Membaca Buku dan GPPH

Baik, aku jabarkan GPPH terlebih dahulu. Dialah gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Betul, ini adalah sebuah penyakit, dan tidak, aku tidak mengidapnya, karena diagnosis hanya bisa ditegakkan jika gejala sudah muncul sejak usia tiga tahun. Jika baru muncul sekarang maka bukan GPPH tapi sebut saja pseudo-GPPH.

Beberapa bulan (atau tahun?) terakhir aku kesulitan menyelesaikan buku, baik fiksi maupun non-fiksi (bukan teksbuk faal). Tapi setelah kuingat kembali, ternyata memulainya pun sulit. Di kamar tidurku, tiga dari empat sisi kamar ada buku, baik tumpukan maupun pajangan rapi (atau berdebu). Keluar kamar lebih parah lagi, ortuku menyimpan buku di ruang tamu, ruang tengah, ruang samping, sampai kamar lain, dengan dalih, “maklum lah bapak ibu kan dosen jadi ya bukunya banyak.” Stimulus yang tersebar itu tidak menggugahku untuk mengambil satu pun buku setiap minggu untuk diselesaikan.

Berbeda lagi saat berkunjung ke toko buku. Aku selalu punya ide cemerlang (maksudnya konsumtif), “Wah ini buku bagus, aku harus beli. Aku harus punya. Aku harus baca.” Beruntung jika teman berkunjungku adalah adikku, karena dia akan menyambar (tanpa aku ucapkan kalimat cemerlangku tadi, karena selalu hanya kubatin saja, tapi mungkin binar mataku bisa dia kenali dengan mudah), “yakin mau dibaca? Nanti di rumah ditumpuk aja?” dan aku bisa percaya dia juga akhirnya, atau tetap ngeyel membelinya, “Kubaca kok. Yakin.”

Pernah, sering malah, aku mengamati rak-rak buku di rumah, mengambil beberapa buku dan menaruhnya di kasurku. Tujuanku adalah memberi tugas pada diriku sendiri untuk menyelesaikan beberapa buku dalam waktu tertentu dan waktu terbaik adalah menjelang tidur. Berhasilkah strategi itu? Tidak selalu. Beberapa buku memang tampak sangat menarik, misalnya karena itu buku baru (yang dibeli adikku) dan sangat nge-hits sehingga semua orang sudah membacanya kecuali aku, atau itu buku yang ditulis oleh penulis favoritku. Atau buku tematik seperti buku Ramadhan yang kutumpuk di kasur menjelang Ramadhan. Ada keadaan khusus lain aku bisa mulai membaca: terpaksa menunggu lama seperti saat transit di bandara atau perjalanan jauh dengan kereta (atau pesawat atau bis jika sopirnya menyetir dengan sopan).

Seseorang pernah berkata bahwa tidak ada orang yang tidak suka membaca, orang itu hanya belum menemukan jenis buku/ bacaan yang dia suka. Aku sangat setuju dengan itu. Bahkan komik pun termasuk buku, sehingga orang-orang semacam teman priaku di sekolah dulu yang “tidak tahan membaca novel, tulisan semua, bosan” bukannya tidak suka membaca, hanya memilih komik daripada novel. Sehingga tidak perlu ada debat filosofis dalam tulisan kali ini mengenai pentingnya (atau tidak pentingnya) membaca.

Ketika akhirnya aku berhasil memaksa diriku membuka lembar pertama dan mulai membaca sampai minimal beberapa halaman pertama, aku mulai ingat nikmatnya membaca. Benar juga kata orang bijak bahwa langkah pertama memang yang paling berat. Selanjutnya pasti terasa lebih ringan. Bahkan menyenangkan. Namun tidak seratus persen kejadian membacaku seperti itu. Ada beberapa kali aku berhenti membaca di tengah-tengah buku (atau sepertiga awal dan jarang sekali di bagian akhir). Mungkin sekali itu karena bukunya yang membosankan, tapi aku jarang mengatai suatu buku itu jelek. Aku sangat ingin menjadi penulis (mungkin diam-diam sejak kecil, karena diary-ku sudah ada sejak aku kelas 3 SD, sampai sekarang masih kuusahakan menulis) sehingga aku menghargai dan mengagumi para penulis. Beberapa buku membuatku ingin menyelesaikan tanpa jeda (terpaksa jeda untuk ke toilet atau solat atau makan), tapi sedikit sekali yang membuatku menyesal membelinya, semembosankan apapun.

Pada suatu ketika beberapa bulan (atau tahun) terakhir inilah aku menyimpulkan kesulitanku meneruskan hobi membaca ini adalah karena adanya gangguan pemusatan perhatian. Aku kesulitan fokus sedangkan membaca merupakan kegiatan yang membutuhkan fokus. Beberapa menit membaca membuatku memikirkan hal lain kemudian akhirnya buku kulepas dari tangan dan aku mulai beranjak, bergerak, atau membuka ponsel.

Atau sederhana saja masalahnya, bahwa beginilah generasi muda masa kini pengguna teknologi terutama internet? Beginikah efek samping dari kemajuan peradaban yaitu terlalu banyak distraksi dan manusia-manusianya kesulitan bertahan lama melakukan sesuatu tanpa tergiur hal lain? Apakah angka kejadian GPPH meningkat di era milenium ini? Apakah penderita pseudo-GPPH sepertiku tumbuh seperti lumut di dinding batu di musim hujan?

Jawab aku, buku, jawab. Aku sudah merindukan kalian.

NB. Ternyata salah satu inspirasi untuk menulis (lagi) di blog adalah dengan membaca buku. Saat sedang membaca buku rasanya aku jadi ingin menulis juga, atau aku jadi ingat bahwa ada ide yang harus kusampaikan lewat tulisan. Buku terbaru yang baru selesai kubaca (dalam sehari; termasuk hebat dengan keadaan mental terkiniku) adalah “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer. Resensinya? Cari sendiri di google ya, satu saja dariku: Itu buku wajib baca. ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s