Sharing is Caring

Sharing is caring adalah kalimat yang sering digunakan nenek dari ibuku. Beliau sudah meninggal tujuh tahun lalu oleh kanker yang kami tidak tahu apa. Saat ini, Ramadhan 2018, aku baru paham arti sebenarnya. Berbagi berarti peduli. Berarti juga sayang. Nenekku memang suka memberi, tapi kuduga sebagian besar orang juga begitu kan?

 

Suatu hari aku memutuskan untuk mendaftarkan diri di acara lari untuk galang dana. Konsep run for charity sudah ngetop di dunia beberapa tahun terakhir. Namun ada satu orang yang begitu menginspirasi hingga aku akhirnya iri “dia tampak bahagia banget sih melakukan itu, aku juga mau.”

Saat aku menulis ini, pengumuman bahwa aku lolos sebagai salah satu peserta lari itu sudah dua bulan lalu. Laman khusus tiap pelari untuk donasi sudah rilis hampir dua minggu yang lalu. Setiap hari sejak dibukanya laman khusus kami, aku memikirkannya. Memikirkan semua tentang galang dana ini. Semacam obsesi.

Hari-H masih sembilan puluh hari lagi. Dua hal yang mendebarkan bagiku: berlari sejauh 40 km dengan “tepukan” di pundak dari para donatur: “semangat ya,” dan apa lagi yang sebaiknya aku lakukan untuk galang dana hingga tenggat waktu tiba.

Sebagai orang yang terlalu sering kepikiran (aku menolak menyebut diriku suka sengaja memikirkan, hahaha), acara galang dana ini agak menyita waktuku. Seminggu saja sudah membuatku hampir kehabisan energi. Masih ada tiga bulan lagi.

Setelah menyadari aku menyita waktuku sendiri, aku terdistraksi dengan keadaan kamarku yang tidak pernah rapi itu. Lalu teringat satu lagi orang baik yang membagikan barang-barangnya ke orang lain. Tadinya untuk alasan kepentingannya sendiri: mengosongkan rumahnya. Tapi ternyata menyenangkan para penerima barangnya kan. Konsep ini biasanya dipakai oleh orang-orang yang tinggal di luar negeri lalu harus kembali ke negara asalnya. Jadi selain menjual tempat tinggalnya, mereka mengosongkan dulu isi rumahnya dengan mengumumkan ke siapa saja namun biasanya ke sesama perantau dari negaranya.

“Ambil aja barangnya ke rumah.”

“Eh, serius kak? Gratis? Gak pa pa, nih?”

“Iya serius. Aku akan segera balik Indo.”

Begitulah salah satu kutipan kisah nyata. Ada orang baik yang ingin berbagi namun ada juga orang-orang yang merasa asing dengan kebaikan ini sehingga tampak skeptis. “Ah, masa sih gratis?” Perasaan skeptis ini sangat mungkin adalah suatu kewaspadaan saja, dan itu baik juga. Namun seharusnya setelah mengetahui alasan “aku harus pulang ke Indo, jual barang kelamaan, aku bagi-bagi aja,” para calon penerima barang langsung paham dan berterima kasih karena mendapat kebaikan, kan?

Ada alasan lain selain “mengurangi barang” sih, sebenarnya. Menurut beberapa buku yang terbit beberapa tahun terakhir ini yang muncul di hasil pencarian di Playbook untuk kata kunci “minimalism,” kita tidak seharusnya punya ikatan yang kuat dengan benda mati. Kita juga sebaiknya mensyukuri keberadaan barang-barang kita (sehingga rela berpisah jika habis waktunya). “Thank your for helping me, now i let you go.”

Ya ampun makin gak jelas kan tulisanku ini. Memandangi isi kamarku dengan otak yang sudah membaca buku Konmari dan beberapa lembar buku tentang minimalisme, aku memutuskan mengumpulkan sebagian besar buku yang kupunya di rumahku. Aku mencoba mensortir menurut Konmari (silakan googling ya, siapa atau apa itu), lalu gagal berkali-kali. Ternyata minimalisme itu berat diraih. Ternyata aku punya obsesi dengan benda-benda (atau hanya buku?).

Aku yakin banyak pembaca tulisan ini setuju bahwa “buku adalah harta” dan “perpustakaan pribadi adalah salah satu life goal ku.” Namun menurut para penulis buku tentang minimalisme, dua kalimat itu hanyalah excuse belaka. Bahagia adalah merelakan benda sekalipun itu sumber ilmu.

Masih dalam semangat mencari donasi untuk yayasan bidang pendidikan anak, ditambah kamarku yang penuh sesak, aku memutuskan meniru para orang baik di atas: membagikan bukuku. Iya, nilai riilnya lebih dari sejuta. Namun tidakkah kita bersyukur jutaan itu sudah membahagiakan kita, sudah menjadikan kita lebih berilmu, atau lebih skeptis atau gila?

Masih saja ada yang bertanya “Serius gratis?” Tidak hanya satu atau dua orang. Lalu aku paham bagaimana para filantropis itu menjelaskan “aku yang butuh untuk ngasih, please.” Dan paham kata eyang utiku tadi, “Sharing is caring.”

Oh, dan merasa penyebab kebingungan beberapa orang dengan konsep berbagi ini adalah jaman makin edan, materialisme masih menjadi “agama” favorit.

Huft. Intinya aku nulis apa ya, hahaha. Berbagi itu sungguh sebenarnya untuk diri sendiri. Pemberi merasa lebih bahagia dibanding yang diberi. Menurut agama pun, sedekah sejatinya adalah untuk kepentingan diri sendiri. Teduh di surga nanti, atau agar disayang Tuhan.

Jadi, begitulah. Semoga Ramadhan ini menjadikan kita lebih bertakwa. Oh, baca lebih lanjut tentang run for charity ku di runtocare.com/ayu, baca kampanyenya, lalu donasi recehmu ke situ ya. I love you ❤

 

Advertisements

Pengalaman Menyunting

Tentu saja menyunting tulisan ya, bukan menyunting seorang gadis yang cantik hatinya. Oh itu mempersunting ya? Hehehe. Menyunting atau istilah asingnya editing, adalah bahasa baku untuk mengedit, yang merupakan pekerjaan seorang penyunting atau editor.

Suatu hari di grup chat bernama Telegram (bagi yang belum tahu, ini adalah platform semacam WhatsApp hanya lebih baik. Jauh lebih baik), sesama alumni TN melemparkan lowongan untuk “mengurusi buku yang akan rilis.” Alumni ini kemudian menjadi ketua ikatan alumni sampai tiga tahun ke depan. Saat itu aku langsung mengangkat tangan (dengan cara japri, tentu saja) “Bang, aku mau jadi editor.”

Singkat cerita, buku berjudul KARYA TERBAIK UNTUK INDONESIA, BOCAH-BOCAH PIRIKAN 2.0″ rilis juga (preorder sudah dibuka, linknya sila klik di SINI) setelah berbulan-bulan berproses. Prosesnya lumayan panjang (atau ini hanya komentar seorang pemula yang sombong), dari mencari penulis (dengan survei per angkatan), melamar mereka satu per satu untuk berkenan menulis, mengingatkan mereka tentang tenggat waktu tulisan, menyunting, dan lain-lain (yang kemudian menjadi urusan percetakan).

Sebenarnya yang aku duga aku bisa lakukan dengan baik adalah menyunting: menemukan keanehan atau kesalahan penulisan kemudian memperbaikinya. Menemukan diksi yang buruk kemudian menggantinya dengan kata lain yang lebih enak dibaca. Memindah kalimat ini dan itu atau paragraf ini dan itu ke sana atau ke sini. Mengusulkan konten tulisan jika ada yang kurang, dengan menghubungi penulis dan menagih sebelum tenggat waktu. Sudah beberapa tahun aku menjadi pembimbing skripsi mahasiswa S1. Di situ pekerjaanku antara lain menemukan typo pada naskah skripsi mereka dan mengoreksinya satu per satu, mengusulkan kalimat pendahuluan yang lebih argumentatif, atau mengkritisi kalimat-kalimat tidak efektif di bagian pembahasan.  Jika si mahasiswa butuh bantuan pun aku sering mengusulkan kerangka teori, kerangka konsep, bahkan garis besar untuk bagian tinjauan pustakanya. Kukira begitu juga tugas editor buku apapun. Skripsi-skripsi itu telah menempaku. Yah, kukira, dan itu dulu.

Bagaimana pendapatku sekarang setelah aku membaca ulang naskah-naskah yang aku sunting di buku BBP2 itu? Ternyata proses penyuntingan tidak mudah. Dan sebagai pemula, hasil suntinganku masih disunting lagi oleh kakak chief editor. Dan mungkin abang editor lain. Hasil suntinganku masih kurang enak dibaca atau kurang efektif kalimatnya atau simply terlalu buruk, sehingga harus ada campur tangan orang lain. Sampai detik ini aku masih mengagumi betapa “tidak kepikiran” nya susunan kalimat seperti yang sekarang ini menjadi naskah siap cetak (dibanding usulan kalimat dariku) atau betapa tidak kreatifnya aku menemukan diksi ini dan itu.

Lack of vocabulary! Itu juga yang terjadi padaku, selain kurang kreatif (atau kurang latihan?). Bahasa Indonesiaku masih jauh dari bagus. Mungkin ini karena aku juga semakin jarang membaca.

Yang seru dari menyunting selain memaksa munculnya kreativitas setiap memelototi naskah adalah menghubungi penulis. Dari tujuh naskah (alias tujuh penulis) yang menjadi tugasku (BBP2 berisi tulisan dari 60 penulis. Jadi >10% nya adalah tugas editku walau tidak murni begitu, hehe), satu orang aku hubungi karena tulisan yang terlalu pendek. Aku menelepon dan akhirnya memutuskan mewawancara beliau, kemudian hasil wawancara aku transkrip dan kuolah menjadi tambahan kisah dalam naskah. Saat itu aku menelepon beliau dengan jemari menari menuliskan apa yang aku dengar di ujung sana. Aku (selalu) berterima kasih pada program ekstrakurikuler di SMP-ku tahun 2000 dulu yaitu “mengetik” (sementara SMP lain ekskulnya sudah “komputer”) sehingga aku bisa mengetik dengan sepuluh jari sesuai norma dan dengan kecepatan yang bisa kuandalkan. Terima kasih, SMP 5 Semarang!

Sempat sedih sih, pekerjaanku masih jauh sekali dari sempurna. Lihatlah hasil suntingan ulang para seniorku terhadap pekerjaanku (eh jangan dilihat ding, rahasia. Aib). Namun pilihan yang kupunya hanyalah “Keep moving forward.” Aku sedang belajar menyunting dan akan terus belajar. Aku siap ditugasi menyunting lagi walau pemakai jasaku harus punya intestinum (usus, Bahasa Latin) yang cukup panjang untuk bersabar dengan deadline versiku yang mengesalkan.

Oh soal dealing with deadlines, salah satu penulis di buku BBP2 mengatakan bahwa kesuksesan tidak mungkin tercapai tanpa disiplin. Mau sehebat apapun kita, sekreatif apapun kita, jika hasil pekerjaan selesai melewati deadline maka tidak ada artinya. Percuma. Dengan demikian, disiplin itu sangat penting.”

Tuh kan, satu lagi kebahagiaan dari menjadi salah satu (dari tujuh) penyunting buku BBP2, yaitu membaca (bisa sampai berulang kali) konten buku, yang sangat bermanfaat dan menginspirasi itu.

Oh satu hal lagi yang ingin aku bagikan. Suatu hari menjelang tenggat waktu rilis buku, kami para pejuang BBP2 yang tergabung dalam grup WhatsApp (tidak mungkin pakai telegram karena tidak semua orang menggunakannya) mulai cemas dengan masih banyaknya pekerjaan dan sedikitnya orang. Maka lowongan editor dadakan pun dibuka, yang disambut baik oleh beberapa orang. Namun ternyata lowongan itu dibuka sangat singkat karena pekerjaan cepat selesai dan kecemasan tidak terbukti. Saking singkatnya, terpaksa para relawan yang mengajukan diri mengisi lowongan aku tolak, “Maaf ternyata saat ini sudah cukup.” Kemudian aku pun termenung, “Hei, rasanya orang-orang (yang merespon lowongan) ini lebih berkualitas dariku. Nama mereka lebih berhak tercantum di halaman sampul sebagai “penyunting.”

Saat itu terasa sekali keberadaanku di salah satu grup WhatsApp paling keren itu (ya grup BBP2 itu, hehe) murni karena kemudahan dari Tuhan. Pas kebetulan aku punya telegram, pas kebetulan si Abang membuat pengumuman “siapa mau bantu” dan aku langsung menawarkan diri, dan aku tidak secerdas itu untuk membagikan lowongan ke grup-grup lain, “Eh mau bikin buku nih, siapa ikut?” Grup itu keren’ aku berinteraksi dengan orang-orang keren di bidang kepenulisan yang kebetulan semuanya aku deskripsikan, “We went to the same school.” dan setiap hari ada saja ilmu baru bagiku yang mengaku memiliki cita-cita tertinggi sebagai seorang penulis ini.

Alhamdulillah, semoga tugas pertama ini bukan tugas terakhirku.

Yuk ah, klik link di atas dan preorder. Jangan ditunda ya, keburu tutup masa PO nya. Barakallah.

 

 

 

Membaca Buku dan GPPH

Baik, aku jabarkan GPPH terlebih dahulu. Dialah gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Betul, ini adalah sebuah penyakit, dan tidak, aku tidak mengidapnya, karena diagnosis hanya bisa ditegakkan jika gejala sudah muncul sejak usia tiga tahun. Jika baru muncul sekarang maka bukan GPPH tapi sebut saja pseudo-GPPH.

Beberapa bulan (atau tahun?) terakhir aku kesulitan menyelesaikan buku, baik fiksi maupun non-fiksi (bukan teksbuk faal). Tapi setelah kuingat kembali, ternyata memulainya pun sulit. Di kamar tidurku, tiga dari empat sisi kamar ada buku, baik tumpukan maupun pajangan rapi (atau berdebu). Keluar kamar lebih parah lagi, ortuku menyimpan buku di ruang tamu, ruang tengah, ruang samping, sampai kamar lain, dengan dalih, “maklum lah bapak ibu kan dosen jadi ya bukunya banyak.” Stimulus yang tersebar itu tidak menggugahku untuk mengambil satu pun buku setiap minggu untuk diselesaikan.

Berbeda lagi saat berkunjung ke toko buku. Aku selalu punya ide cemerlang (maksudnya konsumtif), “Wah ini buku bagus, aku harus beli. Aku harus punya. Aku harus baca.” Beruntung jika teman berkunjungku adalah adikku, karena dia akan menyambar (tanpa aku ucapkan kalimat cemerlangku tadi, karena selalu hanya kubatin saja, tapi mungkin binar mataku bisa dia kenali dengan mudah), “yakin mau dibaca? Nanti di rumah ditumpuk aja?” dan aku bisa percaya dia juga akhirnya, atau tetap ngeyel membelinya, “Kubaca kok. Yakin.”

Pernah, sering malah, aku mengamati rak-rak buku di rumah, mengambil beberapa buku dan menaruhnya di kasurku. Tujuanku adalah memberi tugas pada diriku sendiri untuk menyelesaikan beberapa buku dalam waktu tertentu dan waktu terbaik adalah menjelang tidur. Berhasilkah strategi itu? Tidak selalu. Beberapa buku memang tampak sangat menarik, misalnya karena itu buku baru (yang dibeli adikku) dan sangat nge-hits sehingga semua orang sudah membacanya kecuali aku, atau itu buku yang ditulis oleh penulis favoritku. Atau buku tematik seperti buku Ramadhan yang kutumpuk di kasur menjelang Ramadhan. Ada keadaan khusus lain aku bisa mulai membaca: terpaksa menunggu lama seperti saat transit di bandara atau perjalanan jauh dengan kereta (atau pesawat atau bis jika sopirnya menyetir dengan sopan).

Seseorang pernah berkata bahwa tidak ada orang yang tidak suka membaca, orang itu hanya belum menemukan jenis buku/ bacaan yang dia suka. Aku sangat setuju dengan itu. Bahkan komik pun termasuk buku, sehingga orang-orang semacam teman priaku di sekolah dulu yang “tidak tahan membaca novel, tulisan semua, bosan” bukannya tidak suka membaca, hanya memilih komik daripada novel. Sehingga tidak perlu ada debat filosofis dalam tulisan kali ini mengenai pentingnya (atau tidak pentingnya) membaca.

Ketika akhirnya aku berhasil memaksa diriku membuka lembar pertama dan mulai membaca sampai minimal beberapa halaman pertama, aku mulai ingat nikmatnya membaca. Benar juga kata orang bijak bahwa langkah pertama memang yang paling berat. Selanjutnya pasti terasa lebih ringan. Bahkan menyenangkan. Namun tidak seratus persen kejadian membacaku seperti itu. Ada beberapa kali aku berhenti membaca di tengah-tengah buku (atau sepertiga awal dan jarang sekali di bagian akhir). Mungkin sekali itu karena bukunya yang membosankan, tapi aku jarang mengatai suatu buku itu jelek. Aku sangat ingin menjadi penulis (mungkin diam-diam sejak kecil, karena diary-ku sudah ada sejak aku kelas 3 SD, sampai sekarang masih kuusahakan menulis) sehingga aku menghargai dan mengagumi para penulis. Beberapa buku membuatku ingin menyelesaikan tanpa jeda (terpaksa jeda untuk ke toilet atau solat atau makan), tapi sedikit sekali yang membuatku menyesal membelinya, semembosankan apapun.

Pada suatu ketika beberapa bulan (atau tahun) terakhir inilah aku menyimpulkan kesulitanku meneruskan hobi membaca ini adalah karena adanya gangguan pemusatan perhatian. Aku kesulitan fokus sedangkan membaca merupakan kegiatan yang membutuhkan fokus. Beberapa menit membaca membuatku memikirkan hal lain kemudian akhirnya buku kulepas dari tangan dan aku mulai beranjak, bergerak, atau membuka ponsel.

Atau sederhana saja masalahnya, bahwa beginilah generasi muda masa kini pengguna teknologi terutama internet? Beginikah efek samping dari kemajuan peradaban yaitu terlalu banyak distraksi dan manusia-manusianya kesulitan bertahan lama melakukan sesuatu tanpa tergiur hal lain? Apakah angka kejadian GPPH meningkat di era milenium ini? Apakah penderita pseudo-GPPH sepertiku tumbuh seperti lumut di dinding batu di musim hujan?

Jawab aku, buku, jawab. Aku sudah merindukan kalian.

NB. Ternyata salah satu inspirasi untuk menulis (lagi) di blog adalah dengan membaca buku. Saat sedang membaca buku rasanya aku jadi ingin menulis juga, atau aku jadi ingat bahwa ada ide yang harus kusampaikan lewat tulisan. Buku terbaru yang baru selesai kubaca (dalam sehari; termasuk hebat dengan keadaan mental terkiniku) adalah “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer. Resensinya? Cari sendiri di google ya, satu saja dariku: Itu buku wajib baca. ^_^