“Yakali (Yogurt Kacang Kedelai Kuning)” Inovasi Turunkan Kolesterol Jahat


Penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, dan hipertensi merupakan penyakit dengan angka kematian yang tinggi di Indonesia. Timbulnya penyakit tidak menular ini disebabkan oleh banyak faktor salah satunya adalah kelainan metabolisme lemak atau dislipidemia. Mengapa bisa terjadi dislipidemia? Satu diantaranya disebabkan oleh gaya hidup yang buruk. Diantara beberapa penyebab dislipidemia, yang bisa dimodifikasi adalah gaya hidup. Alasan ini kemudian menjadi latar belakang kelima mahasiswa fakultas kedokteran (FK) Undip untuk mengembangkan sebuah penelitian yang bertujuan mengubah gaya hidup dari segi inovasi makanan untuk memperbaiki faktor risiko dislipidemia untuk mencegah penyakit tidak menular.

Kelima mahasiswa FK Undip terdiri dari Sitiayu Anisa Gultom, Triyoga Sulistyaningsih, Choiria Mulyawati, Hasan Murdiman, dan Muhammad Murtadho yang tergabung dalam tim PKM-PE saat ini tengah melakukan sebuah penelitian yang memanfaatkan kedelai kuning untuk diolah menjadi yogurt. Yogurt dari  kacang kedelai kuning merupakan sebuah produk yang dapat memperbaiki faktor penyebab penyakit tidak menular seperti menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam tubuh. Dalam penelitian ini responden penelitiannya adalah perokok usia remaja akhir (mahasiswa). Mengapa respondennya perokok? Hal ini dikarenakan perilaku merokok merupakan faktor risiko yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam tubuh. Berdasarkan penuturan salah satu anggota penelitian, pada penelitian ini responden diberi yogurt kacang kedelai kuning (Yakali) selama 30 hari, kemudian dibandingkan kadar LDL darah sebelum dan setelah perlakuan.

Dari penelitian ini, mereka memperoleh hasil bahwa yogurt kacang kedelai kuning (Yakali) dapat menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Mereka berharap kedepannya yogurt kacang kedelai kuning (Yakali) dapat menjadi alternatif inovasi makanan yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas sehingga faktor penyebab penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, hipertensi, dll dapat mengalami penurunan. 

Advertisements

Setahun atau Dua

Ternyata sudah tiga bulan blog ini dianggurkan. Hehe, maafkan ibu dosen yang tidak sibuk ini. Lari pun tidak, sebenarnya.

Mengingat setahun yang lalu, menjelang lebaran target khatam Quran sudah kulupakan, dan rencana lebaran hari pertama siapa yang ke mana (sehingga siapa yang di rumah menjaga bapak) pun mulai dibicarakan. Tak terasa setahun telah lewat. Dengan pola yang mirip, aku melupakan target khatam, dengan dalih duniawi misalnya lebih nyaman berbaring malas di kasur dan skrol Instagram sampai tertidur. Wacana lebaran pun sudah enggan aku bahas. Em, bukan enggan, hanya pasrah dan senang saja jika harus di rumah sementara semua orang rumah berangkat ke kota satelit di selatan.

Apa yang sudah berubah setahun ini? Menanyakan kalimat ini pada diri sendiri seakan diajak seorang sahabat untuk bercermin, “Say, ngaca yuk.” Mudah jika kitalah sahabat itu. Meminta orang untuk introspeksi. Namun untuk diri sendiri? Tidak siap. Tidak siap mengevaluasi diri sendiri sesuai pengamatan objektif, lebih tidak siap lagi menyusun rencana perbaikan diri. Belum lagi nanti sang sahabat berkomentar, “Nah setuju, aku juga merasa kamu masih kurang… Seharusnya…..” Duh, sakit. Sakitnya melihat kenyataan yang sederhana.

Benar bahwa sebaiknya kita tidak mendengarkan apa kata orang. Namun jika yang berbicara adalah orang-orang terdekat kita yang sangat intens berinteraksi dengan kita, apapun yang mereka katakan mungkin ada benarnya. Ucapan mereka patut dipertimbangkan kebenarannya, kemudian ditindaklanjuti. Contohnya jika ibumu berkata kamu terlalu sering tidak di rumah, mungkin seharusnya terdengar begini: “perbanyaklah di rumah mumpung masih bisa.”

Ah, Alhamdulillah. Mungkin itu yang kuusahakan setahun terakhir ini. Lebih banyak di rumah. Akhir pekan tidak lagi untuk bepergian ke luar kota mengikuti acara lari ini dan itu. Lumayan juga acara lari yang sengaja aku lewatkan demi, “mau di rumah aja.” Memang lantas tidak ada komentar, “Nah gitu dong Nduk, kalau wiken gini di rumah,” namun setidaknya tidak ada, “kapan kamu di rumah, kok pergi terus?”

Alhamdulillah.

Entah sampai kapan aku akan terus bertanya dalam hati akankah ini menjadi Ramadhan terakhirku di rumah orang tua. Yang aku tahu, aku tidak boleh putus berdoa meminta jodoh. Pasti ada pria baik yang mau bekerja sama denganku menjalani hidup yang cuma sebentar ini. I am a good team member, I promise you (sila tanya teman-teman dan keluargaku ya), walau banyak sekali kurangnya seperti tukang menunda dan sangat tidak disiplin. Usahaku untuk sabar ini tidak ada apa-apanya dibanding para perempuan hebat yang puluhan tahun menanti kehamilan, misalnya. Atau orang-orang terdahulu yaitu para Sahabat yang, jika diceritakan, akan sangat memalukanku yang tukang mengeluh ini.

Entah sampai kapan pula komentar cerdas semacam, “kalau mau menikah jangan kebanyakan pilih-pilih, yang penting itu blabla,” atau “kamu keasyikan kerja sih,” akan berdatangan, dan ketika kujawab bahwa aku memilih bersyukur saja, dijawab lagi, “ya tapi diusahakanlah.”

Allah Knows best, while we don’t.

Tapi serius deh, soal bercermin tadi. Banyak sekali yang harus diperbaiki. Mungkin jika memulai besok, sudah terlambat. Yuk mulai sekarang? “Do one thing everyday that scares you,” begitu kan ya? Like bettering yourself.

Sehingga mungkin setahun atau dua tahun lagi, aku sudah diizinkan Tuhan mengabdi pada anak manusia selain orang tua. Aamiin. Optimis dong. :))

 

 

 

 

 

 

 

Talk To Me Over Coffee

Saya menjadi mencintai kopi sejak singgah di Melbourne, Australia, selama sekitar 8 bulan. Kota itu memang terkenal sebagai kota sejuta cafe (duh pernah saya tulis di postingan beberapa tahun lalu, yang mana ya). Ngopi adalah kata kerja baru beberapa tahun terakhir yang nyaris tak tergantikan kecuali dengan lari atau hal-hal lain yang saya tidak sebutkan, hehe. Maka jika “ngopi” digabung dengan “bersama teman-teman tercinta,” efeknya pasti lebih dahsyat.

Bicara tentang teman tercinta, siapakah mereka? Ketika kamu lulus dari sekolah dan pendidikan tinggi, kamu berakhir menjadi seorang pekerja (atau pengusaha, jika kamu cukup keren). Kelulusanmu adalah keberhasilan, sekaligus batu loncatan ke dunia baru. Dunia baru itu menanti karyamu. Tergantung dari pekerjaanmu, kamu akan tetap menghabiskan waktu (hampir) 24 jam sehari dan 7 hari seminggu bersama orang-orang yang sama dengan orang yang kuliah bersamamu tadi (yang dari “orang lain” berubah status menjadi “teman sekolah/ teman kuliah/ sahabat/ pacar”) atau tidak. Tahu kan pepatah yang berkata bahwa college friends are friends for life? Itu ada benarnya. Kamu bersama mereka selama kuliah cukup lama, empat tahun (enam tahun kalau saya, hehe), mau tak mau jadi teman, dan mungkin jadi suami atau istri, kan. Hehehe.

Tiba-tiba kehidupan berubah; kamu terpisah dari mereka. Tidak lagi kuliah pagi bersama sampai siang. Sore sampai malam tidak lagi nugas atau membuat laporan bersama (kalau saya nambah rapat. Rapat-i mudheng [Bahasa Jawa]), akhir pekan tidak lagi nonton bersama, well, atau ngaji bersama… Lingkaranmu hilang. Jika boleh optimis, melebar. Pertemuan-pertemuan ala sekolahan atau kuliahan itu berubah menjadi chat sesekali atau telepon setiap ada kesedihan signifikan yang melanda, atau reuni di pernikahan salah satu teman…

Kamu terpaksa membuat lingkaran baru, yang isinya bukan lagi teman kuliah tapi teman kantor (kalau berkantor. Bersyukurlah para businessmen dan businesswomen), yang ternyata, entah kenapa, tidak pernah sekecil lingkaran yang dulu. Lingkaran itu saya rasa tidak pernah sekental hubungan yang dulu, saat masih sangat muda dan merasa sangat hebat.

Atau ini hanya saya?

Bagi saya teman kantor tidak pernah berhak mendengar cerita saya sedalam cerita yang saya kisahkan ke teman kelompok koas dulu, atau teman organisasi AMSA, atau teman yang kosannya adalah rumah kedua untuk mampir mandi atau bermain kucing. Atau teman sekamar asrama saat di SMA. Atau teman main saat di bangku SMP.

Baik, jika sekarang pertanyaannya adalah mengapa tidak melanjutkan bercerita ke teman-teman lama itu, teman-teman sekolah atau kuliah, maka terima kasih. Itu saran yang brilian. Saya sempat enggan melakukannya. Beberapa tahun bahkan, karena kesombongan saya di masa lalu (iya saya terkenal sombong jaman sekolah dan kuliah, sekarang juga masih sih, tapi mungkin sedikiiiit membaik) sehingga hanya sedikit sekali sahabat saya. Satu orang sudah pulang duluan, dan saya selalu kangen dia. Tidak ada cerita ke mereka karena saya merasa malu; tidak ada usaha mempertahankan pertemanan, mengapa tiba-tiba datang dan bercerita panjang? Maka saya menyimpan saja, dan berusaha hidup normal, cenderung introvert.

Kemudian mulai sekitar setahun yang lalu, karena semakin tua namun tidak juga laku, saya mulai merendahkan hati menyempatkan diri bertanya ke teman-teman lama itu apa kabar mereka. Saya juga meluncurkan pertanyaan favorit saya ke mereka itu: Jadi pelajarannya apa? (jika tidak paham, izinkan saya terjemahkan: What have you learned from those (failures, success, losts, gains, etc.)? Jika terlalu terkesan acak, saya selalu bisa mengubah pertanyaan itu sedemikian hingga teman lama saya itu akan tersipu dan menyempatkan berkomentar, “Ah, kamu!” sebelum memberi jawaban yang jujur.

Sebagai pembelajar seumur hidup (itu cita-cita saya. I fake it ’till I make it!), saya memutuskan bahwa kita sebaiknya mengatakan apa yang ada di hati dan pikiran kita, karena kesempatan tidak datang dua kali, karena pertemuan dengan orang-orang belum tentu terjadi lagi. We should live the moment, we should live life to the fullest, termasuk berbicara yang benar-benar penting untuk dibicarakan dengan orang-orang penting dalam hidup kita.

Jadi tulisan ini, yang ditulis tahun 2017 setelah vakum menulis blog selama lima bulan, adalah curhatan lagi. Mengecewakan ya?

Di antara puluhan bahkan ratusan pesan yang muncul di notifikasi chat, yang seringkali terlalu memusingkan jika harus dipahami satu per satu, saya mensyukuri kecanggihan teknologi yang tetap mempersatukan saya dengan teman-teman di sekolah dulu, dan mereka yang di bangku kuliah.

Maka hai teman-teman lama saya yang cukup sabar membaca post ini sampai di kalimat ini, saya ucapkan halo dan salam kangen. Yuk ngopi, saya tahu beberapa warung kopi enak di Semarang. Jika tidak, saya buatkan kopi tubruk di rumah (karena ekstraksi dengan Hario V60 oleh-oleh Kakak sudah saya lupakan caranya!).

 

 

 

 

 

Jakarta hujan

Blog ini juga kuputuskan menjadi tempat aku mencatat race recap alias kisah aku berlari.

Baru bulan lalu kuputuskan untuk ikut serta dalam Jakarta Marathon 2016. Kami tiba di Jakarta dengan kereta Sabtu subuh, setelah drama aku ketinggalan kereta yang tidak ingin kubahas sama sekali. Rombongan kami adalah aku dan beberapa mahasiswa penggila lari, dan Pak Erie, guruku yang gila lari juga. Beliau pernah jadi tokoh juga dalam kisahku yang tentang kram itu (haha gak jelas ya).

Beberapa minggu sebelum Jakmar memang beredar ramalan cuaca bahwa hari-H akan hujan lebat. Tentu saja BMKG benar, kami berlari dalam hujan! Kesannya? Dingin, tidak ada risiko heat-stroke atau dehidrasi. Namun sayangnya baju dan dalaman jadi menempel ke kulit dan menimbulkan lecet di sana sini yang wadaw banget.

Kami tiba di garis start tepat waktu tapi aku butuh ke toilet. Kami putuskan start dulu dan ke WC manapun yang kutemukan di km 2 atau 3. Di km 10 perut kananku nyeri. Oh side stitch (sudukan) nih, kupikir. Tapi nyeri sepertinya sedikit di bawah, jadi mungkin ini nyeri dinding depan perut yang memang sudah ada hernia insisionalis (dinding perut tidak menutup sempurna akibat dokter bedahnya tidak menjahit full waktu aku operasi pengangkatan usus buntu di umur tujuh). Sejauh 3 km aku berlari sangat lambat dan mengatur napas (untungnya rajin yoga), ditemani teman kecilku bernama Lucky (ig: lukriboo). Setelah lepas dari nyeri kram perut itu (alhamdulillah, hilang sama sekali sampai finish!), giliran Lucky yang nyeri telapak kakinya. Selain itu, kami menikmati lari kami yang pace 7:30 sampai 8:30. Di km 22 kami baru menemukan pak Guru dan 2 mahasiswa yang memang janji mengawal bapak sampai finish. 

Sejak km 24 aku kelaparan. Ingin berhenti saja dan makan ke warung. Kepala pening, kupikir oh mungkin hipoglikemi. Maka aku mengambil semua buah yang mungkin kuambil (jeruk baby, jeruk biasa, apel, semangka dan semangka lagi) beberapa km sekali  demi menyetor gula ke darahku. Oh Jakmar kategori Full Marathon memang surga buah, aku bahagia (karena buahnya sudah dipotong, siap makan, haha).

Sejak km 22 itu pula aku dan Lucky jadi mengikuti ritme pak Guru yang jalan-lari. Ya, betul, masih ada 20 km dan kami menyelesaikan sampai finish dengan jalan kemudian lari kemudian jalan lagi. Sepanjang jalan kami mengobrol, atau mengeluh, atau aku ribut “kalau jalan terus kayak gini kita finishnya COT (cut-out time alias batas akhir finish yang berhak mendapat medali) lho,” dan kalimat serupa.

Beberapa komunitas yang menggelar lapak gratis seperti buah, bahkan arem-arem dan klepon, sungguh membahagiakan. Belum lagi tulisan-tulisan penyemangat semacam “Lari woi, ini bukan gerak jalan.” Atau “Mbahku barusan lewat.” Dan teriakan mereka “Ayo mbak, semangat, 1 km lagi.” (Kujawab, ah masih 2 mas, jangan php hahaha).

Yang kuingat adalah hujan dan obrolan segala macam. Beberapa artis kulihat (peserta lari atau tim support di sisi jalan), dan pelari kawak juga. Beberapa km sekali aku sibuk bersyukur bisa berada di jalanan dan berlari. 

Di km 37 satu mahasiwa nyeletuk bahwa inilah titik jarak di mana marathoner merenungkan hidupnya. Mungkin dia benar, karena beberapa km sebelumnya (lah, jadi bagiku mungkin km 35?) aku masih saja teringat dengan kisah cintaku yang terlalu prematur untuk kandas. Hahaha anyways, kami kemudian mendiskusikan tentang kenapa kami lari (sambil lari, emang edan kabeh). Tungkai bawahku sudah terasa sakit sejak km 17 tapi aku tidak mengeluh, hanya beberapa kali stretching betis dengan anehnya (semacam lunges haha, but it worked).

Begitulah, rasanya 6 jam 20 menit untuk jarak 42,2 km itu lama sekali. Every kilometer seems so far away hahaha. Tapi akhirnya kami finish juga. Tinggal bertiga (dengan pak guru), yang dua orang termasuk Lucky sudah finish. Kami mengatur langkah dan lari bersama beberapa meter dari garis finish demi mencitrakan diri hehe.


Di Monas itu hujan deras jadi kami berfoto dalam hujan, menyapa beberapa orang, dan terpincang-pincang mencari taksi. Di hotel kami mengantri mandi sambil tertawa renyah menikmati kebersamaan (sepuluh orang di kamar itu, kamar yang late check-out untuk kami mandi). Memang ada satu pelawak dan satu objek bully dalam rombongan ini. 

Di Gambir kami makan sangat banyak (tentu saja ditraktir pak guru yang baik hati) kemudian mapan di kereta. Semua orang tertidur pulas kecuali aku yang sibuk membuat tulisan ini.

 I once said that I’d never run a marathon because it is not physiological. But here I am a proud marathoner. I then think that pain is indeed inevitable but suffering is optional. And I choose to endure.

Weary thirty

Dear my online diary which everyone can see,

I am thirty already and I am not at my best state of faith. That is a shame because I have been better in some variables. A few among them are fasting and Quran recalling. In other aspects, I doubt that I am better than my past, too. The irony is, at this low state, I am asking Allah one of the biggest provisions: a righteous husband.

How come I ask the biggest thing but I don’t even try to be the best slave to Allah? This does not make any sense but Allah’s Mercy is abundant and does not have to make sense.

So here I am wondering how far I have come in this life. How Merciful Allah Has Always Been to me. So I strive, hopefully the faith left in my heart grows bigger and I may die as a pious slave, married or not. Aamiin.

More crossroads

Suatu hari dalam perjalananku menyusuri jalanan, sendirian, aku bertemu persimpangan. Belum lama berjalan, rasanya, tibalah aku di persimpangan itu. Sangat polos, aku tidak menduganya. Kupikir tidak akan ada cabang dari jalan ini, jika pun ada, tidak sedekat ini.

Persimpangan itu sungguh ramah, karena ada papan petunjuk arah. Berapa jauh ke destinasi A dan berapa jauh ke destinasi B. 

Aku memilih terduduk di pinggir jalan itu dan menangis. Sebentar lagi aku akan bertanya pada sang Raja, yaitu hatiku, apa yang dia mau. Karena aku patuh padanya, akulah budak setianya, walau sering tampak berontak atau membangkang.

Aku akan bertanya sebentar lagi, segera setelah air mata di pipiku ini mengering. Tunggu ya, rajaku.

Aug 26, 2016

Visceral and Lacrimal

Pernahkah kau menangis hingga nyeri rongga dadamu?

Bersabarlah jika saksi tangismu adalah bantal atau kasur tempat kau bersembunyi dari dunia, tempat kau akhirnya melepas topeng senyummu dan menjadi dirimu sendiri yang rapuh.

Berbahagialah jika saksi rinai air matamu adalah kitab suci, yang diam saja kau basahi ketika kau baca untuk melipur lara.

Semoga saja tidak ada orang terkasihmu yang perlu melihat air matamu. 

Semoga Tuhan cukup bagimu untuk berbagi rasa gundah, untuk menjadi tempat mengeluh, atau pengakuan bahwa kau ini ternyata lemah, cengeng, dan sangat mudah menangis.

Semoga Tuhan Melimpahimu dengan kesabaran tanpa ujung.

Throwback Ramadhan 

Just checking in today in the holy month of Ramadhan. My mind sometimes wandered to four years ago where I spent my Ramadhan in the southern part of the earth. I vaguely remembered everything except that I was very diligent at finishing the Quran and following some majlis. I even joined some ifthar with fellow Indonesians (most are families with toddlers or school-aged kids) and visited some houses. 

Just few days before Ramadhan back then, I encountered a huge internal-conflict of faith and Alhamdulillah it all ended well. I am now a believer by choice Insha Allah. I am now, four years later, fasting and doing not so well in learning my own faith but trying my best.
Barakallah to all moslem readers and thank you to everyone else for stopping by to read. Ramadhan Kareem.

The sobriety lane

I walk down this lane alone with ATPs left in my muscles and burning light in my chest.

I left my past behind me where I blamed so many people and so many things for my tears. I discarded so many ticks of the clock waiting for something that never came. I was so drunk, drunken by a huge wave of self-distrust, or self-contempt, i wasn’t sure, and i could barely stand, let alone walk.

While walking, i think of myself sometimes. How funny it is to lose the power to trust my strong self, while holding strong to a false believe that God isn’t very helpful.

What is ahead seems blurry but it promises me a future. The tiny light in my chest whispers me contentment and trust, and those are enough for me to keep walking.

I may be more vulnerable. I am helpless in God’s plan. But i am so strong i am invincible to whatever comes ahead of me. 

So here I am, Dear sobriety lane, try me, and i may stay sane and solid, and fully accepting of God’s best plans. 

Board-like Muscles

Hamparan pasir keabuan terbentang selaksa karpet yang luas tak bertepi. Hangatnya mentari siang itu menyengat leher dan mengeringkan kerongkongan. Jam Garmin menunjukkan angka 11.40, dan telepon ketiga masih belum berbuah jemputan panitia.

***

Pagi itu kami berkumpul di rumah Pak Bambang, guru kami, untuk kemudian berangkat bersama ke selatan yang jauhnya 140 km dari rumah. Benar juga, akhir pekan yang panjang menjelang libur tahun baru China membuat jalanan padat merayap. Ditambah keinginan makan malam khas Jogja bernama Gudeg Wijilan, sampailah kami di penginapan tujuh jam sebelum pistol start ditembakkan (saat itu berharap ada pistol, jelas tidak akan ada).

Malam itu aku berbaring namun terjaga, menanti kabar dari salah satu anggota rombongan yang baru bertolak dari Semarang selepas matari terbenam. Sejam sebelum alarm kami semua berbunyi, orang yang kutunggu mengabari telah sampai dengan selamat, dan memutuskan berangkat bersama rombongan lain ke tempat start dan tidak mampir ke penginapan kami. Aku pulas sejam saja dan terpaksa bangun oleh ketukan Rizki di pintu kamar, “Bangun, bangun.”

Suasana garis start sangat gelap, karena subuh pun belum tiba. Lampu kepala berkilatan, warna-warni pakaian pelari berkilauan, satu dua wajah kukenal, sebagian adalah rombongan dari kotaku sendiri, sebagian lain adalah alumni SMA-ku dan seorang guruku di SMA, Ibu Ani. Sesaat sebelum start, kuputuskan berlari bersama mantan guru SMA-ku itu (mantan karena beliau sudah tidak mengajar), sampai sekuatku saja, karena rumornya beliau pelari hebat. Wanita 52 tahun ini terus berada di sebelahku sekitar 7 km pertama sejak start, menyusuri garis pantai, beradu dengan angin laut, bertolak di pasir gembur yang kadang terintrusi air laut.

Memang ada pepatah mengatakan “train hard, race easy” yang mungkin berarti rajinlah berlatih agar saat perlombaan lari kamu bisa menang (atau mencapai finish, atau membuat catatan waktu yang baik) dengan mudah. Namun ternyata tidak semudah itu. Ada faktor X, Y, dan Z yang mempengaruhi the easiness of the race, despite your training and preparations. Seperti pagi itu, ketika aku memutuskan melepaskan diri dari Bu Ani yang masih terus berlari dengan semangat “Ibu duluan saja deh Bu, maaf tidak ikut menemani,” dan memilih menunggu Rizki yang sedang kesakitan karena kram. Seorang teman pelari melewatiku sambil berkata bahwa Rizki sedang kram. Aku masih ingin berterima kasih padanya sampai tulisan ini dibuat, namun apa daya, aku lupa siapa orangnya.

Rizki akhirnya muncul juga, diikuti sepasang kekasih, Putri dan Zayin, yang juga rombonganku, sehingga kami melaju berempat, belum sempat lari karena turunan curam menghadang di depan. Kramnya tampaknya sudah surut, jadi Rizki memutuskan untuk terus melaju, sampai tiba-tiba harus berhenti karena kram datang lagi. Jalan setapak turun yang curam memang menuntut kontraksi otot betis dan sekitarnya, dan saat kram, semuanya akan memburuk. Saking sakitnya, kami berhenti beberapa menit dan dilewati beberapa pelari “Duluan aja Mas, Mbak, beneran gakpapa kok,” saat mereka menawari bantuan, walau aku sempat mengambil satu tube counterpain dari salah satu tawaran. Dua orang lain, Wahyu dan Yulian, memutuskan ikut berhenti sehingga kami berenam selama sejam berikutnya (beberapa menit kemudian kami sudah melaju lagi). Entah bagaimana, enam orang ini kemudian terpisah sehingga tinggal aku dan Rizki, empat lainnya di depan dan belakang kami. Mungkin Wahyu dan Yulian sudah bergabung dengan teman-teman mereka.

Sejam lebih yang menyiksa, karena pemandangannya indah, udaranya sejuk, jalanannya relatif datar dan tidak curam atau licin, tapi Rizki diam seribu bahasa. Sama saja lari sendiri, pikirku. Tapi berjam-jam setelahnya kusesali pikiran itu, karena kemudian aku menyadari dia sedang berjuang mencegah kramnya kambuh sambil berkonsentrasi dengan rute lari, dan mungkin menahan sakit tanpa mengeluh satu napas pun.

Pos minum terakhir yang tidak kunjung muncul akhirnya tampak juga, dan setelahnya terasa ringan (hore, lima kilo lagi sampai finish, mungkin jam sepuluh bisa nih), namun apa yang kemudian terjadi di medan pasir itu tidak terbayangkan sama sekali.

***

Entah karena terik yang semakin lugas menyapa kulit atau kilauan pasir di bawah telapak kaki, jalan menuju finish terasa tak berujung, ditambah kesunyian tanpa kata. Dendang lagu “Memulai Kembali” olehku hanya bertahan dua baris kemudian aku menyesali nada tinggi yang kuambil. Di hampir setiap turunan, aku mendahului Rizki, kemudian di akhir setiap turunan aku menengok ke belakang memastikan dia turun dengan aman, tanpa kram.

Turunan terakhir (karena setelah itu aku mengambil short cut sampai finish), aku meninggalkannya jauh di belakang (kok lama sih, pikirku) sampai terdengar teriakan kesakitan. Aku menoleh, dan kulihat Rizki berdiri membatu dengan kedua lutut menekuk dan posisi hampir rukuk, tampak sangat kesakitan, “Aaaaaarrgh.” Aku berlari mendekat, teriakan bertambah keras dan bernada tinggi. Tampak jelas kakinya menegang, sehingga aku semakin cemas. Aku segera mendekat dan berlutut, mengecek otot betisnya yang ternyata sekeras papan kayu. Oh tidak, pikirku. Bagaimana ini, aku harus apa, aku panik. Counterpain-ku menipis dan baru akan kukeluarkan dari kantong celana.

Beruntung sekali saat itu ada beberapa pelari lain di depan kami. Satu orang berbalik arah mendekati kami dan seperti memberi komando, “Tenang Mas, tenang, kalau panik nanti tambah kram. Tenang sekarang! Rileks Mas!!” Sepertinya Rizki patuh dan beberapa detik kemudian betisnya lebih lunak. Oh, aku sungguh lupa detil kejadian saat itu (atau aku supresi saking ngerinya), jadi aku lupa apakah hitungan detik atau menit sampai ‘papan kayu’ itu melunak. Yang jelas aku dan bapak pelari kurus baik hati itu membantu Rizki untuk duduk di pasir panas demi mengurangi kontraksi tungkai.

Beberapa detik berlalu dengan sangat lambat, namun anehnya aku lupa detilnya. Aku tidak ingat apa saja yang terjadi, apa saja usaha yang kulakukan saat itu selain mengangkat tinggi tungkai Rizki satu per satu dan mencoba dengan asal meniru gerakan fisioterapis saat membantu pelari dalam event lari Desember lalu. Lama sekali sampai akhirnya Putri dan Zayin muncul, “Tadi yang teriak itu kamu, Kak?” tanya Putri padaku.

Beberapa menit berikutnya sungguh tak terbayangkan. Kami berempat di tengah gurun pasir (yang ternyata masih 2 km lebih menuju finish, bukan 1 km seperti kata salah seorang pelari yang saat itu tentu saja belum finish) mencoba menahan panas dan berharap kram segera reda sehingga kami bisa segera berjalan bersama menuju finish. Counterpain sudah habis, pijatan sana sini sudah dilakukan, namun keluhan belum juga mereda.

Aku sempat meraih ponselku dan kutekan nomor Mas Wardana yang aku kuduga adalah ketua panitia event lari ini, melaporkan keadaan darurat dengan lokasi yang tidak akurat, dan memastikan dia mendengar kata-kata “butuh evakuasi” yang kuucapkan. Aku melirik Rizki mendengarku dan beberapa saat setelah itu dia tampak menerima kenyataan bahwa dirinya harus dievakuasi. Aku mensyukuri umur bateraiku yang masih panjang sehingga aku sempat menelepon beberapa orang lain termasuk Tri, anggota rombongan, dan Mas Willy, senior di sekolah yang di start sempat menyapaku, “Aku gak ikut lari, medis aja.”

Segelintir pelari Semarang mendekat, mereka ini temanku berlatih untuk event ini. Salah satunya bernama Mas Santosa memutuskan tinggal, dan beberapa kali aku berkata “Makasih ya Mas, for sticking with us,” yang selalu dijawabnya dengan semacam “Sudah kewajibanku.” Mas Santosa ikut menelepon sana sini, membantu dengan ransumnya, dan empati menyalahkan panitianya sungguh membuatku merasa lebih baik. Mas Santosa juga yang bersamaku berjalan menuju finish, “Ayu, we shall finish what we have started. Let’s finish this race.” 

Delapan puluh menit di bawah terik mentari membakar leher Zayin, menguras energi kami, mempercepat napasku sendiri, dan mungkin melenakan pikiran jernihku. Dari sekian banyak pilihan: 1. Menghentikan beberapa pelari untuk bersama mengangkat teman yang kram ke bawah pohon rindang terdekat, untuk dievakuasi, 2. Evaluasi rutin kram, jika sudah bisa berdiri dan berjalan pelan, dia bisa dibantu berjalan menuju pohon rindang terdekat untuk dievakuasi, 3. Konsul via telepon ke Pak Bambang yang sangat berpengalaman dalam kegawatdaruratan untuk langkah selanjutnya; tidak ada satu pun yang terlintas saat itu. Hanya Tuhan Yang Tahu mengapa kami memilih percaya pada jawaban Mas Wardana di seberang sambungan telepon, “Panitia akan segera datang menjemput.”

Delapan puluh menit itu diwarnai dengan beberapa teriakan Rizki, “Aduh! Sekarang kram betisnya, betis kanan, ah!” atau beberapa tempat lain seperti paha atau telapak kaki atau perut atau diafragma atau dada. Beberapa kali keluhan Putri, “Aaak, sakit perut,” dan banyak sekali pertanyaan dari kami semua, “Ini panitia mana sih?”

Ada satu masa di mana tiba-tiba Rizki tak bersuara. “Ki, bangun, bangun, jangan merem, plis” kataku. “Iya, iya.” jawabnya segera sambil berusaha melek. Beberapa saat yang lain dia sangat lancar berbicara, “Kakiku tolong diturunkan pelan-pelan, nah gitu, betisku tolong diurut dari proksimal ke distal,” atau “Siapa itu? Oh, fotografer itu ya?” saat aku menyapa seorang dari rombongan pelari Bandung yang melewati kami. Kadang aku heran dengan kejernihan pikirannya di saat genting seperti itu. Aku saja ingin mandi air sirup dingin saat itu juga, berharap dingin dan manisnya bisa membangunkan otakku. Episode-episode itu berlangsung acak dalam ingatanku saat aku menuliskannya kembali. Termasuk saat Putri menawari “Nih minum Pocari lagi, habisin,” yang dijawab Rizki, “Udah kembung Pocari,”

Di tengah teriakan kesakitannya, Rizki sempat berbicara tidak jelas, sepertinya memberi instruksi padaku soal letak kramnya, kemudian tiba-tiba, “Aduh, aku pelo. Aku pelo!” Tanpa aku menyadari arti pelo saat itu (mungkin karena saat itu aku mau pingsan, atau aku panik, tidak yakin yang mana), aku bertanya ke semua orang (yang cuma berlima termasuk aku), “Masih ada air? Siram ke wajahnya, sekarang.”

Masih belum puas, aku bertanya lagi, “Siapa punya madu? (Aku, Kak, jawab Putri) masukin ke mulutnya.”

“Lho Kak, tapi dia gak mau tadi.” jawab Putri yang dari tadi ditolak Pocarinya.

“Masukkan sekarang, anggap itu injeksi D40 tapi peroral.”

“Ini (pelo) apa,” kata Rizki sambil terus mengeja huruf r berkali-kali.

“Gakpapa, transien aja.” (atau aku mengucapkannya dalam hati? Duh, lupa.)

Beberapa menit berikutnya terasa lebih mencekam karena sempat terucap kata ‘pelo’ tadi. “Mas, airnya disiram ke wajahnya lagi,” perintahku yang sudah semakin terdengar bossy ke Mas Santosa. “Kamu bangun, Ki, jangan merem, bangun, ayo mikir habis ini mau ke IGD bedah atau penyakit dalam,” tanyaku demi membuatnya tetap terjaga. “Gak kok, udah gak perlu ke IGD,” jawabnya. Putri dan Zayin masih setia menaungi temannya yang kram itu dengan jaket parasutku yang disangga dengan lengan mereka, yang segera diganti dengan ponco tebal yang lebih lebar.

Di sela-sela kalimatku yang makin meracau, “Makasih ya, Putri, Zayin, sudah mau berhenti di sini, panas-panas, mungkin ini 40 derajat ya?” Mas Santosa bertanya serius mengapa Rizki bisa kram separah ini. “Mungkin kurang latihan ya,” gumamnya, yang segera kujawab, “Latihannya sempurna, Mas. Dia latihan HM (half-marathon) dengan pace 5 baik-baik aja tuh, gak ada keluhan, tapi tiap event kok gini. Kemarin Jakmar juga kan, Borobudur juga.” Rizki menanggapi bahwa dirinya sempat tersesat 3 km, dan bahwa dia yang bertugas menyetir. Tidak ada yang menjawab. Semua setuju, dan sudah sangat mengharapkan tim evak datang.

***

Evakuasi dilakukan setelah Rizki berdiri dan dipapah menuju motor, setelah berdebat apakah harus duduk miring seperti perempuan yang memakai rok, atau duduk melangkah. “Udah nyemplo aja,” kataku, yang dijawab panitia, “Nyemplo tuh apa, Mbak?”

Sepanjang jalan aku mengomel soal kepayahan panitia. Aku dan Mas Santosa menolak beberapa tawaran motor panitia, “Evakuasi ya Mas, Mbak?” walau aku tidak menolak dua botol minum dingin manis dari mereka. Beberapa kali aku meminta maaf pada Mas Santosa, “Maaf ya Mas aku sepertinya dehidrasi jadi delirium, banyak omong begini.”

Sejam setelah evakuasi, Rizki sudah mandi dan berpakaian rapi ketika aku akhirnya mencapai finish dengan Mas Santosa. Aku sempat mengomel pada panitia di garis finish yang mencatat waktu finishku, dan sempat ingin marah ke mas Wardana, namun saat aku menyalaminya, “Kok gitu sih Mas.. Mas gak tau tadi keadaannya kayak apa..” terpaksa kuakhiri karena air mataku sudah tak terbendung dan aku harus segera berlalu. Aku malu terlihat lemah. Aku merasa cukup sopan masih menyempatkan mendengar pembelaan dirinya, “Maaf ya Mbak, pada saat yang sama di tempat-tempat lain banyak yang butuh bantuan, Mbak.”

***

Malamnya aku sampai di rumah dan kelelahan sehingga tertidur tanpa mencuci muka.

Esoknya dan sampai dua hari berikutnya aku masih meneteskan air mata mengingat kejadian otot yang menjelma sekeras papan kayu itu. Sesekali gondok melihat sebaran foto teman-teman di garis finish, menyesal memilih membuang waktu berjalan ke finish bukannya ikut dievakuasi panitia dengan motor sehingga bisa berfoto dan makan siang. Namun lebih banyak merasa lega telah memutuskan berdiri diam dilewati pelari-pelari demi menunggu Rizki yang belum tentu kesakitan (bisa saja kramnya sudah teratasi dan tidak akan kambuh, kan?), bukannya terus bersama bu Ani sampai finish, dan memilih melangkah dalam diam sepanjang jalan bersama Rizki, bukannya jengah kemudian meninggalkannya.

Demi Tuhan Yang Maha Tahu Segala, mungkin juga jika aku segera jengah karena didiamkan selama sejam saat hanya berdua itu, aku mungkin menyarankan Rizki untuk menyerah saja, sehingga kejadian mengerikan tidak perlu terjadi, sehingga dia selamat dari dehidrasi dan hipoglikemi itu.

Atau, jika aku terus berlari bersama bu Ani dan akhirnya finish lebih dulu, mungkin siapapun yang saat itu bersama Rizki mengambil keputusan yang lebih bijak dibanding aku, sehingga mungkin evakuasi dilakukan lebih dini di pos minum terakhir, atau beberapa pelari berhasil diminta untuk mengangkat Rizki ke tempat yang lebih manusiawi.

Namun Demi Tuhan, kita ini bukan orang yang berandai-andai dengan masa lalu. Semoga ada sedikit pelajaran yang dapat dipetik dari ceritaku ini. Rizki sudah sembuh, jika kalian penasaran. Sangat sehat dan sepertinya sudah bersemangat lari lagi.