Co-ass’ Corner: Opini saya [Part 3-finale]

Tidak etis rasanya jika penulis menuliskan opini pribadi pada dua artikel sebelumnya, karena penulis sedang berperan sebagai seorang jurnalis yang melaporkan suatu berita atau kejadian, tanpa memasukkan opini di antara fakta-fakta yang telah dipaparkan.

Nah, pada artikel terakhir ini, penulis akan membuat evaluasi mengenai acara Co-ass corner tersebut, siapa tahu bisa menjadi feedback yang baik. Tentu, sudah ada kesempatan untuk menyampaikan ini di akhir acara kemarin, sayangnya kertas yang disediakan terlalu kecil untuk menampung semua ide penulis.

Hal pertama adalah bagaimana mewujudkan imaji penulis mengenai sebuah pertemuan yang bermutu yang membahas tentang persiapan masa depan. Karena secara pribadi penulis berencana menjadi dokter PTT selepas lulus nanti, maka usul penulis ada dua, yaitu tentang perlunya tema khusus untuk wanita, dan yang kedua adalah tema khusus untuk PTT. Lebih lengkapnya:

  1. Ketika audiens ditanya mengenai rencana lima tahun ke depan, penulis sangat ingin mengacungkan tangan dan menjawab, “tahun pertama menikah dan membuat STR, dan PTT di daerah dengan kategori sangat terpencil selama 6 bulan, tahun kedua mendaftar S2 ke luar negeri, kemudian kuliah selama 2 tahun, tahun keempat masuk pendidikan spesialis dan menjadi dosen” namun apa daya, kata “menikah” sungguh berat diucapkan, mengingat itu bukanlah rencana yang setara dengan “sekolah” yang bisa diwujudkan dengan belajar dan mendaftar (tentu dengan izin Yang Di Atas). Maka penting sepertinya untuk kami para perempuan memahami peran diri sendiri, apakah menikah nomer satu sehingga harus menunggu-entah sampai kapan-dilamar seseorang dan baru bisa meneruskan hidup, atau bagaimana? Atau bagaimana jika kadang keinginan pribadi tidak sesuai dengan keinginan suami kelak, sementara kita pribadi juga tidak yakin mengenai keinginan kita. Bagaimana menentukan pilihan yang bijak atau bagaimana membuat prioritas?
  2. Sudah banyak kisah sukses yang penulis dengar mengenai senior yang menjadi dokter PTT di daerah, sehingga akan sangat bermanfaat kalau bisa mengumpulkan para senior ini untuk menjadi pembicara dalam acara talkshow. Mendatangkan para pelakunya akan lebih mengundang semangat dan motivasi, sekaligus membangun jaringan dan menekankan pentingnya mengasah teknik lobbying dan networking. Bahkan penulis memiliki beberapa nama untuk para calon pembicaranya: dr. Suryo, dr. Agus (lagi!), dr. Tina, dr. Biuti, dr. Saldi, dll.

Oya, ada satu pertanyaan (sebenarnya lebih, tapi penulis lupa) yang muncul di benak penulis tepat saat dr. Agus mengakhiri sesinya adalah sebagai berikut:

Bagaimana membangun koneksi dan jaringan sehingga bisa mendapat begitu banyak kemudahan dan keberuntungan terutama mengenai info-info lowongan di beberapa tempat?

Demikian lah laporan singkat dan sangat subjektif dari seorang pewarta yang kebetulan juga berada di tempat kejadian untuk menikmati acara. ^^

Co-ass’ Corner: dr. Djalal [Part 1]

Co-ass’ Corner: “What Next after Graduation”; Sebuah Laporan Subjektif dari Reporter yang Merangkap sebagai Peserta Acara ^^

Acara semacam pertemuan rutin para koass FK Undip yang diselenggarakan oleh RMA (Remaja Masjid Asy-Syifa) dibuka dengan sambutan hangat MC Kak Taufik yang memperkenalkan acara ini, bahwa sore itu kita akan mendapatkan informasi mengenai dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap), sebuah posisi yang dulu pernah diwajibkan bagi semua “fresh graduate” dokter, untuk bisa mendapatkan surat izin praktek. Juga mengenai apa yang akan kita lakukan setelah lulus dokter nanti, bagaimana menetapkan tujuan yang jelas, dan semisalnya.

Pembicara pertama adalah dr. Djalaludin, seorang dokter lulusan FK Undip tahun 1993 yang juga lulusan S2 Epidemiologi dari UGM yang saat ini sedang menjadi residen Ilmu Penyakit Dalam di Undip. Sesi pertama diawali dengan tampilan slide mengenai kilasan gambaran kehidupan dokter PTT di berbagai daerah di Indonesia. MC membacakan keseluruhan ilustrasi yang ditampilkan, seperti kisah dokter X di Maluku yang kondisi lingkungan tempat tinggalnya sangat terbatas, dan begini dan begitu. Juga dokter Y yang ditugaskan di Kalimantan, yang hanya bisa ke tempat kerjanya dengan taksi air, sejauh 20 km yang ditempuh dalam waktu 10 jam, dan sebagainya. Slide diakhiri dengan pertanyaan untuk audiens, “Jadi, masih mau PTT????!!”

Acara sore yang lebih suka penulis sebut dengan talkshow ini lebih bersifat santai, informal, dan sharing. Dr. Djalal bercerita mengenai kehidupan 3 tahunnya di Wonosobo, sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang masuk kategori “biasa” (1 dari 3 kategori yang tersedia, sisanya: “terpencil”, dan ”sangat terpencil”), yang ternyata sama sulitnya. Sulit air, sulit listrik, sulit sinyal hp. Di sela-sela ceritanya, beliau bercerita bagaimana trik menjalani PTT. “PTT itu memang tidak enak Dik, saya akui. Tapi mari pragmatis saja, dijalani aja.”

Penulis menangkap beberapa inti dari topik yang diusung dr. Djalal, antara lain bahwa Ilmu Kesehatan Masyarakat merupakan ilmu yang sangat berguna saat menjadi dokter PTT, di mana dokter dituntut untuk menguasai manajemen dan teknik berorganisasi. Tak jarang dokter PTT ditugaskan menjadi kepala Puskesmas. Hal berikutnya yang penting yang beliau sampaikan adalah, ketika salah satu tujuan PTT kita adalah menggalang dana untuk sekolah spesialis, maka sebaiknya tidak usah terlalu sering pulang sehingga tidak perlu mengeluarkan banyak biaya.

Hal yang disayangkan dari PTT adalah ilmu kita sulit berkembang. Kita merasa semakin bodoh. Tidak ada internet, tidak pernah ikut seminar, tidak pernah tahu update ilmu di bidang kedokteran. Dan apabila cita-cita kita menjadi spesialis maka usahakan bisa menjadi PNS, kemudian kerjasama dengan Departemen Kesehatan untuk mendapatkan beasiswa sekolah spesialis. Tentu beasiswa ini mengikat, yaitu kita harus mengabdi di daerah tertentu selama 2n+1; n=masa studi spesialis.

Selama menjadi dokter PTT pun kita diharapkan berani, namun bukan nekat. Berani artinya yakin akan kemampuan diri sendiri untuk menangani pasien, nekat artinya bersikap heroik yang bukan pada tempatnya. Berani karena hanya ada dua pilihan: apabila tidak kita tangani, pasien pasti mati. Apabila kita tangani, pasien mungkin mati, tapi mungkin juga selamat. Nekat berarti seperti akan menembus badai untuk menolong seorang pasien padahal kita tidak yakin akan keselamatan diri kita sendiri.

Memilih penempatan di luar Jawa lebih besar kemungkinannya untuk diangkat menjadi PNS. Kebijakan desentralisasi saat ini memberikan kebebasan kepada Pemda untuk mengangkat PNS di daerah masing-masing, maka di luar Jawa yang perbandingan dokter pasiennya sudah pasti kurang dari 1:1000, kemungkinan diangkat menjadi PNS lebih besar. Penulis yakin bahwa dr. Djalal sedang mengingatkan kita pada premis umum bahwa menjadi PNS artinya socially, economically stable. Tentu saja dengan menjadi PNS pula, kemungkinan mendapatkan beasiswa dari Depkes untuk sekolah spesialis lebih besar.

Dr. Djalal juga menekankan pentingnya mengenali diri kita, di manakah posisi kita: golongan orang kaya (sehingga sebaiknya setelah lulus maka langsung PTT sebentar saja, 6 bulan, dan lanjut sekolah spesialis), atau golongan pas-pasan (sehingga harus mencari dana untuk sekolah spesialis dengan PTT; atau menjadi dosen sehingga bisa diangkat menjadi PNS). Tentu kita juga harus tahu tujuan PTT yang akan dilakukan. Menurut beliau, sebaiknya untuk mengabdi kepada masyarakat, dan menggalang dana untuk sekolah lagi.

Pasca-PTT, apabila telah diangkat menjadi PNS, maka kecil kemungkinan untuk ditempatkan di daerah terpencil lagi, seperti saat PTT.  Maka istilahnya, otomatis kita geser ke kota.

Bisa disimpulkan bahwa setelah lulus dokter terdapat 3 pilihan: mau jadi dosen kemudian sekolah S2 yang kemungkinan besar disekolahkan oleh universitas yang menerima kita sebagai dosen (karena syarat dosen adalah S2), kemudian dengan S2 kemungkinan untuk bisa sekolah spesialis lebih besar, atau yang kedua yaitu langsung sekolah spesialis (dengan syarat tersedianya dana), dan ketiga menjadi dokter PTT sehingga bisa menjadi PNS yang bisa melanjutkan spesialis sesuai jalur yang telah dijelaskan di atas.

Dalam sesi tanya jawab, pertanyaan mengenai besar dana yang bisa dikumpulkan selama PTT menjadi topik utama. Jawaban sang pembicara patut dicatat, bahwa mencari tempat yang basah memang susah, sehingga menjaga hubungan baik dengan kepala daerah dan kantor dinas setempat sangat penting. Teknik negotiating dan lobbying benar-benar dibutuhkan, terutama untuk mengetahui info mengenai penerimaan PNS.