Surprisingly, The Headscarf

We were in a private room for 10 or so. We sat across the table and he stared at me briefly just to pay some respect, I guess.

For some few seconds when I finally got my chance to speak, I tried my best to impress him. I spoke as clearly as I could, of course in English because he is Russian. I told him about some recommended destinations in Java for a short visit. Later I found that nothing was possible because his flight was the day after our meeting.

That night I was startled, and it was not about what we discussed. After I finished my brief speech (few seconds) about how beautiful Indonesia is, he didn’t respond promptly. He smiled, I remember. Then a silence.  It was the first line he said to me about his impression on hijab. I couldn’t remember the detail but he said something like “I see a lot of women wearing a scarf on their head… (and then I couldn’t get it, because he spoke more to the person on his side, not me).”

At first I thought I should respond, but then I remained silent. Maybe I gave him a polite smile but I couldn’t remember. This should be my next post in my blog, I said to a friend sitting next to me.

Nothing fancy, but when people notice you for what is on your head instead of what is in your head. Whatever you say, people don’t listen and was stunned by how you look, by how weird or strangely out-of-this-world look you display (I still think he doesn’t watch TV that much or doesn’t browse the internet outside his job). Then however good you are, the strangeness will leave a strong impact and change the way they treat you.

Some would comment on this as “I am beyond pretty.” It means some beautiful girls have much more to offer than just their physical beauty, be it her intelligence or her compassion or her skill. But what happened to me that night might not be an example of “beyond pretty.” Maybe it was a kind reminder to me that not everyone is aware that there is a religion called Islam and the woman believers wear a headscarf on their head. A reminder that my kind of people is not that famous. :)))

Advertisements

The sobriety lane

I walk down this lane alone with ATPs left in my muscles and burning light in my chest.

I left my past behind me where I blamed so many people and so many things for my tears. I discarded so many ticks of the clock waiting for something that never came. I was so drunk, drunken by a huge wave of self-distrust, or self-contempt, i wasn’t sure, and i could barely stand, let alone walk.

While walking, i think of myself sometimes. How funny it is to lose the power to trust my strong self, while holding strong to a false believe that God isn’t very helpful.

What is ahead seems blurry but it promises me a future. The tiny light in my chest whispers me contentment and trust, and those are enough for me to keep walking.

I may be more vulnerable. I am helpless in God’s plan. But i am so strong i am invincible to whatever comes ahead of me. 

So here I am, Dear sobriety lane, try me, and i may stay sane and solid, and fully accepting of God’s best plans. 

Karena Aku Tidak Mau Seperti Itu

Lie To Me adalah suatu serial Amerika yang bergenre misteri dengan tokoh utama orang Inggris. Cal Lightman adalah seorang yang ahli membaca ekspresi wajah dan membantu polisi menyelesaikan kasus kriminal dengan kemampuannya itu. Tidak terlalu bagus sih ratingnya, tapi aku suka, mungkin karena seleraku adalah pria-pria seperti Cal itu, atau doctor House, atau Sherlock Holmes dalam serial Elementary. Entah kepribadiannya entah fisiknya hahaha. Absurd memang.

Selain Lie To Me, ada Elementary. Ini adalah serial gubahan dari kisah Sherlock Holmes, di mana seorang Sherlock yang orang London itu tinggal di New York City dan membantu NYPD sebagai konsultan alias detektif. Watson sahabat Sherlock tetap seorang dokter tapi di sini dia wanita. Aku suka episode terakhir (24) di musim 2. Di situ Sherlock relaps menggunakan heroin. Sepanjang seri dia sudah sepenuhnya sober, tapi itulah episode pertama yang menampilkan dia menjadi pengguna. Beberapa menit terakhir sungguh epik, menurutku. Di situ tampak Sherlock duduk di teras atas rumahnya, wajahnya pucat, sangat sayu dan matanya cowong, pandangannya kosong. Watson hanya bisa bertanya “Please tell me if you need anything.”

Episode itu membuatku mensyukuri hidupku. Perbedaan tampilan Sherlock sebelum dan sesudah jatuh pada adiksi sungguh ekstrim. Tukang riasnya keren, tentu. Tapi wajah itu membuatku membayangkan diri jika terkena pengaruh narkoba. You know, i dont want to look that lifeless. 

Dalam beberapa (ratusan?) episode saat aku merasa sangat sedih atau tidak berguna, sangat ingin lari ke hutan atau masuk ke inti bumi, aku bersyukur aku tidak merasa cukup putus asa untuk berkenalan dengan narkoba.

Somehow i am grateful, you know. Even until now. 

You Asked: Am I Addicted to My Phone?

You check it in the bathroom. You check it at the movies. You check it when you’re having dinner with your friends. But you wouldn’t say you’re addicted—and most experts would agree with you. “Only a small percentage of people qualify as addicted,” says Dr. David Greenfield, assistant clinical professor of psychiatry at the University…

http://time.com/4234366/phone-smartphone-addiction/

Board-like Muscles

Hamparan pasir keabuan terbentang selaksa karpet yang luas tak bertepi. Hangatnya mentari siang itu menyengat leher dan mengeringkan kerongkongan. Jam Garmin menunjukkan angka 11.40, dan telepon ketiga masih belum berbuah jemputan panitia.

***

Pagi itu kami berkumpul di rumah Pak Bambang, guru kami, untuk kemudian berangkat bersama ke selatan yang jauhnya 140 km dari rumah. Benar juga, akhir pekan yang panjang menjelang libur tahun baru China membuat jalanan padat merayap. Ditambah keinginan makan malam khas Jogja bernama Gudeg Wijilan, sampailah kami di penginapan tujuh jam sebelum pistol start ditembakkan (saat itu berharap ada pistol, jelas tidak akan ada).

Malam itu aku berbaring namun terjaga, menanti kabar dari salah satu anggota rombongan yang baru bertolak dari Semarang selepas matari terbenam. Sejam sebelum alarm kami semua berbunyi, orang yang kutunggu mengabari telah sampai dengan selamat, dan memutuskan berangkat bersama rombongan lain ke tempat start dan tidak mampir ke penginapan kami. Aku pulas sejam saja dan terpaksa bangun oleh ketukan Rizki di pintu kamar, “Bangun, bangun.”

Suasana garis start sangat gelap, karena subuh pun belum tiba. Lampu kepala berkilatan, warna-warni pakaian pelari berkilauan, satu dua wajah kukenal, sebagian adalah rombongan dari kotaku sendiri, sebagian lain adalah alumni SMA-ku dan seorang guruku di SMA, Ibu Ani. Sesaat sebelum start, kuputuskan berlari bersama mantan guru SMA-ku itu (mantan karena beliau sudah tidak mengajar), sampai sekuatku saja, karena rumornya beliau pelari hebat. Wanita 52 tahun ini terus berada di sebelahku sekitar 7 km pertama sejak start, menyusuri garis pantai, beradu dengan angin laut, bertolak di pasir gembur yang kadang terintrusi air laut.

Memang ada pepatah mengatakan “train hard, race easy” yang mungkin berarti rajinlah berlatih agar saat perlombaan lari kamu bisa menang (atau mencapai finish, atau membuat catatan waktu yang baik) dengan mudah. Namun ternyata tidak semudah itu. Ada faktor X, Y, dan Z yang mempengaruhi the easiness of the race, despite your training and preparations. Seperti pagi itu, ketika aku memutuskan melepaskan diri dari Bu Ani yang masih terus berlari dengan semangat “Ibu duluan saja deh Bu, maaf tidak ikut menemani,” dan memilih menunggu Rizki yang sedang kesakitan karena kram. Seorang teman pelari melewatiku sambil berkata bahwa Rizki sedang kram. Aku masih ingin berterima kasih padanya sampai tulisan ini dibuat, namun apa daya, aku lupa siapa orangnya.

Rizki akhirnya muncul juga, diikuti sepasang kekasih, Putri dan Zayin, yang juga rombonganku, sehingga kami melaju berempat, belum sempat lari karena turunan curam menghadang di depan. Kramnya tampaknya sudah surut, jadi Rizki memutuskan untuk terus melaju, sampai tiba-tiba harus berhenti karena kram datang lagi. Jalan setapak turun yang curam memang menuntut kontraksi otot betis dan sekitarnya, dan saat kram, semuanya akan memburuk. Saking sakitnya, kami berhenti beberapa menit dan dilewati beberapa pelari “Duluan aja Mas, Mbak, beneran gakpapa kok,” saat mereka menawari bantuan, walau aku sempat mengambil satu tube counterpain dari salah satu tawaran. Dua orang lain, Wahyu dan Yulian, memutuskan ikut berhenti sehingga kami berenam selama sejam berikutnya (beberapa menit kemudian kami sudah melaju lagi). Entah bagaimana, enam orang ini kemudian terpisah sehingga tinggal aku dan Rizki, empat lainnya di depan dan belakang kami. Mungkin Wahyu dan Yulian sudah bergabung dengan teman-teman mereka.

Sejam lebih yang menyiksa, karena pemandangannya indah, udaranya sejuk, jalanannya relatif datar dan tidak curam atau licin, tapi Rizki diam seribu bahasa. Sama saja lari sendiri, pikirku. Tapi berjam-jam setelahnya kusesali pikiran itu, karena kemudian aku menyadari dia sedang berjuang mencegah kramnya kambuh sambil berkonsentrasi dengan rute lari, dan mungkin menahan sakit tanpa mengeluh satu napas pun.

Pos minum terakhir yang tidak kunjung muncul akhirnya tampak juga, dan setelahnya terasa ringan (hore, lima kilo lagi sampai finish, mungkin jam sepuluh bisa nih), namun apa yang kemudian terjadi di medan pasir itu tidak terbayangkan sama sekali.

***

Entah karena terik yang semakin lugas menyapa kulit atau kilauan pasir di bawah telapak kaki, jalan menuju finish terasa tak berujung, ditambah kesunyian tanpa kata. Dendang lagu “Memulai Kembali” olehku hanya bertahan dua baris kemudian aku menyesali nada tinggi yang kuambil. Di hampir setiap turunan, aku mendahului Rizki, kemudian di akhir setiap turunan aku menengok ke belakang memastikan dia turun dengan aman, tanpa kram.

Turunan terakhir (karena setelah itu aku mengambil short cut sampai finish), aku meninggalkannya jauh di belakang (kok lama sih, pikirku) sampai terdengar teriakan kesakitan. Aku menoleh, dan kulihat Rizki berdiri membatu dengan kedua lutut menekuk dan posisi hampir rukuk, tampak sangat kesakitan, “Aaaaaarrgh.” Aku berlari mendekat, teriakan bertambah keras dan bernada tinggi. Tampak jelas kakinya menegang, sehingga aku semakin cemas. Aku segera mendekat dan berlutut, mengecek otot betisnya yang ternyata sekeras papan kayu. Oh tidak, pikirku. Bagaimana ini, aku harus apa, aku panik. Counterpain-ku menipis dan baru akan kukeluarkan dari kantong celana.

Beruntung sekali saat itu ada beberapa pelari lain di depan kami. Satu orang berbalik arah mendekati kami dan seperti memberi komando, “Tenang Mas, tenang, kalau panik nanti tambah kram. Tenang sekarang! Rileks Mas!!” Sepertinya Rizki patuh dan beberapa detik kemudian betisnya lebih lunak. Oh, aku sungguh lupa detil kejadian saat itu (atau aku supresi saking ngerinya), jadi aku lupa apakah hitungan detik atau menit sampai ‘papan kayu’ itu melunak. Yang jelas aku dan bapak pelari kurus baik hati itu membantu Rizki untuk duduk di pasir panas demi mengurangi kontraksi tungkai.

Beberapa detik berlalu dengan sangat lambat, namun anehnya aku lupa detilnya. Aku tidak ingat apa saja yang terjadi, apa saja usaha yang kulakukan saat itu selain mengangkat tinggi tungkai Rizki satu per satu dan mencoba dengan asal meniru gerakan fisioterapis saat membantu pelari dalam event lari Desember lalu. Lama sekali sampai akhirnya Putri dan Zayin muncul, “Tadi yang teriak itu kamu, Kak?” tanya Putri padaku.

Beberapa menit berikutnya sungguh tak terbayangkan. Kami berempat di tengah gurun pasir (yang ternyata masih 2 km lebih menuju finish, bukan 1 km seperti kata salah seorang pelari yang saat itu tentu saja belum finish) mencoba menahan panas dan berharap kram segera reda sehingga kami bisa segera berjalan bersama menuju finish. Counterpain sudah habis, pijatan sana sini sudah dilakukan, namun keluhan belum juga mereda.

Aku sempat meraih ponselku dan kutekan nomor Mas Wardana yang aku kuduga adalah ketua panitia event lari ini, melaporkan keadaan darurat dengan lokasi yang tidak akurat, dan memastikan dia mendengar kata-kata “butuh evakuasi” yang kuucapkan. Aku melirik Rizki mendengarku dan beberapa saat setelah itu dia tampak menerima kenyataan bahwa dirinya harus dievakuasi. Aku mensyukuri umur bateraiku yang masih panjang sehingga aku sempat menelepon beberapa orang lain termasuk Tri, anggota rombongan, dan Mas Willy, senior di sekolah yang di start sempat menyapaku, “Aku gak ikut lari, medis aja.”

Segelintir pelari Semarang mendekat, mereka ini temanku berlatih untuk event ini. Salah satunya bernama Mas Santosa memutuskan tinggal, dan beberapa kali aku berkata “Makasih ya Mas, for sticking with us,” yang selalu dijawabnya dengan semacam “Sudah kewajibanku.” Mas Santosa ikut menelepon sana sini, membantu dengan ransumnya, dan empati menyalahkan panitianya sungguh membuatku merasa lebih baik. Mas Santosa juga yang bersamaku berjalan menuju finish, “Ayu, we shall finish what we have started. Let’s finish this race.” 

Delapan puluh menit di bawah terik mentari membakar leher Zayin, menguras energi kami, mempercepat napasku sendiri, dan mungkin melenakan pikiran jernihku. Dari sekian banyak pilihan: 1. Menghentikan beberapa pelari untuk bersama mengangkat teman yang kram ke bawah pohon rindang terdekat, untuk dievakuasi, 2. Evaluasi rutin kram, jika sudah bisa berdiri dan berjalan pelan, dia bisa dibantu berjalan menuju pohon rindang terdekat untuk dievakuasi, 3. Konsul via telepon ke Pak Bambang yang sangat berpengalaman dalam kegawatdaruratan untuk langkah selanjutnya; tidak ada satu pun yang terlintas saat itu. Hanya Tuhan Yang Tahu mengapa kami memilih percaya pada jawaban Mas Wardana di seberang sambungan telepon, “Panitia akan segera datang menjemput.”

Delapan puluh menit itu diwarnai dengan beberapa teriakan Rizki, “Aduh! Sekarang kram betisnya, betis kanan, ah!” atau beberapa tempat lain seperti paha atau telapak kaki atau perut atau diafragma atau dada. Beberapa kali keluhan Putri, “Aaak, sakit perut,” dan banyak sekali pertanyaan dari kami semua, “Ini panitia mana sih?”

Ada satu masa di mana tiba-tiba Rizki tak bersuara. “Ki, bangun, bangun, jangan merem, plis” kataku. “Iya, iya.” jawabnya segera sambil berusaha melek. Beberapa saat yang lain dia sangat lancar berbicara, “Kakiku tolong diturunkan pelan-pelan, nah gitu, betisku tolong diurut dari proksimal ke distal,” atau “Siapa itu? Oh, fotografer itu ya?” saat aku menyapa seorang dari rombongan pelari Bandung yang melewati kami. Kadang aku heran dengan kejernihan pikirannya di saat genting seperti itu. Aku saja ingin mandi air sirup dingin saat itu juga, berharap dingin dan manisnya bisa membangunkan otakku. Episode-episode itu berlangsung acak dalam ingatanku saat aku menuliskannya kembali. Termasuk saat Putri menawari “Nih minum Pocari lagi, habisin,” yang dijawab Rizki, “Udah kembung Pocari,”

Di tengah teriakan kesakitannya, Rizki sempat berbicara tidak jelas, sepertinya memberi instruksi padaku soal letak kramnya, kemudian tiba-tiba, “Aduh, aku pelo. Aku pelo!” Tanpa aku menyadari arti pelo saat itu (mungkin karena saat itu aku mau pingsan, atau aku panik, tidak yakin yang mana), aku bertanya ke semua orang (yang cuma berlima termasuk aku), “Masih ada air? Siram ke wajahnya, sekarang.”

Masih belum puas, aku bertanya lagi, “Siapa punya madu? (Aku, Kak, jawab Putri) masukin ke mulutnya.”

“Lho Kak, tapi dia gak mau tadi.” jawab Putri yang dari tadi ditolak Pocarinya.

“Masukkan sekarang, anggap itu injeksi D40 tapi peroral.”

“Ini (pelo) apa,” kata Rizki sambil terus mengeja huruf r berkali-kali.

“Gakpapa, transien aja.” (atau aku mengucapkannya dalam hati? Duh, lupa.)

Beberapa menit berikutnya terasa lebih mencekam karena sempat terucap kata ‘pelo’ tadi. “Mas, airnya disiram ke wajahnya lagi,” perintahku yang sudah semakin terdengar bossy ke Mas Santosa. “Kamu bangun, Ki, jangan merem, bangun, ayo mikir habis ini mau ke IGD bedah atau penyakit dalam,” tanyaku demi membuatnya tetap terjaga. “Gak kok, udah gak perlu ke IGD,” jawabnya. Putri dan Zayin masih setia menaungi temannya yang kram itu dengan jaket parasutku yang disangga dengan lengan mereka, yang segera diganti dengan ponco tebal yang lebih lebar.

Di sela-sela kalimatku yang makin meracau, “Makasih ya, Putri, Zayin, sudah mau berhenti di sini, panas-panas, mungkin ini 40 derajat ya?” Mas Santosa bertanya serius mengapa Rizki bisa kram separah ini. “Mungkin kurang latihan ya,” gumamnya, yang segera kujawab, “Latihannya sempurna, Mas. Dia latihan HM (half-marathon) dengan pace 5 baik-baik aja tuh, gak ada keluhan, tapi tiap event kok gini. Kemarin Jakmar juga kan, Borobudur juga.” Rizki menanggapi bahwa dirinya sempat tersesat 3 km, dan bahwa dia yang bertugas menyetir. Tidak ada yang menjawab. Semua setuju, dan sudah sangat mengharapkan tim evak datang.

***

Evakuasi dilakukan setelah Rizki berdiri dan dipapah menuju motor, setelah berdebat apakah harus duduk miring seperti perempuan yang memakai rok, atau duduk melangkah. “Udah nyemplo aja,” kataku, yang dijawab panitia, “Nyemplo tuh apa, Mbak?”

Sepanjang jalan aku mengomel soal kepayahan panitia. Aku dan Mas Santosa menolak beberapa tawaran motor panitia, “Evakuasi ya Mas, Mbak?” walau aku tidak menolak dua botol minum dingin manis dari mereka. Beberapa kali aku meminta maaf pada Mas Santosa, “Maaf ya Mas aku sepertinya dehidrasi jadi delirium, banyak omong begini.”

Sejam setelah evakuasi, Rizki sudah mandi dan berpakaian rapi ketika aku akhirnya mencapai finish dengan Mas Santosa. Aku sempat mengomel pada panitia di garis finish yang mencatat waktu finishku, dan sempat ingin marah ke mas Wardana, namun saat aku menyalaminya, “Kok gitu sih Mas.. Mas gak tau tadi keadaannya kayak apa..” terpaksa kuakhiri karena air mataku sudah tak terbendung dan aku harus segera berlalu. Aku malu terlihat lemah. Aku merasa cukup sopan masih menyempatkan mendengar pembelaan dirinya, “Maaf ya Mbak, pada saat yang sama di tempat-tempat lain banyak yang butuh bantuan, Mbak.”

***

Malamnya aku sampai di rumah dan kelelahan sehingga tertidur tanpa mencuci muka.

Esoknya dan sampai dua hari berikutnya aku masih meneteskan air mata mengingat kejadian otot yang menjelma sekeras papan kayu itu. Sesekali gondok melihat sebaran foto teman-teman di garis finish, menyesal memilih membuang waktu berjalan ke finish bukannya ikut dievakuasi panitia dengan motor sehingga bisa berfoto dan makan siang. Namun lebih banyak merasa lega telah memutuskan berdiri diam dilewati pelari-pelari demi menunggu Rizki yang belum tentu kesakitan (bisa saja kramnya sudah teratasi dan tidak akan kambuh, kan?), bukannya terus bersama bu Ani sampai finish, dan memilih melangkah dalam diam sepanjang jalan bersama Rizki, bukannya jengah kemudian meninggalkannya.

Demi Tuhan Yang Maha Tahu Segala, mungkin juga jika aku segera jengah karena didiamkan selama sejam saat hanya berdua itu, aku mungkin menyarankan Rizki untuk menyerah saja, sehingga kejadian mengerikan tidak perlu terjadi, sehingga dia selamat dari dehidrasi dan hipoglikemi itu.

Atau, jika aku terus berlari bersama bu Ani dan akhirnya finish lebih dulu, mungkin siapapun yang saat itu bersama Rizki mengambil keputusan yang lebih bijak dibanding aku, sehingga mungkin evakuasi dilakukan lebih dini di pos minum terakhir, atau beberapa pelari berhasil diminta untuk mengangkat Rizki ke tempat yang lebih manusiawi.

Namun Demi Tuhan, kita ini bukan orang yang berandai-andai dengan masa lalu. Semoga ada sedikit pelajaran yang dapat dipetik dari ceritaku ini. Rizki sudah sembuh, jika kalian penasaran. Sangat sehat dan sepertinya sudah bersemangat lari lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Carried Away by Feelings (Baper)

Judul harus catchy dong. Hahaha.

Singkat cerita ada orang yang membatasi diri dalam bergaul secara umum dan berprinsip tegas untuk tidak berpacaran demi menjaga hatinya dari keterlenaan pada dunia dan jelas demi menjauhi zina. Ada pula orang yang supergaul, sangat ramah, punya banyak teman, bersahabat dengan lawan jenis, dan terkesan tidak berhati-hati dengan hatinya sendiri, walau kenyataannya hanya orang itu yang paham tentang apakah hatinya terlena atau tidak.

Menurut bahasa Jawa, kata agama itu seakar dengan ageman yang artinya pakaian, yang fungsi utamanya adalah melindungi manusia dan mungkin memperindah juga. Agama yang saya tahu mengatur pergaulan sedemikian hingga tidak diperbolehkan adanya kedekatan fisik maupun hati antara pria dan wanita, kecuali mereka menikah. Aturan ini banyak diperdebatkan, jelas, tapi tulisan kali ini tidak akan membahas itu. Tulisan ini patuh pada premis tersebut, untuk sebaiknya tidak berpacaran, namun sedang melirik para pelaku “banyak sahabat” yang tampaknya tetap bisa menjaga hatinya dari zina. Tulisan ini membahas orang tipe kedua yang disebut di paragraf awal, yang banyak sahabat dan gaul itu tadi.

Beberapa tahun terakhir muncul istilah baper, alias bawa perasaan, alias terlalu melibatkan hati dalam suatu hal, atau ge-er (gede rasa) atau emosional secara umum. Jangan libatkan hati, pakailah logika. Itu jargon antibaper masa kini. Maka dalam bergaul, sangat mungkin akan muncul teguran “jangan baper” setiap teman lawan jenis melakukan sesuatu yang menurut teman agamis tipe pertama adalah menjurus pada zina.

Saya semakin bingung mau nulis apa. Hahaha. Jadi, semakin hari, zaman semakin membolehkan perilaku kedekatan pria dan wanita yang agak terlalu dekat untuk sekedar dibilang sebagai berteman namun tidak cukup fleksibel dengan istilah pacaran. Pacaran ya aku dan kamu saling suka dan sepakat untuk eksklusif, sedangkan yang namanya ttm atau hts atau kakak-adek tetaplah bukan pacaran. Ditambah lagi, para pelaku ttm/hts/kakak adek ini mengaku tidak mudah baper, tidak pacaran, walau kenyataannya kegiatan mereka seperti orang berpacaran. Hm, semakin absurd.

Singkat cerita, orang kedua dalam kisah ini (lihat paragraf awal) mungkin hanya korban kemajuan zaman. Orang kedua ini justru dituntut menjaga hati dengan lebih ketat dibanding orang pertama yang jelas melabel diri “sori gan, ane kagak gaul, ane kagak pacaran, ngeliat cewek cantik lama aja langsung refleks nunduk, malu.” Analogi ekstrim penulis adalah, orang pertama tidak minum bir maupun wine demi tidak mabuk, sedangkan orang kedua tetap menghargai lingkaran sosialnya dengan tetap minum bir dan wine sambil terus menakar diri agar minumnya tidak sampai mabuk. Analogi ini ekstrim karena hukum bir dan wine sudah jelas, tidak pakai coba-coba.

Duh Gusti Paringono Jodho.

Aamiin.

 

 

 

Phase

It was seven years ago, I remember, when I started watching soccer games and chose one national team and one national club to love. Now? I don’t even know what club Ricardo Kaka (my all-time favorite soccer player, for his look, of course) plays in.

There are times when you like or love something, get so obsessed with it but then don’t care about it the next year (or even day!). That is what some people call it as a phase. There are also times when you start loving something and it somehow sticks with you for a long time. It might be forever. It might become a new habit, a new part of you, be it a good or a bad thing. So that phase might linger and stay and will then not be labeled as a phase but simply as an attribute of you.

For me it mostly involves digestible things. I developed my love for coffee since around four years ago, when I lived for a few months in “the city of a thousand cafes” and I stopped drinking sweetened ice tea since my encounter with the Japanese, who simply don’t drink sweet beverages, almost eleven years ago. Oh, I should also mention that I never liked and will probably never like papaya since I saw my cute little sister with her fork shoveling papaya in her tiny mouth 27 years ago.

So you see, I am in a phase of loving running and listening to jazz. I may do them for few more years or I may forget them next month. But last year (sure, I mean last month) I had witnessed that running is so awesome that it has to be my lifetime goal. It was when I signed myself in a medical team whose job is to take care of the runners in a national running event. Well, we should all see whether I run for the rest of my life. About the jazz music, I can’t say much. I can’t sing jazz and I can’t play jazz, I just enjoy it. You know I only sing and play lame, boring pop songs.

Off I go now.

 

 

Ingin Kurus Lagi

Indeks massa tubuh terkiniku tidak mengkhawatirkan, pun jika bertemu kawan lama, dia atau mereka akan berkomentar “Kamu kurusan” atau semacamnya, yang berarti bagus. Jadi tidak ada urgensi untuk menurunkan berat badan, sebenarnya. Namun ada hal penting yang dua tahun terakhir membuatku terobsesi: lari. Kata beberapa artikel ilmiah, berat badan berpengaruh pada kemampuan lari, baik kecepatan maupun ketahanan (endurance). Jadilah ada misi baru tahun 2016 ini, untuk ingin kurus lagi. Menurunkan berat badan, menurunkan BMI, meningkatkan massa otot, menurunkan persentase lemak, dan menuju size zero (yang terakhir ini bohong ya hahaha).

Memasuki minggu ketiga di bulan pertama tahun ini, aku berusaha disiplin sarapan muesli (campuran antara oat/ gandum, kismis, biji-bijian seperti kuaci, dan kacang almond) dengan susu, serta kopi pahit (yang ini hanya hobi sejak pernah tinggal di Melbourne). Selain itu aku mengunduh aplikasi ponsel bernama “My Plate” yang kucurigai buatan Lance Armstrong (atlet sepeda dunia yang ketahuan dopping tapi tetap keren itu, yah atau mungkin karena aku sudah baca buku biografinya) yang prinsipnya adalah jurnal makanan. Aku tidak tahu efek aplikasi  itu selain membuatku agak sedih di setiap penghujung hari ” Yah hari ini kalorinya masih lebih dari 1200 kkal.” Hahaha.

Betul, kata banyak penelitian, diet itu lebih penting daripada latihan fisik jika ingin menurunkan berat badan. Tapi sebagai pelari, aku selalu berusaha berlari. Seru juga ada alat namanya sabuk denyut jantung, yang bisa dipasang seperti memasang bra, yang sensornya ditampilkan di arloji canggih bermerk Garmin di pergelangan tanganku. Saat berlari aku jadi bisa menyesuaikan kecepatan lariku sedemikian hingga tercapai zona denyut jantung yang paling efektif dalam pengunaan energi dari lemak. Haha, ribet ya. Singkatnya, jika denyut jantung (untuk wanita usia 29 sepertiku) sekitar 125 kali/menit maka energi yang digunakan tubuhku untuk berlari diambil dari asam lemak (bukan dari gula), sehingga harapannya lemak tubuhku jadi berkurang selesai berlari. Hahaha, dengan lari rutin, maksudnya..

Tentu “lari santai sekali” demi mencapai zona denyut jantung yang membakar lemak itu sulit, jadilah aku juga menjadwalkan latihan interval. Latihan ini semacam lari ngebut sekali yang diselingi dengan jalan kaki setengah menit atau maksimal semenit untuk istirahat, lalu dilanjut lari ngebut lagi. Interval ini berat deh tapi demi kurus mungkin aku bisa semangat. Mungkin, hahaha.

Aku sudah tidak sabar mengabari pembaca semua bagaimana hasil dari pelangsingan ini. Oya, targetku adalah lingkar pinggang ** cm dan berat badan ** kg dan BMI ** dan persentase lemak kurang dari 25% dan ukuran baju zero (hahaha). See you soon!

 

 

A Shifted Arrow

Day to day i would like to have a cup of hot sugarless latte

And forget about my thesis

I would meet you today and tonight and tomorrow

Sharing my thoughts and my dreams and you would listen patiently

Day to day i would spend my energy watching you do your thing

I would help if i may but i am okay with just cheering and admiring endlessly

You know i dont mind if i resign tomorrow morning

Because i have what i need and i am happy

But life does not work that way

Sometimes my reality is unacceptable to others

Sometimes what i believe as a simple thing looks complicated and impossible

Often time what i need seems small and insignificant to others

But you know we all have God The Almighty, All-Knowing

I just keep the faith that i will be with you in my life, in this world and the hereafter

It might not be you, of course, i am fully aware

But I pray that God Made another one of you, to love me

So you see i am not that girl anymore

Who wants this and that, strives to be this and that, does these or those

I see my future being by your side

And do my thing and help you do your thing

And be forever grateful to have you in my life

But “you” here is non-existence.

I do not know where i am going now

My destinations are no longer “expert in medicine” or “author of inspiring books”

but simply a wife and a mother (if God Wills)

So i am on my way

The pathway with a newly shifted arrow

Shifted, not bent, not broken

And i am content

All Praise is only to God

Mikrobioma dan Cinta

Siang itu sungguh terik, aku ingat sekali saat berjalan dari warung belakang kampus. Aku naik ke aula untuk mengikuti kuliah tamu seorang Profesor dari Perancis.

Pak Profesor adalah tipikal guru yang mempesona, berusia sekitar 60-an, tidak obes bahkan langsing, murah senyum, menjelaskan dengan sabar dan runtut dan mudah dimengerti, serta melawak setiap beberapa slide. Bahasa Inggrisnya nyaris sempurna (terpaksa harus menemukan satu kesalahan pengucapan saja, itu pun mungkin karena pengucapan bahasa Perancisnya seperti itu), dengan logat sengau yg kurang kental.

Aula perlahan dipenuhi peserta, beberapa ada teman seangkatanku yang menjadi residen, dan sebagian besar mahasiswa S1. Aku memilih duduk di sebelah seorang residen interna, teman berenangku yang juga teman seangkatanku. Ada seorang bule cantik di sebelah pak Prof yang ternyata adalah perwakilan dari IFI. Slide kuliah hari ini mungkin hanya sekitar dua puluh halaman namun tiga puluh menit kuliah itu terasa berlalu dengan cepat.

Laiknya guru besar di seluruh dunia, slide pertama langsung menggugah audiens. Beliau mengingatkan bahwa kita ini jauh lebih muda dibanding para kuman dan virus, karena mereka sudah menghuni bumi jutaan tahun lamanya. Manusia hanyalah makhluk kemarin sore, itu pun hanya bisa bertahan dengan keberadaan kuman dalam tubuhnya.

Semakin dalam penjelasan beliau, aku semakin terbiasa dengan bahasa Inggris yang indah dan tertata. Kadang kalimatnya panjang, sampai aku perlu fokus dan mengindahkan hapeku sendiri.

Mikrobioma dan metagenomiknya. Topik ini baru bagiku walau mikro merupakan mata kuliah favoritku selain faal dan interna. Sang Prof menjelaskan bahwa keberadaan kuman komensal memungkinkan perkembangan normal otak, sistem imun, tulang, dan sistem organ lainnya. Tanpa mereka, apalah kita.

Mekanisme pentingnya penjajahan (maksudnya kolonialisme) kuman atas tubuh kita ini tentu via inflamasi fisiologik yang akhirnya mempersiapkan tubuh menghadapi penjahat sesungguhnya; yaitu kuman patogen.

Aku jadi ingat dia (bukan Pak Prof) yang membuatku terpapar pada kenyataan bodoh bahwa aku mengharapkannya tanpa bisa bertindak nyata.  Tiba-tiba aku berharap kebodohanku selama ini bisa berguna untuk akhirnya menguatkanku menghadapi dunia. Aku membayangkan menjelma usus besar yang dihuni kuman. Kuman-kuman itu membuatnya terpaksa memproduksi sitokin-sitokin yang mungkin membuat tidak nyaman namun jelas dengannya, si colon semakin tangguh dan matang.

Sore itu aku keluar ruang rapat dengan agak loyo setelah menyadari aku belum makan siang. Sekotak utuh snack aku bawa pulang; oleh-oleh untuk bapak ibu. Dalam perjalanan aku membayangkan akan menulis blog ini, mengingat beberapa detil dan memastikan judulnya harus berima.

Semoga para pembaca memaklumi perasaanku yang semakin menggila, dan menghargai usahaku menutupi semua perasaan demi sesuatu yang aku juga tidak yakin apa.