Teori Psikologi untuk Jodoh

Sudah bisa diduga, sebagai seorang lajang keren topik favorit saya adalah jodoh. Banyak tulisan di blog ini yang membahasnya. Beberapa berupa kisah cinta saya (tanpa nama, tentu), beberapa pikiran-pikiran yang dibuang sayang, beberapa lagi semacam afirmasi positif utk tetap optimis. 

Tulisan ini bukan salah satu di atas. Saya cuma harus menulis ini utk diperdebatkan (jika ada yang baca sih, hahaha), atau cukup dipikirkan. Baca dulu deh:

“Pagi2 tadi dpt penjelasan ttg “jodoh” oleh seorang Profesor:

Sejak berusia 15 sampai 35 th (dalam 20 th) seseorang rata-rata pacaran 10 kali. Dari 10 itu, masa observasi dilakukan pada 3-4 pacar pertama. Nah berdasar angka itu, dan berdasarkan asumsi bahwa manusia mencari yang terbaik, sedangkan setelah memilih tidak bisa ganti, dan yang dilewati tidak bisa kembali “balen”, maka protokol mendapatkan pasangan adalah sebagai berikut:

1. Pacaran 3-4 x utk observasi.

2. Memutuskan menikah dg  pacar berikutnya dengan kualitas setidaknya sedikit lebih baik dari yang terbaik di 3-4 pacar pertama tersebut.

Namun protokol ini memiliki 2 error:

1. Jika by chance saat observasi dapatnya kacau semua, maka pasangan hidup (pasangan pertama pascaobservasi) memiliki kans besar sedikit di atas kacau dan kita stuck bersamanya selamanya.

2. Jika ada seorang pacar ideal saat masa observasi maka saat pascaobservasi akan sulit sekali atau bahkan mustahil menemukan yang sedikit lebih baik dari si “ideal” sehingga ada kemungkinan akan sendiri selamanya.”

Begitulah tulisan teman saya (dengan suntingan struktur kalimat hehe). Seorang teman mengutip seorang profesor, dan saya tidak repot-repot mengkonfirmasinya. Ehm, dengan menyadari tuntunan agama utk sebaiknya tidak berpacaran (seperti sebaiknya tidak meminum alkohol) karena kerugiannya lebih besar daripada keuntungannya, saya soroti tentang “mencari pasangan”-nya ya, bukan “berpacaran”-nya, oke?

Saya duga pacar ke-5 sampai 9 hanya mampir saja di hidup kita utk membuat kita menyadari bahwa yang kita cari adalah orang yg seperti pacar ke 1-4, benar kan?

Saya merasa tertohok, sepertinya jelas bahwa saya termasuk sampel populasi yang disebut sang profesor, yaitu orang yang sejak usia 15 tahun sudah “mencoba” berpasangan, walau belum tahu saat ini sudah mencapai pasangan ke berapa (definisi operasional?). Sambil saya menghitung riwayat “pacaran”, saya tidak yakin dengan posisi sendiri, apakah error nomor 1 atau 2. Mungkin saya tidak ingin menjalani error nomor 1 (stuck dengan orang yg agak kacau) sehingga saya memilih nomor 2 (sendiri sampai menemukan yang menurut ‘pengalaman’ saya ideal). 

Dengan menganggap bahwa pengamatan sang profesor itu benar (minimal ada benarnya) dan bahwa asumsi saya terkait tulisan itu benar, dan posisi saya benar maka kesimpulan terkait jodoh adalah:

Hindari error nomor 1 dengan tidak berpacaran. Kalau sudah terlanjur maka hindari error nomor 2 juga dengan tidak berpacaran (haha) tapi jika sudah punya riwayat pacaran maka berlatih moveon, atau menjadi amnesia (sehingga tidak punya memori atas apa yang ‘baik’ dan ‘buruk’ atau ‘ideal’ dan ‘jauh dari ideal’), atau memformat ulang persepsi tentang ideal. 

Singkatnya, harus bagaimana? Mengembalikan pada petunjuk hidup. Satu kalimat kunci yang berat dijalani tapi harus segera dimulai. Bahkan kesolehan itu tidak melulu dengan beribadah mahdoh (ritual keagamaan) melainkan dengan iman di hati seperti ikhlas (mengesakan Tuhan dan memurnikan niat bahwa menikah adalah perkara ibadah bukan semata mencari kesenangan) dan rendah hati (bahwa semua orang punya kekurangan termasuk diri sendiri jadi lebih bisa menerima orang yang tidak ideal atau mensyukuri pasangan yang sedikit kacau).

Mungkin siapapun yang sudah menikah dan membaca ini akan setuju dan semacam membatin “ya, akulah the living proof bahwa dengan pasrah dan ikhlas dan melepaskan, aku sekarang happily married.”

Oya, sebagian besar tulisan saya memang to think outloud. Menuliskan pikiran sendiri dan membacanya memudahkan saya mengurai masalah dan mungkin mengatasinya. Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s