Mengikat Tali Sepatu

Anggap saja hidup itu lintasan lari, dengan garis start berupa kelahiran sementara garis finish berupa surga dan kematian ada di antara dua garis itu. Pengguna lintasan itu tentu para pelari yang bisa melintasinya dengan cepat atau lambat bahkan keluar lintasan. Di sepanjang lintasan akan tampak banyak pula yang berjongkok mengikat tali sepatunya. Ada pula yang duduk selonjor, mengatur napas. Ada pula yang berbaring kelelahan.

Hidup itu lintasan lari yang dapat diselesaikan dengan baik jika mentalitasnya benar; sabar, pantang menyerah, semangat. Seperti para pelari marathon yang walau jauh jaraknya, mentalnya terpaku pada garis finish. Yang walau rasanya ingin menyerah saja, mereka tetap melanjutkan.

Bagi yang sedang mengikat tali sepatunya, mungkin perlu juga untuk melihat ke depan, ke belakang, ke samping. Sambil mencoba tanya, benarkah jalur lintasan yang diambil. Benarkah cara berlari, kecepatan, strateginya. Mungkin saja ada yang perlu diperbaiki. Sambil mencoba mengamati wajah-wajah pelari lain, adakah pelari yang butuh senyum atau teriakan semangat. Atau mungkin sedari tadi sudah ada tangan terulur, mengajak berlari bersamanya, meringankan perjalanan ke garis finish. Dia tidak tampak karena kepala ini tidak mendongak.

…Karena mungkin menyimpulkan tali adalah satu-satunya kesempatan melihat kembali lintasan lari ini, untuk kemudian lanjut lari lagi, dan menjadi pemenangnya.

jyr05004

 

NB: Boleh depresi, asal jangan berlama-lama.

Advertisements

One thought on “Mengikat Tali Sepatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s