Pemudi Tanggung

Suatu hari di hari pertama usiaku yang menginjak angka dua puluh delapan, aku mulai aktif berlari lagi. Sebelumnya aku hanya lari sekitar dua bulan sekali, hari minggu pagi di track Unnes atau stadion Tri Lomba Juang, bersama ibuku yang ikut menemani berkeliling track dengan berjalan cepat. “Lari berbahaya bagi jantungku,” demikian kata beliau, yang tentu saja terlalu kontroversial untuk segera diiyakan.

Singkat cerita beberapa bulan kemudian sejak hari ultahku itu (sejak aku lebih rutin berlari, tepatnya) hilanglah beberapa kilogram lemak di perut dan pipiku dan muncul pula kebahagiaan di hati. Hahaha, lebay. Sebagian besar kebahagiaan itu sepertinya muncul karena sosialisasi dengan para running buddies. Suatu malam beberapa bulan lalu aku memang nekat ikut serta dalam group run di Semarang yang sudah eksis setahun lebih. Beberapa bulan sebelumnya aku sudah memantau kegiatan mereka via fesbuk dan tertarik tapi malu (dan beberapa alasan lainnya yang sekarang makin terasa mengada-ada) untuk ikut. Memang timbanganku tidak banyak bergeser tapi beberapa teman menegur betapa langsingnya aku. Memang aku masih saja sulit tidur (terutama jika hari itu tidak lari) tapi otot-otot wajahku lebih rileks sehingga lebih mudah tersenyum, hehe.

Baiklah, setelah kampanye lari yang terselubung dalam pendahuluan di atas, aku mau menceritakan betapa kegiatan lari itu cukup representatif untuk kehidupanku. Dalam group run itu kami berlari di jalan raya di malam hari bersama-sama dengan rute tertentu dan batas waktu tertentu. Tentu saja aku tidak mungkin berlari di barisan paling depan, tidak pula paling belakang karena setelah beberapa bulan rutin berlari kecepatanku memang meningkat. Jika ditarik jauh ke belakang saat usiaku hampir 15 tahun, aku berlatih lari demi bisa diterima di sekolah berasrama terbaik se-Indonesia (itu zaman dulu, sekarang mungkin sudah turun peringkatnya). Setelah masuk di dalamnya aku terpaksa berlari minimal dua kali seminggu. Jika diingat sekarang, di masa SMA itu aku semacam ‘terpaksa’ lari karena jadwal hidup yang memang begitu, memang latihan rutin pleton yang memaksaku lari bersama para pria ganteng (teman-temanku, haha) di barisan depan, dan bahkan berakhir dengan menjadi peserta event bernama Borobudur 10K dua kali (saat di kelas sebelas dan dua belas, tentu saja bersama para pria ganteng itu)! Btw kenapa teman-teman priaku zaman SMA kubilang ganteng karena sebagian besar dari mereka saat ini sudah menikah dan punya anak, yang menunjukkan bahwa lelaki lulusan SMA-ku cepat sekali sold out (yang perempuan dibutuhkan penelitian lebih lanjut, haha). Selepas SMA aku masih beberapa kali berlari dalam sebulan sampai akhirnya makin jarang karena alasan klasik mahasiswa kedokteran, “Mending belajar, bahannya banyak. Mending tidur, kemarin habis jaga.” Ehm, panjang ya ceritanya.  Aku cuma mau menegaskan bahwa berlari itu bukan hal baru bagiku. walau hobi pamer foto lari memang hal baru sekarang ini, hehe.

Oya, saat ini lariku pun sebenarnya masih lebih lambat dibanding kecepatanku saat usiaku belasan tahun dengan berat badan lima puluhan kilo. Kecepatan lariku zaman SMA dulu (aku termasuk tidak langsing dan termasuk tidak hebat dalam kesamaptaan jasmani) adalah 6 putaran lapangan bola dalam 12 menit (begitulah cara menilai kesamaptaan siswa dalam ujian: 12 menit berlari, dapat berapa putaran?). Dengan kata lain, pace-ku sekitar 5 menit per km. Beberapa bulan lalu saat aktif lari lagi pace-ku sekitar 8 min/km dan sekarang membaik sekitar 6:30 min/km. Untuk pace memang makin kecil angkanya makin keren. Seperti Usain Bolt sang juara dunia sprintpace-nya mungkin 2 min/km (atau satu!). Aku ingin menjadi lebih cepat lagi dan aku tahu kok kalau peningkatannya musti bertahap karena adaptasi otot dan ligamen untuk berlari kencang butuh waktu lebih lama dibanding adaptasi kardiorespirasi.

Mari kembali lagi ke tujuan awal penulisan. Maafkan penulisnya yang cerewet dan defisit atensi ya, hehe. Saat lari bersama teman-teman Semarang Runners itu aku tidak bisa mengikuti kecepatan para pria keren di barisan depan (yes, para wanitanya lebih suka berlari santai di belakang walaupun aku tahu mereka larinya keren dan kencang) tapi aku juga tidak sudi melambatkan kecepatan demi bisa berlari bergerombol dengan barisan belakang. Nah jadilah hampir setiap lari aku berada di antara mereka, berlari sendirian menembus kegelapan malam menghisap asap kendaraan yang kadang berbonus sapaan para satpam dan tukang parkir.  Aku seperti menjadi golongan pertengahan (sekaligus minoritas) yang tidak bisa mengejar mereka yang berada jauh di depan tapi juga tidak menemukan barisan belakang, mereka belum terlihat. Sering kali aku sendirian, karena mungkin golongan pertengahan atau ‘manusia tanggung’ itu jarang ditemukan. Kebanyakan memang ‘keren’ atau sekalian ‘sedang ingin santai saja di belakang.’ Aku memang punya pilihan entah menambah kecepatan berlariku saat itu untuk mengejar barisan depan (sampai ngos-ngosan mau pingsan) atau berjalan kaki saja menanti rombongan di belakang.

Terkait dengan orang-orang di barisan belakang, aku yakin sebagian besar dari mereka adalah para pelari kawak yang memang sedang ingin ‘lari gemes’ atau recovery run atau menjadi marshal  atau sweeper bagi pelari pemula atau anggota baru. Dulu mungkin aku penghuni barisan belakang namun karena aku ingin lebih cepat maka aku berlatih, dan bagiku salah satu patokan keberhasilan adalah sudah tidak lagi berada di barisan belakang tanpa sengaja saat group run. Jadi sudah jelas ya, tulisan ini bukan sedang menjelekkan penghuni barisan belakang? Sudah jelas juga bahwa analogi ‘pelari barisan depan’ itu kupakai untuk menggambarkan orang-orang keren (beriman, berakhlak baik, berkualitas, dll) tapi ‘barisan belakang’ yang kuanalogikan sebagai ‘orang-orang yang belum keren’ bukanlah pelari yang lagi pengen santai. Ehm gitu ya, paham kan.

Nah, jika aku mengeluh bahwa aku terjebak di tengah-tengah saat aku ikut group run, ‘nanggung’ karena tidak terlalu keren tapi merasa sudah progresif tidak selambat dulu, mungkin aku harus mulai rajin berlatih sendiri untuk meningkatkan kecepatan sehingga aku bisa ikut di depan. Atau mungkin aku harus pasrah pada status quo-ku dan melambatkan lariku demi bisa bersama mereka di belakang.

Iya, inilah aku si pemudi tanggung, yang tidak kunjung keren juga untuk berada di barisan depan, tapi tidak mau dianggap lambat dengan berada di belakang. Jika ingin ikut keren maka seharusnya hidupku kudedikasikan untuk meningkatkan kapasitas diri agar bisa maju ke depan bersama-sama orang-orang keren (apapun definisi keren, asal bukan fisik), atau aku harus mengalah pada keadaan diriku saat ini dan mungkin bahkan menurunkannya sedikit sehingga bisa ikut di barisan belakang (bersama orang-orang yang belum keren, no offense).

Maka mengertilah aku sekarang maksud dari ‘introspeksi dan meningkatkan kualitas diri’ dalam menunggu jodoh dan bukannya sibuk mencari calon yang cocok dan keren dan soleh dan kaya untukku. Mengertilah aku sekarang betapa menjadi ‘nrimo’ akan status quo hampir selalu salah karena kita tidak tahu seberapa hebat sebenarnya kita jika kita tidak menantang diri sendiri (untuk menjadi lebih baik). Ehm kok jadi tentang jodoh ya? Yah, tentang itu juga boleh deh.

Thus I feel that I am so stuck, I need to improve myself. And I should remember that “it doesn’t matter how slowly I go, as long as I don’t stop.” Right?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s