Sharing is Caring

Sharing is caring adalah kalimat yang sering digunakan nenek dari ibuku. Beliau sudah meninggal tujuh tahun lalu oleh kanker yang kami tidak tahu apa. Saat ini, Ramadhan 2018, aku baru paham arti sebenarnya. Berbagi berarti peduli. Berarti juga sayang. Nenekku memang suka memberi, tapi kuduga sebagian besar orang juga begitu kan?

 

Suatu hari aku memutuskan untuk mendaftarkan diri di acara lari untuk galang dana. Konsep run for charity sudah ngetop di dunia beberapa tahun terakhir. Namun ada satu orang yang begitu menginspirasi hingga aku akhirnya iri “dia tampak bahagia banget sih melakukan itu, aku juga mau.”

Saat aku menulis ini, pengumuman bahwa aku lolos sebagai salah satu peserta lari itu sudah dua bulan lalu. Laman khusus tiap pelari untuk donasi sudah rilis hampir dua minggu yang lalu. Setiap hari sejak dibukanya laman khusus kami, aku memikirkannya. Memikirkan semua tentang galang dana ini. Semacam obsesi.

Hari-H masih sembilan puluh hari lagi. Dua hal yang mendebarkan bagiku: berlari sejauh 40 km dengan “tepukan” di pundak dari para donatur: “semangat ya,” dan apa lagi yang sebaiknya aku lakukan untuk galang dana hingga tenggat waktu tiba.

Sebagai orang yang terlalu sering kepikiran (aku menolak menyebut diriku suka sengaja memikirkan, hahaha), acara galang dana ini agak menyita waktuku. Seminggu saja sudah membuatku hampir kehabisan energi. Masih ada tiga bulan lagi.

Setelah menyadari aku menyita waktuku sendiri, aku terdistraksi dengan keadaan kamarku yang tidak pernah rapi itu. Lalu teringat satu lagi orang baik yang membagikan barang-barangnya ke orang lain. Tadinya untuk alasan kepentingannya sendiri: mengosongkan rumahnya. Tapi ternyata menyenangkan para penerima barangnya kan. Konsep ini biasanya dipakai oleh orang-orang yang tinggal di luar negeri lalu harus kembali ke negara asalnya. Jadi selain menjual tempat tinggalnya, mereka mengosongkan dulu isi rumahnya dengan mengumumkan ke siapa saja namun biasanya ke sesama perantau dari negaranya.

“Ambil aja barangnya ke rumah.”

“Eh, serius kak? Gratis? Gak pa pa, nih?”

“Iya serius. Aku akan segera balik Indo.”

Begitulah salah satu kutipan kisah nyata. Ada orang baik yang ingin berbagi namun ada juga orang-orang yang merasa asing dengan kebaikan ini sehingga tampak skeptis. “Ah, masa sih gratis?” Perasaan skeptis ini sangat mungkin adalah suatu kewaspadaan saja, dan itu baik juga. Namun seharusnya setelah mengetahui alasan “aku harus pulang ke Indo, jual barang kelamaan, aku bagi-bagi aja,” para calon penerima barang langsung paham dan berterima kasih karena mendapat kebaikan, kan?

Ada alasan lain selain “mengurangi barang” sih, sebenarnya. Menurut beberapa buku yang terbit beberapa tahun terakhir ini yang muncul di hasil pencarian di Playbook untuk kata kunci “minimalism,” kita tidak seharusnya punya ikatan yang kuat dengan benda mati. Kita juga sebaiknya mensyukuri keberadaan barang-barang kita (sehingga rela berpisah jika habis waktunya). “Thank your for helping me, now i let you go.”

Ya ampun makin gak jelas kan tulisanku ini. Memandangi isi kamarku dengan otak yang sudah membaca buku Konmari dan beberapa lembar buku tentang minimalisme, aku memutuskan mengumpulkan sebagian besar buku yang kupunya di rumahku. Aku mencoba mensortir menurut Konmari (silakan googling ya, siapa atau apa itu), lalu gagal berkali-kali. Ternyata minimalisme itu berat diraih. Ternyata aku punya obsesi dengan benda-benda (atau hanya buku?).

Aku yakin banyak pembaca tulisan ini setuju bahwa “buku adalah harta” dan “perpustakaan pribadi adalah salah satu life goal ku.” Namun menurut para penulis buku tentang minimalisme, dua kalimat itu hanyalah excuse belaka. Bahagia adalah merelakan benda sekalipun itu sumber ilmu.

Masih dalam semangat mencari donasi untuk yayasan bidang pendidikan anak, ditambah kamarku yang penuh sesak, aku memutuskan meniru para orang baik di atas: membagikan bukuku. Iya, nilai riilnya lebih dari sejuta. Namun tidakkah kita bersyukur jutaan itu sudah membahagiakan kita, sudah menjadikan kita lebih berilmu, atau lebih skeptis atau gila?

Masih saja ada yang bertanya “Serius gratis?” Tidak hanya satu atau dua orang. Lalu aku paham bagaimana para filantropis itu menjelaskan “aku yang butuh untuk ngasih, please.” Dan paham kata eyang utiku tadi, “Sharing is caring.”

Oh, dan merasa penyebab kebingungan beberapa orang dengan konsep berbagi ini adalah jaman makin edan, materialisme masih menjadi “agama” favorit.

Huft. Intinya aku nulis apa ya, hahaha. Berbagi itu sungguh sebenarnya untuk diri sendiri. Pemberi merasa lebih bahagia dibanding yang diberi. Menurut agama pun, sedekah sejatinya adalah untuk kepentingan diri sendiri. Teduh di surga nanti, atau agar disayang Tuhan.

Jadi, begitulah. Semoga Ramadhan ini menjadikan kita lebih bertakwa. Oh, baca lebih lanjut tentang run for charity ku di runtocare.com/ayu, baca kampanyenya, lalu donasi recehmu ke situ ya. I love you ❤

 

Advertisements

Jakarta hujan

Blog ini juga kuputuskan menjadi tempat aku mencatat race recap alias kisah aku berlari.

Baru bulan lalu kuputuskan untuk ikut serta dalam Jakarta Marathon 2016. Kami tiba di Jakarta dengan kereta Sabtu subuh, setelah drama aku ketinggalan kereta yang tidak ingin kubahas sama sekali. Rombongan kami adalah aku dan beberapa mahasiswa penggila lari, dan Pak Erie, guruku yang gila lari juga. Beliau pernah jadi tokoh juga dalam kisahku yang tentang kram itu (haha gak jelas ya).

Beberapa minggu sebelum Jakmar memang beredar ramalan cuaca bahwa hari-H akan hujan lebat. Tentu saja BMKG benar, kami berlari dalam hujan! Kesannya? Dingin, tidak ada risiko heat-stroke atau dehidrasi. Namun sayangnya baju dan dalaman jadi menempel ke kulit dan menimbulkan lecet di sana sini yang wadaw banget.

Kami tiba di garis start tepat waktu tapi aku butuh ke toilet. Kami putuskan start dulu dan ke WC manapun yang kutemukan di km 2 atau 3. Di km 10 perut kananku nyeri. Oh side stitch (sudukan) nih, kupikir. Tapi nyeri sepertinya sedikit di bawah, jadi mungkin ini nyeri dinding depan perut yang memang sudah ada hernia insisionalis (dinding perut tidak menutup sempurna akibat dokter bedahnya tidak menjahit full waktu aku operasi pengangkatan usus buntu di umur tujuh). Sejauh 3 km aku berlari sangat lambat dan mengatur napas (untungnya rajin yoga), ditemani teman kecilku bernama Lucky (ig: lukriboo). Setelah lepas dari nyeri kram perut itu (alhamdulillah, hilang sama sekali sampai finish!), giliran Lucky yang nyeri telapak kakinya. Selain itu, kami menikmati lari kami yang pace 7:30 sampai 8:30. Di km 22 kami baru menemukan pak Guru dan 2 mahasiswa yang memang janji mengawal bapak sampai finish. 

Sejak km 24 aku kelaparan. Ingin berhenti saja dan makan ke warung. Kepala pening, kupikir oh mungkin hipoglikemi. Maka aku mengambil semua buah yang mungkin kuambil (jeruk baby, jeruk biasa, apel, semangka dan semangka lagi) beberapa km sekali  demi menyetor gula ke darahku. Oh Jakmar kategori Full Marathon memang surga buah, aku bahagia (karena buahnya sudah dipotong, siap makan, haha).

Sejak km 22 itu pula aku dan Lucky jadi mengikuti ritme pak Guru yang jalan-lari. Ya, betul, masih ada 20 km dan kami menyelesaikan sampai finish dengan jalan kemudian lari kemudian jalan lagi. Sepanjang jalan kami mengobrol, atau mengeluh, atau aku ribut “kalau jalan terus kayak gini kita finishnya COT (cut-out time alias batas akhir finish yang berhak mendapat medali) lho,” dan kalimat serupa.

Beberapa komunitas yang menggelar lapak gratis seperti buah, bahkan arem-arem dan klepon, sungguh membahagiakan. Belum lagi tulisan-tulisan penyemangat semacam “Lari woi, ini bukan gerak jalan.” Atau “Mbahku barusan lewat.” Dan teriakan mereka “Ayo mbak, semangat, 1 km lagi.” (Kujawab, ah masih 2 mas, jangan php hahaha).

Yang kuingat adalah hujan dan obrolan segala macam. Beberapa artis kulihat (peserta lari atau tim support di sisi jalan), dan pelari kawak juga. Beberapa km sekali aku sibuk bersyukur bisa berada di jalanan dan berlari. 

Di km 37 satu mahasiwa nyeletuk bahwa inilah titik jarak di mana marathoner merenungkan hidupnya. Mungkin dia benar, karena beberapa km sebelumnya (lah, jadi bagiku mungkin km 35?) aku masih saja teringat dengan kisah cintaku yang terlalu prematur untuk kandas. Hahaha anyways, kami kemudian mendiskusikan tentang kenapa kami lari (sambil lari, emang edan kabeh). Tungkai bawahku sudah terasa sakit sejak km 17 tapi aku tidak mengeluh, hanya beberapa kali stretching betis dengan anehnya (semacam lunges haha, but it worked).

Begitulah, rasanya 6 jam 20 menit untuk jarak 42,2 km itu lama sekali. Every kilometer seems so far away hahaha. Tapi akhirnya kami finish juga. Tinggal bertiga (dengan pak guru), yang dua orang termasuk Lucky sudah finish. Kami mengatur langkah dan lari bersama beberapa meter dari garis finish demi mencitrakan diri hehe.


Di Monas itu hujan deras jadi kami berfoto dalam hujan, menyapa beberapa orang, dan terpincang-pincang mencari taksi. Di hotel kami mengantri mandi sambil tertawa renyah menikmati kebersamaan (sepuluh orang di kamar itu, kamar yang late check-out untuk kami mandi). Memang ada satu pelawak dan satu objek bully dalam rombongan ini. 

Di Gambir kami makan sangat banyak (tentu saja ditraktir pak guru yang baik hati) kemudian mapan di kereta. Semua orang tertidur pulas kecuali aku yang sibuk membuat tulisan ini.

 I once said that I’d never run a marathon because it is not physiological. But here I am a proud marathoner. I then think that pain is indeed inevitable but suffering is optional. And I choose to endure.

Sejenak Mesotonik

Kadang sulit untuk menulis bukan tentang perasaanku, atau hal-hal sepele yang terjadi di sekitarku. Jadi memang sebagian besar tulisan di blog ini adalah curhat sang penulis.

Anyways.. Aku ingat kuliah tentang psikologi (entahlah jaman kapan itu, rasanya sih aku kuliah kedokteran, tapi kok ada secuil tentang psikologi ya haha), satu dari banyak sekali pembagian tipe kepribadian adalah berdasarkan bagian tubuhnya yang dominan.

Manusia itu dibagi tiga, yaitu serebrotonik, mesotonik, dan viserotonik. Yang pertama adalah orang-orang yang sangat suka dan sering berpikir, yang kedua adalah orang yang otot-ototnya aktif seperti olahragawan, dan terakhir adalah orang-orang perasa, yang hobi merasakan.

Beberapa minggu terakhir aku sedang merasa terlalu peka, sehingga mungkin aku sebenarnya tergolong viserotonik. Aku terlalu banyak menangis tanpa alasan yang jelas (sehingga jadilah tulisan “sobriety lane” itu), dan sering sedih tanpa berniat menghibur diri (kecuali makan es krim coklat, aku akan selalu mau). 

Kebetulan pula bulan ini adalah musim kompetisi lari terjauh dalam sebulan oleh ikatan alumni SMA keren tercinta itu, sehingga setidaknya aku harus bersemangat berkontribusi seperti tahun lalu. Saat berlari tentu aku berubah menjadi manusia mesotonik karena otot-otot tungkai sangat kubutuhkan, selain juga otot-otot pernapasanku.

Selama atau setelah lari itu aku sejenak melupakan air mataku dan kesedihanku. Rasanya para ototku yang penat saat dan pascalari berbisik pada organ-organ dalamku, “Berikan nyerinya pada kami, sekali ini saja biarkan kami yang menanggung deritanya.” 

Tiba-tiba saja saat itu aku lalu menyimpulkan, bahwa seorang individu terdiri atas sebagian serebrotonik, sebagiannya mesotonik, dan sisanya viserotonik. Kadar ketiganya mungkin fluktuatif dari masa ke masa, dan saat salah satunya terlalu timpang, mungkin melakukan kegiatan lain yang sangat berbeda bisa menyeimbangkannya.

Aku pun sempat terlalu sibuk mengurusi pekerjaan kantor (menurutku pekerjaanku sungguh menyenangkan, dan “aku banget,” jadi aku hampir selalu menikmatinya) saat episode sedih itu. Aku dipaksa berpikir keras dan cukup lama mengurusi sel kanker hadiah dari Profesor baik hati dari negeri jiran. Paham kan, aku sedang menjadi sangat serebrotonik ketika berpikir itu, sehingga lagi-lagi kelenjar lakrimalku tidak mendapat perhatian khusus. Singkatnya, saat itu aku tidak sesedih sebelumnya.

Aku kemudian menyimpulkan lagi, ketika terlalu sedih atau merasakan apapun yang negatif, penting juga untuk menggiatkan bagian tubuh lain. Contohnya otot-otot, dengan berolahraga (agar sejenak mesotonik), atau otak, dengan mengerjakan demanding task atau menulis proposal penelitian (agar sejenak serebrotonik). Dengan demikian, tubuh dan pribadi kita akan seimbang, dan kebahagiaan bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. 🙂

The sobriety lane

I walk down this lane alone with ATPs left in my muscles and burning light in my chest.

I left my past behind me where I blamed so many people and so many things for my tears. I discarded so many ticks of the clock waiting for something that never came. I was so drunk, drunken by a huge wave of self-distrust, or self-contempt, i wasn’t sure, and i could barely stand, let alone walk.

While walking, i think of myself sometimes. How funny it is to lose the power to trust my strong self, while holding strong to a false believe that God isn’t very helpful.

What is ahead seems blurry but it promises me a future. The tiny light in my chest whispers me contentment and trust, and those are enough for me to keep walking.

I may be more vulnerable. I am helpless in God’s plan. But i am so strong i am invincible to whatever comes ahead of me. 

So here I am, Dear sobriety lane, try me, and i may stay sane and solid, and fully accepting of God’s best plans. 

Karena Aku Tidak Mau Seperti Itu

Lie To Me adalah suatu serial Amerika yang bergenre misteri dengan tokoh utama orang Inggris. Cal Lightman adalah seorang yang ahli membaca ekspresi wajah dan membantu polisi menyelesaikan kasus kriminal dengan kemampuannya itu. Tidak terlalu bagus sih ratingnya, tapi aku suka, mungkin karena seleraku adalah pria-pria seperti Cal itu, atau doctor House, atau Sherlock Holmes dalam serial Elementary. Entah kepribadiannya entah fisiknya hahaha. Absurd memang.

Selain Lie To Me, ada Elementary. Ini adalah serial gubahan dari kisah Sherlock Holmes, di mana seorang Sherlock yang orang London itu tinggal di New York City dan membantu NYPD sebagai konsultan alias detektif. Watson sahabat Sherlock tetap seorang dokter tapi di sini dia wanita. Aku suka episode terakhir (24) di musim 2. Di situ Sherlock relaps menggunakan heroin. Sepanjang seri dia sudah sepenuhnya sober, tapi itulah episode pertama yang menampilkan dia menjadi pengguna. Beberapa menit terakhir sungguh epik, menurutku. Di situ tampak Sherlock duduk di teras atas rumahnya, wajahnya pucat, sangat sayu dan matanya cowong, pandangannya kosong. Watson hanya bisa bertanya “Please tell me if you need anything.”

Episode itu membuatku mensyukuri hidupku. Perbedaan tampilan Sherlock sebelum dan sesudah jatuh pada adiksi sungguh ekstrim. Tukang riasnya keren, tentu. Tapi wajah itu membuatku membayangkan diri jika terkena pengaruh narkoba. You know, i dont want to look that lifeless. 

Dalam beberapa (ratusan?) episode saat aku merasa sangat sedih atau tidak berguna, sangat ingin lari ke hutan atau masuk ke inti bumi, aku bersyukur aku tidak merasa cukup putus asa untuk berkenalan dengan narkoba.

Somehow i am grateful, you know. Even until now. 

Ingin Kurus Lagi

Indeks massa tubuh terkiniku tidak mengkhawatirkan, pun jika bertemu kawan lama, dia atau mereka akan berkomentar “Kamu kurusan” atau semacamnya, yang berarti bagus. Jadi tidak ada urgensi untuk menurunkan berat badan, sebenarnya. Namun ada hal penting yang dua tahun terakhir membuatku terobsesi: lari. Kata beberapa artikel ilmiah, berat badan berpengaruh pada kemampuan lari, baik kecepatan maupun ketahanan (endurance). Jadilah ada misi baru tahun 2016 ini, untuk ingin kurus lagi. Menurunkan berat badan, menurunkan BMI, meningkatkan massa otot, menurunkan persentase lemak, dan menuju size zero (yang terakhir ini bohong ya hahaha).

Memasuki minggu ketiga di bulan pertama tahun ini, aku berusaha disiplin sarapan muesli (campuran antara oat/ gandum, kismis, biji-bijian seperti kuaci, dan kacang almond) dengan susu, serta kopi pahit (yang ini hanya hobi sejak pernah tinggal di Melbourne). Selain itu aku mengunduh aplikasi ponsel bernama “My Plate” yang kucurigai buatan Lance Armstrong (atlet sepeda dunia yang ketahuan dopping tapi tetap keren itu, yah atau mungkin karena aku sudah baca buku biografinya) yang prinsipnya adalah jurnal makanan. Aku tidak tahu efek aplikasi  itu selain membuatku agak sedih di setiap penghujung hari ” Yah hari ini kalorinya masih lebih dari 1200 kkal.” Hahaha.

Betul, kata banyak penelitian, diet itu lebih penting daripada latihan fisik jika ingin menurunkan berat badan. Tapi sebagai pelari, aku selalu berusaha berlari. Seru juga ada alat namanya sabuk denyut jantung, yang bisa dipasang seperti memasang bra, yang sensornya ditampilkan di arloji canggih bermerk Garmin di pergelangan tanganku. Saat berlari aku jadi bisa menyesuaikan kecepatan lariku sedemikian hingga tercapai zona denyut jantung yang paling efektif dalam pengunaan energi dari lemak. Haha, ribet ya. Singkatnya, jika denyut jantung (untuk wanita usia 29 sepertiku) sekitar 125 kali/menit maka energi yang digunakan tubuhku untuk berlari diambil dari asam lemak (bukan dari gula), sehingga harapannya lemak tubuhku jadi berkurang selesai berlari. Hahaha, dengan lari rutin, maksudnya..

Tentu “lari santai sekali” demi mencapai zona denyut jantung yang membakar lemak itu sulit, jadilah aku juga menjadwalkan latihan interval. Latihan ini semacam lari ngebut sekali yang diselingi dengan jalan kaki setengah menit atau maksimal semenit untuk istirahat, lalu dilanjut lari ngebut lagi. Interval ini berat deh tapi demi kurus mungkin aku bisa semangat. Mungkin, hahaha.

Aku sudah tidak sabar mengabari pembaca semua bagaimana hasil dari pelangsingan ini. Oya, targetku adalah lingkar pinggang ** cm dan berat badan ** kg dan BMI ** dan persentase lemak kurang dari 25% dan ukuran baju zero (hahaha). See you soon!

 

 

About Being Sabr

18 Juni 2014

…Pernahkah aku merasa bahagia hanya karena aku masih hidup? Mungkin pernah. Yang kuingat, sebab-sebabnya adalah aku berusaha ingat Allah. Dari orang lain kulihat sebabnya adalah amalan hati seperti memaafkan, tidak dendam, tidak berprasangka, dan bersyukur. Singkatnya aku membujuk diri sendiri bahwa antara solat khusyuk, membaca Quran dengan tartil dan berusaha memahami artinya, dan melakukan amalan hati yang Islami (dan secara universal disebut sebagai “kebaikan”) merupakan hal-hal penyebab kebahagiaan. Ketiganya sama pentingnya, tidak ada yang lebih baik atau utama. Ketiadaan satu atau dua hal tidak menggugurkan kebahagiaan. Usahakan jadi pelaku ketiganya.

Ramadan 2014

… Aku tidak ingin mencemari usaha kesabaranku dengan komentar-komentar tidak bersyukur dan keluhan-keluhan. Aku adalah motivator terbaik untukku. I rely on myself (instead of other people) and God. So if it’s not me, I don’t think I can. Pokoknya semua tergantung aku. Pengen makin sabar ya aku harus disiplin sama diri sendiri untuk berlatih sabar tanpa henti. Pengen self-improvement ya harus rajin bercermin (dari orang lain, dari doa mohon petunjuk) dan melakukannnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. I am capable of loving. Aku cinta diriku sendiri, menerima apa adanya, bersabar akan kekurangannya, menghargai kelebihannya, bersemangat terus menyayangi dan menghargai, dan yakin aku akan menjadi lebih baik. Fighting depression? Not by being grateful (although it’s okay too) but with self respect. I guess.

Hei, Kamu Masih akan Lari (atau Yoga), kan?

Spanduk sponsor di stadion.

Kamu mencari kelelahan fisik dengan olahraga. Kamu berlari, di lain hari kamu senam yoga. Kelelahan mental kadang mendera, lebih sakit daripada timbunan laktat dan keringat.

Dalam kelelahan mental itu, kamu akhirnya menangis, diam-diam. Tenaga untuk marah telah hilang beberapa waktu lalu, saat musim dingin membuatmu berpikir untuk menghemat energi, atau saat musim panas keringatmu telah habis oleh terik mentari.

Mungkin benar bahwa jiwa ini hanya dititipkan dalam anatomi rumit tubuh manusia, yang otaknya aktif bekerja, dan jantungnya berdebar oleh kafein atau cinta atau kecemasan tentang dunia. Namun hormon bahagia setelah olahraga tetap akan melembutkan jiwamu, menguatkannya menghadapi kelelahan mental yang menanti di depan.

Kadang kamu berpikir perlukah berlari sepuluh kilometer sebelum memulai semua yang akan melelahkan mentalmu.

Pada akhirnya sang jiwa yang hanya mampir ini ikut berperan dalam kelestarian alam yang ditempatinya. Mungkin tubuh yang sehat dan kuat juga termasuk titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Mungkin sekedar lari pagi atau sore atau malam, dan yoga hampir sejam bisa mempermudah pertanggungjawaban tubuh ini nanti. Mungkin puasa dan menjaga makan bisa memudahkan jiwa ini lebih bertakwa.

Mungkin belum saatnya merasa lari atau yoga atau hal fisik lainnya hanyalah semata pelarian dari kelelahan mental. Mungkin sebaliknya, justru merekalah pendukung utama jiwa ini untuk terus berusaha, menghadapi kelelahan-kelelahan di depan, bersabar dengan kekalahan, bahkan mempersiapkan kemenangan, lagi dan lagi.

Salam olahraga.

Hujan Bulan Juli

Sore ini adalah puncak keenggananku untuk berlari. Kemarin sore aku memilih tidur siang daripada berganti pakaian dan berangkat ke jogging track. Untuk lari malam ini pun.. Rasanya sudah bosan; memilih kaos lari, deker lengan, celananya, kerudung yang match dengan kaosnya.. Mengingat terakhir memakai sepatu yang mana sehingga sekarang giliran yang mana. Ketika sudah siap, malas juga membayangkan bergumul dengan ramainya jalan Menoreh dan Kelud Raya.. 

Di saat itu aku mempertanyakan niatku untuk lari. Sedangkal inikah aku berlari; karena ingin kurus dan setelah kurus tidak menemukan motivasi lain? Aku sangat berharap ini semacam kebosanan wajar yang sesekali menyerang semua pelari.

Iya, benar, aku harus melihat sekitar dan bersyukur dengan kesehatan dan usiaku, keutuhan ekstrimitasku dan waktu luangku, sehingga tidak ada keluhan “bosan lari.” Aku seharusnya malu jika sampai mengeluh apalagi mengeluh bosan.

Malam ini sampai juga aku ke Balaikota, bergabung dengan teman-teman untuk lari malam rutin. Tidak ada yang spesial. Hanya tepat di median rute hujan rintik-rintik menyapa wajah dan lenganku, dan disusul dengan hujan deras tanpa angin kencang.

Di bawah hujan itu, kami semua memutuskan lari, toh sudah lewat 3 km dan tinggal 2 km lagi yang bisa diselesaikan dalam 12-14 menit. Sudah terlanjur basah oleh gerimis juga. Kemudian di depanku tampak para pelari bergerombol yang ternyata sedang mengerumuni seorang wanita yang duduk kesakitan.

Singkat cerita ada pengendara motor yang terjatuh dan terluka, lalu seorang teman pelari menemukannya dan membantunya. Aku sempat menemani beberapa menit untuk memastikan diagnosisnya hanya vulnus eskoriatum tanpa sprain maupun fraktur. Aku melihatnya pergi diantar teman lari yang baik hati tadi dipayungi hujan yang makin deras.

Aku melanjutkan lari, kali ini sendiri (sejak start aku bersama si ini atau si itu) karena sebagian besar sudah menuju finish dan aku berhenti cukup lama. 

Dalam lari itu aku merasa heroik, menginjak trotoar berkubangan, kerudung semakin jenuh air dan sepatu semakin berat juga. Hati sudah tidak was-was karena hape sudah dititip ke mas-mas baik hati yang membawa ransel dan jas hujan. Petrichor menguar khas sepanjang jalan, bau yang disebut oleh  banyak seniman sebagai bau tanah basah. Kaki sudah asal menginjak trotoar, tidak apa jika terjeblos genangan air. “Hati-hati mbak, licin” kata seorang yang kulewati.

Dalam lari itu aku menyadari kalimat favoritku (dan sebagian besar orang, pasti) I love the rain for it disguises my tears (atau kalimat serupa dan aku malas memikirkannya).

Dalam lari itu juga terlintas memori masa asrama dulu, mungkin saat hulubalang di kelas 2 SMA, atau mungkin saat pembaretan di kelas 1. Mungkin malam tadi aku masih sedikit lapar dan kedinginan oleh hujan, tapi aku memaksa lari sehingga kelelahan itu memicu siaran ulang memori masa SMA. Mungkin pegalaman yang paling mirip dengan lari di bawah hujan tadi memang saat pembaretan; bersepatu bot dengan baju PDL hijau melintasi sawah berlumpur tebal. Di atas kepala terik matahari Magelang menyengat namun kaki berkubang lumpur terasa dingin dan penat. Melelahkan sekaligus mengharukan. Aku tidak yakin apa yang mengharukan. Mungkin karena lelah yang sangat itu membuatku ingin menangis (tapi kutahan karena malu) sehingga aku mengira aku terharu. 

Heran juga mengapa tidak ada sedikitpun masa koas yang kulewati di bawah hujan, yang bisa kuingat.

Hujan Bulan Juli. Tidak satu pun kudengar orang yang mengeluh tentangnya. Dia anugrah dari Tuhan untuk penghuni bumi; para petani, pelari, dan bahkan para pemilik hati yang senang air matanya ditemani untuk patuh pada gravitasi.

Keterangan foto: aku yang sudah sedikit kurus, saat pemanasan sebelum lari malam rutin bersama Semarang Runners.

Oya, untung aku memaksa lari malam ini, karena aku mendapat doorprize sepasang sarung tangan superhangat untuk naik gunung (atau ber-winter di negeri jauh). Alhamdulillah.

Membaca Buku dan GPPH

Baik, aku jabarkan GPPH terlebih dahulu. Dialah gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Betul, ini adalah sebuah penyakit, dan tidak, aku tidak mengidapnya, karena diagnosis hanya bisa ditegakkan jika gejala sudah muncul sejak usia tiga tahun. Jika baru muncul sekarang maka bukan GPPH tapi sebut saja pseudo-GPPH.

Beberapa bulan (atau tahun?) terakhir aku kesulitan menyelesaikan buku, baik fiksi maupun non-fiksi (bukan teksbuk faal). Tapi setelah kuingat kembali, ternyata memulainya pun sulit. Di kamar tidurku, tiga dari empat sisi kamar ada buku, baik tumpukan maupun pajangan rapi (atau berdebu). Keluar kamar lebih parah lagi, ortuku menyimpan buku di ruang tamu, ruang tengah, ruang samping, sampai kamar lain, dengan dalih, “maklum lah bapak ibu kan dosen jadi ya bukunya banyak.” Stimulus yang tersebar itu tidak menggugahku untuk mengambil satu pun buku setiap minggu untuk diselesaikan.

Berbeda lagi saat berkunjung ke toko buku. Aku selalu punya ide cemerlang (maksudnya konsumtif), “Wah ini buku bagus, aku harus beli. Aku harus punya. Aku harus baca.” Beruntung jika teman berkunjungku adalah adikku, karena dia akan menyambar (tanpa aku ucapkan kalimat cemerlangku tadi, karena selalu hanya kubatin saja, tapi mungkin binar mataku bisa dia kenali dengan mudah), “yakin mau dibaca? Nanti di rumah ditumpuk aja?” dan aku bisa percaya dia juga akhirnya, atau tetap ngeyel membelinya, “Kubaca kok. Yakin.”

Pernah, sering malah, aku mengamati rak-rak buku di rumah, mengambil beberapa buku dan menaruhnya di kasurku. Tujuanku adalah memberi tugas pada diriku sendiri untuk menyelesaikan beberapa buku dalam waktu tertentu dan waktu terbaik adalah menjelang tidur. Berhasilkah strategi itu? Tidak selalu. Beberapa buku memang tampak sangat menarik, misalnya karena itu buku baru (yang dibeli adikku) dan sangat nge-hits sehingga semua orang sudah membacanya kecuali aku, atau itu buku yang ditulis oleh penulis favoritku. Atau buku tematik seperti buku Ramadhan yang kutumpuk di kasur menjelang Ramadhan. Ada keadaan khusus lain aku bisa mulai membaca: terpaksa menunggu lama seperti saat transit di bandara atau perjalanan jauh dengan kereta (atau pesawat atau bis jika sopirnya menyetir dengan sopan).

Seseorang pernah berkata bahwa tidak ada orang yang tidak suka membaca, orang itu hanya belum menemukan jenis buku/ bacaan yang dia suka. Aku sangat setuju dengan itu. Bahkan komik pun termasuk buku, sehingga orang-orang semacam teman priaku di sekolah dulu yang “tidak tahan membaca novel, tulisan semua, bosan” bukannya tidak suka membaca, hanya memilih komik daripada novel. Sehingga tidak perlu ada debat filosofis dalam tulisan kali ini mengenai pentingnya (atau tidak pentingnya) membaca.

Ketika akhirnya aku berhasil memaksa diriku membuka lembar pertama dan mulai membaca sampai minimal beberapa halaman pertama, aku mulai ingat nikmatnya membaca. Benar juga kata orang bijak bahwa langkah pertama memang yang paling berat. Selanjutnya pasti terasa lebih ringan. Bahkan menyenangkan. Namun tidak seratus persen kejadian membacaku seperti itu. Ada beberapa kali aku berhenti membaca di tengah-tengah buku (atau sepertiga awal dan jarang sekali di bagian akhir). Mungkin sekali itu karena bukunya yang membosankan, tapi aku jarang mengatai suatu buku itu jelek. Aku sangat ingin menjadi penulis (mungkin diam-diam sejak kecil, karena diary-ku sudah ada sejak aku kelas 3 SD, sampai sekarang masih kuusahakan menulis) sehingga aku menghargai dan mengagumi para penulis. Beberapa buku membuatku ingin menyelesaikan tanpa jeda (terpaksa jeda untuk ke toilet atau solat atau makan), tapi sedikit sekali yang membuatku menyesal membelinya, semembosankan apapun.

Pada suatu ketika beberapa bulan (atau tahun) terakhir inilah aku menyimpulkan kesulitanku meneruskan hobi membaca ini adalah karena adanya gangguan pemusatan perhatian. Aku kesulitan fokus sedangkan membaca merupakan kegiatan yang membutuhkan fokus. Beberapa menit membaca membuatku memikirkan hal lain kemudian akhirnya buku kulepas dari tangan dan aku mulai beranjak, bergerak, atau membuka ponsel.

Atau sederhana saja masalahnya, bahwa beginilah generasi muda masa kini pengguna teknologi terutama internet? Beginikah efek samping dari kemajuan peradaban yaitu terlalu banyak distraksi dan manusia-manusianya kesulitan bertahan lama melakukan sesuatu tanpa tergiur hal lain? Apakah angka kejadian GPPH meningkat di era milenium ini? Apakah penderita pseudo-GPPH sepertiku tumbuh seperti lumut di dinding batu di musim hujan?

Jawab aku, buku, jawab. Aku sudah merindukan kalian.

NB. Ternyata salah satu inspirasi untuk menulis (lagi) di blog adalah dengan membaca buku. Saat sedang membaca buku rasanya aku jadi ingin menulis juga, atau aku jadi ingat bahwa ada ide yang harus kusampaikan lewat tulisan. Buku terbaru yang baru selesai kubaca (dalam sehari; termasuk hebat dengan keadaan mental terkiniku) adalah “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer. Resensinya? Cari sendiri di google ya, satu saja dariku: Itu buku wajib baca. ^_^