Hujan Bulan Juli

Sore ini adalah puncak keenggananku untuk berlari. Kemarin sore aku memilih tidur siang daripada berganti pakaian dan berangkat ke jogging track. Untuk lari malam ini pun.. Rasanya sudah bosan; memilih kaos lari, deker lengan, celananya, kerudung yang match dengan kaosnya.. Mengingat terakhir memakai sepatu yang mana sehingga sekarang giliran yang mana. Ketika sudah siap, malas juga membayangkan bergumul dengan ramainya jalan Menoreh dan Kelud Raya.. 

Di saat itu aku mempertanyakan niatku untuk lari. Sedangkal inikah aku berlari; karena ingin kurus dan setelah kurus tidak menemukan motivasi lain? Aku sangat berharap ini semacam kebosanan wajar yang sesekali menyerang semua pelari.

Iya, benar, aku harus melihat sekitar dan bersyukur dengan kesehatan dan usiaku, keutuhan ekstrimitasku dan waktu luangku, sehingga tidak ada keluhan “bosan lari.” Aku seharusnya malu jika sampai mengeluh apalagi mengeluh bosan.

Malam ini sampai juga aku ke Balaikota, bergabung dengan teman-teman untuk lari malam rutin. Tidak ada yang spesial. Hanya tepat di median rute hujan rintik-rintik menyapa wajah dan lenganku, dan disusul dengan hujan deras tanpa angin kencang.

Di bawah hujan itu, kami semua memutuskan lari, toh sudah lewat 3 km dan tinggal 2 km lagi yang bisa diselesaikan dalam 12-14 menit. Sudah terlanjur basah oleh gerimis juga. Kemudian di depanku tampak para pelari bergerombol yang ternyata sedang mengerumuni seorang wanita yang duduk kesakitan.

Singkat cerita ada pengendara motor yang terjatuh dan terluka, lalu seorang teman pelari menemukannya dan membantunya. Aku sempat menemani beberapa menit untuk memastikan diagnosisnya hanya vulnus eskoriatum tanpa sprain maupun fraktur. Aku melihatnya pergi diantar teman lari yang baik hati tadi dipayungi hujan yang makin deras.

Aku melanjutkan lari, kali ini sendiri (sejak start aku bersama si ini atau si itu) karena sebagian besar sudah menuju finish dan aku berhenti cukup lama. 

Dalam lari itu aku merasa heroik, menginjak trotoar berkubangan, kerudung semakin jenuh air dan sepatu semakin berat juga. Hati sudah tidak was-was karena hape sudah dititip ke mas-mas baik hati yang membawa ransel dan jas hujan. Petrichor menguar khas sepanjang jalan, bau yang disebut oleh  banyak seniman sebagai bau tanah basah. Kaki sudah asal menginjak trotoar, tidak apa jika terjeblos genangan air. “Hati-hati mbak, licin” kata seorang yang kulewati.

Dalam lari itu aku menyadari kalimat favoritku (dan sebagian besar orang, pasti) I love the rain for it disguises my tears (atau kalimat serupa dan aku malas memikirkannya).

Dalam lari itu juga terlintas memori masa asrama dulu, mungkin saat hulubalang di kelas 2 SMA, atau mungkin saat pembaretan di kelas 1. Mungkin malam tadi aku masih sedikit lapar dan kedinginan oleh hujan, tapi aku memaksa lari sehingga kelelahan itu memicu siaran ulang memori masa SMA. Mungkin pegalaman yang paling mirip dengan lari di bawah hujan tadi memang saat pembaretan; bersepatu bot dengan baju PDL hijau melintasi sawah berlumpur tebal. Di atas kepala terik matahari Magelang menyengat namun kaki berkubang lumpur terasa dingin dan penat. Melelahkan sekaligus mengharukan. Aku tidak yakin apa yang mengharukan. Mungkin karena lelah yang sangat itu membuatku ingin menangis (tapi kutahan karena malu) sehingga aku mengira aku terharu. 

Heran juga mengapa tidak ada sedikitpun masa koas yang kulewati di bawah hujan, yang bisa kuingat.

Hujan Bulan Juli. Tidak satu pun kudengar orang yang mengeluh tentangnya. Dia anugrah dari Tuhan untuk penghuni bumi; para petani, pelari, dan bahkan para pemilik hati yang senang air matanya ditemani untuk patuh pada gravitasi.

Keterangan foto: aku yang sudah sedikit kurus, saat pemanasan sebelum lari malam rutin bersama Semarang Runners.

Oya, untung aku memaksa lari malam ini, karena aku mendapat doorprize sepasang sarung tangan superhangat untuk naik gunung (atau ber-winter di negeri jauh). Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s