Gluttony

This is beyond midnight and I want to eat haloumi cheese, tabouleh, and pilaf.

I wonder how our taste buds possess a memory too. Sometimes we miss food more than we miss people or circumstances. Or is it just me, I wonder too. Is it just a simple craving? Unknown.

The longing to eat certain types of food comes from the strong memory created while eating, I suppose? Again, my second deadliest sin (after ‘sloth’) is gluttony. In plain language, it means I eat a lot and I love to eat and maybe my source of happiness is food. So maybe for my brain, the experience of eating is always delightful. Hence this mellow post about longing for food.

It is an hour past midnight and I am lying awake, thanks to a huge dose of caffeine this morning from a famous coffeeshop called Peacock. 

Anyways, there are some food that we don’t always find at where we live. We ate it one day in the past far faraway from home, and now it is only a memory. And now we miss the food. We want to eat it but we need to either go far away, or create the dish ourselves (hopefully local markets provide the ingredients).

Haloumi cheese, I don’t know where to find here in my city, is similar to mozzarella but tastes much better and chewy and oh-so good. Tabouleh is a mediteranian salad made mostly of parsley. And pilaf is nasi campur or something like that.

I would love to recreate those food just to feed my greed. Maybe tomorrow. Or next week. We will see.
*still craving

Sejenak Mesotonik

Kadang sulit untuk menulis bukan tentang perasaanku, atau hal-hal sepele yang terjadi di sekitarku. Jadi memang sebagian besar tulisan di blog ini adalah curhat sang penulis.

Anyways.. Aku ingat kuliah tentang psikologi (entahlah jaman kapan itu, rasanya sih aku kuliah kedokteran, tapi kok ada secuil tentang psikologi ya haha), satu dari banyak sekali pembagian tipe kepribadian adalah berdasarkan bagian tubuhnya yang dominan.

Manusia itu dibagi tiga, yaitu serebrotonik, mesotonik, dan viserotonik. Yang pertama adalah orang-orang yang sangat suka dan sering berpikir, yang kedua adalah orang yang otot-ototnya aktif seperti olahragawan, dan terakhir adalah orang-orang perasa, yang hobi merasakan.

Beberapa minggu terakhir aku sedang merasa terlalu peka, sehingga mungkin aku sebenarnya tergolong viserotonik. Aku terlalu banyak menangis tanpa alasan yang jelas (sehingga jadilah tulisan “sobriety lane” itu), dan sering sedih tanpa berniat menghibur diri (kecuali makan es krim coklat, aku akan selalu mau). 

Kebetulan pula bulan ini adalah musim kompetisi lari terjauh dalam sebulan oleh ikatan alumni SMA keren tercinta itu, sehingga setidaknya aku harus bersemangat berkontribusi seperti tahun lalu. Saat berlari tentu aku berubah menjadi manusia mesotonik karena otot-otot tungkai sangat kubutuhkan, selain juga otot-otot pernapasanku.

Selama atau setelah lari itu aku sejenak melupakan air mataku dan kesedihanku. Rasanya para ototku yang penat saat dan pascalari berbisik pada organ-organ dalamku, “Berikan nyerinya pada kami, sekali ini saja biarkan kami yang menanggung deritanya.” 

Tiba-tiba saja saat itu aku lalu menyimpulkan, bahwa seorang individu terdiri atas sebagian serebrotonik, sebagiannya mesotonik, dan sisanya viserotonik. Kadar ketiganya mungkin fluktuatif dari masa ke masa, dan saat salah satunya terlalu timpang, mungkin melakukan kegiatan lain yang sangat berbeda bisa menyeimbangkannya.

Aku pun sempat terlalu sibuk mengurusi pekerjaan kantor (menurutku pekerjaanku sungguh menyenangkan, dan “aku banget,” jadi aku hampir selalu menikmatinya) saat episode sedih itu. Aku dipaksa berpikir keras dan cukup lama mengurusi sel kanker hadiah dari Profesor baik hati dari negeri jiran. Paham kan, aku sedang menjadi sangat serebrotonik ketika berpikir itu, sehingga lagi-lagi kelenjar lakrimalku tidak mendapat perhatian khusus. Singkatnya, saat itu aku tidak sesedih sebelumnya.

Aku kemudian menyimpulkan lagi, ketika terlalu sedih atau merasakan apapun yang negatif, penting juga untuk menggiatkan bagian tubuh lain. Contohnya otot-otot, dengan berolahraga (agar sejenak mesotonik), atau otak, dengan mengerjakan demanding task atau menulis proposal penelitian (agar sejenak serebrotonik). Dengan demikian, tubuh dan pribadi kita akan seimbang, dan kebahagiaan bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. 🙂

Surprisingly, The Headscarf

We were in a private room for 10 or so. We sat across the table and he stared at me briefly just to pay some respect, I guess.

For some few seconds when I finally got my chance to speak, I tried my best to impress him. I spoke as clearly as I could, of course in English because he is Russian. I told him about some recommended destinations in Java for a short visit. Later I found that nothing was possible because his flight was the day after our meeting.

That night I was startled, and it was not about what we discussed. After I finished my brief speech (few seconds) about how beautiful Indonesia is, he didn’t respond promptly. He smiled, I remember. Then a silence.  It was the first line he said to me about his impression on hijab. I couldn’t remember the detail but he said something like “I see a lot of women wearing a scarf on their head… (and then I couldn’t get it, because he spoke more to the person on his side, not me).”

At first I thought I should respond, but then I remained silent. Maybe I gave him a polite smile but I couldn’t remember. This should be my next post in my blog, I said to a friend sitting next to me.

Nothing fancy, but when people notice you for what is on your head instead of what is in your head. Whatever you say, people don’t listen and was stunned by how you look, by how weird or strangely out-of-this-world look you display (I still think he doesn’t watch TV that much or doesn’t browse the internet outside his job). Then however good you are, the strangeness will leave a strong impact and change the way they treat you.

Some would comment on this as “I am beyond pretty.” It means some beautiful girls have much more to offer than just their physical beauty, be it her intelligence or her compassion or her skill. But what happened to me that night might not be an example of “beyond pretty.” Maybe it was a kind reminder to me that not everyone is aware that there is a religion called Islam and the woman believers wear a headscarf on their head. A reminder that my kind of people is not that famous. :)))

Phase

It was seven years ago, I remember, when I started watching soccer games and chose one national team and one national club to love. Now? I don’t even know what club Ricardo Kaka (my all-time favorite soccer player, for his look, of course) plays in.

There are times when you like or love something, get so obsessed with it but then don’t care about it the next year (or even day!). That is what some people call it as a phase. There are also times when you start loving something and it somehow sticks with you for a long time. It might be forever. It might become a new habit, a new part of you, be it a good or a bad thing. So that phase might linger and stay and will then not be labeled as a phase but simply as an attribute of you.

For me it mostly involves digestible things. I developed my love for coffee since around four years ago, when I lived for a few months in “the city of a thousand cafes” and I stopped drinking sweetened ice tea since my encounter with the Japanese, who simply don’t drink sweet beverages, almost eleven years ago. Oh, I should also mention that I never liked and will probably never like papaya since I saw my cute little sister with her fork shoveling papaya in her tiny mouth 27 years ago.

So you see, I am in a phase of loving running and listening to jazz. I may do them for few more years or I may forget them next month. But last year (sure, I mean last month) I had witnessed that running is so awesome that it has to be my lifetime goal. It was when I signed myself in a medical team whose job is to take care of the runners in a national running event. Well, we should all see whether I run for the rest of my life. About the jazz music, I can’t say much. I can’t sing jazz and I can’t play jazz, I just enjoy it. You know I only sing and play lame, boring pop songs.

Off I go now.

 

 

Ingin Kurus Lagi

Indeks massa tubuh terkiniku tidak mengkhawatirkan, pun jika bertemu kawan lama, dia atau mereka akan berkomentar “Kamu kurusan” atau semacamnya, yang berarti bagus. Jadi tidak ada urgensi untuk menurunkan berat badan, sebenarnya. Namun ada hal penting yang dua tahun terakhir membuatku terobsesi: lari. Kata beberapa artikel ilmiah, berat badan berpengaruh pada kemampuan lari, baik kecepatan maupun ketahanan (endurance). Jadilah ada misi baru tahun 2016 ini, untuk ingin kurus lagi. Menurunkan berat badan, menurunkan BMI, meningkatkan massa otot, menurunkan persentase lemak, dan menuju size zero (yang terakhir ini bohong ya hahaha).

Memasuki minggu ketiga di bulan pertama tahun ini, aku berusaha disiplin sarapan muesli (campuran antara oat/ gandum, kismis, biji-bijian seperti kuaci, dan kacang almond) dengan susu, serta kopi pahit (yang ini hanya hobi sejak pernah tinggal di Melbourne). Selain itu aku mengunduh aplikasi ponsel bernama “My Plate” yang kucurigai buatan Lance Armstrong (atlet sepeda dunia yang ketahuan dopping tapi tetap keren itu, yah atau mungkin karena aku sudah baca buku biografinya) yang prinsipnya adalah jurnal makanan. Aku tidak tahu efek aplikasi  itu selain membuatku agak sedih di setiap penghujung hari ” Yah hari ini kalorinya masih lebih dari 1200 kkal.” Hahaha.

Betul, kata banyak penelitian, diet itu lebih penting daripada latihan fisik jika ingin menurunkan berat badan. Tapi sebagai pelari, aku selalu berusaha berlari. Seru juga ada alat namanya sabuk denyut jantung, yang bisa dipasang seperti memasang bra, yang sensornya ditampilkan di arloji canggih bermerk Garmin di pergelangan tanganku. Saat berlari aku jadi bisa menyesuaikan kecepatan lariku sedemikian hingga tercapai zona denyut jantung yang paling efektif dalam pengunaan energi dari lemak. Haha, ribet ya. Singkatnya, jika denyut jantung (untuk wanita usia 29 sepertiku) sekitar 125 kali/menit maka energi yang digunakan tubuhku untuk berlari diambil dari asam lemak (bukan dari gula), sehingga harapannya lemak tubuhku jadi berkurang selesai berlari. Hahaha, dengan lari rutin, maksudnya..

Tentu “lari santai sekali” demi mencapai zona denyut jantung yang membakar lemak itu sulit, jadilah aku juga menjadwalkan latihan interval. Latihan ini semacam lari ngebut sekali yang diselingi dengan jalan kaki setengah menit atau maksimal semenit untuk istirahat, lalu dilanjut lari ngebut lagi. Interval ini berat deh tapi demi kurus mungkin aku bisa semangat. Mungkin, hahaha.

Aku sudah tidak sabar mengabari pembaca semua bagaimana hasil dari pelangsingan ini. Oya, targetku adalah lingkar pinggang ** cm dan berat badan ** kg dan BMI ** dan persentase lemak kurang dari 25% dan ukuran baju zero (hahaha). See you soon!

 

 

Hujan Bulan Juli

Sore ini adalah puncak keenggananku untuk berlari. Kemarin sore aku memilih tidur siang daripada berganti pakaian dan berangkat ke jogging track. Untuk lari malam ini pun.. Rasanya sudah bosan; memilih kaos lari, deker lengan, celananya, kerudung yang match dengan kaosnya.. Mengingat terakhir memakai sepatu yang mana sehingga sekarang giliran yang mana. Ketika sudah siap, malas juga membayangkan bergumul dengan ramainya jalan Menoreh dan Kelud Raya.. 

Di saat itu aku mempertanyakan niatku untuk lari. Sedangkal inikah aku berlari; karena ingin kurus dan setelah kurus tidak menemukan motivasi lain? Aku sangat berharap ini semacam kebosanan wajar yang sesekali menyerang semua pelari.

Iya, benar, aku harus melihat sekitar dan bersyukur dengan kesehatan dan usiaku, keutuhan ekstrimitasku dan waktu luangku, sehingga tidak ada keluhan “bosan lari.” Aku seharusnya malu jika sampai mengeluh apalagi mengeluh bosan.

Malam ini sampai juga aku ke Balaikota, bergabung dengan teman-teman untuk lari malam rutin. Tidak ada yang spesial. Hanya tepat di median rute hujan rintik-rintik menyapa wajah dan lenganku, dan disusul dengan hujan deras tanpa angin kencang.

Di bawah hujan itu, kami semua memutuskan lari, toh sudah lewat 3 km dan tinggal 2 km lagi yang bisa diselesaikan dalam 12-14 menit. Sudah terlanjur basah oleh gerimis juga. Kemudian di depanku tampak para pelari bergerombol yang ternyata sedang mengerumuni seorang wanita yang duduk kesakitan.

Singkat cerita ada pengendara motor yang terjatuh dan terluka, lalu seorang teman pelari menemukannya dan membantunya. Aku sempat menemani beberapa menit untuk memastikan diagnosisnya hanya vulnus eskoriatum tanpa sprain maupun fraktur. Aku melihatnya pergi diantar teman lari yang baik hati tadi dipayungi hujan yang makin deras.

Aku melanjutkan lari, kali ini sendiri (sejak start aku bersama si ini atau si itu) karena sebagian besar sudah menuju finish dan aku berhenti cukup lama. 

Dalam lari itu aku merasa heroik, menginjak trotoar berkubangan, kerudung semakin jenuh air dan sepatu semakin berat juga. Hati sudah tidak was-was karena hape sudah dititip ke mas-mas baik hati yang membawa ransel dan jas hujan. Petrichor menguar khas sepanjang jalan, bau yang disebut oleh  banyak seniman sebagai bau tanah basah. Kaki sudah asal menginjak trotoar, tidak apa jika terjeblos genangan air. “Hati-hati mbak, licin” kata seorang yang kulewati.

Dalam lari itu aku menyadari kalimat favoritku (dan sebagian besar orang, pasti) I love the rain for it disguises my tears (atau kalimat serupa dan aku malas memikirkannya).

Dalam lari itu juga terlintas memori masa asrama dulu, mungkin saat hulubalang di kelas 2 SMA, atau mungkin saat pembaretan di kelas 1. Mungkin malam tadi aku masih sedikit lapar dan kedinginan oleh hujan, tapi aku memaksa lari sehingga kelelahan itu memicu siaran ulang memori masa SMA. Mungkin pegalaman yang paling mirip dengan lari di bawah hujan tadi memang saat pembaretan; bersepatu bot dengan baju PDL hijau melintasi sawah berlumpur tebal. Di atas kepala terik matahari Magelang menyengat namun kaki berkubang lumpur terasa dingin dan penat. Melelahkan sekaligus mengharukan. Aku tidak yakin apa yang mengharukan. Mungkin karena lelah yang sangat itu membuatku ingin menangis (tapi kutahan karena malu) sehingga aku mengira aku terharu. 

Heran juga mengapa tidak ada sedikitpun masa koas yang kulewati di bawah hujan, yang bisa kuingat.

Hujan Bulan Juli. Tidak satu pun kudengar orang yang mengeluh tentangnya. Dia anugrah dari Tuhan untuk penghuni bumi; para petani, pelari, dan bahkan para pemilik hati yang senang air matanya ditemani untuk patuh pada gravitasi.

Keterangan foto: aku yang sudah sedikit kurus, saat pemanasan sebelum lari malam rutin bersama Semarang Runners.

Oya, untung aku memaksa lari malam ini, karena aku mendapat doorprize sepasang sarung tangan superhangat untuk naik gunung (atau ber-winter di negeri jauh). Alhamdulillah.

Rajinlah Menulis, Nak

Kadang kata-kata berlompatan di benak, kalimat-kalimat terangkai dengan sangat cepat di pikiran saat diri ini bengong, atau saat sedang melakukan suatu aktivitas. Mungkin saya dan sebagian orang saja di dunia yang begini, tapi mungkin juga sebagian besar manusia. Mungkin ini genetik dari nenek dari ibu saya, yang jago bahasa Belanda (karena tuntutan zaman), yang guru SMP, yang penulis lagu, yang tulisannya banyak dan bagus semua (atau ini penilaian subjektif saja). Jika semua kata dan kalimat yang sempat muncul di otak bisa diuraikan dengan sabar di atas kertas atau di dalam ponsel atau di microsoft word di laptop pasti bisa lebih bermanfaat. Yah, mungkin tidak semuanya bermanfaat. Mungkin sebagian self-talk atau ide aneh atau pertanyaan-pertanyaan wagu itu sebaiknya dibuang ke tempat sampah, tapi ada saja yang penting atau baru atau keren sekali. Dari ratusan judul di blog ini, misalnya, masa tidak ada satu pun yang membuat pembacanya “naaaah” atau seruan tergugah lainnya? Ide mengalir deras terutama saat di dalam kendaraan menatap jalanan, menatap manusia, melihat langit… Ide pamit permisi ketika komputer sudah menyala manis di pangkuan. Sampai pernah terpikir untuk selalu mengetikkan ide di ponsel kapanpun terlintas, tapi itu terlaksana hanya sekali dua. Ide itu selalu keren asal diungkapkan agar terdengar oleh orang lain, dan ditindaklanjuti dengan aksi. Demikian tulisan singkat saya. Silakan terus menulis siapapun kamu yang membaca tulisan ini. Karena saat kita mati tidak akan ada yang mengingat kita kecuali dengan warisan kita, baik benda maupun ide (yang harus ditulis dan dipajang di internet, atau dicetak jadi buku) maupun ajaran yang baik. Hidup itu jauh lebih singkat daripada yang kita duga (mungkin astronot sudah menduganya).

Mencari Penjahit Favorit

Sejak kecil aku sering ke penjahit. Entah itu untuk menjahitkan kain seragam lebaran keluarga besar dari pihak ibu (oh iya, setiap tahun tema kostumnya berbeda. Tahun ini kain batik coklat, tahun berikutnya kain batik ungu), atau seragam keluarga yang akan menikah, atau celana olah raga di sekolah menengah dulu (sekolah membagikan kain, kita disuruh menjahitkan sendiri). Akhir-akhir ini pun aku harus menjahitkan kain batik seragam fakultasku untuk seragam hari kamis dan jumat.

Seringkali pemberi layanan jasa menjahit adalah bapak-bapak atau ibu-ibu yang membuka kios seadanya di pinggir jalan, dengan stiker di kaca depannya “TAILOR” atau “MODISTE” dengan nama masing-masing, seperti misalnya DANA TAILOR atau ANAS TAILOR. Ada juga yang namanya butik, yaitu toko yang menjual baju satu model untuk satu buah baju saja, yang artinya eksklusif, tidak ada duanya. Kadang harganya mahal, jauh di atas harga ritel di toko yang bajunya satu model untuk seribu potong, tapi tergantung juga pada pemiliknya. Ada seorang temanku, yang hobi merancang baju gamis muslimah, dia membeli kain, menjahitkannya dengan model yang dia rancang, kemudian menjualnya di butik miliknya sendiri dengan harga murah (ada sepotong gamis di lemariku dari butiknya, murah dan bagus). Ada cara dengan menggunakan jasa perancang baju (fashion designer) yaitu meminta seseorang untuk merancangkan baju untuknya dan membuatkannya sesuai ukuran. Dijamin mahal dan tidak ada duanya. Yang terakhir ini mungkin tidak terjangkau bagi kocek rakyat jelata sepertiku, kecuali baju untuk acara spesial seumur hidup yaitu pernikahan (tapi bagiku masih terlalu mahal, nanti menyewa saja).

Bagi pelanggan penjahit pinggir jalan sepertiku, ada risiko yang harus diambil dalam mempercayai pemberi layanan jasa menjahit ini. Ada kontrak yang berdasarkan kepercayaan, ditambah nego harga, ditambah kesabaran dalam menanti hasil jika penjahitnya ada masalah dalam memenuhi tenggat waktu, atau masalah dalam memenuhi keinginan kita tentang model atau ukuran. Yang terakhir ini penting sekali, kalau kehilangan kesabaran dengan seorang penjahit maka kita akan kapok ke sana dan memulai pencarian penjahit yang cocok, bisa dipercaya, murah, dan sejumlah syarat lainnya.

Pernah aku menggunakan jasa penjahit langganan sejak kecil sampai kira-kira aku kuliah. Bahkan aku sampai merekomendasikan ke teman-temanku saat mereka mulai memakai jilbab dan ingin menjahitkan beberapa gamis. Penjahit ini adalah sepasang suami istri muda yang membuka lapak di rumah sendiri. Suatu ketika aku merasa kecewa akan hasilnya yang tidak sesuai deskripsiku dan gambar model baju yang kubuat. Aku pernah juga mendapat rekomendasi penjahit baju pesta yang letaknya agak jauh dari rumahku. Saat aku ke sana untuk menjahitkan kain untuk seragam walimah sepupuku, sang penjahit bertindak patriarkis dalam diskusi tentang  model baju yang kumau. “Ya jelek lah mbak kalau seperti itu. Mendingan begini… Mendingan begini…” dan aku merasa gondok. “Ini kan baju yang akan kupakai, kenapa kamu komentar tentang modelnya yang menurutmu jelek. Kalau jelek kan risikoku sendiri. Kalau aku akhirnya ikut saranmu dan ternyata jelek, apakah kamu mau tanggung jawab?”  Aku menggerutu dalam hati sebelum akhirnya menyetujui semua sarannya. Saat gaun itu jadi, benarlah aku kecewa karena ‘jatuhnya’ di tubuhku tidak sebaik harapanku, dan aku menyalahkan sarannya yang menyesatkan. Sejak saat itu aku kapok menggunakan penjahit itu.

Aku pernah ikut ibuku menggunakan penjahit langganan ibuku untuk membuat rok. Iya, mahasiswi kedokteran kampusku wajib memakai rok (dari beberapa puluh fakultas kedokteran di Indonesia, yang masih mewajibkan rok untuk mahasiswinya mungkin kurang dari sepuluh). Namun hasilnya aneh, modelnya agak tidak bisa kuterima. Waktu itu kainnya memang bagus, jadi walau modelnya agak membuatku kecewa, tetap kupakai (kotak-kotak warna coklat, dan sempat disangka seorang teman dari Belanda bahwa ini kain khas Indonesia, hehe). Lagi-lagi aku batal menobatkan penjahit itu sebagai penjahit langganan.

Tiga kisah di atas hanya sebagian dari kumpulan kisahku dengan para penjahit. Ada penjahit yang salah mengukur kain sehingga baju yang dibuatnya terlalu kecil untukku. Terlalu sempit. Lupa menambahkan kain furing. Salah mengira tentang tanggal tenggatnya. Lupa menambahkan kantong di rok, dan lain-lain.

Tuntutan yang tinggi dariku mungkin belum akan selesai. Mungkin untuk menghentikan “sebal dengan penjahit ini, dan memutuskan untuk kecewa dan tidak akan menjahitkan ke situ lagi” dan mulai “mencari penjahit lain lagi dan berharap kali ini beres” adalah dengan membayar perancang baju yang mahal dan profesional, yang minimal bergelar sarjana jurusan fashion design. Ada kemungkinan juga semua ini ternyata salahku dalam mengkomunikasikan kebutuhanku. Aku butuh selesai tanggal segini, aku butuh model yang seperti ini (harus dengan gambar, jika perlu gambar tiga dimensi), dan aku harus menyaksikan sendiri si penjahit menulis semua detil yang kumau. Beberapa kasus yang kualami adalah aku kurang ‘memaksa’ penjahitnya untuk menuliskan semua kebutuhanku di buku catatannya. Aku sering menyerah pada “iya mbak, inget kok”. Aku pikir, ternyata penjahit itu mungkin seperti dokter, harus mengingat prinsip “tulis yang dilakukan dan lakukan yang ditulis” untuk menghindari dituntut oleh pasien/pelanggan.

Atau tentu saja aku sebaiknya sabar dan menyadari bahwa para penjahit di pinggir jalan itu hanya orang-orang yang sabar mencari rejeki Tuhan dengan halal, dengan kemampuan seadanya dan sikap terbaik yang bisa mereka tampilkan pada para pelanggannya. Mungkin aku harusnya tidak menuntut banyak karena baju hanyalah baju, bukan definisi pribadi seseorang. Orang yang cantik dan langsing ya akan tetap seperti itu walaupun bajunya jelek atau tidak sesuai keinginannya. Toh yang merasa tidak bagus kan diri sendiri, sementara orang lain mungkin bilang “aih bajunya bagus.” Lagi pula ada yang namanya “meminta tolong si penjahit untuk memperbaiki baju hasilnya sampai sesuai keinginan,” atau “mengkoreksi ukuran sampai pas” atau “memaafkan dan berharap kesalahan yang ini tidak terulang.” Yang terakhir mungkin sulit, karena reaksi emosi sesaat lebih mengarah pada “ah cari yang lain saja” daripada memutuskan bahwa kesalahan manusiawi ini tidak akan terulang.

Dari para penjahit ini aku semakin tahu betapa tidak sabarnya diriku, betapa seringnya aku menuntut orang lain untuk memenuhi keinginanku. Mungkin juga semua itu masih dapat ditoleransi asal aku cukup artikulatif menyampaikan maksudku. Aku harus memastikan efektivitas dan efisiensi komunikasiku untuk mencapai keinginanku.

Sekali lagi, apa yang bisa kuharapkan dari jasa seorang yang tidak profesional, yang tidak belajar ekspertisinya dari bangku formal, dan yang tidak menghargai kontrak kepercayaan setinggi para profesional? Untuk menghindari rasa kecewa sebaiknya aku mulai mempertimbangkan untuk menyewa jasa perancang baju. Bukan penjahit pinggir jalan. Bagaimana jika aku mengeluhkan harga perancang yang mahal? Maka aku harus mulai realistis dengan menerima segala kekurangan para penjahit non profesional itu. Belajar menjahit baju sendiri? Mungkin suatu saat, tidak dalam waktu dekat.

How Long

How many more years does it take for you to realize that those people are seriously looking after you?

How many more heartbreaks will you cause to find out that you actually break your own heart many times?

How many more cakes do you need to bake to understand that the distraction from your reality doesn’t solve your problems?

How many more fake smiles are you gonna put to disguise your true confusion?

How many more prostrations will you waste without mindful wishes before you run out of your time in this world?

How many more helping hands will you reject to reach out for help?

How many more sleepless nights will you endure to finally get up and deal with the mess you made?

How long will this last???

Akhir Kisah si Gadis Maskulin

Belum bosan membahas tentang jodoh dan pernikahan. Pastilah dulu aku adalah anak kecil yang bercita-cita menjadi seorang pengantin cantik. Selain itu, ada saatnya di mana aku menuliskan pemikiran dan suara hatiku dalam buku harian yang rahasia itu. Ada pula saat di mana aku harus menuliskannya agar dibaca dunia; siapa tahu ada yang butuh diingatkan bahwa dia tidak sendirian. Aku di masa depan pun, sepertinya akan belajar banyak dari tulisan ini, setidaknya menertawakan kebodohanku sendiri. Tulisan-tulisan lain dengan tema serupa dapat dibaca di sini, sini, sini, dan sini, selain tulisan lainnya yang dapat ditelusuri dari tag ‘cinta’ di bagian terbawah halaman ini.

Flowers blossom at different times. Maybe mine does later than the others..
Flowers blossom at different times. Maybe mine does later than others..

Dalam 26 tahun lebih hidupku, aku dipertemukan dengan beberapa teman pria, yang berakhir sebagai sahabat maupun teman sekedar ‘hai’ alias saling menyapa tanpa kalimat basa-basi lebih jauh. Beberapa waktu lalu aku menyalahartikan persahabatanku dengan seorang teman pria, dan malah memimpikan kehidupan sebagai istrinya. Kisah itu berakhir ketika aku memastikan bahwa semua itu mimpi. Hingga saat ini aku mengutuki diriku yang kehilangan salah satu sahabat terbaikku itu demi melayani kemarahanku dan rasa dendamku padanya yang membiarkanku bermimpi, yang tega tidak membangunkanku ke dunia nyata. Kadang memang rasa dendam sering dibungkus dengan kertas kado rapi bernama sakit hati. Demi mengasihani diri sendiri yang merasa disakiti, seseorang rela mempertahankan rasa dendamnya, rela melewatkan praktek memaafkan tanpa syarat.

Di suatu hari yang lain dalam perjalananku mengarungi jiwaku sendiri, jalanku terhenti oleh sebilah cermin yang sangat besar. Di situ aku melihat diriku sendiri yang merasa tidak aman dengan diri sendiri, yang mengelak atas pernyataan-pernyataan positif yang menghampiri. Uniknya cermin penghalang jalan ini bisa menghilang menjadi kehampaan ketika bayangan di dalamnya disukai oleh pengamatnya. Entah berapa lama aku termangu di situ menatap cermin besar yang memantulkan bayanganku sendiri, sampai akhirnya si cermin sirna, dan aku bisa lanjut berjalan. Mungkin saat itu aku sedikit tersenyum pada bayanganku sendiri dan tampak berusaha memakluminya. Entahlah.

Ada satu fragmen kecil dalam linimassa hidupku ketika aku berdoa siang malam minta dipertemukan dengan pria yang beriman, dan ketika Tuhan Mengirimnya untukku, aku justru sibuk menilainya dan akhirnya menolaknya. Belum ada pembenaran atas penolakanku selain bahwa hatiku saat itu tidak bisa dipaksa. Aku memutuskan untuk memperbaiki diri sendirian dan menanti kiriman berikutnya, daripada mengambil risiko tumbuh bersama orang soleh tersebut. Beberapa waktu kemudian, yaitu saat ini, aku masih seperti dulu, yang tidak kunjung kuat imannya, tidak cantik sabarnya, tidak banyak syukurnya.

Kejadian membaca artikel tentang jodoh dari segi agama di sini menjadi bagian penting dalam perjalananku walau kegiatan itu hanya memakan waktu beberapa menit. Pencarian jodoh, keputusan menikah dan hidup bersama sepanjang sisa usia adalah satu dari sekian banyak perkara dunia yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Kejadian apapun di jagad raya ini, bahkan daun yang jatuh karena tertiup angin terjadi atas kehendak-Nya, tentu saja, namun kita selalu bisa memilih jodoh kita. Artikel itu juga membuatku berhenti menyesali penolakan tak berdasar beberapa waktu lalu itu.

Jauh sebelum pertemuanku dengan cermin penghalang jalan itu, ada ide tentang dominasi energi maskulin dalam diriku yang menjauhkanku dari menjalin hubungan romantis dengan pria. Ide itu disampaikan oleh satu atau dua sahabatku saat itu. Belum selesai aku mencerna ide betapa maskulinnya aku ketika beberapa orang yang baru mengenalku selama beberapa hari sudah meminta izin padaku untuk menempelkan label maskulin di dahiku. Saat itu aku cuma meyakinkan diri bahwa tidak ada yang perlu diubah dalam sikapku hanya demi mengumpulkan fans.

Pertanyaanku adalah, haruskah energi maskulin dilemahkan, dan energi feminin dikuatkan, agar akhirnya ada pria soleh yang terpesona kemudian meminangku? Haruskah semua wanita melewati fase memperkuat energi feminin dalam hidupnya sebelum akhirnya menikah? Inikah yang dimaksud dengan jodoh adalah perkara muamalah, yang hanya bisa terjadi dengan perbaikan cara bergaul? Jika jawaban untuk ketiga pertanyaan itu adalah ‘iya’ maka aku sedang berada di jalan yang benar, di mana aku merasa saat ini energi femininku jauh lebih kuat.

Ciri energi maskulin adalah berorientasi target, termotivasi oleh tujuan, kompetitif, logis, dan ciri lainnya, sementara energi feminin berkisar antara menjadi peka, berekspresi diri, mencintai sesuatu, merawat, dan hal-hal berbasis perasaan lainnya. Dalam sejarah panjang peradaban manusia, pencarian jodoh selalu dikaitkan dengan usaha untuk melestarikan spesies manusia, dan gen-gen yang baik terwakili oleh tampilan fisik tertentu. Ketertarikan kita pada kegantengan/ kecantikan orang, suaranya yang indah, dan bentuk tubuhnya, adalah sifat alami sebagai manusia yang tanpa sadar menyeleksi calon pasangan sebagai kontributor kromosom untuk keturunan kita. Selain itu, kapabilitas reproduksi calon pasangan akan terwakili oleh energi maskulin atau feminin yang ditampilkannya. Dengan kata lain, wanita feminin akan lebih mudah terpilih karena ada jaminan yang tersirat bahwa dirinya subur? Haha, mungkin..

Ketika akhir-akhir ini aku kesulitan menjawab tujuan hidupku setiap ditanya orang, aku merasa aku sedang menguarkan energi feminin. Tentu saja pertanyaan itu dimaksudkan untuk menanyakan target-target karir, sedangkan jawaban sederhana dalam hatiku untuk pertanyaan itu adalah menjadi istri dan ibu yang baik, yang sama sekali bukan karir. Dari sini aku sangat yakin aku sedang menjadi gadis feminin. Aku akan dengan lancar membahas tentang hobiku membaca, membuat kue, dan hal-hal lain, daripada membicarakan tentang rencana sekolah lagi. Seharusnya aku bangga dengan perubahan pada diriku, yang mungkin sudah terjadi bertahun lalu pada teman-temanku yang saat ini sudah beranak dua.

Aku tidak bangga dengan kegagalanku menjawab pertanyaan tentang karir, namun aku sedang mensyukuri perubahan dari label maskulin di dahiku menjadi sedikit lebih feminin. Namun saat ini aku sangat butuh energi maskulin untuk menyelesaikan thesisku dan lulus sekolah masterku ini. Dengan demikian keseimbangan energi maskulin dan feminin harus ada dalam setiap individu, terlepas dari gendernya, jika tidak ingin sekolahnya keteteran sepertiku.

Pelajaran yang kudapat dari terhentinya perjalananku oleh cermin besar adalah bahwa aku semakin mengenal diriku yang kurang merasa aman. Dari pertemuanku dengan mantan sahabat priaku aku belajar memaafkan. Dari penolakanku atas pria soleh membuatku merendahkan hati dan ingin memperbaiki diri. Dari pelabelan maskulin di dahiku oleh teman-temanku, aku mulai mempertimbangkan untuk melembutkan diri.

Seperti tulisan-tulisanku tentang cinta, jodoh, atau pernikahan sebelumnya di blog ini yang dipicu oleh suatu kejadian, pengalaman terbaruku dengan seorang kenalan pria membuatku ingin menulis ini. Singkat cerita, aku sudah bersikap cukup feminin sebelum akhirnya aku bertindak sangat maskulin dengan bersikap agresif mendekatinya. Akhir ceritanya mudah ditebak, yaitu kemungkinan kami berpasangan mendekati nol. Belum nol, karena mungkin aku punya kualitas-kualitas yang dia cari terlepas dari kuatnya energi maskulinku yang mungkin cukup mengganggu. Namun yang pasti, kejadian ini menyiratkan pelajaran bahwa menjadi gadis maskulin bukanlah cara efektif untuk mendekatkan diri pada jodoh. Setidaknya demikian pengamatanku.