Jakarta hujan

Blog ini juga kuputuskan menjadi tempat aku mencatat race recap alias kisah aku berlari.

Baru bulan lalu kuputuskan untuk ikut serta dalam Jakarta Marathon 2016. Kami tiba di Jakarta dengan kereta Sabtu subuh, setelah drama aku ketinggalan kereta yang tidak ingin kubahas sama sekali. Rombongan kami adalah aku dan beberapa mahasiswa penggila lari, dan Pak Erie, guruku yang gila lari juga. Beliau pernah jadi tokoh juga dalam kisahku yang tentang kram itu (haha gak jelas ya).

Beberapa minggu sebelum Jakmar memang beredar ramalan cuaca bahwa hari-H akan hujan lebat. Tentu saja BMKG benar, kami berlari dalam hujan! Kesannya? Dingin, tidak ada risiko heat-stroke atau dehidrasi. Namun sayangnya baju dan dalaman jadi menempel ke kulit dan menimbulkan lecet di sana sini yang wadaw banget.

Kami tiba di garis start tepat waktu tapi aku butuh ke toilet. Kami putuskan start dulu dan ke WC manapun yang kutemukan di km 2 atau 3. Di km 10 perut kananku nyeri. Oh side stitch (sudukan) nih, kupikir. Tapi nyeri sepertinya sedikit di bawah, jadi mungkin ini nyeri dinding depan perut yang memang sudah ada hernia insisionalis (dinding perut tidak menutup sempurna akibat dokter bedahnya tidak menjahit full waktu aku operasi pengangkatan usus buntu di umur tujuh). Sejauh 3 km aku berlari sangat lambat dan mengatur napas (untungnya rajin yoga), ditemani teman kecilku bernama Lucky (ig: lukriboo). Setelah lepas dari nyeri kram perut itu (alhamdulillah, hilang sama sekali sampai finish!), giliran Lucky yang nyeri telapak kakinya. Selain itu, kami menikmati lari kami yang pace 7:30 sampai 8:30. Di km 22 kami baru menemukan pak Guru dan 2 mahasiswa yang memang janji mengawal bapak sampai finish. 

Sejak km 24 aku kelaparan. Ingin berhenti saja dan makan ke warung. Kepala pening, kupikir oh mungkin hipoglikemi. Maka aku mengambil semua buah yang mungkin kuambil (jeruk baby, jeruk biasa, apel, semangka dan semangka lagi) beberapa km sekali  demi menyetor gula ke darahku. Oh Jakmar kategori Full Marathon memang surga buah, aku bahagia (karena buahnya sudah dipotong, siap makan, haha).

Sejak km 22 itu pula aku dan Lucky jadi mengikuti ritme pak Guru yang jalan-lari. Ya, betul, masih ada 20 km dan kami menyelesaikan sampai finish dengan jalan kemudian lari kemudian jalan lagi. Sepanjang jalan kami mengobrol, atau mengeluh, atau aku ribut “kalau jalan terus kayak gini kita finishnya COT (cut-out time alias batas akhir finish yang berhak mendapat medali) lho,” dan kalimat serupa.

Beberapa komunitas yang menggelar lapak gratis seperti buah, bahkan arem-arem dan klepon, sungguh membahagiakan. Belum lagi tulisan-tulisan penyemangat semacam “Lari woi, ini bukan gerak jalan.” Atau “Mbahku barusan lewat.” Dan teriakan mereka “Ayo mbak, semangat, 1 km lagi.” (Kujawab, ah masih 2 mas, jangan php hahaha).

Yang kuingat adalah hujan dan obrolan segala macam. Beberapa artis kulihat (peserta lari atau tim support di sisi jalan), dan pelari kawak juga. Beberapa km sekali aku sibuk bersyukur bisa berada di jalanan dan berlari. 

Di km 37 satu mahasiwa nyeletuk bahwa inilah titik jarak di mana marathoner merenungkan hidupnya. Mungkin dia benar, karena beberapa km sebelumnya (lah, jadi bagiku mungkin km 35?) aku masih saja teringat dengan kisah cintaku yang terlalu prematur untuk kandas. Hahaha anyways, kami kemudian mendiskusikan tentang kenapa kami lari (sambil lari, emang edan kabeh). Tungkai bawahku sudah terasa sakit sejak km 17 tapi aku tidak mengeluh, hanya beberapa kali stretching betis dengan anehnya (semacam lunges haha, but it worked).

Begitulah, rasanya 6 jam 20 menit untuk jarak 42,2 km itu lama sekali. Every kilometer seems so far away hahaha. Tapi akhirnya kami finish juga. Tinggal bertiga (dengan pak guru), yang dua orang termasuk Lucky sudah finish. Kami mengatur langkah dan lari bersama beberapa meter dari garis finish demi mencitrakan diri hehe.


Di Monas itu hujan deras jadi kami berfoto dalam hujan, menyapa beberapa orang, dan terpincang-pincang mencari taksi. Di hotel kami mengantri mandi sambil tertawa renyah menikmati kebersamaan (sepuluh orang di kamar itu, kamar yang late check-out untuk kami mandi). Memang ada satu pelawak dan satu objek bully dalam rombongan ini. 

Di Gambir kami makan sangat banyak (tentu saja ditraktir pak guru yang baik hati) kemudian mapan di kereta. Semua orang tertidur pulas kecuali aku yang sibuk membuat tulisan ini.

 I once said that I’d never run a marathon because it is not physiological. But here I am a proud marathoner. I then think that pain is indeed inevitable but suffering is optional. And I choose to endure.

Donor Darah dan Tes HIV

Di suatu akhir pekan yg sejuk di daerah Slawi bernama Guci, aku berkesempatan mendampingi para penghuni kantorku dalam sebuah acara kemah. Hari itu terjadwal bakti sosial termasuk donor darah.

Malamnya aku hanya tidur tiga atau empat jam karena perjalanan yg cukup panjang dan rapat persiapan yg lumayan mengurangi jam tidur. Pagi itu tenda donor darah bersebelahan dengan layanan pemeriksaan HIV gratis. VCT atau tes dan konseling sukarela ini memang diadakan salah satunya karena kita ingat bahwa angka penderita AIDS di Jateng tertinggi di Indonesia. Ada alasan lain pula, bahwa daerah wisata itu memang daerah risiko tinggi. 

Hari itu tugasku di pos pengobatan gratis, yang dimulai siang nanti. Jadi pagi itu aku putuskan donor dulu, sambil berharap tidak pingsan kemudian (aku pernah pingsan setelah donor, waktu itu aku sedang puasa sunah hahaha. Jangan ditiru). Setelah mendaftarkan diri untuk donor, aku diminta petugas untuk bergeser ke meja VCT. Saat melihat orang-orang diambil darahnya 10 cc, tiba-tiba aku memutuskan untuk melewatkan tes ini dan mau langsung donor saja.

Seorang teman berkomentar, “Lho kenapa gak VCT? Sekalian, gratis, cuma 10 cc. Biar tau, ayo.”

“Gak ah, males aja.”

Sampai beberapa menit kemudian aku masih merasa merugi karena melewatkan VCT itu, terutama karena komen satu teman itu.  Penyesalan kedua adalah saat menyadari betapa menggelikannya berpikir “ngeri aja diambil darahnya 10 cc” saat jelas-jelas lengan kananku terpasang jarum 16G dan darah 350 cc keluar dari tubuhku.

Oh, terkait aku tidur larut di malam sebelumnya, aku merasakan pening pascadonor “kalau aku tahu mbaknya kurang tidur, gak kubolehin donor tadi!” Seru dokter PMI padaku setelah menyuruhku menambah 15 menit berbaring di field bed donor. Sampai malam aku masih saja pening, dan curiga tekanan darahku memang tidak pernah mencapai 100 milimeter air raksa untuk sistoliknya. Sepanjang hari aku makan dan makan untuk “mengembalikan darah”ku haha. Selama itu pula teringat bahwa saat donor itu aku sempat mengobrol dengan ibu petugas.

“Bu saya semacam menyesal tidak VCT.” Aku memulai curhatku.

Singkat cerita, berikut kesimpulan hasil obrolanku. Ternyata sebagai pendonor rutin, aku akan mendapat info dari PMI jika darahku terinfeksi HIV (atau penyakit lainnya yang diskrining, seperti hepatitis B dan C dan sifilis). Menurutmu? Tidak ada info tentang itu yang masuk ke hapeku, atau surat datang ke inbox emailku, atau ke rumahku, seumur hidupku menjadi pendonor. 

Aku simpulkan sampai terakhir aku donor, darahku bebas HIV. Donor terakhirku sekitar akhir tahun lalu. 

Tahun ini apakah aku berisiko terpapar sehingga harus cek HIV ulang? Aku bekerja di RS dan pernah menjahit luka terbuka, tapi tidak lebih dari itu, dan tidak pernah lupa menerapkan general precaution seperti cuci tangan dan memakai handschoon.

“Jadi aku akan tau dari PMI kalau darahku yg kudonor hari ini terinfeksi HIV kan bu?” Tanyaku menyimpulkan.

“Iya lah, mbak. Pasti diberi tahu.”
Jadi aku lega akhirnya donor lagi (dalam keadaan safar dan kurang prima), dan berharap tidak pernah ada kabar dari PMI tentang apapun kandungan dalam darahku.

Sekian.

Mari donor darah. Mari tidak melupakan bahwa PMI hampir selalu defisit kantong darah, apapun golongan darahnya.

More crossroads

Suatu hari dalam perjalananku menyusuri jalanan, sendirian, aku bertemu persimpangan. Belum lama berjalan, rasanya, tibalah aku di persimpangan itu. Sangat polos, aku tidak menduganya. Kupikir tidak akan ada cabang dari jalan ini, jika pun ada, tidak sedekat ini.

Persimpangan itu sungguh ramah, karena ada papan petunjuk arah. Berapa jauh ke destinasi A dan berapa jauh ke destinasi B. 

Aku memilih terduduk di pinggir jalan itu dan menangis. Sebentar lagi aku akan bertanya pada sang Raja, yaitu hatiku, apa yang dia mau. Karena aku patuh padanya, akulah budak setianya, walau sering tampak berontak atau membangkang.

Aku akan bertanya sebentar lagi, segera setelah air mata di pipiku ini mengering. Tunggu ya, rajaku.

Aug 26, 2016

Sejenak Mesotonik

Kadang sulit untuk menulis bukan tentang perasaanku, atau hal-hal sepele yang terjadi di sekitarku. Jadi memang sebagian besar tulisan di blog ini adalah curhat sang penulis.

Anyways.. Aku ingat kuliah tentang psikologi (entahlah jaman kapan itu, rasanya sih aku kuliah kedokteran, tapi kok ada secuil tentang psikologi ya haha), satu dari banyak sekali pembagian tipe kepribadian adalah berdasarkan bagian tubuhnya yang dominan.

Manusia itu dibagi tiga, yaitu serebrotonik, mesotonik, dan viserotonik. Yang pertama adalah orang-orang yang sangat suka dan sering berpikir, yang kedua adalah orang yang otot-ototnya aktif seperti olahragawan, dan terakhir adalah orang-orang perasa, yang hobi merasakan.

Beberapa minggu terakhir aku sedang merasa terlalu peka, sehingga mungkin aku sebenarnya tergolong viserotonik. Aku terlalu banyak menangis tanpa alasan yang jelas (sehingga jadilah tulisan “sobriety lane” itu), dan sering sedih tanpa berniat menghibur diri (kecuali makan es krim coklat, aku akan selalu mau). 

Kebetulan pula bulan ini adalah musim kompetisi lari terjauh dalam sebulan oleh ikatan alumni SMA keren tercinta itu, sehingga setidaknya aku harus bersemangat berkontribusi seperti tahun lalu. Saat berlari tentu aku berubah menjadi manusia mesotonik karena otot-otot tungkai sangat kubutuhkan, selain juga otot-otot pernapasanku.

Selama atau setelah lari itu aku sejenak melupakan air mataku dan kesedihanku. Rasanya para ototku yang penat saat dan pascalari berbisik pada organ-organ dalamku, “Berikan nyerinya pada kami, sekali ini saja biarkan kami yang menanggung deritanya.” 

Tiba-tiba saja saat itu aku lalu menyimpulkan, bahwa seorang individu terdiri atas sebagian serebrotonik, sebagiannya mesotonik, dan sisanya viserotonik. Kadar ketiganya mungkin fluktuatif dari masa ke masa, dan saat salah satunya terlalu timpang, mungkin melakukan kegiatan lain yang sangat berbeda bisa menyeimbangkannya.

Aku pun sempat terlalu sibuk mengurusi pekerjaan kantor (menurutku pekerjaanku sungguh menyenangkan, dan “aku banget,” jadi aku hampir selalu menikmatinya) saat episode sedih itu. Aku dipaksa berpikir keras dan cukup lama mengurusi sel kanker hadiah dari Profesor baik hati dari negeri jiran. Paham kan, aku sedang menjadi sangat serebrotonik ketika berpikir itu, sehingga lagi-lagi kelenjar lakrimalku tidak mendapat perhatian khusus. Singkatnya, saat itu aku tidak sesedih sebelumnya.

Aku kemudian menyimpulkan lagi, ketika terlalu sedih atau merasakan apapun yang negatif, penting juga untuk menggiatkan bagian tubuh lain. Contohnya otot-otot, dengan berolahraga (agar sejenak mesotonik), atau otak, dengan mengerjakan demanding task atau menulis proposal penelitian (agar sejenak serebrotonik). Dengan demikian, tubuh dan pribadi kita akan seimbang, dan kebahagiaan bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. ūüôā

Karena Aku Tidak Mau Seperti Itu

Lie To Me adalah suatu serial Amerika yang bergenre misteri dengan tokoh utama orang Inggris. Cal Lightman adalah seorang yang ahli membaca ekspresi wajah dan membantu polisi menyelesaikan kasus kriminal dengan kemampuannya itu. Tidak terlalu bagus sih ratingnya, tapi aku suka, mungkin karena seleraku adalah pria-pria seperti Cal itu, atau doctor House, atau Sherlock Holmes dalam serial Elementary. Entah kepribadiannya entah fisiknya hahaha. Absurd memang.

Selain Lie To Me, ada Elementary. Ini adalah serial gubahan dari kisah Sherlock Holmes, di mana seorang Sherlock yang orang London itu tinggal di New York City dan membantu NYPD sebagai konsultan alias detektif. Watson sahabat Sherlock tetap seorang dokter tapi di sini dia wanita. Aku suka episode terakhir (24) di musim 2. Di situ Sherlock relaps menggunakan heroin. Sepanjang seri dia sudah sepenuhnya sober, tapi itulah episode pertama yang menampilkan dia menjadi pengguna. Beberapa menit terakhir sungguh epik, menurutku. Di situ tampak Sherlock duduk di teras atas rumahnya, wajahnya pucat, sangat sayu dan matanya cowong, pandangannya kosong. Watson hanya bisa bertanya “Please tell me if you need anything.”

Episode itu membuatku mensyukuri hidupku. Perbedaan tampilan Sherlock sebelum dan sesudah jatuh pada adiksi sungguh ekstrim. Tukang riasnya keren, tentu. Tapi wajah itu membuatku membayangkan diri jika terkena pengaruh narkoba. You know, i dont want to look that lifeless. 

Dalam beberapa (ratusan?) episode saat aku merasa sangat sedih atau tidak berguna, sangat ingin lari ke hutan atau masuk ke inti bumi, aku bersyukur aku tidak merasa cukup putus asa untuk berkenalan dengan narkoba.

Somehow i am grateful, you know. Even until now. 

Board-like Muscles

Hamparan pasir keabuan terbentang selaksa karpet yang luas tak bertepi. Hangatnya mentari siang itu menyengat leher dan mengeringkan kerongkongan. Jam Garmin menunjukkan angka 11.40, dan telepon ketiga masih belum berbuah jemputan panitia.

***

Pagi itu kami berkumpul di rumah Pak Bambang, guru kami, untuk kemudian berangkat bersama ke selatan yang jauhnya 140 km dari rumah. Benar juga, akhir pekan yang panjang menjelang libur tahun baru China membuat jalanan padat merayap. Ditambah keinginan makan malam khas Jogja bernama Gudeg Wijilan, sampailah kami di penginapan tujuh jam sebelum pistol start ditembakkan (saat itu berharap ada pistol, jelas tidak akan ada).

Malam itu aku berbaring namun terjaga, menanti kabar dari salah satu anggota rombongan yang baru bertolak dari Semarang selepas matari¬†terbenam. Sejam sebelum alarm kami semua berbunyi, orang yang kutunggu¬†mengabari telah sampai dengan selamat, dan memutuskan berangkat bersama rombongan lain ke tempat start dan tidak mampir ke penginapan kami. Aku pulas sejam saja dan terpaksa bangun oleh ketukan Rizki di pintu kamar, “Bangun, bangun.”

Suasana garis start sangat gelap, karena subuh pun belum tiba. Lampu kepala berkilatan, warna-warni pakaian pelari berkilauan, satu dua wajah kukenal, sebagian adalah rombongan dari kotaku sendiri, sebagian lain adalah alumni SMA-ku dan seorang guruku di SMA, Ibu Ani. Sesaat sebelum start, kuputuskan berlari bersama mantan guru SMA-ku itu (mantan karena beliau sudah tidak mengajar), sampai sekuatku saja, karena rumornya beliau pelari hebat. Wanita 52 tahun ini terus berada di sebelahku sekitar 7 km pertama sejak start, menyusuri garis pantai, beradu dengan angin laut, bertolak di pasir gembur yang kadang terintrusi air laut.

Memang ada pepatah mengatakan “train hard, race easy” yang mungkin berarti¬†rajinlah berlatih agar saat perlombaan lari kamu bisa menang (atau mencapai finish, atau membuat catatan waktu yang baik) dengan mudah. Namun ternyata tidak semudah itu. Ada faktor X, Y, dan Z yang mempengaruhi the easiness of the race, despite your training and preparations. Seperti pagi itu, ketika aku memutuskan melepaskan diri dari Bu Ani¬†yang masih terus berlari dengan semangat “Ibu duluan saja deh Bu, maaf tidak ikut menemani,” dan memilih menunggu Rizki yang sedang kesakitan karena kram.¬†Seorang teman pelari melewatiku sambil berkata bahwa Rizki¬†sedang kram. Aku masih ingin berterima kasih padanya sampai tulisan ini dibuat, namun apa daya, aku lupa siapa orangnya.

Rizki¬†akhirnya muncul juga, diikuti sepasang kekasih, Putri dan Zayin, yang juga rombonganku, sehingga kami melaju berempat, belum sempat lari karena turunan curam menghadang di depan. Kramnya tampaknya sudah surut, jadi Rizki memutuskan untuk terus melaju, sampai tiba-tiba harus berhenti karena kram datang lagi. Jalan setapak turun yang¬†curam memang menuntut kontraksi otot betis dan sekitarnya, dan saat kram, semuanya akan memburuk. Saking sakitnya, kami berhenti beberapa menit dan dilewati beberapa pelari “Duluan aja Mas, Mbak, beneran gakpapa kok,” saat mereka menawari bantuan, walau aku sempat mengambil satu tube counterpain dari salah satu tawaran. Dua orang lain, Wahyu dan Yulian, memutuskan ikut berhenti sehingga kami berenam selama sejam berikutnya (beberapa menit kemudian kami sudah melaju lagi). Entah bagaimana, enam orang ini kemudian terpisah sehingga¬†tinggal aku dan Rizki, empat lainnya di depan dan belakang kami. Mungkin Wahyu dan Yulian sudah bergabung dengan teman-teman mereka.

Sejam lebih yang menyiksa, karena pemandangannya indah, udaranya sejuk, jalanannya relatif datar dan tidak curam atau licin, tapi Rizki diam seribu bahasa. Sama saja lari sendiri, pikirku. Tapi berjam-jam setelahnya kusesali pikiran itu, karena kemudian aku menyadari dia sedang berjuang mencegah kramnya kambuh sambil berkonsentrasi dengan rute lari, dan mungkin menahan sakit tanpa mengeluh satu napas pun.

Pos minum terakhir yang tidak kunjung muncul akhirnya tampak juga, dan setelahnya terasa ringan (hore, lima kilo lagi sampai finish, mungkin jam sepuluh bisa nih), namun apa yang kemudian terjadi di medan pasir itu tidak terbayangkan sama sekali.

***

Entah karena terik yang semakin lugas menyapa kulit atau kilauan pasir di bawah telapak kaki, jalan menuju finish terasa tak berujung, ditambah kesunyian tanpa kata. Dendang lagu “Memulai¬†Kembali” olehku hanya bertahan dua baris kemudian aku menyesali nada tinggi yang kuambil. Di hampir setiap turunan, aku mendahului Rizki, kemudian di akhir setiap turunan aku menengok ke belakang memastikan dia turun dengan aman, tanpa kram.

Turunan terakhir (karena setelah¬†itu aku mengambil short cut sampai finish), aku meninggalkannya jauh di¬†belakang (kok lama sih, pikirku) sampai terdengar teriakan kesakitan. Aku menoleh, dan kulihat Rizki¬†berdiri membatu dengan kedua lutut menekuk dan posisi hampir rukuk,¬†tampak sangat kesakitan,¬†“Aaaaaarrgh.” Aku berlari mendekat, teriakan bertambah keras dan bernada tinggi. Tampak jelas kakinya menegang, sehingga aku semakin cemas. Aku segera mendekat dan berlutut, mengecek otot betisnya yang ternyata sekeras papan kayu. Oh tidak, pikirku. Bagaimana ini,¬†aku harus apa, aku panik. Counterpain-ku menipis dan baru akan¬†kukeluarkan dari kantong celana.

Beruntung sekali saat itu ada beberapa pelari lain di depan kami. Satu orang berbalik arah mendekati kami dan seperti memberi komando, “Tenang Mas, tenang, kalau panik nanti tambah kram. Tenang sekarang! Rileks¬†Mas!!” Sepertinya Rizki¬†patuh dan beberapa detik kemudian betisnya lebih lunak. Oh, aku sungguh lupa detil kejadian saat itu (atau aku supresi saking ngerinya), jadi aku lupa apakah hitungan detik atau menit sampai ‘papan kayu’ itu melunak. Yang jelas aku dan bapak¬†pelari kurus baik hati itu membantu Rizki¬†untuk duduk di pasir panas demi mengurangi kontraksi tungkai.

Beberapa detik berlalu dengan sangat lambat, namun anehnya aku lupa detilnya. Aku tidak ingat apa saja yang terjadi, apa saja usaha yang kulakukan saat itu selain mengangkat tinggi tungkai¬†Rizki satu per satu dan mencoba dengan asal meniru gerakan fisioterapis saat membantu pelari dalam event lari Desember lalu. Lama sekali sampai akhirnya Putri dan Zayin¬†muncul, “Tadi yang teriak itu kamu, Kak?” tanya Putri padaku.

Beberapa menit berikutnya sungguh tak terbayangkan. Kami berempat di tengah gurun pasir (yang ternyata masih 2 km lebih menuju finish, bukan 1 km seperti kata salah seorang pelari yang saat itu tentu saja belum finish) mencoba menahan panas dan berharap kram segera reda sehingga kami bisa segera berjalan bersama menuju finish. Counterpain sudah habis, pijatan sana sini sudah dilakukan, namun keluhan belum juga mereda.

Aku sempat meraih ponselku dan kutekan nomor Mas Wardana yang aku kuduga adalah ketua panitia event lari ini, melaporkan keadaan darurat dengan lokasi yang tidak akurat, dan memastikan dia mendengar kata-kata “butuh evakuasi” yang kuucapkan. Aku melirik¬†Rizki mendengarku dan beberapa saat setelah itu dia tampak¬†menerima kenyataan bahwa dirinya harus dievakuasi. Aku mensyukuri umur bateraiku yang masih panjang sehingga aku sempat menelepon beberapa orang lain termasuk Tri, anggota rombongan, dan Mas Willy, senior di sekolah yang di start sempat menyapaku, “Aku gak ikut lari, medis aja.”

Segelintir pelari Semarang mendekat, mereka ini temanku berlatih untuk¬†event ini. Salah satunya bernama Mas Santosa¬†memutuskan tinggal, dan beberapa kali aku berkata “Makasih ya Mas,¬†for sticking with us,” yang selalu dijawabnya dengan semacam “Sudah kewajibanku.” Mas Santosa¬†ikut¬†menelepon sana sini, membantu dengan ransumnya, dan empati menyalahkan panitianya sungguh membuatku merasa lebih baik. Mas Santosa¬†juga yang bersamaku berjalan menuju finish, “Ayu,¬†we shall finish what we have started. Let’s finish this race.”¬†

Delapan puluh menit di bawah terik mentari membakar leher Zayin, menguras energi kami, mempercepat napasku sendiri, dan mungkin melenakan pikiran jernihku. Dari sekian banyak pilihan: 1. Menghentikan beberapa pelari untuk bersama mengangkat teman yang kram ke bawah pohon rindang terdekat, untuk dievakuasi, 2. Evaluasi rutin kram, jika sudah bisa berdiri dan berjalan pelan, dia bisa dibantu berjalan¬†menuju pohon rindang terdekat untuk dievakuasi, 3. Konsul via telepon ke Pak Bambang yang sangat¬†berpengalaman dalam kegawatdaruratan¬†untuk langkah selanjutnya; tidak ada satu pun yang terlintas saat itu. Hanya Tuhan Yang Tahu mengapa kami memilih percaya pada jawaban Mas Wardana di seberang sambungan telepon, “Panitia akan segera datang menjemput.”

Delapan puluh menit itu diwarnai dengan beberapa teriakan Rizki, “Aduh! Sekarang kram betisnya, betis kanan, ah!” atau beberapa tempat lain seperti paha atau telapak kaki atau perut atau diafragma atau dada. Beberapa kali keluhan Putri, “Aaak, sakit perut,” dan banyak sekali pertanyaan dari kami semua, “Ini panitia mana sih?”

Ada satu masa di mana tiba-tiba Rizki¬†tak bersuara. “Ki,¬†bangun, bangun, jangan merem, plis” kataku. “Iya, iya.” jawabnya segera¬†sambil berusaha melek. Beberapa saat yang lain dia sangat lancar berbicara, “Kakiku tolong diturunkan pelan-pelan, nah gitu, betisku tolong diurut dari proksimal ke distal,”¬†atau “Siapa itu? Oh, fotografer itu ya?” saat aku menyapa seorang dari rombongan pelari Bandung yang melewati kami. Kadang aku heran dengan kejernihan pikirannya di saat genting seperti itu. Aku saja ingin mandi air sirup dingin saat itu juga, berharap dingin dan manisnya bisa membangunkan¬†otakku. Episode-episode itu berlangsung acak dalam ingatanku saat aku menuliskannya kembali. Termasuk saat Putri menawari “Nih minum Pocari lagi, habisin,” yang dijawab Rizki, “Udah kembung Pocari,”

Di tengah teriakan kesakitannya,¬†Rizki¬†sempat berbicara tidak jelas, sepertinya memberi instruksi padaku soal letak kramnya, kemudian tiba-tiba,¬†“Aduh, aku pelo. Aku pelo!” Tanpa aku menyadari arti pelo saat itu (mungkin karena saat itu aku mau pingsan, atau aku panik, tidak yakin yang mana), aku bertanya ke semua orang (yang cuma berlima termasuk aku), “Masih ada air? Siram¬†ke wajahnya, sekarang.”

Masih belum puas, aku bertanya lagi, “Siapa punya madu? (Aku, Kak, jawab Putri) masukin ke mulutnya.”

“Lho Kak, tapi dia gak mau tadi.” jawab Putri yang dari tadi ditolak Pocarinya.

“Masukkan sekarang, anggap itu injeksi D40 tapi peroral.”

“Ini (pelo) apa,” kata Rizki sambil terus mengeja huruf r berkali-kali.

“Gakpapa, transien aja.” (atau aku mengucapkannya dalam hati? Duh, lupa.)

Beberapa menit berikutnya terasa lebih mencekam karena sempat terucap kata ‘pelo’ tadi. “Mas, airnya disiram ke wajahnya lagi,” perintahku yang sudah semakin terdengar bossy ke¬†Mas Santosa. “Kamu bangun, Ki, jangan merem, bangun, ayo mikir habis ini mau ke IGD bedah atau penyakit dalam,” tanyaku demi membuatnya tetap terjaga. “Gak kok, udah gak perlu ke IGD,” jawabnya. Putri dan Zayin¬†masih setia menaungi temannya yang kram itu dengan jaket parasutku yang disangga dengan lengan mereka, yang segera diganti dengan ponco tebal yang lebih lebar.

Di sela-sela kalimatku yang makin meracau, “Makasih ya, Putri, Zayin, sudah mau berhenti di sini, panas-panas, mungkin ini 40 derajat ya?” Mas Santosa bertanya serius mengapa Rizki bisa kram separah ini. “Mungkin kurang latihan ya,” gumamnya, yang segera kujawab, “Latihannya sempurna, Mas. Dia latihan HM (half-marathon) dengan pace 5 baik-baik aja tuh, gak ada keluhan, tapi tiap event kok gini.¬†Kemarin Jakmar juga kan, Borobudur juga.” Rizki menanggapi bahwa dirinya sempat tersesat 3 km, dan¬†bahwa dia yang bertugas menyetir. Tidak ada yang menjawab. Semua setuju, dan sudah sangat mengharapkan tim evak datang.

***

Evakuasi dilakukan setelah Rizki¬†berdiri dan dipapah menuju motor, setelah berdebat apakah harus duduk miring seperti perempuan yang memakai rok, atau duduk melangkah. “Udah nyemplo aja,” kataku, yang dijawab panitia, “Nyemplo tuh apa, Mbak?”

Sepanjang jalan aku mengomel soal¬†kepayahan panitia. Aku dan Mas Santosa¬†menolak beberapa tawaran motor panitia, “Evakuasi ya Mas, Mbak?” walau aku tidak menolak dua botol minum dingin manis dari mereka. Beberapa kali aku meminta maaf pada Mas Santosa, “Maaf ya Mas aku sepertinya dehidrasi jadi delirium, banyak omong begini.”

Sejam setelah evakuasi, Rizki¬†sudah mandi dan berpakaian rapi ketika aku akhirnya mencapai finish dengan Mas Santosa.¬†Aku sempat mengomel pada panitia di garis finish yang mencatat waktu finishku, dan sempat ingin marah ke mas Wardana, namun saat aku menyalaminya, “Kok gitu sih Mas.. Mas gak tau tadi keadaannya kayak apa..” terpaksa kuakhiri karena air mataku sudah tak terbendung dan aku harus segera berlalu. Aku malu terlihat lemah. Aku merasa cukup sopan masih menyempatkan mendengar pembelaan dirinya, “Maaf ya Mbak, pada saat yang sama di tempat-tempat lain banyak yang butuh bantuan, Mbak.”

***

Malamnya aku sampai di rumah dan kelelahan sehingga tertidur tanpa mencuci muka.

Esoknya dan sampai dua hari berikutnya aku masih meneteskan air mata mengingat kejadian otot yang menjelma sekeras papan kayu itu. Sesekali gondok melihat sebaran foto teman-teman di garis finish, menyesal memilih membuang waktu berjalan ke finish bukannya ikut dievakuasi panitia dengan motor sehingga bisa berfoto dan makan siang. Namun lebih banyak merasa lega telah memutuskan berdiri diam dilewati pelari-pelari demi menunggu Rizki yang belum tentu kesakitan (bisa saja kramnya sudah teratasi dan tidak akan kambuh, kan?), bukannya terus bersama bu Ani sampai finish, dan memilih melangkah dalam diam sepanjang jalan bersama Rizki, bukannya jengah kemudian meninggalkannya.

Demi Tuhan Yang Maha Tahu Segala, mungkin juga jika aku segera jengah karena didiamkan selama sejam saat hanya berdua itu, aku mungkin menyarankan Rizki untuk menyerah saja, sehingga kejadian mengerikan tidak perlu terjadi, sehingga dia selamat dari dehidrasi dan hipoglikemi itu.

Atau, jika aku terus berlari bersama bu Ani dan akhirnya finish lebih dulu, mungkin siapapun yang saat itu bersama Rizki mengambil keputusan yang lebih bijak dibanding aku, sehingga mungkin evakuasi dilakukan lebih dini di pos minum terakhir, atau beberapa pelari berhasil diminta untuk mengangkat Rizki ke tempat yang lebih manusiawi.

Namun Demi Tuhan, kita ini bukan orang yang berandai-andai dengan masa lalu. Semoga ada sedikit pelajaran yang dapat dipetik dari ceritaku ini. Rizki sudah sembuh, jika kalian penasaran. Sangat sehat dan sepertinya sudah bersemangat lari lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mikrobioma dan Cinta

Siang itu sungguh terik, aku ingat sekali saat berjalan dari warung belakang kampus. Aku naik ke aula untuk mengikuti kuliah tamu seorang Profesor dari Perancis.

Pak Profesor adalah tipikal guru yang mempesona, berusia sekitar 60-an, tidak obes bahkan langsing, murah senyum, menjelaskan dengan sabar dan runtut dan mudah dimengerti, serta melawak setiap beberapa slide. Bahasa Inggrisnya nyaris sempurna (terpaksa harus menemukan satu kesalahan pengucapan saja, itu pun mungkin karena pengucapan bahasa Perancisnya seperti itu), dengan logat sengau yg kurang kental.

Aula perlahan dipenuhi peserta, beberapa ada teman seangkatanku yang menjadi residen, dan sebagian besar mahasiswa S1. Aku memilih duduk di sebelah seorang residen interna, teman berenangku yang juga teman seangkatanku. Ada seorang bule cantik di sebelah pak Prof yang ternyata adalah perwakilan dari IFI. Slide kuliah hari ini mungkin hanya sekitar dua puluh halaman namun tiga puluh menit kuliah itu terasa berlalu dengan cepat.

Laiknya guru besar di seluruh dunia, slide pertama langsung menggugah audiens. Beliau mengingatkan bahwa kita ini jauh lebih muda dibanding para kuman dan virus, karena mereka sudah menghuni bumi jutaan tahun lamanya. Manusia hanyalah makhluk kemarin sore, itu pun hanya bisa bertahan dengan keberadaan kuman dalam tubuhnya.

Semakin dalam penjelasan beliau, aku semakin terbiasa dengan bahasa Inggris yang indah dan tertata. Kadang kalimatnya panjang, sampai aku perlu fokus dan mengindahkan hapeku sendiri.

Mikrobioma dan metagenomiknya. Topik ini baru bagiku walau mikro merupakan mata kuliah favoritku selain faal dan interna. Sang Prof menjelaskan bahwa keberadaan kuman komensal memungkinkan perkembangan normal otak, sistem imun, tulang, dan sistem organ lainnya. Tanpa mereka, apalah kita.

Mekanisme pentingnya penjajahan (maksudnya kolonialisme) kuman atas tubuh kita ini tentu via inflamasi fisiologik yang akhirnya mempersiapkan tubuh menghadapi penjahat sesungguhnya; yaitu kuman patogen.

Aku jadi ingat dia (bukan Pak Prof) yang membuatku terpapar pada kenyataan bodoh bahwa aku mengharapkannya tanpa bisa bertindak nyata.  Tiba-tiba aku berharap kebodohanku selama ini bisa berguna untuk akhirnya menguatkanku menghadapi dunia. Aku membayangkan menjelma usus besar yang dihuni kuman. Kuman-kuman itu membuatnya terpaksa memproduksi sitokin-sitokin yang mungkin membuat tidak nyaman namun jelas dengannya, si colon semakin tangguh dan matang.

Sore itu aku keluar ruang rapat dengan agak loyo setelah menyadari aku belum makan siang. Sekotak utuh snack aku bawa pulang; oleh-oleh untuk bapak ibu. Dalam perjalanan aku membayangkan akan menulis blog ini, mengingat beberapa detil dan memastikan judulnya harus berima.

Semoga para pembaca memaklumi perasaanku yang semakin menggila, dan menghargai usahaku menutupi semua perasaan demi sesuatu yang aku juga tidak yakin apa.