Setahun atau Dua

Ternyata sudah tiga bulan blog ini dianggurkan. Hehe, maafkan ibu dosen yang tidak sibuk ini. Lari pun tidak, sebenarnya.

Mengingat setahun yang lalu, menjelang lebaran target khatam Quran sudah kulupakan, dan rencana lebaran hari pertama siapa yang ke mana (sehingga siapa yang di rumah menjaga bapak) pun mulai dibicarakan. Tak terasa setahun telah lewat. Dengan pola yang mirip, aku melupakan target khatam, dengan dalih duniawi misalnya lebih nyaman berbaring malas di kasur dan skrol Instagram sampai tertidur. Wacana lebaran pun sudah enggan aku bahas. Em, bukan enggan, hanya pasrah dan senang saja jika harus di rumah sementara semua orang rumah berangkat ke kota satelit di selatan.

Apa yang sudah berubah setahun ini? Menanyakan kalimat ini pada diri sendiri seakan diajak seorang sahabat untuk bercermin, “Say, ngaca yuk.” Mudah jika kitalah sahabat itu. Meminta orang untuk introspeksi. Namun untuk diri sendiri? Tidak siap. Tidak siap mengevaluasi diri sendiri sesuai pengamatan objektif, lebih tidak siap lagi menyusun rencana perbaikan diri. Belum lagi nanti sang sahabat berkomentar, “Nah setuju, aku juga merasa kamu masih kurang… Seharusnya…..” Duh, sakit. Sakitnya melihat kenyataan yang sederhana.

Benar bahwa sebaiknya kita tidak mendengarkan apa kata orang. Namun jika yang berbicara adalah orang-orang terdekat kita yang sangat intens berinteraksi dengan kita, apapun yang mereka katakan mungkin ada benarnya. Ucapan mereka patut dipertimbangkan kebenarannya, kemudian ditindaklanjuti. Contohnya jika ibumu berkata kamu terlalu sering tidak di rumah, mungkin seharusnya terdengar begini: “perbanyaklah di rumah mumpung masih bisa.”

Ah, Alhamdulillah. Mungkin itu yang kuusahakan setahun terakhir ini. Lebih banyak di rumah. Akhir pekan tidak lagi untuk bepergian ke luar kota mengikuti acara lari ini dan itu. Lumayan juga acara lari yang sengaja aku lewatkan demi, “mau di rumah aja.” Memang lantas tidak ada komentar, “Nah gitu dong Nduk, kalau wiken gini di rumah,” namun setidaknya tidak ada, “kapan kamu di rumah, kok pergi terus?”

Alhamdulillah.

Entah sampai kapan aku akan terus bertanya dalam hati akankah ini menjadi Ramadhan terakhirku di rumah orang tua. Yang aku tahu, aku tidak boleh putus berdoa meminta jodoh. Pasti ada pria baik yang mau bekerja sama denganku menjalani hidup yang cuma sebentar ini. I am a good team member, I promise you (sila tanya teman-teman dan keluargaku ya), walau banyak sekali kurangnya seperti tukang menunda dan sangat tidak disiplin. Usahaku untuk sabar ini tidak ada apa-apanya dibanding para perempuan hebat yang puluhan tahun menanti kehamilan, misalnya. Atau orang-orang terdahulu yaitu para Sahabat yang, jika diceritakan, akan sangat memalukanku yang tukang mengeluh ini.

Entah sampai kapan pula komentar cerdas semacam, “kalau mau menikah jangan kebanyakan pilih-pilih, yang penting itu blabla,” atau “kamu keasyikan kerja sih,” akan berdatangan, dan ketika kujawab bahwa aku memilih bersyukur saja, dijawab lagi, “ya tapi diusahakanlah.”

Allah Knows best, while we don’t.

Tapi serius deh, soal bercermin tadi. Banyak sekali yang harus diperbaiki. Mungkin jika memulai besok, sudah terlambat. Yuk mulai sekarang? “Do one thing everyday that scares you,” begitu kan ya? Like bettering yourself.

Sehingga mungkin setahun atau dua tahun lagi, aku sudah diizinkan Tuhan mengabdi pada anak manusia selain orang tua. Aamiin. Optimis dong. :))

 

 

 

 

 

 

 

Talk To Me Over Coffee

Saya menjadi mencintai kopi sejak singgah di Melbourne, Australia, selama sekitar 8 bulan. Kota itu memang terkenal sebagai kota sejuta cafe (duh pernah saya tulis di postingan beberapa tahun lalu, yang mana ya). Ngopi adalah kata kerja baru beberapa tahun terakhir yang nyaris tak tergantikan kecuali dengan lari atau hal-hal lain yang saya tidak sebutkan, hehe. Maka jika “ngopi” digabung dengan “bersama teman-teman tercinta,” efeknya pasti lebih dahsyat.

Bicara tentang teman tercinta, siapakah mereka? Ketika kamu lulus dari sekolah dan pendidikan tinggi, kamu berakhir menjadi seorang pekerja (atau pengusaha, jika kamu cukup keren). Kelulusanmu adalah keberhasilan, sekaligus batu loncatan ke dunia baru. Dunia baru itu menanti karyamu. Tergantung dari pekerjaanmu, kamu akan tetap menghabiskan waktu (hampir) 24 jam sehari dan 7 hari seminggu bersama orang-orang yang sama dengan orang yang kuliah bersamamu tadi (yang dari “orang lain” berubah status menjadi “teman sekolah/ teman kuliah/ sahabat/ pacar”) atau tidak. Tahu kan pepatah yang berkata bahwa college friends are friends for life? Itu ada benarnya. Kamu bersama mereka selama kuliah cukup lama, empat tahun (enam tahun kalau saya, hehe), mau tak mau jadi teman, dan mungkin jadi suami atau istri, kan. Hehehe.

Tiba-tiba kehidupan berubah; kamu terpisah dari mereka. Tidak lagi kuliah pagi bersama sampai siang. Sore sampai malam tidak lagi nugas atau membuat laporan bersama (kalau saya nambah rapat. Rapat-i mudheng [Bahasa Jawa]), akhir pekan tidak lagi nonton bersama, well, atau ngaji bersama… Lingkaranmu hilang. Jika boleh optimis, melebar. Pertemuan-pertemuan ala sekolahan atau kuliahan itu berubah menjadi chat sesekali atau telepon setiap ada kesedihan signifikan yang melanda, atau reuni di pernikahan salah satu teman…

Kamu terpaksa membuat lingkaran baru, yang isinya bukan lagi teman kuliah tapi teman kantor (kalau berkantor. Bersyukurlah para businessmen dan businesswomen), yang ternyata, entah kenapa, tidak pernah sekecil lingkaran yang dulu. Lingkaran itu saya rasa tidak pernah sekental hubungan yang dulu, saat masih sangat muda dan merasa sangat hebat.

Atau ini hanya saya?

Bagi saya teman kantor tidak pernah berhak mendengar cerita saya sedalam cerita yang saya kisahkan ke teman kelompok koas dulu, atau teman organisasi AMSA, atau teman yang kosannya adalah rumah kedua untuk mampir mandi atau bermain kucing. Atau teman sekamar asrama saat di SMA. Atau teman main saat di bangku SMP.

Baik, jika sekarang pertanyaannya adalah mengapa tidak melanjutkan bercerita ke teman-teman lama itu, teman-teman sekolah atau kuliah, maka terima kasih. Itu saran yang brilian. Saya sempat enggan melakukannya. Beberapa tahun bahkan, karena kesombongan saya di masa lalu (iya saya terkenal sombong jaman sekolah dan kuliah, sekarang juga masih sih, tapi mungkin sedikiiiit membaik) sehingga hanya sedikit sekali sahabat saya. Satu orang sudah pulang duluan, dan saya selalu kangen dia. Tidak ada cerita ke mereka karena saya merasa malu; tidak ada usaha mempertahankan pertemanan, mengapa tiba-tiba datang dan bercerita panjang? Maka saya menyimpan saja, dan berusaha hidup normal, cenderung introvert.

Kemudian mulai sekitar setahun yang lalu, karena semakin tua namun tidak juga laku, saya mulai merendahkan hati menyempatkan diri bertanya ke teman-teman lama itu apa kabar mereka. Saya juga meluncurkan pertanyaan favorit saya ke mereka itu: Jadi pelajarannya apa? (jika tidak paham, izinkan saya terjemahkan: What have you learned from those (failures, success, losts, gains, etc.)? Jika terlalu terkesan acak, saya selalu bisa mengubah pertanyaan itu sedemikian hingga teman lama saya itu akan tersipu dan menyempatkan berkomentar, “Ah, kamu!” sebelum memberi jawaban yang jujur.

Sebagai pembelajar seumur hidup (itu cita-cita saya. I fake it ’till I make it!), saya memutuskan bahwa kita sebaiknya mengatakan apa yang ada di hati dan pikiran kita, karena kesempatan tidak datang dua kali, karena pertemuan dengan orang-orang belum tentu terjadi lagi. We should live the moment, we should live life to the fullest, termasuk berbicara yang benar-benar penting untuk dibicarakan dengan orang-orang penting dalam hidup kita.

Jadi tulisan ini, yang ditulis tahun 2017 setelah vakum menulis blog selama lima bulan, adalah curhatan lagi. Mengecewakan ya?

Di antara puluhan bahkan ratusan pesan yang muncul di notifikasi chat, yang seringkali terlalu memusingkan jika harus dipahami satu per satu, saya mensyukuri kecanggihan teknologi yang tetap mempersatukan saya dengan teman-teman di sekolah dulu, dan mereka yang di bangku kuliah.

Maka hai teman-teman lama saya yang cukup sabar membaca post ini sampai di kalimat ini, saya ucapkan halo dan salam kangen. Yuk ngopi, saya tahu beberapa warung kopi enak di Semarang. Jika tidak, saya buatkan kopi tubruk di rumah (karena ekstraksi dengan Hario V60 oleh-oleh Kakak sudah saya lupakan caranya!).

 

 

 

 

 

Jakarta hujan

Blog ini juga kuputuskan menjadi tempat aku mencatat race recap alias kisah aku berlari.

Baru bulan lalu kuputuskan untuk ikut serta dalam Jakarta Marathon 2016. Kami tiba di Jakarta dengan kereta Sabtu subuh, setelah drama aku ketinggalan kereta yang tidak ingin kubahas sama sekali. Rombongan kami adalah aku dan beberapa mahasiswa penggila lari, dan Pak Erie, guruku yang gila lari juga. Beliau pernah jadi tokoh juga dalam kisahku yang tentang kram itu (haha gak jelas ya).

Beberapa minggu sebelum Jakmar memang beredar ramalan cuaca bahwa hari-H akan hujan lebat. Tentu saja BMKG benar, kami berlari dalam hujan! Kesannya? Dingin, tidak ada risiko heat-stroke atau dehidrasi. Namun sayangnya baju dan dalaman jadi menempel ke kulit dan menimbulkan lecet di sana sini yang wadaw banget.

Kami tiba di garis start tepat waktu tapi aku butuh ke toilet. Kami putuskan start dulu dan ke WC manapun yang kutemukan di km 2 atau 3. Di km 10 perut kananku nyeri. Oh side stitch (sudukan) nih, kupikir. Tapi nyeri sepertinya sedikit di bawah, jadi mungkin ini nyeri dinding depan perut yang memang sudah ada hernia insisionalis (dinding perut tidak menutup sempurna akibat dokter bedahnya tidak menjahit full waktu aku operasi pengangkatan usus buntu di umur tujuh). Sejauh 3 km aku berlari sangat lambat dan mengatur napas (untungnya rajin yoga), ditemani teman kecilku bernama Lucky (ig: lukriboo). Setelah lepas dari nyeri kram perut itu (alhamdulillah, hilang sama sekali sampai finish!), giliran Lucky yang nyeri telapak kakinya. Selain itu, kami menikmati lari kami yang pace 7:30 sampai 8:30. Di km 22 kami baru menemukan pak Guru dan 2 mahasiswa yang memang janji mengawal bapak sampai finish. 

Sejak km 24 aku kelaparan. Ingin berhenti saja dan makan ke warung. Kepala pening, kupikir oh mungkin hipoglikemi. Maka aku mengambil semua buah yang mungkin kuambil (jeruk baby, jeruk biasa, apel, semangka dan semangka lagi) beberapa km sekali  demi menyetor gula ke darahku. Oh Jakmar kategori Full Marathon memang surga buah, aku bahagia (karena buahnya sudah dipotong, siap makan, haha).

Sejak km 22 itu pula aku dan Lucky jadi mengikuti ritme pak Guru yang jalan-lari. Ya, betul, masih ada 20 km dan kami menyelesaikan sampai finish dengan jalan kemudian lari kemudian jalan lagi. Sepanjang jalan kami mengobrol, atau mengeluh, atau aku ribut “kalau jalan terus kayak gini kita finishnya COT (cut-out time alias batas akhir finish yang berhak mendapat medali) lho,” dan kalimat serupa.

Beberapa komunitas yang menggelar lapak gratis seperti buah, bahkan arem-arem dan klepon, sungguh membahagiakan. Belum lagi tulisan-tulisan penyemangat semacam “Lari woi, ini bukan gerak jalan.” Atau “Mbahku barusan lewat.” Dan teriakan mereka “Ayo mbak, semangat, 1 km lagi.” (Kujawab, ah masih 2 mas, jangan php hahaha).

Yang kuingat adalah hujan dan obrolan segala macam. Beberapa artis kulihat (peserta lari atau tim support di sisi jalan), dan pelari kawak juga. Beberapa km sekali aku sibuk bersyukur bisa berada di jalanan dan berlari. 

Di km 37 satu mahasiwa nyeletuk bahwa inilah titik jarak di mana marathoner merenungkan hidupnya. Mungkin dia benar, karena beberapa km sebelumnya (lah, jadi bagiku mungkin km 35?) aku masih saja teringat dengan kisah cintaku yang terlalu prematur untuk kandas. Hahaha anyways, kami kemudian mendiskusikan tentang kenapa kami lari (sambil lari, emang edan kabeh). Tungkai bawahku sudah terasa sakit sejak km 17 tapi aku tidak mengeluh, hanya beberapa kali stretching betis dengan anehnya (semacam lunges haha, but it worked).

Begitulah, rasanya 6 jam 20 menit untuk jarak 42,2 km itu lama sekali. Every kilometer seems so far away hahaha. Tapi akhirnya kami finish juga. Tinggal bertiga (dengan pak guru), yang dua orang termasuk Lucky sudah finish. Kami mengatur langkah dan lari bersama beberapa meter dari garis finish demi mencitrakan diri hehe.


Di Monas itu hujan deras jadi kami berfoto dalam hujan, menyapa beberapa orang, dan terpincang-pincang mencari taksi. Di hotel kami mengantri mandi sambil tertawa renyah menikmati kebersamaan (sepuluh orang di kamar itu, kamar yang late check-out untuk kami mandi). Memang ada satu pelawak dan satu objek bully dalam rombongan ini. 

Di Gambir kami makan sangat banyak (tentu saja ditraktir pak guru yang baik hati) kemudian mapan di kereta. Semua orang tertidur pulas kecuali aku yang sibuk membuat tulisan ini.

 I once said that I’d never run a marathon because it is not physiological. But here I am a proud marathoner. I then think that pain is indeed inevitable but suffering is optional. And I choose to endure.

Weary thirty

Dear my online diary which everyone can see,

I am thirty already and I am not at my best state of faith. That is a shame because I have been better in some variables. A few among them are fasting and Quran recalling. In other aspects, I doubt that I am better than my past, too. The irony is, at this low state, I am asking Allah one of the biggest provisions: a righteous husband.

How come I ask the biggest thing but I don’t even try to be the best slave to Allah? This does not make any sense but Allah’s Mercy is abundant and does not have to make sense.

So here I am wondering how far I have come in this life. How Merciful Allah Has Always Been to me. So I strive, hopefully the faith left in my heart grows bigger and I may die as a pious slave, married or not. Aamiin.

More crossroads

Suatu hari dalam perjalananku menyusuri jalanan, sendirian, aku bertemu persimpangan. Belum lama berjalan, rasanya, tibalah aku di persimpangan itu. Sangat polos, aku tidak menduganya. Kupikir tidak akan ada cabang dari jalan ini, jika pun ada, tidak sedekat ini.

Persimpangan itu sungguh ramah, karena ada papan petunjuk arah. Berapa jauh ke destinasi A dan berapa jauh ke destinasi B. 

Aku memilih terduduk di pinggir jalan itu dan menangis. Sebentar lagi aku akan bertanya pada sang Raja, yaitu hatiku, apa yang dia mau. Karena aku patuh padanya, akulah budak setianya, walau sering tampak berontak atau membangkang.

Aku akan bertanya sebentar lagi, segera setelah air mata di pipiku ini mengering. Tunggu ya, rajaku.

Aug 26, 2016

Visceral and Lacrimal

Pernahkah kau menangis hingga nyeri rongga dadamu?

Bersabarlah jika saksi tangismu adalah bantal atau kasur tempat kau bersembunyi dari dunia, tempat kau akhirnya melepas topeng senyummu dan menjadi dirimu sendiri yang rapuh.

Berbahagialah jika saksi rinai air matamu adalah kitab suci, yang diam saja kau basahi ketika kau baca untuk melipur lara.

Semoga saja tidak ada orang terkasihmu yang perlu melihat air matamu. 

Semoga Tuhan cukup bagimu untuk berbagi rasa gundah, untuk menjadi tempat mengeluh, atau pengakuan bahwa kau ini ternyata lemah, cengeng, dan sangat mudah menangis.

Semoga Tuhan Melimpahimu dengan kesabaran tanpa ujung.

Throwback Ramadhan 

Just checking in today in the holy month of Ramadhan. My mind sometimes wandered to four years ago where I spent my Ramadhan in the southern part of the earth. I vaguely remembered everything except that I was very diligent at finishing the Quran and following some majlis. I even joined some ifthar with fellow Indonesians (most are families with toddlers or school-aged kids) and visited some houses. 

Just few days before Ramadhan back then, I encountered a huge internal-conflict of faith and Alhamdulillah it all ended well. I am now a believer by choice Insha Allah. I am now, four years later, fasting and doing not so well in learning my own faith but trying my best.
Barakallah to all moslem readers and thank you to everyone else for stopping by to read. Ramadhan Kareem.