A Shifted Arrow

Day to day i would like to have a cup of hot sugarless latte

And forget about my thesis

I would meet you today and tonight and tomorrow

Sharing my thoughts and my dreams and you would listen patiently

Day to day i would spend my energy watching you do your thing

I would help if i may but i am okay with just cheering and admiring endlessly

You know i dont mind if i resign tomorrow morning

Because i have what i need and i am happy

But life does not work that way

Sometimes my reality is unacceptable to others

Sometimes what i believe as a simple thing looks complicated and impossible

Often time what i need seems small and insignificant to others

But you know we all have God The Almighty, All-Knowing

I just keep the faith that i will be with you in my life, in this world and the hereafter

It might not be you, of course, i am fully aware

But I pray that God Made another one of you, to love me

So you see i am not that girl anymore

Who wants this and that, strives to be this and that, does these or those

I see my future being by your side

And do my thing and help you do your thing

And be forever grateful to have you in my life

But “you” here is non-existence.

I do not know where i am going now

My destinations are no longer “expert in medicine” or “author of inspiring books”

but simply a wife and a mother (if God Wills)

So i am on my way

The pathway with a newly shifted arrow

Shifted, not bent, not broken

And i am content

All Praise is only to God

Advertisements

Pushing People Away

Pushing Me Away adalah sebuah judul lagu milik Linkin Park, sebuah band Amrik kesukaanku jaman SMA dulu.

Intinya ada orang yang suka menjauhkan orang lain dari dirinya. They push away people from them. Entah sengaja maupun tidak. Kalau yang sengaja sih aku sedang tidak ingin membahasnya. Bisa saja karena dia memang sedang tidak ingin berinteraksi dengan manusia lain. Bisa pula dia sedang muak dengan manusia, sedang ingin sendiri, dan semisalnya. Aku sedang merasa mendapat inspirasi untuk membahas yang tidak sengaja menjauhkan orang-orang dari dirinya sendiri.

Hm, contoh paling mudah memang kalimat-kalimat bijak yang dibagikan untuk anak-anak di sekolah dasar semacam “jangan sombong nanti tidak punya teman” dan “pembohong dibenci orang” (yang terakhir saya agak asal). Yang jelas orang pada umumnya menyukai kebaikan dan membenci keburukan. Orang akan tertarik pada sifat baik dan menjauh oleh sifat buruk. Kita tentu senang jika punya teman yang baik hati, suka menolong, suka menabung sekaligus mentraktir kita, jujur, murah senyum, dan sifat baik lainnya. Sebaliknya jika ada teman yang sombong, culas, licik, munafik, suka mengadu domba, tukang bohong, dan sifat buruk lainnya, kita ingin menjauh saja kan. Rasanya sifat-sifat dia bisa mengancam minimal ketentraman hati kita, atau bahkan mengancam nama baik kita, ya kan.

Nah, itulah maksudku. Banyak orang yang karena sikapnya pada orang lain membuatnya dijauhi. Dengan cara bergaulnya, orang di sekitarnya mundur teratur sambil membatin, “Aku tidak mau lagi berurusan dengan orang ini deh. Cukup tau aja,” kemudian balik badan dan kabuuuur. Aku sering melakukannya. Dan aku yakin banyak orang yang pernah melakukan itu padaku (ya, aku baru nyadar sekarang, makanya kutulis posting ini). Tentu ada pilihan lain selain kabur yaitu menampar wajah orang yang bersikap buruk itu sebelum akhirnya kabur juga. Hehehe.

Sebelum kubahas lebih jauh, aku harus memastikan adanya kesepakatan bahwa banyak teman banyak rejeki dan sebaliknya kan. Selain itu, manusia adalah makhluk sosial yang berarti kita semua saling membutuhkan. Kita tidak bisa hidup sendiri. Titik. Jadi jika seseorang dijauhi orang maka urusannya akan lebih sulit karena kurangnya orang yang berada di sekitarnya. Bagaimana jika dia butuh pertolongan orang lain? Bagaimana cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya?

Nah, dengan mengingat pentingnya keberadaan orang lain, penting pula untuk mempertahankan mereka agar tetap di sekitar kita. Suatu hari aku meminta sesuatu pada seorang temanku. Dia mengiyakan akan mencoba mencarikan permintaanku itu dan menjanjikan tentang waktunya. Suatu hari aku menagih janjinya untuk mengabarkan padaku apakah dia bisa memberiku. Karena tidak ada respon yang memuaskan, aku mengulanginya, menagih lagi setiap hari. Sampai suatu hari aku tidak menagih, karena sedikit bosan, tapi meminta maaf jika membuatnya merasa dikejar-kejar. Aku meminta maaf telah membuatnya berprasangka bahwa aku tidak akan bisa menerima jika ternyata dia hanya akan datang dan berkata bahwa dia tidak bisa memberi permintaanku. Bisa ditebak, dia cukup kaget dengan permintaan maafku sebelum akhirnya mengabarkan bahwa dia tidak bisa mencarikan permintaanku itu.

Kemudian aku menangis.

Kemudian aku bertanya padanya. Mengapa dia sempat khawatir jika aku tidak bisa menerima ketidaksanggupannya. Mengapa dia membuatku menunggunya lebih lama. Di sini aku yang merasa rugi karena tidak mendapat kepastian apakah aku bisa mendapatkan permintaanku darinya. Jika tidak bisa maka aku akan mencarinya melalui orang lain (harus dengan orang, iya benar).

Giliran jawabannya yang mengagetkanku. Sebagai orang yang mengenalku, dia berasumsi bahwa aku akan menyangkal kenyataan. Aku dianggap akan menolak jika dia tidak bisa memberi permintaanku. Ya, wajahku adalah wajah penyangkal. Manusia denial yang berikutnya akan terjadi drama atau histeria. Daripada harus berurusan dengan kemungkinan itu, dia memilih mundur teratur dan berharap aku melupakan pertanyaanku padanya. Seperti contohku di atas, dia sedang membatin, “waduh sepertinya aku kabur saja daripada harus berurusan dengan orang ini.”

Persangkaannya yang buruk terhadap kemungkinan responku bukan asal menebak. Dia cukup mengenalku, sehingga prognosis yang dibuatnya itu hampir benar. Buktinya aku menangis. Buktinya aku susah payah menahan teriakanku untuknya “kenapa kamu tega.”

Mari menganalisis. Bagaimana jika aku tidak mengubah kalimatku untuknya setiap hari “jadi kapan kepastiannya kamu bisa atau gak” menjadi “maaf ya menagihmu terus sampai bikin kamu gak kunjung ngabari jadinya gimana”. Hanya dengan kalimat yang kedua itu akhirnya dia menyatakan kekagetannya “makasih ya sudah terima kenyataan bahwa aku gak bisa ngasih permintaanmu.”

Jadi inti dari tulisan ini adalah janganlah menjadi sepertiku (lho?). Jangan membuat orang berburuk sangka. Akibat buruk terkecilnya adalah kita rugi. Rugi karena kita butuh orang lain, dan karena sikap kitalah orang lain yang kita butuhkan itu malah menjauh sambil membawa pergi kebutuhan kita. Akibat yang lebih besar adalah: sebagian buruk sangka bisa menjadi dosa. Adakah cara yang lebih mudah untuk menghindarkan buruk sangka orang selain dengan bersikap baik?

Sikap baik terkecil adalah selalu mencoba menerima kenyataan. Yah setidaknya itu pada kasusku. Contoh menerima kenyataan adalah tidak banyak mengeluh tentang apapun. Hujan, panas, orang tua lengkap, yatim, belum lulus kuliah atau apapun, ya disyukuri, setidaknya diam tidak mengeluh. Entahlah, masih belajar nih. Ada usul lain?

Akhir Kisah si Gadis Maskulin

Belum bosan membahas tentang jodoh dan pernikahan. Pastilah dulu aku adalah anak kecil yang bercita-cita menjadi seorang pengantin cantik. Selain itu, ada saatnya di mana aku menuliskan pemikiran dan suara hatiku dalam buku harian yang rahasia itu. Ada pula saat di mana aku harus menuliskannya agar dibaca dunia; siapa tahu ada yang butuh diingatkan bahwa dia tidak sendirian. Aku di masa depan pun, sepertinya akan belajar banyak dari tulisan ini, setidaknya menertawakan kebodohanku sendiri. Tulisan-tulisan lain dengan tema serupa dapat dibaca di sini, sini, sini, dan sini, selain tulisan lainnya yang dapat ditelusuri dari tag ‘cinta’ di bagian terbawah halaman ini.

Flowers blossom at different times. Maybe mine does later than the others..
Flowers blossom at different times. Maybe mine does later than others..

Dalam 26 tahun lebih hidupku, aku dipertemukan dengan beberapa teman pria, yang berakhir sebagai sahabat maupun teman sekedar ‘hai’ alias saling menyapa tanpa kalimat basa-basi lebih jauh. Beberapa waktu lalu aku menyalahartikan persahabatanku dengan seorang teman pria, dan malah memimpikan kehidupan sebagai istrinya. Kisah itu berakhir ketika aku memastikan bahwa semua itu mimpi. Hingga saat ini aku mengutuki diriku yang kehilangan salah satu sahabat terbaikku itu demi melayani kemarahanku dan rasa dendamku padanya yang membiarkanku bermimpi, yang tega tidak membangunkanku ke dunia nyata. Kadang memang rasa dendam sering dibungkus dengan kertas kado rapi bernama sakit hati. Demi mengasihani diri sendiri yang merasa disakiti, seseorang rela mempertahankan rasa dendamnya, rela melewatkan praktek memaafkan tanpa syarat.

Di suatu hari yang lain dalam perjalananku mengarungi jiwaku sendiri, jalanku terhenti oleh sebilah cermin yang sangat besar. Di situ aku melihat diriku sendiri yang merasa tidak aman dengan diri sendiri, yang mengelak atas pernyataan-pernyataan positif yang menghampiri. Uniknya cermin penghalang jalan ini bisa menghilang menjadi kehampaan ketika bayangan di dalamnya disukai oleh pengamatnya. Entah berapa lama aku termangu di situ menatap cermin besar yang memantulkan bayanganku sendiri, sampai akhirnya si cermin sirna, dan aku bisa lanjut berjalan. Mungkin saat itu aku sedikit tersenyum pada bayanganku sendiri dan tampak berusaha memakluminya. Entahlah.

Ada satu fragmen kecil dalam linimassa hidupku ketika aku berdoa siang malam minta dipertemukan dengan pria yang beriman, dan ketika Tuhan Mengirimnya untukku, aku justru sibuk menilainya dan akhirnya menolaknya. Belum ada pembenaran atas penolakanku selain bahwa hatiku saat itu tidak bisa dipaksa. Aku memutuskan untuk memperbaiki diri sendirian dan menanti kiriman berikutnya, daripada mengambil risiko tumbuh bersama orang soleh tersebut. Beberapa waktu kemudian, yaitu saat ini, aku masih seperti dulu, yang tidak kunjung kuat imannya, tidak cantik sabarnya, tidak banyak syukurnya.

Kejadian membaca artikel tentang jodoh dari segi agama di sini menjadi bagian penting dalam perjalananku walau kegiatan itu hanya memakan waktu beberapa menit. Pencarian jodoh, keputusan menikah dan hidup bersama sepanjang sisa usia adalah satu dari sekian banyak perkara dunia yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Kejadian apapun di jagad raya ini, bahkan daun yang jatuh karena tertiup angin terjadi atas kehendak-Nya, tentu saja, namun kita selalu bisa memilih jodoh kita. Artikel itu juga membuatku berhenti menyesali penolakan tak berdasar beberapa waktu lalu itu.

Jauh sebelum pertemuanku dengan cermin penghalang jalan itu, ada ide tentang dominasi energi maskulin dalam diriku yang menjauhkanku dari menjalin hubungan romantis dengan pria. Ide itu disampaikan oleh satu atau dua sahabatku saat itu. Belum selesai aku mencerna ide betapa maskulinnya aku ketika beberapa orang yang baru mengenalku selama beberapa hari sudah meminta izin padaku untuk menempelkan label maskulin di dahiku. Saat itu aku cuma meyakinkan diri bahwa tidak ada yang perlu diubah dalam sikapku hanya demi mengumpulkan fans.

Pertanyaanku adalah, haruskah energi maskulin dilemahkan, dan energi feminin dikuatkan, agar akhirnya ada pria soleh yang terpesona kemudian meminangku? Haruskah semua wanita melewati fase memperkuat energi feminin dalam hidupnya sebelum akhirnya menikah? Inikah yang dimaksud dengan jodoh adalah perkara muamalah, yang hanya bisa terjadi dengan perbaikan cara bergaul? Jika jawaban untuk ketiga pertanyaan itu adalah ‘iya’ maka aku sedang berada di jalan yang benar, di mana aku merasa saat ini energi femininku jauh lebih kuat.

Ciri energi maskulin adalah berorientasi target, termotivasi oleh tujuan, kompetitif, logis, dan ciri lainnya, sementara energi feminin berkisar antara menjadi peka, berekspresi diri, mencintai sesuatu, merawat, dan hal-hal berbasis perasaan lainnya. Dalam sejarah panjang peradaban manusia, pencarian jodoh selalu dikaitkan dengan usaha untuk melestarikan spesies manusia, dan gen-gen yang baik terwakili oleh tampilan fisik tertentu. Ketertarikan kita pada kegantengan/ kecantikan orang, suaranya yang indah, dan bentuk tubuhnya, adalah sifat alami sebagai manusia yang tanpa sadar menyeleksi calon pasangan sebagai kontributor kromosom untuk keturunan kita. Selain itu, kapabilitas reproduksi calon pasangan akan terwakili oleh energi maskulin atau feminin yang ditampilkannya. Dengan kata lain, wanita feminin akan lebih mudah terpilih karena ada jaminan yang tersirat bahwa dirinya subur? Haha, mungkin..

Ketika akhir-akhir ini aku kesulitan menjawab tujuan hidupku setiap ditanya orang, aku merasa aku sedang menguarkan energi feminin. Tentu saja pertanyaan itu dimaksudkan untuk menanyakan target-target karir, sedangkan jawaban sederhana dalam hatiku untuk pertanyaan itu adalah menjadi istri dan ibu yang baik, yang sama sekali bukan karir. Dari sini aku sangat yakin aku sedang menjadi gadis feminin. Aku akan dengan lancar membahas tentang hobiku membaca, membuat kue, dan hal-hal lain, daripada membicarakan tentang rencana sekolah lagi. Seharusnya aku bangga dengan perubahan pada diriku, yang mungkin sudah terjadi bertahun lalu pada teman-temanku yang saat ini sudah beranak dua.

Aku tidak bangga dengan kegagalanku menjawab pertanyaan tentang karir, namun aku sedang mensyukuri perubahan dari label maskulin di dahiku menjadi sedikit lebih feminin. Namun saat ini aku sangat butuh energi maskulin untuk menyelesaikan thesisku dan lulus sekolah masterku ini. Dengan demikian keseimbangan energi maskulin dan feminin harus ada dalam setiap individu, terlepas dari gendernya, jika tidak ingin sekolahnya keteteran sepertiku.

Pelajaran yang kudapat dari terhentinya perjalananku oleh cermin besar adalah bahwa aku semakin mengenal diriku yang kurang merasa aman. Dari pertemuanku dengan mantan sahabat priaku aku belajar memaafkan. Dari penolakanku atas pria soleh membuatku merendahkan hati dan ingin memperbaiki diri. Dari pelabelan maskulin di dahiku oleh teman-temanku, aku mulai mempertimbangkan untuk melembutkan diri.

Seperti tulisan-tulisanku tentang cinta, jodoh, atau pernikahan sebelumnya di blog ini yang dipicu oleh suatu kejadian, pengalaman terbaruku dengan seorang kenalan pria membuatku ingin menulis ini. Singkat cerita, aku sudah bersikap cukup feminin sebelum akhirnya aku bertindak sangat maskulin dengan bersikap agresif mendekatinya. Akhir ceritanya mudah ditebak, yaitu kemungkinan kami berpasangan mendekati nol. Belum nol, karena mungkin aku punya kualitas-kualitas yang dia cari terlepas dari kuatnya energi maskulinku yang mungkin cukup mengganggu. Namun yang pasti, kejadian ini menyiratkan pelajaran bahwa menjadi gadis maskulin bukanlah cara efektif untuk mendekatkan diri pada jodoh. Setidaknya demikian pengamatanku.

Some More Self-Reminder

Lily of The Nile, flowers that bloom only in summer. Only at the right time.

Time heals.

I should remember that love is tested by time.

When you feel you are in love, try to rely on the time.

Let it mature your love, or vanish it.

If by time your love gets stronger,

wait for some more time.

If by time your love gets weaker or disappears,

then it is not love.

Meanwhile, do whatever favors your future.

Like, doing your best while you have time in this world.

Really, time is the only thing that will help you with this feeling.

It won’t betray you.

When it is the time, then it is the time.

Yours will come, we just don’t know when.

Just. Let. Time. Takeover.

Kuputuskan untuk Menulis Di Sini daripada Menghubunginya

A Long Shadow of Mine
A Long Shadow of Mine

 

Bagiku kamu menarik

Aku ingin mengabarimu, betapa aku menikmati bukumu

Aku ingin mengajakmu mendiskusikan obrolan lalu itu

tentang aturan agama, atau tentang tujuan hidupmu

Aku juga ingin dibujuk lagi betapa sepuluh tahun tinggal di negeri orang akan menyenangkan.

Kamu pasti akan bersikap sopan, baik hati malah

membalas semua usahaku untuk mengontakmu

Kamu akan memperlakukanku dengan baik

seperti perlakuanmu pada semua teman sejawatmu

Aku sangat gatal meraih ponselku, membuka obrolan lama dan siap melanjutkannya

Kubayangkan kamu akan dengan sigap melempar balasan

Ah, kenapa pula aku harus memikirkanmu?

Tidak cukupkah kewajiban akademisku menghantuiku?

Tidak cukupkah ketiadaan kabar darimu membungkam jemariku?

Ah namanya juga anak muda,

mungkin aku memang sedang jatuh cinta.

Padamu yang menarik itu.

Bedanya sekarang aku menjadi peragu

Ragu untuk melanjutkan usaha meraihmu

Ragu untuk tetap menjadi diriku yang berusaha mendapatkan yang kumau

Ya, meragukan keinginanku sendiri atasmu

Kata pengalamanku dulu, mengambil peran aktif itu tak selalu baik

Lebih banyak dongkolnya, lebih banyak kecewanya

Maka inilah aku si peragu, mulai berpikir keras

apa saja yang bisa kulakukan asal tidak meraih ponsel dan mulai mengetikkan pesan untukmu

Tidak cukupkah tugas-tugasku sebagai manusia

mendistraksi keinginan kecilku untuk menyapamu?

Tidak menarikkah buku-buku agama

sehingga membuatku lupa akan keberadaanmu, si mas keren itu?

Beginilah cinta, aku hanya bisa tercenung atas kuasanya

atas cokol kuatnya di hatiku

Maka dalam ketidakberdayaanku ini

setidaknya aku punya kendali atas apa yang kulakukan

hal terkecil, penyelamatan harga diriku

berpura-pura tidak terjadi apapun dalam hatiku

dan melanjutkan hidup sebagai mahasiswa, dosen, anak, kakak, dan tetangga

oh, dan hamba Tuhan yang agak terlalu banyak dosa..

A Brunch and A Crush

“How about you, what specialty do you intend to take?” He asked enthusiastically over a steaming-hot bowl of soto, an Indonesian chicken soup with lots of candlenut.

“Umm, I don’t know, I am not sure. Even whether to take a specialty or remain a GP for the rest of my life.. But if I have to choose, I would love be a heart doctor.” I squeezed a slice of lime into my own bowl.

“What do you call doctors who help delivering babies?” he added curiously and a bit apologetically.

“OB/GYN.”

“Yeah, that.”

“Umm..”

I explained to him that I am not someone who can take that much pressure to be an OB/GYN doctor. I don’t have my whole days for other people too, waking up at 2 am to help moms, and so on. He was empathetic enough when he said,

“Ah I see, that’s why there are more male OB/GYN doctors.”

It was a brunch with someone I just met once before, happened after only a brief texting. Just like that, but it got me thinking. Well well, I am not sure whether it made me think about the specialty as a future career, or about the possibility that he could be involved in an unusual relationship with me, if you know what I mean, or merely a forgettable event of a random day with a random girl like me.

I had an answer popping in my mind immediately after I answered him. It came a split-second later than my actual spoken answer.

“I have been dreaming to be someone’s hero, if being a hero to the world is too big. I always want to do something with an instant, tangible result. I want to see the impact of my work, something to make me feel worthy and significant. Thus I was thinking of the professions that meet my dream. They are the orthopedic surgeon, who can always go abroad to be a volunteer, taking care of troubled limbs, saving lives in countries at wars, or being a public health expert who goes to developing countries (or rural areas in Indonesia!) and takes charge of the health education, the children’s immunization and health checks. Lately I found that OB/GYN doctor is also a hero, making the continuation of the generations possible.

I was so sure I would undergo whatever it takes to be my version of a hero, before I redefined what life really is. Or at least, how I can handle this life. I concluded that I can only create a good result by doing it with love. Thus I need to make sure that what I do is what I love to do. I realized that I can’t be doing something significant enough if the drive is not coming from within me. I can’t do my best if I am told what to do. I need to fall in love in what I do to bring a quality to the result. It would be too hard for me to drag myself, or push through if I don’t have passions in it. I need to guarantee myself that I won’t quit in the middle of the road.

Being an OB/GYN doctor is a good example of being my version of a hero, doing something with an instant and satisfying result. While, for example, a heart doctor may not see his impact in days or weeks, but maybe in years.

Long story short, if I don’t love it, I won’t take a particular pathway. I won’t take the risk of ruining it and disappointing people around me. I would rather, apparently, do something small and insignificant with all my heart. Oh, and secretly send prayers to God to bless what I do. And of course I respect those who want to be some kind of a hero, and appreciate their motivations and abilities to pursue their dreams. I just realized that I am not one of those awesome people.”

But you know, I ended up giving an unfinished answer and kept the ball rolling by asking about his future career. I am sure I have so many events in my life where I regretted what I said, and wished to say some other thing, or say it differently. This was definitely one of those events. But, whatever. No one would bear to listen to my long, boring explanation, either. Oh, and by the way, with my previous experience of having over-expectations, I have no comment on this guy, like, at all. *grin*

A heart in love is like a garden full of blooming flowers.
A heart in love is like a garden full of blooming flowers. (The Royal Botanical Garden, Melbourne, Australia)