Putri menawari “Nih minum Pocari lagi, habisin,” yang dijawab Rizki, “Udah kembung Pocari,”

Di tengah teriakan kesakitannya, Rizki sempat berbicara tidak jelas, sepertinya memberi instruksi padaku soal letak kramnya, kemudian tiba-tiba, “Aduh, aku pelo. Aku pelo!” Tanpa aku menyadari arti pelo saat itu (mungkin karena saat itu aku mau pingsan, atau aku panik, tidak yakin yang mana), aku bertanya ke semua orang (yang cuma berlima termasuk aku), “Masih ada air? Siram ke wajahnya, sekarang.”

Masih belum puas, aku bertanya lagi, “Siapa punya madu? (Aku, Kak, jawab Putri) masukin ke mulutnya.”

“Lho Kak, tapi dia gak mau tadi.” jawab Putri yang dari tadi ditolak Pocarinya.

“Masukkan sekarang, anggap itu injeksi D40 tapi peroral.”

“Ini (pelo) apa,” kata Rizki sambil terus mengeja huruf r berkali-kali.

“Gakpapa, transien aja.” (atau aku mengucapkannya dalam hati? Duh, lupa.)

Beberapa menit berikutnya terasa lebih mencekam karena sempat terucap kata ‘pelo’ tadi. “Mas, airnya disiram ke wajahnya lagi,” perintahku yang sudah semakin terdengar bossy ke Mas Santosa. “Kamu bangun, Ki, jangan merem, bangun, ayo mikir habis ini mau ke IGD bedah atau penyakit dalam,” tanyaku demi membuatnya tetap terjaga. “Gak kok, udah gak perlu ke IGD,” jawabnya. Putri dan Zayin masih setia menaungi temannya yang kram itu dengan jaket parasutku yang disangga dengan lengan mereka, yang segera diganti dengan ponco tebal yang lebih lebar.

Di sela-sela kalimatku yang makin meracau, “Makasih ya, Putri, Zayin, sudah mau berhenti di sini, panas-panas, mungkin ini 40 derajat ya?” Mas Santosa bertanya serius mengapa Rizki bisa kram separah ini. “Mungkin kurang latihan ya,” gumamnya, yang segera kujawab, “Latihannya sempurna, Mas. Dia latihan HM (half-marathon) dengan pace 5 baik-baik aja tuh, gak ada keluhan, tapi tiap event kok gini. Kemarin Jakmar juga kan, Borobudur juga.” Rizki menanggapi bahwa dirinya sempat tersesat 3 km, dan bahwa dia yang bertugas menyetir. Tidak ada yang menjawab. Semua setuju, dan sudah sangat mengharapkan tim evak datang.

***

Evakuasi dilakukan setelah Rizki berdiri dan dipapah menuju motor, setelah berdebat apakah harus duduk miring seperti perempuan yang memakai rok, atau duduk melangkah. “Udah nyemplo aja,” kataku, yang dijawab panitia, “Nyemplo tuh apa, Mbak?”

Sepanjang jalan aku mengomel soal kepayahan panitia. Aku dan Mas Santosa menolak beberapa tawaran motor panitia, “Evakuasi ya Mas, Mbak?” walau aku tidak menolak dua botol minum dingin manis dari mereka. Beberapa kali aku meminta maaf pada Mas Santosa, “Maaf ya Mas aku sepertinya dehidrasi jadi delirium, banyak omong begini.”

Sejam setelah evakuasi, Rizki sudah mandi dan berpakaian rapi ketika aku akhirnya mencapai finish dengan Mas Santosa. Aku sempat mengomel pada panitia di garis finish yang mencatat waktu finishku, dan sempat ingin marah ke mas Wardana, namun saat aku menyalaminya, “Kok gitu sih Mas.. Mas gak tau tadi keadaannya kayak apa..” terpaksa kuakhiri karena air mataku sudah tak terbendung dan aku harus segera berlalu. Aku malu terlihat lemah. Aku merasa cukup sopan masih menyempatkan mendengar pembelaan dirinya, “Maaf ya Mbak, pada saat yang sama di tempat-tempat lain banyak yang butuh bantuan, Mbak.”

***

Malamnya aku sampai di rumah dan kelelahan sehingga tertidur tanpa mencuci muka.

Esoknya dan sampai dua hari berikutnya aku masih meneteskan air mata mengingat kejadian otot yang menjelma sekeras papan kayu itu. Sesekali gondok melihat sebaran foto teman-teman di garis finish, menyesal memilih membuang waktu berjalan ke finish bukannya ikut dievakuasi panitia dengan motor sehingga bisa berfoto dan makan siang. Namun lebih banyak merasa lega telah memutuskan berdiri diam dilewati pelari-pelari demi menunggu Rizki yang belum tentu kesakitan (bisa saja kramnya sudah teratasi dan tidak akan kambuh, kan?), bukannya terus bersama bu Ani sampai finish, dan memilih melangkah dalam diam sepanjang jalan bersama Rizki, bukannya jengah kemudian meninggalkannya.

Demi Tuhan Yang Maha Tahu Segala, mungkin juga jika aku segera jengah karena didiamkan selama sejam saat hanya berdua itu, aku mungkin menyarankan Rizki untuk menyerah saja, sehingga kejadian mengerikan tidak perlu terjadi, sehingga dia selamat dari dehidrasi dan hipoglikemi itu.

Atau, jika aku terus berlari bersama bu Ani dan akhirnya finish lebih dulu, mungkin siapapun yang saat itu bersama Rizki mengambil keputusan yang lebih bijak dibanding aku, sehingga mungkin evakuasi dilakukan lebih dini di pos minum terakhir, atau beberapa pelari berhasil diminta untuk mengangkat Rizki ke tempat yang lebih manusiawi.

Namun Demi Tuhan, kita ini bukan orang yang berandai-andai dengan masa lalu. Semoga ada sedikit pelajaran yang dapat dipetik dari ceritaku ini. Rizki sudah sembuh, jika kalian penasaran. Sangat sehat dan sepertinya sudah bersemangat lari lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mencari Penjahit Favorit

Sejak kecil aku sering ke penjahit. Entah itu untuk menjahitkan kain seragam lebaran keluarga besar dari pihak ibu (oh iya, setiap tahun tema kostumnya berbeda. Tahun ini kain batik coklat, tahun berikutnya kain batik ungu), atau seragam keluarga yang akan menikah, atau celana olah raga di sekolah menengah dulu (sekolah membagikan kain, kita disuruh menjahitkan sendiri). Akhir-akhir ini pun aku harus menjahitkan kain batik seragam fakultasku untuk seragam hari kamis dan jumat.

Seringkali pemberi layanan jasa menjahit adalah bapak-bapak atau ibu-ibu yang membuka kios seadanya di pinggir jalan, dengan stiker di kaca depannya “TAILOR” atau “MODISTE” dengan nama masing-masing, seperti misalnya DANA TAILOR atau ANAS TAILOR. Ada juga yang namanya butik, yaitu toko yang menjual baju satu model untuk satu buah baju saja, yang artinya eksklusif, tidak ada duanya. Kadang harganya mahal, jauh di atas harga ritel di toko yang bajunya satu model untuk seribu potong, tapi tergantung juga pada pemiliknya. Ada seorang temanku, yang hobi merancang baju gamis muslimah, dia membeli kain, menjahitkannya dengan model yang dia rancang, kemudian menjualnya di butik miliknya sendiri dengan harga murah (ada sepotong gamis di lemariku dari butiknya, murah dan bagus). Ada cara dengan menggunakan jasa perancang baju (fashion designer) yaitu meminta seseorang untuk merancangkan baju untuknya dan membuatkannya sesuai ukuran. Dijamin mahal dan tidak ada duanya. Yang terakhir ini mungkin tidak terjangkau bagi kocek rakyat jelata sepertiku, kecuali baju untuk acara spesial seumur hidup yaitu pernikahan (tapi bagiku masih terlalu mahal, nanti menyewa saja).

Bagi pelanggan penjahit pinggir jalan sepertiku, ada risiko yang harus diambil dalam mempercayai pemberi layanan jasa menjahit ini. Ada kontrak yang berdasarkan kepercayaan, ditambah nego harga, ditambah kesabaran dalam menanti hasil jika penjahitnya ada masalah dalam memenuhi tenggat waktu, atau masalah dalam memenuhi keinginan kita tentang model atau ukuran. Yang terakhir ini penting sekali, kalau kehilangan kesabaran dengan seorang penjahit maka kita akan kapok ke sana dan memulai pencarian penjahit yang cocok, bisa dipercaya, murah, dan sejumlah syarat lainnya.

Pernah aku menggunakan jasa penjahit langganan sejak kecil sampai kira-kira aku kuliah. Bahkan aku sampai merekomendasikan ke teman-temanku saat mereka mulai memakai jilbab dan ingin menjahitkan beberapa gamis. Penjahit ini adalah sepasang suami istri muda yang membuka lapak di rumah sendiri. Suatu ketika aku merasa kecewa akan hasilnya yang tidak sesuai deskripsiku dan gambar model baju yang kubuat. Aku pernah juga mendapat rekomendasi penjahit baju pesta yang letaknya agak jauh dari rumahku. Saat aku ke sana untuk menjahitkan kain untuk seragam walimah sepupuku, sang penjahit bertindak patriarkis dalam diskusi tentang  model baju yang kumau. “Ya jelek lah mbak kalau seperti itu. Mendingan begini… Mendingan begini…” dan aku merasa gondok. “Ini kan baju yang akan kupakai, kenapa kamu komentar tentang modelnya yang menurutmu jelek. Kalau jelek kan risikoku sendiri. Kalau aku akhirnya ikut saranmu dan ternyata jelek, apakah kamu mau tanggung jawab?”  Aku menggerutu dalam hati sebelum akhirnya menyetujui semua sarannya. Saat gaun itu jadi, benarlah aku kecewa karena ‘jatuhnya’ di tubuhku tidak sebaik harapanku, dan aku menyalahkan sarannya yang menyesatkan. Sejak saat itu aku kapok menggunakan penjahit itu.

Aku pernah ikut ibuku menggunakan penjahit langganan ibuku untuk membuat rok. Iya, mahasiswi kedokteran kampusku wajib memakai rok (dari beberapa puluh fakultas kedokteran di Indonesia, yang masih mewajibkan rok untuk mahasiswinya mungkin kurang dari sepuluh). Namun hasilnya aneh, modelnya agak tidak bisa kuterima. Waktu itu kainnya memang bagus, jadi walau modelnya agak membuatku kecewa, tetap kupakai (kotak-kotak warna coklat, dan sempat disangka seorang teman dari Belanda bahwa ini kain khas Indonesia, hehe). Lagi-lagi aku batal menobatkan penjahit itu sebagai penjahit langganan.

Tiga kisah di atas hanya sebagian dari kumpulan kisahku dengan para penjahit. Ada penjahit yang salah mengukur kain sehingga baju yang dibuatnya terlalu kecil untukku. Terlalu sempit. Lupa menambahkan kain furing. Salah mengira tentang tanggal tenggatnya. Lupa menambahkan kantong di rok, dan lain-lain.

Tuntutan yang tinggi dariku mungkin belum akan selesai. Mungkin untuk menghentikan “sebal dengan penjahit ini, dan memutuskan untuk kecewa dan tidak akan menjahitkan ke situ lagi” dan mulai “mencari penjahit lain lagi dan berharap kali ini beres” adalah dengan membayar perancang baju yang mahal dan profesional, yang minimal bergelar sarjana jurusan fashion design. Ada kemungkinan juga semua ini ternyata salahku dalam mengkomunikasikan kebutuhanku. Aku butuh selesai tanggal segini, aku butuh model yang seperti ini (harus dengan gambar, jika perlu gambar tiga dimensi), dan aku harus menyaksikan sendiri si penjahit menulis semua detil yang kumau. Beberapa kasus yang kualami adalah aku kurang ‘memaksa’ penjahitnya untuk menuliskan semua kebutuhanku di buku catatannya. Aku sering menyerah pada “iya mbak, inget kok”. Aku pikir, ternyata penjahit itu mungkin seperti dokter, harus mengingat prinsip “tulis yang dilakukan dan lakukan yang ditulis” untuk menghindari dituntut oleh pasien/pelanggan.

Atau tentu saja aku sebaiknya sabar dan menyadari bahwa para penjahit di pinggir jalan itu hanya orang-orang yang sabar mencari rejeki Tuhan dengan halal, dengan kemampuan seadanya dan sikap terbaik yang bisa mereka tampilkan pada para pelanggannya. Mungkin aku harusnya tidak menuntut banyak karena baju hanyalah baju, bukan definisi pribadi seseorang. Orang yang cantik dan langsing ya akan tetap seperti itu walaupun bajunya jelek atau tidak sesuai keinginannya. Toh yang merasa tidak bagus kan diri sendiri, sementara orang lain mungkin bilang “aih bajunya bagus.” Lagi pula ada yang namanya “meminta tolong si penjahit untuk memperbaiki baju hasilnya sampai sesuai keinginan,” atau “mengkoreksi ukuran sampai pas” atau “memaafkan dan berharap kesalahan yang ini tidak terulang.” Yang terakhir mungkin sulit, karena reaksi emosi sesaat lebih mengarah pada “ah cari yang lain saja” daripada memutuskan bahwa kesalahan manusiawi ini tidak akan terulang.

Dari para penjahit ini aku semakin tahu betapa tidak sabarnya diriku, betapa seringnya aku menuntut orang lain untuk memenuhi keinginanku. Mungkin juga semua itu masih dapat ditoleransi asal aku cukup artikulatif menyampaikan maksudku. Aku harus memastikan efektivitas dan efisiensi komunikasiku untuk mencapai keinginanku.

Sekali lagi, apa yang bisa kuharapkan dari jasa seorang yang tidak profesional, yang tidak belajar ekspertisinya dari bangku formal, dan yang tidak menghargai kontrak kepercayaan setinggi para profesional? Untuk menghindari rasa kecewa sebaiknya aku mulai mempertimbangkan untuk menyewa jasa perancang baju. Bukan penjahit pinggir jalan. Bagaimana jika aku mengeluhkan harga perancang yang mahal? Maka aku harus mulai realistis dengan menerima segala kekurangan para penjahit non profesional itu. Belajar menjahit baju sendiri? Mungkin suatu saat, tidak dalam waktu dekat.

Memperbaiki Sikap

Seringkali aku menggunakan blog ini untuk menasihati diri sendiri ketika self talk tidak berhasil. Aku menulis serapi mungkin dan mempublikasikannya ke seluruh dunia demi menyindir diri sendiri.

Baiklah, tulisan ini salah satu sindiran juga.

Suatu pagi aku terbangun kesiangan dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu sebelum solat subuh. Yah memang sih, solat subuh di waktu dhuha, tapi aku bisa apa.. Tiba-tiba dari kamar ortu terdengar panggilan untukku. Aku memutuskan untuk berteriak untuk menjawab panggilan itu, bukan membuka pintu kamar ortu dan bertanya dengan sopan apa yang bisa kubantu. Aku berteriak tentang prioritasku untuk segera wudhu dan solat dan aku butuh lima menit sebelum ke sana.

Di waktu yang lain aku sibuk menanggapi perkataan ortu dengan pengetahuanku yang kurasa cukup luas, yah relatif lebih luas dibanding pengetahuan ortuku. Waktu itu kami membicarakan tentang kesehatan. Justifikasiku, selalu, bahwa ortu sudah membayariku berjuta-juta dan mendukungku bertahun-tahun untuk akhirnya aku diperkenankan Tuhan menjadi seorang dokter, jadi mereka harus percaya dengan apapun yang kukatakan tentang kesehatan manusia.

Tidak jarang pula aku berharap ayahku adalah seorang dewa yang tidak pernah salah. Aku selalu punya ide tentang seseorang yang sempurna (jika ada, jika tidak berarti yang sedang kubayangkan adalah sebentuk dewa atau apalah), dan ayahku selalu kubandingkan dengan sosok sempurna itu. Aku selalu menemukan perbedaan antara ayahku dan kesempurnaan itu dan memutuskan untuk merenunginya atau marah dengan adanya perbedaan itu.

Aku yang beberapa waktu lalu merindukan kehidupan yang lain, seperti misalnya tinggal di suatu rumah dengan seorang asing yang ganteng (suami, maksudnya, kan asing tuh, bukan keluarga) sempat berjanji pada diri sendiri untuk memperbaiki sikap ke orang lain. Lalu aku mulai lelah dengan bayanganku, mungkin karena semakin tua, aku mulai menyadari bahwa sikapku sekarang menentukan diriku di masa depan.

Aku bertanya-tanya bagaimana aku bisa bersikap super romantis pada suamiku nanti jika aku merasa kesulitan untuk menjawab dengan nada rendah dan tenang atas pertanyaan atau panggilan atau teguran ortu? Bagaimana mungkin aku bisa memprioritaskan kebahagiaan suami nanti jika memenuhi keinginan ibu yang sederhana saja berat kulakukan? Apa bedanya bersabar dengan orang tua (haha, padahal ortu yang sudah banyak bersabar dengan anak macam aku ini) dengan bersabar dan bersikap baik pada suami? Apa bedanya menyayangi adik dan kakak sepenuh hati, sesabar mungkin, memahami dengan penuh pengertian, dengan bersikap baik setiap hari ke pasangan hidup yang benar-benar orang asing?

Manusia terbaik yang pernah tinggal di bumi ini, Salallahu’alaihi wassalam, pernah berpesan pada para pengikutnya, yang berarti termasuk diriku juga, bahwa orang terbaik adalah orang yang baik pada keluarganya (terutama istrinya). Dalam sebuah khotbah yang kudengar di yutub, pak ustadz mengatakan bahwa pesan itu memiliki arti tersirat bahwa justru bersikap baik kepada anggota keluarga merupakan salah satu hal tersulit. Sangat mudah bersikap ramah ke kolega, bawahan, atau murid, atau teman yang hanya bertemu beberapa jam sehari. Namun dibutuhkan kepribadian yang matang untuk menjaga sikap ke anggota keluarga sendiri. Sangat mudah tampak baik dan sabar, tidak emosional, dan penuh penghormatan ke orang lain di luar rumah tapi hanya orang-orang berbudi baik yang tetap bersikap baik sesampainya di rumah dalam keadaan fisik dan mental yang lelah sepulang kerja.

Pak ustadz itu dalam khotbahnya yang lain yang berjudul berbuat baik pada orang tua, mengingatkanku untuk tidak meminta pengecualian. “Tapi ayahku begini dan begitu, kau tidak mengerti, Tadz” tidak bisa diterima. Semua orang akan meminta pengecualian serupa. Terima, hormati. Titik. Orang-orang terdekat memang sering menjadi sasaran utama atas tuntutan-tuntutan kita. Kita menuntut kasih sayang, balas budi atas kasih sayang dan respek kita, pengertian, dan banyak lagi. Mungkin tuntutan itu wajar tapi mengutamakan kesadaran bahwa manusia punya keterbatasan itu lebih penting. Bahkan mengingat bahwa orang-orang terdekatlah yang pertama berhak atas cinta dan kasih sayang kita lebih penting dari sebagian besar hal dalam hidup ini.

Dengan berbuat baik setiap saat kepada orang-orang terdekat, mungkin akan lebih mudah untuk menghormati siapapun selain orang tua sendiri. Akan lebih mudah untuk menghormati suami (atau menyayangi istri) nanti dan melayani sepenuh hati. Akan lebih mudah pula untuk menjadi original di depan orang lain, asli tanpa tipuan, tanpa dibuat-buat. Sehingga kita tidak perlu repot menjaga citra yang bukan milik kita.

So don’t be yourself. But be your best self.

Penyakit Langganan bernama Sinusitis

Akhirnya tergoda juga untuk bercuap tentang sinusitis alias radang rongga sinus. Selamat menikmati…

Riwayat Penyakit Sekarang

Suatu hari aku mengalami gejala flu berupa bersin-bersin, nyeri kepala, sedikit demam, dan hidung meler. Sungguh tidak nyaman, rasanya ingin melepas kepala dan menaruhnya di rumah sebelum berangkat ke kampus. Hehehe. Esok harinya secara ajaib tampaknya flu itu hilang. Namun hari itu bukan berarti langsung sehat, karena kepala ini masih berat tapi rasanya melayang-layang, rasanya setengah sadar. Selain itu ada sedikit dehem-dehem karena rasa tidak nyaman di tenggorokan. Untung kemampuan menyetirku tidak terganggu, dan aku masih bisa jaga ujian SBMPTN tanpa jatuh pingsan. Entahlah, rasanya ada yang tidak beres dengan kepala ini. Singkat cerita aku berinisiatif membandingkan mukosa kelopak bawah mataku dengan milik seorang teman yg sedang hamil tua (cara praktis para dokter untuk menilai adanya anemia, walau tidak selalu akurat) dan akulah juara mukosa terpucat. Baiklah jadi kepala melayang ini karena anemia karena aku kurang zat besi karena aku jarang makan sayur hijau dan daging merah. Baiklah.

Esok harinya sakit kepala ini tidak mau pergi juga. Oh ya, aku sudah mengkonsumsi antipiretik dan suplemen zat besi demi melayani diagnosisku sendiri. Kemudian aku tetap setia berdehem-dehem seperti seseorang yang mendadak ditunjuk untuk memberikan pidato. Kemudian aku memikirkan “nyeri kepala dan dehem” demi mengingat keberadaan seorang teman lama dengan dua ciri tadi yang sangat khas itu: sinusitis! Maka jemari ini langsung mengetuk-ketuk tulang pipi kanan kiri; aduh, sakit! Baiklah, begitu saja, sinusitis datang lagi, menyapaku dengan gaya khasnya: tanpa ampun.

Diagnosis

Esoknya (alias hari keempat) aku mengikuti seminar tentang beasiswa ke luar negeri dan menemukan seorang teman bergelar spesialis telinga hidung tenggorok kepala leher (mantap kan) di ruangan itu. Obrolan singkat kami yang kuawali dengan ‘bu saya sinusitis nih’ membuat beliau menuliskan resep untukku yang terpaksa kupangkas jumlahnya saat membelinya di apotek demi bisa membayar sampai lunas.

Sepertinya ini her kecil bagiku, bahwa sakit kepala yang agak lebih berat dari biasanya kemungkinan disebabkan oleh hal serius semacam sinusitis, tidak mungkin hanya karena lapar, misalnya.

Terus Anemianya?

Oya mengenai diagnosis banding pertamaku yaitu anemia (alias berkurangnya kemampuan distribusi oksigen oleh sel darah merah), sepertinya begini ceritanya: sinusitis yang gejalanya termasuk mukosa hidung yang membengkak menyebabkan napasku kurang lega, yang dianggap oleh sel-sel di ginjal sebagai kekurangan oksigen yang kemudian memicu eritropoetin untuk bekerja. Eh saat eritropoetin siap, ternyata persediaan besi dalam tubuh tidak cukup banyak, jadilah anemia. Pada keadaan biasa, mungkin mukosa kelopak bawah mataku selalu pucat (yang mungkin berarti kadar Hemoglobinku kurang) tapi aku tidak mengeluhkan kepala melayang karena masih bisa ditoleransi. Namun pada keadaan hidung tersumbat yang mengurangi suplai oksigen, rendahnya Hemoglobin itu menimbulkan masalah.

ejekan khas kartun; beginilah cara praktis memeriksa anemia
ejekan khas kartun; beginilah cara praktis memeriksa anemia

Gejala Nyeri Kepala Hebat

Aku juga jadi ingat kisah seorang sepupuku yang mengeluh nyeri kepala hebat beberapa tahun lalu. Saat itu aku masih koas culun yang bodoh namun sombong, dan hanya mengangguk-angguk ketika sang sepupu menceritakan kunjungannya ke neurolog. Bahkan dia sudah menjalani EEG dan CT-scan tanpa ada hasil berarti. Aku ingat dia juga mengeluh ‘agak pilek dan batuk dikit tapi gak berat. Sakit kepalanya itu lho yang berat’ tanpa menyadari bahwa pilek ringan itulah gejala kunci sinusitis. Maksudku, bahkan neurolog pun lupa memikirkan sinusitis sebagai penyebab nyeri kepala hebat itu (si sepupu sampai bolos beberapa hari dari sekolah dan hobi guling-guling di kasur menahan sakit saking beratnya). Sekarang kisah ini hanya sejarah, karena si sepupu sudah menjalani operasi drainase sinus. Hore!

Oya keluargaku memiliki gen berprofil alergi, dan tipe alergi yang kuderita adalah rhinitis alias pilek di keadaan dingin atau tempat berdebu. Nah sinusitis ini timbul sebagai komplikasi dari rhinitis alergiku itu. Kali ini hanya diperlukan serangan rhinitis alergi sehari  saja untuk memunculkan sinusitis ini. Yang tadinya ingin bersorak ‘hebat betul pilek cuma sehari, Alhamdulillaah’ langsung aku urungkan karena ternyata pilek itu langsung menyusup masuk ke sinus dan bergerilya dari dalamnya.

Terapi: Pentingnya Antihistamin

Nah kejadian sinusitis ini seharusnya biasa saja, namanya juga penyakit langganan, sekitar tiga kali setahun. Terakhir dia datang bulan November waktu aku di Melbourne, dan seingatku selama 8 bulan di Melbourne aku hanya mengalaminya sekali. Yang berarti tahun 2012 kemarin aku cuma menderita dua kali yaitu sekitar awal tahun dan di bulan November itu. Mungkin karena udara Melbourne yang bersih, atau mungkin karena di kehidupan terdahulu, habitatku di Melbourne, bukan tanah Jawa (mulai waham). Yang unik dari sinusitis kali ini adalah seminar gratis tentang alergi yang kuikuti beberapa minggu sebelumnya.

Seminar itu keren karena aku dapat doorprize (hehe, tidak penting ding ya), dan karena pembahasan alerginya cukup komprehensif. Seminar kedokteran yang gratis bisa diselenggarakan jika dan hanya jika ada sponsor dari pabrik obat. Nah seminar itu disponsori oleh produsen antihistamin, sehingga materi seminar juga membahas banyak tentang antihistamin.

Pulang dari seminar itu rasanya aku mendapat insight baru tentang pentingnya antihistamin dalam pengobatan sinusitis.

Dia bukan hanya obat simtomatis yang berfungsi meringankan gejala. Ternyata dia penting untuk menyembuhkan, karena sinus bisa meradang jika pintunya tertutup oleh bengkaknya mukosa di situ, yang bisa dikurangi dengan bantuan antihistamin. Oh, antibiotik pun masih opsional karena ternyata sebagian besar sinusitis disebabkan oleh virus. Saya sih memang tidak beli antibiotik dan tetap istiqomah rehat dari diet dulu alias makan banyak dan tidur sangat banyak.

Penderitaan berupa nyeri kepala ini membuatku mengumumkan ke banyak orang ‘pengen naruh kepala nih sampai dua minggu ke depan.’ Di akhir penderitaan (setelah dua minggu, walau aku harap kali ini bisa sampai besok saja, aamiin),  pikiran tentang pilihan operasi akan menghantui. Haruskah aku mempertahankan langganan penyakit ini? Rasanya seperti mendapat email dari majalah ilmiah gratis yang bertanya, do you want to update your subscription begitu (bukan contoh yang tepat; jarang yang keberatan dengan majalah online gratis).

Oya, Gejala berupa Dehem

Salah satu gejala penting dari sinusitis selain nyeri kepala adalah post-nasal drip alias ingus di belakang hidung.

Dari hidung sampai tenggorok ada lendir yang mengalir turun. Lendir yang lengket dan mengganggu, yang sering membuat tenggorok terasa gatal dan rasanya ingin batuk (sebagai refleks untuk mengeluarkannya). Gejala inilah yang orang-orang sebut sebagai batuk berdahak. Jika ringan, refleks kita hanya berupa dehem-dehem saja (throat clearing). Percayalah, keluhan nyeri kepala dan dehem pada penderita alergi cukup untuk mencurigai adanya penyakit sinusitis. Nah, mengapa ada post-nasal drip? Muara alias pintu keluar sinus itu lebih dekat ke bagian belakang hidung, sehingga lendir dari sinus keluarnya lebih sering ke belakang dan terus ke bawah ke tenggorok. Lucunya, pagi hari adalah saat lendir dari sinus terakumulasi paling banyak di belakang hidung (karena posisi berbaring semalaman). Dan, maaf jika jorok, aku sering terpaksa sarapan post-nasal drip karena itulah benda pertama yang kutemukan yang paling bisa ditelan menuju lambung (hiiiiy). Hahahahaha. Jorok ya.

Aku menuliskan kisah ini dengan kepala yang masih sedikit melayang tapi sudah banyak terbantu oleh antihistamin dan steroid. Oya, aku tidak menyarankan diagnosis diri sendiri lho. Aku cuma cerita betapa sinusitis sang penyakit langganan itu sering terlupakan, kedatangannya yang tidak diinginkan pun bisa dalam bentuk yang tidak terlalu khas. Begitulah. *ehem-ehem*

A Brunch and A Crush

“How about you, what specialty do you intend to take?” He asked enthusiastically over a steaming-hot bowl of soto, an Indonesian chicken soup with lots of candlenut.

“Umm, I don’t know, I am not sure. Even whether to take a specialty or remain a GP for the rest of my life.. But if I have to choose, I would love be a heart doctor.” I squeezed a slice of lime into my own bowl.

“What do you call doctors who help delivering babies?” he added curiously and a bit apologetically.

“OB/GYN.”

“Yeah, that.”

“Umm..”

I explained to him that I am not someone who can take that much pressure to be an OB/GYN doctor. I don’t have my whole days for other people too, waking up at 2 am to help moms, and so on. He was empathetic enough when he said,

“Ah I see, that’s why there are more male OB/GYN doctors.”

It was a brunch with someone I just met once before, happened after only a brief texting. Just like that, but it got me thinking. Well well, I am not sure whether it made me think about the specialty as a future career, or about the possibility that he could be involved in an unusual relationship with me, if you know what I mean, or merely a forgettable event of a random day with a random girl like me.

I had an answer popping in my mind immediately after I answered him. It came a split-second later than my actual spoken answer.

“I have been dreaming to be someone’s hero, if being a hero to the world is too big. I always want to do something with an instant, tangible result. I want to see the impact of my work, something to make me feel worthy and significant. Thus I was thinking of the professions that meet my dream. They are the orthopedic surgeon, who can always go abroad to be a volunteer, taking care of troubled limbs, saving lives in countries at wars, or being a public health expert who goes to developing countries (or rural areas in Indonesia!) and takes charge of the health education, the children’s immunization and health checks. Lately I found that OB/GYN doctor is also a hero, making the continuation of the generations possible.

I was so sure I would undergo whatever it takes to be my version of a hero, before I redefined what life really is. Or at least, how I can handle this life. I concluded that I can only create a good result by doing it with love. Thus I need to make sure that what I do is what I love to do. I realized that I can’t be doing something significant enough if the drive is not coming from within me. I can’t do my best if I am told what to do. I need to fall in love in what I do to bring a quality to the result. It would be too hard for me to drag myself, or push through if I don’t have passions in it. I need to guarantee myself that I won’t quit in the middle of the road.

Being an OB/GYN doctor is a good example of being my version of a hero, doing something with an instant and satisfying result. While, for example, a heart doctor may not see his impact in days or weeks, but maybe in years.

Long story short, if I don’t love it, I won’t take a particular pathway. I won’t take the risk of ruining it and disappointing people around me. I would rather, apparently, do something small and insignificant with all my heart. Oh, and secretly send prayers to God to bless what I do. And of course I respect those who want to be some kind of a hero, and appreciate their motivations and abilities to pursue their dreams. I just realized that I am not one of those awesome people.”

But you know, I ended up giving an unfinished answer and kept the ball rolling by asking about his future career. I am sure I have so many events in my life where I regretted what I said, and wished to say some other thing, or say it differently. This was definitely one of those events. But, whatever. No one would bear to listen to my long, boring explanation, either. Oh, and by the way, with my previous experience of having over-expectations, I have no comment on this guy, like, at all. *grin*

A heart in love is like a garden full of blooming flowers.
A heart in love is like a garden full of blooming flowers. (The Royal Botanical Garden, Melbourne, Australia)

In case someone wonders what I do

I have a medical background. So some people might expect that I see patients on a daily basis, wearing a stethoscope as a necklace, or give consultations on the phone. I am none of the above. I may be, one day, hopefully, but certainly not now. I am currently sitting on two chairs at once which I would further explain in two sections.

Scientist
Basically scientists are a bunch of people who are curious and serious about their curiosity. They are the ones who are willing to spend the rest of their life to answer their questions. Proving something or finding something by experiments or surveys or analyses. The results might answer some of world’s problems but they might as well become the foundation of further researches, or simply general knowledge. “For the sake of science itself” is my friend’s favorite answer when someone asks him what his aims in his researches are. He works on sex determination genes in chicken, by the way.
I jumped into this field for I need to do a research for my master’s thesis. Then here I am, among the scientists, working in the lab with pipets, DNAs, reagens, and advanced machines. Covered up by eye glasses, lab coat, and hand gloves, I learn to pipet correctly and keep clean in everything I do.
Scientists have meticulous conclusions and tend not to generalize or simplify. Their work is specific and focused. Scientists are also patient people, more like marathon runners rather than sprinters. Their pathways are long and often times windy. Experts in social science might say that scientists think linearly but for sure they use systematic approaches and believe only in facts and evidence and set aside opinions.
Now I enjoy reading journals and any publications about updates in science, especially biomedical science. It is always fun to know what other people in the world are doing with the advancement of technology and knowledge. Reading those journals keeps me expecting a brighter future be it a cure for AIDS or convenience in living this life.

Counsellor
Counselling is a part of psychology. It deals with good communication, empathy, and human relationship. Counsellors are people with empathy and good communication skills. I get to sit with these guys learning how to deliver a bad news to a family, how to understand what the family needs and feels and make them feel helped. Those sort of things are feasible to do in daily life simply by listening to a friend who has problems and make him/her feel better after talking to us. Informative counseling is also important as these counselors are the ones who have the responsibility to convey any findings or information regarding the conditions. Not only empathy is needed but also knowledge of a particular field is crucial to master in order to give the correct information.
Now I tend stuck up my nose for having seen patients and listened to their complaints, but it is possible that physicians in general don’t have the counseling skill, they just consult, not counsel.
Those two are basically what I do now in this beautiful continent in southern part of the earth. I keep questioning myself about my interest for my future, is it a scientist, or a counselor, or both? But then there is a third option. It is being a physician. Or well, you can be the three of them; doing researches, counseling people, and treating patients.
The third option has always been there but for a few months lately it was obscured by the overwhelming activities I have in this institution. I was reminded about an option of seeing patients by an accidental event of coming across a doctor from very own Indonesia and getting to talk to him. He is a pediatrician who undertakes fellowship in gastroenterology here. I looked forward to talking to him again about my doubts of future or about my thirst on medicine lately.
Whenever people ask me what I want to do in the future I still have no clue. I hope they don’t ask me until I have the answer.

Note: counsellor is a British spelling, since I am in Oz, you know..

Dokter dan Hakim

I put an Indonesian title and wrote in English not for nothing. I intended to attract people to read this post, while I can still practice writing for my thesis (what?!).

It came all of a sudden when I do my routine at night; opening my blog, tumblr, twitter, facebook, gmail, yahoomail, and bank account (ups, forget about the latter :p). There were some updates in some of the sites I opened, but the most exciting was always the orange callout in this particular site. Obviously it meant something came, be it a comment or a follower or a thumb. Well, nevermind, I was just trying to explain why I bothered writing this topic in the first place. I was so furious about what I read from one of the callouts that I wrote this post.

I would like to introduce myself, again, that I am judgemental. I’m not necessarily proud of it, for sure, but what I also want to declare is that I am ON MY WAY to being MUCH less judgemental (it was just another self-suggestion that I needed to type in capitals). One of my efforts to reduce that troublesome trait is to stop judging (of course!). I even want to list anything that can prevent me from judging. Here are why judging is detrimental:

And who am I to judge you?

(Sometimes When We Touch by Dan Hill, a good song anyway)

Alloh Menghitung amal kita dan memutuskan baik buruknya kita di akhirat nanti, bukan sekarang di dunia ini; apalah kita main nilai orang atau sesuatu?

(A wise friend)

I have a big respect to anyone who are not judgemental. I want to be like them (yes, maybe like you, who reads this post). Teach meeee..

And, since I am more of an analytic rather than a synthetic person, I like to put things in analogy. I love figuring out why something happens, what are the factors contributing to an event, etc. Thus I love comparing two things and trying to extract similarities in order to implement one’s principle into the other. See my previous posts; just too many analogies I made, even too many irrelevant ones. Yet I kept going with this post. :p

Anyway, one of my analogies about judging anything or anyone is like hitting one’s gavel, being a judge to something or someone. The decision making is to be left to the judge who has the power and knowledge to do so. The judge will certainly hit his gavel saying whether someone is guilty after doing a thorough research on the case. As I said here and there in my tweets that the gavel we carry in our pocket should be discarded very soon because it is heavy. It will hinder our journey in this world, it may even make us slower in movement because of the weight. I am not playing judge in this life (aamiin).

Doctor might as well be an analogy to this. Doctors should not make a diagnosis without performing any examination. Can you imagine if a doctor says you contract a particular disease and then gives you certain treatments just shortly after he sees you even he has not spoken anything or asked anything to you? While he should have done the correct pathway of a decision making before giving any treatment?

Well, let’s say in another word this way: imagine a detective points his finger at one of the suspects as a convicted before investigating anything? It will always be good if the detective (or the doctor) is right about the decision, but how if he is wrong? What will happen to the suspected person (or patient)? Judging equals to making a diagnosis without any history taking and/ or physical examination, let alone laboratory work-ups. Simply risky if not disastrous. I am not saying anything about if the diagnosis is wrong despite the complete work-ups. That is another case that you may refer to good books, for example How Doctors Think. Moreover, there are exceptions like ER doctors who need prompt actions competing against time to save lives. However, are we facing an urgent matter whenever we judge something or someone? I don’t think so.

All in all, judging something or someone without me knowing the actual matter/ person is one of the last things I want to do in my life. Surely I am still light years away from being non-judgemental. Yet I am trying the best, may Alloh Help me, and us. Aamiin.

Going back to the title, let’s become a good judge by hitting our gavel properly and a good doctor by making a proper diagnosis based on evident. But I am pretty sure that searching through those evident might take a lifetime to finish, even more than that. We won’t know about something or someone thoroughly until we become a professor on that matter or until we put our feet in that person’s shoes. So now let’s not become a judge for we don’t search through the case, nor become a doctor for we don’t scrutiny someone’s history or perform physical examinations or order laboratory work-ups.

Galau (episode 2-selesai)

(lanjutan)

Pada akhirnya aku tidak bisa dikategorikan sebagai bagian dari suatu komunitas ilmiah ketika aku terlalu gegabah menyimpulkan banyak hal dalam tulisan ini. Satu contoh adalah bahwa ketika kubilang gemuk berarti tidak bahagia, dan bahwa ilmuwan di sini hidupnya tampak bahagia hanya karena mereka selalu ceria.
Kembali kepada ketiadaan jawaban untuk pertanyaan apa yang akan kulakukan dengan hidupku, ini bukanlah kasus gawat darurat. Aku punya waktu untuk menjawab. Namun tentu saja semakin cepat semakin baik. Semakin dini aku memutuskan tujuanku, semakin dini aku berangkat sehingga ketika sampai tujuan matahari masih bersinar.
Teringat pembicaraanku dengan seorang mantan teman baik (sekarang hanya teman karena kesalahanku sendiri), bahwa kadang cita-cita hidup tidak harus selalu diutarakan dalam kalimat konkret seperti pekerjaan atau karir, karena apapun yang terjadi nanti pasti baik jika kita selalu melakukan yang terbaik mulai sekarang dan seterusnya. Aku sangat ingin berpegang pada kalimat itu, dan kupikir semua orang sudah melakukannya. Maksudku sebagian besar orang yang kukenal melakukannya; memiliki niat baik untuk mengabdi pada bumi dan penghuninya, yang sesungguhnya merupakan ejawantah dari pengabdian kepada Tuhan. Tetap saja aku galau, apa peranku di bumi ini?
Kesimpulan sementara adalah aku menghindari jika ditanya mengenai cita-cita dalam hal karir. Saking bencinya, aku ingin waktu berhenti sehingga aku bisa menangis sepuasnya, atau memandang semua orang bergerak di sekitarku melakukan pekerjaan mereka sehingga aku bisa segera memutuskan apa yang ingin aku lakukan. Namun apakah waktu cukup permisif padaku?

Galau (episode 1)

Suatu hari aku ditanya mengenai apa yang akan kulakukan dengan hidupku di masa depan. Sam yang menanyakan. Kujawab, aku ingin sekolah spesialis, kemudian sekolah doktor. Stop sampai situ dia bertanya apakah yang akan aku lakukan dengan dua tahap pembelajaran tersebut. Tujuan spesifik apa yang kamu arah, dan aku tidak bisa menjawab.
Di suatu hari yang lain seorang teman di lab menceritakan padaku bahwa seorang mahasiswa kandidat doktor akan mulai aktif lagi setelah cuti beberapa bulan. Dia adalah seorang dokter ahli endokrin anak yang mengambil sekolah doktor, jadi temanku ini pikir pasti akan seru jika aku bisa mengobrol dengannya. Aku setuju. Namun temanku menambahkan bahwa orang ini tampaknya kurang memiliki motivasi yang kuat untuk menjalani sekolahnya karena terlalu sibuk sehingga merepotkan banyak orang di lab untuk menyelesaikan penelitian-penelitiannya. Dari situ aku merespon bahwa aku takut jika itulah hal yang wajar terjadi di mana pun di dunia; seorang dokter spesialis sukses yang ingin mendapatkan gelar doktor demi menambah kesuksesan itu sendiri, supaya semakin tampak kredibel, dan semacamnya.
Beberapa minggu kemudian seorang professor yang juga ahli genetik bertanya padaku apa yang akan kulakukan di masa depan. Dengan pengalamanku bersama Sam di mana aku merasa malu karena menimbulkan kesan bahwa aku hanya mengejar titel dan bukannya punya tujuan spesifik dengan cita-cita sekolahku, maka aku memilih diam. Sang professor tidak memberikan komentar apa-apa, kecuali tawa kecil ketika aku menegaskan bahwa di umur 26 tahun ini aku belum mengetahui apa mauku.
Di hari-hari berikutnya, aku menikmati setiap seminar ilmiah yang diselenggarakan institusi ini. Sebagian besar aku tertidur, tentu saja, karena makan siang gratis yang enak yang selalu tersedia. Namun di saat-saat aku terjaga, aku mengagumi bagaimana para ilmuwan ini menemukan ide untuk memulai penelitian yang mereka presetasikan di depan. Tentu saja sebagian besar materi pembicaraannya tidak kumengerti, sebagian karena bahasa Inggrisku, dan sebagian lainnya karena aku tidak cukup banyak membaca dan belajar tentang apapun yang mereka presentasikan.
Orang Jawa bilang bahwa menungso iku sawang sinawang. Secara harfiah kalimat tersebut berarti manusia itu saling memandang. Makna di balik kalimat itu adalah kita hanya bisa menilai orang dari apa yang kita lihat. Tentu saja hal itu tidak mungkin untuk dijadikan patokan penilaian karena yang tidak kita lihat jauh lebih banyak. Dengan pandanganku terhadap komunitas ilmuwan di institusi ilmiah ini, aku melihat kebahagiaan dan ketentraman di wajah orang-orang di sini. Mereka tampak bahagia. Mereka berinteraksi sosial secara normal, punya keluarga, bergaul dengan teman sesama di lab dan di luar lab. Mereka juga tampak berkecukupan secara ekonomi. Mereka masih muda, sebagian besar langsing, dan ramah. Mereka langsing karena mereka cukup berolahraga dan makan sehat, yang menurutku merupakan indikator kebahagiaan karena tidak menjadikan makanan sebagai sumber kebahagiaan yang berujung kegemukan.
Maka sampailah aku pada kesimpulan bahwa menjadi ilmuwan adalah salah satu karir pilihan yang patut dipertimbangkan. Tampaknya aku akan bahagia dalam kehidupan seperti ini sampai akhir hayatku, di mana aku selalu bisa meneliti di lab yang nyaman dan canggih semacam ini. Aku bisa berinteraksi dengan orang-orang ramah seperti mereka ini. Aku bisa selalu mendengarkan pembicaraan ilmiah yang bergaung di udara. Aku bisa mendapatkan pembiayaan penelitian yang aku lakukan bersama suatu tim atau bersama supervisorku. Aku akan menjelajah internet atau membaca jurnal ilmiah yang tersebar di ruang minum teh atau di perpustakaan. Aku tidak perlu khawatir tentang neurosisku ketika bertemu pasien dan tanggung jawab moral untuk membuat mereka merasa lebih nyaman. Aku tidak perlu khawatir malpraktik. Aku akan bisa terus bergantung pada seseorang mengenai proyek penelitian yang akan aku lakukan. Yang harus aku lakukan adalah menciptakan kredibilitas dan mempertahankannya agar aku selalu bisa terpakai.
Aku sadar pertimbangan barusan murni karena neurosisku, dan bahwa aku cenderung tergantung orang lain. Ada diagnosis klinis untuk itu, yaitu gangguan kepribadian tipe dependen. Bagaimanapun juga, aku merasa ilmuwan adalah pelabuhan paling tepat untuk hidupku, karena ini adalah posisi final di mana aku tidak perlu merasa terancam secara mental. Tentu saja posisi ini sendiri aslinya sudah menantang dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memaksa kita untuk terus maju dalam berpikir dan bertanya.
Aku ingat di awal tahun ini seorang professor yang baik hati menanyakan cita-citaku. Aku menjawab bahwa aku ingin menikah dan punya tiga orang anak. Seperti sebelumnya, professor ini mengganti topik pembicaraan sebelum akhirnya berkomentar apakah mungkin aku mendapatkan seorang suami dalam waktu dekat untuk mencapai tujuan itu. Pembicaraan itu menjadi di luar konteks karena yang kutulis saat ini adalah tentang karir.
Kenyataan bahwa ini adalah pengalaman pertamaku tinggal di negara maju, atau lumayan maju, membuat perenungan ini bias dan terlalu gegabah. Bisa saja apapun yang kulihat adalah hanya suatu kemapanan yang menyilaukan, yang bisa terjadi di bidang pekerjaan apapun. Sangat mungkin bahwa aku hanya tidak ingin praktik sebagai dokter. Selain itu, adanya kecocokan antara penelitian dengan pekerjaan sebagai dosen yang akan aku lakukan seumur hidupku, membuatku merasa ingin lompat ke kesimpulan bahwa menjadi ilmuwan adalah jawabannya.


Proposal Lagi, Proposal Lagi

Di tengah-tengah penulisan proposal thesis master saya, saya terpikir untuk mengalihkan perhatian sebentar ke blog yang sudah luama (saking lamanya) tidak saya sentuh ini.

Baiklah. Sebagai seorang akademisi (baca: mahasiswa master yang beberapa tahun lagi akan mengajar mahasiswa, aamiin) saya seharusnya berkompetensi membuat tulisan ilmiah. Saya suka menulis, itu benar. Namun tulisan macam apa yang bermanfaat bagi orang lain? Saya hanya menulis diary secara rutin, dan saya yakin itu bermanfaat bagi saya sang ekstrovert yang seringkali merasa tidak enak jika curhat ke orang lain. Saya menemukan cara untuk berintrospeksi tanpa menimbulkan kehebohan maupun ketidakenakan jika melibatkan orang lain: diary.

Nah sekarang tulisan ilmiah sudah semestinya menjadi semacam pekerjaan rutin bagi kami para akademisi. Ya kan.. Maksud saya, pastilah kami harus memperbaharui (transliterasi untuk update, betulkah?) pengetahuan kami dengan terus mendapatkan informasi valid melalui jurnal ilmiah maupun artikel penelitian.
Secara pasif kami bisa menjadi manusia berwawasan. Nah sekarang secara aktif, apa yang bisa kami lakukan selain mulai menulis? Pengetahuan terus berkembang dan kaum akademisi adalah kontributor yang mempertahankan dinamikanya. Bagaimana manusia bisa tinggal diam dengan segala pertanyaan di otaknya sementara fasilitas tersedia untuk mereka (=kami) melakukan pembuktian-pembuktian bahwa suatu pemikiran itu benar atau salah, contohnya melalui penelitian?
Sebenarnya sejauh saya menulis ini tujuan saya adalah afirmasi untuk menyemangati diri sendiri menulis proposal……

Betapa menulis proposal merupakan suatu hal yang menyenangkan. Kita bisa memasukkan apapun ke situ. Impian-impian kita. Keresahan kita mengenai ketimpangan pengetahuan yang ada. Pertanyaan tak terjawab yang akan coba kita jawab sendiri melalui metode yang telah ratusan tahun dipercaya efektif: penelitian.

Sekarang dari teknisnya sendiri, proposal merupakan suatu hasil karya yang indah. Penulisannya meliputi pemikiran mendalam mengenai sesuatu.Kemudian kita mulai mencari pendukung maupun pembangkang topik itu. Pendukung itu kita kumpulkan, kemudian kita sintesis menjadi suatu adonan yang indah, yang dimasak dengan penuh cinta untuk menghasilkan latar belakang yang hebat.
Bayangkan jika bahan-bahannya segar langsung dari alam, yaitu jurnal-jurnal terbaru terbitan tahun 2011 (ya, daftar pustaka proposal saya kebanyakan hasil penelitian tahun ini!), pastilah hasilnya lebih hebat lagi.
Hingga akhir tulisan ini, saya berharap semangat saya meningkat minimal lima kali, sehingga ‘kliping’ jurnal terbitan tahun ini yang sudah saya tempel rapi di file word bisa segera saya ulen menjadi adonan empuk yang kalis..

Ayo semangatlah. Seru, tau… 😉