Surprisingly, The Headscarf

We were in a private room for 10 or so. We sat across the table and he stared at me briefly just to pay some respect, I guess.

For some few seconds when I finally got my chance to speak, I tried my best to impress him. I spoke as clearly as I could, of course in English because he is Russian. I told him about some recommended destinations in Java for a short visit. Later I found that nothing was possible because his flight was the day after our meeting.

That night I was startled, and it was not about what we discussed. After I finished my brief speech (few seconds) about how beautiful Indonesia is, he didn’t respond promptly. He smiled, I remember. Then a silence.  It was the first line he said to me about his impression on hijab. I couldn’t remember the detail but he said something like “I see a lot of women wearing a scarf on their head… (and then I couldn’t get it, because he spoke more to the person on his side, not me).”

At first I thought I should respond, but then I remained silent. Maybe I gave him a polite smile but I couldn’t remember. This should be my next post in my blog, I said to a friend sitting next to me.

Nothing fancy, but when people notice you for what is on your head instead of what is in your head. Whatever you say, people don’t listen and was stunned by how you look, by how weird or strangely out-of-this-world look you display (I still think he doesn’t watch TV that much or doesn’t browse the internet outside his job). Then however good you are, the strangeness will leave a strong impact and change the way they treat you.

Some would comment on this as “I am beyond pretty.” It means some beautiful girls have much more to offer than just their physical beauty, be it her intelligence or her compassion or her skill. But what happened to me that night might not be an example of “beyond pretty.” Maybe it was a kind reminder to me that not everyone is aware that there is a religion called Islam and the woman believers wear a headscarf on their head. A reminder that my kind of people is not that famous. :)))

Krenteg (bukan kreteg)

“Masalahe krentegmu kurang, Dik.”

Demikian kira-kira perkataan seorang pria keren padaku setelah kami mengobrol lama. Mungkin karena dia keren aku mudah mengingatnya. Tapi aku berterima kasih padanya yang telah menambahkan kosakata bahasa Jawa itu yang kira-kira artinya niat atau tekad atau keinginan. Oh iya, kreteg sendiri (tanpa huruf n) artinya jembatan. Hehehe.

Dalam hal bertindak, semua orang pasti punya maksud di baliknya. Apapun tindakan yang dilakukan, pasti ada maksud atau tujuannya. Pertanyaannya adalah apakah tujuan atau maksudnya baik. Jika tujuan atau maksudnya baik pun, pertanyaan selanjutnya apakah tindakan untuk mencapai maksud atau tujuan itu sudah baik.

Setahuku niat itu segala-galanya. Niat kita harus baik. Semoga aku tidak mengacaukan arti niat, tujuan, maksud, keinginan, dan tekad. Yah lima kata itu bagiku artinya sama, minimal mirip. Selanjutnya aku akan menggunakan kata ‘niat.’ Segala hal dinilai dari niatnya. Itu kata Rasul Yang Dimuliakan Tuhan. Maksud ucapan beliau itu adalah apapun yang kita lakukan, kita harus selalu mengevaluasi niat di baliknya. Sudah benarkah?

Dalam beribadah, niat yang muncul haruslah berupa ‘penghambaan diri pada Tuhan.’ Harus ya? Iya, kataku. Hehehe. Masalahnya selama berabad-abad peradaban manusia, niat sesederhana itu perwujudannya susahnyaaaa minta ampun. Dengan demikian munculah agama-agama semacam kristen, khatolik, dan budha. Dalam ajaran masing-masing agama itu, niat ibadah dimaksudkan dengan ‘bersyukur tuh Tuhan Yesus sudah rela disalib demi menebus dosa kalian semua, masa kalian gak bersyukur sama Dia sih.” dalam agama kristen dan khatolik, atau “ayo berbuat baiklah karena setelah ini kamu gak pengen jadi hewan yang lebih rendah derajatnya kan.” dalam agama Budha.

Dalam Islam sendiri, aku mengamati ada beberapa tingkatan niat yang bisa selalu diusahakan penganutnya dalam mendasari setiap perbuatan.

Niat terendah adalah untuk menghindari siksa api neraka yang panasnya melebihi panas matahari, yang lamanya melebihi kata ‘selamanya.’

Niat setingkat di atasnya adalah agar mendapatkan kenikmatan abadi di surga yang tamannya berisi buah-buahan yang tak pernah habis dipetik. Nikmat surga juga berupa sungai madu yang terus mengalir, dan para bidadari dan bidadara yang menyejukkan mata.

Niat di atasnya lagi setahuku adalah niat untuk bersyukur atas nikmat Tuhan atas kehidupan ini, atas penciptaan kita sebagai manusia, atas kelengkapan fisik dan mental kita dan semua yang kita miliki, sehingga segala perbuatan harus dilandaskan rasa terima kasih pada Tuhan itu. Yah mirip dengan ajaran kristen dan khatolik lah, untuk bersyukur.

Nah setahuku niat tertinggi ya yang katanya ‘sederhana’ itu yaitu niat untuk menghamba pada Tuhan. Ya karena kita hamba Tuhan, bukan siapa-siapa. Jadi ya kita di dunia ini hanya untuk menghamba, hanya untuk beribadah. Titik. 

Tentu ada perdebatan dalam tingkatan niat itu, tidak sedikit ulama yang menyatakan bahwa satu-satunya niat yang benar adalah yang terakhir kusebutkan itu, bahwa ibadah hanya untuk Tuhan, bukan untuk menghindarkan diri dari neraka atau mengharap surga atau hanya bersyukur saja. Namun di dalam Al-Quran pun banyak disebutkan deskripsi ngerinya neraka maupun indahnya surga.  Apakah tujuannya selain mengingatkan manusia untuk bersemangat  dalam beribadah, kan. Jadi setahuku sah-sah saja menjadikan surga dan neraka untuk niat ibadah, sambil pelan-pelan berusaha mencintai Tuhan dan akhirnya menghamba.

Hanya mau mengingatkan diri sendiri, apapun niatnya, sampai di tingkat mana pun niatnya, pastikan niat itu baik. Lebih baik lagi, usahakan agar niat berupa penghambaan pada Tuhan bisa tercapai, walau tercapainya nanti di ujung ajal. Semoga dimudahkan.

“Krenteg e dibenerke sik ya, Dik.” 🙂

Tentang Tuhan

Pada akhirnya semua orang akan mengakui bahwa jagat raya dan seisinya adalah ciptaan Tuhan dan kita sebagai salah satu bagian dari ciptaan-Nya ini adalah hamba-Nya. Pada akhirnya di sini maksud saya di hari akhir nanti, di mana bumi mengalami bencana alam terbesar yang membuat seluruh makhluk hidup penghuninya meninggal. Sebelum meninggal itulah, semua orang akhirnya akan mengakui keesaan Tuhan, merasa takut dengan perbuatan sepanjang hidup mereka yang mereka tahu tidak disenangi Tuhan, dan berbisik atau berteriak lantang memohon ampun pada Sang Pencipta mereka.

picture is taken from http://sogoodislam.wordpress.com/2012/10/24/help-spread-the-message-of-islam-allahswt-will-help-you/
Bacaan setiap solat

Dalam sebuah buku yang saya lupa judulnya, disebutkan bahwa dalam keadaan terdesak yang dirasa mengancam nyawa, seseorang hampir dipastikan menyebut nama Tuhan. Hal ini bukan berarti setiap orang memiliki secuil memori tentang waham induksi (istilah lain untuk ‘agama’), melainkan bahwa pengaturan awal eksistensi jiwa adalah hamba Tuhan, yang diciptakan-Nya dan akan kembali pada-Nya. Contoh lain untuk pengetahuan tentang kehambaan ini adalah seorang atheis dalam keadaan-keadaan tertentu terutama yang membutuhkan respon cepat tidak akan cukup cepat mengatur otaknya masuk ke gelombang beta untuk kemudian berargumen mengenai pentingnya menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Semacam refleks, lontaran tentang Tuhan dapat keluar begitu saja dari mulut seorang atheis.

Satu lagi contoh penting tentang pengetahuan manusia bahwa dia hamba-Nya adalah sejarah. Sejarah sejak adanya manusia menunjukkan bahwa kegiatan utama manusia adalah pencarian Tuhan. Ada bangunan candi dan ritual di tanah Jawa, ada mitologi Yunani beserta kuil-kuilnya di Mediterania, ada bangunan-bangunan penting di daratan Asia Timur maupun selatan, di Amerika Selatan, dan di tempat lainnya yang ditujukan untuk ibadah. Ada agama-agama, kepercayaan dan keyakinan, dan perkumpulan spiritual. Semuanya menunjukkan bahwa nenek moyang kita mendamba Tuhan dan mencari tahu cara penghambaan terbaik.

Mengapa hal ini penting dibahas? Saya ingin mengajukan analisis mengenai perbedaan mendasar antara orang-orang soleh dengan orang-orang ingkar. Orang soleh menurut saya sama saja dengan orang yang mengingat esensi dirinya sebagai hamba Tuhan dan berlaku sesuai esensi tersebut. Orang ingkar bisa dikatakan sebagai orang yang pura-pura lupa dengan esensi kehambaannya dan menunda bertobat. Mungkin dia menunggu nyawanya hampir terangkat dari raganya, misalnya ketika ditarik malaikat, sang utusan Tuhan, mencapai tenggoroknya. Saat itulah dia tidak bisa lagi berpura-pura lupa. Saat itulah dia akhirnya berkata pada Tuhan bahwa dirinya sudah capek melarikan diri dari esensinya sendiri, sudah lelah dan ingin kembali, sehingga mohon diampuni. Saat itulah dia terpaksa ingat bahwa sebelum nyawanya dititipkan di jasad yang meringkuk di rahim ibunya, kesaksian telah terucap, bahwa Tuhan adalah Ilahnya.

Orang soleh tidak suka menunda untuk mengakui kehambaannya. Orang yang lebih soleh lagi melakukan sesuatu dengan kesadaran itu. Mungkin benar kata sebuah pepatah bahwa di dunia ini hanyalah ada dua tipe manusia; penunda dan bukan penunda. Orang soleh tentulah bukan penunda, menyegerakan yang baik-baik bagi dirinya karena dia tak tahu waktu yang dia punya. Dia tidak tahu apakah dia punya empat puluh tahun, seratus tahun, atau dua puluh tujuh tahun saja. Sedangkan si penunda adalah orang ingkar yang saya sebut tadi. Dia menunda menghamba, menunda melakukan yang baik bagi dirinya, berharap punya banyak waktu. Ketika habis waktunya, dia menyadari penundaannya, menyesalinya, dan berharap dimaafkan.

Jika masih belum jelas perbedaan antara orang soleh dan ingkar, orang ingkar ini menunda karena tertutup hatinya. Dia hanya mau berhenti jika di depan matanya disodorkan gambaran nyata tentang hari akhir, tentang penghabisan waktu di dunia, tentang kesaksian yang dibuatnya sendiri sebelum mewujud sebagai manusia bahwa dia hamba Tuhan. Dia mengandalkan mata kepalanya, dan bukannya menggunakan mata tertajam dalam dirinya yaitu hatinya. Dia punya hati untuk merasakan tanda-tanda dan kasih sayang Tuhan namun memilih tidak menggunakannya. Tuhan-lah yang punya kuasa atas ciptaan-Nya, apakah hati ini tertutup atau terbuka. Dan Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan sekecil apapun harapan atas kebenaran yang terbersit di hati.

Untunglah juga bahwa Tuhan Maha Penyayang. Bahkan setan pun disayang-Nya. Apalagi hanya seorang yang ingkar. Tetaplah dia bisa tidur nyenyak di kasur empuk di malam hari, memiliki keluarga yang mencintainya, makan makanan enak setiap harinya. Dan dia akan berkata itu semua karena usahanya. Tuhan, Zat Yang Tidak Membutuhkan Apapun, tidak butuh disembah. Para hamba-Nya menyembah atau tidak, Dia Tetap Yang Maha Esa, Yang Maha Agung, Sang Pemilik Kerajaan di langit dan bumi. Seluruh manusia di bumi ingkar pun, tetaplah Dia Sang Raja. Tetaplah para malaikat dan hewan dan tumbuhan selalu bertasbih dan mengagungkan kebesaran-Nya.

Iya, maksud saya itu saja; entah dunia berputar, waktu berjalan, atau kiamat terjadi, atau waktu berhenti, Tuhan tetaplah Tuhan, satu-satunya Zat Tertinggi di seluruh alam raya ini. Hanya Dia Sang Pemilik dan Tempat Kembali segala sesuatu. Orang ingkar menyembah atau tidak, waktunya akan tiba. Waktu yang menandai habisnya jatah kehidupan di dunia, yang akan dilanjutkan kehidupan abadi entah di surga atau neraka sesuai kehendak-Nya. Waktu bertemu kembali dengan Tuhan Yang Maha Pengasih, penagihan pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan selama di dunia, tentang amnesia buatan mengenai Keesaan-Nya. Jadi maksud saya, kita ini yang sebenarnya butuh pada Tuhan, bukan sebaliknya. Kita ini yang harus berusaha menjadi baik dalam tujuh puluh tahun (atau dua puluh tujuh tahun?) hidup kita. Kesempatannya hanya sekarang (karena kita tidak pernah tahu kapan deadline kita), setelah itu mati dan harus menyampaikan laporan LPJ.

Iya, ini tulisan tentang Tuhan. Semoga Dia Mengampuni dosa-dosa kita semua. Aamiin.

Catatan: Terima kasih yang sudah membaca sampai ke kalimat ini. Mungkin saya hanya gelisah dengan perilaku atheisme dan kedurhakaan lainnya. Atau mungkin sayalah orang ingkar pertama yang harus terus diingatkan bahwa Tuhan itu ada dan Menunggu tobat saya.