Bersenang-Senang

Kadang istilah bersenang-senang menimbulkan konotasi negatif. Kesannya seperti berfoya-foya, berhedon ria, melupakan kewajiban, dan rekreasi setelah pusing berkutat dengan pekerjaan. Senang yang jadi kata dasarnya sendiri bersinonim dengan bahagia, yang kemudian menimbulkan konotasi lain lagi. Bahagia terkesan seperti sesuatu yang sangat besar, sangat agung, dan jarang terjadi, seperti pernikahan, punya anak, menang undian satu milyar, dan masuk surga. Gembira? Yah, semacam minuman bersoda, atau sorakan atau perayaan musiman. Oh atau konotasi-konotasi itu hanya muncul di otak pesimis ini ya?

Aku yakin manusia pada dasarnya berbahagia walau menangis keras saat terlahir ke dunia. Lihatlah anak-anak, mereka berbahagia tanpa alasan. Tertawa, tersenyum, bahkan ketika sendirian. Semakin bertambah umur semakin berkurang tawa, demikian kata seorang selebtwit. Ada masa-masa aku tertegun membaca tulisan-tulisanku sendiri yang tersebar di blog ini, di buku-buku harianku, di catatan-catatan kuliahku, atau teringat ucapan-ucapanku sendiri ke orang-orang. Tertegun betapa senangnya diriku yang dulu. Sering aku berpikir untuk mencari perbedaan masa lalu dan saat ini, apa yang membuatku begitu berbahagia zaman dulu dan apa yang membuatku saat ini lupa alasan-alasan itu.

Akhir minggu itu aku bertemu dengan sepasang tamu, saudari ibuku dan suaminya, yang berkunjung untuk satu atau dua alasan. Mereka pasangan yang lebih tua dari ibuku dengan seorang anak yang sudah bekerja di Jakarta. Mereka orang yang setahuku amat sangat kaya sehingga aku silau dengan kekayaan itu. Aku sering mengasosiasikan pakdhe dan budhe itu sebagai salah satu pasangan paling bahagia dan aku ingin menjalani kehidupan seperti mereka. Mungkin karena mereka kaya raya. Aku sering berencana untuk main ke rumah mereka hanya untuk mengagumi desain interiornya, buku-buku di perpustakaan pribadinya, kucing-kucing persianya, atau menikmati makan di restoran jika mereka mentraktirku, atau hanya mendengar cerita-cerita tentang berkeliling dunia. Ah intinya aku sangat senang dengan kunjungan mereka, suatu kesempatan untuk mengorek kadar kebahagiaan mereka dengan kekayaan semacam itu.

Ups, ternyata waktu cepat berlalu sejak pertemuan terakhirku dengan mereka. Beberapa tahun sudah terlewati sejak diskusi terakhir kami yang terdiri atas anggukan semangatku mendengar cerita perjalanan keliling belahan selatan benua Amerika dan kekagumanku atas jumlah anak asuh mereka. Ternyata keingintahuanku atas kebahagiaan mereka menjadi orang kaya tidak sehebat dulu. Aku sekarang hanya mengangguk kecil mendengar cerita terbaru mereka tentang pengajian selama tujuh tahun terakhir di Jakarta tentang ilmu tasawuf. Aku pura-pura paham dan sudah banyak membaca tentang sufisme itu. Dalam hati aku pusing dan galau, otomatis membandingkan dengan diriku, merasa malu bertahun-tahun berusaha menuntut ilmu agama namun ketenangan masih jarang mampir ke hati. Tentang kegalauan hatiku dengan diskusi sufistik ini sepertinya perlu kutulis di tulisan terpisah.

Oh, aku sedang menulis tentang bahagia, ya? Baiklah, dari kunjungan mereka ke rumah orang tuaku itu aku menyadari bahwa menjadi kaya raya, atau berkeliling dunia, atau berbagi dengan anak-anak tidak mampu bukan sumber kebahagiaan. Kamu bisa berbahagia saat melakukan itu semua, tentu, tapi kamu juga bisa tidak berbahagia saat melakukannya. Kamu juga bisa berbahagia walau tidak cukup kaya untuk keliling dunia atau menyekolahkan sepuluh orang anak..

Di hari yang lain aku menemukan keceriaan dalam wajah beberapa orang yang dekat denganku. Lagi-lagi otomatis aku membandingkan dengan diriku dan mencari perbedaan di antara kami. Rupanya orang-orang bahagia itu memiliki banyak saudara kandung, sampai ingin kusimpulkan bahwa anak tunggal adalah manusia paling depresi di muka bumi. Hahaha, abaikan saja kesimpulan ngawurku itu.

Aku sempat getol mewajibkan diri membaca berlembar-lembar Quran setiap harinya dan merasakan dahsyatnya letupan kebahagiaan di hati. Ekstrimnya aku sudah cukup senang bisa hidup. Minimalnya aku tidak butuh makanan superenak atau buku superbagus untuk meningkatkan mood-ku hari itu.

Aku suka olah raga walau sangat buruk dalam bermain basket, voli, badminton, apalagi tenis. Aku suka lari, renang, dan kalau boleh orang tuaku, bersepeda ke kampus. Yang aku suka dari olah raga terutama adalah efeknya setelah selesai: bahagia. Rasanya senang. Mungkin endorfin, atau mungkin dengan berkeringat aku jadi optimis menjadi kurus, hehehe.

Satu lagi inspirasi bahagia, dialah adik iparku. Seorang soleh yang cukup narsis dengan kegantengannya. Mungkin dia salah satu orang paling bahagia yang kukenal, yang ironisnya mungkin terbentuk oleh pengalaman-pengalaman hidupnya. Aku kadang iri dengan keceriaannya. Ah, melihatnya saja aku seperti diingatkan untuk bertanggung jawab atas kebahagiaan diri sendiri.

Dalam tulisan ini aku juga ingin menyimpulkan kekonyolanku di masa lalu, kapanpun sebelum aku menulis ini, bahwa aku bangga setiap aku tersenyum lebar sambil berkata “buku bagus saja sudah membuatku bahagia” atau “aih senangnya main ke pantai” atau “minum segelas kopi yang enak cukup untuk menyenangkanku” atau bahkan “paling senang itu jika seorang anak membalas senyum kita” dan kalimat ‘bersyarat’ lainnya. Sambil berkata itu biasanya dalam hatiku terselip kesombongan betapa mudahnya aku dibahagiakan. Betapa idealnya aku sebagai calon pasangan, yang bisa diajak susah, yang tidak merepotkan. Aku merasa itu semua konyol dan inilah yang benar: bahagia ya bahagia saja, tidak butuh buku, pantai, kopi, atau pacar.

Satu lagi yang konyol. Aku pernah menyaksikan musim terbaik seumur hidupku yaitu musim semi, ketika itu aku di Melbourne, suasana ternyaman yang pernah kualami yaitu hari-hari di Melbourne, namun saat-saat itu aku malah sering menangis sendiri tanpa sebab yang jelas. Sampai-sampai waktu itu aku menulis twit semacam, ‘Percuma kamu ke tempat-tempat yang indah jika tidak berbahagia. Percuma.’

Bahagia bisa diraih kapan saja, di mana saja, dalam keadaan apa saja, saat sedang melakukan apa saja. Ekstrim memang, bagi diriku yang mengaku sedang depresi. Menjadi depresi? Oh. jangan tanya. Rasanya tidak berguna, tidak produktif, jauh dari berkontribusi bagi sekitar. Jangan-jangan tugas utama manusia di dunia adalah (tetap) berbahagia, karena ternyata itu jadi salah satu syarat untuk menjalani tugas khalifah di muka bumi? Jangan-jangan tugas itu tidak akan terlaksana sebaik jika dalam keadaan hati yang bahagia?

Ah, semakin panjang dan grambyang saja tulisanku. Aku hanya sedang merindukan rasanya berbahagia setiap saat. Aku sedang belajar untuk terus mengaktifkan rasa bahagia di hati, kalau bisa tanpa syarat dan kondisi, kalau bisa sampai aku kembali ke Tuhan. Aku akan kecewa jika tahun-tahun di usia mudaku ini kulewatkan dengan tidak berbahagia, tidak bersenang-senang, tidak merasa gembira. Dan, ehm, kesimpulannya Quran, dzikir secara umum, dan ingatan untuk tetap berbahagia adalah tiga contoh cara untuk berbahagia. Adakah ide lain?

Senyum bahagia saat bersenang-senang di Bromo.
Salah satu ‘bahagia bersyarat’: harus ke Bromo dulu.. Duh!
Advertisements

4 thoughts on “Bersenang-Senang

  1. BTW, just share, semakin kita berusaha untuk bahagia, semakin ga bahagia kita….paling ga itu yg kurasain sih Mba…
    Dari yg aku rasain (lagi2, ini subjektip yes), bukan “metode” ato “manuver” ttt yg bs mbikin aku bahagia, tp sedikit bergeser dari posisi semula, ngeliat hal yang sama dari sudut pandang berbeda…XD

  2. Yap … aku juga sering ngerasa dan bertanya gimana aku bisa bertahan untuk tetap dalam kebahagiaan .. mungkin memang ada moment kita di.ijinkan untuk menangis, bersusah hati bahjan juga depresi .. sehingga kerinduan kita akan moment bahagia semakin besar .. dan saat kita bahagia bisa jadi kenangan yg mampu membuat kita tersenyum …

    very nice post kak … mengajak.ku untuk lebih memaknai arti kebahagiaan ..

    1. Makasih komennya Vi. Makasih juga mengingatkan, iya banget, dengan kesedihanlah kita jadi ingat dan tahu bahwa kita pernah merasakan bahagia. Betul banget banget…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s