My Supplication

Aku tidak pandai melantunkan doa namun aku tahu Allah Maha Mendengar dan Memahami apa isi hatiku, apa kerinduanku. Aku ingin hatiku bersih sebening cermin yang memantulkan kebaikan yang mengenainya. Aku ingin kekotoran di dalamnya sirna bersama penyesalan dan pembelajaran untuk tidak mengulanginya. Aku ingin kebutuhanku, baik jasmani maupun rohani, tercukupi dengan mudah sehingga hidupku hanyalah untuk berbakti, bukan menuntut minta dibagi. Aku juga ingin menjadi berkah bagi sekitarku, bukannya membebani atau menimbulkan ketidakenakan hati. Aku ingin meneladani manusia terhebat di dunia sepanjang masa, Rasulullah Salallahualaihiwassalam.

Rasanya malu, aku banyak inginnya namun sedikit usahanya. Aku malu bahwa sabarku masih kurang cantik, bahkan jauh dari cantik. Aku malu masih ada keluh dalam lisanku, banyak syarat dalam lakuku, dan tidak segera bergerak dengan apapun yang kupunya. Aku malu pada Allah, menuntutNya aku ingin begini dan begitu, sementara langkahku menuju padaNya terseok, kadang terhenti. Aku malu meminta jodoh sementara aku tidak patut dibanggakan sebagai seorang wanita. Aku malu pada penghuni bumi yang tekun dan sabar mengusahakan kehidupan yang baik dan penuh rahmat, sementara aku sibuk menghitung kekuranganku dan menutut kebaikan dari Allah.

Kasih sayangNya sering mengagetkanku, yang DilimpahkanNya padaku, sehina apapun diriku, sekejam apapun diriku membuat judgment atas diriku sendiri, atau atas orang lain padahal aku tidak pernah tahu keadaan sebenarnya. Aku diliputi kasih sayangNya namun seringkali menutup mata dan telinga atas semua itu. Aku lupa bahwa hanya dengan menerima kasih itu dengan hati terbuka maka aku bisa meneruskannya ke diriku sendiri dan ke para penghuni bumi.

Rasanya ingin menangisi kelambanan hatiku untuk tergerak menuju cahaya. Cahaya itu selalu ada, sinarnya selalu benderang menyilaukan mata hati sekaligus menenangkannya. Namun kesombongan dan kedurhakaan kerap kali menjadi pemenang. Lagi-lagi aku hanya bisa mengeluh atas ketidakberdayaanku, dan akhirnya berbisik lirih pada Allah untuk dikuatkan, diberanikan menghadapi kehidupan, melangkahkan kaki menuju kebaikan itu. Aku tahu hanya dengan Kehendak Allah aku bisa menuju cahaya itu dan terselimuti dengan nyaman dan akhirnya berpendar terang di muka bumi ini.

Kadang kerinduan datang, untuk pulang ke kampung halaman. Namun aku takut jika Allah belum berkenan dengan ringannya timbangan kebaikanku. Aku kemudian menangis dan lelah karenanya, berharap setiap tetes air mata melunturkan dosa. Namun aku akan terbangun sebagai manusia yang lupa untuk mempercantik sabarnya, memperpanjang syukurnya, dan menahan lisannya.

Saat paling berharga sesungguhnya adalah ketika ingat aku di sini hanya mampir saja, sebelum pulang ke kampung halaman selamanya. Semua menjadi semu, tidak nyata, dan tidak penting, sehingga aku merasa rendah, tak berdaya, dan hanya mengharap pada Allah. Ingatan itu hanya bertahan beberapa menit saja dalam puluhan ribu hari hidupku, segera hilang dan terganti oleh kejumawaan dan hedonisme. Aku bersusah payah menghidupkan kembali memori itu. Semoga Allah Mudahkan. Semoga doaku terkabul. Aamiin.

IMG_20141204_134801-1

Suatu Pagi saat Sarapan

Pagi itu kuputuskan untuk memulai kembali regime protein whey-ku untuk sarapan. Protein whey sebagai asam amino, bentuk paling sederhana dari protein, dikabarkan mudah diserap dan meningkatkan massa otot sehingga melangsingkan. Beberapa tahun terakhir ini aku cukup rajin mendisiplinkan diri untuk minum protein yang cita rasanya traumatik itu. Kemudian akhir-akhir ini aku lupa, atau sekedar malas.

Ritualnya sederhana saja. Botol plastik dengan merk asal Jerman kuisi dengan sesendok penuh protein bubuk itu, kemudian kutambahkan air dingin sekitar tiga perempatnya. Aku duduk manis di ruang makan sambil mengocok botol yang sudah kututup rapat itu. Dikocok, bukan diaduk, sehingga nama populernya memang protein shake.

Aku tidak memakai alat khusus bernama shaker yang ada “roda” di dekat tutupnya sehingga aku perlu mengocok cukup kuat dan berkali-kali sebelum akhirnya seluruh bubuk terlarut. Berapa lama aku harus mengocoknya? Bagaimana aku tahu bahwa semua bubuknya sudah terlarut? Malas sekali kalau aku harus mencoba meminumnya hanya untuk mendapati bahwa belum semua bubuknya terlarut, bahwa ada gumpalan eneg yang terpaksa kukunyah. Akhirnya akal sehat sepersekian detikku memutuskan bahwa salah satu indikator sempurnanya larutan itu adalah tidak adanya endapan di pantat botol. Nah, untuk memastikan tidak ada endapan di pantat botolnya, aku mengocok dalam posisi terbalik sehingga pantat botol itulah yang selalu terlihat. Ketika pantat sudah bersih, aku bisa berhenti mengocok. Larutannya sudah aman untuk diminum. 

Dalam proses pengocokan itu pikiranku melayang ke pertanyaanku tentang kehidupan. Beginikah seharusnya menjalani hidup, memastikan terpenuhinya indikator yang mudah dipantau maka semuanya akan baik-baik saja?

Apakah ternyata tidak sesulit itu dalam menjalani kehidupan yang baik, yaitu hanya dengan memastikan kita melakukan hal-hal yang baik dengan benar?

Apakah dengan melakukan hal baik (bukan hal jahat) dengan benar (bukan dengan cara yang salah) akan memperbaiki diri ini dan mungkin memperbaiki keadaan orang lain atau dunia secara luas?

Seperti halnya aku yang hanya memastikan bahwa tidak ada endapan di pantat botol maka otomatis rasanya akan lebih enak (daripada jika tidak tercampur rata, maksudku), larutannya lebih rata tercampur, tidak ada gumpalan bubuk protein, sehingga mudah dicerna dan bermanfaat bagi tubuhku?

Ah, pertanyaan. Siapakah yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu?

Setelah kurang dari sepuluh kali guncangan botol yang kubuat, sudah tak terlihat lagi endapannya. Kubuka tutup botol itu. Buih terbentuk di permukaan. Tampak seperti milk shake. Atau teh tarik. Kubayangkan aku minum milk shake. Glek, glek, glek, beberapa detik saja dibutuhkan untuk meminumnya sampai tandas, dan selesai sudah sarapanku. Ya sih, beberapa jam kemudian ususku akan mengeluarkan bunyi peristaltiknya. Ah itu urusan lain yang harus dipikirkan.

Semoga segera langsing. Aamiin!

Oh, dan semoga tidak terlalu ribet menjalani kehidupan. Santai saja, prioritaskan hal baik saja. Semangat!

A Cliche

There was something that once did not belong to you, and one day it was yours, or at least you thought so, and then it was not yours again.

You called it a possession, but do human possess anything in this world?

Nothing lasts forever, they said. Nothing belongs to you, they said.

And there you are, crying vigorously like a baby.

Crying that what you thought yours was no longer attached to you.

You then praised your old times with that one thing.

how beautiful those moments were,

how precious the belonging was,

and there you are crying for not praising enough back then.

At the back of your briliant brain you fully understood that what was not yours would remain that way. It won’t come back to you whatever you do.

And deep down inside your heart you believe in the Divine power of Him that whatever happened was the best for you.

That the lost was part of your destined timeline.

And here you go again, crying for not trusting your God enough.

Sigh.

So, yes, indeed it is a cliche, that you don’t know what you got until it has gone.

A Note to Self

It has been a while. Anyway, I am changing but not as fast as I thought I would be.

I have been through some things. For example the New Age Movement (see google please) which was covered nicely by some popular books in my country, say Ippho Santosa’s books, Yusuf Mansur and Pencinta Sedekah tweets. I stumbled upon someone’s tweet revealing this and it all made sense. Those ‘positivity’ seems to be impossible. I would not provoke anyone to say bad things about someone’s books or whatsoever. It’s just the thought to put a trust in THE UNIVERSE itself has flaws. The fatal flaw? Associating others with ALLOH (menyekutukan Alloh, red.). Putting the universe before Alloh, while the universe itself is created by Alloh. And that’s it, end of discussion.

I felt like punched in my tummy when I knew about those whole cover ups by (maybe, who else) the illuminati.

I am still the old me who procrastinates almost everything (even going to bed, because it needs prep like brushing teeth and washing face), and I still don’t know what to do after all of these. Yes, the master thingy. I can only dream of being proposed by a prince charming in a shining armor who rides a white horse (a dark brown horse is also fine) . He would take me somewhere beautiful far far faraway from this reality.

Anyway, I found beauty in the Quran. I don’t understand the language. I don’t recite beautifully, as well. But I found it peaceful to just read it outloud. The sceptics might say that it maybe because of the self-suggestion. Whatever. Those beautiful ayah (ayat, red.) are impossible to be made by humanbeing. Just too divine.

Well, I found it startling that all I was asking to God is happiness in this mortal world. While the eternal happiness and peace can only be found in heaven, and that is the first thing that should come in our mind. This should be our very first ideal in life.

Well, Ayu, please enjoy your time. Keep  struggling and trying to be humble.

A Fine Line between This and That*

Stase neurologi, bukannya belajar pemeriksaan fisik, stroke, epilepsi, cedera medula spinalis.. Saya malah belajar alias mengamati bagaimana menentukan inilah saatnya mengutamakan kualitas hidup daripada kuantitas hidup; betapa waktu yang sedikit tapi bermakna lebih penting daripada hidup lama yang menyengsarakan. Bagaimana memastikan bahwa kita hanya bisa berdoa karena Continue reading “A Fine Line between This and That*”

Oh Tubuhku Sayang

Kakiku sayang, tetaplah kuat

aku membutuhkanmu untuk menghitung anak-anak tangga hingga ke lantai tiga

balik lagi ke lantai satu, dan naik lagi ke lantai tiga

dari bangsal ke ugd, kemudian ke poli

Aku mengharapkan kekuatanmu saat operasi nanti

atau saat mengantar hasil operasi ke laborat

Aku bergantung padamu saat aku harus berdiri sementara tubuh ini ingin duduk….

Mataku sayang, tolong aku

aku butuh kamu saat laporan pagi

dan saat jaga di malam hari

jangan terpejam mataku sayang, banyak pasien yang membutuhkanku

walau hanya tarian jemariku yang menghitung denyut nadi atau mengukur tensi

Aku tidak bisa berjuang tanpamu

mengawasi pasien dengan mata yang terbuka lebar, bukannya mengantuk dan hampir tertidur di kamar operasi

Aku akan bersemangat denganmu yang melihat dan mengawasi tanda kegawatan

atau hanya demi kesopanan di depan para dokter yang masih segar bugar

Hatiku, aku ingin kau ikhlas

aku tahu memang semua ini melelahkan

bukan hanya fisik melainkan juga kau, hatiku

tapi aku tahu kau kuat

Hatiku, apa lagi yang kau sedihkan?

Walaupun aku harus berangkat pagi-pagi jam 2 ke bangsal untuk follow-up

walaupun aku harus mengorbankan waktu tidurku beberapa minggu ini

tetaplah semangat dan bersabar ya

karena semua ini pasti ada hikmahnya, pasti

Hatiku, aku ingin kau bersyukur

Mensyukuri setiap detiknya, setiap kesempatan yang Dia berikan

setiap pelajaran yang Dia ajarkan, dengan bungkus apapun, dengan harga berapapun

dan kumohon berhentilah mengeluh

karena tidak ada nikmat-Nya satupun yang bisa kau dustakan

aku membutuhkan kemurnianmu, tundukmu pada Dia Yang Maha Pengasih

yang pasti mendengar bisikan doamu untukku

yang menyayangiku, melimpahiku dengan kesempatan bertobat

Oh tubuhku, aku sayang kamu.

Jaga diri ya!

Belajar Ikhlas

Allah, aku belum lulus ya, dari ujian-Mu?

Ujian bernama ikhlas, yang memiliki arti lebih dalam dari sekedar ‘tanpa pamrih’.

ikhlas yang berarti memurnikan ketaatan hanya kepada-Mu,

mengesakan-Mu tanpa menomorsatukan apapun di dunia ini selain Engkau….

Tuhan Yang Maha Mencintai hamba-Nya,

ampuni hamba-Mu yang hina ini, yang penuh dosa dan kebodohan,

hamba yang selalu lupa akan pelajaran-Mu,

bahwa sesuatu yang tidak dijalani dengan mengharap ridho-Mu,

tidak akan mendapat apapun selain penyesalan yang tidak berguna….

Tuhan, tolong hamba ya Tuhan,

hamba ingin lulus ujian dengan nilai terbaik

hamba ingin menjadi manusia ikhlas

yang hanya memilih berkata ya untuk melakukan sesuatu karena-Mu,

dan menolak dengan tegas, ‘TIDAK!’ juga hanya karena-Mu

Tuhan, hanya kepada-Mu hamba berserah diri

dan kembali. Amin.

Dalam Tangis Kronis

Kami mohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi

untuk menyingkap kesedihan dari ummat ini

dan memuliakan agama-Nya

dan meninggikan kalimat-Nya

dan memenangkan para wali-Nya

dan menghinakan musuh-musuh-Nya

dan menjadikan tipu daya mereka bumerang bagi mereka

dan menjaga ummat Islam dari kejahatan-kejahatan mereka

Sesungguhnya Dialah Penolong kita dalam hal ini dan Zat yand Maha Berkuasa.

– Excerpted from http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=282

Doa-lah penyambung hati kita. Air mataku untukmu, saudara-saudariku. Sedih, sakit…