Memperbaiki Sikap

Seringkali aku menggunakan blog ini untuk menasihati diri sendiri ketika self talk tidak berhasil. Aku menulis serapi mungkin dan mempublikasikannya ke seluruh dunia demi menyindir diri sendiri.

Baiklah, tulisan ini salah satu sindiran juga.

Suatu pagi aku terbangun kesiangan dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu sebelum solat subuh. Yah memang sih, solat subuh di waktu dhuha, tapi aku bisa apa.. Tiba-tiba dari kamar ortu terdengar panggilan untukku. Aku memutuskan untuk berteriak untuk menjawab panggilan itu, bukan membuka pintu kamar ortu dan bertanya dengan sopan apa yang bisa kubantu. Aku berteriak tentang prioritasku untuk segera wudhu dan solat dan aku butuh lima menit sebelum ke sana.

Di waktu yang lain aku sibuk menanggapi perkataan ortu dengan pengetahuanku yang kurasa cukup luas, yah relatif lebih luas dibanding pengetahuan ortuku. Waktu itu kami membicarakan tentang kesehatan. Justifikasiku, selalu, bahwa ortu sudah membayariku berjuta-juta dan mendukungku bertahun-tahun untuk akhirnya aku diperkenankan Tuhan menjadi seorang dokter, jadi mereka harus percaya dengan apapun yang kukatakan tentang kesehatan manusia.

Tidak jarang pula aku berharap ayahku adalah seorang dewa yang tidak pernah salah. Aku selalu punya ide tentang seseorang yang sempurna (jika ada, jika tidak berarti yang sedang kubayangkan adalah sebentuk dewa atau apalah), dan ayahku selalu kubandingkan dengan sosok sempurna itu. Aku selalu menemukan perbedaan antara ayahku dan kesempurnaan itu dan memutuskan untuk merenunginya atau marah dengan adanya perbedaan itu.

Aku yang beberapa waktu lalu merindukan kehidupan yang lain, seperti misalnya tinggal di suatu rumah dengan seorang asing yang ganteng (suami, maksudnya, kan asing tuh, bukan keluarga) sempat berjanji pada diri sendiri untuk memperbaiki sikap ke orang lain. Lalu aku mulai lelah dengan bayanganku, mungkin karena semakin tua, aku mulai menyadari bahwa sikapku sekarang menentukan diriku di masa depan.

Aku bertanya-tanya bagaimana aku bisa bersikap super romantis pada suamiku nanti jika aku merasa kesulitan untuk menjawab dengan nada rendah dan tenang atas pertanyaan atau panggilan atau teguran ortu? Bagaimana mungkin aku bisa memprioritaskan kebahagiaan suami nanti jika memenuhi keinginan ibu yang sederhana saja berat kulakukan? Apa bedanya bersabar dengan orang tua (haha, padahal ortu yang sudah banyak bersabar dengan anak macam aku ini) dengan bersabar dan bersikap baik pada suami? Apa bedanya menyayangi adik dan kakak sepenuh hati, sesabar mungkin, memahami dengan penuh pengertian, dengan bersikap baik setiap hari ke pasangan hidup yang benar-benar orang asing?

Manusia terbaik yang pernah tinggal di bumi ini, Salallahu’alaihi wassalam, pernah berpesan pada para pengikutnya, yang berarti termasuk diriku juga, bahwa orang terbaik adalah orang yang baik pada keluarganya (terutama istrinya). Dalam sebuah khotbah yang kudengar di yutub, pak ustadz mengatakan bahwa pesan itu memiliki arti tersirat bahwa justru bersikap baik kepada anggota keluarga merupakan salah satu hal tersulit. Sangat mudah bersikap ramah ke kolega, bawahan, atau murid, atau teman yang hanya bertemu beberapa jam sehari. Namun dibutuhkan kepribadian yang matang untuk menjaga sikap ke anggota keluarga sendiri. Sangat mudah tampak baik dan sabar, tidak emosional, dan penuh penghormatan ke orang lain di luar rumah tapi hanya orang-orang berbudi baik yang tetap bersikap baik sesampainya di rumah dalam keadaan fisik dan mental yang lelah sepulang kerja.

Pak ustadz itu dalam khotbahnya yang lain yang berjudul berbuat baik pada orang tua, mengingatkanku untuk tidak meminta pengecualian. “Tapi ayahku begini dan begitu, kau tidak mengerti, Tadz” tidak bisa diterima. Semua orang akan meminta pengecualian serupa. Terima, hormati. Titik. Orang-orang terdekat memang sering menjadi sasaran utama atas tuntutan-tuntutan kita. Kita menuntut kasih sayang, balas budi atas kasih sayang dan respek kita, pengertian, dan banyak lagi. Mungkin tuntutan itu wajar tapi mengutamakan kesadaran bahwa manusia punya keterbatasan itu lebih penting. Bahkan mengingat bahwa orang-orang terdekatlah yang pertama berhak atas cinta dan kasih sayang kita lebih penting dari sebagian besar hal dalam hidup ini.

Dengan berbuat baik setiap saat kepada orang-orang terdekat, mungkin akan lebih mudah untuk menghormati siapapun selain orang tua sendiri. Akan lebih mudah untuk menghormati suami (atau menyayangi istri) nanti dan melayani sepenuh hati. Akan lebih mudah pula untuk menjadi original di depan orang lain, asli tanpa tipuan, tanpa dibuat-buat. Sehingga kita tidak perlu repot menjaga citra yang bukan milik kita.

So don’t be yourself. But be your best self.

Advertisements

Cerita dari (dekat) China

Beberapa bulan berlalu sejak adikku mengirim pesan via whatsapp untuk mengajakku membeli tiket pesawat murah untuk traveling ala ransel alias hemat ke Hong Kong (ternyata penulisannya dipisah begini!) dan Macau. Inilah hari yang ditunggu-tunggu, yang sudah dipersiapkan (minimal secara mental), yang membuatku berniat belajar barang sedikit saja bahasa China (yang akhirnya kuketahui negara ini menggunakan bahasa Kanton bukan Mandarin). Kisah ini merupakan lanjutan dari posting singkat di sini.

Kami berangkat dari Surabaya dengan pesawat Air Asia ke Hong Kong setelah transit sekitar tiga jam di bandara dekat Kuala Lumpur, Malaysia. Disambut udara dingin dan kabut, Hong Kong kulihat sebagai daerah istimewa China (special district) yang sangat maju dan rapi dengan masyarakatnya yang ramah terhadap turis. Apalagi turis berkerudung macam kami berdua ini, yang kata adikku yang baru beberapa bulan lalu ke Beijing, China, manusia berkerudung adalah barang langka yang selalu menjadi pusat perhatian. Mungkin kami hanya berdua sehingga tidak banyak yang memandangi kami, atau penduduk Hong Kong berpikiran lebih terbuka atau lebih banyak membaca berita.

Demi transpor murah, seperti prinsip kami sejak awal sebagai backpacker, ‘lima hari empat malam’ traveling kami tersisa tiga hari bersih untuk jalan-jalan dan dua hari sisanya (hari pertama dan hari terakhir) untuk perjalanan panjang pergi pulang. Malam itu setiba di Hong Kong kami menaiki bis bandara setelah sebelumnya dimarahi ibu penjual tiketnya karena uang kami terlalu besar (maklum, agen penukar uang di Semarang hanya punya uang ribuan HKD). Seperti yang banyak kubaca sebelum berangkat bahwa hostel tempat kami menginap sangat sempit dan terletak di lantai sekian sebuah mansion, bersama beberapa hostel lainnya, tempat ini cukup nyaman dan berada di pusat kota di pulau Kowloon di daerah bernama Tsim Sha Shui.

Esoknya yang kuhitung sebagai hari pertama, kami memutuskan sarapan mie gelas masing-masing dua bungkus karena banyak blog mengatakan makanan halal di HK termasuk mahal. Tujuan kami hari ini adalah Heritage Trail alias menapak tilas peninggalan jaman kuno di bagian utara pulau Kowloon. Kami menggunakan kereta untuk sampai di sana, beberapa kali dihentikan oleh satu, dua, atau serombongan wanita berjilbab berwajah Jawa untuk ditanya arah dan disapa dalam bahasa Jawa ngoko “sampeyan ngerti iki rak mbak?”, dan sangat menikmati kontrasnya gedung-gedung pencakar langit dengan kuil-kuil khas Asia Timur yang banyak dikunjungi turis lokal untuk berdoa.

Kami juga mengunjungi Pohon Harapan (Wishing Tree) yang umurnya sudah lebih dari seabad, menyaksikan orang-orang asyik melempari ranting-rantingnya dengan buah jeruk palsu dari plastik yang terikat pada selembar kertas yang ditulisi harapan-harapan pelemparnya.

Selalu ada hiburan gratis untuk turis di kota-kota negara maju. Di sini ada Symphony of Lights, suatu pertunjukan kelap-kelip lampu yang menghiasi gedung-gedung di seberang pulau dengan latar musik instrumental yang atraktif. Dengan ramah, suara dengan sumber yang sama dengan latar musiknya menyapa turis, “Welcome to Symphony of Lights,” yang dilanjutkan dengan warna-warni lampu di gedung-gedung pencakar langit yang membentuk kata-kata atau animasi, yang berlangsung selama sekitar sepuluh menit. Ada yang lebih bagus dari ini, tentu saja, seperti pertunjukan Natal di pusat kota Melbourne atau Songs of The Sea-nya Singapura.

Hong Kong terdiri dari empat daerah, yang pertama termasuk dalam semenanjung China, tiga lainnya merupakan tiga pulau yaitu pulau Kowloon, pulau Lantau (tempat bandara berada), dan pulau Hong Kong. Menyeberang ke pulau Hong Kong dengan sebuah feri membutuhkan biaya tiga ribu rupiah. Kami berangkat bersama banyak orang berpakaian rapi untuk bekerja. Kulihat banyak masyarakat Kowloon yang bekerja di pulau Hong Kong, sehingga bisa kubayangkan dua kali sehari mereka menaiki feri menyeberang pulau. Pulau Hong Kong tampak memiliki lebih banyak pencakar langit dan rumah susun, dan ada restoran halal yang menjual makanan China di gedung masjidnya. Seperti masjid di Kowloon, masjid di sini pun memiliki papan pengumuman bertuliskan bahasa Indonesia, mungkin saking banyaknya muslim Indonesia di sini.

Malam hari di hari kedua ini kami sempatkan ke pasar bernama Ladies Market setelah malam sebelumnya kami mengunjungi Temple Market dan membeli oleh-oleh sesedikit mungkin (setelah membuat daftar penerima oleh-oleh dan mengedit sedemikian rupa sehingga tinggal beberapa belas orang yang benar-benar penting saja). Beberapa penjual berani menyapa kami, “Berapa? Berapa?” yang membuatku semakin yakin wajahku sangat Jawa, dan beberapa penjual lainnya menawarkan harga empat kali lipat harga normal, mungkin lima kali (aku yang gagal menawar). Hong Kong, seperti banyak kota besar di dunia, gak ada matinye, bahkan pukul setengah dua belas malam kudapati diriku masih menawar mp3 player menjadi separuh harganya (padahal bukan di pasar melainkan di kios dekat hostel tempat kami menginap). Memang di pagi hari banyak pertokoan yang baru buka setelah pukul sepuluh, tapi kupikir toko yang tutup tengah malam sangat membantu.

Ada yang menarik dari pulau Lantau yang tadi kubilang sebagai pulau tempat bandara berada. Ada suatu daerah bernama Ngong Ping yang memang terpencil di sebuah lembah yang terdiri atas suatu desa mungil yang sengaja dikonservasi untuk tujuan wisata. Di tempat itu berdiri megah Giant Buddha, patung Buddha dalam posisi duduk, yang sangat mirip dengan yang ada di Borobudur. Patung itu sangat besar, dari jarak beberapa kilometer sudah tampak bentuknya, dan untuk menuju ke patungnya harus mendaki beberapa ratus anak tangga. Menuju ke Ngong Ping kami menaiki mobil kabel, semacam kotak yang meluncur di seutas kabel seperti yang ada di Taman Mini Indonesia Indah, sehingga penumpangnya bebas melihat pemandangan di bawah yang hijau dan cantik.

Ngong Ping bagiku sangat mengesankan. Perjalanan menuju ke sana tampaknya sangat jauh dengan pemandangan yang di mana-mana hijau. Sementara masih teringat jelas betapa beberapa hostel sekaligus harus berdesakan di sebuah mansion, betapa penduduknya tinggal di apartemen tipe studio yang harganya selangit. Tidak ada satu pun rumah normal kuamati sejak aku di Hong Kong, seperti rumah orangtuaku yang beberapa ratus meter luasnya, yang bertetangga dengan nyaman, dan yang halamannya luas. Namun demikian, masih banyak bukit-bukit yang hijau dan asri, tanpa sedikit pun terjamah untuk pembangunan real estate atau sekedar perumahan sederhana.

Hari ketiga adalah hari Macau, yang baru belakangan juga kuketahui sebagai salah satu special district dari China selain Hong Kong. Macau menggunakan bahasa Kanton dan Portugis karena memang bekas jajahan Portugis. Sampai sana pun semua papan pengumuman ditulis dalam tiga bahasa yaitu Kanton, Portugis, dan Inggris. Jika dilihat dari peta, jarak pulau Kowloon ke Macau agak jauh, namun dengan kapal bernama Turbojet, perjalanannya hanya sejam dan bebas mabuk laut. Pergi pulang jika dikurs rupiah bisa mencapai setengah juta rupiah, memang mahal, namun kapan lagi ke Macau, kan.

Sampai di Macau kami mengunjungi kasino. Iya, tempat judi itu. Atraksi utama Macau memang kasino. Semacam Las Vegas, Macau sepertinya ingin mengklaim diri sebagai tempat judi nomor satu di dunia. Tidak heran jika banyak bis gratis disediakan oleh pihak kasino untuk transpor dari terminal feri ke pusat-pusat judi itu. Kami sih tinggal naik bis gratis itu, dari kasino kami jalan kaki ke objek-objek wisatanya.

Dalam satu kalimat bagiku Macau adalah tempat wisata buatan. Tidak ada pemandangan alam yang mencengangkan, misalnya, namun ada makanan yang kelezatannya masih terngiang sampai sekarang yaitu Portuguese Egg Tart, tart telur khas Portugis dengan pinggiran pastri dan berisi puding telur karamel (sudah googling resepnya dari dulu tapi belum berani mencoba membuat). Tempat wisata buatan, menurutku, karena dibuat dengan serius dengan investor yang kekayaannya serius juga, berupa gedung-gedung kasino yang luasnya mungkin seluas RT di kampung kami, dengan langit-langit yang dibuat seperti langit biru berawan, dengan kanal-kanal yang dilewati gondola-gondola, lengkap dengan pengemudi bersuara merdu dan berseragam ala penjual sate Madura. Ada masjid di Macau, tentu, yang halaman belakangnya digunakan untuk makam, yang suasananya sepi, jauh dibanding dengan masjid di Kowloon maupun Hong Kong, walau pengumuman berbahasa Indonesianya tidak kalah menarik.

Malam itu aku merasa harus berpikir taktis dalam menghabiskan pagi harinya sebagai hari terakhir di Hong Kong. Aku sangat ingin ke perpus kota namun, tentu saja, baru buka pukul sepuluh pagi sementara pesawat kami berangkat pukul tiga belas. Pelajarannya? Pikirkan perpus kota sebagai tujuan utama kapanpun kamu ke luar negeri. Pagi terakhir itu akhirnya kami habiskan untuk berkeliling taman kota bernama Kowloon Park dan kekagumanku membuat adikku heran, “Kamu pasti seneng banget ke Beijing karena di sana lebih banyak taman, dan taman-tamannya jauh lebih bagus.” Ah, kenapa pula aku tidak coba mengunjungi taman-taman di Surabaya hasil upaya bu Risma sang walikota, ya. Yang menarik perhatianku selain ada ‘hutan’ di tengah kota adalah kegiatan di taman itu. Sebagian besar pengunjungnya pagi itu (dan mungkin sebagian besar hari) adalah lansia. Mereka semua berpakaian training dan melakukan senam dengan gerakan yang lembut dan lambat. “Taichi, tuh,” kata ayahku  ketika kupamerkan foto-fotonya sepulang dari Hong Kong. Iya, mungkin kesadaran akan kesehatan penduduk negara maju sudah sejauh ini; para lansianya rutin ber-taichi di taman kota yang sejuk (dan tentunya lebih luas daripada apartemen mereka) setiap hari, seperti pagi hari Rabu pukul sembilan itu.

Tas kami lebih berat karena beberapa oleh-oleh, namun hati ini sungguh ringan dibanding saat berangkat meninggalkan Semarang (dan juga pekerjaan) beberapa hari lalu. Kepalaku juga lebih berat karena penuh ingus di sinus-sinusnya. Udara awal musim semi memang kurang bersahabat bagi sebagian orang, hehe. Nikmat pemandangan dan pengalaman yang disesap walau sesaat tetap akan menyisakan kenangan bermakna dalam hidup kami. Aku sempat berkata pada adikku untuk menceritakan pada anak cucuku nanti bahwa nenek pernah dolan berdua aja sama nekcil (nenek kecil alias adiknya nenek :p) dan mungkin ini bukan yang terakhir.

Kata orang bijak, karakter orang akan tampak saat kita bepergian jauh dengannya, dengan versi lain yang mengatakan bahwa kamu akan mengenal seseorang dengan bepergian jauh dengannya. Tanpa bertanya pada adikku pun aku jadi bisa bercermin darinya tentang diriku selama lima hari di Asia Timur ini. Bukan hanya itu, aku semakin merasa manusia di dunia ini sama, sama-sama mencari kebahagiaan, sama-sama mengusahakan kehidupan yang terbaik bagi dirinya dan orang-orang sekitarnya. Beberapa kali sehari selama di Hong Kong kami sering mengobrol mengapa di sini begini dan mengapa tidak begitu. Kemudian kami menyetor ide masing-masing dan akhirnya menyetujui yang paling masuk akal. Sering pula kami tidak habis pikir mengapa begini mengapa begitu, namun karena tidak cukup ide, kami sepakat meninggalkan kata ‘mengapa’ dan memilih menerima, ” People. You know.”

Kupikir berkelana jauh semacam ini membuat pikiran kami berdua terbuka, tidak serta-merta menghakimi mengapa seseorang atau suatu negara berlaku begini dan bukan begitu. Mungkin makin banyak seseorang berjalan di muka bumi maka makin sedikit komentarnya dan makin banyak aksinya. Mungkin makin banyak pengalaman, seseorang akan makin penasaran untuk mencari tahu dan bukannya berkomentar dan menghakimi. Seseorang akan makin seperti anak kecil, yang dengan hati riang dan pikiran terbuka, siap tersenyum, tertawa, atau menangis oleh kejutan yang dunia berikan padanya. Setidaknya itulah yang kurasakan setiap pulang dari perjalanan jauh yang isinya tidak jauh dari kejutan-kejutan di luar dugaan. Banyak kejutan yang menyenangkan, seperti keindahan alamnya dan keramahan warganya, kesulitan konyol mencari arah saat tersesat, walau ada yang menyedihkan yang tidak perlu diceritakan karena aibku sudah ditutup rapat oleh-Nya.

Ada pula kalimat bijak yang mengatakan bahwa bahagia itu letaknya di hati, bukan di dalam rumah mewah laksana istana atau di negeri asing seperti Hong Kong atau Macau. Namun kadang kamu menyadari adanya secuil hati yang bersyukur ketika kamu berada jauh dari rumah, atau ketika matamu terantuk pada pemandangan mempesona, pada pengalaman budaya yang jauh berbeda, dan pada persaudaraan yang ikatannya melebihi apapun di dunia ini.

Sambil merindukan kerapian kota dan kemudahan transpor Hong Kong, atau mungkin sekedar kebahagiaan atas pelarian dari rutinitas, hari ini aku berkendara motor ke kantor. Baru siang itu kusadari teriknya mentari di Semarang. Betapa hangat kotaku ini, mungkin suatu hal yang penduduk asli Hong Kong rindukan setiap harinya di musim dingin, gugur, maupun semi.

Yah begitulah cerita singkat (hah, singkat?) sepulang dari Hong Kong dan Macau, dua daerah istimewa milik negeri China. Catatan ini mungkin berguna untuk kubaca beberapa tahun (atau puluh tahun) dari sekarang.

Aku selalu bermimpi bisa berkeliling dunia dengan orang tercinta yaitu suamiku nantinya, berpetualang bersama… Namun siapa sangka kesempatan itu datang sekarang ketika aku bisa bepergian dengan adikku tercinta. Mungkin perjalanan itu sudah dimulai sebelum aku menyadarinya. Mungkin kebahagiaan itu memang dekat, tergantung semangat kita dalam memupuk bagian kecil dari hati yang penuh syukur itu, agar terus tumbuh besar dengan akarnya yang menghujam dalam dan rantingnya yang tinggi melangit. Feel blessed for who you are and what you have, and feel enriched with what you experience, 🙂

 

Adikku dan aku di latar suatu Temple di Kowloon, HK.
Adikku dan aku di pelataran suatu kuil di Kowloon, Hong Kong.

Another Language-Related Attempt

Hey there. It has been a while since my last post in English.

I have an only sister who is gorgeous and happens to be my best friend. She loves to travel, is married to a righteous man, and only a year younger than me (13 months younger, to be exact).

One day she texted me (yes she lives 90 km from home) asking me to join her to travel abroad. Whoaaa I said yes immediately after saying “maybe by then I will ask my husband’s permission but I would love to,” knowing that the date of travel was 6 months from that day and I dreamed of already having a husband by next year (aamiin Yaa Rab,  or whatever is best for me).

My sister has been to several countries while I went only to Aussie and Changi in Singapore to transfer a flight (if that counts). At that time she was discussing about going to a country in the east Asia. I didn’t care, I wanted to go with her. She would be a perfect travel partner for me. We have been traveling just the two of us, for sure. Just like a saying, “it is not about the journey, but the company.” By the way, this might also apply to the idea of soulmates.

Now, east Asia? They don’t speak English unless it is Hongkong. Well, we intended to go to Macau, which is in Hongkong. Haha so what was the problem? Exactly, nothing. However, we agreed on that day to plan to learn a little Chinese so we can ask few things to the locals.

Having heard that Chinese is one the hardest languages in the world to learn (I ever heard Arabic and Danish are among the hardest), I was not so enthusiastic comparing to the time I chose to learn French or Dutch (though until now I still don’t speak any of those languages). But the point is that learning language is always fun to me. And I just found out lately after being her sister for 27+ years that we might share the interest of learning languages.

I said yes yes yes let’s attempt to take a Chinese class before the travel date which is few months from the time this post is written. I know myself very well that this plan might remain a plan, rotten in the corner as an utopic idea. Hahaha. But again, I am excited, and so is my sister.

Ni Hau Ma?

Forgiving Dad

…I also got an insight just tonight that I might want to soon forgive my dad. Although he has made no mistake to me, I still need to forgive him. I resented him for so long, maybe for all my life, and now I think I am too tired to hold the grudge. My dad is sick lying on the hospital’s bed for so long, his muscles went atrophied, and I pity him and think that he deserves my mercy. I know this might be the worst thing that a daughter hates her dad, and she would forgive him only when he is dying. I hate to admit that, but God is now giving me opportunities to do good, whatever it is. God please forgive me, and guide me to your Light. Aamiin.

7 April 2013, sitting quietly on the hospital’s floor.

Mom-Daughter Convo

One day I asked my mom,
Ayu (A): Mom, in twelve months from now, I will be abroad, if Alloh Wills.
Mom (M): Yeah..
A: Is it okay for me to go there by myself?
M: Eh? Are you talking about husband?
A: …..
M: Even if it’s twelve months from now, if Alloh Wills then anything can happen. Allah Is The Almighty.
A: Amen.
M: ..and maybe you’ll find a husband there. Get married there..
A: *laughed*
A: And, about me being alone?
M: Well, dad and I would hesitate to let you go abroad because you are..
A: I know, I wake up late, my room’s a mess..
M: Haha, yeah. That.
A: And?
M: That you make easy things difficult. For us those things are easy, but not for you.
A: Like? Procrastinate things?
M: Yeah..
A: And? what else, Mom?
M: Just that.. Nothing else.
A: Really? I can go abroad if I can manage with that in the next twelve months?
M: Of course. I’ll go there as well, maybe with your sista, if Alloh Wills.
A: Yay!!!

Tips Translet

Sebelumnya perlu saya jelaskan mengenai kata translet. Kami mahasiswa kedokteran, koas, dan mungkin dokter-dokter yang baru lulus sering bekerja sampingan sebagai penerjemah. Pasarnya pun orang sekitar, yaitu para dokter dan residen. Para pelanggan biasanya ditugasi untuk mengerjakan paper, artikel, atau sekedar menerjemahkan teksbuk. Mereka terlalu sibuk dengan jadwal padat mereka, Continue reading “Tips Translet”

Aku stase bedah, sibuk sekalii

Dengan beranggotakan sepuluh orang koas bulan pertama di bedah, jadilah kami pasukan jaga dingdong alias sehari jaga sehari gak jaga. Dengan demikian aku mencuekkan banyak teman-temanku, keluargaku di rumah, dan hobi menulisku. Oh, dan

Continue reading “Aku stase bedah, sibuk sekalii”

Mlonggo [IKM #3]

Mlonggo, Jepara: Martabak Cinta

Lain Salaman, lain pula Mlonggo. Kami berangkat ke Mlonggo dengan beberapa mobil dan sebuah mobil bak terbuka yang mengangkut enam buah motor. Kami menginap di asrama mahasiswa kedokteran di belakang Puskesmas Mlonggo.

Di hari pertama kami berkenalan dengan orang fenomenal itu, dr. Nurkukuh. Kami sudah cukup mendengar mengenai beliau sebelumnya, dari teman-teman dan kakak kelas kami. Bagaimanapun, perjuangan baru dimulai esok harinya, bukan malam itu.

Serupa dengan di Salaman, kami belajar mengenai manajemen, namun kali ini manajemen Rumah Sakit, yaitu RSUD Kartini. Cari tahu target, bandingkan dengan hasil kegiatan, temukan masalah, bahas masalah, temukan solusinya. Kami bekerja dalam kelompok, berbagi tugas, dan membuat presentasi dan makalah. Pada hari-H presentasi, kami tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan, dan kami berhasil meyakinkan penguji bahwa kami berbohong! Astaghfirullah, Ya Allah ampuni kami. Memang sebagian data kami didapat dari menyalin makalah teman sebelumnya, dan jika memang sedikit kebohongan pun tidak boleh kami lakukan, maka jadikan ini pelajaran, Ya Tuhanku. Kami dikeluarkan dari ruangan itu.Di luar, saya dan teman sekelompok saya sungguh cemas, jika tidak lulus IKM maka apa yang harus saya jelaskan ke orang tua? Mereka tidak pernah mengajarkan saya untuk berbohong, memalsukan data, bermalas-malasan sehingga tinggal menyalin pekerjaan orang lain tanpa berpikir dan berusaha.

Mungkin dikeluarkan dari ruangan dirasa cukup membuat kami menyesal dan berintrospeksi (memang sih) sehingga kami diperbolehkan masuk dan mengikuti diskusi seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Besok dan besoknya lagi pun tidak ada tanda bahwa kami terancam tidak lulus, dicap buruk, atau semacamnya. Minimal begitulah perasaan saya.

Kegiatan berikutnya adalah kegiatan di Puskesmas yaitu studi kasus. Kami mendapat tema tertentu yang sesuai dengan kegiatan Puskesmas, mengumpulkan data, membahasnya, menetapkan masalah, menganalisis penyebabnya, mencari solusi berupa intervensi, dan melaporkan studi kasus tersebut dalam bentuk makalah yang dipresentasikan pada seminar di hadapan penguji. Saya dan lima teman saya yang lain mendapat tugas berupa ‘Skrining imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada Wanita Usia Subur (WUS)’ di sebuah desa bernama Srobyong. Walhasil selama beberapa hari kami berboncengan naik motor menuju desa untuk melakukan wawancara ke WUS di desa tersebut.

Makalah yang kami susun sembari kami melakukan kegiatan pengumpulan data dan sebagainya secara rutin dicek oleh dosen kami. Kami diwajibkan menyelesaikan bab tertentu setiap beberapa hari, sehingga makalah bisa selesai tepat pada waktunya. Beberapa teman terdahulu menyebutnya ‘malam pembantaian’ sementara saya lebih suka menyebutnya ‘malam penuh cinta’ (saya menghibur diri). Mungkin beberapa orang merasa bahwa cara dr. Nurkukuh dalam berdiskusi malam hari itu tidak bisa diterima, namun saya menganggap beliau bertujuan baik, dan dengan caranya sendiri membuat kami mengingat pelajaran yang diberikan. Sedikit mirip dengan seorang dosen fenomenal lainnya di kampus, yang idealis dan kontroversial (sepertinya lebih banyak yang pro daripada kontra, dan yang jelas beliau berhasil membuat kami terkesan dengan beliau dan ilmu yang diajarkan). Salah satu dari banyak pelajaran yang saya dapatkan dari dr. Nurkukuh adalah bahwa pendidikan itu yang penting prosesnya. Apabila kamu berusaha mencari tahu sendiri, maka pengetahuan itu akan bertahan lebih lama dibandingkan apabila kamu hanya diberi tahu, disuapi saja tanpa berusaha.

Suatu malam saat diskusi, kami diberitahu bahwa pada hari Minggu akan ada kunjungan dari Belanda untuk melihat kegiatan studi kasus kami di desa. Saya sangat bersemangat karena berarti bisa bertemu orang asing dan bernarsis ria dengan bahasa Inggris, dan mungkin bisa menjadi representasi bangsa Indonesia yang berkualitas (agak berlebihan sih). Maka di hari Minggu itu saya dan sebagian besar dari kami tidak pulang ke rumah di Semarang, tidak juga mengumpulkan data, tapi menemani bule yang datang, bernarsis ria membantu teman yang kesulitan menjelaskan kegiatannya saat kunjungan dalam bahasa Inggris. Dalam perjalanan pergi ke dan pulang dari desa saat kunjungan, saya berada dalam satu mobil dengan dr. Nurkukuh. Subhanallah, saya bisa mengobrol dengan beliau. Oh, saya benar-benar bisa merasakan cinta beliau kepada kami. Kami mengobrol santai, tertawa. Bahkan saya melempar sebuah topik diskusi yang kemudian ditanggapi seluruh penumpang di mobil itu, “Tadi waktu bulenya bertanya pada teman saya apakah diagnosis Chikungunya yang dibuat itu merupakan sebuah suspect atau confirmed, teman saya menjawab bahwa ini adalah suspect karena konfirmasi dilakukan di laboratorium” Padahal jelas diagnosis laboratorium yang dimaksud teman saya adalah PCR atau semacamnya, yang bahkan Semarang pun belum mampu melakukan, yang berarti memang Chikungunya di Indonesia sebagian besar ditegakkan hanya dengan gambaran klinis. Tidak ada yang lucu dari topik itu, tapi membahasnya dengan dosen saya terasa lain.

Saya masih ingin membahas pertemuan saya dengan Bapak Bule itu, yang ternyata datang seorang diri (dengan dosen kami dari Semarang, tentu) tanpa teman-teman bulenya yang lain (yang membuat saya sedikit kecewa sampai mengorbankan tidak pulang ke Semarang tapi kemudian tidak menyesal). Dan lagi-lagi pertanyaan itu, untuk saya dan seorang teman saya, “Mau jadi apa kamu setelah lulus?”, saya menjawab dengan spontan, “Saya tertarik pada penyakit infeksi, maka mungkin Ilmu Penyakit Dalam menjadi pilihan saya” yang kemudian saya ketahui bahwa pilihan jawaban yang dia berikan adalah dokter praktik, peneliti, atau dosen. Teman saya pun senada, dia memikirkan kemungkinan untuk menjadi dokter bedah. “Oh, dokter praktik ya,” katanya. Dengan jiwa penjilat saya membayangkan menjawab, “Eh, tergantung ding Dok, kalau Anda mau mempromosikan saya supaya mendapat beasiswa di Universitas Anda di Belanda, saya mau kok, menjadi dosen atau peneliti, atau apapun yang disyaratkan, asal saya bisa sekolah ke luar negeri.” Tapi saya tahu mimpi harus dicapai dengan usaha. Semangat!

Jepara yang kata orang sangat panas dapat kami atasi dengan beberapa kipas angin yang kami bawa dari rumah. Panasnya udara Jepara terbayar oleh keindahan pantai-pantainya, pemandangan kota yang cukup rapi, dan kenyataan bahwa kami cukup bahagia di sini. Desa tempat kegiatan kami pun saya rasa jauh lebih maju dibandingkan dengan desa di Salaman. Sebagian besar rumahnya berlantai ubin, berdinding tembok, bertempat sampah, dan yang terpenting ber-WC. Mungkin sih, saya tidak yakin, karena kami tidak memeriksa kesehatan lingkungannya tapi mewawancarai WUS-nya mengenai riwayat imunisasi TT, yang belum tentu mereka tahu yang kami maksud. Dosen kami bertanya, “Bagaimana caramu memastikan bahwa imunisasi yang pernah dia dapat itu benar-benar imunisasi TT, bukan yang lain?” dan kami bengong tak mampu menjawab, dan beliau menyimpulkan bahwa data kami rawan untuk menjadi fiktif.

Hari-hari menuju penyelesaian makalah dan pembuatan flip-chart (lembar balik) sebagai media presentasi terasa sungguh panjang. Kami begadang beberapa malam. Saya sering melarikan diri dari kenyataan dan kewajiban, dengan tidur pulas di kasur sementara teman satu kamar mengerjakan dengan penuh semangat. Walhasil saya membuat mereka harus menunggu saya selesai sebelum bisa menjilid dan mengkopi makalah untuk dikumpulkan besok paginya. Di hari seminar saya sangat bersemangat untuk presentasi (lihat sebelumnya, bahwa saya memang berniat show-off di Mlonggo akibat tidak cukup terlihat saat di Salaman) dan merasa telah melakukan yang terbaik, termasuk saat ditanyai penguji. Alhamdulillah. Sungguh menyenangkan, public speaking itu, dibandingkan jika saya harus berbicara empat mata dengan seseorang. Wejangan dokter saat di Puskesmas ditambah pengalaman buruk saya saat penyajian kasus di stase anak kemarin cukuplah menjadi pelajaran, supaya saya mematuhi aturan penting itu: presentan harus menguasai materi, media yang ditampilkan harus menarik, hanya menampilkan poin penting, dan dalam satu halaman berisi maksimal 12 baris.

Hari-hari selain perjuangan mengumpulkan data, menulis makalah, dan berjalan-jalan ke pantai (dan air terjun, dan rumah makan, dan lain-lain) diisi dengan kejutan kecil dari dr. Nurkukuh, yaitu martabak telur pada malam Minggu, dan arem-arem pada Minggu paginya. Subhanallah, Anda sangat perhatian Pak. Kami tahu Anda mencintai kami. Betul kan Pak… Bukan, bukan karena saya mencintai makanan sehingga siapapun yang memberi saya makanan gratis (dan enak!) membuat saya terpesona. Bahkan saya berusaha merasionalisasi, bahwa beliau semata kasihan pada kami yang tidak pulang pada hari Minggu pertama karena kunjungan si bule sehingga makanan mungkin dapat cukup menghibur. Namun ternyata bukan hanya martabak atau arem-arem itu yang membuat saya menyimpulkan bahwa beliau mencintai kami. Beliau begitu sabar, dengan cara yang unik. Kata teman saya, “We can feel his love.” dan saya jawab, “Yes, the love is in the air.” Teman saya itu pula yang membuat saya lega, saya bukanlah satu-satunya orang yang merasa sedih (dan hampir menangis) pada saat pertemuan dengan beliau sore itu, yang sekaligus merupakan pengarahan terakhir dan perpisahan.

Pulang dari luar kota [IKM #1]

Banyak kutipan penting yang aku dapat dari luar kota. Terlebih lagi Jepara, di sebuah kecamatan bernama Mlonggo.Banyak pula perasaan penting yang kurasakan, sebagian berupa benci, sebagian lagi kesal dan sebal, dan sebagian lagi cinta. Tentang orang, tentang lingkungan, tentang diriku sendiri.

Bagaimanapun, kami sepakat teriakan paling keras untuk stase IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat) sampai detik ini adalah, “We can feel the love in the air!!!”

Bukan, bukan bahwa IKM bisa banyak jalan-jalan dan makan-makan (walau itu lumayan benar). Bukan pula bahwa IKM adalah stase cinta di mana siapa bisa bertemu siapa dan berpacaran. Bukan keduanya!

… Dan, tentu saja, selama ini pertanyaanku belum terjawab, keherananku belum terpatahkan, “Ada ya, dokter yang mau mengabdikan diri pada IKM,, sangar ik”

Jadi… Suatu hari, pasti, akan kutulis jurnal ‘rapelan’, berdasar ingatan.. Bahwa aku benar-benar belajar sesuatu di sana, baik di Salaman maupun Mlonggo. Bahwa cinta di IKM bukanlah cinta jalan-jalan atau cinta pada seseorang. Bahwa kekagumanku pada ‘orang-orang IKM’ belum juga usai.

Kesimpulan sementara tentang IKM,

Memang saat ini dampak belum bisa tampak, tapi liat saja nanti! *insya Allah, amin*

Kutipan Penting tentang Kehidupan

Di ruang keluarga rumahku di pagi hari,

“Sama keluarga aja nggak peduli, gimana tuh nanti kalo jadi dokter, kalo nggak peduli sama orang lain?!”

Ibuku yang cantik jelita.

Di ruang direksi lantai 3, setelah evaluasi,

“Kok gitu aja nggak ngerti. Jangan cuma glundungan, trus kalo ujian berharap dapet dosen penguji yang baik hati. Jangan gitu.

Keluar dari Anak kamu harus ngerti…”

dr. BS, Sp.A(K)

Di ruang residen lantai 2, suatu siang,

“Banyak salahnya Dai. Berarti kamu nggak bisa maju dalam waktu dekat lho.

Lha kamu

ngumpulinnya telat,”

dr. ANRS

Di bangsal lantai 2,

“Jadi dokter harus mengesampingkan kepentingan pribadi. Saya ngerti kalian kalo siang hari harus stase cicak-cicak di dinding di lantai 3, kalo jaga malem harus bagging, tapi kamu jangan sampai melupakan pasien. Pasien itu nomer satu.”

dr. AP, Sp.A(K)

Di ruang supervisor lantai 3,setelah ‘diskusi tambahan’ pascalaporan pagi,

“Nggak apa-apa dik, wajar kalo kamu nggak bisa. Itu kan kompetensi residen, bukan ko-ass,”

dr.AF

Di ruang ko-ass lantai 2, Desember 2008,

“Aku nggak peduli mau dapet nilai berapa, yang penting keluar dulu dari sini, lulus”

AFF, S.Ked.

Di ruang A lantai 3, laporan pagi di minggu pertama,

“Setiap ada kasus, dirubung ya!”

“Jangan mau cuma nulis doang. Tanya dong, tanya!”

dr.W.,Sp.A.

Di ruang Perawatan Bayi Risiko Tinggi saat menjadi MV (Manual Ventilator),

“Aduh, dik ko-aaaaas, dik ko-ass… Kok bisa lepas sih, ET-nya… Kok nggak lapor?! Musti dipasang lagi deh. Kamu tuh ya.. Kamu tuh, bagging kok duduk santai.. Diliat dik, udaranya masuk nggak… Kalo lepas ya langsung lapor! Ck ck,,”

dr. DR

Di lantai 3, saat laporan pagi, dan saat evaluasi,

Jangan asal njawab ya. Dipikir dulu.”

dr.BS,Sp.A(K) dan dr. K, Sp.A(K)

Di ruang High Nursing Dependency saat menghisap lendir pasien dengan alat suction,

“Kok gitu sih dik, baru pertama kali suction ya?! Belum pernah diajarin temenmu?”

dr.OD

Di rumah seorang sahabat, hampir 4 tahun yang lalu,

“Di kedokteran itu nggak ada orang yang bodoh. Kamu hanya perlu rajin. Kalo nggak bisa, maju terus, pokoknya maju terus. Pokoknya harus rajin mengejar ketinggalan”

dr.AP, Sp.A(K)