About Being Sabr

18 Juni 2014

…Pernahkah aku merasa bahagia hanya karena aku masih hidup? Mungkin pernah. Yang kuingat, sebab-sebabnya adalah aku berusaha ingat Allah. Dari orang lain kulihat sebabnya adalah amalan hati seperti memaafkan, tidak dendam, tidak berprasangka, dan bersyukur. Singkatnya aku membujuk diri sendiri bahwa antara solat khusyuk, membaca Quran dengan tartil dan berusaha memahami artinya, dan melakukan amalan hati yang Islami (dan secara universal disebut sebagai “kebaikan”) merupakan hal-hal penyebab kebahagiaan. Ketiganya sama pentingnya, tidak ada yang lebih baik atau utama. Ketiadaan satu atau dua hal tidak menggugurkan kebahagiaan. Usahakan jadi pelaku ketiganya.

Ramadan 2014

… Aku tidak ingin mencemari usaha kesabaranku dengan komentar-komentar tidak bersyukur dan keluhan-keluhan. Aku adalah motivator terbaik untukku. I rely on myself (instead of other people) and God. So if it’s not me, I don’t think I can. Pokoknya semua tergantung aku. Pengen makin sabar ya aku harus disiplin sama diri sendiri untuk berlatih sabar tanpa henti. Pengen self-improvement ya harus rajin bercermin (dari orang lain, dari doa mohon petunjuk) dan melakukannnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. I am capable of loving. Aku cinta diriku sendiri, menerima apa adanya, bersabar akan kekurangannya, menghargai kelebihannya, bersemangat terus menyayangi dan menghargai, dan yakin aku akan menjadi lebih baik. Fighting depression? Not by being grateful (although it’s okay too) but with self respect. I guess.

Advertisements

Now Listening: Secuil Tafsir Kitab Suci

Setiap kata dibahas dalam beberapa menit, sehingga satu surat bisa selesai setelah berjam-jam. Tapi pendengar akan menikmatinya. Pak ustadz berkisah dengan lihai, dengan penuh pertimbangan linguistik dan pragmatik. Setiap kata dibedah; asal katanya, penggunaannya yang lazim, dan berakhir pada keindahan dan kesempurnaan dari kata-kata itu.

Di ayat kedua dalam kitab itu… Ada pilihan untuk menjadikannya sekedar kalimat berita, namun yang ini penuh emosi, ekspresi syukur. Dalam kalimat yang sama, Dia Memperkenalkan diri-Nya sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang Rabb (yang dipatuhi). Nama kedua-Nya hanya untuk orang beriman dan jika kau menolak mengimani Tuhan, setidaknya kau bisa mengakui bahwa Dia-lah sang Pencipta. 

Dalam beberapa kalimat berikutnya, ada doa agar kita tidak menjadi satu dari dua tipe manusia: yang tidak mengetahui kebenaran dan bersalah karena tidak mencari tahu, yang kedua adalah yang sudah tahu tentang kebenaran namun menolak untuk mengakuinya.

Oke begitulah secuil tentang video tafsir Surat Al-Fatihah oleh Nouman Ali Khan. Di yutup, pake bahasa enggres.

Selamat belajar, i guess?

Krenteg (bukan kreteg)

“Masalahe krentegmu kurang, Dik.”

Demikian kira-kira perkataan seorang pria keren padaku setelah kami mengobrol lama. Mungkin karena dia keren aku mudah mengingatnya. Tapi aku berterima kasih padanya yang telah menambahkan kosakata bahasa Jawa itu yang kira-kira artinya niat atau tekad atau keinginan. Oh iya, kreteg sendiri (tanpa huruf n) artinya jembatan. Hehehe.

Dalam hal bertindak, semua orang pasti punya maksud di baliknya. Apapun tindakan yang dilakukan, pasti ada maksud atau tujuannya. Pertanyaannya adalah apakah tujuan atau maksudnya baik. Jika tujuan atau maksudnya baik pun, pertanyaan selanjutnya apakah tindakan untuk mencapai maksud atau tujuan itu sudah baik.

Setahuku niat itu segala-galanya. Niat kita harus baik. Semoga aku tidak mengacaukan arti niat, tujuan, maksud, keinginan, dan tekad. Yah lima kata itu bagiku artinya sama, minimal mirip. Selanjutnya aku akan menggunakan kata ‘niat.’ Segala hal dinilai dari niatnya. Itu kata Rasul Yang Dimuliakan Tuhan. Maksud ucapan beliau itu adalah apapun yang kita lakukan, kita harus selalu mengevaluasi niat di baliknya. Sudah benarkah?

Dalam beribadah, niat yang muncul haruslah berupa ‘penghambaan diri pada Tuhan.’ Harus ya? Iya, kataku. Hehehe. Masalahnya selama berabad-abad peradaban manusia, niat sesederhana itu perwujudannya susahnyaaaa minta ampun. Dengan demikian munculah agama-agama semacam kristen, khatolik, dan budha. Dalam ajaran masing-masing agama itu, niat ibadah dimaksudkan dengan ‘bersyukur tuh Tuhan Yesus sudah rela disalib demi menebus dosa kalian semua, masa kalian gak bersyukur sama Dia sih.” dalam agama kristen dan khatolik, atau “ayo berbuat baiklah karena setelah ini kamu gak pengen jadi hewan yang lebih rendah derajatnya kan.” dalam agama Budha.

Dalam Islam sendiri, aku mengamati ada beberapa tingkatan niat yang bisa selalu diusahakan penganutnya dalam mendasari setiap perbuatan.

Niat terendah adalah untuk menghindari siksa api neraka yang panasnya melebihi panas matahari, yang lamanya melebihi kata ‘selamanya.’

Niat setingkat di atasnya adalah agar mendapatkan kenikmatan abadi di surga yang tamannya berisi buah-buahan yang tak pernah habis dipetik. Nikmat surga juga berupa sungai madu yang terus mengalir, dan para bidadari dan bidadara yang menyejukkan mata.

Niat di atasnya lagi setahuku adalah niat untuk bersyukur atas nikmat Tuhan atas kehidupan ini, atas penciptaan kita sebagai manusia, atas kelengkapan fisik dan mental kita dan semua yang kita miliki, sehingga segala perbuatan harus dilandaskan rasa terima kasih pada Tuhan itu. Yah mirip dengan ajaran kristen dan khatolik lah, untuk bersyukur.

Nah setahuku niat tertinggi ya yang katanya ‘sederhana’ itu yaitu niat untuk menghamba pada Tuhan. Ya karena kita hamba Tuhan, bukan siapa-siapa. Jadi ya kita di dunia ini hanya untuk menghamba, hanya untuk beribadah. Titik. 

Tentu ada perdebatan dalam tingkatan niat itu, tidak sedikit ulama yang menyatakan bahwa satu-satunya niat yang benar adalah yang terakhir kusebutkan itu, bahwa ibadah hanya untuk Tuhan, bukan untuk menghindarkan diri dari neraka atau mengharap surga atau hanya bersyukur saja. Namun di dalam Al-Quran pun banyak disebutkan deskripsi ngerinya neraka maupun indahnya surga.  Apakah tujuannya selain mengingatkan manusia untuk bersemangat  dalam beribadah, kan. Jadi setahuku sah-sah saja menjadikan surga dan neraka untuk niat ibadah, sambil pelan-pelan berusaha mencintai Tuhan dan akhirnya menghamba.

Hanya mau mengingatkan diri sendiri, apapun niatnya, sampai di tingkat mana pun niatnya, pastikan niat itu baik. Lebih baik lagi, usahakan agar niat berupa penghambaan pada Tuhan bisa tercapai, walau tercapainya nanti di ujung ajal. Semoga dimudahkan.

“Krenteg e dibenerke sik ya, Dik.” 🙂

Perkenalkan

Perkenalkan. Saya seorang bersuku Jawa yang mengaku muslim. Umur saya dua puluh tujuh lebih, belum menikah dan tinggal bersama orang tua. Pekerjaan saya dokter walau saya akan meralatnya menjadi ‘profesi’ karena saat ini saya berusaha ke kantor setiap harinya di kampus negeri dan tidak praktik. Suatu hari saya akan praktik lagi setelah urusan sekolah master yang belum ada progres ini saya selesaikan, begitu yang selalu saya tekankan ketika ditanya kapan kembali praktik. Saya anak tengah dengan seorang kakak pria yang belum menikah dan adik perempuan yang sudah menikah. Penting bagi saya untuk segera menyusul adik saya untuk menikah tanpa alasan yang jelas. Mungkin hanya untuk pindah dari rumah orang tua, atau mungkin untuk sedikit merasa lega bahwa ada manusia lain di dunia ini yang menginginkan kehadiran saya sebagai istri dan mungkin ibu bagi anak-anaknya.

Hampir setiap pagi saya menyeret kaki menjalani hari dengan mood yang carut-marut. Kata para tokoh agama, mood jelek saya itu akibat saya tidak bersyukur atas hidup saya yang nyaris sempurna. Jadi saya sibuk mengingat kelebihan-kelebihan saya yang mungkin bisa membahagiakan saya, yang kemudian kebahagiaan itu bisa meningkatkan produktivitas saya sebagai wanita karir yang diharapkan bangsa dan negara.

Sementara para sebaya saya sibuk dengan keluarga kecilnya atau proyek besar dalam benaknya atau rencana pengentasan kemiskinan bersama grupnya, saya sibuk membujuk diri sendiri tentang pentingnya menjalani hidup dengan penuh antusiasme. Saya sibuk menenggak suplemen-suplemen agamis yang menawarkan kebahagiaan tak terbatas bagi semua orang. Kemudian saya akan merasa lega dan selanjutnya merasa lebih ringan saat menyeret kaki ini.

Entah apa yang saya tunggu untuk akhirnya bangun dengan jiwa berapi-api, dengan ambisi untuk berbakti bagi bumi ini. Entah apa yang hilang dari diri saya sampai kehampaan jiwa ini berlarut-larut, kekosongan yang sungguh berat diseret saat melangkah digilas waktu. Iya, kosong namun berat, lambat namun cepat, saat tahu-tahu sudah hampir akhir tahun, saat tahu-tahu banyak orang sudah berbuat, dan saya masih termangu tanpa air mata.

Pernah saya merasa brilian ketika merindukan diri saya versi masa depan yang sudah produktif dan diharapkan banyak orang. Diri saya dari masa depan itu menghampiri diri saya yang sekarang, menepuk pundak sambil menenangkan bahwa semua akan baik-baik saja, semua akan berlalu, dan saya akan bisa melewatinya. Impian semu, namun merupakan solusi atas kehampaan saat ini. Kemudian saya merasa lebih brilian ketika membaca jurnal-jurnal saya sendiri bertahun lalu. Di situ saya temukan diri saya yang produktif dan ceria, walau sering terhias air mata manja. Membacanya membuat saya percaya akan kemungkinan jiwa saya kembali terisi, akan kebahagiaan abadi yang sekarang dirasa sedang hilang. Jadi saya sedang termangu minta diajari diri saya yang dulu, yang kekanakan dan sering seenak sendiri, namun penuh optimisme, kebahagiaan, dan harapan-harapan.

Dalam saat terbaik saya, semisal menjelang pergantian siang dan malam saat kadar gula darah terbatas, saya menyadari bahwa merindukan diri saya di masa depan maupun di masa lalu bukanlah solusi. Bagaimanapun bentuk saya, baik dulu yang saya rasa lebih produktif, maupun saat ini yang lebih banyak menangis tanpa sebab yang jelas, adalah tetap diri saya yang dilimpahi rahmat-Nya. Mungkin mengandaikan masa depan maupun mendewakan masa lalu maupun mencerca masa kini tidak pernah bermanfaat. Mungkin saya hanya harus terus melangkah dengan secuil iman di dada, iman pada Tuhan Yang Tidak Pernah Lelah Menunggu hamba-hambaNya berjalan kembali menujuNya, Yang Kasihnya meliputi jagat raya, Yang RahmatNya jauh Melebihi MurkaNya.

Jadi perkenalkan, saya seorang pelayan Tuhan yang sedang terlena dari tugas utamanya di dunia..

Tentang Tuhan

Pada akhirnya semua orang akan mengakui bahwa jagat raya dan seisinya adalah ciptaan Tuhan dan kita sebagai salah satu bagian dari ciptaan-Nya ini adalah hamba-Nya. Pada akhirnya di sini maksud saya di hari akhir nanti, di mana bumi mengalami bencana alam terbesar yang membuat seluruh makhluk hidup penghuninya meninggal. Sebelum meninggal itulah, semua orang akhirnya akan mengakui keesaan Tuhan, merasa takut dengan perbuatan sepanjang hidup mereka yang mereka tahu tidak disenangi Tuhan, dan berbisik atau berteriak lantang memohon ampun pada Sang Pencipta mereka.

picture is taken from http://sogoodislam.wordpress.com/2012/10/24/help-spread-the-message-of-islam-allahswt-will-help-you/
Bacaan setiap solat

Dalam sebuah buku yang saya lupa judulnya, disebutkan bahwa dalam keadaan terdesak yang dirasa mengancam nyawa, seseorang hampir dipastikan menyebut nama Tuhan. Hal ini bukan berarti setiap orang memiliki secuil memori tentang waham induksi (istilah lain untuk ‘agama’), melainkan bahwa pengaturan awal eksistensi jiwa adalah hamba Tuhan, yang diciptakan-Nya dan akan kembali pada-Nya. Contoh lain untuk pengetahuan tentang kehambaan ini adalah seorang atheis dalam keadaan-keadaan tertentu terutama yang membutuhkan respon cepat tidak akan cukup cepat mengatur otaknya masuk ke gelombang beta untuk kemudian berargumen mengenai pentingnya menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Semacam refleks, lontaran tentang Tuhan dapat keluar begitu saja dari mulut seorang atheis.

Satu lagi contoh penting tentang pengetahuan manusia bahwa dia hamba-Nya adalah sejarah. Sejarah sejak adanya manusia menunjukkan bahwa kegiatan utama manusia adalah pencarian Tuhan. Ada bangunan candi dan ritual di tanah Jawa, ada mitologi Yunani beserta kuil-kuilnya di Mediterania, ada bangunan-bangunan penting di daratan Asia Timur maupun selatan, di Amerika Selatan, dan di tempat lainnya yang ditujukan untuk ibadah. Ada agama-agama, kepercayaan dan keyakinan, dan perkumpulan spiritual. Semuanya menunjukkan bahwa nenek moyang kita mendamba Tuhan dan mencari tahu cara penghambaan terbaik.

Mengapa hal ini penting dibahas? Saya ingin mengajukan analisis mengenai perbedaan mendasar antara orang-orang soleh dengan orang-orang ingkar. Orang soleh menurut saya sama saja dengan orang yang mengingat esensi dirinya sebagai hamba Tuhan dan berlaku sesuai esensi tersebut. Orang ingkar bisa dikatakan sebagai orang yang pura-pura lupa dengan esensi kehambaannya dan menunda bertobat. Mungkin dia menunggu nyawanya hampir terangkat dari raganya, misalnya ketika ditarik malaikat, sang utusan Tuhan, mencapai tenggoroknya. Saat itulah dia tidak bisa lagi berpura-pura lupa. Saat itulah dia akhirnya berkata pada Tuhan bahwa dirinya sudah capek melarikan diri dari esensinya sendiri, sudah lelah dan ingin kembali, sehingga mohon diampuni. Saat itulah dia terpaksa ingat bahwa sebelum nyawanya dititipkan di jasad yang meringkuk di rahim ibunya, kesaksian telah terucap, bahwa Tuhan adalah Ilahnya.

Orang soleh tidak suka menunda untuk mengakui kehambaannya. Orang yang lebih soleh lagi melakukan sesuatu dengan kesadaran itu. Mungkin benar kata sebuah pepatah bahwa di dunia ini hanyalah ada dua tipe manusia; penunda dan bukan penunda. Orang soleh tentulah bukan penunda, menyegerakan yang baik-baik bagi dirinya karena dia tak tahu waktu yang dia punya. Dia tidak tahu apakah dia punya empat puluh tahun, seratus tahun, atau dua puluh tujuh tahun saja. Sedangkan si penunda adalah orang ingkar yang saya sebut tadi. Dia menunda menghamba, menunda melakukan yang baik bagi dirinya, berharap punya banyak waktu. Ketika habis waktunya, dia menyadari penundaannya, menyesalinya, dan berharap dimaafkan.

Jika masih belum jelas perbedaan antara orang soleh dan ingkar, orang ingkar ini menunda karena tertutup hatinya. Dia hanya mau berhenti jika di depan matanya disodorkan gambaran nyata tentang hari akhir, tentang penghabisan waktu di dunia, tentang kesaksian yang dibuatnya sendiri sebelum mewujud sebagai manusia bahwa dia hamba Tuhan. Dia mengandalkan mata kepalanya, dan bukannya menggunakan mata tertajam dalam dirinya yaitu hatinya. Dia punya hati untuk merasakan tanda-tanda dan kasih sayang Tuhan namun memilih tidak menggunakannya. Tuhan-lah yang punya kuasa atas ciptaan-Nya, apakah hati ini tertutup atau terbuka. Dan Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan sekecil apapun harapan atas kebenaran yang terbersit di hati.

Untunglah juga bahwa Tuhan Maha Penyayang. Bahkan setan pun disayang-Nya. Apalagi hanya seorang yang ingkar. Tetaplah dia bisa tidur nyenyak di kasur empuk di malam hari, memiliki keluarga yang mencintainya, makan makanan enak setiap harinya. Dan dia akan berkata itu semua karena usahanya. Tuhan, Zat Yang Tidak Membutuhkan Apapun, tidak butuh disembah. Para hamba-Nya menyembah atau tidak, Dia Tetap Yang Maha Esa, Yang Maha Agung, Sang Pemilik Kerajaan di langit dan bumi. Seluruh manusia di bumi ingkar pun, tetaplah Dia Sang Raja. Tetaplah para malaikat dan hewan dan tumbuhan selalu bertasbih dan mengagungkan kebesaran-Nya.

Iya, maksud saya itu saja; entah dunia berputar, waktu berjalan, atau kiamat terjadi, atau waktu berhenti, Tuhan tetaplah Tuhan, satu-satunya Zat Tertinggi di seluruh alam raya ini. Hanya Dia Sang Pemilik dan Tempat Kembali segala sesuatu. Orang ingkar menyembah atau tidak, waktunya akan tiba. Waktu yang menandai habisnya jatah kehidupan di dunia, yang akan dilanjutkan kehidupan abadi entah di surga atau neraka sesuai kehendak-Nya. Waktu bertemu kembali dengan Tuhan Yang Maha Pengasih, penagihan pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan selama di dunia, tentang amnesia buatan mengenai Keesaan-Nya. Jadi maksud saya, kita ini yang sebenarnya butuh pada Tuhan, bukan sebaliknya. Kita ini yang harus berusaha menjadi baik dalam tujuh puluh tahun (atau dua puluh tujuh tahun?) hidup kita. Kesempatannya hanya sekarang (karena kita tidak pernah tahu kapan deadline kita), setelah itu mati dan harus menyampaikan laporan LPJ.

Iya, ini tulisan tentang Tuhan. Semoga Dia Mengampuni dosa-dosa kita semua. Aamiin.

Catatan: Terima kasih yang sudah membaca sampai ke kalimat ini. Mungkin saya hanya gelisah dengan perilaku atheisme dan kedurhakaan lainnya. Atau mungkin sayalah orang ingkar pertama yang harus terus diingatkan bahwa Tuhan itu ada dan Menunggu tobat saya.

A Note to Self

It has been a while. Anyway, I am changing but not as fast as I thought I would be.

I have been through some things. For example the New Age Movement (see google please) which was covered nicely by some popular books in my country, say Ippho Santosa’s books, Yusuf Mansur and Pencinta Sedekah tweets. I stumbled upon someone’s tweet revealing this and it all made sense. Those ‘positivity’ seems to be impossible. I would not provoke anyone to say bad things about someone’s books or whatsoever. It’s just the thought to put a trust in THE UNIVERSE itself has flaws. The fatal flaw? Associating others with ALLOH (menyekutukan Alloh, red.). Putting the universe before Alloh, while the universe itself is created by Alloh. And that’s it, end of discussion.

I felt like punched in my tummy when I knew about those whole cover ups by (maybe, who else) the illuminati.

I am still the old me who procrastinates almost everything (even going to bed, because it needs prep like brushing teeth and washing face), and I still don’t know what to do after all of these. Yes, the master thingy. I can only dream of being proposed by a prince charming in a shining armor who rides a white horse (a dark brown horse is also fine) . He would take me somewhere beautiful far far faraway from this reality.

Anyway, I found beauty in the Quran. I don’t understand the language. I don’t recite beautifully, as well. But I found it peaceful to just read it outloud. The sceptics might say that it maybe because of the self-suggestion. Whatever. Those beautiful ayah (ayat, red.) are impossible to be made by humanbeing. Just too divine.

Well, I found it startling that all I was asking to God is happiness in this mortal world. While the eternal happiness and peace can only be found in heaven, and that is the first thing that should come in our mind. This should be our very first ideal in life.

Well, Ayu, please enjoy your time. Keep  struggling and trying to be humble.