Cerita dari (dekat) China

Beberapa bulan berlalu sejak adikku mengirim pesan via whatsapp untuk mengajakku membeli tiket pesawat murah untuk traveling ala ransel alias hemat ke Hong Kong (ternyata penulisannya dipisah begini!) dan Macau. Inilah hari yang ditunggu-tunggu, yang sudah dipersiapkan (minimal secara mental), yang membuatku berniat belajar barang sedikit saja bahasa China (yang akhirnya kuketahui negara ini menggunakan bahasa Kanton bukan Mandarin). Kisah ini merupakan lanjutan dari posting singkat di sini.

Kami berangkat dari Surabaya dengan pesawat Air Asia ke Hong Kong setelah transit sekitar tiga jam di bandara dekat Kuala Lumpur, Malaysia. Disambut udara dingin dan kabut, Hong Kong kulihat sebagai daerah istimewa China (special district) yang sangat maju dan rapi dengan masyarakatnya yang ramah terhadap turis. Apalagi turis berkerudung macam kami berdua ini, yang kata adikku yang baru beberapa bulan lalu ke Beijing, China, manusia berkerudung adalah barang langka yang selalu menjadi pusat perhatian. Mungkin kami hanya berdua sehingga tidak banyak yang memandangi kami, atau penduduk Hong Kong berpikiran lebih terbuka atau lebih banyak membaca berita.

Demi transpor murah, seperti prinsip kami sejak awal sebagai backpacker, ‘lima hari empat malam’ traveling kami tersisa tiga hari bersih untuk jalan-jalan dan dua hari sisanya (hari pertama dan hari terakhir) untuk perjalanan panjang pergi pulang. Malam itu setiba di Hong Kong kami menaiki bis bandara setelah sebelumnya dimarahi ibu penjual tiketnya karena uang kami terlalu besar (maklum, agen penukar uang di Semarang hanya punya uang ribuan HKD). Seperti yang banyak kubaca sebelum berangkat bahwa hostel tempat kami menginap sangat sempit dan terletak di lantai sekian sebuah mansion, bersama beberapa hostel lainnya, tempat ini cukup nyaman dan berada di pusat kota di pulau Kowloon di daerah bernama Tsim Sha Shui.

Esoknya yang kuhitung sebagai hari pertama, kami memutuskan sarapan mie gelas masing-masing dua bungkus karena banyak blog mengatakan makanan halal di HK termasuk mahal. Tujuan kami hari ini adalah Heritage Trail alias menapak tilas peninggalan jaman kuno di bagian utara pulau Kowloon. Kami menggunakan kereta untuk sampai di sana, beberapa kali dihentikan oleh satu, dua, atau serombongan wanita berjilbab berwajah Jawa untuk ditanya arah dan disapa dalam bahasa Jawa ngoko “sampeyan ngerti iki rak mbak?”, dan sangat menikmati kontrasnya gedung-gedung pencakar langit dengan kuil-kuil khas Asia Timur yang banyak dikunjungi turis lokal untuk berdoa.

Kami juga mengunjungi Pohon Harapan (Wishing Tree) yang umurnya sudah lebih dari seabad, menyaksikan orang-orang asyik melempari ranting-rantingnya dengan buah jeruk palsu dari plastik yang terikat pada selembar kertas yang ditulisi harapan-harapan pelemparnya.

Selalu ada hiburan gratis untuk turis di kota-kota negara maju. Di sini ada Symphony of Lights, suatu pertunjukan kelap-kelip lampu yang menghiasi gedung-gedung di seberang pulau dengan latar musik instrumental yang atraktif. Dengan ramah, suara dengan sumber yang sama dengan latar musiknya menyapa turis, “Welcome to Symphony of Lights,” yang dilanjutkan dengan warna-warni lampu di gedung-gedung pencakar langit yang membentuk kata-kata atau animasi, yang berlangsung selama sekitar sepuluh menit. Ada yang lebih bagus dari ini, tentu saja, seperti pertunjukan Natal di pusat kota Melbourne atau Songs of The Sea-nya Singapura.

Hong Kong terdiri dari empat daerah, yang pertama termasuk dalam semenanjung China, tiga lainnya merupakan tiga pulau yaitu pulau Kowloon, pulau Lantau (tempat bandara berada), dan pulau Hong Kong. Menyeberang ke pulau Hong Kong dengan sebuah feri membutuhkan biaya tiga ribu rupiah. Kami berangkat bersama banyak orang berpakaian rapi untuk bekerja. Kulihat banyak masyarakat Kowloon yang bekerja di pulau Hong Kong, sehingga bisa kubayangkan dua kali sehari mereka menaiki feri menyeberang pulau. Pulau Hong Kong tampak memiliki lebih banyak pencakar langit dan rumah susun, dan ada restoran halal yang menjual makanan China di gedung masjidnya. Seperti masjid di Kowloon, masjid di sini pun memiliki papan pengumuman bertuliskan bahasa Indonesia, mungkin saking banyaknya muslim Indonesia di sini.

Malam hari di hari kedua ini kami sempatkan ke pasar bernama Ladies Market setelah malam sebelumnya kami mengunjungi Temple Market dan membeli oleh-oleh sesedikit mungkin (setelah membuat daftar penerima oleh-oleh dan mengedit sedemikian rupa sehingga tinggal beberapa belas orang yang benar-benar penting saja). Beberapa penjual berani menyapa kami, “Berapa? Berapa?” yang membuatku semakin yakin wajahku sangat Jawa, dan beberapa penjual lainnya menawarkan harga empat kali lipat harga normal, mungkin lima kali (aku yang gagal menawar). Hong Kong, seperti banyak kota besar di dunia, gak ada matinye, bahkan pukul setengah dua belas malam kudapati diriku masih menawar mp3 player menjadi separuh harganya (padahal bukan di pasar melainkan di kios dekat hostel tempat kami menginap). Memang di pagi hari banyak pertokoan yang baru buka setelah pukul sepuluh, tapi kupikir toko yang tutup tengah malam sangat membantu.

Ada yang menarik dari pulau Lantau yang tadi kubilang sebagai pulau tempat bandara berada. Ada suatu daerah bernama Ngong Ping yang memang terpencil di sebuah lembah yang terdiri atas suatu desa mungil yang sengaja dikonservasi untuk tujuan wisata. Di tempat itu berdiri megah Giant Buddha, patung Buddha dalam posisi duduk, yang sangat mirip dengan yang ada di Borobudur. Patung itu sangat besar, dari jarak beberapa kilometer sudah tampak bentuknya, dan untuk menuju ke patungnya harus mendaki beberapa ratus anak tangga. Menuju ke Ngong Ping kami menaiki mobil kabel, semacam kotak yang meluncur di seutas kabel seperti yang ada di Taman Mini Indonesia Indah, sehingga penumpangnya bebas melihat pemandangan di bawah yang hijau dan cantik.

Ngong Ping bagiku sangat mengesankan. Perjalanan menuju ke sana tampaknya sangat jauh dengan pemandangan yang di mana-mana hijau. Sementara masih teringat jelas betapa beberapa hostel sekaligus harus berdesakan di sebuah mansion, betapa penduduknya tinggal di apartemen tipe studio yang harganya selangit. Tidak ada satu pun rumah normal kuamati sejak aku di Hong Kong, seperti rumah orangtuaku yang beberapa ratus meter luasnya, yang bertetangga dengan nyaman, dan yang halamannya luas. Namun demikian, masih banyak bukit-bukit yang hijau dan asri, tanpa sedikit pun terjamah untuk pembangunan real estate atau sekedar perumahan sederhana.

Hari ketiga adalah hari Macau, yang baru belakangan juga kuketahui sebagai salah satu special district dari China selain Hong Kong. Macau menggunakan bahasa Kanton dan Portugis karena memang bekas jajahan Portugis. Sampai sana pun semua papan pengumuman ditulis dalam tiga bahasa yaitu Kanton, Portugis, dan Inggris. Jika dilihat dari peta, jarak pulau Kowloon ke Macau agak jauh, namun dengan kapal bernama Turbojet, perjalanannya hanya sejam dan bebas mabuk laut. Pergi pulang jika dikurs rupiah bisa mencapai setengah juta rupiah, memang mahal, namun kapan lagi ke Macau, kan.

Sampai di Macau kami mengunjungi kasino. Iya, tempat judi itu. Atraksi utama Macau memang kasino. Semacam Las Vegas, Macau sepertinya ingin mengklaim diri sebagai tempat judi nomor satu di dunia. Tidak heran jika banyak bis gratis disediakan oleh pihak kasino untuk transpor dari terminal feri ke pusat-pusat judi itu. Kami sih tinggal naik bis gratis itu, dari kasino kami jalan kaki ke objek-objek wisatanya.

Dalam satu kalimat bagiku Macau adalah tempat wisata buatan. Tidak ada pemandangan alam yang mencengangkan, misalnya, namun ada makanan yang kelezatannya masih terngiang sampai sekarang yaitu Portuguese Egg Tart, tart telur khas Portugis dengan pinggiran pastri dan berisi puding telur karamel (sudah googling resepnya dari dulu tapi belum berani mencoba membuat). Tempat wisata buatan, menurutku, karena dibuat dengan serius dengan investor yang kekayaannya serius juga, berupa gedung-gedung kasino yang luasnya mungkin seluas RT di kampung kami, dengan langit-langit yang dibuat seperti langit biru berawan, dengan kanal-kanal yang dilewati gondola-gondola, lengkap dengan pengemudi bersuara merdu dan berseragam ala penjual sate Madura. Ada masjid di Macau, tentu, yang halaman belakangnya digunakan untuk makam, yang suasananya sepi, jauh dibanding dengan masjid di Kowloon maupun Hong Kong, walau pengumuman berbahasa Indonesianya tidak kalah menarik.

Malam itu aku merasa harus berpikir taktis dalam menghabiskan pagi harinya sebagai hari terakhir di Hong Kong. Aku sangat ingin ke perpus kota namun, tentu saja, baru buka pukul sepuluh pagi sementara pesawat kami berangkat pukul tiga belas. Pelajarannya? Pikirkan perpus kota sebagai tujuan utama kapanpun kamu ke luar negeri. Pagi terakhir itu akhirnya kami habiskan untuk berkeliling taman kota bernama Kowloon Park dan kekagumanku membuat adikku heran, “Kamu pasti seneng banget ke Beijing karena di sana lebih banyak taman, dan taman-tamannya jauh lebih bagus.” Ah, kenapa pula aku tidak coba mengunjungi taman-taman di Surabaya hasil upaya bu Risma sang walikota, ya. Yang menarik perhatianku selain ada ‘hutan’ di tengah kota adalah kegiatan di taman itu. Sebagian besar pengunjungnya pagi itu (dan mungkin sebagian besar hari) adalah lansia. Mereka semua berpakaian training dan melakukan senam dengan gerakan yang lembut dan lambat. “Taichi, tuh,” kata ayahku  ketika kupamerkan foto-fotonya sepulang dari Hong Kong. Iya, mungkin kesadaran akan kesehatan penduduk negara maju sudah sejauh ini; para lansianya rutin ber-taichi di taman kota yang sejuk (dan tentunya lebih luas daripada apartemen mereka) setiap hari, seperti pagi hari Rabu pukul sembilan itu.

Tas kami lebih berat karena beberapa oleh-oleh, namun hati ini sungguh ringan dibanding saat berangkat meninggalkan Semarang (dan juga pekerjaan) beberapa hari lalu. Kepalaku juga lebih berat karena penuh ingus di sinus-sinusnya. Udara awal musim semi memang kurang bersahabat bagi sebagian orang, hehe. Nikmat pemandangan dan pengalaman yang disesap walau sesaat tetap akan menyisakan kenangan bermakna dalam hidup kami. Aku sempat berkata pada adikku untuk menceritakan pada anak cucuku nanti bahwa nenek pernah dolan berdua aja sama nekcil (nenek kecil alias adiknya nenek :p) dan mungkin ini bukan yang terakhir.

Kata orang bijak, karakter orang akan tampak saat kita bepergian jauh dengannya, dengan versi lain yang mengatakan bahwa kamu akan mengenal seseorang dengan bepergian jauh dengannya. Tanpa bertanya pada adikku pun aku jadi bisa bercermin darinya tentang diriku selama lima hari di Asia Timur ini. Bukan hanya itu, aku semakin merasa manusia di dunia ini sama, sama-sama mencari kebahagiaan, sama-sama mengusahakan kehidupan yang terbaik bagi dirinya dan orang-orang sekitarnya. Beberapa kali sehari selama di Hong Kong kami sering mengobrol mengapa di sini begini dan mengapa tidak begitu. Kemudian kami menyetor ide masing-masing dan akhirnya menyetujui yang paling masuk akal. Sering pula kami tidak habis pikir mengapa begini mengapa begitu, namun karena tidak cukup ide, kami sepakat meninggalkan kata ‘mengapa’ dan memilih menerima, ” People. You know.”

Kupikir berkelana jauh semacam ini membuat pikiran kami berdua terbuka, tidak serta-merta menghakimi mengapa seseorang atau suatu negara berlaku begini dan bukan begitu. Mungkin makin banyak seseorang berjalan di muka bumi maka makin sedikit komentarnya dan makin banyak aksinya. Mungkin makin banyak pengalaman, seseorang akan makin penasaran untuk mencari tahu dan bukannya berkomentar dan menghakimi. Seseorang akan makin seperti anak kecil, yang dengan hati riang dan pikiran terbuka, siap tersenyum, tertawa, atau menangis oleh kejutan yang dunia berikan padanya. Setidaknya itulah yang kurasakan setiap pulang dari perjalanan jauh yang isinya tidak jauh dari kejutan-kejutan di luar dugaan. Banyak kejutan yang menyenangkan, seperti keindahan alamnya dan keramahan warganya, kesulitan konyol mencari arah saat tersesat, walau ada yang menyedihkan yang tidak perlu diceritakan karena aibku sudah ditutup rapat oleh-Nya.

Ada pula kalimat bijak yang mengatakan bahwa bahagia itu letaknya di hati, bukan di dalam rumah mewah laksana istana atau di negeri asing seperti Hong Kong atau Macau. Namun kadang kamu menyadari adanya secuil hati yang bersyukur ketika kamu berada jauh dari rumah, atau ketika matamu terantuk pada pemandangan mempesona, pada pengalaman budaya yang jauh berbeda, dan pada persaudaraan yang ikatannya melebihi apapun di dunia ini.

Sambil merindukan kerapian kota dan kemudahan transpor Hong Kong, atau mungkin sekedar kebahagiaan atas pelarian dari rutinitas, hari ini aku berkendara motor ke kantor. Baru siang itu kusadari teriknya mentari di Semarang. Betapa hangat kotaku ini, mungkin suatu hal yang penduduk asli Hong Kong rindukan setiap harinya di musim dingin, gugur, maupun semi.

Yah begitulah cerita singkat (hah, singkat?) sepulang dari Hong Kong dan Macau, dua daerah istimewa milik negeri China. Catatan ini mungkin berguna untuk kubaca beberapa tahun (atau puluh tahun) dari sekarang.

Aku selalu bermimpi bisa berkeliling dunia dengan orang tercinta yaitu suamiku nantinya, berpetualang bersama… Namun siapa sangka kesempatan itu datang sekarang ketika aku bisa bepergian dengan adikku tercinta. Mungkin perjalanan itu sudah dimulai sebelum aku menyadarinya. Mungkin kebahagiaan itu memang dekat, tergantung semangat kita dalam memupuk bagian kecil dari hati yang penuh syukur itu, agar terus tumbuh besar dengan akarnya yang menghujam dalam dan rantingnya yang tinggi melangit. Feel blessed for who you are and what you have, and feel enriched with what you experience, 🙂

 

Adikku dan aku di latar suatu Temple di Kowloon, HK.
Adikku dan aku di pelataran suatu kuil di Kowloon, Hong Kong.
Advertisements

3 thoughts on “Cerita dari (dekat) China

  1. Suka bagian hikmahnya. Harusnya sih emang semakin sering orang bepergian, semakin luas juga pemikiran dan toleransinya, hehe..

    Hong Kong, jadi inget seseorang yang greget saat dibilang chinese sambil bilang kalo dia bahkan lebih suka disebut orang Hong Kong, daripada dibilang chinese *cuma bisa senyum ngangguk*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s