Semoga yang Terakhir Ya

Aku sudah mengikhlaskanmu sejak pertama kita bertemu. Bolehlah dibilang aku berharap kau melamarku (karena aku sudah kapok dengan pacaran). Boleh pula aku bagi di sini bahwa lamaran itu tidak mungkin karena satu dan banyak hal. Aku sudah lama ikhlas kau mendapat yang terbaik, karena begitu pulalah dirimu; kau yang terbaik menurutku.

Judul tulisan ini tentu saja adalah surat cinta untukmu yang mungkin sedang membaca ini. Aku tidak peduli tentang kamu membaca ini dan curiga bahwa ini kamu. Aku mempedulikan pertemanan kita yang tidak boleh rusak oleh keinginan hatiku ini. Biarkan ini berlalu seperti cinta-cintaku yang dulu, berlalu saja tanpa bekas, tanpa penyesalan.

Karena penyesalan bisa datang jika aku nekad mengatakan padamu bahwa aku ingin kamu untukku selamanya, bahwa aku mencintaimu sejak merasakan bahagianya diperlakukan dengan baik dan sopan olehmu yang hampir tidak mengenalku saat itu. Ingin sekali menangisi kelemahan hatiku yang mudah tersentuh oleh akhlak mulia seorang pria. Namun aku memilih mensyukuri rasa cinta ini.

Ada pertimbangan kamu mungkin mau saja melamarku, seperti misalnya kamu hampir tersenyum setiap melihatku (atau aku saja yang berwaham), dan bahwa aku termasuk dalam lingkaran kecilmu. Namun apakah itu semua perlu, jika mengingat kemustahilan lamaranmu karena kamu tidak pernah menunjukkan ketertarikanmu padaku, dan karena kamu melihat sifat-sifat burukku yang memang terlalu payah untuk diperbaiki dan aku pun setuju kamu berhak yang lebih baik dariku.

Lalu apa yang menggalaukanku jika kaulah mimpi yang takkan kuraih? Apakah karena keenggananku bangun dari mimpi indah ini? Doaku selalu; semoga kamu segera menemukan jodohmu sehingga aku tidak galau terlalu lama. Semoga kamu orang terakhir yang kucintai sedalam ini karena setelah ini semoga aku bertemu dengan calon suamiku. Dan tentu kamu orang pertama yang kuberi tahu siapa orangnya. Dan kamulah orang yang kusyukuri telah kukenal karena membantuku tumbuh dan berkembang menjadi lebih dewasa dan siap (untuk menikah, atau untuk dipanggil Tuhan).

Ternyata sangat lelah ya, jatuh cinta itu. Semoga aku tetap semangat. Mari sudahi saja surat ini. Aku cinta kamu dan semoga tidak dosa karena aku tidak berniat mengatakannya padamu. Percayalah sikapku tak akan berubah. Sudah begini sekian lama kan, dan akan selalu begini, insya Allah. Karena, kuingatkan ya, aku sudah mengikhlaskanmu sejak pertama kita bertemu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s