Perkenalkan

Perkenalkan. Saya seorang bersuku Jawa yang mengaku muslim. Umur saya dua puluh tujuh lebih, belum menikah dan tinggal bersama orang tua. Pekerjaan saya dokter walau saya akan meralatnya menjadi ‘profesi’ karena saat ini saya berusaha ke kantor setiap harinya di kampus negeri dan tidak praktik. Suatu hari saya akan praktik lagi setelah urusan sekolah master yang belum ada progres ini saya selesaikan, begitu yang selalu saya tekankan ketika ditanya kapan kembali praktik. Saya anak tengah dengan seorang kakak pria yang belum menikah dan adik perempuan yang sudah menikah. Penting bagi saya untuk segera menyusul adik saya untuk menikah tanpa alasan yang jelas. Mungkin hanya untuk pindah dari rumah orang tua, atau mungkin untuk sedikit merasa lega bahwa ada manusia lain di dunia ini yang menginginkan kehadiran saya sebagai istri dan mungkin ibu bagi anak-anaknya.

Hampir setiap pagi saya menyeret kaki menjalani hari dengan mood yang carut-marut. Kata para tokoh agama, mood jelek saya itu akibat saya tidak bersyukur atas hidup saya yang nyaris sempurna. Jadi saya sibuk mengingat kelebihan-kelebihan saya yang mungkin bisa membahagiakan saya, yang kemudian kebahagiaan itu bisa meningkatkan produktivitas saya sebagai wanita karir yang diharapkan bangsa dan negara.

Sementara para sebaya saya sibuk dengan keluarga kecilnya atau proyek besar dalam benaknya atau rencana pengentasan kemiskinan bersama grupnya, saya sibuk membujuk diri sendiri tentang pentingnya menjalani hidup dengan penuh antusiasme. Saya sibuk menenggak suplemen-suplemen agamis yang menawarkan kebahagiaan tak terbatas bagi semua orang. Kemudian saya akan merasa lega dan selanjutnya merasa lebih ringan saat menyeret kaki ini.

Entah apa yang saya tunggu untuk akhirnya bangun dengan jiwa berapi-api, dengan ambisi untuk berbakti bagi bumi ini. Entah apa yang hilang dari diri saya sampai kehampaan jiwa ini berlarut-larut, kekosongan yang sungguh berat diseret saat melangkah digilas waktu. Iya, kosong namun berat, lambat namun cepat, saat tahu-tahu sudah hampir akhir tahun, saat tahu-tahu banyak orang sudah berbuat, dan saya masih termangu tanpa air mata.

Pernah saya merasa brilian ketika merindukan diri saya versi masa depan yang sudah produktif dan diharapkan banyak orang. Diri saya dari masa depan itu menghampiri diri saya yang sekarang, menepuk pundak sambil menenangkan bahwa semua akan baik-baik saja, semua akan berlalu, dan saya akan bisa melewatinya. Impian semu, namun merupakan solusi atas kehampaan saat ini. Kemudian saya merasa lebih brilian ketika membaca jurnal-jurnal saya sendiri bertahun lalu. Di situ saya temukan diri saya yang produktif dan ceria, walau sering terhias air mata manja. Membacanya membuat saya percaya akan kemungkinan jiwa saya kembali terisi, akan kebahagiaan abadi yang sekarang dirasa sedang hilang. Jadi saya sedang termangu minta diajari diri saya yang dulu, yang kekanakan dan sering seenak sendiri, namun penuh optimisme, kebahagiaan, dan harapan-harapan.

Dalam saat terbaik saya, semisal menjelang pergantian siang dan malam saat kadar gula darah terbatas, saya menyadari bahwa merindukan diri saya di masa depan maupun di masa lalu bukanlah solusi. Bagaimanapun bentuk saya, baik dulu yang saya rasa lebih produktif, maupun saat ini yang lebih banyak menangis tanpa sebab yang jelas, adalah tetap diri saya yang dilimpahi rahmat-Nya. Mungkin mengandaikan masa depan maupun mendewakan masa lalu maupun mencerca masa kini tidak pernah bermanfaat. Mungkin saya hanya harus terus melangkah dengan secuil iman di dada, iman pada Tuhan Yang Tidak Pernah Lelah Menunggu hamba-hambaNya berjalan kembali menujuNya, Yang Kasihnya meliputi jagat raya, Yang RahmatNya jauh Melebihi MurkaNya.

Jadi perkenalkan, saya seorang pelayan Tuhan yang sedang terlena dari tugas utamanya di dunia..

Translation Matter

Kalo kamu ngerasa nggak sabar kapan dapet uang dari hasil kerjaan terjemahanmu,

kalo kamu ngerasa keberatan ngirimin imel hasil kerjaan terjemahanmu ke aku,

kalo kamu ngerasa nggak sabar kok nggak dateng-dateng sih job baru,

kalo kamu sering sms aku dan bilang, “Maaf Dai, ternyata nggak bisa jadi sekarang, karena aku bla.. bla.. bla.. (aku nggak peduli karena sebelumnya kamu sudah janji. Janji adalah hutang)”

kalo kamu kebanyakan syarat untuk mulai ngerjain lembaran kertas yang udah kusodorin di depan hidungmu hanya karena kamu pengennya ini dan itu,

kalo kamu ngerjain terjemahan keburu-buru sampe nggak sempet proof-read ketikanmu sendiri sehingga ngrepotin aku karena harus koreksi salah ketikmu,

kalo kamu selalu lupa atau sengaja lupa (aku nggak peduli) untuk ngebalikin lagi lembaran asli terjemahan ke aku,

BERARTI KAMU NGGAK LAYAK MINTA KERJAAN KE AKU. Cari sono, job sendiri, nggak usah tanya ke aku lagi, nggak usah minta-minta aku lagi. Sori, aku nggak butuh orang macam kamu. Cuma jadi beban aja. Ngrepotin.

Maunya cari duit tapi nggak profesional. Bisnis adalah bisnis. Pelayanan yang memuaskan pelanggan adalah prinsip yang harus dipegang teguh. Nggak ada alasan untuk mengecewakan pelanggan.

Jauh-jauh deh, dari aku. Cari noh, pelangganmu sendiri. Kecuali kalo kamu emang orang-orang terkecuali yang tetep aku kasih kerjaan walaupun kamu pernah ngelakuin hal-hal menyebalkan di atas, karena aku memilihmu.

Ya, AKU YANG MEMILIH KAMU, BUKAN SEBALIKNYA. SUKA-SUKA AKU DONG!

-Full of rage, I guess :,(

Curcol

Baru denger istilah curcol. Alias curhat colongan. Ketika beberapa orang sedang ngomongin ‘udara hari ini cerah ya’, tiba-tiba salah satu dari mereka ada yang bilang, ‘tau gak, aku pengen nangis soalnya sahabatku nyuekin aku’. Dan orang terakhir itu sedang curcol namanya. Oalah, aku bingung dengan adanya istilah itu karena KUPIKIR SEMUA ORANG MELAKUKANNYA. I thought it’s okay to share our feelings to random people around us.

Yup, tepat sekali, akulah sang curcol, yang baru sadar kalo aku sering curcol. Benar-benar disadarkan oleh adanya istilah itu di dunia ini. Akhir-akhir ini seorang teman bilang kalau aku sangat terbuka, mudah menceritakan rahasia pribadi ke teman yang gak terlalu dekat.

Tiba-tiba jadi ingat, seorang teman lainnya pernah bilang kalau aku berlebihan bercerita ke orang lain yang baru kenal, yang belakangan sedikit menimbulkan masalah (tapi bukan itu poinnya untuk saat ini).

Oalah, sekarang aku menemukan benang merahnya. Dua temanku benar. Simply saying that I am an extrovert, a talker, a leaked pail….

***

Akhir-akhir ini aku bingung dengan sikap seorang temanku (yang cukup dekat), agak berubah. Kayak lebih menghindariku. Atau berkurang senyumnya. Mungkin aku terlalu demanding, tapi aku jadi takut. Jangan-jangan karena aku berbuat suatu dosa yang melukai hatinya tanpa kusadari (tipikal orang dengan gangguan kepribadian.. lihat halaman saya [2])?

***

Dengan semena-mena aku menggeneralisasi bahwa hubungan pertemanan atau persahabatan (atau perpacaran, ku tak tahu) antara dua orang pastilah ada yang di atas ada yang di bawah. Ada yang dominan ada yang resesif. Ada yang berbicara ada yang mendengar. Bukan dua-duanya. Bukan fifty-fifty. Bukan timbal balik, bukan resiprokal.

Kesimpulan itu aku buat karena aku pernah menjadi sang pendengar. Temanku satu itu selalu datang kepadaku untuk bercerita. Aku menikmatinya. Tapi suatu saat dia memintaku gantian cerita. ‘Lha kamu ga pernah stop bercerita’ keluhku dalam hati.

Aku pun pernah jadi sang pembicara, bukan pendengar. Dan temanku yang pendengar itu tampak menikmatinya, sangat berempati, dan menyenangkan sebagai tempat curhat. Suatu saat aku berbicara dalam hati, ‘Lha kamu gantian cerita dong’ tapi aku merasa aku termakan omongan sendiri. Jelas aku pernah merasakan di posisinya, jadi aku tahu jawabannya.

Tapi apa artinya, satu predator satu mangsa? Agar menjadi rantai makanan??! Tapi hanya dua komponen, tanpa adanya decomposer, akankah bertahan lama?

Bukankah lambang persahabatan dan cinta adalah sepasang merpati, yang saling melengkapi? Spesies yang sama, mampu terbang tinggi bersama karena punya sayap?

***

Aku gak peduli postinganku kali ini cukup campur aduk. Akhir-akhir ini sedang terlepas dari orang-orang yang terbiasa dekat denganku, dan terikat dengan orang-orang yang baru kukenal. Cukup menyegarkan, ternyata.

***

Aku kagum pada orang-orang profesional yang mengerjakan sesuatu yang dia benci. Yang menyegerakan sesuatu yang sangat ingin dia tunda. Yang memiliki ketenangan dalam ketergesaan.

Yeah, pagi ini aku sangat kacau. Bangun jam 5, belum menyelesaikan tugas Obgyn. Jadilah aku mulai mengetik, dan mengetik. Itu pun harusnya kemarin malam. Tapi aku memilih tidur. Ketikan belum selesai, waktu sudah setengah 7. Jadi deh aku gubrak-gubrak bersegera siap-siap. Sampai rumah sakit, beruntung aku gak telat. Tiga menit lagi matilah aku.

Aku merasa sangat bersalah, kenapa aku mengulangi hal yang sama: 1. memilih tidur daripada menyelesaikan kewajiban, 2. gagal memprioritaskan. Harusnya ketikan ditinggal, toh gak bakal selesai. Jadi mending siap-siap dan naek motornya gak perlu ngebut. Tugas bisa dikerjakan paginya di poliklinik (yang sepi itu..), kan bisa. Prioritas!

My unprofessional-ism di atas jelas mengganggu karirku di masa depan kalau dilanjutkan. Sementara teori kepribadian mengatakan bahwa kepribadian bisa berubah jika dan hanya jika ada: 1. katastrop, atau 2. kejadian luar biasa yang mempengaruhi kehidupan seseorang yang menjadi ‘terapi renjatan’ alias ‘shock therapy’ alias bikin kapok.

Tapi emangnya ketidakdewasaanku yaitu menunda dan gangguan prioritas itu udah jadi kepribadianku ya? Semoga belum, amin…

***