Mencari Penjahit Favorit

Sejak kecil aku sering ke penjahit. Entah itu untuk menjahitkan kain seragam lebaran keluarga besar dari pihak ibu (oh iya, setiap tahun tema kostumnya berbeda. Tahun ini kain batik coklat, tahun berikutnya kain batik ungu), atau seragam keluarga yang akan menikah, atau celana olah raga di sekolah menengah dulu (sekolah membagikan kain, kita disuruh menjahitkan sendiri). Akhir-akhir ini pun aku harus menjahitkan kain batik seragam fakultasku untuk seragam hari kamis dan jumat.

Seringkali pemberi layanan jasa menjahit adalah bapak-bapak atau ibu-ibu yang membuka kios seadanya di pinggir jalan, dengan stiker di kaca depannya “TAILOR” atau “MODISTE” dengan nama masing-masing, seperti misalnya DANA TAILOR atau ANAS TAILOR. Ada juga yang namanya butik, yaitu toko yang menjual baju satu model untuk satu buah baju saja, yang artinya eksklusif, tidak ada duanya. Kadang harganya mahal, jauh di atas harga ritel di toko yang bajunya satu model untuk seribu potong, tapi tergantung juga pada pemiliknya. Ada seorang temanku, yang hobi merancang baju gamis muslimah, dia membeli kain, menjahitkannya dengan model yang dia rancang, kemudian menjualnya di butik miliknya sendiri dengan harga murah (ada sepotong gamis di lemariku dari butiknya, murah dan bagus). Ada cara dengan menggunakan jasa perancang baju (fashion designer) yaitu meminta seseorang untuk merancangkan baju untuknya dan membuatkannya sesuai ukuran. Dijamin mahal dan tidak ada duanya. Yang terakhir ini mungkin tidak terjangkau bagi kocek rakyat jelata sepertiku, kecuali baju untuk acara spesial seumur hidup yaitu pernikahan (tapi bagiku masih terlalu mahal, nanti menyewa saja).

Bagi pelanggan penjahit pinggir jalan sepertiku, ada risiko yang harus diambil dalam mempercayai pemberi layanan jasa menjahit ini. Ada kontrak yang berdasarkan kepercayaan, ditambah nego harga, ditambah kesabaran dalam menanti hasil jika penjahitnya ada masalah dalam memenuhi tenggat waktu, atau masalah dalam memenuhi keinginan kita tentang model atau ukuran. Yang terakhir ini penting sekali, kalau kehilangan kesabaran dengan seorang penjahit maka kita akan kapok ke sana dan memulai pencarian penjahit yang cocok, bisa dipercaya, murah, dan sejumlah syarat lainnya.

Pernah aku menggunakan jasa penjahit langganan sejak kecil sampai kira-kira aku kuliah. Bahkan aku sampai merekomendasikan ke teman-temanku saat mereka mulai memakai jilbab dan ingin menjahitkan beberapa gamis. Penjahit ini adalah sepasang suami istri muda yang membuka lapak di rumah sendiri. Suatu ketika aku merasa kecewa akan hasilnya yang tidak sesuai deskripsiku dan gambar model baju yang kubuat. Aku pernah juga mendapat rekomendasi penjahit baju pesta yang letaknya agak jauh dari rumahku. Saat aku ke sana untuk menjahitkan kain untuk seragam walimah sepupuku, sang penjahit bertindak patriarkis dalam diskusi tentang  model baju yang kumau. “Ya jelek lah mbak kalau seperti itu. Mendingan begini… Mendingan begini…” dan aku merasa gondok. “Ini kan baju yang akan kupakai, kenapa kamu komentar tentang modelnya yang menurutmu jelek. Kalau jelek kan risikoku sendiri. Kalau aku akhirnya ikut saranmu dan ternyata jelek, apakah kamu mau tanggung jawab?”  Aku menggerutu dalam hati sebelum akhirnya menyetujui semua sarannya. Saat gaun itu jadi, benarlah aku kecewa karena ‘jatuhnya’ di tubuhku tidak sebaik harapanku, dan aku menyalahkan sarannya yang menyesatkan. Sejak saat itu aku kapok menggunakan penjahit itu.

Aku pernah ikut ibuku menggunakan penjahit langganan ibuku untuk membuat rok. Iya, mahasiswi kedokteran kampusku wajib memakai rok (dari beberapa puluh fakultas kedokteran di Indonesia, yang masih mewajibkan rok untuk mahasiswinya mungkin kurang dari sepuluh). Namun hasilnya aneh, modelnya agak tidak bisa kuterima. Waktu itu kainnya memang bagus, jadi walau modelnya agak membuatku kecewa, tetap kupakai (kotak-kotak warna coklat, dan sempat disangka seorang teman dari Belanda bahwa ini kain khas Indonesia, hehe). Lagi-lagi aku batal menobatkan penjahit itu sebagai penjahit langganan.

Tiga kisah di atas hanya sebagian dari kumpulan kisahku dengan para penjahit. Ada penjahit yang salah mengukur kain sehingga baju yang dibuatnya terlalu kecil untukku. Terlalu sempit. Lupa menambahkan kain furing. Salah mengira tentang tanggal tenggatnya. Lupa menambahkan kantong di rok, dan lain-lain.

Tuntutan yang tinggi dariku mungkin belum akan selesai. Mungkin untuk menghentikan “sebal dengan penjahit ini, dan memutuskan untuk kecewa dan tidak akan menjahitkan ke situ lagi” dan mulai “mencari penjahit lain lagi dan berharap kali ini beres” adalah dengan membayar perancang baju yang mahal dan profesional, yang minimal bergelar sarjana jurusan fashion design. Ada kemungkinan juga semua ini ternyata salahku dalam mengkomunikasikan kebutuhanku. Aku butuh selesai tanggal segini, aku butuh model yang seperti ini (harus dengan gambar, jika perlu gambar tiga dimensi), dan aku harus menyaksikan sendiri si penjahit menulis semua detil yang kumau. Beberapa kasus yang kualami adalah aku kurang ‘memaksa’ penjahitnya untuk menuliskan semua kebutuhanku di buku catatannya. Aku sering menyerah pada “iya mbak, inget kok”. Aku pikir, ternyata penjahit itu mungkin seperti dokter, harus mengingat prinsip “tulis yang dilakukan dan lakukan yang ditulis” untuk menghindari dituntut oleh pasien/pelanggan.

Atau tentu saja aku sebaiknya sabar dan menyadari bahwa para penjahit di pinggir jalan itu hanya orang-orang yang sabar mencari rejeki Tuhan dengan halal, dengan kemampuan seadanya dan sikap terbaik yang bisa mereka tampilkan pada para pelanggannya. Mungkin aku harusnya tidak menuntut banyak karena baju hanyalah baju, bukan definisi pribadi seseorang. Orang yang cantik dan langsing ya akan tetap seperti itu walaupun bajunya jelek atau tidak sesuai keinginannya. Toh yang merasa tidak bagus kan diri sendiri, sementara orang lain mungkin bilang “aih bajunya bagus.” Lagi pula ada yang namanya “meminta tolong si penjahit untuk memperbaiki baju hasilnya sampai sesuai keinginan,” atau “mengkoreksi ukuran sampai pas” atau “memaafkan dan berharap kesalahan yang ini tidak terulang.” Yang terakhir mungkin sulit, karena reaksi emosi sesaat lebih mengarah pada “ah cari yang lain saja” daripada memutuskan bahwa kesalahan manusiawi ini tidak akan terulang.

Dari para penjahit ini aku semakin tahu betapa tidak sabarnya diriku, betapa seringnya aku menuntut orang lain untuk memenuhi keinginanku. Mungkin juga semua itu masih dapat ditoleransi asal aku cukup artikulatif menyampaikan maksudku. Aku harus memastikan efektivitas dan efisiensi komunikasiku untuk mencapai keinginanku.

Sekali lagi, apa yang bisa kuharapkan dari jasa seorang yang tidak profesional, yang tidak belajar ekspertisinya dari bangku formal, dan yang tidak menghargai kontrak kepercayaan setinggi para profesional? Untuk menghindari rasa kecewa sebaiknya aku mulai mempertimbangkan untuk menyewa jasa perancang baju. Bukan penjahit pinggir jalan. Bagaimana jika aku mengeluhkan harga perancang yang mahal? Maka aku harus mulai realistis dengan menerima segala kekurangan para penjahit non profesional itu. Belajar menjahit baju sendiri? Mungkin suatu saat, tidak dalam waktu dekat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s