Resilience

Malam ini kuputuskan berkendara pulang tanpa jaket. Sore itu aku lari bersama beberapa teman. Lima kilometer dengan beberapa tanjakan, sebagai usaha mematuhi jadwal latihan menuju event besar bulan ini dan awal bulan depan.

Baju lariku basah oleh keringat, dan aku mengendarai motor melawan angin malam. Dingin menusuk tulang dan menggidikkan leherku.

Aku kuat. Dinginnya angin yang mengeringkan keringatku seperti dinginnya hujan. Entah mengapa rasa dingin mudah terkait dengan rasa sedih karena kesepian.

Setiap hampir menyerah, yaitu ingin menepi, dan mengambil jaket yang terlipat di dalam tas, aku membujuk diri lagi. “Tahanlah, Nak. Dinginnya angin malam ini tidak ada artinya dibanding dinginnya hatimu yang sepi.”

Jika seumur hidup single dan baik-baik saja, mengapa harus menggigil dengan dingin di kulit yang akan segera mereda? Aku bisa kembali hangat sampai rumah nanti. Aku resilient.
Krik. 
Udah ah.

Bhay.

Advertisements

Weary thirty

Dear my online diary which everyone can see,

I am thirty already and I am not at my best state of faith. That is a shame because I have been better in some variables. A few among them are fasting and Quran recalling. In other aspects, I doubt that I am better than my past, too. The irony is, at this low state, I am asking Allah one of the biggest provisions: a righteous husband.

How come I ask the biggest thing but I don’t even try to be the best slave to Allah? This does not make any sense but Allah’s Mercy is abundant and does not have to make sense.

So here I am wondering how far I have come in this life. How Merciful Allah Has Always Been to me. So I strive, hopefully the faith left in my heart grows bigger and I may die as a pious slave, married or not. Aamiin.

Carried Away by Feelings (Baper)

Judul harus catchy dong. Hahaha.

Singkat cerita ada orang yang membatasi diri dalam bergaul secara umum dan berprinsip tegas untuk tidak berpacaran demi menjaga hatinya dari keterlenaan pada dunia dan jelas demi menjauhi zina. Ada pula orang yang supergaul, sangat ramah, punya banyak teman, bersahabat dengan lawan jenis, dan terkesan tidak berhati-hati dengan hatinya sendiri, walau kenyataannya hanya orang itu yang paham tentang apakah hatinya terlena atau tidak.

Menurut bahasa Jawa, kata agama itu seakar dengan ageman yang artinya pakaian, yang fungsi utamanya adalah melindungi manusia dan mungkin memperindah juga. Agama yang saya tahu mengatur pergaulan sedemikian hingga tidak diperbolehkan adanya kedekatan fisik maupun hati antara pria dan wanita, kecuali mereka menikah. Aturan ini banyak diperdebatkan, jelas, tapi tulisan kali ini tidak akan membahas itu. Tulisan ini patuh pada premis tersebut, untuk sebaiknya tidak berpacaran, namun sedang melirik para pelaku “banyak sahabat” yang tampaknya tetap bisa menjaga hatinya dari zina. Tulisan ini membahas orang tipe kedua yang disebut di paragraf awal, yang banyak sahabat dan gaul itu tadi.

Beberapa tahun terakhir muncul istilah baper, alias bawa perasaan, alias terlalu melibatkan hati dalam suatu hal, atau ge-er (gede rasa) atau emosional secara umum. Jangan libatkan hati, pakailah logika. Itu jargon antibaper masa kini. Maka dalam bergaul, sangat mungkin akan muncul teguran “jangan baper” setiap teman lawan jenis melakukan sesuatu yang menurut teman agamis tipe pertama adalah menjurus pada zina.

Saya semakin bingung mau nulis apa. Hahaha. Jadi, semakin hari, zaman semakin membolehkan perilaku kedekatan pria dan wanita yang agak terlalu dekat untuk sekedar dibilang sebagai berteman namun tidak cukup fleksibel dengan istilah pacaran. Pacaran ya aku dan kamu saling suka dan sepakat untuk eksklusif, sedangkan yang namanya ttm atau hts atau kakak-adek tetaplah bukan pacaran. Ditambah lagi, para pelaku ttm/hts/kakak adek ini mengaku tidak mudah baper, tidak pacaran, walau kenyataannya kegiatan mereka seperti orang berpacaran. Hm, semakin absurd.

Singkat cerita, orang kedua dalam kisah ini (lihat paragraf awal) mungkin hanya korban kemajuan zaman. Orang kedua ini justru dituntut menjaga hati dengan lebih ketat dibanding orang pertama yang jelas melabel diri “sori gan, ane kagak gaul, ane kagak pacaran, ngeliat cewek cantik lama aja langsung refleks nunduk, malu.” Analogi ekstrim penulis adalah, orang pertama tidak minum bir maupun wine demi tidak mabuk, sedangkan orang kedua tetap menghargai lingkaran sosialnya dengan tetap minum bir dan wine sambil terus menakar diri agar minumnya tidak sampai mabuk. Analogi ini ekstrim karena hukum bir dan wine sudah jelas, tidak pakai coba-coba.

Duh Gusti Paringono Jodho.

Aamiin.

 

 

 

A Shifted Arrow

Day to day i would like to have a cup of hot sugarless latte

And forget about my thesis

I would meet you today and tonight and tomorrow

Sharing my thoughts and my dreams and you would listen patiently

Day to day i would spend my energy watching you do your thing

I would help if i may but i am okay with just cheering and admiring endlessly

You know i dont mind if i resign tomorrow morning

Because i have what i need and i am happy

But life does not work that way

Sometimes my reality is unacceptable to others

Sometimes what i believe as a simple thing looks complicated and impossible

Often time what i need seems small and insignificant to others

But you know we all have God The Almighty, All-Knowing

I just keep the faith that i will be with you in my life, in this world and the hereafter

It might not be you, of course, i am fully aware

But I pray that God Made another one of you, to love me

So you see i am not that girl anymore

Who wants this and that, strives to be this and that, does these or those

I see my future being by your side

And do my thing and help you do your thing

And be forever grateful to have you in my life

But “you” here is non-existence.

I do not know where i am going now

My destinations are no longer “expert in medicine” or “author of inspiring books”

but simply a wife and a mother (if God Wills)

So i am on my way

The pathway with a newly shifted arrow

Shifted, not bent, not broken

And i am content

All Praise is only to God

Mikrobioma dan Cinta

Siang itu sungguh terik, aku ingat sekali saat berjalan dari warung belakang kampus. Aku naik ke aula untuk mengikuti kuliah tamu seorang Profesor dari Perancis.

Pak Profesor adalah tipikal guru yang mempesona, berusia sekitar 60-an, tidak obes bahkan langsing, murah senyum, menjelaskan dengan sabar dan runtut dan mudah dimengerti, serta melawak setiap beberapa slide. Bahasa Inggrisnya nyaris sempurna (terpaksa harus menemukan satu kesalahan pengucapan saja, itu pun mungkin karena pengucapan bahasa Perancisnya seperti itu), dengan logat sengau yg kurang kental.

Aula perlahan dipenuhi peserta, beberapa ada teman seangkatanku yang menjadi residen, dan sebagian besar mahasiswa S1. Aku memilih duduk di sebelah seorang residen interna, teman berenangku yang juga teman seangkatanku. Ada seorang bule cantik di sebelah pak Prof yang ternyata adalah perwakilan dari IFI. Slide kuliah hari ini mungkin hanya sekitar dua puluh halaman namun tiga puluh menit kuliah itu terasa berlalu dengan cepat.

Laiknya guru besar di seluruh dunia, slide pertama langsung menggugah audiens. Beliau mengingatkan bahwa kita ini jauh lebih muda dibanding para kuman dan virus, karena mereka sudah menghuni bumi jutaan tahun lamanya. Manusia hanyalah makhluk kemarin sore, itu pun hanya bisa bertahan dengan keberadaan kuman dalam tubuhnya.

Semakin dalam penjelasan beliau, aku semakin terbiasa dengan bahasa Inggris yang indah dan tertata. Kadang kalimatnya panjang, sampai aku perlu fokus dan mengindahkan hapeku sendiri.

Mikrobioma dan metagenomiknya. Topik ini baru bagiku walau mikro merupakan mata kuliah favoritku selain faal dan interna. Sang Prof menjelaskan bahwa keberadaan kuman komensal memungkinkan perkembangan normal otak, sistem imun, tulang, dan sistem organ lainnya. Tanpa mereka, apalah kita.

Mekanisme pentingnya penjajahan (maksudnya kolonialisme) kuman atas tubuh kita ini tentu via inflamasi fisiologik yang akhirnya mempersiapkan tubuh menghadapi penjahat sesungguhnya; yaitu kuman patogen.

Aku jadi ingat dia (bukan Pak Prof) yang membuatku terpapar pada kenyataan bodoh bahwa aku mengharapkannya tanpa bisa bertindak nyata.  Tiba-tiba aku berharap kebodohanku selama ini bisa berguna untuk akhirnya menguatkanku menghadapi dunia. Aku membayangkan menjelma usus besar yang dihuni kuman. Kuman-kuman itu membuatnya terpaksa memproduksi sitokin-sitokin yang mungkin membuat tidak nyaman namun jelas dengannya, si colon semakin tangguh dan matang.

Sore itu aku keluar ruang rapat dengan agak loyo setelah menyadari aku belum makan siang. Sekotak utuh snack aku bawa pulang; oleh-oleh untuk bapak ibu. Dalam perjalanan aku membayangkan akan menulis blog ini, mengingat beberapa detil dan memastikan judulnya harus berima.

Semoga para pembaca memaklumi perasaanku yang semakin menggila, dan menghargai usahaku menutupi semua perasaan demi sesuatu yang aku juga tidak yakin apa.

Semoga yang Terakhir Ya

Aku sudah mengikhlaskanmu sejak pertama kita bertemu. Bolehlah dibilang aku berharap kau melamarku (karena aku sudah kapok dengan pacaran). Boleh pula aku bagi di sini bahwa lamaran itu tidak mungkin karena satu dan banyak hal. Aku sudah lama ikhlas kau mendapat yang terbaik, karena begitu pulalah dirimu; kau yang terbaik menurutku.

Judul tulisan ini tentu saja adalah surat cinta untukmu yang mungkin sedang membaca ini. Aku tidak peduli tentang kamu membaca ini dan curiga bahwa ini kamu. Aku mempedulikan pertemanan kita yang tidak boleh rusak oleh keinginan hatiku ini. Biarkan ini berlalu seperti cinta-cintaku yang dulu, berlalu saja tanpa bekas, tanpa penyesalan.

Karena penyesalan bisa datang jika aku nekad mengatakan padamu bahwa aku ingin kamu untukku selamanya, bahwa aku mencintaimu sejak merasakan bahagianya diperlakukan dengan baik dan sopan olehmu yang hampir tidak mengenalku saat itu. Ingin sekali menangisi kelemahan hatiku yang mudah tersentuh oleh akhlak mulia seorang pria. Namun aku memilih mensyukuri rasa cinta ini.

Ada pertimbangan kamu mungkin mau saja melamarku, seperti misalnya kamu hampir tersenyum setiap melihatku (atau aku saja yang berwaham), dan bahwa aku termasuk dalam lingkaran kecilmu. Namun apakah itu semua perlu, jika mengingat kemustahilan lamaranmu karena kamu tidak pernah menunjukkan ketertarikanmu padaku, dan karena kamu melihat sifat-sifat burukku yang memang terlalu payah untuk diperbaiki dan aku pun setuju kamu berhak yang lebih baik dariku.

Lalu apa yang menggalaukanku jika kaulah mimpi yang takkan kuraih? Apakah karena keenggananku bangun dari mimpi indah ini? Doaku selalu; semoga kamu segera menemukan jodohmu sehingga aku tidak galau terlalu lama. Semoga kamu orang terakhir yang kucintai sedalam ini karena setelah ini semoga aku bertemu dengan calon suamiku. Dan tentu kamu orang pertama yang kuberi tahu siapa orangnya. Dan kamulah orang yang kusyukuri telah kukenal karena membantuku tumbuh dan berkembang menjadi lebih dewasa dan siap (untuk menikah, atau untuk dipanggil Tuhan).

Ternyata sangat lelah ya, jatuh cinta itu. Semoga aku tetap semangat. Mari sudahi saja surat ini. Aku cinta kamu dan semoga tidak dosa karena aku tidak berniat mengatakannya padamu. Percayalah sikapku tak akan berubah. Sudah begini sekian lama kan, dan akan selalu begini, insya Allah. Karena, kuingatkan ya, aku sudah mengikhlaskanmu sejak pertama kita bertemu.

Teori Psikologi untuk Jodoh

Sudah bisa diduga, sebagai seorang lajang keren topik favorit saya adalah jodoh. Banyak tulisan di blog ini yang membahasnya. Beberapa berupa kisah cinta saya (tanpa nama, tentu), beberapa pikiran-pikiran yang dibuang sayang, beberapa lagi semacam afirmasi positif utk tetap optimis. 

Tulisan ini bukan salah satu di atas. Saya cuma harus menulis ini utk diperdebatkan (jika ada yang baca sih, hahaha), atau cukup dipikirkan. Baca dulu deh:

“Pagi2 tadi dpt penjelasan ttg “jodoh” oleh seorang Profesor:

Sejak berusia 15 sampai 35 th (dalam 20 th) seseorang rata-rata pacaran 10 kali. Dari 10 itu, masa observasi dilakukan pada 3-4 pacar pertama. Nah berdasar angka itu, dan berdasarkan asumsi bahwa manusia mencari yang terbaik, sedangkan setelah memilih tidak bisa ganti, dan yang dilewati tidak bisa kembali “balen”, maka protokol mendapatkan pasangan adalah sebagai berikut:

1. Pacaran 3-4 x utk observasi.

2. Memutuskan menikah dg  pacar berikutnya dengan kualitas setidaknya sedikit lebih baik dari yang terbaik di 3-4 pacar pertama tersebut.

Namun protokol ini memiliki 2 error:

1. Jika by chance saat observasi dapatnya kacau semua, maka pasangan hidup (pasangan pertama pascaobservasi) memiliki kans besar sedikit di atas kacau dan kita stuck bersamanya selamanya.

2. Jika ada seorang pacar ideal saat masa observasi maka saat pascaobservasi akan sulit sekali atau bahkan mustahil menemukan yang sedikit lebih baik dari si “ideal” sehingga ada kemungkinan akan sendiri selamanya.”

Begitulah tulisan teman saya (dengan suntingan struktur kalimat hehe). Seorang teman mengutip seorang profesor, dan saya tidak repot-repot mengkonfirmasinya. Ehm, dengan menyadari tuntunan agama utk sebaiknya tidak berpacaran (seperti sebaiknya tidak meminum alkohol) karena kerugiannya lebih besar daripada keuntungannya, saya soroti tentang “mencari pasangan”-nya ya, bukan “berpacaran”-nya, oke?

Saya duga pacar ke-5 sampai 9 hanya mampir saja di hidup kita utk membuat kita menyadari bahwa yang kita cari adalah orang yg seperti pacar ke 1-4, benar kan?

Saya merasa tertohok, sepertinya jelas bahwa saya termasuk sampel populasi yang disebut sang profesor, yaitu orang yang sejak usia 15 tahun sudah “mencoba” berpasangan, walau belum tahu saat ini sudah mencapai pasangan ke berapa (definisi operasional?). Sambil saya menghitung riwayat “pacaran”, saya tidak yakin dengan posisi sendiri, apakah error nomor 1 atau 2. Mungkin saya tidak ingin menjalani error nomor 1 (stuck dengan orang yg agak kacau) sehingga saya memilih nomor 2 (sendiri sampai menemukan yang menurut ‘pengalaman’ saya ideal). 

Dengan menganggap bahwa pengamatan sang profesor itu benar (minimal ada benarnya) dan bahwa asumsi saya terkait tulisan itu benar, dan posisi saya benar maka kesimpulan terkait jodoh adalah:

Hindari error nomor 1 dengan tidak berpacaran. Kalau sudah terlanjur maka hindari error nomor 2 juga dengan tidak berpacaran (haha) tapi jika sudah punya riwayat pacaran maka berlatih moveon, atau menjadi amnesia (sehingga tidak punya memori atas apa yang ‘baik’ dan ‘buruk’ atau ‘ideal’ dan ‘jauh dari ideal’), atau memformat ulang persepsi tentang ideal. 

Singkatnya, harus bagaimana? Mengembalikan pada petunjuk hidup. Satu kalimat kunci yang berat dijalani tapi harus segera dimulai. Bahkan kesolehan itu tidak melulu dengan beribadah mahdoh (ritual keagamaan) melainkan dengan iman di hati seperti ikhlas (mengesakan Tuhan dan memurnikan niat bahwa menikah adalah perkara ibadah bukan semata mencari kesenangan) dan rendah hati (bahwa semua orang punya kekurangan termasuk diri sendiri jadi lebih bisa menerima orang yang tidak ideal atau mensyukuri pasangan yang sedikit kacau).

Mungkin siapapun yang sudah menikah dan membaca ini akan setuju dan semacam membatin “ya, akulah the living proof bahwa dengan pasrah dan ikhlas dan melepaskan, aku sekarang happily married.”

Oya, sebagian besar tulisan saya memang to think outloud. Menuliskan pikiran sendiri dan membacanya memudahkan saya mengurai masalah dan mungkin mengatasinya. Sekian.

Pushing People Away

Pushing Me Away adalah sebuah judul lagu milik Linkin Park, sebuah band Amrik kesukaanku jaman SMA dulu.

Intinya ada orang yang suka menjauhkan orang lain dari dirinya. They push away people from them. Entah sengaja maupun tidak. Kalau yang sengaja sih aku sedang tidak ingin membahasnya. Bisa saja karena dia memang sedang tidak ingin berinteraksi dengan manusia lain. Bisa pula dia sedang muak dengan manusia, sedang ingin sendiri, dan semisalnya. Aku sedang merasa mendapat inspirasi untuk membahas yang tidak sengaja menjauhkan orang-orang dari dirinya sendiri.

Hm, contoh paling mudah memang kalimat-kalimat bijak yang dibagikan untuk anak-anak di sekolah dasar semacam “jangan sombong nanti tidak punya teman” dan “pembohong dibenci orang” (yang terakhir saya agak asal). Yang jelas orang pada umumnya menyukai kebaikan dan membenci keburukan. Orang akan tertarik pada sifat baik dan menjauh oleh sifat buruk. Kita tentu senang jika punya teman yang baik hati, suka menolong, suka menabung sekaligus mentraktir kita, jujur, murah senyum, dan sifat baik lainnya. Sebaliknya jika ada teman yang sombong, culas, licik, munafik, suka mengadu domba, tukang bohong, dan sifat buruk lainnya, kita ingin menjauh saja kan. Rasanya sifat-sifat dia bisa mengancam minimal ketentraman hati kita, atau bahkan mengancam nama baik kita, ya kan.

Nah, itulah maksudku. Banyak orang yang karena sikapnya pada orang lain membuatnya dijauhi. Dengan cara bergaulnya, orang di sekitarnya mundur teratur sambil membatin, “Aku tidak mau lagi berurusan dengan orang ini deh. Cukup tau aja,” kemudian balik badan dan kabuuuur. Aku sering melakukannya. Dan aku yakin banyak orang yang pernah melakukan itu padaku (ya, aku baru nyadar sekarang, makanya kutulis posting ini). Tentu ada pilihan lain selain kabur yaitu menampar wajah orang yang bersikap buruk itu sebelum akhirnya kabur juga. Hehehe.

Sebelum kubahas lebih jauh, aku harus memastikan adanya kesepakatan bahwa banyak teman banyak rejeki dan sebaliknya kan. Selain itu, manusia adalah makhluk sosial yang berarti kita semua saling membutuhkan. Kita tidak bisa hidup sendiri. Titik. Jadi jika seseorang dijauhi orang maka urusannya akan lebih sulit karena kurangnya orang yang berada di sekitarnya. Bagaimana jika dia butuh pertolongan orang lain? Bagaimana cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya?

Nah, dengan mengingat pentingnya keberadaan orang lain, penting pula untuk mempertahankan mereka agar tetap di sekitar kita. Suatu hari aku meminta sesuatu pada seorang temanku. Dia mengiyakan akan mencoba mencarikan permintaanku itu dan menjanjikan tentang waktunya. Suatu hari aku menagih janjinya untuk mengabarkan padaku apakah dia bisa memberiku. Karena tidak ada respon yang memuaskan, aku mengulanginya, menagih lagi setiap hari. Sampai suatu hari aku tidak menagih, karena sedikit bosan, tapi meminta maaf jika membuatnya merasa dikejar-kejar. Aku meminta maaf telah membuatnya berprasangka bahwa aku tidak akan bisa menerima jika ternyata dia hanya akan datang dan berkata bahwa dia tidak bisa memberi permintaanku. Bisa ditebak, dia cukup kaget dengan permintaan maafku sebelum akhirnya mengabarkan bahwa dia tidak bisa mencarikan permintaanku itu.

Kemudian aku menangis.

Kemudian aku bertanya padanya. Mengapa dia sempat khawatir jika aku tidak bisa menerima ketidaksanggupannya. Mengapa dia membuatku menunggunya lebih lama. Di sini aku yang merasa rugi karena tidak mendapat kepastian apakah aku bisa mendapatkan permintaanku darinya. Jika tidak bisa maka aku akan mencarinya melalui orang lain (harus dengan orang, iya benar).

Giliran jawabannya yang mengagetkanku. Sebagai orang yang mengenalku, dia berasumsi bahwa aku akan menyangkal kenyataan. Aku dianggap akan menolak jika dia tidak bisa memberi permintaanku. Ya, wajahku adalah wajah penyangkal. Manusia denial yang berikutnya akan terjadi drama atau histeria. Daripada harus berurusan dengan kemungkinan itu, dia memilih mundur teratur dan berharap aku melupakan pertanyaanku padanya. Seperti contohku di atas, dia sedang membatin, “waduh sepertinya aku kabur saja daripada harus berurusan dengan orang ini.”

Persangkaannya yang buruk terhadap kemungkinan responku bukan asal menebak. Dia cukup mengenalku, sehingga prognosis yang dibuatnya itu hampir benar. Buktinya aku menangis. Buktinya aku susah payah menahan teriakanku untuknya “kenapa kamu tega.”

Mari menganalisis. Bagaimana jika aku tidak mengubah kalimatku untuknya setiap hari “jadi kapan kepastiannya kamu bisa atau gak” menjadi “maaf ya menagihmu terus sampai bikin kamu gak kunjung ngabari jadinya gimana”. Hanya dengan kalimat yang kedua itu akhirnya dia menyatakan kekagetannya “makasih ya sudah terima kenyataan bahwa aku gak bisa ngasih permintaanmu.”

Jadi inti dari tulisan ini adalah janganlah menjadi sepertiku (lho?). Jangan membuat orang berburuk sangka. Akibat buruk terkecilnya adalah kita rugi. Rugi karena kita butuh orang lain, dan karena sikap kitalah orang lain yang kita butuhkan itu malah menjauh sambil membawa pergi kebutuhan kita. Akibat yang lebih besar adalah: sebagian buruk sangka bisa menjadi dosa. Adakah cara yang lebih mudah untuk menghindarkan buruk sangka orang selain dengan bersikap baik?

Sikap baik terkecil adalah selalu mencoba menerima kenyataan. Yah setidaknya itu pada kasusku. Contoh menerima kenyataan adalah tidak banyak mengeluh tentang apapun. Hujan, panas, orang tua lengkap, yatim, belum lulus kuliah atau apapun, ya disyukuri, setidaknya diam tidak mengeluh. Entahlah, masih belajar nih. Ada usul lain?

Pintu Gerbang bukan Masalah

Aku belajar bahwa selalu ada pilihan untuk membiarkan pintu gerbang depan rumah terbuka. Dengan terbukanya pintu itu, sesiapa yang lewat boleh saja masuk dan langsung mengetuk pintu rumah. Dengan pintu terbuka, semua orang yang sedang lewat depan rumah atau sengaja menuju ke rumah untuk bertamu akan merasa disambut. Dengan kata lain, orang yang tiba di depan rumah tidak akan merasa kesulitan untuk segera masuk dan mengetuk pintu rumah.

Sebaliknya, ada pula pilihan untuk selalu menutup pintu gerbang. Bolehlah keamanan menjadi alasan. Boleh pula demi mencegah kucing atau hewan lain mampir ke halaman rumah. Apapun alasannya, pintu gerbang yang tertutup membuat orang yang ingin bertamu perlu mencari tombol bel di dekat gerbang, atau mencari kait gerbangnya untuk dibuka sendiri, atau mengetuk besi agar terdengar oleh pemilik rumah. Pintu gerbang yang tertutup mungkin membuat orang yang kebetulan lewat di depan rumah berpikir bahwa penghuni rumahnya sedang pergi. Mungkin pula orang yang kebetulan lewat dan ingin mampir jadi mengurungkan niatnya karena harus membayangkan kerepotan melewati pintu gerbang tertutup itu sebelum harus mengetuk pintu rumahnya. Namun bagi orang yang khusus mendatangi rumah itu untuk bertamu, pintu gerbang yang tertutup tidak akan mengurungkan niatnya untuk bertamu. Dia akan melewati gerbang itu baik dengan cara memencet tombol, membukanya sendiri setelah mengecek keadaannya yang tidak digembok, atau mengetuk sampai dibukakan.

Jadi pilihan itu ada di tanganmu, untuk membiarkan pintu gerbang terbuka, atau menutupnya dan hanya membuka saat ada orang yang minta dibukakan.

Hidup itu pilihan. Yang tidak bisa dipilih itu menjalani konsekuensinya. Semua pilihan datang sepaket dengan konsekuensinya. Pintu gerbang terbuka punya risiko sendiri, keuntungannya pun banyak. Pintu gerbang tertutup berisiko menyulitkan tapi cukup aman bagi sebagian orang.

Mungkin sementara ini aku akan menutup kembali pintu gerbangku yang beberapa waktu ini sengaja kubuka. Mungkin aku akan menutupnya dalam waktu lama. Mungkin aku harus memasang bel di situ agar tidak perlu melewatkan tamu yang kesulitan membuka sendiri gerbangku itu.

Ditulis tanpa air mata, setelah patah hati pada seorang bermata cemerlang (jaga-jaga jika aku lupa ini tentang siapa).

Some More Self-Reminder

Lily of The Nile, flowers that bloom only in summer. Only at the right time.

Time heals.

I should remember that love is tested by time.

When you feel you are in love, try to rely on the time.

Let it mature your love, or vanish it.

If by time your love gets stronger,

wait for some more time.

If by time your love gets weaker or disappears,

then it is not love.

Meanwhile, do whatever favors your future.

Like, doing your best while you have time in this world.

Really, time is the only thing that will help you with this feeling.

It won’t betray you.

When it is the time, then it is the time.

Yours will come, we just don’t know when.

Just. Let. Time. Takeover.