Throwback Ramadhan 

Just checking in today in the holy month of Ramadhan. My mind sometimes wandered to four years ago where I spent my Ramadhan in the southern part of the earth. I vaguely remembered everything except that I was very diligent at finishing the Quran and following some majlis. I even joined some ifthar with fellow Indonesians (most are families with toddlers or school-aged kids) and visited some houses. 

Just few days before Ramadhan back then, I encountered a huge internal-conflict of faith and Alhamdulillah it all ended well. I am now a believer by choice Insha Allah. I am now, four years later, fasting and doing not so well in learning my own faith but trying my best.
Barakallah to all moslem readers and thank you to everyone else for stopping by to read. Ramadhan Kareem.

Sejenak Mesotonik

Kadang sulit untuk menulis bukan tentang perasaanku, atau hal-hal sepele yang terjadi di sekitarku. Jadi memang sebagian besar tulisan di blog ini adalah curhat sang penulis.

Anyways.. Aku ingat kuliah tentang psikologi (entahlah jaman kapan itu, rasanya sih aku kuliah kedokteran, tapi kok ada secuil tentang psikologi ya haha), satu dari banyak sekali pembagian tipe kepribadian adalah berdasarkan bagian tubuhnya yang dominan.

Manusia itu dibagi tiga, yaitu serebrotonik, mesotonik, dan viserotonik. Yang pertama adalah orang-orang yang sangat suka dan sering berpikir, yang kedua adalah orang yang otot-ototnya aktif seperti olahragawan, dan terakhir adalah orang-orang perasa, yang hobi merasakan.

Beberapa minggu terakhir aku sedang merasa terlalu peka, sehingga mungkin aku sebenarnya tergolong viserotonik. Aku terlalu banyak menangis tanpa alasan yang jelas (sehingga jadilah tulisan “sobriety lane” itu), dan sering sedih tanpa berniat menghibur diri (kecuali makan es krim coklat, aku akan selalu mau). 

Kebetulan pula bulan ini adalah musim kompetisi lari terjauh dalam sebulan oleh ikatan alumni SMA keren tercinta itu, sehingga setidaknya aku harus bersemangat berkontribusi seperti tahun lalu. Saat berlari tentu aku berubah menjadi manusia mesotonik karena otot-otot tungkai sangat kubutuhkan, selain juga otot-otot pernapasanku.

Selama atau setelah lari itu aku sejenak melupakan air mataku dan kesedihanku. Rasanya para ototku yang penat saat dan pascalari berbisik pada organ-organ dalamku, “Berikan nyerinya pada kami, sekali ini saja biarkan kami yang menanggung deritanya.” 

Tiba-tiba saja saat itu aku lalu menyimpulkan, bahwa seorang individu terdiri atas sebagian serebrotonik, sebagiannya mesotonik, dan sisanya viserotonik. Kadar ketiganya mungkin fluktuatif dari masa ke masa, dan saat salah satunya terlalu timpang, mungkin melakukan kegiatan lain yang sangat berbeda bisa menyeimbangkannya.

Aku pun sempat terlalu sibuk mengurusi pekerjaan kantor (menurutku pekerjaanku sungguh menyenangkan, dan “aku banget,” jadi aku hampir selalu menikmatinya) saat episode sedih itu. Aku dipaksa berpikir keras dan cukup lama mengurusi sel kanker hadiah dari Profesor baik hati dari negeri jiran. Paham kan, aku sedang menjadi sangat serebrotonik ketika berpikir itu, sehingga lagi-lagi kelenjar lakrimalku tidak mendapat perhatian khusus. Singkatnya, saat itu aku tidak sesedih sebelumnya.

Aku kemudian menyimpulkan lagi, ketika terlalu sedih atau merasakan apapun yang negatif, penting juga untuk menggiatkan bagian tubuh lain. Contohnya otot-otot, dengan berolahraga (agar sejenak mesotonik), atau otak, dengan mengerjakan demanding task atau menulis proposal penelitian (agar sejenak serebrotonik). Dengan demikian, tubuh dan pribadi kita akan seimbang, dan kebahagiaan bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. ūüôā

Surprisingly, The Headscarf

We were in a private room for 10 or so. We sat across the table and he stared at me briefly just to pay some respect, I guess.

For some few seconds when I finally got my chance to speak, I tried my best to impress him. I spoke as clearly as I could, of course in English because he is Russian. I told him about some recommended destinations in Java for a short visit. Later I found that nothing was possible because his flight was the day after our meeting.

That night I was startled, and it was not about what we discussed. After I finished my brief speech (few seconds) about how beautiful Indonesia is, he didn’t respond promptly. He smiled, I remember. Then a silence. ¬†It was the first line he said to me about his impression on hijab. I couldn’t remember the detail but he said something like “I see a lot of women wearing a scarf on their head… (and then I couldn’t get it, because he spoke more to the person on his side, not me).”

At first I thought I should respond, but then I remained silent. Maybe I gave him a polite smile but I couldn’t remember. This should be my next post in my blog, I said to a friend sitting next to me.

Nothing fancy, but when people notice you for what is on your head instead of what is in your head. Whatever you say, people don’t listen and was stunned by how you look, by how weird or strangely out-of-this-world look you display (I still think he doesn’t watch TV that much or doesn’t browse the internet outside his job). Then however good you are, the strangeness will leave a strong impact and change the way they treat you.

Some would comment on this¬†as “I am beyond pretty.” It means some beautiful girls have much more to offer than just their physical beauty, be it her intelligence or her compassion or her skill. But what happened to me that night might not be an example of “beyond pretty.” Maybe it was a kind reminder to me that not everyone is aware that there is a religion called Islam and the woman believers wear a headscarf on their head. A reminder that my kind of people¬†is not that famous. :)))

The sobriety lane

I walk down this lane alone with ATPs left in my muscles and burning light in my chest.

I left my past behind me where I blamed so many people and so many things for my tears. I discarded so many ticks of the clock waiting for something that never came. I was so drunk, drunken by a huge wave of self-distrust, or self-contempt, i wasn’t sure, and i could barely stand, let alone walk.

While walking, i think of myself sometimes. How funny it is to lose the power to trust my strong self, while holding strong to a false believe that God isn’t very helpful.

What is ahead seems blurry but it promises me a future. The tiny light in my chest whispers me contentment and trust, and those are enough for me to keep walking.

I may be more vulnerable. I am helpless in God’s plan. But i am so strong i am invincible to whatever comes ahead of me. 

So here I am, Dear sobriety lane, try me, and i may stay sane and solid, and fully accepting of God’s best plans. 

Karena Aku Tidak Mau Seperti Itu

Lie To Me adalah suatu serial Amerika yang bergenre misteri dengan tokoh utama orang Inggris. Cal Lightman adalah seorang yang ahli membaca ekspresi wajah dan membantu polisi menyelesaikan kasus kriminal dengan kemampuannya itu. Tidak terlalu bagus sih ratingnya, tapi aku suka, mungkin karena seleraku adalah pria-pria seperti Cal itu, atau doctor House, atau Sherlock Holmes dalam serial Elementary. Entah kepribadiannya entah fisiknya hahaha. Absurd memang.

Selain Lie To Me, ada Elementary. Ini adalah serial gubahan dari kisah Sherlock Holmes, di mana seorang Sherlock yang orang London itu tinggal di New York City dan membantu NYPD sebagai konsultan alias detektif. Watson sahabat Sherlock tetap seorang dokter tapi di sini dia wanita. Aku suka episode terakhir (24) di musim 2. Di situ Sherlock relaps menggunakan heroin. Sepanjang seri dia sudah sepenuhnya sober, tapi itulah episode pertama yang menampilkan dia menjadi pengguna. Beberapa menit terakhir sungguh epik, menurutku. Di situ tampak Sherlock duduk di teras atas rumahnya, wajahnya pucat, sangat sayu dan matanya cowong, pandangannya kosong. Watson hanya bisa bertanya “Please tell me if you need anything.”

Episode itu membuatku mensyukuri hidupku. Perbedaan tampilan Sherlock sebelum dan sesudah jatuh pada adiksi sungguh ekstrim. Tukang riasnya keren, tentu. Tapi wajah itu membuatku membayangkan diri jika terkena pengaruh narkoba. You know, i dont want to look that lifeless. 

Dalam beberapa (ratusan?) episode saat aku merasa sangat sedih atau tidak berguna, sangat ingin lari ke hutan atau masuk ke inti bumi, aku bersyukur aku tidak merasa cukup putus asa untuk berkenalan dengan narkoba.

Somehow i am grateful, you know. Even until now. 

You Asked: Am I Addicted to My Phone?

You check it in the bathroom. You check it at the movies. You check it when you‚Äôre having dinner with your friends. But you wouldn‚Äôt say you‚Äôre addicted‚ÄĒand most experts would agree with you. ‚ÄúOnly a small percentage of people qualify as addicted,‚ÄĚ says Dr. David Greenfield, assistant clinical professor of psychiatry at the University‚Ķ

http://time.com/4234366/phone-smartphone-addiction/

Board-like Muscles

Hamparan pasir keabuan terbentang selaksa karpet yang luas tak bertepi. Hangatnya mentari siang itu menyengat leher dan mengeringkan kerongkongan. Jam Garmin menunjukkan angka 11.40, dan telepon ketiga masih belum berbuah jemputan panitia.

***

Pagi itu kami berkumpul di rumah Pak Bambang, guru kami, untuk kemudian berangkat bersama ke selatan yang jauhnya 140 km dari rumah. Benar juga, akhir pekan yang panjang menjelang libur tahun baru China membuat jalanan padat merayap. Ditambah keinginan makan malam khas Jogja bernama Gudeg Wijilan, sampailah kami di penginapan tujuh jam sebelum pistol start ditembakkan (saat itu berharap ada pistol, jelas tidak akan ada).

Malam itu aku berbaring namun terjaga, menanti kabar dari salah satu anggota rombongan yang baru bertolak dari Semarang selepas matari¬†terbenam. Sejam sebelum alarm kami semua berbunyi, orang yang kutunggu¬†mengabari telah sampai dengan selamat, dan memutuskan berangkat bersama rombongan lain ke tempat start dan tidak mampir ke penginapan kami. Aku pulas sejam saja dan terpaksa bangun oleh ketukan Rizki di pintu kamar, “Bangun, bangun.”

Suasana garis start sangat gelap, karena subuh pun belum tiba. Lampu kepala berkilatan, warna-warni pakaian pelari berkilauan, satu dua wajah kukenal, sebagian adalah rombongan dari kotaku sendiri, sebagian lain adalah alumni SMA-ku dan seorang guruku di SMA, Ibu Ani. Sesaat sebelum start, kuputuskan berlari bersama mantan guru SMA-ku itu (mantan karena beliau sudah tidak mengajar), sampai sekuatku saja, karena rumornya beliau pelari hebat. Wanita 52 tahun ini terus berada di sebelahku sekitar 7 km pertama sejak start, menyusuri garis pantai, beradu dengan angin laut, bertolak di pasir gembur yang kadang terintrusi air laut.

Memang ada pepatah mengatakan “train hard, race easy” yang mungkin berarti¬†rajinlah berlatih agar saat perlombaan lari kamu bisa menang (atau mencapai finish, atau membuat catatan waktu yang baik) dengan mudah. Namun ternyata tidak semudah itu. Ada faktor X, Y, dan Z yang mempengaruhi the easiness of the race, despite your training and preparations. Seperti pagi itu, ketika aku memutuskan melepaskan diri dari Bu Ani¬†yang masih terus berlari dengan semangat “Ibu duluan saja deh Bu, maaf tidak ikut menemani,” dan memilih menunggu Rizki yang sedang kesakitan karena kram.¬†Seorang teman pelari melewatiku sambil berkata bahwa Rizki¬†sedang kram. Aku masih ingin berterima kasih padanya sampai tulisan ini dibuat, namun apa daya, aku lupa siapa orangnya.

Rizki¬†akhirnya muncul juga, diikuti sepasang kekasih, Putri dan Zayin, yang juga rombonganku, sehingga kami melaju berempat, belum sempat lari karena turunan curam menghadang di depan. Kramnya tampaknya sudah surut, jadi Rizki memutuskan untuk terus melaju, sampai tiba-tiba harus berhenti karena kram datang lagi. Jalan setapak turun yang¬†curam memang menuntut kontraksi otot betis dan sekitarnya, dan saat kram, semuanya akan memburuk. Saking sakitnya, kami berhenti beberapa menit dan dilewati beberapa pelari “Duluan aja Mas, Mbak, beneran gakpapa kok,” saat mereka menawari bantuan, walau aku sempat mengambil satu tube counterpain dari salah satu tawaran. Dua orang lain, Wahyu dan Yulian, memutuskan ikut berhenti sehingga kami berenam selama sejam berikutnya (beberapa menit kemudian kami sudah melaju lagi). Entah bagaimana, enam orang ini kemudian terpisah sehingga¬†tinggal aku dan Rizki, empat lainnya di depan dan belakang kami. Mungkin Wahyu dan Yulian sudah bergabung dengan teman-teman mereka.

Sejam lebih yang menyiksa, karena pemandangannya indah, udaranya sejuk, jalanannya relatif datar dan tidak curam atau licin, tapi Rizki diam seribu bahasa. Sama saja lari sendiri, pikirku. Tapi berjam-jam setelahnya kusesali pikiran itu, karena kemudian aku menyadari dia sedang berjuang mencegah kramnya kambuh sambil berkonsentrasi dengan rute lari, dan mungkin menahan sakit tanpa mengeluh satu napas pun.

Pos minum terakhir yang tidak kunjung muncul akhirnya tampak juga, dan setelahnya terasa ringan (hore, lima kilo lagi sampai finish, mungkin jam sepuluh bisa nih), namun apa yang kemudian terjadi di medan pasir itu tidak terbayangkan sama sekali.

***

Entah karena terik yang semakin lugas menyapa kulit atau kilauan pasir di bawah telapak kaki, jalan menuju finish terasa tak berujung, ditambah kesunyian tanpa kata. Dendang lagu “Memulai¬†Kembali” olehku hanya bertahan dua baris kemudian aku menyesali nada tinggi yang kuambil. Di hampir setiap turunan, aku mendahului Rizki, kemudian di akhir setiap turunan aku menengok ke belakang memastikan dia turun dengan aman, tanpa kram.

Turunan terakhir (karena setelah¬†itu aku mengambil short cut sampai finish), aku meninggalkannya jauh di¬†belakang (kok lama sih, pikirku) sampai terdengar teriakan kesakitan. Aku menoleh, dan kulihat Rizki¬†berdiri membatu dengan kedua lutut menekuk dan posisi hampir rukuk,¬†tampak sangat kesakitan,¬†“Aaaaaarrgh.” Aku berlari mendekat, teriakan bertambah keras dan bernada tinggi. Tampak jelas kakinya menegang, sehingga aku semakin cemas. Aku segera mendekat dan berlutut, mengecek otot betisnya yang ternyata sekeras papan kayu. Oh tidak, pikirku. Bagaimana ini,¬†aku harus apa, aku panik. Counterpain-ku menipis dan baru akan¬†kukeluarkan dari kantong celana.

Beruntung sekali saat itu ada beberapa pelari lain di depan kami. Satu orang berbalik arah mendekati kami dan seperti memberi komando, “Tenang Mas, tenang, kalau panik nanti tambah kram. Tenang sekarang! Rileks¬†Mas!!” Sepertinya Rizki¬†patuh dan beberapa detik kemudian betisnya lebih lunak. Oh, aku sungguh lupa detil kejadian saat itu (atau aku supresi saking ngerinya), jadi aku lupa apakah hitungan detik atau menit sampai ‘papan kayu’ itu melunak. Yang jelas aku dan bapak¬†pelari kurus baik hati itu membantu Rizki¬†untuk duduk di pasir panas demi mengurangi kontraksi tungkai.

Beberapa detik berlalu dengan sangat lambat, namun anehnya aku lupa detilnya. Aku tidak ingat apa saja yang terjadi, apa saja usaha yang kulakukan saat itu selain mengangkat tinggi tungkai¬†Rizki satu per satu dan mencoba dengan asal meniru gerakan fisioterapis saat membantu pelari dalam event lari Desember lalu. Lama sekali sampai akhirnya Putri dan Zayin¬†muncul, “Tadi yang teriak itu kamu, Kak?” tanya Putri padaku.

Beberapa menit berikutnya sungguh tak terbayangkan. Kami berempat di tengah gurun pasir (yang ternyata masih 2 km lebih menuju finish, bukan 1 km seperti kata salah seorang pelari yang saat itu tentu saja belum finish) mencoba menahan panas dan berharap kram segera reda sehingga kami bisa segera berjalan bersama menuju finish. Counterpain sudah habis, pijatan sana sini sudah dilakukan, namun keluhan belum juga mereda.

Aku sempat meraih ponselku dan kutekan nomor Mas Wardana yang aku kuduga adalah ketua panitia event lari ini, melaporkan keadaan darurat dengan lokasi yang tidak akurat, dan memastikan dia mendengar kata-kata “butuh evakuasi” yang kuucapkan. Aku melirik¬†Rizki mendengarku dan beberapa saat setelah itu dia tampak¬†menerima kenyataan bahwa dirinya harus dievakuasi. Aku mensyukuri umur bateraiku yang masih panjang sehingga aku sempat menelepon beberapa orang lain termasuk Tri, anggota rombongan, dan Mas Willy, senior di sekolah yang di start sempat menyapaku, “Aku gak ikut lari, medis aja.”

Segelintir pelari Semarang mendekat, mereka ini temanku berlatih untuk¬†event ini. Salah satunya bernama Mas Santosa¬†memutuskan tinggal, dan beberapa kali aku berkata “Makasih ya Mas,¬†for sticking with us,” yang selalu dijawabnya dengan semacam “Sudah kewajibanku.” Mas Santosa¬†ikut¬†menelepon sana sini, membantu dengan ransumnya, dan empati menyalahkan panitianya sungguh membuatku merasa lebih baik. Mas Santosa¬†juga yang bersamaku berjalan menuju finish, “Ayu,¬†we shall finish what we have started. Let’s finish this race.”¬†

Delapan puluh menit di bawah terik mentari membakar leher Zayin, menguras energi kami, mempercepat napasku sendiri, dan mungkin melenakan pikiran jernihku. Dari sekian banyak pilihan: 1. Menghentikan beberapa pelari untuk bersama mengangkat teman yang kram ke bawah pohon rindang terdekat, untuk dievakuasi, 2. Evaluasi rutin kram, jika sudah bisa berdiri dan berjalan pelan, dia bisa dibantu berjalan¬†menuju pohon rindang terdekat untuk dievakuasi, 3. Konsul via telepon ke Pak Bambang yang sangat¬†berpengalaman dalam kegawatdaruratan¬†untuk langkah selanjutnya; tidak ada satu pun yang terlintas saat itu. Hanya Tuhan Yang Tahu mengapa kami memilih percaya pada jawaban Mas Wardana di seberang sambungan telepon, “Panitia akan segera datang menjemput.”

Delapan puluh menit itu diwarnai dengan beberapa teriakan Rizki, “Aduh! Sekarang kram betisnya, betis kanan, ah!” atau beberapa tempat lain seperti paha atau telapak kaki atau perut atau diafragma atau dada. Beberapa kali keluhan Putri, “Aaak, sakit perut,” dan banyak sekali pertanyaan dari kami semua, “Ini panitia mana sih?”

Ada satu masa di mana tiba-tiba Rizki¬†tak bersuara. “Ki,¬†bangun, bangun, jangan merem, plis” kataku. “Iya, iya.” jawabnya segera¬†sambil berusaha melek. Beberapa saat yang lain dia sangat lancar berbicara, “Kakiku tolong diturunkan pelan-pelan, nah gitu, betisku tolong diurut dari proksimal ke distal,”¬†atau “Siapa itu? Oh, fotografer itu ya?” saat aku menyapa seorang dari rombongan pelari Bandung yang melewati kami. Kadang aku heran dengan kejernihan pikirannya di saat genting seperti itu. Aku saja ingin mandi air sirup dingin saat itu juga, berharap dingin dan manisnya bisa membangunkan¬†otakku. Episode-episode itu berlangsung acak dalam ingatanku saat aku menuliskannya kembali. Termasuk saat Putri menawari “Nih minum Pocari lagi, habisin,” yang dijawab Rizki, “Udah kembung Pocari,”

Di tengah teriakan kesakitannya,¬†Rizki¬†sempat berbicara tidak jelas, sepertinya memberi instruksi padaku soal letak kramnya, kemudian tiba-tiba,¬†“Aduh, aku pelo. Aku pelo!” Tanpa aku menyadari arti pelo saat itu (mungkin karena saat itu aku mau pingsan, atau aku panik, tidak yakin yang mana), aku bertanya ke semua orang (yang cuma berlima termasuk aku), “Masih ada air? Siram¬†ke wajahnya, sekarang.”

Masih belum puas, aku bertanya lagi, “Siapa punya madu? (Aku, Kak, jawab Putri) masukin ke mulutnya.”

“Lho Kak, tapi dia gak mau tadi.” jawab Putri yang dari tadi ditolak Pocarinya.

“Masukkan sekarang, anggap itu injeksi D40 tapi peroral.”

“Ini (pelo) apa,” kata Rizki sambil terus mengeja huruf r berkali-kali.

“Gakpapa, transien aja.” (atau aku mengucapkannya dalam hati? Duh, lupa.)

Beberapa menit berikutnya terasa lebih mencekam karena sempat terucap kata ‘pelo’ tadi. “Mas, airnya disiram ke wajahnya lagi,” perintahku yang sudah semakin terdengar bossy ke¬†Mas Santosa. “Kamu bangun, Ki, jangan merem, bangun, ayo mikir habis ini mau ke IGD bedah atau penyakit dalam,” tanyaku demi membuatnya tetap terjaga. “Gak kok, udah gak perlu ke IGD,” jawabnya. Putri dan Zayin¬†masih setia menaungi temannya yang kram itu dengan jaket parasutku yang disangga dengan lengan mereka, yang segera diganti dengan ponco tebal yang lebih lebar.

Di sela-sela kalimatku yang makin meracau, “Makasih ya, Putri, Zayin, sudah mau berhenti di sini, panas-panas, mungkin ini 40 derajat ya?” Mas Santosa bertanya serius mengapa Rizki bisa kram separah ini. “Mungkin kurang latihan ya,” gumamnya, yang segera kujawab, “Latihannya sempurna, Mas. Dia latihan HM (half-marathon) dengan pace 5 baik-baik aja tuh, gak ada keluhan, tapi tiap event kok gini.¬†Kemarin Jakmar juga kan, Borobudur juga.” Rizki menanggapi bahwa dirinya sempat tersesat 3 km, dan¬†bahwa dia yang bertugas menyetir. Tidak ada yang menjawab. Semua setuju, dan sudah sangat mengharapkan tim evak datang.

***

Evakuasi dilakukan setelah Rizki¬†berdiri dan dipapah menuju motor, setelah berdebat apakah harus duduk miring seperti perempuan yang memakai rok, atau duduk melangkah. “Udah nyemplo aja,” kataku, yang dijawab panitia, “Nyemplo tuh apa, Mbak?”

Sepanjang jalan aku mengomel soal¬†kepayahan panitia. Aku dan Mas Santosa¬†menolak beberapa tawaran motor panitia, “Evakuasi ya Mas, Mbak?” walau aku tidak menolak dua botol minum dingin manis dari mereka. Beberapa kali aku meminta maaf pada Mas Santosa, “Maaf ya Mas aku sepertinya dehidrasi jadi delirium, banyak omong begini.”

Sejam setelah evakuasi, Rizki¬†sudah mandi dan berpakaian rapi ketika aku akhirnya mencapai finish dengan Mas Santosa.¬†Aku sempat mengomel pada panitia di garis finish yang mencatat waktu finishku, dan sempat ingin marah ke mas Wardana, namun saat aku menyalaminya, “Kok gitu sih Mas.. Mas gak tau tadi keadaannya kayak apa..” terpaksa kuakhiri karena air mataku sudah tak terbendung dan aku harus segera berlalu. Aku malu terlihat lemah. Aku merasa cukup sopan masih menyempatkan mendengar pembelaan dirinya, “Maaf ya Mbak, pada saat yang sama di tempat-tempat lain banyak yang butuh bantuan, Mbak.”

***

Malamnya aku sampai di rumah dan kelelahan sehingga tertidur tanpa mencuci muka.

Esoknya dan sampai dua hari berikutnya aku masih meneteskan air mata mengingat kejadian otot yang menjelma sekeras papan kayu itu. Sesekali gondok melihat sebaran foto teman-teman di garis finish, menyesal memilih membuang waktu berjalan ke finish bukannya ikut dievakuasi panitia dengan motor sehingga bisa berfoto dan makan siang. Namun lebih banyak merasa lega telah memutuskan berdiri diam dilewati pelari-pelari demi menunggu Rizki yang belum tentu kesakitan (bisa saja kramnya sudah teratasi dan tidak akan kambuh, kan?), bukannya terus bersama bu Ani sampai finish, dan memilih melangkah dalam diam sepanjang jalan bersama Rizki, bukannya jengah kemudian meninggalkannya.

Demi Tuhan Yang Maha Tahu Segala, mungkin juga jika aku segera jengah karena didiamkan selama sejam saat hanya berdua itu, aku mungkin menyarankan Rizki untuk menyerah saja, sehingga kejadian mengerikan tidak perlu terjadi, sehingga dia selamat dari dehidrasi dan hipoglikemi itu.

Atau, jika aku terus berlari bersama bu Ani dan akhirnya finish lebih dulu, mungkin siapapun yang saat itu bersama Rizki mengambil keputusan yang lebih bijak dibanding aku, sehingga mungkin evakuasi dilakukan lebih dini di pos minum terakhir, atau beberapa pelari berhasil diminta untuk mengangkat Rizki ke tempat yang lebih manusiawi.

Namun Demi Tuhan, kita ini bukan orang yang berandai-andai dengan masa lalu. Semoga ada sedikit pelajaran yang dapat dipetik dari ceritaku ini. Rizki sudah sembuh, jika kalian penasaran. Sangat sehat dan sepertinya sudah bersemangat lari lagi.