Pengalaman Menyunting

Tentu saja menyunting tulisan ya, bukan menyunting seorang gadis yang cantik hatinya. Oh itu mempersunting ya? Hehehe. Menyunting atau istilah asingnya editing, adalah bahasa baku untuk mengedit, yang merupakan pekerjaan seorang penyunting atau editor.

Suatu hari di grup chat bernama Telegram (bagi yang belum tahu, ini adalah platform semacam WhatsApp hanya lebih baik. Jauh lebih baik), sesama alumni TN melemparkan lowongan untuk “mengurusi buku yang akan rilis.” Alumni ini kemudian menjadi ketua ikatan alumni sampai tiga tahun ke depan. Saat itu aku langsung mengangkat tangan (dengan cara japri, tentu saja) “Bang, aku mau jadi editor.”

Singkat cerita, buku berjudul KARYA TERBAIK UNTUK INDONESIA, BOCAH-BOCAH PIRIKAN 2.0″ rilis juga (preorder sudah dibuka, linknya sila klik di SINI) setelah berbulan-bulan berproses. Prosesnya lumayan panjang (atau ini hanya komentar seorang pemula yang sombong), dari mencari penulis (dengan survei per angkatan), melamar mereka satu per satu untuk berkenan menulis, mengingatkan mereka tentang tenggat waktu tulisan, menyunting, dan lain-lain (yang kemudian menjadi urusan percetakan).

Sebenarnya yang aku duga aku bisa lakukan dengan baik adalah menyunting: menemukan keanehan atau kesalahan penulisan kemudian memperbaikinya. Menemukan diksi yang buruk kemudian menggantinya dengan kata lain yang lebih enak dibaca. Memindah kalimat ini dan itu atau paragraf ini dan itu ke sana atau ke sini. Mengusulkan konten tulisan jika ada yang kurang, dengan menghubungi penulis dan menagih sebelum tenggat waktu. Sudah beberapa tahun aku menjadi pembimbing skripsi mahasiswa S1. Di situ pekerjaanku antara lain menemukan typo pada naskah skripsi mereka dan mengoreksinya satu per satu, mengusulkan kalimat pendahuluan yang lebih argumentatif, atau mengkritisi kalimat-kalimat tidak efektif di bagian pembahasan.  Jika si mahasiswa butuh bantuan pun aku sering mengusulkan kerangka teori, kerangka konsep, bahkan garis besar untuk bagian tinjauan pustakanya. Kukira begitu juga tugas editor buku apapun. Skripsi-skripsi itu telah menempaku. Yah, kukira, dan itu dulu.

Bagaimana pendapatku sekarang setelah aku membaca ulang naskah-naskah yang aku sunting di buku BBP2 itu? Ternyata proses penyuntingan tidak mudah. Dan sebagai pemula, hasil suntinganku masih disunting lagi oleh kakak chief editor. Dan mungkin abang editor lain. Hasil suntinganku masih kurang enak dibaca atau kurang efektif kalimatnya atau simply terlalu buruk, sehingga harus ada campur tangan orang lain. Sampai detik ini aku masih mengagumi betapa “tidak kepikiran” nya susunan kalimat seperti yang sekarang ini menjadi naskah siap cetak (dibanding usulan kalimat dariku) atau betapa tidak kreatifnya aku menemukan diksi ini dan itu.

Lack of vocabulary! Itu juga yang terjadi padaku, selain kurang kreatif (atau kurang latihan?). Bahasa Indonesiaku masih jauh dari bagus. Mungkin ini karena aku juga semakin jarang membaca.

Yang seru dari menyunting selain memaksa munculnya kreativitas setiap memelototi naskah adalah menghubungi penulis. Dari tujuh naskah (alias tujuh penulis) yang menjadi tugasku (BBP2 berisi tulisan dari 60 penulis. Jadi >10% nya adalah tugas editku walau tidak murni begitu, hehe), satu orang aku hubungi karena tulisan yang terlalu pendek. Aku menelepon dan akhirnya memutuskan mewawancara beliau, kemudian hasil wawancara aku transkrip dan kuolah menjadi tambahan kisah dalam naskah. Saat itu aku menelepon beliau dengan jemari menari menuliskan apa yang aku dengar di ujung sana. Aku (selalu) berterima kasih pada program ekstrakurikuler di SMP-ku tahun 2000 dulu yaitu “mengetik” (sementara SMP lain ekskulnya sudah “komputer”) sehingga aku bisa mengetik dengan sepuluh jari sesuai norma dan dengan kecepatan yang bisa kuandalkan. Terima kasih, SMP 5 Semarang!

Sempat sedih sih, pekerjaanku masih jauh sekali dari sempurna. Lihatlah hasil suntingan ulang para seniorku terhadap pekerjaanku (eh jangan dilihat ding, rahasia. Aib). Namun pilihan yang kupunya hanyalah “Keep moving forward.” Aku sedang belajar menyunting dan akan terus belajar. Aku siap ditugasi menyunting lagi walau pemakai jasaku harus punya intestinum (usus, Bahasa Latin) yang cukup panjang untuk bersabar dengan deadline versiku yang mengesalkan.

Oh soal dealing with deadlines, salah satu penulis di buku BBP2 mengatakan bahwa kesuksesan tidak mungkin tercapai tanpa disiplin. Mau sehebat apapun kita, sekreatif apapun kita, jika hasil pekerjaan selesai melewati deadline maka tidak ada artinya. Percuma. Dengan demikian, disiplin itu sangat penting.”

Tuh kan, satu lagi kebahagiaan dari menjadi salah satu (dari tujuh) penyunting buku BBP2, yaitu membaca (bisa sampai berulang kali) konten buku, yang sangat bermanfaat dan menginspirasi itu.

Oh satu hal lagi yang ingin aku bagikan. Suatu hari menjelang tenggat waktu rilis buku, kami para pejuang BBP2 yang tergabung dalam grup WhatsApp (tidak mungkin pakai telegram karena tidak semua orang menggunakannya) mulai cemas dengan masih banyaknya pekerjaan dan sedikitnya orang. Maka lowongan editor dadakan pun dibuka, yang disambut baik oleh beberapa orang. Namun ternyata lowongan itu dibuka sangat singkat karena pekerjaan cepat selesai dan kecemasan tidak terbukti. Saking singkatnya, terpaksa para relawan yang mengajukan diri mengisi lowongan aku tolak, “Maaf ternyata saat ini sudah cukup.” Kemudian aku pun termenung, “Hei, rasanya orang-orang (yang merespon lowongan) ini lebih berkualitas dariku. Nama mereka lebih berhak tercantum di halaman sampul sebagai “penyunting.”

Saat itu terasa sekali keberadaanku di salah satu grup WhatsApp paling keren itu (ya grup BBP2 itu, hehe) murni karena kemudahan dari Tuhan. Pas kebetulan aku punya telegram, pas kebetulan si Abang membuat pengumuman “siapa mau bantu” dan aku langsung menawarkan diri, dan aku tidak secerdas itu untuk membagikan lowongan ke grup-grup lain, “Eh mau bikin buku nih, siapa ikut?” Grup itu keren’ aku berinteraksi dengan orang-orang keren di bidang kepenulisan yang kebetulan semuanya aku deskripsikan, “We went to the same school.” dan setiap hari ada saja ilmu baru bagiku yang mengaku memiliki cita-cita tertinggi sebagai seorang penulis ini.

Alhamdulillah, semoga tugas pertama ini bukan tugas terakhirku.

Yuk ah, klik link di atas dan preorder. Jangan ditunda ya, keburu tutup masa PO nya. Barakallah.

 

 

 

Advertisements

Jakarta hujan

Blog ini juga kuputuskan menjadi tempat aku mencatat race recap alias kisah aku berlari.

Baru bulan lalu kuputuskan untuk ikut serta dalam Jakarta Marathon 2016. Kami tiba di Jakarta dengan kereta Sabtu subuh, setelah drama aku ketinggalan kereta yang tidak ingin kubahas sama sekali. Rombongan kami adalah aku dan beberapa mahasiswa penggila lari, dan Pak Erie, guruku yang gila lari juga. Beliau pernah jadi tokoh juga dalam kisahku yang tentang kram itu (haha gak jelas ya).

Beberapa minggu sebelum Jakmar memang beredar ramalan cuaca bahwa hari-H akan hujan lebat. Tentu saja BMKG benar, kami berlari dalam hujan! Kesannya? Dingin, tidak ada risiko heat-stroke atau dehidrasi. Namun sayangnya baju dan dalaman jadi menempel ke kulit dan menimbulkan lecet di sana sini yang wadaw banget.

Kami tiba di garis start tepat waktu tapi aku butuh ke toilet. Kami putuskan start dulu dan ke WC manapun yang kutemukan di km 2 atau 3. Di km 10 perut kananku nyeri. Oh side stitch (sudukan) nih, kupikir. Tapi nyeri sepertinya sedikit di bawah, jadi mungkin ini nyeri dinding depan perut yang memang sudah ada hernia insisionalis (dinding perut tidak menutup sempurna akibat dokter bedahnya tidak menjahit full waktu aku operasi pengangkatan usus buntu di umur tujuh). Sejauh 3 km aku berlari sangat lambat dan mengatur napas (untungnya rajin yoga), ditemani teman kecilku bernama Lucky (ig: lukriboo). Setelah lepas dari nyeri kram perut itu (alhamdulillah, hilang sama sekali sampai finish!), giliran Lucky yang nyeri telapak kakinya. Selain itu, kami menikmati lari kami yang pace 7:30 sampai 8:30. Di km 22 kami baru menemukan pak Guru dan 2 mahasiswa yang memang janji mengawal bapak sampai finish. 

Sejak km 24 aku kelaparan. Ingin berhenti saja dan makan ke warung. Kepala pening, kupikir oh mungkin hipoglikemi. Maka aku mengambil semua buah yang mungkin kuambil (jeruk baby, jeruk biasa, apel, semangka dan semangka lagi) beberapa km sekali  demi menyetor gula ke darahku. Oh Jakmar kategori Full Marathon memang surga buah, aku bahagia (karena buahnya sudah dipotong, siap makan, haha).

Sejak km 22 itu pula aku dan Lucky jadi mengikuti ritme pak Guru yang jalan-lari. Ya, betul, masih ada 20 km dan kami menyelesaikan sampai finish dengan jalan kemudian lari kemudian jalan lagi. Sepanjang jalan kami mengobrol, atau mengeluh, atau aku ribut “kalau jalan terus kayak gini kita finishnya COT (cut-out time alias batas akhir finish yang berhak mendapat medali) lho,” dan kalimat serupa.

Beberapa komunitas yang menggelar lapak gratis seperti buah, bahkan arem-arem dan klepon, sungguh membahagiakan. Belum lagi tulisan-tulisan penyemangat semacam “Lari woi, ini bukan gerak jalan.” Atau “Mbahku barusan lewat.” Dan teriakan mereka “Ayo mbak, semangat, 1 km lagi.” (Kujawab, ah masih 2 mas, jangan php hahaha).

Yang kuingat adalah hujan dan obrolan segala macam. Beberapa artis kulihat (peserta lari atau tim support di sisi jalan), dan pelari kawak juga. Beberapa km sekali aku sibuk bersyukur bisa berada di jalanan dan berlari. 

Di km 37 satu mahasiwa nyeletuk bahwa inilah titik jarak di mana marathoner merenungkan hidupnya. Mungkin dia benar, karena beberapa km sebelumnya (lah, jadi bagiku mungkin km 35?) aku masih saja teringat dengan kisah cintaku yang terlalu prematur untuk kandas. Hahaha anyways, kami kemudian mendiskusikan tentang kenapa kami lari (sambil lari, emang edan kabeh). Tungkai bawahku sudah terasa sakit sejak km 17 tapi aku tidak mengeluh, hanya beberapa kali stretching betis dengan anehnya (semacam lunges haha, but it worked).

Begitulah, rasanya 6 jam 20 menit untuk jarak 42,2 km itu lama sekali. Every kilometer seems so far away hahaha. Tapi akhirnya kami finish juga. Tinggal bertiga (dengan pak guru), yang dua orang termasuk Lucky sudah finish. Kami mengatur langkah dan lari bersama beberapa meter dari garis finish demi mencitrakan diri hehe.


Di Monas itu hujan deras jadi kami berfoto dalam hujan, menyapa beberapa orang, dan terpincang-pincang mencari taksi. Di hotel kami mengantri mandi sambil tertawa renyah menikmati kebersamaan (sepuluh orang di kamar itu, kamar yang late check-out untuk kami mandi). Memang ada satu pelawak dan satu objek bully dalam rombongan ini. 

Di Gambir kami makan sangat banyak (tentu saja ditraktir pak guru yang baik hati) kemudian mapan di kereta. Semua orang tertidur pulas kecuali aku yang sibuk membuat tulisan ini.

 I once said that I’d never run a marathon because it is not physiological. But here I am a proud marathoner. I then think that pain is indeed inevitable but suffering is optional. And I choose to endure.

Board-like Muscles

Hamparan pasir keabuan terbentang selaksa karpet yang luas tak bertepi. Hangatnya mentari siang itu menyengat leher dan mengeringkan kerongkongan. Jam Garmin menunjukkan angka 11.40, dan telepon ketiga masih belum berbuah jemputan panitia.

***

Pagi itu kami berkumpul di rumah Pak Bambang, guru kami, untuk kemudian berangkat bersama ke selatan yang jauhnya 140 km dari rumah. Benar juga, akhir pekan yang panjang menjelang libur tahun baru China membuat jalanan padat merayap. Ditambah keinginan makan malam khas Jogja bernama Gudeg Wijilan, sampailah kami di penginapan tujuh jam sebelum pistol start ditembakkan (saat itu berharap ada pistol, jelas tidak akan ada).

Malam itu aku berbaring namun terjaga, menanti kabar dari salah satu anggota rombongan yang baru bertolak dari Semarang selepas matari terbenam. Sejam sebelum alarm kami semua berbunyi, orang yang kutunggu mengabari telah sampai dengan selamat, dan memutuskan berangkat bersama rombongan lain ke tempat start dan tidak mampir ke penginapan kami. Aku pulas sejam saja dan terpaksa bangun oleh ketukan Rizki di pintu kamar, “Bangun, bangun.”

Suasana garis start sangat gelap, karena subuh pun belum tiba. Lampu kepala berkilatan, warna-warni pakaian pelari berkilauan, satu dua wajah kukenal, sebagian adalah rombongan dari kotaku sendiri, sebagian lain adalah alumni SMA-ku dan seorang guruku di SMA, Ibu Ani. Sesaat sebelum start, kuputuskan berlari bersama mantan guru SMA-ku itu (mantan karena beliau sudah tidak mengajar), sampai sekuatku saja, karena rumornya beliau pelari hebat. Wanita 52 tahun ini terus berada di sebelahku sekitar 7 km pertama sejak start, menyusuri garis pantai, beradu dengan angin laut, bertolak di pasir gembur yang kadang terintrusi air laut.

Memang ada pepatah mengatakan “train hard, race easy” yang mungkin berarti rajinlah berlatih agar saat perlombaan lari kamu bisa menang (atau mencapai finish, atau membuat catatan waktu yang baik) dengan mudah. Namun ternyata tidak semudah itu. Ada faktor X, Y, dan Z yang mempengaruhi the easiness of the race, despite your training and preparations. Seperti pagi itu, ketika aku memutuskan melepaskan diri dari Bu Ani yang masih terus berlari dengan semangat “Ibu duluan saja deh Bu, maaf tidak ikut menemani,” dan memilih menunggu Rizki yang sedang kesakitan karena kram. Seorang teman pelari melewatiku sambil berkata bahwa Rizki sedang kram. Aku masih ingin berterima kasih padanya sampai tulisan ini dibuat, namun apa daya, aku lupa siapa orangnya.

Rizki akhirnya muncul juga, diikuti sepasang kekasih, Putri dan Zayin, yang juga rombonganku, sehingga kami melaju berempat, belum sempat lari karena turunan curam menghadang di depan. Kramnya tampaknya sudah surut, jadi Rizki memutuskan untuk terus melaju, sampai tiba-tiba harus berhenti karena kram datang lagi. Jalan setapak turun yang curam memang menuntut kontraksi otot betis dan sekitarnya, dan saat kram, semuanya akan memburuk. Saking sakitnya, kami berhenti beberapa menit dan dilewati beberapa pelari “Duluan aja Mas, Mbak, beneran gakpapa kok,” saat mereka menawari bantuan, walau aku sempat mengambil satu tube counterpain dari salah satu tawaran. Dua orang lain, Wahyu dan Yulian, memutuskan ikut berhenti sehingga kami berenam selama sejam berikutnya (beberapa menit kemudian kami sudah melaju lagi). Entah bagaimana, enam orang ini kemudian terpisah sehingga tinggal aku dan Rizki, empat lainnya di depan dan belakang kami. Mungkin Wahyu dan Yulian sudah bergabung dengan teman-teman mereka.

Sejam lebih yang menyiksa, karena pemandangannya indah, udaranya sejuk, jalanannya relatif datar dan tidak curam atau licin, tapi Rizki diam seribu bahasa. Sama saja lari sendiri, pikirku. Tapi berjam-jam setelahnya kusesali pikiran itu, karena kemudian aku menyadari dia sedang berjuang mencegah kramnya kambuh sambil berkonsentrasi dengan rute lari, dan mungkin menahan sakit tanpa mengeluh satu napas pun.

Pos minum terakhir yang tidak kunjung muncul akhirnya tampak juga, dan setelahnya terasa ringan (hore, lima kilo lagi sampai finish, mungkin jam sepuluh bisa nih), namun apa yang kemudian terjadi di medan pasir itu tidak terbayangkan sama sekali.

***

Entah karena terik yang semakin lugas menyapa kulit atau kilauan pasir di bawah telapak kaki, jalan menuju finish terasa tak berujung, ditambah kesunyian tanpa kata. Dendang lagu “Memulai Kembali” olehku hanya bertahan dua baris kemudian aku menyesali nada tinggi yang kuambil. Di hampir setiap turunan, aku mendahului Rizki, kemudian di akhir setiap turunan aku menengok ke belakang memastikan dia turun dengan aman, tanpa kram.

Turunan terakhir (karena setelah itu aku mengambil short cut sampai finish), aku meninggalkannya jauh di belakang (kok lama sih, pikirku) sampai terdengar teriakan kesakitan. Aku menoleh, dan kulihat Rizki berdiri membatu dengan kedua lutut menekuk dan posisi hampir rukuk, tampak sangat kesakitan, “Aaaaaarrgh.” Aku berlari mendekat, teriakan bertambah keras dan bernada tinggi. Tampak jelas kakinya menegang, sehingga aku semakin cemas. Aku segera mendekat dan berlutut, mengecek otot betisnya yang ternyata sekeras papan kayu. Oh tidak, pikirku. Bagaimana ini, aku harus apa, aku panik. Counterpain-ku menipis dan baru akan kukeluarkan dari kantong celana.

Beruntung sekali saat itu ada beberapa pelari lain di depan kami. Satu orang berbalik arah mendekati kami dan seperti memberi komando, “Tenang Mas, tenang, kalau panik nanti tambah kram. Tenang sekarang! Rileks Mas!!” Sepertinya Rizki patuh dan beberapa detik kemudian betisnya lebih lunak. Oh, aku sungguh lupa detil kejadian saat itu (atau aku supresi saking ngerinya), jadi aku lupa apakah hitungan detik atau menit sampai ‘papan kayu’ itu melunak. Yang jelas aku dan bapak pelari kurus baik hati itu membantu Rizki untuk duduk di pasir panas demi mengurangi kontraksi tungkai.

Beberapa detik berlalu dengan sangat lambat, namun anehnya aku lupa detilnya. Aku tidak ingat apa saja yang terjadi, apa saja usaha yang kulakukan saat itu selain mengangkat tinggi tungkai Rizki satu per satu dan mencoba dengan asal meniru gerakan fisioterapis saat membantu pelari dalam event lari Desember lalu. Lama sekali sampai akhirnya Putri dan Zayin muncul, “Tadi yang teriak itu kamu, Kak?” tanya Putri padaku.

Beberapa menit berikutnya sungguh tak terbayangkan. Kami berempat di tengah gurun pasir (yang ternyata masih 2 km lebih menuju finish, bukan 1 km seperti kata salah seorang pelari yang saat itu tentu saja belum finish) mencoba menahan panas dan berharap kram segera reda sehingga kami bisa segera berjalan bersama menuju finish. Counterpain sudah habis, pijatan sana sini sudah dilakukan, namun keluhan belum juga mereda.

Aku sempat meraih ponselku dan kutekan nomor Mas Wardana yang aku kuduga adalah ketua panitia event lari ini, melaporkan keadaan darurat dengan lokasi yang tidak akurat, dan memastikan dia mendengar kata-kata “butuh evakuasi” yang kuucapkan. Aku melirik Rizki mendengarku dan beberapa saat setelah itu dia tampak menerima kenyataan bahwa dirinya harus dievakuasi. Aku mensyukuri umur bateraiku yang masih panjang sehingga aku sempat menelepon beberapa orang lain termasuk Tri, anggota rombongan, dan Mas Willy, senior di sekolah yang di start sempat menyapaku, “Aku gak ikut lari, medis aja.”

Segelintir pelari Semarang mendekat, mereka ini temanku berlatih untuk event ini. Salah satunya bernama Mas Santosa memutuskan tinggal, dan beberapa kali aku berkata “Makasih ya Mas, for sticking with us,” yang selalu dijawabnya dengan semacam “Sudah kewajibanku.” Mas Santosa ikut menelepon sana sini, membantu dengan ransumnya, dan empati menyalahkan panitianya sungguh membuatku merasa lebih baik. Mas Santosa juga yang bersamaku berjalan menuju finish, “Ayu, we shall finish what we have started. Let’s finish this race.” 

Delapan puluh menit di bawah terik mentari membakar leher Zayin, menguras energi kami, mempercepat napasku sendiri, dan mungkin melenakan pikiran jernihku. Dari sekian banyak pilihan: 1. Menghentikan beberapa pelari untuk bersama mengangkat teman yang kram ke bawah pohon rindang terdekat, untuk dievakuasi, 2. Evaluasi rutin kram, jika sudah bisa berdiri dan berjalan pelan, dia bisa dibantu berjalan menuju pohon rindang terdekat untuk dievakuasi, 3. Konsul via telepon ke Pak Bambang yang sangat berpengalaman dalam kegawatdaruratan untuk langkah selanjutnya; tidak ada satu pun yang terlintas saat itu. Hanya Tuhan Yang Tahu mengapa kami memilih percaya pada jawaban Mas Wardana di seberang sambungan telepon, “Panitia akan segera datang menjemput.”

Delapan puluh menit itu diwarnai dengan beberapa teriakan Rizki, “Aduh! Sekarang kram betisnya, betis kanan, ah!” atau beberapa tempat lain seperti paha atau telapak kaki atau perut atau diafragma atau dada. Beberapa kali keluhan Putri, “Aaak, sakit perut,” dan banyak sekali pertanyaan dari kami semua, “Ini panitia mana sih?”

Ada satu masa di mana tiba-tiba Rizki tak bersuara. “Ki, bangun, bangun, jangan merem, plis” kataku. “Iya, iya.” jawabnya segera sambil berusaha melek. Beberapa saat yang lain dia sangat lancar berbicara, “Kakiku tolong diturunkan pelan-pelan, nah gitu, betisku tolong diurut dari proksimal ke distal,” atau “Siapa itu? Oh, fotografer itu ya?” saat aku menyapa seorang dari rombongan pelari Bandung yang melewati kami. Kadang aku heran dengan kejernihan pikirannya di saat genting seperti itu. Aku saja ingin mandi air sirup dingin saat itu juga, berharap dingin dan manisnya bisa membangunkan otakku. Episode-episode itu berlangsung acak dalam ingatanku saat aku menuliskannya kembali. Termasuk saat Putri menawari “Nih minum Pocari lagi, habisin,” yang dijawab Rizki, “Udah kembung Pocari,”

Di tengah teriakan kesakitannya, Rizki sempat berbicara tidak jelas, sepertinya memberi instruksi padaku soal letak kramnya, kemudian tiba-tiba, “Aduh, aku pelo. Aku pelo!” Tanpa aku menyadari arti pelo saat itu (mungkin karena saat itu aku mau pingsan, atau aku panik, tidak yakin yang mana), aku bertanya ke semua orang (yang cuma berlima termasuk aku), “Masih ada air? Siram ke wajahnya, sekarang.”

Masih belum puas, aku bertanya lagi, “Siapa punya madu? (Aku, Kak, jawab Putri) masukin ke mulutnya.”

“Lho Kak, tapi dia gak mau tadi.” jawab Putri yang dari tadi ditolak Pocarinya.

“Masukkan sekarang, anggap itu injeksi D40 tapi peroral.”

“Ini (pelo) apa,” kata Rizki sambil terus mengeja huruf r berkali-kali.

“Gakpapa, transien aja.” (atau aku mengucapkannya dalam hati? Duh, lupa.)

Beberapa menit berikutnya terasa lebih mencekam karena sempat terucap kata ‘pelo’ tadi. “Mas, airnya disiram ke wajahnya lagi,” perintahku yang sudah semakin terdengar bossy ke Mas Santosa. “Kamu bangun, Ki, jangan merem, bangun, ayo mikir habis ini mau ke IGD bedah atau penyakit dalam,” tanyaku demi membuatnya tetap terjaga. “Gak kok, udah gak perlu ke IGD,” jawabnya. Putri dan Zayin masih setia menaungi temannya yang kram itu dengan jaket parasutku yang disangga dengan lengan mereka, yang segera diganti dengan ponco tebal yang lebih lebar.

Di sela-sela kalimatku yang makin meracau, “Makasih ya, Putri, Zayin, sudah mau berhenti di sini, panas-panas, mungkin ini 40 derajat ya?” Mas Santosa bertanya serius mengapa Rizki bisa kram separah ini. “Mungkin kurang latihan ya,” gumamnya, yang segera kujawab, “Latihannya sempurna, Mas. Dia latihan HM (half-marathon) dengan pace 5 baik-baik aja tuh, gak ada keluhan, tapi tiap event kok gini. Kemarin Jakmar juga kan, Borobudur juga.” Rizki menanggapi bahwa dirinya sempat tersesat 3 km, dan bahwa dia yang bertugas menyetir. Tidak ada yang menjawab. Semua setuju, dan sudah sangat mengharapkan tim evak datang.

***

Evakuasi dilakukan setelah Rizki berdiri dan dipapah menuju motor, setelah berdebat apakah harus duduk miring seperti perempuan yang memakai rok, atau duduk melangkah. “Udah nyemplo aja,” kataku, yang dijawab panitia, “Nyemplo tuh apa, Mbak?”

Sepanjang jalan aku mengomel soal kepayahan panitia. Aku dan Mas Santosa menolak beberapa tawaran motor panitia, “Evakuasi ya Mas, Mbak?” walau aku tidak menolak dua botol minum dingin manis dari mereka. Beberapa kali aku meminta maaf pada Mas Santosa, “Maaf ya Mas aku sepertinya dehidrasi jadi delirium, banyak omong begini.”

Sejam setelah evakuasi, Rizki sudah mandi dan berpakaian rapi ketika aku akhirnya mencapai finish dengan Mas Santosa. Aku sempat mengomel pada panitia di garis finish yang mencatat waktu finishku, dan sempat ingin marah ke mas Wardana, namun saat aku menyalaminya, “Kok gitu sih Mas.. Mas gak tau tadi keadaannya kayak apa..” terpaksa kuakhiri karena air mataku sudah tak terbendung dan aku harus segera berlalu. Aku malu terlihat lemah. Aku merasa cukup sopan masih menyempatkan mendengar pembelaan dirinya, “Maaf ya Mbak, pada saat yang sama di tempat-tempat lain banyak yang butuh bantuan, Mbak.”

***

Malamnya aku sampai di rumah dan kelelahan sehingga tertidur tanpa mencuci muka.

Esoknya dan sampai dua hari berikutnya aku masih meneteskan air mata mengingat kejadian otot yang menjelma sekeras papan kayu itu. Sesekali gondok melihat sebaran foto teman-teman di garis finish, menyesal memilih membuang waktu berjalan ke finish bukannya ikut dievakuasi panitia dengan motor sehingga bisa berfoto dan makan siang. Namun lebih banyak merasa lega telah memutuskan berdiri diam dilewati pelari-pelari demi menunggu Rizki yang belum tentu kesakitan (bisa saja kramnya sudah teratasi dan tidak akan kambuh, kan?), bukannya terus bersama bu Ani sampai finish, dan memilih melangkah dalam diam sepanjang jalan bersama Rizki, bukannya jengah kemudian meninggalkannya.

Demi Tuhan Yang Maha Tahu Segala, mungkin juga jika aku segera jengah karena didiamkan selama sejam saat hanya berdua itu, aku mungkin menyarankan Rizki untuk menyerah saja, sehingga kejadian mengerikan tidak perlu terjadi, sehingga dia selamat dari dehidrasi dan hipoglikemi itu.

Atau, jika aku terus berlari bersama bu Ani dan akhirnya finish lebih dulu, mungkin siapapun yang saat itu bersama Rizki mengambil keputusan yang lebih bijak dibanding aku, sehingga mungkin evakuasi dilakukan lebih dini di pos minum terakhir, atau beberapa pelari berhasil diminta untuk mengangkat Rizki ke tempat yang lebih manusiawi.

Namun Demi Tuhan, kita ini bukan orang yang berandai-andai dengan masa lalu. Semoga ada sedikit pelajaran yang dapat dipetik dari ceritaku ini. Rizki sudah sembuh, jika kalian penasaran. Sangat sehat dan sepertinya sudah bersemangat lari lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Phase

It was seven years ago, I remember, when I started watching soccer games and chose one national team and one national club to love. Now? I don’t even know what club Ricardo Kaka (my all-time favorite soccer player, for his look, of course) plays in.

There are times when you like or love something, get so obsessed with it but then don’t care about it the next year (or even day!). That is what some people call it as a phase. There are also times when you start loving something and it somehow sticks with you for a long time. It might be forever. It might become a new habit, a new part of you, be it a good or a bad thing. So that phase might linger and stay and will then not be labeled as a phase but simply as an attribute of you.

For me it mostly involves digestible things. I developed my love for coffee since around four years ago, when I lived for a few months in “the city of a thousand cafes” and I stopped drinking sweetened ice tea since my encounter with the Japanese, who simply don’t drink sweet beverages, almost eleven years ago. Oh, I should also mention that I never liked and will probably never like papaya since I saw my cute little sister with her fork shoveling papaya in her tiny mouth 27 years ago.

So you see, I am in a phase of loving running and listening to jazz. I may do them for few more years or I may forget them next month. But last year (sure, I mean last month) I had witnessed that running is so awesome that it has to be my lifetime goal. It was when I signed myself in a medical team whose job is to take care of the runners in a national running event. Well, we should all see whether I run for the rest of my life. About the jazz music, I can’t say much. I can’t sing jazz and I can’t play jazz, I just enjoy it. You know I only sing and play lame, boring pop songs.

Off I go now.

 

 

Hei, Kamu Masih akan Lari (atau Yoga), kan?

Spanduk sponsor di stadion.

Kamu mencari kelelahan fisik dengan olahraga. Kamu berlari, di lain hari kamu senam yoga. Kelelahan mental kadang mendera, lebih sakit daripada timbunan laktat dan keringat.

Dalam kelelahan mental itu, kamu akhirnya menangis, diam-diam. Tenaga untuk marah telah hilang beberapa waktu lalu, saat musim dingin membuatmu berpikir untuk menghemat energi, atau saat musim panas keringatmu telah habis oleh terik mentari.

Mungkin benar bahwa jiwa ini hanya dititipkan dalam anatomi rumit tubuh manusia, yang otaknya aktif bekerja, dan jantungnya berdebar oleh kafein atau cinta atau kecemasan tentang dunia. Namun hormon bahagia setelah olahraga tetap akan melembutkan jiwamu, menguatkannya menghadapi kelelahan mental yang menanti di depan.

Kadang kamu berpikir perlukah berlari sepuluh kilometer sebelum memulai semua yang akan melelahkan mentalmu.

Pada akhirnya sang jiwa yang hanya mampir ini ikut berperan dalam kelestarian alam yang ditempatinya. Mungkin tubuh yang sehat dan kuat juga termasuk titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Mungkin sekedar lari pagi atau sore atau malam, dan yoga hampir sejam bisa mempermudah pertanggungjawaban tubuh ini nanti. Mungkin puasa dan menjaga makan bisa memudahkan jiwa ini lebih bertakwa.

Mungkin belum saatnya merasa lari atau yoga atau hal fisik lainnya hanyalah semata pelarian dari kelelahan mental. Mungkin sebaliknya, justru merekalah pendukung utama jiwa ini untuk terus berusaha, menghadapi kelelahan-kelelahan di depan, bersabar dengan kekalahan, bahkan mempersiapkan kemenangan, lagi dan lagi.

Salam olahraga.

Hujan Bulan Juli

Sore ini adalah puncak keenggananku untuk berlari. Kemarin sore aku memilih tidur siang daripada berganti pakaian dan berangkat ke jogging track. Untuk lari malam ini pun.. Rasanya sudah bosan; memilih kaos lari, deker lengan, celananya, kerudung yang match dengan kaosnya.. Mengingat terakhir memakai sepatu yang mana sehingga sekarang giliran yang mana. Ketika sudah siap, malas juga membayangkan bergumul dengan ramainya jalan Menoreh dan Kelud Raya.. 

Di saat itu aku mempertanyakan niatku untuk lari. Sedangkal inikah aku berlari; karena ingin kurus dan setelah kurus tidak menemukan motivasi lain? Aku sangat berharap ini semacam kebosanan wajar yang sesekali menyerang semua pelari.

Iya, benar, aku harus melihat sekitar dan bersyukur dengan kesehatan dan usiaku, keutuhan ekstrimitasku dan waktu luangku, sehingga tidak ada keluhan “bosan lari.” Aku seharusnya malu jika sampai mengeluh apalagi mengeluh bosan.

Malam ini sampai juga aku ke Balaikota, bergabung dengan teman-teman untuk lari malam rutin. Tidak ada yang spesial. Hanya tepat di median rute hujan rintik-rintik menyapa wajah dan lenganku, dan disusul dengan hujan deras tanpa angin kencang.

Di bawah hujan itu, kami semua memutuskan lari, toh sudah lewat 3 km dan tinggal 2 km lagi yang bisa diselesaikan dalam 12-14 menit. Sudah terlanjur basah oleh gerimis juga. Kemudian di depanku tampak para pelari bergerombol yang ternyata sedang mengerumuni seorang wanita yang duduk kesakitan.

Singkat cerita ada pengendara motor yang terjatuh dan terluka, lalu seorang teman pelari menemukannya dan membantunya. Aku sempat menemani beberapa menit untuk memastikan diagnosisnya hanya vulnus eskoriatum tanpa sprain maupun fraktur. Aku melihatnya pergi diantar teman lari yang baik hati tadi dipayungi hujan yang makin deras.

Aku melanjutkan lari, kali ini sendiri (sejak start aku bersama si ini atau si itu) karena sebagian besar sudah menuju finish dan aku berhenti cukup lama. 

Dalam lari itu aku merasa heroik, menginjak trotoar berkubangan, kerudung semakin jenuh air dan sepatu semakin berat juga. Hati sudah tidak was-was karena hape sudah dititip ke mas-mas baik hati yang membawa ransel dan jas hujan. Petrichor menguar khas sepanjang jalan, bau yang disebut oleh  banyak seniman sebagai bau tanah basah. Kaki sudah asal menginjak trotoar, tidak apa jika terjeblos genangan air. “Hati-hati mbak, licin” kata seorang yang kulewati.

Dalam lari itu aku menyadari kalimat favoritku (dan sebagian besar orang, pasti) I love the rain for it disguises my tears (atau kalimat serupa dan aku malas memikirkannya).

Dalam lari itu juga terlintas memori masa asrama dulu, mungkin saat hulubalang di kelas 2 SMA, atau mungkin saat pembaretan di kelas 1. Mungkin malam tadi aku masih sedikit lapar dan kedinginan oleh hujan, tapi aku memaksa lari sehingga kelelahan itu memicu siaran ulang memori masa SMA. Mungkin pegalaman yang paling mirip dengan lari di bawah hujan tadi memang saat pembaretan; bersepatu bot dengan baju PDL hijau melintasi sawah berlumpur tebal. Di atas kepala terik matahari Magelang menyengat namun kaki berkubang lumpur terasa dingin dan penat. Melelahkan sekaligus mengharukan. Aku tidak yakin apa yang mengharukan. Mungkin karena lelah yang sangat itu membuatku ingin menangis (tapi kutahan karena malu) sehingga aku mengira aku terharu. 

Heran juga mengapa tidak ada sedikitpun masa koas yang kulewati di bawah hujan, yang bisa kuingat.

Hujan Bulan Juli. Tidak satu pun kudengar orang yang mengeluh tentangnya. Dia anugrah dari Tuhan untuk penghuni bumi; para petani, pelari, dan bahkan para pemilik hati yang senang air matanya ditemani untuk patuh pada gravitasi.

Keterangan foto: aku yang sudah sedikit kurus, saat pemanasan sebelum lari malam rutin bersama Semarang Runners.

Oya, untung aku memaksa lari malam ini, karena aku mendapat doorprize sepasang sarung tangan superhangat untuk naik gunung (atau ber-winter di negeri jauh). Alhamdulillah.

Mencari Motto Hidup

Beberapa saat menjelang pemotretan untuk kepentingan acara ulang tahun sekolah asrama itu, aku terpaksa berpikir tentang sebaris kalimat yang mewakiliku atau impianku, untuk selanjutnya dilampirkan di bawah foto wajahku.

Mengapa pula kita harus menyingkat kehidupan dan dunia seisinya dengan sebaris kalimat saja, sementara menurunkan gelombang beta otak saja butuh bermenit-menit meditasi?

Salah satu kandidat yang menarik untuk motto hidup adalah bahwa Tuhan itu Maha Baik dan Maha Pengabul Doa maka berpikirlah yang baik dan berharaplah yang baik saja. Iya, baru saja aku mengalami kejadian kecil. Yang jelas keikhlasanku diuji. Aku dibuat jengkel oleh orang yang baru beberapa menit kukenal. Aku menawarkan bantuan pada teman baru itu, dan dibalas kontan dengan sesuatu yang menjengkelkanku. Beberapa menit hatiku dongkol dan wajahku cemberut (walau hanya tampak oleh orang rumah yang membukakan pintu saat aku pulang) oleh kejadian menjengkelkan itu. Sampai aku ngobrol ringan dengan diriku (ini teknik self-talk yang kupelajari bertahun-tahun. Kurasa aku semakin ahli) untuk mencari tahu mengapa orang rumah tidak mendapat senyumku, mengapa aku kesal saat seharusnya endorfin (zat senang di otak) membanjiri kepalaku di ‘hari olahraga’ ini. Lalu obrolan itu berlanjut tentang bagaimana aku menjadi kesal dan apakah ada pilihan lain selain kesal. Ternyata ada, maka benarlah pepatah “selalu ada pilihan” atau “life is a choice” karena aku bisa mencegah kesal berkepanjangan dengan meluruskan niat. Iya ini bahasanya berat semacam buku pelajaran agama tapi benar juga bahwa kekesalan, kejengkelan, dan kekecewaan muncul karena ada harapan. Jika kita tidak berharap maka kita hanya akan bersyukur dengan yang terjadi di depan. Paham kan, karena tidak ada perbandingan ‘yang akhirnya terjadi’ dengan ‘yang sedari tadi diharapkan terjadi.’ 

Eh tiba-tiba aku ingat dengan seuntai kalimat Tuhan di suatu surat tentang akhir yang selalu lebih baik daripada permulaan. Tapi aku belum membaca tafsir ayat itu.

Obrolan kami ditutup dengan memori jangka pendek yang baik, bahwa aku ingat membatin dalam hati betapa tidak ikhlasnya diriku, betapa niat tulus dan suci itu berat bukan main. Intinya aku mengeluh (mungkin sambil berharap juga) betapa aku belum juga menjadi manusia yang ikhlas. Hanya membatin lho, bukan bersimpuh berbalut mukena di atas sajadah dengan setitik air mata. Ada alasan teknis juga aku tidak bisa bermukena pagi itu. Sorenya aku menyadari doaku terjawab. Aku diajari lagi tentang menjadi ikhlas saat mencoba membantu orang lain. Iya ini ajaranNya yang kesekian kali karena aku tidak kunjung lulus ujian keikhlasan itu. Ajaran itu aku singkat sebagai berikut: setelah aku merasa ingin ikhlas, aku mengalami kejadian yang membuatku menyadari bahwa aku tidak ikhlas sehingga aku tahu bagaimana harus mengoreksinya dan mencegah ketidakikhlasan itu terjadi lagi di lain waktu, bahkan mungkin mengubah ketidakikhlasan menjadi keikhlasan saat itu.

Jelas ya maksudku, bahwa ‘ritual doa’ yang amburadul macam yang kulakukan saja didengar oleh-Nya, dan langsung dijawab segera, bagaimana dengan hati yang lembut dan adab yang baik?

Tuhan Menyebut diriNya sebagai Rabb yang ternyata (iya baru tahu, iya aku mengaku ‘anak ngaji’ tapi sombong belaka) bermakna ‘Pendidik.’ Kita semua manusia (dan makhluk lain, mungkin tumbuhan dan hewan, mungkin alien juga) adalah muridNya dan Dia adalah Sang Guru. Ini berarti bahwa Dia Mengajarkan kita ilmuNya.

Singkat cerita hari ini Rabb Yang Maha Agung Mengajariku tentang keikhlasan. Semoga ingatanku tentang arti ‘ikhlas’ belum luntur. Ikhlas yang juga adalah nama surat di Quran tidak sesederhana ‘tulus’ atau ‘tanpa pamrih’ walau keduanya tercakup juga. Definisi pastinya ada di surat itu sendiri, tentang mengesakan Tuhan. Tidak ada yang lain, tidak ada manusia maupun pujian manusia bahwa aku ini orang baik atau hebat.

Mengapa motto? Kejadian kecil berupa ‘kesadaran sedang diajari/dididik Tuhan’ seperti di atas sering terjadi dalam hidupku (aku yakin dalam hidup semua orang juga). Kandidat motto ini harus aku pikirkan juga teknis penulisannya. Harus ada satu kalimat singkat dan efektif tapi mewakili maknanya yang dalam. Kandidat kedua mungkin dilanjut di posting selanjutnya, karena sungguh membosankan jika aku bercerita lagi di sini.

Oya beberapa kalimat di tulisan ini terangkai setelah membaca buku biografi Rasulullah SAW oleh Tariq Ramadan si cucu Hasan Al Banna, pak dosen yang logat Perancisnya kental saat berbahasa Inggris (oh, detil yang aneh).

Mencari Penjahit Favorit

Sejak kecil aku sering ke penjahit. Entah itu untuk menjahitkan kain seragam lebaran keluarga besar dari pihak ibu (oh iya, setiap tahun tema kostumnya berbeda. Tahun ini kain batik coklat, tahun berikutnya kain batik ungu), atau seragam keluarga yang akan menikah, atau celana olah raga di sekolah menengah dulu (sekolah membagikan kain, kita disuruh menjahitkan sendiri). Akhir-akhir ini pun aku harus menjahitkan kain batik seragam fakultasku untuk seragam hari kamis dan jumat.

Seringkali pemberi layanan jasa menjahit adalah bapak-bapak atau ibu-ibu yang membuka kios seadanya di pinggir jalan, dengan stiker di kaca depannya “TAILOR” atau “MODISTE” dengan nama masing-masing, seperti misalnya DANA TAILOR atau ANAS TAILOR. Ada juga yang namanya butik, yaitu toko yang menjual baju satu model untuk satu buah baju saja, yang artinya eksklusif, tidak ada duanya. Kadang harganya mahal, jauh di atas harga ritel di toko yang bajunya satu model untuk seribu potong, tapi tergantung juga pada pemiliknya. Ada seorang temanku, yang hobi merancang baju gamis muslimah, dia membeli kain, menjahitkannya dengan model yang dia rancang, kemudian menjualnya di butik miliknya sendiri dengan harga murah (ada sepotong gamis di lemariku dari butiknya, murah dan bagus). Ada cara dengan menggunakan jasa perancang baju (fashion designer) yaitu meminta seseorang untuk merancangkan baju untuknya dan membuatkannya sesuai ukuran. Dijamin mahal dan tidak ada duanya. Yang terakhir ini mungkin tidak terjangkau bagi kocek rakyat jelata sepertiku, kecuali baju untuk acara spesial seumur hidup yaitu pernikahan (tapi bagiku masih terlalu mahal, nanti menyewa saja).

Bagi pelanggan penjahit pinggir jalan sepertiku, ada risiko yang harus diambil dalam mempercayai pemberi layanan jasa menjahit ini. Ada kontrak yang berdasarkan kepercayaan, ditambah nego harga, ditambah kesabaran dalam menanti hasil jika penjahitnya ada masalah dalam memenuhi tenggat waktu, atau masalah dalam memenuhi keinginan kita tentang model atau ukuran. Yang terakhir ini penting sekali, kalau kehilangan kesabaran dengan seorang penjahit maka kita akan kapok ke sana dan memulai pencarian penjahit yang cocok, bisa dipercaya, murah, dan sejumlah syarat lainnya.

Pernah aku menggunakan jasa penjahit langganan sejak kecil sampai kira-kira aku kuliah. Bahkan aku sampai merekomendasikan ke teman-temanku saat mereka mulai memakai jilbab dan ingin menjahitkan beberapa gamis. Penjahit ini adalah sepasang suami istri muda yang membuka lapak di rumah sendiri. Suatu ketika aku merasa kecewa akan hasilnya yang tidak sesuai deskripsiku dan gambar model baju yang kubuat. Aku pernah juga mendapat rekomendasi penjahit baju pesta yang letaknya agak jauh dari rumahku. Saat aku ke sana untuk menjahitkan kain untuk seragam walimah sepupuku, sang penjahit bertindak patriarkis dalam diskusi tentang  model baju yang kumau. “Ya jelek lah mbak kalau seperti itu. Mendingan begini… Mendingan begini…” dan aku merasa gondok. “Ini kan baju yang akan kupakai, kenapa kamu komentar tentang modelnya yang menurutmu jelek. Kalau jelek kan risikoku sendiri. Kalau aku akhirnya ikut saranmu dan ternyata jelek, apakah kamu mau tanggung jawab?”  Aku menggerutu dalam hati sebelum akhirnya menyetujui semua sarannya. Saat gaun itu jadi, benarlah aku kecewa karena ‘jatuhnya’ di tubuhku tidak sebaik harapanku, dan aku menyalahkan sarannya yang menyesatkan. Sejak saat itu aku kapok menggunakan penjahit itu.

Aku pernah ikut ibuku menggunakan penjahit langganan ibuku untuk membuat rok. Iya, mahasiswi kedokteran kampusku wajib memakai rok (dari beberapa puluh fakultas kedokteran di Indonesia, yang masih mewajibkan rok untuk mahasiswinya mungkin kurang dari sepuluh). Namun hasilnya aneh, modelnya agak tidak bisa kuterima. Waktu itu kainnya memang bagus, jadi walau modelnya agak membuatku kecewa, tetap kupakai (kotak-kotak warna coklat, dan sempat disangka seorang teman dari Belanda bahwa ini kain khas Indonesia, hehe). Lagi-lagi aku batal menobatkan penjahit itu sebagai penjahit langganan.

Tiga kisah di atas hanya sebagian dari kumpulan kisahku dengan para penjahit. Ada penjahit yang salah mengukur kain sehingga baju yang dibuatnya terlalu kecil untukku. Terlalu sempit. Lupa menambahkan kain furing. Salah mengira tentang tanggal tenggatnya. Lupa menambahkan kantong di rok, dan lain-lain.

Tuntutan yang tinggi dariku mungkin belum akan selesai. Mungkin untuk menghentikan “sebal dengan penjahit ini, dan memutuskan untuk kecewa dan tidak akan menjahitkan ke situ lagi” dan mulai “mencari penjahit lain lagi dan berharap kali ini beres” adalah dengan membayar perancang baju yang mahal dan profesional, yang minimal bergelar sarjana jurusan fashion design. Ada kemungkinan juga semua ini ternyata salahku dalam mengkomunikasikan kebutuhanku. Aku butuh selesai tanggal segini, aku butuh model yang seperti ini (harus dengan gambar, jika perlu gambar tiga dimensi), dan aku harus menyaksikan sendiri si penjahit menulis semua detil yang kumau. Beberapa kasus yang kualami adalah aku kurang ‘memaksa’ penjahitnya untuk menuliskan semua kebutuhanku di buku catatannya. Aku sering menyerah pada “iya mbak, inget kok”. Aku pikir, ternyata penjahit itu mungkin seperti dokter, harus mengingat prinsip “tulis yang dilakukan dan lakukan yang ditulis” untuk menghindari dituntut oleh pasien/pelanggan.

Atau tentu saja aku sebaiknya sabar dan menyadari bahwa para penjahit di pinggir jalan itu hanya orang-orang yang sabar mencari rejeki Tuhan dengan halal, dengan kemampuan seadanya dan sikap terbaik yang bisa mereka tampilkan pada para pelanggannya. Mungkin aku harusnya tidak menuntut banyak karena baju hanyalah baju, bukan definisi pribadi seseorang. Orang yang cantik dan langsing ya akan tetap seperti itu walaupun bajunya jelek atau tidak sesuai keinginannya. Toh yang merasa tidak bagus kan diri sendiri, sementara orang lain mungkin bilang “aih bajunya bagus.” Lagi pula ada yang namanya “meminta tolong si penjahit untuk memperbaiki baju hasilnya sampai sesuai keinginan,” atau “mengkoreksi ukuran sampai pas” atau “memaafkan dan berharap kesalahan yang ini tidak terulang.” Yang terakhir mungkin sulit, karena reaksi emosi sesaat lebih mengarah pada “ah cari yang lain saja” daripada memutuskan bahwa kesalahan manusiawi ini tidak akan terulang.

Dari para penjahit ini aku semakin tahu betapa tidak sabarnya diriku, betapa seringnya aku menuntut orang lain untuk memenuhi keinginanku. Mungkin juga semua itu masih dapat ditoleransi asal aku cukup artikulatif menyampaikan maksudku. Aku harus memastikan efektivitas dan efisiensi komunikasiku untuk mencapai keinginanku.

Sekali lagi, apa yang bisa kuharapkan dari jasa seorang yang tidak profesional, yang tidak belajar ekspertisinya dari bangku formal, dan yang tidak menghargai kontrak kepercayaan setinggi para profesional? Untuk menghindari rasa kecewa sebaiknya aku mulai mempertimbangkan untuk menyewa jasa perancang baju. Bukan penjahit pinggir jalan. Bagaimana jika aku mengeluhkan harga perancang yang mahal? Maka aku harus mulai realistis dengan menerima segala kekurangan para penjahit non profesional itu. Belajar menjahit baju sendiri? Mungkin suatu saat, tidak dalam waktu dekat.

Cerita dari (dekat) China

Beberapa bulan berlalu sejak adikku mengirim pesan via whatsapp untuk mengajakku membeli tiket pesawat murah untuk traveling ala ransel alias hemat ke Hong Kong (ternyata penulisannya dipisah begini!) dan Macau. Inilah hari yang ditunggu-tunggu, yang sudah dipersiapkan (minimal secara mental), yang membuatku berniat belajar barang sedikit saja bahasa China (yang akhirnya kuketahui negara ini menggunakan bahasa Kanton bukan Mandarin). Kisah ini merupakan lanjutan dari posting singkat di sini.

Kami berangkat dari Surabaya dengan pesawat Air Asia ke Hong Kong setelah transit sekitar tiga jam di bandara dekat Kuala Lumpur, Malaysia. Disambut udara dingin dan kabut, Hong Kong kulihat sebagai daerah istimewa China (special district) yang sangat maju dan rapi dengan masyarakatnya yang ramah terhadap turis. Apalagi turis berkerudung macam kami berdua ini, yang kata adikku yang baru beberapa bulan lalu ke Beijing, China, manusia berkerudung adalah barang langka yang selalu menjadi pusat perhatian. Mungkin kami hanya berdua sehingga tidak banyak yang memandangi kami, atau penduduk Hong Kong berpikiran lebih terbuka atau lebih banyak membaca berita.

Demi transpor murah, seperti prinsip kami sejak awal sebagai backpacker, ‘lima hari empat malam’ traveling kami tersisa tiga hari bersih untuk jalan-jalan dan dua hari sisanya (hari pertama dan hari terakhir) untuk perjalanan panjang pergi pulang. Malam itu setiba di Hong Kong kami menaiki bis bandara setelah sebelumnya dimarahi ibu penjual tiketnya karena uang kami terlalu besar (maklum, agen penukar uang di Semarang hanya punya uang ribuan HKD). Seperti yang banyak kubaca sebelum berangkat bahwa hostel tempat kami menginap sangat sempit dan terletak di lantai sekian sebuah mansion, bersama beberapa hostel lainnya, tempat ini cukup nyaman dan berada di pusat kota di pulau Kowloon di daerah bernama Tsim Sha Shui.

Esoknya yang kuhitung sebagai hari pertama, kami memutuskan sarapan mie gelas masing-masing dua bungkus karena banyak blog mengatakan makanan halal di HK termasuk mahal. Tujuan kami hari ini adalah Heritage Trail alias menapak tilas peninggalan jaman kuno di bagian utara pulau Kowloon. Kami menggunakan kereta untuk sampai di sana, beberapa kali dihentikan oleh satu, dua, atau serombongan wanita berjilbab berwajah Jawa untuk ditanya arah dan disapa dalam bahasa Jawa ngoko “sampeyan ngerti iki rak mbak?”, dan sangat menikmati kontrasnya gedung-gedung pencakar langit dengan kuil-kuil khas Asia Timur yang banyak dikunjungi turis lokal untuk berdoa.

Kami juga mengunjungi Pohon Harapan (Wishing Tree) yang umurnya sudah lebih dari seabad, menyaksikan orang-orang asyik melempari ranting-rantingnya dengan buah jeruk palsu dari plastik yang terikat pada selembar kertas yang ditulisi harapan-harapan pelemparnya.

Selalu ada hiburan gratis untuk turis di kota-kota negara maju. Di sini ada Symphony of Lights, suatu pertunjukan kelap-kelip lampu yang menghiasi gedung-gedung di seberang pulau dengan latar musik instrumental yang atraktif. Dengan ramah, suara dengan sumber yang sama dengan latar musiknya menyapa turis, “Welcome to Symphony of Lights,” yang dilanjutkan dengan warna-warni lampu di gedung-gedung pencakar langit yang membentuk kata-kata atau animasi, yang berlangsung selama sekitar sepuluh menit. Ada yang lebih bagus dari ini, tentu saja, seperti pertunjukan Natal di pusat kota Melbourne atau Songs of The Sea-nya Singapura.

Hong Kong terdiri dari empat daerah, yang pertama termasuk dalam semenanjung China, tiga lainnya merupakan tiga pulau yaitu pulau Kowloon, pulau Lantau (tempat bandara berada), dan pulau Hong Kong. Menyeberang ke pulau Hong Kong dengan sebuah feri membutuhkan biaya tiga ribu rupiah. Kami berangkat bersama banyak orang berpakaian rapi untuk bekerja. Kulihat banyak masyarakat Kowloon yang bekerja di pulau Hong Kong, sehingga bisa kubayangkan dua kali sehari mereka menaiki feri menyeberang pulau. Pulau Hong Kong tampak memiliki lebih banyak pencakar langit dan rumah susun, dan ada restoran halal yang menjual makanan China di gedung masjidnya. Seperti masjid di Kowloon, masjid di sini pun memiliki papan pengumuman bertuliskan bahasa Indonesia, mungkin saking banyaknya muslim Indonesia di sini.

Malam hari di hari kedua ini kami sempatkan ke pasar bernama Ladies Market setelah malam sebelumnya kami mengunjungi Temple Market dan membeli oleh-oleh sesedikit mungkin (setelah membuat daftar penerima oleh-oleh dan mengedit sedemikian rupa sehingga tinggal beberapa belas orang yang benar-benar penting saja). Beberapa penjual berani menyapa kami, “Berapa? Berapa?” yang membuatku semakin yakin wajahku sangat Jawa, dan beberapa penjual lainnya menawarkan harga empat kali lipat harga normal, mungkin lima kali (aku yang gagal menawar). Hong Kong, seperti banyak kota besar di dunia, gak ada matinye, bahkan pukul setengah dua belas malam kudapati diriku masih menawar mp3 player menjadi separuh harganya (padahal bukan di pasar melainkan di kios dekat hostel tempat kami menginap). Memang di pagi hari banyak pertokoan yang baru buka setelah pukul sepuluh, tapi kupikir toko yang tutup tengah malam sangat membantu.

Ada yang menarik dari pulau Lantau yang tadi kubilang sebagai pulau tempat bandara berada. Ada suatu daerah bernama Ngong Ping yang memang terpencil di sebuah lembah yang terdiri atas suatu desa mungil yang sengaja dikonservasi untuk tujuan wisata. Di tempat itu berdiri megah Giant Buddha, patung Buddha dalam posisi duduk, yang sangat mirip dengan yang ada di Borobudur. Patung itu sangat besar, dari jarak beberapa kilometer sudah tampak bentuknya, dan untuk menuju ke patungnya harus mendaki beberapa ratus anak tangga. Menuju ke Ngong Ping kami menaiki mobil kabel, semacam kotak yang meluncur di seutas kabel seperti yang ada di Taman Mini Indonesia Indah, sehingga penumpangnya bebas melihat pemandangan di bawah yang hijau dan cantik.

Ngong Ping bagiku sangat mengesankan. Perjalanan menuju ke sana tampaknya sangat jauh dengan pemandangan yang di mana-mana hijau. Sementara masih teringat jelas betapa beberapa hostel sekaligus harus berdesakan di sebuah mansion, betapa penduduknya tinggal di apartemen tipe studio yang harganya selangit. Tidak ada satu pun rumah normal kuamati sejak aku di Hong Kong, seperti rumah orangtuaku yang beberapa ratus meter luasnya, yang bertetangga dengan nyaman, dan yang halamannya luas. Namun demikian, masih banyak bukit-bukit yang hijau dan asri, tanpa sedikit pun terjamah untuk pembangunan real estate atau sekedar perumahan sederhana.

Hari ketiga adalah hari Macau, yang baru belakangan juga kuketahui sebagai salah satu special district dari China selain Hong Kong. Macau menggunakan bahasa Kanton dan Portugis karena memang bekas jajahan Portugis. Sampai sana pun semua papan pengumuman ditulis dalam tiga bahasa yaitu Kanton, Portugis, dan Inggris. Jika dilihat dari peta, jarak pulau Kowloon ke Macau agak jauh, namun dengan kapal bernama Turbojet, perjalanannya hanya sejam dan bebas mabuk laut. Pergi pulang jika dikurs rupiah bisa mencapai setengah juta rupiah, memang mahal, namun kapan lagi ke Macau, kan.

Sampai di Macau kami mengunjungi kasino. Iya, tempat judi itu. Atraksi utama Macau memang kasino. Semacam Las Vegas, Macau sepertinya ingin mengklaim diri sebagai tempat judi nomor satu di dunia. Tidak heran jika banyak bis gratis disediakan oleh pihak kasino untuk transpor dari terminal feri ke pusat-pusat judi itu. Kami sih tinggal naik bis gratis itu, dari kasino kami jalan kaki ke objek-objek wisatanya.

Dalam satu kalimat bagiku Macau adalah tempat wisata buatan. Tidak ada pemandangan alam yang mencengangkan, misalnya, namun ada makanan yang kelezatannya masih terngiang sampai sekarang yaitu Portuguese Egg Tart, tart telur khas Portugis dengan pinggiran pastri dan berisi puding telur karamel (sudah googling resepnya dari dulu tapi belum berani mencoba membuat). Tempat wisata buatan, menurutku, karena dibuat dengan serius dengan investor yang kekayaannya serius juga, berupa gedung-gedung kasino yang luasnya mungkin seluas RT di kampung kami, dengan langit-langit yang dibuat seperti langit biru berawan, dengan kanal-kanal yang dilewati gondola-gondola, lengkap dengan pengemudi bersuara merdu dan berseragam ala penjual sate Madura. Ada masjid di Macau, tentu, yang halaman belakangnya digunakan untuk makam, yang suasananya sepi, jauh dibanding dengan masjid di Kowloon maupun Hong Kong, walau pengumuman berbahasa Indonesianya tidak kalah menarik.

Malam itu aku merasa harus berpikir taktis dalam menghabiskan pagi harinya sebagai hari terakhir di Hong Kong. Aku sangat ingin ke perpus kota namun, tentu saja, baru buka pukul sepuluh pagi sementara pesawat kami berangkat pukul tiga belas. Pelajarannya? Pikirkan perpus kota sebagai tujuan utama kapanpun kamu ke luar negeri. Pagi terakhir itu akhirnya kami habiskan untuk berkeliling taman kota bernama Kowloon Park dan kekagumanku membuat adikku heran, “Kamu pasti seneng banget ke Beijing karena di sana lebih banyak taman, dan taman-tamannya jauh lebih bagus.” Ah, kenapa pula aku tidak coba mengunjungi taman-taman di Surabaya hasil upaya bu Risma sang walikota, ya. Yang menarik perhatianku selain ada ‘hutan’ di tengah kota adalah kegiatan di taman itu. Sebagian besar pengunjungnya pagi itu (dan mungkin sebagian besar hari) adalah lansia. Mereka semua berpakaian training dan melakukan senam dengan gerakan yang lembut dan lambat. “Taichi, tuh,” kata ayahku  ketika kupamerkan foto-fotonya sepulang dari Hong Kong. Iya, mungkin kesadaran akan kesehatan penduduk negara maju sudah sejauh ini; para lansianya rutin ber-taichi di taman kota yang sejuk (dan tentunya lebih luas daripada apartemen mereka) setiap hari, seperti pagi hari Rabu pukul sembilan itu.

Tas kami lebih berat karena beberapa oleh-oleh, namun hati ini sungguh ringan dibanding saat berangkat meninggalkan Semarang (dan juga pekerjaan) beberapa hari lalu. Kepalaku juga lebih berat karena penuh ingus di sinus-sinusnya. Udara awal musim semi memang kurang bersahabat bagi sebagian orang, hehe. Nikmat pemandangan dan pengalaman yang disesap walau sesaat tetap akan menyisakan kenangan bermakna dalam hidup kami. Aku sempat berkata pada adikku untuk menceritakan pada anak cucuku nanti bahwa nenek pernah dolan berdua aja sama nekcil (nenek kecil alias adiknya nenek :p) dan mungkin ini bukan yang terakhir.

Kata orang bijak, karakter orang akan tampak saat kita bepergian jauh dengannya, dengan versi lain yang mengatakan bahwa kamu akan mengenal seseorang dengan bepergian jauh dengannya. Tanpa bertanya pada adikku pun aku jadi bisa bercermin darinya tentang diriku selama lima hari di Asia Timur ini. Bukan hanya itu, aku semakin merasa manusia di dunia ini sama, sama-sama mencari kebahagiaan, sama-sama mengusahakan kehidupan yang terbaik bagi dirinya dan orang-orang sekitarnya. Beberapa kali sehari selama di Hong Kong kami sering mengobrol mengapa di sini begini dan mengapa tidak begitu. Kemudian kami menyetor ide masing-masing dan akhirnya menyetujui yang paling masuk akal. Sering pula kami tidak habis pikir mengapa begini mengapa begitu, namun karena tidak cukup ide, kami sepakat meninggalkan kata ‘mengapa’ dan memilih menerima, ” People. You know.”

Kupikir berkelana jauh semacam ini membuat pikiran kami berdua terbuka, tidak serta-merta menghakimi mengapa seseorang atau suatu negara berlaku begini dan bukan begitu. Mungkin makin banyak seseorang berjalan di muka bumi maka makin sedikit komentarnya dan makin banyak aksinya. Mungkin makin banyak pengalaman, seseorang akan makin penasaran untuk mencari tahu dan bukannya berkomentar dan menghakimi. Seseorang akan makin seperti anak kecil, yang dengan hati riang dan pikiran terbuka, siap tersenyum, tertawa, atau menangis oleh kejutan yang dunia berikan padanya. Setidaknya itulah yang kurasakan setiap pulang dari perjalanan jauh yang isinya tidak jauh dari kejutan-kejutan di luar dugaan. Banyak kejutan yang menyenangkan, seperti keindahan alamnya dan keramahan warganya, kesulitan konyol mencari arah saat tersesat, walau ada yang menyedihkan yang tidak perlu diceritakan karena aibku sudah ditutup rapat oleh-Nya.

Ada pula kalimat bijak yang mengatakan bahwa bahagia itu letaknya di hati, bukan di dalam rumah mewah laksana istana atau di negeri asing seperti Hong Kong atau Macau. Namun kadang kamu menyadari adanya secuil hati yang bersyukur ketika kamu berada jauh dari rumah, atau ketika matamu terantuk pada pemandangan mempesona, pada pengalaman budaya yang jauh berbeda, dan pada persaudaraan yang ikatannya melebihi apapun di dunia ini.

Sambil merindukan kerapian kota dan kemudahan transpor Hong Kong, atau mungkin sekedar kebahagiaan atas pelarian dari rutinitas, hari ini aku berkendara motor ke kantor. Baru siang itu kusadari teriknya mentari di Semarang. Betapa hangat kotaku ini, mungkin suatu hal yang penduduk asli Hong Kong rindukan setiap harinya di musim dingin, gugur, maupun semi.

Yah begitulah cerita singkat (hah, singkat?) sepulang dari Hong Kong dan Macau, dua daerah istimewa milik negeri China. Catatan ini mungkin berguna untuk kubaca beberapa tahun (atau puluh tahun) dari sekarang.

Aku selalu bermimpi bisa berkeliling dunia dengan orang tercinta yaitu suamiku nantinya, berpetualang bersama… Namun siapa sangka kesempatan itu datang sekarang ketika aku bisa bepergian dengan adikku tercinta. Mungkin perjalanan itu sudah dimulai sebelum aku menyadarinya. Mungkin kebahagiaan itu memang dekat, tergantung semangat kita dalam memupuk bagian kecil dari hati yang penuh syukur itu, agar terus tumbuh besar dengan akarnya yang menghujam dalam dan rantingnya yang tinggi melangit. Feel blessed for who you are and what you have, and feel enriched with what you experience, 🙂

 

Adikku dan aku di latar suatu Temple di Kowloon, HK.
Adikku dan aku di pelataran suatu kuil di Kowloon, Hong Kong.

Perkenalkan

Perkenalkan. Saya seorang bersuku Jawa yang mengaku muslim. Umur saya dua puluh tujuh lebih, belum menikah dan tinggal bersama orang tua. Pekerjaan saya dokter walau saya akan meralatnya menjadi ‘profesi’ karena saat ini saya berusaha ke kantor setiap harinya di kampus negeri dan tidak praktik. Suatu hari saya akan praktik lagi setelah urusan sekolah master yang belum ada progres ini saya selesaikan, begitu yang selalu saya tekankan ketika ditanya kapan kembali praktik. Saya anak tengah dengan seorang kakak pria yang belum menikah dan adik perempuan yang sudah menikah. Penting bagi saya untuk segera menyusul adik saya untuk menikah tanpa alasan yang jelas. Mungkin hanya untuk pindah dari rumah orang tua, atau mungkin untuk sedikit merasa lega bahwa ada manusia lain di dunia ini yang menginginkan kehadiran saya sebagai istri dan mungkin ibu bagi anak-anaknya.

Hampir setiap pagi saya menyeret kaki menjalani hari dengan mood yang carut-marut. Kata para tokoh agama, mood jelek saya itu akibat saya tidak bersyukur atas hidup saya yang nyaris sempurna. Jadi saya sibuk mengingat kelebihan-kelebihan saya yang mungkin bisa membahagiakan saya, yang kemudian kebahagiaan itu bisa meningkatkan produktivitas saya sebagai wanita karir yang diharapkan bangsa dan negara.

Sementara para sebaya saya sibuk dengan keluarga kecilnya atau proyek besar dalam benaknya atau rencana pengentasan kemiskinan bersama grupnya, saya sibuk membujuk diri sendiri tentang pentingnya menjalani hidup dengan penuh antusiasme. Saya sibuk menenggak suplemen-suplemen agamis yang menawarkan kebahagiaan tak terbatas bagi semua orang. Kemudian saya akan merasa lega dan selanjutnya merasa lebih ringan saat menyeret kaki ini.

Entah apa yang saya tunggu untuk akhirnya bangun dengan jiwa berapi-api, dengan ambisi untuk berbakti bagi bumi ini. Entah apa yang hilang dari diri saya sampai kehampaan jiwa ini berlarut-larut, kekosongan yang sungguh berat diseret saat melangkah digilas waktu. Iya, kosong namun berat, lambat namun cepat, saat tahu-tahu sudah hampir akhir tahun, saat tahu-tahu banyak orang sudah berbuat, dan saya masih termangu tanpa air mata.

Pernah saya merasa brilian ketika merindukan diri saya versi masa depan yang sudah produktif dan diharapkan banyak orang. Diri saya dari masa depan itu menghampiri diri saya yang sekarang, menepuk pundak sambil menenangkan bahwa semua akan baik-baik saja, semua akan berlalu, dan saya akan bisa melewatinya. Impian semu, namun merupakan solusi atas kehampaan saat ini. Kemudian saya merasa lebih brilian ketika membaca jurnal-jurnal saya sendiri bertahun lalu. Di situ saya temukan diri saya yang produktif dan ceria, walau sering terhias air mata manja. Membacanya membuat saya percaya akan kemungkinan jiwa saya kembali terisi, akan kebahagiaan abadi yang sekarang dirasa sedang hilang. Jadi saya sedang termangu minta diajari diri saya yang dulu, yang kekanakan dan sering seenak sendiri, namun penuh optimisme, kebahagiaan, dan harapan-harapan.

Dalam saat terbaik saya, semisal menjelang pergantian siang dan malam saat kadar gula darah terbatas, saya menyadari bahwa merindukan diri saya di masa depan maupun di masa lalu bukanlah solusi. Bagaimanapun bentuk saya, baik dulu yang saya rasa lebih produktif, maupun saat ini yang lebih banyak menangis tanpa sebab yang jelas, adalah tetap diri saya yang dilimpahi rahmat-Nya. Mungkin mengandaikan masa depan maupun mendewakan masa lalu maupun mencerca masa kini tidak pernah bermanfaat. Mungkin saya hanya harus terus melangkah dengan secuil iman di dada, iman pada Tuhan Yang Tidak Pernah Lelah Menunggu hamba-hambaNya berjalan kembali menujuNya, Yang Kasihnya meliputi jagat raya, Yang RahmatNya jauh Melebihi MurkaNya.

Jadi perkenalkan, saya seorang pelayan Tuhan yang sedang terlena dari tugas utamanya di dunia..