Sharing is Caring

Sharing is caring adalah kalimat yang sering digunakan nenek dari ibuku. Beliau sudah meninggal tujuh tahun lalu oleh kanker yang kami tidak tahu apa. Saat ini, Ramadhan 2018, aku baru paham arti sebenarnya. Berbagi berarti peduli. Berarti juga sayang. Nenekku memang suka memberi, tapi kuduga sebagian besar orang juga begitu kan?

 

Suatu hari aku memutuskan untuk mendaftarkan diri di acara lari untuk galang dana. Konsep run for charity sudah ngetop di dunia beberapa tahun terakhir. Namun ada satu orang yang begitu menginspirasi hingga aku akhirnya iri “dia tampak bahagia banget sih melakukan itu, aku juga mau.”

Saat aku menulis ini, pengumuman bahwa aku lolos sebagai salah satu peserta lari itu sudah dua bulan lalu. Laman khusus tiap pelari untuk donasi sudah rilis hampir dua minggu yang lalu. Setiap hari sejak dibukanya laman khusus kami, aku memikirkannya. Memikirkan semua tentang galang dana ini. Semacam obsesi.

Hari-H masih sembilan puluh hari lagi. Dua hal yang mendebarkan bagiku: berlari sejauh 40 km dengan “tepukan” di pundak dari para donatur: “semangat ya,” dan apa lagi yang sebaiknya aku lakukan untuk galang dana hingga tenggat waktu tiba.

Sebagai orang yang terlalu sering kepikiran (aku menolak menyebut diriku suka sengaja memikirkan, hahaha), acara galang dana ini agak menyita waktuku. Seminggu saja sudah membuatku hampir kehabisan energi. Masih ada tiga bulan lagi.

Setelah menyadari aku menyita waktuku sendiri, aku terdistraksi dengan keadaan kamarku yang tidak pernah rapi itu. Lalu teringat satu lagi orang baik yang membagikan barang-barangnya ke orang lain. Tadinya untuk alasan kepentingannya sendiri: mengosongkan rumahnya. Tapi ternyata menyenangkan para penerima barangnya kan. Konsep ini biasanya dipakai oleh orang-orang yang tinggal di luar negeri lalu harus kembali ke negara asalnya. Jadi selain menjual tempat tinggalnya, mereka mengosongkan dulu isi rumahnya dengan mengumumkan ke siapa saja namun biasanya ke sesama perantau dari negaranya.

“Ambil aja barangnya ke rumah.”

“Eh, serius kak? Gratis? Gak pa pa, nih?”

“Iya serius. Aku akan segera balik Indo.”

Begitulah salah satu kutipan kisah nyata. Ada orang baik yang ingin berbagi namun ada juga orang-orang yang merasa asing dengan kebaikan ini sehingga tampak skeptis. “Ah, masa sih gratis?” Perasaan skeptis ini sangat mungkin adalah suatu kewaspadaan saja, dan itu baik juga. Namun seharusnya setelah mengetahui alasan “aku harus pulang ke Indo, jual barang kelamaan, aku bagi-bagi aja,” para calon penerima barang langsung paham dan berterima kasih karena mendapat kebaikan, kan?

Ada alasan lain selain “mengurangi barang” sih, sebenarnya. Menurut beberapa buku yang terbit beberapa tahun terakhir ini yang muncul di hasil pencarian di Playbook untuk kata kunci “minimalism,” kita tidak seharusnya punya ikatan yang kuat dengan benda mati. Kita juga sebaiknya mensyukuri keberadaan barang-barang kita (sehingga rela berpisah jika habis waktunya). “Thank your for helping me, now i let you go.”

Ya ampun makin gak jelas kan tulisanku ini. Memandangi isi kamarku dengan otak yang sudah membaca buku Konmari dan beberapa lembar buku tentang minimalisme, aku memutuskan mengumpulkan sebagian besar buku yang kupunya di rumahku. Aku mencoba mensortir menurut Konmari (silakan googling ya, siapa atau apa itu), lalu gagal berkali-kali. Ternyata minimalisme itu berat diraih. Ternyata aku punya obsesi dengan benda-benda (atau hanya buku?).

Aku yakin banyak pembaca tulisan ini setuju bahwa “buku adalah harta” dan “perpustakaan pribadi adalah salah satu life goal ku.” Namun menurut para penulis buku tentang minimalisme, dua kalimat itu hanyalah excuse belaka. Bahagia adalah merelakan benda sekalipun itu sumber ilmu.

Masih dalam semangat mencari donasi untuk yayasan bidang pendidikan anak, ditambah kamarku yang penuh sesak, aku memutuskan meniru para orang baik di atas: membagikan bukuku. Iya, nilai riilnya lebih dari sejuta. Namun tidakkah kita bersyukur jutaan itu sudah membahagiakan kita, sudah menjadikan kita lebih berilmu, atau lebih skeptis atau gila?

Masih saja ada yang bertanya “Serius gratis?” Tidak hanya satu atau dua orang. Lalu aku paham bagaimana para filantropis itu menjelaskan “aku yang butuh untuk ngasih, please.” Dan paham kata eyang utiku tadi, “Sharing is caring.”

Oh, dan merasa penyebab kebingungan beberapa orang dengan konsep berbagi ini adalah jaman makin edan, materialisme masih menjadi “agama” favorit.

Huft. Intinya aku nulis apa ya, hahaha. Berbagi itu sungguh sebenarnya untuk diri sendiri. Pemberi merasa lebih bahagia dibanding yang diberi. Menurut agama pun, sedekah sejatinya adalah untuk kepentingan diri sendiri. Teduh di surga nanti, atau agar disayang Tuhan.

Jadi, begitulah. Semoga Ramadhan ini menjadikan kita lebih bertakwa. Oh, baca lebih lanjut tentang run for charity ku di runtocare.com/ayu, baca kampanyenya, lalu donasi recehmu ke situ ya. I love you ❤

 

Advertisements

About Being Sabr

18 Juni 2014

…Pernahkah aku merasa bahagia hanya karena aku masih hidup? Mungkin pernah. Yang kuingat, sebab-sebabnya adalah aku berusaha ingat Allah. Dari orang lain kulihat sebabnya adalah amalan hati seperti memaafkan, tidak dendam, tidak berprasangka, dan bersyukur. Singkatnya aku membujuk diri sendiri bahwa antara solat khusyuk, membaca Quran dengan tartil dan berusaha memahami artinya, dan melakukan amalan hati yang Islami (dan secara universal disebut sebagai “kebaikan”) merupakan hal-hal penyebab kebahagiaan. Ketiganya sama pentingnya, tidak ada yang lebih baik atau utama. Ketiadaan satu atau dua hal tidak menggugurkan kebahagiaan. Usahakan jadi pelaku ketiganya.

Ramadan 2014

… Aku tidak ingin mencemari usaha kesabaranku dengan komentar-komentar tidak bersyukur dan keluhan-keluhan. Aku adalah motivator terbaik untukku. I rely on myself (instead of other people) and God. So if it’s not me, I don’t think I can. Pokoknya semua tergantung aku. Pengen makin sabar ya aku harus disiplin sama diri sendiri untuk berlatih sabar tanpa henti. Pengen self-improvement ya harus rajin bercermin (dari orang lain, dari doa mohon petunjuk) dan melakukannnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. I am capable of loving. Aku cinta diriku sendiri, menerima apa adanya, bersabar akan kekurangannya, menghargai kelebihannya, bersemangat terus menyayangi dan menghargai, dan yakin aku akan menjadi lebih baik. Fighting depression? Not by being grateful (although it’s okay too) but with self respect. I guess.

Hei, Kamu Masih akan Lari (atau Yoga), kan?

Spanduk sponsor di stadion.

Kamu mencari kelelahan fisik dengan olahraga. Kamu berlari, di lain hari kamu senam yoga. Kelelahan mental kadang mendera, lebih sakit daripada timbunan laktat dan keringat.

Dalam kelelahan mental itu, kamu akhirnya menangis, diam-diam. Tenaga untuk marah telah hilang beberapa waktu lalu, saat musim dingin membuatmu berpikir untuk menghemat energi, atau saat musim panas keringatmu telah habis oleh terik mentari.

Mungkin benar bahwa jiwa ini hanya dititipkan dalam anatomi rumit tubuh manusia, yang otaknya aktif bekerja, dan jantungnya berdebar oleh kafein atau cinta atau kecemasan tentang dunia. Namun hormon bahagia setelah olahraga tetap akan melembutkan jiwamu, menguatkannya menghadapi kelelahan mental yang menanti di depan.

Kadang kamu berpikir perlukah berlari sepuluh kilometer sebelum memulai semua yang akan melelahkan mentalmu.

Pada akhirnya sang jiwa yang hanya mampir ini ikut berperan dalam kelestarian alam yang ditempatinya. Mungkin tubuh yang sehat dan kuat juga termasuk titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Mungkin sekedar lari pagi atau sore atau malam, dan yoga hampir sejam bisa mempermudah pertanggungjawaban tubuh ini nanti. Mungkin puasa dan menjaga makan bisa memudahkan jiwa ini lebih bertakwa.

Mungkin belum saatnya merasa lari atau yoga atau hal fisik lainnya hanyalah semata pelarian dari kelelahan mental. Mungkin sebaliknya, justru merekalah pendukung utama jiwa ini untuk terus berusaha, menghadapi kelelahan-kelelahan di depan, bersabar dengan kekalahan, bahkan mempersiapkan kemenangan, lagi dan lagi.

Salam olahraga.

Membaca Buku dan GPPH

Baik, aku jabarkan GPPH terlebih dahulu. Dialah gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Betul, ini adalah sebuah penyakit, dan tidak, aku tidak mengidapnya, karena diagnosis hanya bisa ditegakkan jika gejala sudah muncul sejak usia tiga tahun. Jika baru muncul sekarang maka bukan GPPH tapi sebut saja pseudo-GPPH.

Beberapa bulan (atau tahun?) terakhir aku kesulitan menyelesaikan buku, baik fiksi maupun non-fiksi (bukan teksbuk faal). Tapi setelah kuingat kembali, ternyata memulainya pun sulit. Di kamar tidurku, tiga dari empat sisi kamar ada buku, baik tumpukan maupun pajangan rapi (atau berdebu). Keluar kamar lebih parah lagi, ortuku menyimpan buku di ruang tamu, ruang tengah, ruang samping, sampai kamar lain, dengan dalih, “maklum lah bapak ibu kan dosen jadi ya bukunya banyak.” Stimulus yang tersebar itu tidak menggugahku untuk mengambil satu pun buku setiap minggu untuk diselesaikan.

Berbeda lagi saat berkunjung ke toko buku. Aku selalu punya ide cemerlang (maksudnya konsumtif), “Wah ini buku bagus, aku harus beli. Aku harus punya. Aku harus baca.” Beruntung jika teman berkunjungku adalah adikku, karena dia akan menyambar (tanpa aku ucapkan kalimat cemerlangku tadi, karena selalu hanya kubatin saja, tapi mungkin binar mataku bisa dia kenali dengan mudah), “yakin mau dibaca? Nanti di rumah ditumpuk aja?” dan aku bisa percaya dia juga akhirnya, atau tetap ngeyel membelinya, “Kubaca kok. Yakin.”

Pernah, sering malah, aku mengamati rak-rak buku di rumah, mengambil beberapa buku dan menaruhnya di kasurku. Tujuanku adalah memberi tugas pada diriku sendiri untuk menyelesaikan beberapa buku dalam waktu tertentu dan waktu terbaik adalah menjelang tidur. Berhasilkah strategi itu? Tidak selalu. Beberapa buku memang tampak sangat menarik, misalnya karena itu buku baru (yang dibeli adikku) dan sangat nge-hits sehingga semua orang sudah membacanya kecuali aku, atau itu buku yang ditulis oleh penulis favoritku. Atau buku tematik seperti buku Ramadhan yang kutumpuk di kasur menjelang Ramadhan. Ada keadaan khusus lain aku bisa mulai membaca: terpaksa menunggu lama seperti saat transit di bandara atau perjalanan jauh dengan kereta (atau pesawat atau bis jika sopirnya menyetir dengan sopan).

Seseorang pernah berkata bahwa tidak ada orang yang tidak suka membaca, orang itu hanya belum menemukan jenis buku/ bacaan yang dia suka. Aku sangat setuju dengan itu. Bahkan komik pun termasuk buku, sehingga orang-orang semacam teman priaku di sekolah dulu yang “tidak tahan membaca novel, tulisan semua, bosan” bukannya tidak suka membaca, hanya memilih komik daripada novel. Sehingga tidak perlu ada debat filosofis dalam tulisan kali ini mengenai pentingnya (atau tidak pentingnya) membaca.

Ketika akhirnya aku berhasil memaksa diriku membuka lembar pertama dan mulai membaca sampai minimal beberapa halaman pertama, aku mulai ingat nikmatnya membaca. Benar juga kata orang bijak bahwa langkah pertama memang yang paling berat. Selanjutnya pasti terasa lebih ringan. Bahkan menyenangkan. Namun tidak seratus persen kejadian membacaku seperti itu. Ada beberapa kali aku berhenti membaca di tengah-tengah buku (atau sepertiga awal dan jarang sekali di bagian akhir). Mungkin sekali itu karena bukunya yang membosankan, tapi aku jarang mengatai suatu buku itu jelek. Aku sangat ingin menjadi penulis (mungkin diam-diam sejak kecil, karena diary-ku sudah ada sejak aku kelas 3 SD, sampai sekarang masih kuusahakan menulis) sehingga aku menghargai dan mengagumi para penulis. Beberapa buku membuatku ingin menyelesaikan tanpa jeda (terpaksa jeda untuk ke toilet atau solat atau makan), tapi sedikit sekali yang membuatku menyesal membelinya, semembosankan apapun.

Pada suatu ketika beberapa bulan (atau tahun) terakhir inilah aku menyimpulkan kesulitanku meneruskan hobi membaca ini adalah karena adanya gangguan pemusatan perhatian. Aku kesulitan fokus sedangkan membaca merupakan kegiatan yang membutuhkan fokus. Beberapa menit membaca membuatku memikirkan hal lain kemudian akhirnya buku kulepas dari tangan dan aku mulai beranjak, bergerak, atau membuka ponsel.

Atau sederhana saja masalahnya, bahwa beginilah generasi muda masa kini pengguna teknologi terutama internet? Beginikah efek samping dari kemajuan peradaban yaitu terlalu banyak distraksi dan manusia-manusianya kesulitan bertahan lama melakukan sesuatu tanpa tergiur hal lain? Apakah angka kejadian GPPH meningkat di era milenium ini? Apakah penderita pseudo-GPPH sepertiku tumbuh seperti lumut di dinding batu di musim hujan?

Jawab aku, buku, jawab. Aku sudah merindukan kalian.

NB. Ternyata salah satu inspirasi untuk menulis (lagi) di blog adalah dengan membaca buku. Saat sedang membaca buku rasanya aku jadi ingin menulis juga, atau aku jadi ingat bahwa ada ide yang harus kusampaikan lewat tulisan. Buku terbaru yang baru selesai kubaca (dalam sehari; termasuk hebat dengan keadaan mental terkiniku) adalah “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer. Resensinya? Cari sendiri di google ya, satu saja dariku: Itu buku wajib baca. ^_^

Bersenang-Senang

Kadang istilah bersenang-senang menimbulkan konotasi negatif. Kesannya seperti berfoya-foya, berhedon ria, melupakan kewajiban, dan rekreasi setelah pusing berkutat dengan pekerjaan. Senang yang jadi kata dasarnya sendiri bersinonim dengan bahagia, yang kemudian menimbulkan konotasi lain lagi. Bahagia terkesan seperti sesuatu yang sangat besar, sangat agung, dan jarang terjadi, seperti pernikahan, punya anak, menang undian satu milyar, dan masuk surga. Gembira? Yah, semacam minuman bersoda, atau sorakan atau perayaan musiman. Oh atau konotasi-konotasi itu hanya muncul di otak pesimis ini ya?

Aku yakin manusia pada dasarnya berbahagia walau menangis keras saat terlahir ke dunia. Lihatlah anak-anak, mereka berbahagia tanpa alasan. Tertawa, tersenyum, bahkan ketika sendirian. Semakin bertambah umur semakin berkurang tawa, demikian kata seorang selebtwit. Ada masa-masa aku tertegun membaca tulisan-tulisanku sendiri yang tersebar di blog ini, di buku-buku harianku, di catatan-catatan kuliahku, atau teringat ucapan-ucapanku sendiri ke orang-orang. Tertegun betapa senangnya diriku yang dulu. Sering aku berpikir untuk mencari perbedaan masa lalu dan saat ini, apa yang membuatku begitu berbahagia zaman dulu dan apa yang membuatku saat ini lupa alasan-alasan itu.

Akhir minggu itu aku bertemu dengan sepasang tamu, saudari ibuku dan suaminya, yang berkunjung untuk satu atau dua alasan. Mereka pasangan yang lebih tua dari ibuku dengan seorang anak yang sudah bekerja di Jakarta. Mereka orang yang setahuku amat sangat kaya sehingga aku silau dengan kekayaan itu. Aku sering mengasosiasikan pakdhe dan budhe itu sebagai salah satu pasangan paling bahagia dan aku ingin menjalani kehidupan seperti mereka. Mungkin karena mereka kaya raya. Aku sering berencana untuk main ke rumah mereka hanya untuk mengagumi desain interiornya, buku-buku di perpustakaan pribadinya, kucing-kucing persianya, atau menikmati makan di restoran jika mereka mentraktirku, atau hanya mendengar cerita-cerita tentang berkeliling dunia. Ah intinya aku sangat senang dengan kunjungan mereka, suatu kesempatan untuk mengorek kadar kebahagiaan mereka dengan kekayaan semacam itu.

Ups, ternyata waktu cepat berlalu sejak pertemuan terakhirku dengan mereka. Beberapa tahun sudah terlewati sejak diskusi terakhir kami yang terdiri atas anggukan semangatku mendengar cerita perjalanan keliling belahan selatan benua Amerika dan kekagumanku atas jumlah anak asuh mereka. Ternyata keingintahuanku atas kebahagiaan mereka menjadi orang kaya tidak sehebat dulu. Aku sekarang hanya mengangguk kecil mendengar cerita terbaru mereka tentang pengajian selama tujuh tahun terakhir di Jakarta tentang ilmu tasawuf. Aku pura-pura paham dan sudah banyak membaca tentang sufisme itu. Dalam hati aku pusing dan galau, otomatis membandingkan dengan diriku, merasa malu bertahun-tahun berusaha menuntut ilmu agama namun ketenangan masih jarang mampir ke hati. Tentang kegalauan hatiku dengan diskusi sufistik ini sepertinya perlu kutulis di tulisan terpisah.

Oh, aku sedang menulis tentang bahagia, ya? Baiklah, dari kunjungan mereka ke rumah orang tuaku itu aku menyadari bahwa menjadi kaya raya, atau berkeliling dunia, atau berbagi dengan anak-anak tidak mampu bukan sumber kebahagiaan. Kamu bisa berbahagia saat melakukan itu semua, tentu, tapi kamu juga bisa tidak berbahagia saat melakukannya. Kamu juga bisa berbahagia walau tidak cukup kaya untuk keliling dunia atau menyekolahkan sepuluh orang anak..

Di hari yang lain aku menemukan keceriaan dalam wajah beberapa orang yang dekat denganku. Lagi-lagi otomatis aku membandingkan dengan diriku dan mencari perbedaan di antara kami. Rupanya orang-orang bahagia itu memiliki banyak saudara kandung, sampai ingin kusimpulkan bahwa anak tunggal adalah manusia paling depresi di muka bumi. Hahaha, abaikan saja kesimpulan ngawurku itu.

Aku sempat getol mewajibkan diri membaca berlembar-lembar Quran setiap harinya dan merasakan dahsyatnya letupan kebahagiaan di hati. Ekstrimnya aku sudah cukup senang bisa hidup. Minimalnya aku tidak butuh makanan superenak atau buku superbagus untuk meningkatkan mood-ku hari itu.

Aku suka olah raga walau sangat buruk dalam bermain basket, voli, badminton, apalagi tenis. Aku suka lari, renang, dan kalau boleh orang tuaku, bersepeda ke kampus. Yang aku suka dari olah raga terutama adalah efeknya setelah selesai: bahagia. Rasanya senang. Mungkin endorfin, atau mungkin dengan berkeringat aku jadi optimis menjadi kurus, hehehe.

Satu lagi inspirasi bahagia, dialah adik iparku. Seorang soleh yang cukup narsis dengan kegantengannya. Mungkin dia salah satu orang paling bahagia yang kukenal, yang ironisnya mungkin terbentuk oleh pengalaman-pengalaman hidupnya. Aku kadang iri dengan keceriaannya. Ah, melihatnya saja aku seperti diingatkan untuk bertanggung jawab atas kebahagiaan diri sendiri.

Dalam tulisan ini aku juga ingin menyimpulkan kekonyolanku di masa lalu, kapanpun sebelum aku menulis ini, bahwa aku bangga setiap aku tersenyum lebar sambil berkata “buku bagus saja sudah membuatku bahagia” atau “aih senangnya main ke pantai” atau “minum segelas kopi yang enak cukup untuk menyenangkanku” atau bahkan “paling senang itu jika seorang anak membalas senyum kita” dan kalimat ‘bersyarat’ lainnya. Sambil berkata itu biasanya dalam hatiku terselip kesombongan betapa mudahnya aku dibahagiakan. Betapa idealnya aku sebagai calon pasangan, yang bisa diajak susah, yang tidak merepotkan. Aku merasa itu semua konyol dan inilah yang benar: bahagia ya bahagia saja, tidak butuh buku, pantai, kopi, atau pacar.

Satu lagi yang konyol. Aku pernah menyaksikan musim terbaik seumur hidupku yaitu musim semi, ketika itu aku di Melbourne, suasana ternyaman yang pernah kualami yaitu hari-hari di Melbourne, namun saat-saat itu aku malah sering menangis sendiri tanpa sebab yang jelas. Sampai-sampai waktu itu aku menulis twit semacam, ‘Percuma kamu ke tempat-tempat yang indah jika tidak berbahagia. Percuma.’

Bahagia bisa diraih kapan saja, di mana saja, dalam keadaan apa saja, saat sedang melakukan apa saja. Ekstrim memang, bagi diriku yang mengaku sedang depresi. Menjadi depresi? Oh. jangan tanya. Rasanya tidak berguna, tidak produktif, jauh dari berkontribusi bagi sekitar. Jangan-jangan tugas utama manusia di dunia adalah (tetap) berbahagia, karena ternyata itu jadi salah satu syarat untuk menjalani tugas khalifah di muka bumi? Jangan-jangan tugas itu tidak akan terlaksana sebaik jika dalam keadaan hati yang bahagia?

Ah, semakin panjang dan grambyang saja tulisanku. Aku hanya sedang merindukan rasanya berbahagia setiap saat. Aku sedang belajar untuk terus mengaktifkan rasa bahagia di hati, kalau bisa tanpa syarat dan kondisi, kalau bisa sampai aku kembali ke Tuhan. Aku akan kecewa jika tahun-tahun di usia mudaku ini kulewatkan dengan tidak berbahagia, tidak bersenang-senang, tidak merasa gembira. Dan, ehm, kesimpulannya Quran, dzikir secara umum, dan ingatan untuk tetap berbahagia adalah tiga contoh cara untuk berbahagia. Adakah ide lain?

Senyum bahagia saat bersenang-senang di Bromo.
Salah satu ‘bahagia bersyarat’: harus ke Bromo dulu.. Duh!

Bahagia Berselubung Duka

Terkadang kita benar-benar harus ditampar sebelum menjadi sadar. Yeah, untuk membangkitkan ARAS kita, dari gelombang delta di otak menjadi alfa. Entah pemulihan kesadaran secara biologis maupun rohaniah, aku benar-benar sedang membutuhkannya.

Hari ini aku dikejutkan oleh kejadian ini. Ayah seorang temanku meninggal. Bukan karena aku sangat sedih atau apa. Aku juga tak tahu kenapa. Entah betapa aku menyayanginya, sehingga aku benar-benar terpana dengan berita itu, atau bahwa ternyata beliau sang ayah memang seseorang yang subhanallah solehnya sehingga menggetarkan hati…

Siang itu juga aku ke sana, dan merasakan aura yang berbeda, mengalami kesedihan yang mendalam. Sesuatu yang mengagetkan, ketika kubandingkan dengan saat meninggalnya kakek atau nenekku, aku bisa merasakan duka yang sama. Sedih, dan kehilangan.

Well, intinya pulang dari sana aku baru sadar bahwa aku adalah seorang anak dengan orang tua yang lengkap, dengan mobil yang sedang aku kendarai, dengan seorang sahabat di sampingku yang mau berbagi denganku, dengan rumah yang nyaman (sangat, malah) menantiku di ujung jalan, dan apa yang melekat padaku saat itu. Aku baru melihat diriku seutuhnya saat itu. Bahwa aku utuh tak kurang suatu apa. Hanya kurang satu hal, yaitu syukur. Itu satu. Kesadaran berikutnya yang muncul adalah bahwa manusia memiliki satu akhir yang pasti dan sama, entah dia ganteng atau jelek, bodoh atau pintar, langsing atau gembrot, bahwa kita semua akan merasakan mati. Dan berapa waktu yang kita punya? Satu abad? Satu tahun? Atau satu jam? Entahlah, tak ada yang tahu. Dan selalu muncul pertanyaan klasik itu, apa yang telah kuperbuat untuk akhir hidupku yang kekal di alam sana nanti? Sudahkah aku bertobat? Sudahkah aku membalas cinta Tuhanku minimal dengan taat dan mencintai orang sekitarku? Sudahkah aku melunasi hutang-hutangku? Dan yang terpenting, sudahkah aku bersyukur atas hidupku?

Aku yakin perasaan yang aku rasakan juga dirasakan banyak teman yang hadir di sana saat itu. Bukan merupakan sebuah kontradiksi bahwa kebahagiaan bisa diperoleh dalam suasana duka. Bukan. Hanya saja, manusia teringat dengan kuasa-Nya bahwa dia tidak berdaya. Bahwa hanya dengan kematian seseorang diingatkan. Hanya dengan kematian. Dan syukur pun terucap.

Dan syukur itulah yang kadang merupakan sebuah kebahagiaan yang cukup besar. Sebesar itu hingga bisa menutupi duka atau rasa tidak puas terhadap hidup. Aku pun ingat kata ustadz di sebuah kajian, dari ayat suci Al Quran,

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. [QS 2:154]

Di akhir perjalanan sore itu, dari rumah temanku, aku merasa lebih hidup. Lebih ringan, bahagia. Seakan keburaman di dalam kepala memudar, digantikan oleh semangat untuk bersegera menyelesaikan kewajiban, melunasi hutang-hutang, berlomba lari dengan waktu. Waktuku hanya sedikit, dan entah sampai kapan. Sementara impianku menunggu untuk diraih. Sungguh sebuah cara baru untuk membangunkanku, yang akhir-akhir ini ‘tertidur’.