Sharing is Caring

Sharing is caring adalah kalimat yang sering digunakan nenek dari ibuku. Beliau sudah meninggal tujuh tahun lalu oleh kanker yang kami tidak tahu apa. Saat ini, Ramadhan 2018, aku baru paham arti sebenarnya. Berbagi berarti peduli. Berarti juga sayang. Nenekku memang suka memberi, tapi kuduga sebagian besar orang juga begitu kan?

 

Suatu hari aku memutuskan untuk mendaftarkan diri di acara lari untuk galang dana. Konsep run for charity sudah ngetop di dunia beberapa tahun terakhir. Namun ada satu orang yang begitu menginspirasi hingga aku akhirnya iri “dia tampak bahagia banget sih melakukan itu, aku juga mau.”

Saat aku menulis ini, pengumuman bahwa aku lolos sebagai salah satu peserta lari itu sudah dua bulan lalu. Laman khusus tiap pelari untuk donasi sudah rilis hampir dua minggu yang lalu. Setiap hari sejak dibukanya laman khusus kami, aku memikirkannya. Memikirkan semua tentang galang dana ini. Semacam obsesi.

Hari-H masih sembilan puluh hari lagi. Dua hal yang mendebarkan bagiku: berlari sejauh 40 km dengan “tepukan” di pundak dari para donatur: “semangat ya,” dan apa lagi yang sebaiknya aku lakukan untuk galang dana hingga tenggat waktu tiba.

Sebagai orang yang terlalu sering kepikiran (aku menolak menyebut diriku suka sengaja memikirkan, hahaha), acara galang dana ini agak menyita waktuku. Seminggu saja sudah membuatku hampir kehabisan energi. Masih ada tiga bulan lagi.

Setelah menyadari aku menyita waktuku sendiri, aku terdistraksi dengan keadaan kamarku yang tidak pernah rapi itu. Lalu teringat satu lagi orang baik yang membagikan barang-barangnya ke orang lain. Tadinya untuk alasan kepentingannya sendiri: mengosongkan rumahnya. Tapi ternyata menyenangkan para penerima barangnya kan. Konsep ini biasanya dipakai oleh orang-orang yang tinggal di luar negeri lalu harus kembali ke negara asalnya. Jadi selain menjual tempat tinggalnya, mereka mengosongkan dulu isi rumahnya dengan mengumumkan ke siapa saja namun biasanya ke sesama perantau dari negaranya.

“Ambil aja barangnya ke rumah.”

“Eh, serius kak? Gratis? Gak pa pa, nih?”

“Iya serius. Aku akan segera balik Indo.”

Begitulah salah satu kutipan kisah nyata. Ada orang baik yang ingin berbagi namun ada juga orang-orang yang merasa asing dengan kebaikan ini sehingga tampak skeptis. “Ah, masa sih gratis?” Perasaan skeptis ini sangat mungkin adalah suatu kewaspadaan saja, dan itu baik juga. Namun seharusnya setelah mengetahui alasan “aku harus pulang ke Indo, jual barang kelamaan, aku bagi-bagi aja,” para calon penerima barang langsung paham dan berterima kasih karena mendapat kebaikan, kan?

Ada alasan lain selain “mengurangi barang” sih, sebenarnya. Menurut beberapa buku yang terbit beberapa tahun terakhir ini yang muncul di hasil pencarian di Playbook untuk kata kunci “minimalism,” kita tidak seharusnya punya ikatan yang kuat dengan benda mati. Kita juga sebaiknya mensyukuri keberadaan barang-barang kita (sehingga rela berpisah jika habis waktunya). “Thank your for helping me, now i let you go.”

Ya ampun makin gak jelas kan tulisanku ini. Memandangi isi kamarku dengan otak yang sudah membaca buku Konmari dan beberapa lembar buku tentang minimalisme, aku memutuskan mengumpulkan sebagian besar buku yang kupunya di rumahku. Aku mencoba mensortir menurut Konmari (silakan googling ya, siapa atau apa itu), lalu gagal berkali-kali. Ternyata minimalisme itu berat diraih. Ternyata aku punya obsesi dengan benda-benda (atau hanya buku?).

Aku yakin banyak pembaca tulisan ini setuju bahwa “buku adalah harta” dan “perpustakaan pribadi adalah salah satu life goal ku.” Namun menurut para penulis buku tentang minimalisme, dua kalimat itu hanyalah excuse belaka. Bahagia adalah merelakan benda sekalipun itu sumber ilmu.

Masih dalam semangat mencari donasi untuk yayasan bidang pendidikan anak, ditambah kamarku yang penuh sesak, aku memutuskan meniru para orang baik di atas: membagikan bukuku. Iya, nilai riilnya lebih dari sejuta. Namun tidakkah kita bersyukur jutaan itu sudah membahagiakan kita, sudah menjadikan kita lebih berilmu, atau lebih skeptis atau gila?

Masih saja ada yang bertanya “Serius gratis?” Tidak hanya satu atau dua orang. Lalu aku paham bagaimana para filantropis itu menjelaskan “aku yang butuh untuk ngasih, please.” Dan paham kata eyang utiku tadi, “Sharing is caring.”

Oh, dan merasa penyebab kebingungan beberapa orang dengan konsep berbagi ini adalah jaman makin edan, materialisme masih menjadi “agama” favorit.

Huft. Intinya aku nulis apa ya, hahaha. Berbagi itu sungguh sebenarnya untuk diri sendiri. Pemberi merasa lebih bahagia dibanding yang diberi. Menurut agama pun, sedekah sejatinya adalah untuk kepentingan diri sendiri. Teduh di surga nanti, atau agar disayang Tuhan.

Jadi, begitulah. Semoga Ramadhan ini menjadikan kita lebih bertakwa. Oh, baca lebih lanjut tentang run for charity ku di runtocare.com/ayu, baca kampanyenya, lalu donasi recehmu ke situ ya. I love you ❤

 

Advertisements

Dapur rumah siapa?

Sinar matari menyergap jendela

Menembus celah anyaman bambu yang juga dinding rumah itu

Wangi bawang goreng membumbung ke bawah genteng

Sotil di tangan kananku.

Kuaduk aluminium itu beradu dengan aluminium wajan tua

Percik minyaknya berkilat-kilat

Gaduhnya merangsang pengecapan.

Bulik dan beberapa wanita duduk bercengkerama di dipan, di balik dapur ini

Aku ingat sekali, dapur itu berlantai tanah, tanpa ubin maupun semen

Aku juga ingat kompornya hanya tungku dan kayu bakar yang membara apinya

Tidak kuingat ada kipas angin atau anggota keluarga pengipas di sekitarnya.

Lalu segala yang terjadi setelah itu terlalu singkat

Seperti akhir pekan yang kemudian menjelma Senin pagi dalam beberapa kejap saja

Yang kuingat aku diteriaki, dimarahi, disalahkan

Hingga aku ketakutan, dan ingin segera beranjak dari situ

Aku beringsut seperti seekor kucing yang tunggang-langgang dengan ikan di mulutnya

Namun bibirku rapat, dan bergetar

Aku juga ingat para bulik dan entah siapa lagi para wanita itu memandangiku

Mungkin saling berbisik, atau mungkin hanya melirik-lirik.

Aku memunggungi semua yang kuingat itu, melangkah menjauh, namun telingaku tidak tuli

Teriakannya masih terdengar. Penuh amarah, dan itu semua salahku.

Lalu aku terbangun. Ini kamarku, dan ini belum Subuh. Kamar berlantai keramik. Berdinding bata berlapis semen, bercat biru telur asin.

Aku masih saja gemetar.

Cerita Khayalan (1)

Aku menuliskan angka satu karena optimis kisah ini akan bersambung. Tidak seperti film-film di bioskop yang seri pertamanya tanpa angka. Nanti di sekuel kedua baru muncul angka dua, biasanya begitu kan.

Suatu hari di kota kecil di lereng gunung, tinggal sekeluarga yaitu ayah, ibu, dan tiga anaknya. Negeri itu makmur dan rakyatnya patuh pada pemimpinnya. Pun di rumah itu, ketiga anak patuh pada orang tua.

Bertahun-tahun ketiga anak tumbuh dewasa sampai si sulung harus merantau. Dengan bekal beberapa kotak makan, pakaian, dan sepeda, berangkatlah si sulung ke ujung pulau. Ke kota pantai, yang lebih ramai, yang lebih sering disinggahi para saudagar.

Di rumah sang ayah mulai melemah. Ada penyakit yang menggerogoti otaknya, sehingga berjalan pun dia tak sanggup. Maka sang ibu mengambil peran kepala keluarga. Kedua anak mereka tekun belajar hingga akhirnya lulus dan bekerja membiayai kehidupan di rumah itu.

Pemerintah tak lagi terlalu dicintai. Atau rakyat tergerus kehidupan modern dan teknologi, sehingga makar terjadi. Provokasi hampir selalu berhasil, kerusuhan adalah hasilnya.

Aneh sekali di rumah itu pun demikian. Seperti tsunami, tiba-tiba saja si anak tengah menghadap kedua orang tuanya dan berkata, “Bapak Ibu, izinkan aku merantau.”

Sang ibu heran, “Apa yang kurang? Pekerjaanmu bagus di sini.”

Si tengah memandang ayahnya. Berharap ada komentar lain. “Kenapa, Sayang?” akhirnya pertanyaan keluar dari mulutnya.

Si tengah menunduk. Dia menimbang apa yang harus dikatakan. Dia takut suaranya bergetar, dan takut genangan air mata di sudut matanya terlihat.

A lasting friendship

Here comes another love story of the very author of this blog.

This is October, where rain comes every other day, which is perfect. Because rain is a blessing.

I met him in a very normal circumstance, where he greeted me a bit louder that it should have been, and he started talking to me when it was more appropriate.

I shall not talk about him further. On the other hand, I want to let the world know, that around 2 years ago I wrote a post in this blog about “my last crush” before my future husband. But then, I was wrong. People come and go. I sometimes let them in, sometimes kept them outside. So this guy, my very subject in this post, is a guy in a shiny armor riding a horse coming to the castle of my heart. This guy might be my future husband, my last resort, but may be not.

A flowing, effortless conversation is where I shall start this story. I will say yes if someone asks me whether I believe in love at the first sight. So when he greeted me enthusiastically and approached me with elegance, I would love to believe that he found me interesting. Maybe the size of my hijab, I don’t know. Maybe simply my chubby cheeks that I am blessed to have. I can’t tell. I appreciated his look, too, and may be that was the core reason why I’ve been having this butterfly fluttering its wings in my tummy since we met.

The following hours spent with him was effortlessly fun, if not making me elated. I made the move to ask his number at the end of our encounter, and there came series of a deeper conversation by texting. I told him that I don’t go out like those youngsters intending for a marriage, but I accept visits to my parents’ house from grown-up gentlemen.

I told him I would love to see him again and he asked, “why me”. I answered something at which he laughed.  I am not sure whether he wants me too, and that makes things easier for me. I have nothing to lose. What we are having now is a friendship because of the same hobby. Guess I am a nervous clumsy girl who prefers a platonic relationship for now and let things proceed naturally.

The most unfortunate ending that I may have is that we don’t see things similarly and we should go on our own ways. But I believe deep conversations solve some probable misunderstandings. For marriage is about communicating to one another for the rest of our life. After all, these crazy thoughts in my head may be just in my head, just remnants of past heart breaks.

Long story shorts, days were replaced by weeks, then by months, so the warmth of the conversations faded like a dying candlelight. 

People told me that it was the geograhic distance that made it hard to keep up the height of the chemistry. But I disagreed. Something changed though I was never sure why. 

Then I ended whatever making me feel like I nurtured the fluttering butterflies in my tummy by a thank-you note. No replies. I would expect that. A long sigh and some nights with tears. But I was okay. Always. If I wasn’t okay I would have been someplace else, like in the asylum.

This old lady writing this post is just a girl who looks forward to having a lasting “friendship.” Although this didn’t turn into a beautiful love story, I would still let this linger on the internet forever, because love is a blessing, and I am grateful to feel this.

 

 

 

 

“Yakali (Yogurt Kacang Kedelai Kuning)” Inovasi Turunkan Kolesterol Jahat


Penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, dan hipertensi merupakan penyakit dengan angka kematian yang tinggi di Indonesia. Timbulnya penyakit tidak menular ini disebabkan oleh banyak faktor salah satunya adalah kelainan metabolisme lemak atau dislipidemia. Mengapa bisa terjadi dislipidemia? Satu diantaranya disebabkan oleh gaya hidup yang buruk. Diantara beberapa penyebab dislipidemia, yang bisa dimodifikasi adalah gaya hidup. Alasan ini kemudian menjadi latar belakang kelima mahasiswa fakultas kedokteran (FK) Undip untuk mengembangkan sebuah penelitian yang bertujuan mengubah gaya hidup dari segi inovasi makanan untuk memperbaiki faktor risiko dislipidemia untuk mencegah penyakit tidak menular.

Kelima mahasiswa FK Undip terdiri dari Sitiayu Anisa Gultom, Triyoga Sulistyaningsih, Choiria Mulyawati, Hasan Murdiman, dan Muhammad Murtadho yang tergabung dalam tim PKM-PE saat ini tengah melakukan sebuah penelitian yang memanfaatkan kedelai kuning untuk diolah menjadi yogurt. Yogurt dari  kacang kedelai kuning merupakan sebuah produk yang dapat memperbaiki faktor penyebab penyakit tidak menular seperti menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam tubuh. Dalam penelitian ini responden penelitiannya adalah perokok usia remaja akhir (mahasiswa). Mengapa respondennya perokok? Hal ini dikarenakan perilaku merokok merupakan faktor risiko yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam tubuh. Berdasarkan penuturan salah satu anggota penelitian, pada penelitian ini responden diberi yogurt kacang kedelai kuning (Yakali) selama 30 hari, kemudian dibandingkan kadar LDL darah sebelum dan setelah perlakuan.

Dari penelitian ini, mereka memperoleh hasil bahwa yogurt kacang kedelai kuning (Yakali) dapat menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Mereka berharap kedepannya yogurt kacang kedelai kuning (Yakali) dapat menjadi alternatif inovasi makanan yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas sehingga faktor penyebab penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, hipertensi, dll dapat mengalami penurunan. 

Pengalaman Menyunting

Tentu saja menyunting tulisan ya, bukan menyunting seorang gadis yang cantik hatinya. Oh itu mempersunting ya? Hehehe. Menyunting atau istilah asingnya editing, adalah bahasa baku untuk mengedit, yang merupakan pekerjaan seorang penyunting atau editor.

Suatu hari di grup chat bernama Telegram (bagi yang belum tahu, ini adalah platform semacam WhatsApp hanya lebih baik. Jauh lebih baik), sesama alumni TN melemparkan lowongan untuk “mengurusi buku yang akan rilis.” Alumni ini kemudian menjadi ketua ikatan alumni sampai tiga tahun ke depan. Saat itu aku langsung mengangkat tangan (dengan cara japri, tentu saja) “Bang, aku mau jadi editor.”

Singkat cerita, buku berjudul KARYA TERBAIK UNTUK INDONESIA, BOCAH-BOCAH PIRIKAN 2.0″ rilis juga (preorder sudah dibuka, linknya sila klik di SINI) setelah berbulan-bulan berproses. Prosesnya lumayan panjang (atau ini hanya komentar seorang pemula yang sombong), dari mencari penulis (dengan survei per angkatan), melamar mereka satu per satu untuk berkenan menulis, mengingatkan mereka tentang tenggat waktu tulisan, menyunting, dan lain-lain (yang kemudian menjadi urusan percetakan).

Sebenarnya yang aku duga aku bisa lakukan dengan baik adalah menyunting: menemukan keanehan atau kesalahan penulisan kemudian memperbaikinya. Menemukan diksi yang buruk kemudian menggantinya dengan kata lain yang lebih enak dibaca. Memindah kalimat ini dan itu atau paragraf ini dan itu ke sana atau ke sini. Mengusulkan konten tulisan jika ada yang kurang, dengan menghubungi penulis dan menagih sebelum tenggat waktu. Sudah beberapa tahun aku menjadi pembimbing skripsi mahasiswa S1. Di situ pekerjaanku antara lain menemukan typo pada naskah skripsi mereka dan mengoreksinya satu per satu, mengusulkan kalimat pendahuluan yang lebih argumentatif, atau mengkritisi kalimat-kalimat tidak efektif di bagian pembahasan.  Jika si mahasiswa butuh bantuan pun aku sering mengusulkan kerangka teori, kerangka konsep, bahkan garis besar untuk bagian tinjauan pustakanya. Kukira begitu juga tugas editor buku apapun. Skripsi-skripsi itu telah menempaku. Yah, kukira, dan itu dulu.

Bagaimana pendapatku sekarang setelah aku membaca ulang naskah-naskah yang aku sunting di buku BBP2 itu? Ternyata proses penyuntingan tidak mudah. Dan sebagai pemula, hasil suntinganku masih disunting lagi oleh kakak chief editor. Dan mungkin abang editor lain. Hasil suntinganku masih kurang enak dibaca atau kurang efektif kalimatnya atau simply terlalu buruk, sehingga harus ada campur tangan orang lain. Sampai detik ini aku masih mengagumi betapa “tidak kepikiran” nya susunan kalimat seperti yang sekarang ini menjadi naskah siap cetak (dibanding usulan kalimat dariku) atau betapa tidak kreatifnya aku menemukan diksi ini dan itu.

Lack of vocabulary! Itu juga yang terjadi padaku, selain kurang kreatif (atau kurang latihan?). Bahasa Indonesiaku masih jauh dari bagus. Mungkin ini karena aku juga semakin jarang membaca.

Yang seru dari menyunting selain memaksa munculnya kreativitas setiap memelototi naskah adalah menghubungi penulis. Dari tujuh naskah (alias tujuh penulis) yang menjadi tugasku (BBP2 berisi tulisan dari 60 penulis. Jadi >10% nya adalah tugas editku walau tidak murni begitu, hehe), satu orang aku hubungi karena tulisan yang terlalu pendek. Aku menelepon dan akhirnya memutuskan mewawancara beliau, kemudian hasil wawancara aku transkrip dan kuolah menjadi tambahan kisah dalam naskah. Saat itu aku menelepon beliau dengan jemari menari menuliskan apa yang aku dengar di ujung sana. Aku (selalu) berterima kasih pada program ekstrakurikuler di SMP-ku tahun 2000 dulu yaitu “mengetik” (sementara SMP lain ekskulnya sudah “komputer”) sehingga aku bisa mengetik dengan sepuluh jari sesuai norma dan dengan kecepatan yang bisa kuandalkan. Terima kasih, SMP 5 Semarang!

Sempat sedih sih, pekerjaanku masih jauh sekali dari sempurna. Lihatlah hasil suntingan ulang para seniorku terhadap pekerjaanku (eh jangan dilihat ding, rahasia. Aib). Namun pilihan yang kupunya hanyalah “Keep moving forward.” Aku sedang belajar menyunting dan akan terus belajar. Aku siap ditugasi menyunting lagi walau pemakai jasaku harus punya intestinum (usus, Bahasa Latin) yang cukup panjang untuk bersabar dengan deadline versiku yang mengesalkan.

Oh soal dealing with deadlines, salah satu penulis di buku BBP2 mengatakan bahwa kesuksesan tidak mungkin tercapai tanpa disiplin. Mau sehebat apapun kita, sekreatif apapun kita, jika hasil pekerjaan selesai melewati deadline maka tidak ada artinya. Percuma. Dengan demikian, disiplin itu sangat penting.”

Tuh kan, satu lagi kebahagiaan dari menjadi salah satu (dari tujuh) penyunting buku BBP2, yaitu membaca (bisa sampai berulang kali) konten buku, yang sangat bermanfaat dan menginspirasi itu.

Oh satu hal lagi yang ingin aku bagikan. Suatu hari menjelang tenggat waktu rilis buku, kami para pejuang BBP2 yang tergabung dalam grup WhatsApp (tidak mungkin pakai telegram karena tidak semua orang menggunakannya) mulai cemas dengan masih banyaknya pekerjaan dan sedikitnya orang. Maka lowongan editor dadakan pun dibuka, yang disambut baik oleh beberapa orang. Namun ternyata lowongan itu dibuka sangat singkat karena pekerjaan cepat selesai dan kecemasan tidak terbukti. Saking singkatnya, terpaksa para relawan yang mengajukan diri mengisi lowongan aku tolak, “Maaf ternyata saat ini sudah cukup.” Kemudian aku pun termenung, “Hei, rasanya orang-orang (yang merespon lowongan) ini lebih berkualitas dariku. Nama mereka lebih berhak tercantum di halaman sampul sebagai “penyunting.”

Saat itu terasa sekali keberadaanku di salah satu grup WhatsApp paling keren itu (ya grup BBP2 itu, hehe) murni karena kemudahan dari Tuhan. Pas kebetulan aku punya telegram, pas kebetulan si Abang membuat pengumuman “siapa mau bantu” dan aku langsung menawarkan diri, dan aku tidak secerdas itu untuk membagikan lowongan ke grup-grup lain, “Eh mau bikin buku nih, siapa ikut?” Grup itu keren’ aku berinteraksi dengan orang-orang keren di bidang kepenulisan yang kebetulan semuanya aku deskripsikan, “We went to the same school.” dan setiap hari ada saja ilmu baru bagiku yang mengaku memiliki cita-cita tertinggi sebagai seorang penulis ini.

Alhamdulillah, semoga tugas pertama ini bukan tugas terakhirku.

Yuk ah, klik link di atas dan preorder. Jangan ditunda ya, keburu tutup masa PO nya. Barakallah.

 

 

 

Setahun atau Dua

Ternyata sudah tiga bulan blog ini dianggurkan. Hehe, maafkan ibu dosen yang tidak sibuk ini. Lari pun tidak, sebenarnya.

Mengingat setahun yang lalu, menjelang lebaran target khatam Quran sudah kulupakan, dan rencana lebaran hari pertama siapa yang ke mana (sehingga siapa yang di rumah menjaga bapak) pun mulai dibicarakan. Tak terasa setahun telah lewat. Dengan pola yang mirip, aku melupakan target khatam, dengan dalih duniawi misalnya lebih nyaman berbaring malas di kasur dan skrol Instagram sampai tertidur. Wacana lebaran pun sudah enggan aku bahas. Em, bukan enggan, hanya pasrah dan senang saja jika harus di rumah sementara semua orang rumah berangkat ke kota satelit di selatan.

Apa yang sudah berubah setahun ini? Menanyakan kalimat ini pada diri sendiri seakan diajak seorang sahabat untuk bercermin, “Say, ngaca yuk.” Mudah jika kitalah sahabat itu. Meminta orang untuk introspeksi. Namun untuk diri sendiri? Tidak siap. Tidak siap mengevaluasi diri sendiri sesuai pengamatan objektif, lebih tidak siap lagi menyusun rencana perbaikan diri. Belum lagi nanti sang sahabat berkomentar, “Nah setuju, aku juga merasa kamu masih kurang… Seharusnya…..” Duh, sakit. Sakitnya melihat kenyataan yang sederhana.

Benar bahwa sebaiknya kita tidak mendengarkan apa kata orang. Namun jika yang berbicara adalah orang-orang terdekat kita yang sangat intens berinteraksi dengan kita, apapun yang mereka katakan mungkin ada benarnya. Ucapan mereka patut dipertimbangkan kebenarannya, kemudian ditindaklanjuti. Contohnya jika ibumu berkata kamu terlalu sering tidak di rumah, mungkin seharusnya terdengar begini: “perbanyaklah di rumah mumpung masih bisa.”

Ah, Alhamdulillah. Mungkin itu yang kuusahakan setahun terakhir ini. Lebih banyak di rumah. Akhir pekan tidak lagi untuk bepergian ke luar kota mengikuti acara lari ini dan itu. Lumayan juga acara lari yang sengaja aku lewatkan demi, “mau di rumah aja.” Memang lantas tidak ada komentar, “Nah gitu dong Nduk, kalau wiken gini di rumah,” namun setidaknya tidak ada, “kapan kamu di rumah, kok pergi terus?”

Alhamdulillah.

Entah sampai kapan aku akan terus bertanya dalam hati akankah ini menjadi Ramadhan terakhirku di rumah orang tua. Yang aku tahu, aku tidak boleh putus berdoa meminta jodoh. Pasti ada pria baik yang mau bekerja sama denganku menjalani hidup yang cuma sebentar ini. I am a good team member, I promise you (sila tanya teman-teman dan keluargaku ya), walau banyak sekali kurangnya seperti tukang menunda dan sangat tidak disiplin. Usahaku untuk sabar ini tidak ada apa-apanya dibanding para perempuan hebat yang puluhan tahun menanti kehamilan, misalnya. Atau orang-orang terdahulu yaitu para Sahabat yang, jika diceritakan, akan sangat memalukanku yang tukang mengeluh ini.

Entah sampai kapan pula komentar cerdas semacam, “kalau mau menikah jangan kebanyakan pilih-pilih, yang penting itu blabla,” atau “kamu keasyikan kerja sih,” akan berdatangan, dan ketika kujawab bahwa aku memilih bersyukur saja, dijawab lagi, “ya tapi diusahakanlah.”

Allah Knows best, while we don’t.

Tapi serius deh, soal bercermin tadi. Banyak sekali yang harus diperbaiki. Mungkin jika memulai besok, sudah terlambat. Yuk mulai sekarang? “Do one thing everyday that scares you,” begitu kan ya? Like bettering yourself.

Sehingga mungkin setahun atau dua tahun lagi, aku sudah diizinkan Tuhan mengabdi pada anak manusia selain orang tua. Aamiin. Optimis dong. :))

 

 

 

 

 

 

 

Talk To Me Over Coffee

Saya menjadi mencintai kopi sejak singgah di Melbourne, Australia, selama sekitar 8 bulan. Kota itu memang terkenal sebagai kota sejuta cafe (duh pernah saya tulis di postingan beberapa tahun lalu, yang mana ya). Ngopi adalah kata kerja baru beberapa tahun terakhir yang nyaris tak tergantikan kecuali dengan lari atau hal-hal lain yang saya tidak sebutkan, hehe. Maka jika “ngopi” digabung dengan “bersama teman-teman tercinta,” efeknya pasti lebih dahsyat.

Bicara tentang teman tercinta, siapakah mereka? Ketika kamu lulus dari sekolah dan pendidikan tinggi, kamu berakhir menjadi seorang pekerja (atau pengusaha, jika kamu cukup keren). Kelulusanmu adalah keberhasilan, sekaligus batu loncatan ke dunia baru. Dunia baru itu menanti karyamu. Tergantung dari pekerjaanmu, kamu akan tetap menghabiskan waktu (hampir) 24 jam sehari dan 7 hari seminggu bersama orang-orang yang sama dengan orang yang kuliah bersamamu tadi (yang dari “orang lain” berubah status menjadi “teman sekolah/ teman kuliah/ sahabat/ pacar”) atau tidak. Tahu kan pepatah yang berkata bahwa college friends are friends for life? Itu ada benarnya. Kamu bersama mereka selama kuliah cukup lama, empat tahun (enam tahun kalau saya, hehe), mau tak mau jadi teman, dan mungkin jadi suami atau istri, kan. Hehehe.

Tiba-tiba kehidupan berubah; kamu terpisah dari mereka. Tidak lagi kuliah pagi bersama sampai siang. Sore sampai malam tidak lagi nugas atau membuat laporan bersama (kalau saya nambah rapat. Rapat-i mudheng [Bahasa Jawa]), akhir pekan tidak lagi nonton bersama, well, atau ngaji bersama… Lingkaranmu hilang. Jika boleh optimis, melebar. Pertemuan-pertemuan ala sekolahan atau kuliahan itu berubah menjadi chat sesekali atau telepon setiap ada kesedihan signifikan yang melanda, atau reuni di pernikahan salah satu teman…

Kamu terpaksa membuat lingkaran baru, yang isinya bukan lagi teman kuliah tapi teman kantor (kalau berkantor. Bersyukurlah para businessmen dan businesswomen), yang ternyata, entah kenapa, tidak pernah sekecil lingkaran yang dulu. Lingkaran itu saya rasa tidak pernah sekental hubungan yang dulu, saat masih sangat muda dan merasa sangat hebat.

Atau ini hanya saya?

Bagi saya teman kantor tidak pernah berhak mendengar cerita saya sedalam cerita yang saya kisahkan ke teman kelompok koas dulu, atau teman organisasi AMSA, atau teman yang kosannya adalah rumah kedua untuk mampir mandi atau bermain kucing. Atau teman sekamar asrama saat di SMA. Atau teman main saat di bangku SMP.

Baik, jika sekarang pertanyaannya adalah mengapa tidak melanjutkan bercerita ke teman-teman lama itu, teman-teman sekolah atau kuliah, maka terima kasih. Itu saran yang brilian. Saya sempat enggan melakukannya. Beberapa tahun bahkan, karena kesombongan saya di masa lalu (iya saya terkenal sombong jaman sekolah dan kuliah, sekarang juga masih sih, tapi mungkin sedikiiiit membaik) sehingga hanya sedikit sekali sahabat saya. Satu orang sudah pulang duluan, dan saya selalu kangen dia. Tidak ada cerita ke mereka karena saya merasa malu; tidak ada usaha mempertahankan pertemanan, mengapa tiba-tiba datang dan bercerita panjang? Maka saya menyimpan saja, dan berusaha hidup normal, cenderung introvert.

Kemudian mulai sekitar setahun yang lalu, karena semakin tua namun tidak juga laku, saya mulai merendahkan hati menyempatkan diri bertanya ke teman-teman lama itu apa kabar mereka. Saya juga meluncurkan pertanyaan favorit saya ke mereka itu: Jadi pelajarannya apa? (jika tidak paham, izinkan saya terjemahkan: What have you learned from those (failures, success, losts, gains, etc.)? Jika terlalu terkesan acak, saya selalu bisa mengubah pertanyaan itu sedemikian hingga teman lama saya itu akan tersipu dan menyempatkan berkomentar, “Ah, kamu!” sebelum memberi jawaban yang jujur.

Sebagai pembelajar seumur hidup (itu cita-cita saya. I fake it ’till I make it!), saya memutuskan bahwa kita sebaiknya mengatakan apa yang ada di hati dan pikiran kita, karena kesempatan tidak datang dua kali, karena pertemuan dengan orang-orang belum tentu terjadi lagi. We should live the moment, we should live life to the fullest, termasuk berbicara yang benar-benar penting untuk dibicarakan dengan orang-orang penting dalam hidup kita.

Jadi tulisan ini, yang ditulis tahun 2017 setelah vakum menulis blog selama lima bulan, adalah curhatan lagi. Mengecewakan ya?

Di antara puluhan bahkan ratusan pesan yang muncul di notifikasi chat, yang seringkali terlalu memusingkan jika harus dipahami satu per satu, saya mensyukuri kecanggihan teknologi yang tetap mempersatukan saya dengan teman-teman di sekolah dulu, dan mereka yang di bangku kuliah.

Maka hai teman-teman lama saya yang cukup sabar membaca post ini sampai di kalimat ini, saya ucapkan halo dan salam kangen. Yuk ngopi, saya tahu beberapa warung kopi enak di Semarang. Jika tidak, saya buatkan kopi tubruk di rumah (karena ekstraksi dengan Hario V60 oleh-oleh Kakak sudah saya lupakan caranya!).

 

 

 

 

 

Jakarta hujan

Blog ini juga kuputuskan menjadi tempat aku mencatat race recap alias kisah aku berlari.

Baru bulan lalu kuputuskan untuk ikut serta dalam Jakarta Marathon 2016. Kami tiba di Jakarta dengan kereta Sabtu subuh, setelah drama aku ketinggalan kereta yang tidak ingin kubahas sama sekali. Rombongan kami adalah aku dan beberapa mahasiswa penggila lari, dan Pak Erie, guruku yang gila lari juga. Beliau pernah jadi tokoh juga dalam kisahku yang tentang kram itu (haha gak jelas ya).

Beberapa minggu sebelum Jakmar memang beredar ramalan cuaca bahwa hari-H akan hujan lebat. Tentu saja BMKG benar, kami berlari dalam hujan! Kesannya? Dingin, tidak ada risiko heat-stroke atau dehidrasi. Namun sayangnya baju dan dalaman jadi menempel ke kulit dan menimbulkan lecet di sana sini yang wadaw banget.

Kami tiba di garis start tepat waktu tapi aku butuh ke toilet. Kami putuskan start dulu dan ke WC manapun yang kutemukan di km 2 atau 3. Di km 10 perut kananku nyeri. Oh side stitch (sudukan) nih, kupikir. Tapi nyeri sepertinya sedikit di bawah, jadi mungkin ini nyeri dinding depan perut yang memang sudah ada hernia insisionalis (dinding perut tidak menutup sempurna akibat dokter bedahnya tidak menjahit full waktu aku operasi pengangkatan usus buntu di umur tujuh). Sejauh 3 km aku berlari sangat lambat dan mengatur napas (untungnya rajin yoga), ditemani teman kecilku bernama Lucky (ig: lukriboo). Setelah lepas dari nyeri kram perut itu (alhamdulillah, hilang sama sekali sampai finish!), giliran Lucky yang nyeri telapak kakinya. Selain itu, kami menikmati lari kami yang pace 7:30 sampai 8:30. Di km 22 kami baru menemukan pak Guru dan 2 mahasiswa yang memang janji mengawal bapak sampai finish. 

Sejak km 24 aku kelaparan. Ingin berhenti saja dan makan ke warung. Kepala pening, kupikir oh mungkin hipoglikemi. Maka aku mengambil semua buah yang mungkin kuambil (jeruk baby, jeruk biasa, apel, semangka dan semangka lagi) beberapa km sekali  demi menyetor gula ke darahku. Oh Jakmar kategori Full Marathon memang surga buah, aku bahagia (karena buahnya sudah dipotong, siap makan, haha).

Sejak km 22 itu pula aku dan Lucky jadi mengikuti ritme pak Guru yang jalan-lari. Ya, betul, masih ada 20 km dan kami menyelesaikan sampai finish dengan jalan kemudian lari kemudian jalan lagi. Sepanjang jalan kami mengobrol, atau mengeluh, atau aku ribut “kalau jalan terus kayak gini kita finishnya COT (cut-out time alias batas akhir finish yang berhak mendapat medali) lho,” dan kalimat serupa.

Beberapa komunitas yang menggelar lapak gratis seperti buah, bahkan arem-arem dan klepon, sungguh membahagiakan. Belum lagi tulisan-tulisan penyemangat semacam “Lari woi, ini bukan gerak jalan.” Atau “Mbahku barusan lewat.” Dan teriakan mereka “Ayo mbak, semangat, 1 km lagi.” (Kujawab, ah masih 2 mas, jangan php hahaha).

Yang kuingat adalah hujan dan obrolan segala macam. Beberapa artis kulihat (peserta lari atau tim support di sisi jalan), dan pelari kawak juga. Beberapa km sekali aku sibuk bersyukur bisa berada di jalanan dan berlari. 

Di km 37 satu mahasiwa nyeletuk bahwa inilah titik jarak di mana marathoner merenungkan hidupnya. Mungkin dia benar, karena beberapa km sebelumnya (lah, jadi bagiku mungkin km 35?) aku masih saja teringat dengan kisah cintaku yang terlalu prematur untuk kandas. Hahaha anyways, kami kemudian mendiskusikan tentang kenapa kami lari (sambil lari, emang edan kabeh). Tungkai bawahku sudah terasa sakit sejak km 17 tapi aku tidak mengeluh, hanya beberapa kali stretching betis dengan anehnya (semacam lunges haha, but it worked).

Begitulah, rasanya 6 jam 20 menit untuk jarak 42,2 km itu lama sekali. Every kilometer seems so far away hahaha. Tapi akhirnya kami finish juga. Tinggal bertiga (dengan pak guru), yang dua orang termasuk Lucky sudah finish. Kami mengatur langkah dan lari bersama beberapa meter dari garis finish demi mencitrakan diri hehe.


Di Monas itu hujan deras jadi kami berfoto dalam hujan, menyapa beberapa orang, dan terpincang-pincang mencari taksi. Di hotel kami mengantri mandi sambil tertawa renyah menikmati kebersamaan (sepuluh orang di kamar itu, kamar yang late check-out untuk kami mandi). Memang ada satu pelawak dan satu objek bully dalam rombongan ini. 

Di Gambir kami makan sangat banyak (tentu saja ditraktir pak guru yang baik hati) kemudian mapan di kereta. Semua orang tertidur pulas kecuali aku yang sibuk membuat tulisan ini.

 I once said that I’d never run a marathon because it is not physiological. But here I am a proud marathoner. I then think that pain is indeed inevitable but suffering is optional. And I choose to endure.

Gluttony

This is beyond midnight and I want to eat haloumi cheese, tabouleh, and pilaf.

I wonder how our taste buds possess a memory too. Sometimes we miss food more than we miss people or circumstances. Or is it just me, I wonder too. Is it just a simple craving? Unknown.

The longing to eat certain types of food comes from the strong memory created while eating, I suppose? Again, my second deadliest sin (after ‘sloth’) is gluttony. In plain language, it means I eat a lot and I love to eat and maybe my source of happiness is food. So maybe for my brain, the experience of eating is always delightful. Hence this mellow post about longing for food.

It is an hour past midnight and I am lying awake, thanks to a huge dose of caffeine this morning from a famous coffeeshop called Peacock. 

Anyways, there are some food that we don’t always find at where we live. We ate it one day in the past far faraway from home, and now it is only a memory. And now we miss the food. We want to eat it but we need to either go far away, or create the dish ourselves (hopefully local markets provide the ingredients).

Haloumi cheese, I don’t know where to find here in my city, is similar to mozzarella but tastes much better and chewy and oh-so good. Tabouleh is a mediteranian salad made mostly of parsley. And pilaf is nasi campur or something like that.

I would love to recreate those food just to feed my greed. Maybe tomorrow. Or next week. We will see.
*still craving