Mencari Motto Hidup

Beberapa saat menjelang pemotretan untuk kepentingan acara ulang tahun sekolah asrama itu, aku terpaksa berpikir tentang sebaris kalimat yang mewakiliku atau impianku, untuk selanjutnya dilampirkan di bawah foto wajahku.

Mengapa pula kita harus menyingkat kehidupan dan dunia seisinya dengan sebaris kalimat saja, sementara menurunkan gelombang beta otak saja butuh bermenit-menit meditasi?

Salah satu kandidat yang menarik untuk motto hidup adalah bahwa Tuhan itu Maha Baik dan Maha Pengabul Doa maka berpikirlah yang baik dan berharaplah yang baik saja. Iya, baru saja aku mengalami kejadian kecil. Yang jelas keikhlasanku diuji. Aku dibuat jengkel oleh orang yang baru beberapa menit kukenal. Aku menawarkan bantuan pada teman baru itu, dan dibalas kontan dengan sesuatu yang menjengkelkanku. Beberapa menit hatiku dongkol dan wajahku cemberut (walau hanya tampak oleh orang rumah yang membukakan pintu saat aku pulang) oleh kejadian menjengkelkan itu. Sampai aku ngobrol ringan dengan diriku (ini teknik self-talk yang kupelajari bertahun-tahun. Kurasa aku semakin ahli) untuk mencari tahu mengapa orang rumah tidak mendapat senyumku, mengapa aku kesal saat seharusnya endorfin (zat senang di otak) membanjiri kepalaku di ‘hari olahraga’ ini. Lalu obrolan itu berlanjut tentang bagaimana aku menjadi kesal dan apakah ada pilihan lain selain kesal. Ternyata ada, maka benarlah pepatah “selalu ada pilihan” atau “life is a choice” karena aku bisa mencegah kesal berkepanjangan dengan meluruskan niat. Iya ini bahasanya berat semacam buku pelajaran agama tapi benar juga bahwa kekesalan, kejengkelan, dan kekecewaan muncul karena ada harapan. Jika kita tidak berharap maka kita hanya akan bersyukur dengan yang terjadi di depan. Paham kan, karena tidak ada perbandingan ‘yang akhirnya terjadi’ dengan ‘yang sedari tadi diharapkan terjadi.’ 

Eh tiba-tiba aku ingat dengan seuntai kalimat Tuhan di suatu surat tentang akhir yang selalu lebih baik daripada permulaan. Tapi aku belum membaca tafsir ayat itu.

Obrolan kami ditutup dengan memori jangka pendek yang baik, bahwa aku ingat membatin dalam hati betapa tidak ikhlasnya diriku, betapa niat tulus dan suci itu berat bukan main. Intinya aku mengeluh (mungkin sambil berharap juga) betapa aku belum juga menjadi manusia yang ikhlas. Hanya membatin lho, bukan bersimpuh berbalut mukena di atas sajadah dengan setitik air mata. Ada alasan teknis juga aku tidak bisa bermukena pagi itu. Sorenya aku menyadari doaku terjawab. Aku diajari lagi tentang menjadi ikhlas saat mencoba membantu orang lain. Iya ini ajaranNya yang kesekian kali karena aku tidak kunjung lulus ujian keikhlasan itu. Ajaran itu aku singkat sebagai berikut: setelah aku merasa ingin ikhlas, aku mengalami kejadian yang membuatku menyadari bahwa aku tidak ikhlas sehingga aku tahu bagaimana harus mengoreksinya dan mencegah ketidakikhlasan itu terjadi lagi di lain waktu, bahkan mungkin mengubah ketidakikhlasan menjadi keikhlasan saat itu.

Jelas ya maksudku, bahwa ‘ritual doa’ yang amburadul macam yang kulakukan saja didengar oleh-Nya, dan langsung dijawab segera, bagaimana dengan hati yang lembut dan adab yang baik?

Tuhan Menyebut diriNya sebagai Rabb yang ternyata (iya baru tahu, iya aku mengaku ‘anak ngaji’ tapi sombong belaka) bermakna ‘Pendidik.’ Kita semua manusia (dan makhluk lain, mungkin tumbuhan dan hewan, mungkin alien juga) adalah muridNya dan Dia adalah Sang Guru. Ini berarti bahwa Dia Mengajarkan kita ilmuNya.

Singkat cerita hari ini Rabb Yang Maha Agung Mengajariku tentang keikhlasan. Semoga ingatanku tentang arti ‘ikhlas’ belum luntur. Ikhlas yang juga adalah nama surat di Quran tidak sesederhana ‘tulus’ atau ‘tanpa pamrih’ walau keduanya tercakup juga. Definisi pastinya ada di surat itu sendiri, tentang mengesakan Tuhan. Tidak ada yang lain, tidak ada manusia maupun pujian manusia bahwa aku ini orang baik atau hebat.

Mengapa motto? Kejadian kecil berupa ‘kesadaran sedang diajari/dididik Tuhan’ seperti di atas sering terjadi dalam hidupku (aku yakin dalam hidup semua orang juga). Kandidat motto ini harus aku pikirkan juga teknis penulisannya. Harus ada satu kalimat singkat dan efektif tapi mewakili maknanya yang dalam. Kandidat kedua mungkin dilanjut di posting selanjutnya, karena sungguh membosankan jika aku bercerita lagi di sini.

Oya beberapa kalimat di tulisan ini terangkai setelah membaca buku biografi Rasulullah SAW oleh Tariq Ramadan si cucu Hasan Al Banna, pak dosen yang logat Perancisnya kental saat berbahasa Inggris (oh, detil yang aneh).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s