Setahun atau Dua

Ternyata sudah tiga bulan blog ini dianggurkan. Hehe, maafkan ibu dosen yang tidak sibuk ini. Lari pun tidak, sebenarnya.

Mengingat setahun yang lalu, menjelang lebaran target khatam Quran sudah kulupakan, dan rencana lebaran hari pertama siapa yang ke mana (sehingga siapa yang di rumah menjaga bapak) pun mulai dibicarakan. Tak terasa setahun telah lewat. Dengan pola yang mirip, aku melupakan target khatam, dengan dalih duniawi misalnya lebih nyaman berbaring malas di kasur dan skrol Instagram sampai tertidur. Wacana lebaran pun sudah enggan aku bahas. Em, bukan enggan, hanya pasrah dan senang saja jika harus di rumah sementara semua orang rumah berangkat ke kota satelit di selatan.

Apa yang sudah berubah setahun ini? Menanyakan kalimat ini pada diri sendiri seakan diajak seorang sahabat untuk bercermin, “Say, ngaca yuk.” Mudah jika kitalah sahabat itu. Meminta orang untuk introspeksi. Namun untuk diri sendiri? Tidak siap. Tidak siap mengevaluasi diri sendiri sesuai pengamatan objektif, lebih tidak siap lagi menyusun rencana perbaikan diri. Belum lagi nanti sang sahabat berkomentar, “Nah setuju, aku juga merasa kamu masih kurang… Seharusnya…..” Duh, sakit. Sakitnya melihat kenyataan yang sederhana.

Benar bahwa sebaiknya kita tidak mendengarkan apa kata orang. Namun jika yang berbicara adalah orang-orang terdekat kita yang sangat intens berinteraksi dengan kita, apapun yang mereka katakan mungkin ada benarnya. Ucapan mereka patut dipertimbangkan kebenarannya, kemudian ditindaklanjuti. Contohnya jika ibumu berkata kamu terlalu sering tidak di rumah, mungkin seharusnya terdengar begini: “perbanyaklah di rumah mumpung masih bisa.”

Ah, Alhamdulillah. Mungkin itu yang kuusahakan setahun terakhir ini. Lebih banyak di rumah. Akhir pekan tidak lagi untuk bepergian ke luar kota mengikuti acara lari ini dan itu. Lumayan juga acara lari yang sengaja aku lewatkan demi, “mau di rumah aja.” Memang lantas tidak ada komentar, “Nah gitu dong Nduk, kalau wiken gini di rumah,” namun setidaknya tidak ada, “kapan kamu di rumah, kok pergi terus?”

Alhamdulillah.

Entah sampai kapan aku akan terus bertanya dalam hati akankah ini menjadi Ramadhan terakhirku di rumah orang tua. Yang aku tahu, aku tidak boleh putus berdoa meminta jodoh. Pasti ada pria baik yang mau bekerja sama denganku menjalani hidup yang cuma sebentar ini. I am a good team member, I promise you (sila tanya teman-teman dan keluargaku ya), walau banyak sekali kurangnya seperti tukang menunda dan sangat tidak disiplin. Usahaku untuk sabar ini tidak ada apa-apanya dibanding para perempuan hebat yang puluhan tahun menanti kehamilan, misalnya. Atau orang-orang terdahulu yaitu para Sahabat yang, jika diceritakan, akan sangat memalukanku yang tukang mengeluh ini.

Entah sampai kapan pula komentar cerdas semacam, “kalau mau menikah jangan kebanyakan pilih-pilih, yang penting itu blabla,” atau “kamu keasyikan kerja sih,” akan berdatangan, dan ketika kujawab bahwa aku memilih bersyukur saja, dijawab lagi, “ya tapi diusahakanlah.”

Allah Knows best, while we don’t.

Tapi serius deh, soal bercermin tadi. Banyak sekali yang harus diperbaiki. Mungkin jika memulai besok, sudah terlambat. Yuk mulai sekarang? “Do one thing everyday that scares you,” begitu kan ya? Like bettering yourself.

Sehingga mungkin setahun atau dua tahun lagi, aku sudah diizinkan Tuhan mengabdi pada anak manusia selain orang tua. Aamiin. Optimis dong. :))

 

 

 

 

 

 

 

Jakarta hujan

Blog ini juga kuputuskan menjadi tempat aku mencatat race recap alias kisah aku berlari.

Baru bulan lalu kuputuskan untuk ikut serta dalam Jakarta Marathon 2016. Kami tiba di Jakarta dengan kereta Sabtu subuh, setelah drama aku ketinggalan kereta yang tidak ingin kubahas sama sekali. Rombongan kami adalah aku dan beberapa mahasiswa penggila lari, dan Pak Erie, guruku yang gila lari juga. Beliau pernah jadi tokoh juga dalam kisahku yang tentang kram itu (haha gak jelas ya).

Beberapa minggu sebelum Jakmar memang beredar ramalan cuaca bahwa hari-H akan hujan lebat. Tentu saja BMKG benar, kami berlari dalam hujan! Kesannya? Dingin, tidak ada risiko heat-stroke atau dehidrasi. Namun sayangnya baju dan dalaman jadi menempel ke kulit dan menimbulkan lecet di sana sini yang wadaw banget.

Kami tiba di garis start tepat waktu tapi aku butuh ke toilet. Kami putuskan start dulu dan ke WC manapun yang kutemukan di km 2 atau 3. Di km 10 perut kananku nyeri. Oh side stitch (sudukan) nih, kupikir. Tapi nyeri sepertinya sedikit di bawah, jadi mungkin ini nyeri dinding depan perut yang memang sudah ada hernia insisionalis (dinding perut tidak menutup sempurna akibat dokter bedahnya tidak menjahit full waktu aku operasi pengangkatan usus buntu di umur tujuh). Sejauh 3 km aku berlari sangat lambat dan mengatur napas (untungnya rajin yoga), ditemani teman kecilku bernama Lucky (ig: lukriboo). Setelah lepas dari nyeri kram perut itu (alhamdulillah, hilang sama sekali sampai finish!), giliran Lucky yang nyeri telapak kakinya. Selain itu, kami menikmati lari kami yang pace 7:30 sampai 8:30. Di km 22 kami baru menemukan pak Guru dan 2 mahasiswa yang memang janji mengawal bapak sampai finish. 

Sejak km 24 aku kelaparan. Ingin berhenti saja dan makan ke warung. Kepala pening, kupikir oh mungkin hipoglikemi. Maka aku mengambil semua buah yang mungkin kuambil (jeruk baby, jeruk biasa, apel, semangka dan semangka lagi) beberapa km sekali  demi menyetor gula ke darahku. Oh Jakmar kategori Full Marathon memang surga buah, aku bahagia (karena buahnya sudah dipotong, siap makan, haha).

Sejak km 22 itu pula aku dan Lucky jadi mengikuti ritme pak Guru yang jalan-lari. Ya, betul, masih ada 20 km dan kami menyelesaikan sampai finish dengan jalan kemudian lari kemudian jalan lagi. Sepanjang jalan kami mengobrol, atau mengeluh, atau aku ribut “kalau jalan terus kayak gini kita finishnya COT (cut-out time alias batas akhir finish yang berhak mendapat medali) lho,” dan kalimat serupa.

Beberapa komunitas yang menggelar lapak gratis seperti buah, bahkan arem-arem dan klepon, sungguh membahagiakan. Belum lagi tulisan-tulisan penyemangat semacam “Lari woi, ini bukan gerak jalan.” Atau “Mbahku barusan lewat.” Dan teriakan mereka “Ayo mbak, semangat, 1 km lagi.” (Kujawab, ah masih 2 mas, jangan php hahaha).

Yang kuingat adalah hujan dan obrolan segala macam. Beberapa artis kulihat (peserta lari atau tim support di sisi jalan), dan pelari kawak juga. Beberapa km sekali aku sibuk bersyukur bisa berada di jalanan dan berlari. 

Di km 37 satu mahasiwa nyeletuk bahwa inilah titik jarak di mana marathoner merenungkan hidupnya. Mungkin dia benar, karena beberapa km sebelumnya (lah, jadi bagiku mungkin km 35?) aku masih saja teringat dengan kisah cintaku yang terlalu prematur untuk kandas. Hahaha anyways, kami kemudian mendiskusikan tentang kenapa kami lari (sambil lari, emang edan kabeh). Tungkai bawahku sudah terasa sakit sejak km 17 tapi aku tidak mengeluh, hanya beberapa kali stretching betis dengan anehnya (semacam lunges haha, but it worked).

Begitulah, rasanya 6 jam 20 menit untuk jarak 42,2 km itu lama sekali. Every kilometer seems so far away hahaha. Tapi akhirnya kami finish juga. Tinggal bertiga (dengan pak guru), yang dua orang termasuk Lucky sudah finish. Kami mengatur langkah dan lari bersama beberapa meter dari garis finish demi mencitrakan diri hehe.


Di Monas itu hujan deras jadi kami berfoto dalam hujan, menyapa beberapa orang, dan terpincang-pincang mencari taksi. Di hotel kami mengantri mandi sambil tertawa renyah menikmati kebersamaan (sepuluh orang di kamar itu, kamar yang late check-out untuk kami mandi). Memang ada satu pelawak dan satu objek bully dalam rombongan ini. 

Di Gambir kami makan sangat banyak (tentu saja ditraktir pak guru yang baik hati) kemudian mapan di kereta. Semua orang tertidur pulas kecuali aku yang sibuk membuat tulisan ini.

 I once said that I’d never run a marathon because it is not physiological. But here I am a proud marathoner. I then think that pain is indeed inevitable but suffering is optional. And I choose to endure.

About Being Sabr

18 Juni 2014

…Pernahkah aku merasa bahagia hanya karena aku masih hidup? Mungkin pernah. Yang kuingat, sebab-sebabnya adalah aku berusaha ingat Allah. Dari orang lain kulihat sebabnya adalah amalan hati seperti memaafkan, tidak dendam, tidak berprasangka, dan bersyukur. Singkatnya aku membujuk diri sendiri bahwa antara solat khusyuk, membaca Quran dengan tartil dan berusaha memahami artinya, dan melakukan amalan hati yang Islami (dan secara universal disebut sebagai “kebaikan”) merupakan hal-hal penyebab kebahagiaan. Ketiganya sama pentingnya, tidak ada yang lebih baik atau utama. Ketiadaan satu atau dua hal tidak menggugurkan kebahagiaan. Usahakan jadi pelaku ketiganya.

Ramadan 2014

… Aku tidak ingin mencemari usaha kesabaranku dengan komentar-komentar tidak bersyukur dan keluhan-keluhan. Aku adalah motivator terbaik untukku. I rely on myself (instead of other people) and God. So if it’s not me, I don’t think I can. Pokoknya semua tergantung aku. Pengen makin sabar ya aku harus disiplin sama diri sendiri untuk berlatih sabar tanpa henti. Pengen self-improvement ya harus rajin bercermin (dari orang lain, dari doa mohon petunjuk) dan melakukannnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. I am capable of loving. Aku cinta diriku sendiri, menerima apa adanya, bersabar akan kekurangannya, menghargai kelebihannya, bersemangat terus menyayangi dan menghargai, dan yakin aku akan menjadi lebih baik. Fighting depression? Not by being grateful (although it’s okay too) but with self respect. I guess.

Now Listening: Secuil Tafsir Kitab Suci

Setiap kata dibahas dalam beberapa menit, sehingga satu surat bisa selesai setelah berjam-jam. Tapi pendengar akan menikmatinya. Pak ustadz berkisah dengan lihai, dengan penuh pertimbangan linguistik dan pragmatik. Setiap kata dibedah; asal katanya, penggunaannya yang lazim, dan berakhir pada keindahan dan kesempurnaan dari kata-kata itu.

Di ayat kedua dalam kitab itu… Ada pilihan untuk menjadikannya sekedar kalimat berita, namun yang ini penuh emosi, ekspresi syukur. Dalam kalimat yang sama, Dia Memperkenalkan diri-Nya sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang Rabb (yang dipatuhi). Nama kedua-Nya hanya untuk orang beriman dan jika kau menolak mengimani Tuhan, setidaknya kau bisa mengakui bahwa Dia-lah sang Pencipta. 

Dalam beberapa kalimat berikutnya, ada doa agar kita tidak menjadi satu dari dua tipe manusia: yang tidak mengetahui kebenaran dan bersalah karena tidak mencari tahu, yang kedua adalah yang sudah tahu tentang kebenaran namun menolak untuk mengakuinya.

Oke begitulah secuil tentang video tafsir Surat Al-Fatihah oleh Nouman Ali Khan. Di yutup, pake bahasa enggres.

Selamat belajar, i guess?

Teori Psikologi untuk Jodoh

Sudah bisa diduga, sebagai seorang lajang keren topik favorit saya adalah jodoh. Banyak tulisan di blog ini yang membahasnya. Beberapa berupa kisah cinta saya (tanpa nama, tentu), beberapa pikiran-pikiran yang dibuang sayang, beberapa lagi semacam afirmasi positif utk tetap optimis. 

Tulisan ini bukan salah satu di atas. Saya cuma harus menulis ini utk diperdebatkan (jika ada yang baca sih, hahaha), atau cukup dipikirkan. Baca dulu deh:

“Pagi2 tadi dpt penjelasan ttg “jodoh” oleh seorang Profesor:

Sejak berusia 15 sampai 35 th (dalam 20 th) seseorang rata-rata pacaran 10 kali. Dari 10 itu, masa observasi dilakukan pada 3-4 pacar pertama. Nah berdasar angka itu, dan berdasarkan asumsi bahwa manusia mencari yang terbaik, sedangkan setelah memilih tidak bisa ganti, dan yang dilewati tidak bisa kembali “balen”, maka protokol mendapatkan pasangan adalah sebagai berikut:

1. Pacaran 3-4 x utk observasi.

2. Memutuskan menikah dg  pacar berikutnya dengan kualitas setidaknya sedikit lebih baik dari yang terbaik di 3-4 pacar pertama tersebut.

Namun protokol ini memiliki 2 error:

1. Jika by chance saat observasi dapatnya kacau semua, maka pasangan hidup (pasangan pertama pascaobservasi) memiliki kans besar sedikit di atas kacau dan kita stuck bersamanya selamanya.

2. Jika ada seorang pacar ideal saat masa observasi maka saat pascaobservasi akan sulit sekali atau bahkan mustahil menemukan yang sedikit lebih baik dari si “ideal” sehingga ada kemungkinan akan sendiri selamanya.”

Begitulah tulisan teman saya (dengan suntingan struktur kalimat hehe). Seorang teman mengutip seorang profesor, dan saya tidak repot-repot mengkonfirmasinya. Ehm, dengan menyadari tuntunan agama utk sebaiknya tidak berpacaran (seperti sebaiknya tidak meminum alkohol) karena kerugiannya lebih besar daripada keuntungannya, saya soroti tentang “mencari pasangan”-nya ya, bukan “berpacaran”-nya, oke?

Saya duga pacar ke-5 sampai 9 hanya mampir saja di hidup kita utk membuat kita menyadari bahwa yang kita cari adalah orang yg seperti pacar ke 1-4, benar kan?

Saya merasa tertohok, sepertinya jelas bahwa saya termasuk sampel populasi yang disebut sang profesor, yaitu orang yang sejak usia 15 tahun sudah “mencoba” berpasangan, walau belum tahu saat ini sudah mencapai pasangan ke berapa (definisi operasional?). Sambil saya menghitung riwayat “pacaran”, saya tidak yakin dengan posisi sendiri, apakah error nomor 1 atau 2. Mungkin saya tidak ingin menjalani error nomor 1 (stuck dengan orang yg agak kacau) sehingga saya memilih nomor 2 (sendiri sampai menemukan yang menurut ‘pengalaman’ saya ideal). 

Dengan menganggap bahwa pengamatan sang profesor itu benar (minimal ada benarnya) dan bahwa asumsi saya terkait tulisan itu benar, dan posisi saya benar maka kesimpulan terkait jodoh adalah:

Hindari error nomor 1 dengan tidak berpacaran. Kalau sudah terlanjur maka hindari error nomor 2 juga dengan tidak berpacaran (haha) tapi jika sudah punya riwayat pacaran maka berlatih moveon, atau menjadi amnesia (sehingga tidak punya memori atas apa yang ‘baik’ dan ‘buruk’ atau ‘ideal’ dan ‘jauh dari ideal’), atau memformat ulang persepsi tentang ideal. 

Singkatnya, harus bagaimana? Mengembalikan pada petunjuk hidup. Satu kalimat kunci yang berat dijalani tapi harus segera dimulai. Bahkan kesolehan itu tidak melulu dengan beribadah mahdoh (ritual keagamaan) melainkan dengan iman di hati seperti ikhlas (mengesakan Tuhan dan memurnikan niat bahwa menikah adalah perkara ibadah bukan semata mencari kesenangan) dan rendah hati (bahwa semua orang punya kekurangan termasuk diri sendiri jadi lebih bisa menerima orang yang tidak ideal atau mensyukuri pasangan yang sedikit kacau).

Mungkin siapapun yang sudah menikah dan membaca ini akan setuju dan semacam membatin “ya, akulah the living proof bahwa dengan pasrah dan ikhlas dan melepaskan, aku sekarang happily married.”

Oya, sebagian besar tulisan saya memang to think outloud. Menuliskan pikiran sendiri dan membacanya memudahkan saya mengurai masalah dan mungkin mengatasinya. Sekian.

Membaca Buku dan GPPH

Baik, aku jabarkan GPPH terlebih dahulu. Dialah gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Betul, ini adalah sebuah penyakit, dan tidak, aku tidak mengidapnya, karena diagnosis hanya bisa ditegakkan jika gejala sudah muncul sejak usia tiga tahun. Jika baru muncul sekarang maka bukan GPPH tapi sebut saja pseudo-GPPH.

Beberapa bulan (atau tahun?) terakhir aku kesulitan menyelesaikan buku, baik fiksi maupun non-fiksi (bukan teksbuk faal). Tapi setelah kuingat kembali, ternyata memulainya pun sulit. Di kamar tidurku, tiga dari empat sisi kamar ada buku, baik tumpukan maupun pajangan rapi (atau berdebu). Keluar kamar lebih parah lagi, ortuku menyimpan buku di ruang tamu, ruang tengah, ruang samping, sampai kamar lain, dengan dalih, “maklum lah bapak ibu kan dosen jadi ya bukunya banyak.” Stimulus yang tersebar itu tidak menggugahku untuk mengambil satu pun buku setiap minggu untuk diselesaikan.

Berbeda lagi saat berkunjung ke toko buku. Aku selalu punya ide cemerlang (maksudnya konsumtif), “Wah ini buku bagus, aku harus beli. Aku harus punya. Aku harus baca.” Beruntung jika teman berkunjungku adalah adikku, karena dia akan menyambar (tanpa aku ucapkan kalimat cemerlangku tadi, karena selalu hanya kubatin saja, tapi mungkin binar mataku bisa dia kenali dengan mudah), “yakin mau dibaca? Nanti di rumah ditumpuk aja?” dan aku bisa percaya dia juga akhirnya, atau tetap ngeyel membelinya, “Kubaca kok. Yakin.”

Pernah, sering malah, aku mengamati rak-rak buku di rumah, mengambil beberapa buku dan menaruhnya di kasurku. Tujuanku adalah memberi tugas pada diriku sendiri untuk menyelesaikan beberapa buku dalam waktu tertentu dan waktu terbaik adalah menjelang tidur. Berhasilkah strategi itu? Tidak selalu. Beberapa buku memang tampak sangat menarik, misalnya karena itu buku baru (yang dibeli adikku) dan sangat nge-hits sehingga semua orang sudah membacanya kecuali aku, atau itu buku yang ditulis oleh penulis favoritku. Atau buku tematik seperti buku Ramadhan yang kutumpuk di kasur menjelang Ramadhan. Ada keadaan khusus lain aku bisa mulai membaca: terpaksa menunggu lama seperti saat transit di bandara atau perjalanan jauh dengan kereta (atau pesawat atau bis jika sopirnya menyetir dengan sopan).

Seseorang pernah berkata bahwa tidak ada orang yang tidak suka membaca, orang itu hanya belum menemukan jenis buku/ bacaan yang dia suka. Aku sangat setuju dengan itu. Bahkan komik pun termasuk buku, sehingga orang-orang semacam teman priaku di sekolah dulu yang “tidak tahan membaca novel, tulisan semua, bosan” bukannya tidak suka membaca, hanya memilih komik daripada novel. Sehingga tidak perlu ada debat filosofis dalam tulisan kali ini mengenai pentingnya (atau tidak pentingnya) membaca.

Ketika akhirnya aku berhasil memaksa diriku membuka lembar pertama dan mulai membaca sampai minimal beberapa halaman pertama, aku mulai ingat nikmatnya membaca. Benar juga kata orang bijak bahwa langkah pertama memang yang paling berat. Selanjutnya pasti terasa lebih ringan. Bahkan menyenangkan. Namun tidak seratus persen kejadian membacaku seperti itu. Ada beberapa kali aku berhenti membaca di tengah-tengah buku (atau sepertiga awal dan jarang sekali di bagian akhir). Mungkin sekali itu karena bukunya yang membosankan, tapi aku jarang mengatai suatu buku itu jelek. Aku sangat ingin menjadi penulis (mungkin diam-diam sejak kecil, karena diary-ku sudah ada sejak aku kelas 3 SD, sampai sekarang masih kuusahakan menulis) sehingga aku menghargai dan mengagumi para penulis. Beberapa buku membuatku ingin menyelesaikan tanpa jeda (terpaksa jeda untuk ke toilet atau solat atau makan), tapi sedikit sekali yang membuatku menyesal membelinya, semembosankan apapun.

Pada suatu ketika beberapa bulan (atau tahun) terakhir inilah aku menyimpulkan kesulitanku meneruskan hobi membaca ini adalah karena adanya gangguan pemusatan perhatian. Aku kesulitan fokus sedangkan membaca merupakan kegiatan yang membutuhkan fokus. Beberapa menit membaca membuatku memikirkan hal lain kemudian akhirnya buku kulepas dari tangan dan aku mulai beranjak, bergerak, atau membuka ponsel.

Atau sederhana saja masalahnya, bahwa beginilah generasi muda masa kini pengguna teknologi terutama internet? Beginikah efek samping dari kemajuan peradaban yaitu terlalu banyak distraksi dan manusia-manusianya kesulitan bertahan lama melakukan sesuatu tanpa tergiur hal lain? Apakah angka kejadian GPPH meningkat di era milenium ini? Apakah penderita pseudo-GPPH sepertiku tumbuh seperti lumut di dinding batu di musim hujan?

Jawab aku, buku, jawab. Aku sudah merindukan kalian.

NB. Ternyata salah satu inspirasi untuk menulis (lagi) di blog adalah dengan membaca buku. Saat sedang membaca buku rasanya aku jadi ingin menulis juga, atau aku jadi ingat bahwa ada ide yang harus kusampaikan lewat tulisan. Buku terbaru yang baru selesai kubaca (dalam sehari; termasuk hebat dengan keadaan mental terkiniku) adalah “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer. Resensinya? Cari sendiri di google ya, satu saja dariku: Itu buku wajib baca. ^_^

My Supplication

Aku tidak pandai melantunkan doa namun aku tahu Allah Maha Mendengar dan Memahami apa isi hatiku, apa kerinduanku. Aku ingin hatiku bersih sebening cermin yang memantulkan kebaikan yang mengenainya. Aku ingin kekotoran di dalamnya sirna bersama penyesalan dan pembelajaran untuk tidak mengulanginya. Aku ingin kebutuhanku, baik jasmani maupun rohani, tercukupi dengan mudah sehingga hidupku hanyalah untuk berbakti, bukan menuntut minta dibagi. Aku juga ingin menjadi berkah bagi sekitarku, bukannya membebani atau menimbulkan ketidakenakan hati. Aku ingin meneladani manusia terhebat di dunia sepanjang masa, Rasulullah Salallahualaihiwassalam.

Rasanya malu, aku banyak inginnya namun sedikit usahanya. Aku malu bahwa sabarku masih kurang cantik, bahkan jauh dari cantik. Aku malu masih ada keluh dalam lisanku, banyak syarat dalam lakuku, dan tidak segera bergerak dengan apapun yang kupunya. Aku malu pada Allah, menuntutNya aku ingin begini dan begitu, sementara langkahku menuju padaNya terseok, kadang terhenti. Aku malu meminta jodoh sementara aku tidak patut dibanggakan sebagai seorang wanita. Aku malu pada penghuni bumi yang tekun dan sabar mengusahakan kehidupan yang baik dan penuh rahmat, sementara aku sibuk menghitung kekuranganku dan menutut kebaikan dari Allah.

Kasih sayangNya sering mengagetkanku, yang DilimpahkanNya padaku, sehina apapun diriku, sekejam apapun diriku membuat judgment atas diriku sendiri, atau atas orang lain padahal aku tidak pernah tahu keadaan sebenarnya. Aku diliputi kasih sayangNya namun seringkali menutup mata dan telinga atas semua itu. Aku lupa bahwa hanya dengan menerima kasih itu dengan hati terbuka maka aku bisa meneruskannya ke diriku sendiri dan ke para penghuni bumi.

Rasanya ingin menangisi kelambanan hatiku untuk tergerak menuju cahaya. Cahaya itu selalu ada, sinarnya selalu benderang menyilaukan mata hati sekaligus menenangkannya. Namun kesombongan dan kedurhakaan kerap kali menjadi pemenang. Lagi-lagi aku hanya bisa mengeluh atas ketidakberdayaanku, dan akhirnya berbisik lirih pada Allah untuk dikuatkan, diberanikan menghadapi kehidupan, melangkahkan kaki menuju kebaikan itu. Aku tahu hanya dengan Kehendak Allah aku bisa menuju cahaya itu dan terselimuti dengan nyaman dan akhirnya berpendar terang di muka bumi ini.

Kadang kerinduan datang, untuk pulang ke kampung halaman. Namun aku takut jika Allah belum berkenan dengan ringannya timbangan kebaikanku. Aku kemudian menangis dan lelah karenanya, berharap setiap tetes air mata melunturkan dosa. Namun aku akan terbangun sebagai manusia yang lupa untuk mempercantik sabarnya, memperpanjang syukurnya, dan menahan lisannya.

Saat paling berharga sesungguhnya adalah ketika ingat aku di sini hanya mampir saja, sebelum pulang ke kampung halaman selamanya. Semua menjadi semu, tidak nyata, dan tidak penting, sehingga aku merasa rendah, tak berdaya, dan hanya mengharap pada Allah. Ingatan itu hanya bertahan beberapa menit saja dalam puluhan ribu hari hidupku, segera hilang dan terganti oleh kejumawaan dan hedonisme. Aku bersusah payah menghidupkan kembali memori itu. Semoga Allah Mudahkan. Semoga doaku terkabul. Aamiin.

IMG_20141204_134801-1