Now Listening: Secuil Tafsir Kitab Suci

Setiap kata dibahas dalam beberapa menit, sehingga satu surat bisa selesai setelah berjam-jam. Tapi pendengar akan menikmatinya. Pak ustadz berkisah dengan lihai, dengan penuh pertimbangan linguistik dan pragmatik. Setiap kata dibedah; asal katanya, penggunaannya yang lazim, dan berakhir pada keindahan dan kesempurnaan dari kata-kata itu.

Di ayat kedua dalam kitab itu… Ada pilihan untuk menjadikannya sekedar kalimat berita, namun yang ini penuh emosi, ekspresi syukur. Dalam kalimat yang sama, Dia Memperkenalkan diri-Nya sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang Rabb (yang dipatuhi). Nama kedua-Nya hanya untuk orang beriman dan jika kau menolak mengimani Tuhan, setidaknya kau bisa mengakui bahwa Dia-lah sang Pencipta. 

Dalam beberapa kalimat berikutnya, ada doa agar kita tidak menjadi satu dari dua tipe manusia: yang tidak mengetahui kebenaran dan bersalah karena tidak mencari tahu, yang kedua adalah yang sudah tahu tentang kebenaran namun menolak untuk mengakuinya.

Oke begitulah secuil tentang video tafsir Surat Al-Fatihah oleh Nouman Ali Khan. Di yutup, pake bahasa enggres.

Selamat belajar, i guess?

Solat dan Narkotik

Pada tingkat  keimanan yang rendah, manusia mungkin memperlakukan solat atau ibadah vertikal lainnya seperti narkotik. Suatu media penyaluran rasa frustrasi dan lelah akan kehidupan dunia yang fana ini. Dengan solat pikiran dipaksa tidak terpaku pada dunia. Saat solat semua hal tentang mahasiswa yang nakal atau pintar, atau thesis, atau lauk yang harus dibeli di warung sejenak terlupakan, tergantikan dengan ketenangan sesaat. Bisunya pikiran bersama dengan gerakan lidah membaca doa solat mungkin meredakan stress saat itu.

Pada tingkat tertentu minuman beralkohol pun dapat mewakili efek narkotik. Beberapa gelas wine cukup membuat pikiran melayang (saya tidak tahu bagaimana deskripsinya, tapi saya rasa mirip dengan solat khusyuk) dan stress tidak akan terasa seberat biasanya. Saat itu peminumnya akan lupa bahwa dia sedang penat atau sedih atau ingin mati.

Saya rasa semua manusia normal perlu jeda dalam hidupnya. Jeda yang membuat otak sadarnya melupakan masalah terkini, melupakan fakta bahwa ada anak-anak yang harus diberi makan, ada janji-janji yang harus dipenuhi. Jeda yang walau sesaat akan mengurai kerumitan di otak, dan akhirnya menyegarkan otak untuk berjuang lagi menyelesaikan masalah dan terus beradaptasi. Jeda yang makin sering dilakukan makin baik.

Mungkin seperti teman-teman bule di laborat dulu, yang selalu girang menjelang jumat sore, karena kursi bar dan beberapa botol bir cider dingin di seberang rumah sakit sudah menunggu. Banyak kepenatan yang perlu diurai melalui bir dan perbincangan penuh tawa dengan teman sekantor. Orang-orang ini mungkin yang tidak punya kegiatan bernama ibadah karena tidak adanya konsep Tuhan dalam pikiran. Saya lihat mereka rutin melakukannya setiap Jumat sore di musim apapun, sesibuk apapun mereka. Mungkin ketika terpaksa lembur karena jumlah potongan selnya masih kurang, dia akan menyusul semalam apapun. Mungkin seperti kata si @ndorokakung, “ngombe sik ndak edan.” (Minum dulu biar tidak gila).

Serendah apapun tingkat keimanan seseorang, saya rasa kebutuhan akan jeda itu selalu ada. Entah terpenuhi sementara dengan minum bir sampai mabuk, mengkonsumsi narkotik sampai ‘fly’, atau solat penuh persiapan sampai khusyuk.

Kebutuhan itu makin terasa saat tidak solat karena tidak bisa (bagi wanita). Atau pada orang yang beragama tapi tidak melakukan ritual keagamaan (non-practicing believer). Apalagi jika mengaku muslim sehingga menghindari minum minuman beralkohol dan makan babi tapi tidak solat. Mau lari ke mana saat stress? Mau bagaimana saat butuh menurunkan gelombang beta di otak yang bertubi-tubi meruwetkan keruwetan hidup yang ada?

Maka bolehlah para atheis atau skeptis menuduh pemeluk agama sebagai sekumpulan orang berwaham yang memabukkan diri dengan melakukan ritual agamis bernama ‘ibadah.’ Mungkin pemahaman itu juga akan terus beredar di muka bumi, termasuk pada saya dengan keimanan serendah saat ini. Butuh mabuk untuk melupakan dunia? Solatlah.

Krenteg (bukan kreteg)

“Masalahe krentegmu kurang, Dik.”

Demikian kira-kira perkataan seorang pria keren padaku setelah kami mengobrol lama. Mungkin karena dia keren aku mudah mengingatnya. Tapi aku berterima kasih padanya yang telah menambahkan kosakata bahasa Jawa itu yang kira-kira artinya niat atau tekad atau keinginan. Oh iya, kreteg sendiri (tanpa huruf n) artinya jembatan. Hehehe.

Dalam hal bertindak, semua orang pasti punya maksud di baliknya. Apapun tindakan yang dilakukan, pasti ada maksud atau tujuannya. Pertanyaannya adalah apakah tujuan atau maksudnya baik. Jika tujuan atau maksudnya baik pun, pertanyaan selanjutnya apakah tindakan untuk mencapai maksud atau tujuan itu sudah baik.

Setahuku niat itu segala-galanya. Niat kita harus baik. Semoga aku tidak mengacaukan arti niat, tujuan, maksud, keinginan, dan tekad. Yah lima kata itu bagiku artinya sama, minimal mirip. Selanjutnya aku akan menggunakan kata ‘niat.’ Segala hal dinilai dari niatnya. Itu kata Rasul Yang Dimuliakan Tuhan. Maksud ucapan beliau itu adalah apapun yang kita lakukan, kita harus selalu mengevaluasi niat di baliknya. Sudah benarkah?

Dalam beribadah, niat yang muncul haruslah berupa ‘penghambaan diri pada Tuhan.’ Harus ya? Iya, kataku. Hehehe. Masalahnya selama berabad-abad peradaban manusia, niat sesederhana itu perwujudannya susahnyaaaa minta ampun. Dengan demikian munculah agama-agama semacam kristen, khatolik, dan budha. Dalam ajaran masing-masing agama itu, niat ibadah dimaksudkan dengan ‘bersyukur tuh Tuhan Yesus sudah rela disalib demi menebus dosa kalian semua, masa kalian gak bersyukur sama Dia sih.” dalam agama kristen dan khatolik, atau “ayo berbuat baiklah karena setelah ini kamu gak pengen jadi hewan yang lebih rendah derajatnya kan.” dalam agama Budha.

Dalam Islam sendiri, aku mengamati ada beberapa tingkatan niat yang bisa selalu diusahakan penganutnya dalam mendasari setiap perbuatan.

Niat terendah adalah untuk menghindari siksa api neraka yang panasnya melebihi panas matahari, yang lamanya melebihi kata ‘selamanya.’

Niat setingkat di atasnya adalah agar mendapatkan kenikmatan abadi di surga yang tamannya berisi buah-buahan yang tak pernah habis dipetik. Nikmat surga juga berupa sungai madu yang terus mengalir, dan para bidadari dan bidadara yang menyejukkan mata.

Niat di atasnya lagi setahuku adalah niat untuk bersyukur atas nikmat Tuhan atas kehidupan ini, atas penciptaan kita sebagai manusia, atas kelengkapan fisik dan mental kita dan semua yang kita miliki, sehingga segala perbuatan harus dilandaskan rasa terima kasih pada Tuhan itu. Yah mirip dengan ajaran kristen dan khatolik lah, untuk bersyukur.

Nah setahuku niat tertinggi ya yang katanya ‘sederhana’ itu yaitu niat untuk menghamba pada Tuhan. Ya karena kita hamba Tuhan, bukan siapa-siapa. Jadi ya kita di dunia ini hanya untuk menghamba, hanya untuk beribadah. Titik. 

Tentu ada perdebatan dalam tingkatan niat itu, tidak sedikit ulama yang menyatakan bahwa satu-satunya niat yang benar adalah yang terakhir kusebutkan itu, bahwa ibadah hanya untuk Tuhan, bukan untuk menghindarkan diri dari neraka atau mengharap surga atau hanya bersyukur saja. Namun di dalam Al-Quran pun banyak disebutkan deskripsi ngerinya neraka maupun indahnya surga.  Apakah tujuannya selain mengingatkan manusia untuk bersemangat  dalam beribadah, kan. Jadi setahuku sah-sah saja menjadikan surga dan neraka untuk niat ibadah, sambil pelan-pelan berusaha mencintai Tuhan dan akhirnya menghamba.

Hanya mau mengingatkan diri sendiri, apapun niatnya, sampai di tingkat mana pun niatnya, pastikan niat itu baik. Lebih baik lagi, usahakan agar niat berupa penghambaan pada Tuhan bisa tercapai, walau tercapainya nanti di ujung ajal. Semoga dimudahkan.

“Krenteg e dibenerke sik ya, Dik.” 🙂

Tentang Tuhan

Pada akhirnya semua orang akan mengakui bahwa jagat raya dan seisinya adalah ciptaan Tuhan dan kita sebagai salah satu bagian dari ciptaan-Nya ini adalah hamba-Nya. Pada akhirnya di sini maksud saya di hari akhir nanti, di mana bumi mengalami bencana alam terbesar yang membuat seluruh makhluk hidup penghuninya meninggal. Sebelum meninggal itulah, semua orang akhirnya akan mengakui keesaan Tuhan, merasa takut dengan perbuatan sepanjang hidup mereka yang mereka tahu tidak disenangi Tuhan, dan berbisik atau berteriak lantang memohon ampun pada Sang Pencipta mereka.

picture is taken from http://sogoodislam.wordpress.com/2012/10/24/help-spread-the-message-of-islam-allahswt-will-help-you/
Bacaan setiap solat

Dalam sebuah buku yang saya lupa judulnya, disebutkan bahwa dalam keadaan terdesak yang dirasa mengancam nyawa, seseorang hampir dipastikan menyebut nama Tuhan. Hal ini bukan berarti setiap orang memiliki secuil memori tentang waham induksi (istilah lain untuk ‘agama’), melainkan bahwa pengaturan awal eksistensi jiwa adalah hamba Tuhan, yang diciptakan-Nya dan akan kembali pada-Nya. Contoh lain untuk pengetahuan tentang kehambaan ini adalah seorang atheis dalam keadaan-keadaan tertentu terutama yang membutuhkan respon cepat tidak akan cukup cepat mengatur otaknya masuk ke gelombang beta untuk kemudian berargumen mengenai pentingnya menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Semacam refleks, lontaran tentang Tuhan dapat keluar begitu saja dari mulut seorang atheis.

Satu lagi contoh penting tentang pengetahuan manusia bahwa dia hamba-Nya adalah sejarah. Sejarah sejak adanya manusia menunjukkan bahwa kegiatan utama manusia adalah pencarian Tuhan. Ada bangunan candi dan ritual di tanah Jawa, ada mitologi Yunani beserta kuil-kuilnya di Mediterania, ada bangunan-bangunan penting di daratan Asia Timur maupun selatan, di Amerika Selatan, dan di tempat lainnya yang ditujukan untuk ibadah. Ada agama-agama, kepercayaan dan keyakinan, dan perkumpulan spiritual. Semuanya menunjukkan bahwa nenek moyang kita mendamba Tuhan dan mencari tahu cara penghambaan terbaik.

Mengapa hal ini penting dibahas? Saya ingin mengajukan analisis mengenai perbedaan mendasar antara orang-orang soleh dengan orang-orang ingkar. Orang soleh menurut saya sama saja dengan orang yang mengingat esensi dirinya sebagai hamba Tuhan dan berlaku sesuai esensi tersebut. Orang ingkar bisa dikatakan sebagai orang yang pura-pura lupa dengan esensi kehambaannya dan menunda bertobat. Mungkin dia menunggu nyawanya hampir terangkat dari raganya, misalnya ketika ditarik malaikat, sang utusan Tuhan, mencapai tenggoroknya. Saat itulah dia tidak bisa lagi berpura-pura lupa. Saat itulah dia akhirnya berkata pada Tuhan bahwa dirinya sudah capek melarikan diri dari esensinya sendiri, sudah lelah dan ingin kembali, sehingga mohon diampuni. Saat itulah dia terpaksa ingat bahwa sebelum nyawanya dititipkan di jasad yang meringkuk di rahim ibunya, kesaksian telah terucap, bahwa Tuhan adalah Ilahnya.

Orang soleh tidak suka menunda untuk mengakui kehambaannya. Orang yang lebih soleh lagi melakukan sesuatu dengan kesadaran itu. Mungkin benar kata sebuah pepatah bahwa di dunia ini hanyalah ada dua tipe manusia; penunda dan bukan penunda. Orang soleh tentulah bukan penunda, menyegerakan yang baik-baik bagi dirinya karena dia tak tahu waktu yang dia punya. Dia tidak tahu apakah dia punya empat puluh tahun, seratus tahun, atau dua puluh tujuh tahun saja. Sedangkan si penunda adalah orang ingkar yang saya sebut tadi. Dia menunda menghamba, menunda melakukan yang baik bagi dirinya, berharap punya banyak waktu. Ketika habis waktunya, dia menyadari penundaannya, menyesalinya, dan berharap dimaafkan.

Jika masih belum jelas perbedaan antara orang soleh dan ingkar, orang ingkar ini menunda karena tertutup hatinya. Dia hanya mau berhenti jika di depan matanya disodorkan gambaran nyata tentang hari akhir, tentang penghabisan waktu di dunia, tentang kesaksian yang dibuatnya sendiri sebelum mewujud sebagai manusia bahwa dia hamba Tuhan. Dia mengandalkan mata kepalanya, dan bukannya menggunakan mata tertajam dalam dirinya yaitu hatinya. Dia punya hati untuk merasakan tanda-tanda dan kasih sayang Tuhan namun memilih tidak menggunakannya. Tuhan-lah yang punya kuasa atas ciptaan-Nya, apakah hati ini tertutup atau terbuka. Dan Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan sekecil apapun harapan atas kebenaran yang terbersit di hati.

Untunglah juga bahwa Tuhan Maha Penyayang. Bahkan setan pun disayang-Nya. Apalagi hanya seorang yang ingkar. Tetaplah dia bisa tidur nyenyak di kasur empuk di malam hari, memiliki keluarga yang mencintainya, makan makanan enak setiap harinya. Dan dia akan berkata itu semua karena usahanya. Tuhan, Zat Yang Tidak Membutuhkan Apapun, tidak butuh disembah. Para hamba-Nya menyembah atau tidak, Dia Tetap Yang Maha Esa, Yang Maha Agung, Sang Pemilik Kerajaan di langit dan bumi. Seluruh manusia di bumi ingkar pun, tetaplah Dia Sang Raja. Tetaplah para malaikat dan hewan dan tumbuhan selalu bertasbih dan mengagungkan kebesaran-Nya.

Iya, maksud saya itu saja; entah dunia berputar, waktu berjalan, atau kiamat terjadi, atau waktu berhenti, Tuhan tetaplah Tuhan, satu-satunya Zat Tertinggi di seluruh alam raya ini. Hanya Dia Sang Pemilik dan Tempat Kembali segala sesuatu. Orang ingkar menyembah atau tidak, waktunya akan tiba. Waktu yang menandai habisnya jatah kehidupan di dunia, yang akan dilanjutkan kehidupan abadi entah di surga atau neraka sesuai kehendak-Nya. Waktu bertemu kembali dengan Tuhan Yang Maha Pengasih, penagihan pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan selama di dunia, tentang amnesia buatan mengenai Keesaan-Nya. Jadi maksud saya, kita ini yang sebenarnya butuh pada Tuhan, bukan sebaliknya. Kita ini yang harus berusaha menjadi baik dalam tujuh puluh tahun (atau dua puluh tujuh tahun?) hidup kita. Kesempatannya hanya sekarang (karena kita tidak pernah tahu kapan deadline kita), setelah itu mati dan harus menyampaikan laporan LPJ.

Iya, ini tulisan tentang Tuhan. Semoga Dia Mengampuni dosa-dosa kita semua. Aamiin.

Catatan: Terima kasih yang sudah membaca sampai ke kalimat ini. Mungkin saya hanya gelisah dengan perilaku atheisme dan kedurhakaan lainnya. Atau mungkin sayalah orang ingkar pertama yang harus terus diingatkan bahwa Tuhan itu ada dan Menunggu tobat saya.

Membebaskan besi dari karat

images (1)
“Penyakit demam anak Adam menghilangkan dosa, sebagaimana tungku api membersihkan karat-karat besi.”
Tentu saja bagi yang tidak yakin bahwa Nabi Adam pernah menghuni bumi ini kalimat di atas tidak perlu dipercaya.

Saya jadi ingat dua hal yang harus disebut dalam doa orang yang sakit: semoga sabar, dan semoga diampuni dosanya. Saya mengetahuinya dulu saat kuliah kedokteran, yang memang tertulis di beberapa buku agama yang membahas tentang hikmah sakit. Ternyata bukan ‘semoga lekas sembuh.’ Kesembuhan adalah kuasa Tuhan sementara sakit itu sendiri bisa berakhir pada salah satu dari dua ujung: kesembuhan, atau kematian. Yang pasti diusahakan adalah kesabaran menjalani sakit itu, dan berharap Tuhan berbaik hati menyucikan diri dari dosa-dosa melalui sakit tersebut. Mengenai kesembuhan, jika kita bersabar (definisi sabar tentu saja bukan diam saja tidak melakukan apa-apa dan berusaha tidak menangisi nasib, melainkan berusaha yang terbaik secara aktif terus-menerus. Mungkin padanan kata ‘sabar’ dalam bahasa Inggris lebih cocok ‘perseverance”) maka pasti akan ada jalan keluar berupa kesembuhan, dan apabila akhirnya tidak sembuh maka itulah yang terbaik dari Tuhan, dan kecewa tidak akan datang karena telah berusaha yang terbaik dan terus-menerus tadi.

Ada lagi beberapa buku yang mengatakan bahwa sakit adalah azab alias musibah. Ya, menurut buku-buku itu, sakit belum tentu berarti ujian. Sakit justru adalah ‘balasan Tuhan’ di dunia atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Maka permohonan ampunan kepada Tuhan adalah cara yang tepat dalam menghadapi sakit. Sebagai contoh, kita berlaku durhaka kepada orang tua (bukan, bukan seperti Malin Kundang yang tidak mengakui ibunya, melainkan hal-hal seperti tidak mengurus orang tua ketika mereka sakit, tidak respek, membangkang), kemudian kita langsung sakit setelah melakukannya. Contoh lain adalah setelah melakukan korupsi bertahun-tahun dan menjadi kaya, seseorang langsung jatuh sakit, dan ternyata uang korupsinya langsung habis sekejap untuk membiayai semua pengobatannya. Yang harus diingat adalah, jika sakit kemudian memohon ampun kepada Tuhan, baik sadar maupun tidak sadar telah melakukan kesalahan (dosa), maka Tuhan Yang Maha Pengampun tidak akan menyia-nyiakan sakit itu, tidak akan menyiakan tobatnya.

Ada orang-orang yang berkata bahwa orang mulia akan dimudahkan cara kematiannya; dia tidak akan merasakan sakit, dan proses menuju kematiannya hanya beberapa detik atau menit saja. Sebaliknya, orang-orang yang sakit kronis dan parah selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kemudian meninggal, menunjukkan bahwa mereka banyak dosa dan akan dihukum Tuhan di kehidupan selanjutnya.

Pernyataan di atas tentu perlu ditinjau ulang karena kita bukan siapa-siapa yang bisa menentukan akhir hidup seseorang. Siapa bilang ‘mati dengan cepat’ berarti masuk surga dan ‘mati dengan sengsara’ berarti masuk neraka? Bagaimana jika ‘mati dengan sengsara’ justru membuatnya bersih dari dosa-dosa, sehingga ketika harus meninggalkan dunia ini, dia sudah pantas ke surga? Kita tidak pernah tahu, maka kadang komentar itu sangat tidak perlu dilontarkan.

Lagi-lagi, sakit adalah kesempatan emas bagi orang beriman (yaitu orang yang percaya pada Tuhan, walau kepercayaan itu hanya mengisi sudut kecil di dadanya karena ukurannya kecil sekali dibanding ukuran jantungnya) untuk menyucikan diri sekaligus naik kelas menjadi orang yang semakin bertakwa.

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya”. (hadist)

Tentu saja semua penjelasan di atas, bagi orang sekuler maupun atheis, tidak masuk akal dan tidak dapat diterima. Maka penjelasan berbasis bukti dari segi kedokteran antara lain bahwa perasaan berpasrah diri dan keinginan menjadi lebih baik (dalam bahasa agamis: bertaubat) dapat meningkatkan imunitas. Perasaan pasrah dan taubat tersebut, yang lagi-lagi oleh orang-orang skeptis dianggap sebagai aktivitas elektrik di otak saja, akan meningkatkan kadar hormon ‘penenang’ serta meningkatkan produksi antibodi oleh sel darah putih yang berinti satu dan besar itu. Dengan demikian selain imunitas tubuh secara alami akan melawan penyakit yang datang dengan gigih, dalam perlawanannya itu tubuh tidak terlalu kesakitan akibat hormon penenang tadi yang berarti menaikkan ambang sakit seseorang (semoga usaha saya meniadakan istilah kedokteran tidak terlalu buruk ya).

Tidak berlebihan ketika seorang teman berkomentar mengenai betapa beruntungnya seorang relasi saya yang sedang menderita sakit sehingga harus cuti dari pekerjaannya, harus rajin kontrol ke dokter, dan harus istirahat total. Teman saya itu berkata bahwa relasi saya pastilah berkurang banyak dosanya, dan pastilah naik kelas bertingkat-tingkat di hadapan Tuhan sebagai manusia yang menjadi lebih baik nilainya, dengan sakitnya itu.

Ada beberapa orang terdekat saya yang sedang menderita sakit, dan karena usia mereka dan budaya setempat saya tidak yakin bisa menyampaikan hal-hal yang saya tulis di atas. Maka saya berdoa kepada Tuhan agar mereka dilimpahi kesabaran dalam menghadapinya, termasuk optimis sembuh dengan berusaha mencari pengobatan yang terbaik. Semoga Tuhan juga Berkenan Mengampuni dosa-dosa mereka, bahkan dosa besar semacam menyekutukan Dia Yang Maha Penyayang (praktek dukun dan sebagainya). Aamiin.

Oh ya, menurut saya, percaya adanya Tuhan, termasuk meyakini bahwa Dia adalah satu-satunya Yang Berkuasa atas semesta ini jauh lebih menenangkan daripada terus gelisah mempertanyakan asal muasal semesta ini tanpa campur tangan agama. Toh tidak ada bukti atas kebenaran salah satu dari dua hal itu; kita hanya tahu nanti ketika kita mati. Kita buktikan saja ya kiamat nanti. Semoga Tuhan menetapkan hati ini di jalan-Nya. Aamiin.

Kembali ke tujuan pembuatan tulisan ini, bahwa walau agak sulit berharap agar beberapa relasi saya yang sedang sakit membaca blog saya sehingga saya memilih mendoakan mereka, setidaknya semoga tulisan ini dapat mengingatkan diri saya sendiri dan orang yang membacanya. Bahwa membersihkan karat besi dapat dilakukan dengan tungku panas, yang berarti permohonan ampunan dan kesabaran atas sakit fisik yang pasti menyiksa. Tentu sebelumnya kita harus sepakat bahwa besi sebaiknya bersih dari karat, dan bahwa karat adalah hasil proses oksidasi reduksi yang selain memperburuk penampilan luar besi itu, juga menggerogoti dari dalam, menurunkan kualitasnya, dan memperpendek umur penggunaannya.