Resilience

Malam ini kuputuskan berkendara pulang tanpa jaket. Sore itu aku lari bersama beberapa teman. Lima kilometer dengan beberapa tanjakan, sebagai usaha mematuhi jadwal latihan menuju event besar bulan ini dan awal bulan depan.

Baju lariku basah oleh keringat, dan aku mengendarai motor melawan angin malam. Dingin menusuk tulang dan menggidikkan leherku.

Aku kuat. Dinginnya angin yang mengeringkan keringatku seperti dinginnya hujan. Entah mengapa rasa dingin mudah terkait dengan rasa sedih karena kesepian.

Setiap hampir menyerah, yaitu ingin menepi, dan mengambil jaket yang terlipat di dalam tas, aku membujuk diri lagi. “Tahanlah, Nak. Dinginnya angin malam ini tidak ada artinya dibanding dinginnya hatimu yang sepi.”

Jika seumur hidup single dan baik-baik saja, mengapa harus menggigil dengan dingin di kulit yang akan segera mereda? Aku bisa kembali hangat sampai rumah nanti. Aku resilient.
Krik. 
Udah ah.

Bhay.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s